Friday, December 23, 2011

23-12-2011 [20-12-2011 Mantra Marici – Terhindar dari Bencana Lumpur dan Tanah Longsor]



20-12-2011 Marici Mantra - Avoiding a Land and Mud Slide
20-12-2011 Mantra Marici – Terhindar dari Bencana Lumpur dan Tanah Longsor
Translated by Lotus Nino
Sumber:


Petikan artikel dari buku Shizun No.148: Kekuatan Mantra
Artikel No.4: Terhindar dari Bencana Lumpur dan Tanah Longsor
Diterjemahkan dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris oleh: Lotus Cheng
Diedit oleh: Luljeta Subasic
Dikoreksi oleh: Mimosa

---

Saya pernah melakukan diskusi seputar agama Buddha dengan Venerable  Zhou Ying.

“Guru Lu, Anda mengklaim bahwa Anda telah tercerahkan. Bolehkah saya bertanya apa itu pencerahan?”

Saya menjawabnya, “Itu tidak terlukiskan oleh kata-kata.”

“Lalu bagaimana seseorang mengetahuinya?”

Seperti halnya hangat atau dingin, Anda pasti tahu saat Anda merasakannya.

“Kalau hanya begitu mah anak umur tiga tahun juga bisa mengatakannya!” kata Venerable  Zhou Ying.

Memang benar. Tapi Anda perlu bertanya kepada diri Anda sendiri apakah hati Anda telah benar-benar leluasa atau tidak.


“Apakah Tao punya bentuk?”

Seperti halnya Tao itu sendiri, ia tidak berbentuk.

“Kalau Tao tidak punya bentuk, lalu bagaimana ia mencapai keseimbangan?” tanya Venerable Zhou Ying.

Dengan alamiah akan mencapainya.

 
Karena telah mempraktekkan Zen selama dua puluh tahun, Venerable Zhou Ying merasa bahwa dia dapat membungkam saya kali ini dan untuk selamanya dengan membahas Buddha dharma dengan saya. Ia hanya butuh satu kelemahan dari jawaban-jawaban saya untuk membuat saya bertekuk lutut.

Saya tersenyum dan tetap mantap dengan semua yang saya sampaikan.

“Guru Lu, Anda tidak membabarkan agama Buddha maupun Taoisme. Orang-orang sedang membicarakan Anda!”

Sekarang saya tanya Anda: apakah puncak yang tertinggi terhubung dengan lautan yang terdalam?


Venerable Zhou Ying berkata, “Kenapa Anda harus menyertakan para roh?”
Meski kuatnya bagaikan alam semesta, hal tersebut tidak lebih dari sekedar gelembung. Begitulah saya menimpalinya.

Venerable Zhou Ying kini tidak bisa menanyai saya lebih lanjut.

Kali ini dia bertanya, “Guru Lu, Anda mengklaim punya kekuatan supranatural. Bisakah Anda menunjukkan beberapa bukti kepada saya?”

Saya ingin menyelamatkan nyawa Anda!Saya katakan itu kepadanya.

“Menyelamatkan nyawa saya?” Dengan agak kurang yakin, Venerable Zhou Ying menyeringai ke arah saya dan berkata “Saya dapat menyelamatkan diri saya sendiri. Saya tidak butuh bantuan Anda.”

Bukan masalah apakah Anda telah tercerahkan atau belum. Tapi ada bencana yang sedang datang ke arah Anda.

“Ah sampah! Ini mah sekedar akal-akalan peramal.”

Anda mau percaya atau tidak ya terserah Anda.

“Baiklah, kalau begitu katakanlah apa yang akan saya alami!”

Ada empat orang berbaju hitam yang sedang berada di sekitar Anda, dan mereka ingin mengambil nyawa Anda!

Lalu bagaimana saya melindungi diri saya?

Anda japalah Mantra Bodhisattva Marici.

Saya bicara dengan singkat dan jelas kepada si bhiksu. Japalah Mantra Bodhisattva Marici: Om Marichiyeh Svaha.

Saya menambahkan, Saat Anda menjapa mantra tersebut, Anda juga harus melanjutkan dengan doa ini:

Lindungilah saya terhadap gangguan dari para penguasa.
Lindungilah saya dari para pencuri.
Lindungilah saya dalam perjalanan saya.
Lindungilah saya dari berbagai bencana api dan air.
Lindungilah saya dari bahaya peperangan.
Lindungilah saya dari serangan supranatural.
Lindungilah saya dari segala macam racun.
Lindungilah saya dari serangan binatang buas, serangga beracun dan semua musuh.
Lindungilah saya di semua tempat dan semua waktu.

