Showing posts with label kebijaksanaan. Show all posts
Showing posts with label kebijaksanaan. Show all posts

Sunday, October 29, 2017

Menggunakan Tangan Orang Lain Untuk Membunuh



Ditulis oleh Lotuschef – 10 Juni 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Using Other’s Hands to Kill 借刀杀人


Di artikel sebelum ini (per tanggal publikasi), Pola Pikir 2, si B mengajakku untuk menyucikan sebuah rumah. Seorang bhiksu memberitahunya bahwa aku punya “kesaktian” sehingga B berniat menggunakanku untuk mengusir hantu-hantu yang mendiami rumah tersebut, padahal dia bilang hendak mengajakku untuk melihat-lihat dan belajar. Berhubung aku seorang murid yang baru, maka aku menyetujuinya dengan senang hati!

Guru bilang bahwa seorang murid bila tak mampu mengundang Guru Akar, Yidam dan Dharmapala-nya, maka ia berada dalam bahaya besar.
[Oktober 2010 – Melbourne, Vajragarbha Yan Ming, saat Puja Api Homa Mayura].

Teman-temanku yang terkasih, kamu harus ingat bahwa semua Buddha/Bodhisattva dan berbagai manifestasi mereka memiliki sebuah karakteristik umum yang penting, yaitu BODHICITTA!

Dan karakteristik lainnya adalah KEBIJAKSANAAN TIADA BATAS!

Orang seperti Si B ini sungguh tidak paham hal mendasar dalam Buddha Dharma?

Ada dua orang, dan B ini adalah salah satunya, mengaku-ngaku bahwa Yidam-nya adalah Guru Rinpoche Padmasambhava.

Namun aku justru melihat Padmasambhava pada seorang murid lain, MZ.

Aku sama sekali tak mencium “wangi” Padmasambhava pada diri si B dan orang satunya lagi!

Kalau Guru katakan: 连小小的屁都没有! Bahkan sedikit kentutnya pun tidak ada! :)

B berusaha mengundang Yamantaka pula! Yamantaka merupakan perpaduan Manjushri Bodhisattva dan Yamaraja.

Dengan niatnya yang egois dan licik untuk mengusir dengan menggunakan “kesaktian”, menurutmu apakah ada Yidam atau Dharmapala yang akan menjalankan perintahnya?

Teman-temanku yang terkasih, sampai di sini seharusnya kamu paham mengapa aku tak menerima permintaan untuk “menangkap hantu”?
Bahkan kamu tak mampu melihat ataupun merasakan mereka. Ada banyak mahluk tak kasat mata yang tinggal bersama dengan kita.

Bila kamu bersadhana dengan benar, akan ada banyak Dharmapala yang mengelilingimu sehingga “para hantu” akan pergi jauh darimu. Tapi mereka masih tinggal bersamamu dalam arti bahwa mereka ada di luar lingkaran perlindunganmu saja.

Salah satu alasan untuk bersarana kepada aliran agama Buddha manapun adalah:
Untuk hidup secara Harmonis bersama para insan tanpa menghiraukan wujudnya!

Bola-bola cahaya dalam berbagai ukuran ini menunjukkan tingkat Energi mereka masing-masing. Mereka tinggal bersama kita dan saat kita mengadakan puja api homa, aku menuliskan naskah doa untuk mengundang mereka semua supaya hadir dan turut serta dalam pesta. Bersama-sama turut bersenang-senang dan bermandikan Berkat Alam Semesta.

Selamat bersadhana!


Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Monday, April 10, 2017

Sentuhan Emas Raja Midas



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 27 Februari 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 点石为金 Midas' Touch


点石为金〖解释〗指用手指一点使石变成金的法术。
同“点铁成金”。
〖出处〗《警世通言•吕大郎还金完骨肉》:
“四愿得吕纯阳祖师点石为金这个手指头。”

点石为金的故事:
有一个孩童,家里很穷,但非常孝敬母亲,吕洞宾非常同情他,于是用手指点石为金送给孩童。
Ada seorang anak yang berasal dari keluarga yang sangat miskin. Ia sangat berbakti kepada ibunya.
Master Lu Dongbin sangat bersimpati kepadanya dan oleh karenanya menggunakan jarinya untuk menunjuk ke arah bebatuan dan mengubah mereka menjadi emas untuk dihadiahkan kepada anak tersebut.

