Sunday, June 24, 2012

[24-06-2012] Yoga? Belum Pernah! [2]



by LOTUS NINO on JUNE 24, 2012

Ditulis oleh Lotuschef – 23 Juni 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Yoga? Never Before! [2]



Artikel ini dari hasil obrolan saya dengan Guru dini hari tadi. Mohon jangan dilihat sebagai kritik atas seseorang, tapi anggap saja sebagai sajian yang jelas mengenai berbagai fakta yang terjadi. Ini bisa menjadi tanda pengingat supaya segera sadar bila Anda adalah salah satu dari figur yang diceritakan di sini.

Tidak ada prasangka sedikitpun!

Om Guru Lian-sheng Siddhi Hom!



Hal-hal yang sangat penting untuk mencapai Yoga!



Maret 2012. Vihara Dayin, Jakarta.

Guru sedang berdiri di pintu depan vihara sambil memberi pemberkatan transmisi (inisiasi) kepada kerumunan murid yang telah menunggu. Mereka yang duduk di dalam vihara berkumpul di belakang Guru sehingga kita semua tidak bisa keluar dari lokasi tersebut. Wah kita juga saling berdempetan dan berhimpitan bersama.

Lalu ada orang yang menyerahkan kantong kolekte kepada kita untuk mengumpulkan dana persembahan bagi Guru. Setelah mengumpulkan amplop-amplop merah di atas lantai, saya lihat ada beberapa murid yang melambaikan amplop merah dengan tangan mereka, maksudnya mereka juga ingin memasukkan amplop persembahan ke dalam kantong kolekte.

Jadi saya bilang kepada mereka yang berdiri di belakang meja – yang mengenakan rompi petugas vihara – untuk mengoper kantong kolekte ke atas supaya teman-teman murid di sana bisa memasukkan amplop persembahan ke dalamnya.



Tapi ada yang menakutkan saya. Seorang acharya yang berdiri di belakang saya berteriak kepada saya sambil menggenggam kantong kolekte itu.

Ia berkata: Kamu gila ya? Bagaimana kamu bisa mempercayakan uang persembahan kepada orang-orang ini?

Saya menimpalinya: Khan mereka staf petugas di sini.

Dia kembali berkata: Bagaimana kamu tahu kalau mereka adalah petugas yang asli?

Saya bilang: Mereka mengenakan rompi petugas vihara.

Saya berbalik dan pergi menjauh darinya seraya membiarkannya mengurus kantong “uang” itu.

Sebuah pertanyaan: Memangnya semua murid di sini adalah mahluk rendahan dan pasti akan mencuri dana persembahan yang ditujukan untuk Guru mereka?



Mari saya bagikan sebuah cerita:

Ada orang yang mencuri perhiasan dari patung Buddha di dalam sebuah rumah ibadah. Ini karena ia butuh dana untuk merawat ibunya yang sudah tua.

Saat melakukan tindakan tersebut, ia melihat lilin-lilin di sana tidak menyala. Ia kemudian menghidupkan semua lilin itu, lalu memanjat patung Buddha yang besar itu dan melepaskan perhiasan-perhiasannya.

Apa hasil konsensus (mufakat) khalayak setelah mendengar cerita ini?

Orang ini pasti telah melanggar sila mencuri dan terlebih lagi mencuri dari Buddha? Lebih parah lagi!



Kini cerita dari Guru:

Ada murid yang datang memohon bantuan-Nya karena krediturnya akan menyita rumahnya untuk melunasi hutang-hutangnya. Ini berarti orang tuanya yang sudah uzur, istrinya dan anak-anaknya akan dilempar ke jalanan. Juga berarti mereka akan mati karena kelaparan atau mati duluan karena kedinginan!

Meski banyak orang di sekitar Guru yang menentang dengan keras dan mengatakan bahwa Guru seharusnya tahu bahwa pinjaman tersebut tidak akan dikembalikan, tapi Guru tetap saja meminjamkan bantuan dana kepada murid ini.

Ini bukan hanya satu kasus semata seperti yang diceritakan oleh Guru. Masih ada beberapa murid lainnya yang juga yang meminta bantuan dana kepada Guru dan selalu dibantu oleh-Nya.

Teman-teman paham yang saya maksudkan?



Guru bilang Ia tidak akan meninggalkan siapapun.

Ia akan memuaskan semua permintaan karena saat para insan berbahagia, maka Ia juga berbahagia!

Hahaha! Guru selalu bilang bahwa Tidak Ada Yang Membuat-Nya Pusing!

Terhadap seorang Buddha, hal-hal duniawi tidak ada artinya, jadi bagaimana bisa ada masalah yang penting?

Tiada Kemelekatan!



Dan pada kasus di atas, mencuri dari atau berbohong kepada seorang Buddha adalah Karma yang ditanggung diri sendiri.

Namun, rasa tak percaya si acharya ini menunjukkan diskiriminasinya kepada para insan.

Ia sama saja seperti yang di dalam seri bhiksu dengan Gelar, Pola Pikir, …. yang merendahkan para murid dan menganggap dirinya sendiri sangat tinggi, sakti dan suci!

Apa orang ini pernah ber-Yoga dengan Guru atau Buddha dan Bodhisattva?

Dari ceramah Guru, siapa yang Beliau sebutkan telah ber-Yoga?

Tidak banyak! Termasuk mereka yang diberi Gelar juga tidak banyak yang bisa ber-Yoga!



Gelar di dalam konteks ini hanyalah kartu penanda pekerjaan yang harus dilakukan saja, setujukah?

Gelar tidak menunjukkan bahwa orang yang diberikannya telah melatih diri hingga mencapai kesempurnaan dan berhasil ber-Yoga.

Maka Guru berkata: Ia yang telah tercerahkan secara teori masih harus berlatih hingga mencapai Yoga!



Salam semuanya! 

Semoga teman-teman menikmati dua artikel yang saya bagikan mengenai Yoga yang Sejati dan hal-hal yang penting untuk berhasil ber-Yoga.



Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

No comments:

Post a Comment