Venerable Zhou Ying berkata, “Anda melihat ada empat orang berpakaian hitam di sekitar saya, sedangkan saya tidak melihatnya. Anda juga ingin saya menjapa Mantra Bodhisattva Marici. Saya bisa melakukannya. Anda lalu berkata bahwa saya akan bertemu dengan sebuah bencana. Bila ternyata tidak terjadi, saya akan mengekspos diri Anda sebagai seorang penipu, dan pencerahan diri Anda tidak akan lagi berarti selain hanya berupa pengetahuan batin belaka saja.”

Saya katakan kepadanya Sungguh semuanya benar-benar terserah Anda.

Venerable  Zhou Ying merangkapkan kedua tangannya dan pergi.


Sebenarnya, saat si bhiksu pertama kali mendatangi saya, saya sudah tahu bahwa dia pasti akan menghadapi sebuah bencana. Saya yakin karena ada empat orang berbaju hitam yang merupakan pejabat alam roh yang menunggunya.

Empat orang pejabat ini berjalan di depan si bhiksu dan mereka ingin memasuki rumah saya, tapi saya segera menghentikannya sebelum mereka bisa masuk. Oleh karenanya mereka hanya bisa berputar-putar di sekitar lokasi sambil menunggu si bhiksu.

Inilah cara saya menyelamatkan para insan secara diam-diam. Banyak dari mereka yang menghadapi berbagai bencana dan mereka tidak perlu tahu tentang hal itu. Saya juga tidak membiarkan mereka mengetahuinya. Saya bantu mereka melewati berbagai situasi yang dihadapi tanpa sepengetahuan mereka.


Sebenarnya di dalam hidup kita pasti ada berbagai macam tingkat bencana yang akan terjadi. Buddha Shakyamuni telah mengetahui hal seperti ini saat Beliau berkata, “Kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian.”

Oleh karenanya:

Tiga alam kehidupan diliputi oleh api yang menghanguskan.
Bahkan mereka yang telah ditahbiskan juga belum tentu aman terlindungi.
Ketidakkekalan pasti mendatangi kita.

Tenangkan pikiran Anda dan persiapkan diri Anda untuk perjalanan terakhir.

Saya sadar bahwa orang-orang takut akan bencana dan kemalangan yang akan menimpa mereka. Oleh karenanya, saya tiap hari melatih diri dan secara diam-diam membantu para insan melewati masa-masa sulit mereka. Saya japakan Mantra Bodhisattva Marici dan saya limpahkan pahalanya untuk Venerable  Zhou Ying. Dengan bantuan saya, Venerable Zhou Ying akan terselamatkan.


* * *


Venerable Zhou Ying tinggal seorang diri di gubuk kecil di dalam Gunung Bagua di Changhua, Taiwan.

Dia melatih meditasi Zen dan duduk bersila dalam postur yoga.

Bhiksu ini dulunya adalah seorang murid yang pergi belajar ke Jepang. Namun, saat di Jepang, dia mengembangkan rasa ketertarikan yang kuat akan agama Buddha dan lalu ditahbiskan menjadi seorang bhiksu di biara Zen yang terkenal dari Ordo Soto-shu di Kyoto; oleh karenanya garis silsilahnya datang dari Jepang.

Saya mengetahui bahwa garis patriak Aliran Zen telah berhenti di Patriak Ke-6, Hui Neng, karena ada perselisihan mengenai jubah dharma Patriak ke-5. Sejak saat itu, agama Buddha aliran Zen terbagi menjadi lima ordo, yaitu: Ordo Lin Ji (Ordo Rinzai). Ordo T’sao Tung (Ordo Soto-shu), Ordo Wei Yang, Ordo Yun Men dan Ordo Fa Yen.

Agama Buddha Aliran Zen dikenal dengan ajarannya mengenai hati.

Nama Zen atau Dhyana digunakan untuk aliran ini sejak awal Dinasti T’ang. Zen atau Dhyana berarti pelatihan pikiran seseorang, yang berarti proses kontemplasi (perenungan) akan kebenaran itu sendiri. Di sini yang dilatih adalah ketenangan, meditasi reflektif.

Patriak pertama, Bodhidharma, yang berasal dari India bagian Selatan, datang ke China pada saat Dinasti Liang untuk mentransmisikan ajaran-ajaran Ordo Hati Buddha. Metode-Nya menekankan pada pentingnya meditasi ketenangan dan penjapaan tanpa suara. Hal tersebut mengekspresikan Hati Buddha dan berfokus dalam melatih konsentrasi dan pemurnian. Metodenya terlihat seperti duduk bermeditasi, oleh karenanya dikenal sebagai Zen atau Aliran Meditasi.

Aliran Zen menekankan hal-hal berikut:

Menghapus (tidak memerlukan) bahasa tertulis,
Pencerahan langsung dari hati (pikiran) kita,
Mencapai Kebuddhaan melalui Pencerahan, dan
Diskusi aktif mengenai Prajna atau kebijaksanaan.