孩童摇摇头说: “我不要金子。”
Si anak menggelengkan kepalanya dan berkata: “Aku tak menginginkan emas.”

吕洞宾诧异地问: “那你要什么呢?”
Lu Dongbin terkejut dan bertanya: “Jadi kamu ingin apa?”

孩童说: “我要你的手指,因为您给我的金子会用完,但有了您的手指,没有钱时就可以点石为金了!”
Si anak bilang: “Aku ingin jarimu, karena emas yang kau hadiahkan nantinya akan habis, tapi dengan jarimu, saat tak ada uang maka bisa menunjuk ke bebatuan dan mengubahnya menjadi emas!”

~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Tahukah kamu bahwa bersadhana sangat bergantung pada Kebijaksanaan dan Penggunaannya!

Berbagai sadhana Yidam Penganugerah Rejeki yang diajarkan dan ditransmisikan oleh Mahaguru Lu, adalah contoh paling jelas bagaimana banyak umat sungguh tidak memahami Petunjuk-Petunjuk Emas Mahaguru Lu!

Pertama, apakah menjadi pengikut dan menuruti seseorang yang berdandan sebagai Vajra Master lantas mempermudahmu memasuki Jalan Bodhi yang membawamu menuju Nirwana?
Maka cermatilah mereka yang Berdandan sebagai para VM!

Kemudian ingatlah kembali bagaimana Mahaguru Lu menanggapi berbagai perbuatan para VM tersebut!
Beliau menunjukkan betapa serakahnya mereka saat mengentahui kekayaan dan keberuntungan orang-orang lain!

Hahaha!
Bila kamu masih berpikir bahwa aku omong sampah atau menjelek-jelekkan orang yang kamu hormati atau puja sedemikian rupa, sungguhlah kamu tak pernah mendengarkan dan memahami apa yang Mahaguru Lu ajarkan sampai saat ini!

Pengumuman berikut begitu dipublikasikan, langsung memunculkan banyak caci-maki dari orang-orang bodoh!


Puja Api Homa
Tanggal: Sabtu — 10 Juni 2017
Lokasi: Hong Kong

Yidam 本尊: Maha Padmakumara Putih 大白莲花童子

Merayakan 庆祝:
五月十三日 pada 7 Juni 2017: 伽蓝菩萨圣诞 Ulang tahun  Jia Lan, Sangharama Bodhisattva
五月十八日 pada 12 Juni 2017: Tanggal imlek untuk ulang tahun Mahaguru Lu

~~~~~~~~~~~~~~~~

Apakah arti Kekayaan bagi seorang Yogi Sejati?

Simpulkan sendiri dari definisi seputar tingkatan guru Tantra yang dijelaskan oleh Mahaguru Lu.

外法成就;内法成就;无上秘法成就;大圆满成就。

Dan, Mahaguru katakan: Hanya saat kamu telah mencapai Kebuddhaan, barulah kamu boleh bilang bahwa kamu telah Tercerahkan!

Hahaha!

Sungguh-sungguh pahamkah kamu mengenai hal yang Mahaguru Lu ajarkan di sesi tersebut?

Dimulai dari: Sudahkah kamu mencapai keberhasilan dalam pelatihan Dharma Eksternal?
Yaitu: Sudahkah kamu SUNGGUH-SUNGGUH meninggalkan segala Racun yang mendikte Tubuh, Ucapan, dan Pikiranmu?

Sebelum kamu menciptakan lebih banyak Karma Buruk yang akan merintangi dan membawa kemalangan bagimu, segeralah Berhenti dan carilah Jari yang Menunjukkan Jalan Menuju Terang!

Aku ini mencelakai atau malah menolongmu? :)


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, September 28, 2015

Pertandingan Pedang di Hua Shan



Ditulis oleh Lotuschef – 28 September 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 华山论剑 Swords Competition in Hua Shan



Slogan di atas ini adalah 4 Kualitas yang Dipertimbangkan:

勇 – Keberanian
智 – Kebijaksanaan
敏 – Ketangkasan
仁 – Perikemanusiaan

Dikutip dari artikel 华山论剑 (成语典故):

华山论剑出自金庸先生的武侠小说《射雕英雄传》。
Dari Legenda Pendekar Pemanah Rajawali oleh Jin Yong, kompetisi pedang di Hua Shan.

原意是华山比武,引申为公开的比试或学术争鸣。
Sebenarnya tujuannya adalah kontes kung-fu yang diadakan di Hua Shan, terbuka untuk semua orang untuk beradu kemampuan atau pengetahuan, bertanding untuk mendapatkan pengakuan.

①比试各方都是高手
Semua peserta dari segala penjuru merupakan pakar di bidangnya masing-masing.

②公正较量,不耍阴谋。
Bertanding dengan adil, tanpa menyimpan rencana jahat di baliknya.