Di suatu malam yang berbadai, Venerable Zhou Ying sedang bermeditasi sendirian di dalam gubuknya. Hujan sudah turun selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Venerable Zhou Ying telah mengetahui bahwa pasar di kaki gunung telah terendam. Jika hujan masih berlanjut, maka banjir pasti tidak akan terhindarkan.

Tiba-tiba di luar gubuk terdengar tangisan seorang anak. Suaranya berbaur dengan suara hujan.

“Mami! Mami!”

Venerable Zhou Ying menengadahkan kepalanya dan mendengar:

“Mami! Mami!” Kata-kata itu terus terdengar berulang kali dan pastilah suara tangis anak.

Saat dia coba dengar lagi dengan lebih detil, suaranya menjadi “Marici! Marici! Marici!”

Ia lalu menjapa sepenggal mantra, “Om Marici Yeh Svaha.”

Di tengah-tengah hujan yang deras, Venerable Zhou Ying segera bangun dan mengenakan jas hujannya dan sepatu bootnya. Sambil memegang sebuah obor di tangannya, dia bergegas keluar dari gubuknya untuk mencari anak yang sedang menangis itu.

“Mami! Marici!”

Sebenarnya itu Mami atau Marici? Dia tidak bisa membedakannya.

Suara isak tangis tersebut berputar dari arah depan ke belakang, lalu dari kiri ke kanan, seakan-akan seseorang sedang bermain petak umpet dengannya.

Dia berjalan dalam badai selama satu jam.

Tiba-tiba suara tangisan tersebut menghilang. Dia menunggu cukup lama dan mencoba mendengarkan. Ternyata tidak ada suara bising sedikitpun di sekitarnya dan dia segera sadar bahwa memang tidak ada orang di sekeliling lokasi. Kalau memang tidak ada keluarga yang tinggal di area pegunungan ini, lalu mana mungkin bisa bertemu anak yang menangis di sini?

Venerable Zhou Ying cepat-cepat kembali ke gubuknya hanya untuk menemukan bahwa gubuknya telah hilang. Tanah longsor telah mengubur gubuknya di bawah tumpukan batu dan lumpur, menjadi sebuah gundukan tanah.

Bebatuan dan lumpur terus longsor dari puncak gunung, dan dia kini sedang berada dalam ancaman bahaya yang serius. Dengan penuh ketakutan, Venerable Zhou Ying segera mengungsi dari area tempat ia bermeditasi selama dua tahun.

Nyawanya terselamatkan, tapi gubuknya bersama dengan semua benda miliknya telah hilang.

Saat direnungkan kembali, Venerable Zhou Ying sadar bahwa dia harus melewati bencana ini. Dia ingat bahwa hal ini telah diramalkan oleh Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu. Empat pejabat alam arwah yang berbaju hitam telah menunggu untuk menangkapnya. Buddha Hidup Lian-sheng telah menyarankan dirinya untuk menjapa Mantra Bodhisattva Marici dan menekankannya sebagai mantra perlindungan dirinya.

Meski Venerable Zhou Ying di dalam hidupnya melatih Zen, dia juga terekspos kepada ajaran-ajaran dari ordo-ordo lain. Dia pernah menjapa Mantra Bodhisattva Marici di masa mudanya dan sekarang masih dapat melanjutkan menjapa mantra tersebut atas saran saya.

Demikianlah dikatakan:

Saat Anda membakar dupa, Anda akan dilindungi.
Saat Anda mengkonsumsi makanan, Anda akan penuh dengan energi.
Mami!
Marici!
Mereka terdengar sama.


* * *


Setelah meninggalkan Gunung Bagua, Venerable Zhou Ying mencari perlindungan di berbagai vihara dan biara di seluruh Taiwan. Dia telah terbiasa hidup layaknya seorang pertapa dan melatih diri sendirian di dalam gubuk kecilnya. Ia menikmati cara latihan yang hampir mirip seorang pertapa. Setelah mengalami bencana ini, dia berpindah jalur dari semula yang menyendiri seperti pertapa ke hidup bersama dengan masyarakat. Hal ini merupakan pengalaman yang baru baginya.

Dia lalu bertemu dengan banyak teman yang juga melatih diri dan mendengar banyak pembicaraan mengenai Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu. Secara umum, sebagian besar akan mengkritik saya dan menganggapnya sebagai hal negatif. Pengaruh anggapan seperti itu ternyata malah menyebar luas. Oleh karenanya kebanyakan para pelatih diri cenderung menolak diri saya dan hanya ada beberapa saja yang memilih untuk tidak berkomentar. Beginilah yang terjadi di dalam kalangan agama.