~~~~~~~~~~

Hahaha!

Topik di atas merupakan tugas baru untukku!

Ordo Satya Buddha punya [Pertandingan Pedang Satya Buddha 真佛论剑] sendiri, yang Mahaguru Lu tadi pagi instruksikan supaya kupelajari sebagai “PR”!

Dengan petunjuk dari-Nya sebagai berikut: 华山论剑 ~ 真佛论剑.

Artikel-artikelnya bisa ditemukan di 真佛論劍.

Jadi setelah seri-seri Koan Zen, aku akan mulai membagikan artikel Mahaguru Lu yang diunggah ke dalam seri Pertandingan Pedang Satya Buddha.

Tapi kamu harus ingat bahwa hanya yang terunggul yang boleh berpartisipasi di dalam Pertandingan Pedang ini.

Apa saja kriteria untuk Pertandingan Pedang Satya Buddha?
Buddha Dharma, Kebijaksanaan, dan Perikemanusiaan atau Bodhicitta!

Mungkin ini saat yang tepat untuk menengok forum [ilovegm] kembali, begitu juga dengan yang mereka anggap sebagai musuh-musuhnya, mereka yang mencemarkan nama baik!

Kita harus selalu punya LEBIH DARI SATU SUDUT PANDANG!

Punya amunisi [Maha Mudra – Maha Kesempurnaan – Zen] yang memadai, maka barulah memenuhi syarat sebagai seorang peserta!

Kamu juga harus ingat bahwa di dalam agama Buddha Tak Ada Perselisihan, sehingga kata “kompetisi”, “pertandingan”, atau “debat” harus dipandang dengan kacamata Jalan Mulia Beruas Delapan!

Hahaha!

Pure Karma baru saja memasang pemberitahuan kepada grup-grup di Facebook yang mencoba bertanding kemampuan seputar Buddha Dharma, supaya tidak melakukan tag, sharing, melibatkan Pure Karma ataupun Lotuschef ke dalam peperangan mereka!

Baca juga: Notification on Facebook Group Invitations // Pemberitahuan mengenai undangan dari grup-grup di Facebook

Ada yang lain lagi dari admin Ordo Satya Buddha yang bernama: The Enlightened Buddha, sama saja isinya juga “Perselisihan di dalam kolam lumpur dunia”!

Bagaikan katak di dalam sumur yang sangat sangat dalam!
Penglihatannya menyedihkan sekali!!! :)

Kalau kamu tak ingin bergabung bersama si katak di dalam sumur yang sangat sangat dalam, saatnya kamu bangun, tekun belajar, dan melatih Buddha Dharma yang otentik!

Aku bukan sedang menunjukkan Dualisme dengan bilang Otentik dan Palsu loh!

Hahaha!

Nantikan lebih lanjut!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, September 7, 2015

Kerasukan Roh Binatang



Ditulis oleh Lotuschef – 3 September 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 动物灵附身 Possessed by Animal Spirit



Mengutip dari Penjelasan Arti “Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran” oleh Mahaguru Lu:

[--- Hanya Tantrayana yang mendukung “Kebuddhaan secara langsung” – di mana setelah memperoleh daya kesaktian mistis, kita akan mampu mendobrak dan menjadi tercerahkan. Sepuluh tahap perkembangan pikiran adalah tunggal dan sama seperti pikiran seorang Buddha.

Oleh karenanya kita tak boleh mundur, menganggap diri sendiri tak punya harapan, menyerah pada kenyataan dan mengklaim diri sendiri punya pikiran binatang. Karena dengan melakukan hal tersebut, kita sedang memfitnah para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan mendatang.

Berhubung kita semua adalah para Buddha di masa mendatang, tentunya kita nanti juga akan punya pencapaian batin. Bila kita selalu memvisualisasikan diri sendiri sebagai Buddha, kita sedang menjunjung tinggi prinsip Tantra akan “Kebuddhaan secara langsung” dan hal ini merupakan pertanda akan Kebuddhaan kita di masa mendatang. Hingga saat ini, tak ada ordo lain yang mampu menjanjikan kepadamu jalan yang lebih cepat untuk mencapai keberhasilan spiritual.

Berhubung pikiran binatang dan pikiran manusia adalah sama seperti pikiran para Buddha, kita harus selalu mengendalikan ucapan, perilaku, dan pikiran supaya berfungsi secara alamiah, sehingga akan segera tercerahkan sepenuhnya dan menjadi Buddha. ---]


Mengutip dari Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran:

[---Adalah penemuan Kukai sendiri yang mengasosiasikan berbagai macam doktrin yang dievaluasi dan diklasifikasikan dengan kondisi-kondisi pikiran atau tingkat-tingkat pencapaian kebatinan tertentu.

Setiap kondisi di dalam perkembangan pikiran yang akan berhubungan dengan kumpulan doktrin-doktrin tertentu yang sesuai dengan kondisi tersebut, sebagai perspektif dan pengalaman realitas yang dijalaninya, akan menjadi nyata sampai tingkat tertentu dalam lingkupnya sendiri yang terbatas namun belum merupakan kebenaran sepenuhnya hingga tingkat terakhir telah dicapai.

Dalam kata lain, untuk naik ke hirarki pikiran yang lebih tinggi, adalah untuk mengalami terbukanya kelopak-kelopak Dharma karena orang yang bersangkutan menjadi tersadarkan lebih dalam hingga ia sepenuhnya menyadari pencerahannya sendiri dalam non-dualitas dengan Dharma itu sendiri, yaitu pencapaian Kebuddhaan. ---]


Mengutip dari Pikiran Binatang:

[---Seorang guru dharma yang pikirannya mirip dengan seekor binatang biasanya akan mampu mengundang kehadiran roh binatang. Apa itu “pikiran binatang”? Untuk hal ini, Bhiksu Jepang Koho (Kobo Daishi) memberikan istilah “Yi Ti Di Yang Xin” (kambing dari area yang berbeda). Ada dua kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan pikiran binatang: makanan dan seks. Binatang punya insting untuk makan saat mereka lapar, dan bersenggama untuk memuaskan nafsu seksual mereka.

... Mereka yang melakukan 10 kejahatan: membunuh, mencuri, seks yang tak wajar, berbohong, bicara kasar, omongannya memecah belah, bicara ngawur dan tak masuk akal, tamak, berniat jahat, dan berpandangan salah, sudah pasti terjatuh ke alam binatang. Jadi tanyakan pada dirimu sendiri: “Kenapa orang-orang membunuh, mencuri, menuruti nafsu birahi hingga berlebihan?” Karena pada umumnya ya demi makanan, ketenaran, keuntungan, dan nafsu seksual.

... Oleh karenanya saat sebuah ramalan sangat akurat, belum tentu dilakukan oleh seorang buddha. Bisa saja kerjaan seekor roh binatang. Saat ada sebuah rumah ibadah yang terkenal karena ramalannya akurat, belum tentu ada dewa yang bertugas di sana. Bisa jadi itu kerjaan sekelompok roh binatang.

Dengan kondisi demikian, supaya bisa berbaur dengan para binatang, orang yang bertugas harus bertingkah seperti binatang pula, sampai pada akhirnya terjerat sendiri!

Maka bila kita ingin hidup dengan bersih, sudah seharusnya tak berbaur dengan kelompok roh binatang. ---]

~~~~~~~~~~~

Dari arsip percakapan:

A: Aku menulis artikel main-main yang menarik dan menusuk!
Selasa, 1:08 PM

BB: hehe ya, ceramah yang terbaru juga menarik pula.
Ren-yun di mana-mana.

A: Yup! Orang-orang benar-benar bodoh kalau mengira ia begitu dicintai dan diperhatikan.
Tak mengira bahwa saat ia mengaku selalu butuh bantuan, berarti ia tak bersadhana sama sekali.

B: Ya.

A: Insiden dirinya kerasukan roh binatang juga akan menjadi pembuka mata!

B: Sesungguhnya saat roh binatang mampu merasukinya juga menunjukkan mentalitasnya.

A: Yup. Perihal perkembangan pikiran.
Orang-orang ini tak pernah berpikir bahwa yang dikatakan oleh Mahaguru sebenarnya menunjukkan diri mereka sebenarnya!
## sekarang gemuk dan kelihatan seperti wanita! Sungguh kelihatan jelas!

Tak ada yang perlu disombongkan saat kamu ternyata butuh orang lain untuk selalu membantumu! Itu berarti tak mau DIY (melakukan sendiri) :)

B: Aku setuju.

A: Mereka pasti akan membenciku karena membuka KARTU kalau ia tak pernah bersadhana! :)

B: Kalau saja orang-orang cukup bijak, mereka bisa melihat apa yang terjadi padanya.
Begitu juga dengan berbagai keputusan yang mereka buat.

A: Yup! Makanya kubilang: Mau bangun atau terus tidur! Semua kembali pada pilihan pribadi masing-masing!