Venerable Zhou Ying mendengarkan dan punya pandangannya sendiri tapi ia tidak mengutarakannya. Saat orang-orang memanggil saya sebagai seorang Mara atau orang sesat, dia hanya duduk diam karena dia tahu mengenai kebenaran yang terjadi. Dia ingin membersihkan nama saya tapi jelas-jelas kalah jumlah, pasti tidak akan menang melawan massa. Dia akhirnya memutuskan untuk berdiam diri di dalam percakapan.

Venerable Zhou Ying lalu mengunjungi saya dan mengatakan apa yang telah didengarnya.

Dia berkata, “Kenapa Anda tidak mengubah pendekatan Anda dalam menyelamatkan para insan dan menggunakan sebuah cara yang baru dan berbeda sama sekali? Anda bisa mulai dengan membangun fondasi baru dari sana.”

Saya menimpalinya, Pikiran orang-orang mengenai saya telah terbentuk. Kelihatannya mudah untuk memulai semuanya dari awal lagi, tapi sungguh akan membutuhkan usaha dan waktu yang tidak sedikit untuk merubah berbagai macam hal.

“Tapi Anda setidaknya harus punya harapan!”

Saat orang telah membentuk pemikirannya tentang Anda, maka akan terus demikian selamanya. Saya sudah terbiasa dengan hal seperti ini dan bukan masalah lagi buat saya.

“Anda pikir hal itu tidak perlu?” tanya Venerable Zhou Ying.

Ya. Saya menerima fitnah dan kritikan untuk memperbaiki diri saya. Saya menerimanya sebagai bagian dari disiplin spiritual saya!

“Tapi reputasi Anda jatuh!”

Reputasi tidaklah berarti dalam konteks disiplin spiritual seseorang. Pengalaman seperti itu justru dibutuhkan agar orang bisa mencapai kebuddhaan.

Venerable Zhou Ying mengangguk.

Saya beritahukan kepada Venerable Zhou Ying, Saat saya hendak pergi meninggalkan guru saya, Venerable Liao Ming, dan turun gunung, Beliau bilang kepada saya bahwa orang seperti saya hanya punya tiga pilihan.

Pertama adalah segera memasuki Nirvana.
Kedua adalah mengasingkan diri di dalam gunung dan tidak keluar lagi.
Atau pilihan terakhir, adalah dengan berpura-pura jadi orang gila di antara orang-orang.

“Oh!”

Saya tersenyum dan melanjutkan, Saya bahagia dan berpuas diri, dan saya tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan mengenai saya.

“Apakah Anda punya penyesalan?” tanya Venerable Zhou Ying.

Tidak!

“Apakah Anda terluka?”

Tidak!

“Bagaimana dengan pujian dan ejekan, penderitaan dan kehormatan?”

Mereka tidak berarti apa-apa buat saya!
Buat saya, hidup hanyalah seperti sebuah permainan dan saya hanya mencoba menjalaninya secara penuh.

Dengan rasa hormat yang tertinggi, Venerable Zhou Ying meminta saya untuk naik ke kursi dharma saya. Ia lalu bernamaskara di hadapan saya sebanyak tiga kali dengan penuh ketulusan.

Kenapa Anda bernamaskara?

“Untuk berterima kasih. Anda telah menyelamatkan nyawa saya!”

Saya tidak menyelamatkan Anda. Anda menyelamatkan diri Anda sendiri!

“Itu karena Anda menginstruksikan kepada saya mengenai hal-hal yang perlu saya lakukan!”

Saya terdiam.

Sebelum meninggalkan tempat saya, Venerable Zhou Ying mengatakan hal ini kepada saya, “Saya merasa ingin meninggalkan dunia manusia yang penuh penderitaan ini.”

Saya katakan kepadanya, Sebenarnya semuanya tergantung pada hati Anda. Bila hati Anda telah bebas leluasa, maka itu sungguh sama saja dengan telah meninggalkan dunia ini.

“Maksud Anda, saya perlu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan dunia ini?”

Bukan! Karena sebenarnya tidak ada dunia manusia untuk Anda mulai.Saya katakan demikian.

Venerable Zhou Ying merenungkan kata-kata saya sebentar dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia mengerti akan apa yang saya maksudkan dan berkata: “Saya mengerti tentang prinsip tersebut. Tapi melatihnya sampai akhirnya mampu menguasainya adalah proses menjadi seorang Buddha Yang Sejati!


Saya tuliskan sebuah syair:

Satu dua tiga empat lima enam tujuh,
Tenangkan pikiran dan naik ke Surga Sebelah Barat.
Saat kata-kata Buddha ini diucapkan, sepertinya terdengar sungguh mudah,
Namun kenyataannya orang terlalu sering tersandung dan jatuh ke kubangan lumpur.


---

Ini karya tulis Shizun, bukan saya.
Hahaha!



Amituofo / Lotuschef / Pure Karma / True Buddha School

No comments:

Post a Comment