~~~~~~~~~~~

Teman-temanku sekalian yang terkasih,

Saat kamu merasa selalu butuh berkat dari Guru Akarmu kapanpun kamu “tertimpa masalah”, menunjukkan kalau kamu tak paham Pelatihan Dharma Tantra!

Demikian juga saat aku menyarankanmu untuk mengamati foto-foto di beberapa artikel tertentu, aku sedang mencoba membantumu supaya lebih jeli dan analitis.

Lewat cara ini, kamu akan mengembangkan Kebijaksanaan Pengamatan yang Tajam, salah satu kebijaksanaan para buddha.

Hahaha!

Saat kamu bertanya mengenai arti dari persembahan tertentu, atau kenapa saat kamu memandangi foto namun tak melihat apapun, kamu juga menunjukkan kalau dirimu tak mau repot untuk Memulai Pelatihan dari yang paling dasar!

Padahal ada seorang Buddha Hidup sebagai Guru Akar, tapi kamu malah menyia-nyiakan waktumu dengan tubuh manusia ini. Kamu tak mau belajar cara MEMBEBASKAN diri dari siklus transmigrasi, atau supaya tak terjatuh ke alam yang lebih rendah!
MENYEDIHKAN!

Kalau kamu membaca dan memahami sebagian besar artikel di dalam blog ini, kamu pasti akan mendapatkan petunjuk mengenai cara bersadhana dan maju selangkah demi selangkah juga!

Aku berbagi pengalamanku sendiri dalam perjalanan Bodhi ini, tapi sayang kamu melewatkan “Kapal”-nya!

Hahaha!
Kenapa kamu tak jujur pada dirimu sendiri dan mulai lagi dari awal?
SUNGGUH!
Para buddha selalu berwelas asih untuk menawarimu berbagai “alternatif”!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Wednesday, March 4, 2015

Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma



Dibagikan oleh Lotuschef – 23 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Bodhidharma's Wake-up Sermon



Di atas adalah sesi Puja Api Homa di Semarang, Indonesia.

Teman-teman sekalian juga bisa menerjemahkan sendiri dari versi Bahasa Mandarinnya [--- 达磨大师《悟性论 ---]

Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

~~~~~~~~~~~

Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma

Diterjemahkan dari: Wake-up Sermon

Intisari dari Sang Jalan adalah melepaskan diri dari kemelekatan. Dan tujuan mereka yang melatihnya adalah terbebaskan dari segala macam rupa penampilan. Di dalam sutra dituliskan bahwa melepaskan diri dari kemelekatan adalah pencerahan, karena ia meniadakan rupa penampilan. Kebuddhaan berarti kesadaran. Orang-orang awam yang pikirannya tersadarkan akan mencari Jalan menuju Pencerahan, dan oleh karenanya disebut sebagai para Buddha. Demikian pula sutra-sutra juga menuliskan, “Mereka yang membebaskan dirinya dari segala macam rupa penampilan disebut sebagai Buddha.” Penampilan dari wujud rupa sebagai [bukan penampilan] tak bisa dilihat secara visual, ia hanya bisa dipahami lewat sarana kebijaksanaan. Siapapun yang mendengar dan mempercayai ajaran ini berarti menapaki Mahayana dan meninggalkan tiga alam. Ketiga alam mengacu pada Keserakahan, Amarah, dan Khayalan. Meninggalkan tiga alam tersebut berarti kembali dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan kepada Moralitas, Meditasi, dan Kebijaksanaan. Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak punya kodrat. Mereka bergantung pada badan jasmani. Dan mereka yang mampu merenung pasti akan melihat kalau kodrat dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan adalah kodrat Buddha. Di luar Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak ada kodrat Buddha lainnya. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha hanya akan menjadi Buddha saat hidup bersama dengan tiga racun, dan memelihara diri mereka dengan Dharma yang suci.” Ketiga racun tersebut adalah Keserakahan, Amarah, dan Khayalan.

Mahayana adalah yana (kendaraan) yang terbesar di antara semua yana. Ia adalah kendaraan para bodhisattva, yang menggunakan semua hal tanpa menggunakan apapun, dan yang bepergian sepanjang hari tanpa bepergian. Demikianlah kendaraan para Buddha.

Di dalam sutra dikatakan, “Tiada kendaraan adalah kendaraan dari para Buddha.”

Oleh karenanya siapapun yang merealisasikan bahwa enam indera tidaklah nyata, bahwa lima skandha (agregat) adalah fiksi, bahwa tak ada satupun dari mereka yang bisa ditemukan di bagian tubuh manapun, akan memahami bahasa para Buddha. Di dalam sutra tertulis, “Gua lima agregat adalah aula Zen. Terbukanya mata batin adalah pintu masuk Mahayana.” Memangnya masih kurang jelas?

Tak memikirkan tentang apapun adalah Zen. Begitu kamu tahu hal ini, maka berjalan, duduk, ataupun berbaring, semua yang kamu lakukan adalah Zen. Memahami kalau pikiran adalah kosong berarti melihat Sang Buddha. Para Buddha dari sepuluh penjuru tak punya pikiran. Demikianlah melihat [tiada pikiran] adalah melihat Sang Buddha.

Melepaskan diri tanpa menyesal adalah amal terbesar. Melampaui gerakan dan keheningan adalah meditasi tertinggi. Orang-orang awam terus bergerak, dan para Arhat berdiam diri. Namun meditasi tertinggi melampaui semua yang dilakukan orang awam maupun Arhat. Orang-orang yang mencapai pemahaman seperti ini akan membebaskan diri mereka dari semua rupa penampilan tanpa perlu bersusah payah, dan menyembuhkan penyakit tanpa perlu perawatan. Demikianlah kesaktian Zen yang agung.

Menggunakan pikiran untuk mencari realita adalah Khayal belaka. Tak menggunakan pikiran untuk mencari realita barulah Kesadaran. Membebaskan diri sendiri dari segala kata-kata berarti Pembebasan. Tak ternoda oleh debu sensasi inderawi berarti Menjaga Dharma. Melampaui kehidupan dan kematian berarti Meninggalkan rumah (ditahbiskan).

Tak menderita kehidupan lain berarti Mencapai Sang Jalan. Tak menciptakan khayalan berarti Pencerahan. Tak melibatkan diri dalam kebodohan berarti Kebijaksanaan. Tiada kekuatiran berarti Nirwana. Dan tiada rupa dari pikiran berarti Pantai seberang.

Saat kamu tersesat, pantai ini muncul. Saat kamu tersadarkan, pantainya tak ada. Orang-orang awam tinggal di pantai ini. Namun mereka yang menemukan kendaraan yang teragung dari segalanya tidaklah tinggal di pantai ini ataupun pantai seberang. Mereka mampu meninggalkan kedua pantai. Mereka yang melihat bahwa pantai yang satu berbeda dari pantai satunya lagi berarti belum paham akan Zen.

Khayalan berarti menjadi awam. Sedangkan kesadaran berarti Kebuddhaan. Mereka tak sama, dan juga tak berbeda. Itu hanyalah cara orang-orang membedakan antara khayalan dengan kesadaran. Saat kita tersesat, ada dunia di mana kita harus meloloskan diri darinya. Saat kita sadar, tak perlu meloloskan diri dari apapun.

Dari sudut Dharma yang Imparsial (setara dan tak bias), sebenarnya orang awam tiada bedanya dengan para suciwan. Di dalam sutra dikatakan bahwa Dharma Imparsial merupakan sesuatu yang tak bisa ditembusi oleh orang awam, dan tak bisa dilatih oleh para suciwan. Dharma Imparsial hanya dilatih oleh para maha bodhisattva dan buddha. Melihat kehidupan sebagai berbeda dari kematian, atau gerakan dianggap berbeda dari keheningan, berarti menjadi parsial. Menjadi imparsial berarti melihat penderitaan tiada bedanya dengan nirwana, karena kodrat dari keduanya adalah kosong. Membayangkan mereka mengakhiri penderitaan dan memasuki nirwana, para Arhat malah akhirnya terperangkap oleh nirwana. Namun para bodhisattva tahu bahwa penderitaan pada dasarnya kosong. Dan dengan berdiam di dalam kekosongan, mereka berdiam di dalam nirwana. Nirwana berarti tiada kelahiran dan tiada kematian. Ia melampaui lahir dan mati, dan melampaui nirwana juga. Saat pikiran berhenti bergerak, ia memasuki nirwana. Nirwana adalah pikiran yang kosong. Saat khayalan sudah tak ada lagi, para Buddha mencapai nirwana. Saat penderitaan sudah tak ada lagi, para bodhisattva memasuki pencerahan – suatu tempat tak berpenghuni yang terbebas dari keserakahan, amarah, ataupun khayalan. Keserakahan adalah alam nafsu, amarah adalah alam dengan wujud, dan khayalan adalah alam tanpa wujud. Saat pikiran terpicu, kamu memasuki tiga alam. Saat sebuah pikiran berakhir, kamu meninggalkan tiga alam. Awal munculnya ataupun berakhirnya ketiga alam, keberadaan ataupun ketidakberadaan segala hal, semuanya bergantung pada pikiran. Dan hal ini berlaku untuk semua hal, bahkan sampai ke benda mati seperti batu dan tongkat.

Siapapun yang mengerti kalau pikiran adalah sebuah fiksi (rekaan), dan tak ada satupun yang nyata, berarti tahu bahwa pikirannya sendiri bukan ada ataupun tiada. Orang-orang awam terus menciptakan pikiran, menganggapnya ia ada. Dan para Arhat terus meniadakan pikiran, menganggapnya tiada. Namun para bodhisattva dan budda tak menciptakan ataupun meniadakan pikiran. Inilah yang dimaksud sebagai “pikiran bukannya ada ataupun tiada” – dan hal ini dinamakan sebagai Jalan Tengah.

Kalau kamu memakai pikiranmu untuk mempelajari realita, kamu tak akan paham akan pikiranmu ataupun realita. Kalau kamu mempelajari realita tanpa menggunakan pikiranmu, kamu akan memahami keduanya. Mereka yang tak paham ya tak akan paham mengenai [pemahaman]. Dan mereka yang paham, akan paham [tidak memahami]. Orang-orang dengan visi penglihatan yang sejati akan tahu kalau pikiran itu kosong. Mereka melampaui pemahaman dan bukan pemahaman. Tiadanya baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] adalah pemahaman yang sesungguhnya. Dilihat dengan penglihatan sejati, wujud bukanlah sekedar wujud belaka, karena wujud bergantung pada pikiran. Dan pikiran juga bukan sekedar pikiran belaka, karena pikiran bergantung pada wujud. Pikiran dan wujud saling menciptakan dan meninggalkan. Yang [ada] akan muncul dan saling berhubungan dengan yang [tiada]. Dan yang [tiada] tak akan muncul dan  berhubungan dengan yang [ada]. Demikianlah visi penglihatan yang sejati. Dengan menggunakan visi semacam ini, tiada yang [dilihat] dan tiada yang [tak dilihat]-nya. Penglihatan semacam ini menembus hingga sepuluh penjuru tanpa melihat: karena tiada yang dilihatnya; karena [tak melihat] berarti [melihat]; karena [melihat] berarti [tak melihat]. Yang dilihat orang awam adalah khayalan. Sedangkan visi penglihatan sejati terlepas dari melihat. Pikiran dan dunia saling bertolak belakang, dan visi penglihatan akan muncul saat mereka saling bertemu. Saat pikiranmu tak bergejolak di dalam, maka dunia tak akan muncul di luar. Saat dunia dan pikiran menjadi tembus pandang, inilah visi penglihatan yang sejati. Dan pemahaman semacam ini adalah pemahaman yang sejati.

Tak melihat apapun berarti melihat Sang Jalan, dan tak memahami apapun berarti memahami Dharma, karena melihat bukanlah [melihat] ataupun [tak melihat], dan berhubung pemahaman bukanlah [pemahaman] ataupun [bukan pemahaman]. Melihat tanpa melihat adalah visi yang sejati. Mehamami tanpa memahami adalah pemahaman yang sejati.

Visi yang sejati bukan sekedar melihat yang [melihat]. Ia juga melihat yang [tak melihat]. Dan pemahaman yang sejati bukanlah sekedar memahami [pemahaman]. Ia juga memahami yang [bukan pemahaman]. Kalau kamu paham semua hal, berarti kamu tak paham. Hanya saat kamu tak memahami sesuatupun, barulah dikatakan pemahaman yang sejati. Pemahaman adalah bukan [memahami] ataupun [tak memahami].

Di dalam sutra dikatakan, “Tidak melepaskan kebijaksanaan berarti kebodohan.” Jadi saat pikiran tak ada, baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] menjadi benar. Saat pikiran ada, [pemahaman] dan [bukan pemahaman] menjadi salah semuanya. Saat kamu paham, realita bergantung kepadamu. Saat kamu tak paham, kamu bergantung pada realita. Saat realitas bergantung padamu, yang tak nyata akan menjadi nyata. Saat kamu bergantung pada realita, yang nyata akan menjadi salah. Saat kamu bergantung pada realita, semuanya menjadi salah. Saat realita bergantung padamu, semuanya menjadi benar. Demikianlah para suciwan tak menggunakan pikirannya untuk mencari realita, ataupun realita untuk mencari pikirannya, ataupun pikirannya untuk mencari pikirannya sendiri, ataupun realita untuk mencari realita. Pikirannya tak menimbulkan realita. Dan realita tak memicu pikirannya. Dan berhubung pikirannya dan realita sama-sama hening, maka ia selalu berada di dalam kondisi samadhi.

Saat pikiran awam muncul, Kebuddhaan menghilang. Saat pikiran awam menghilang, Kebuddhaan muncul. Saat pikiran muncul, realita menghilang. Saat pikiran menghilang, realita muncul. Siapapun yang tahu bahwa tak ada satupun hal yang bergantung pada apapun juga, ia telah menemukan Sang Jalan. Dan siapapun yang memahami bahwa pikiran tak bergantung pada apapun, ia selalu berada di dalam pencerahan.

Saat kamu tak paham, kamu salah. Saat kamu paham, kamu tak salah. Ini karena kodrat [salah] adalah kosong. Saat kamu tak paham, yang benar sepertinya salah. Saat kamu paham, yang salah tidaklah salah, karena [salah] itu tak ada.

Di dalam sutra dikatakan, “Tak ada satupun yang punya kodratnya sendiri.” Bertindaklah. Jangan bertanya. Karena begitu kamu bertanya, kamu salah. [Salah] adalah hasil dari bertanya. Saat kamu telah mencapai pemahaman seperti ini, segala tindakan yang salah dari berbagai kehidupan di masa lampaumu akan terhapuskan. Saat kamu tersesat, enam indera dan lima bayangan menjadi penyebab penderitaan dan kematian. Begitu kamu tersadarkan, enam indera dan lima bayangan menjadi bahan pencapaian nirwana dan keabadian.

Ia yang mencari Sang Jalan tak mencari di luar dirinya sendiri. Ia tahu kalau pikiran adalah Sang Jalan. Namun saat ia menemukan pikiran, ia tak menemukan apapun. Dan saat ia menemukan Sang Jalan, ia tak menemukan apapun. Bila kamu berpikir bisa menggunakan pikiran untuk menemukan Sang Jalan, berarti kamu tersesat. Saat kamu tersesat, Kebuddhaan akan [ada]. Saat kamu sadar, Kebudhaan menjadi [tak ada]. Ini karena kesadaran adalah Kebudhaan.

Kalau kamu mencari Sang Jalan, ia tak akan muncul hingga tubuhmu menghilang. Seperti mengupas kulit pohon dari sebuah pohon. Tubuh karma ini selalu mengalami perubahan. Ia tak punya realita yang pasti. Bersadhanalah sesuai pikiranmu. Jangan membenci hidup dan mati, atau mencintai hidup dan mati. Bebaskan segala pikiranmu dari khayalan dan di dalam kehidupan ini kamu akan menyaksikan awal dari nirwana, dan di dalam kematian kamu akan mengalami [kepastian akan tiada kelahiran kembali].

Melihat wujud tapi tak ternodai olehnya, atau mendengar suara namun tak ternodai olehnya, adalah Pembebasan. Mata yang tak melekat pada wujud adalah pintu gerbang Zen. Singkatnya, mereka yang melihat keberadaan dan kodrat fenomena tanpa melekat kepadanya akan Terbebaskan. Mereka yang melihat wujud luaran fenomena malah terpenjara olehnya. Tidak menjadi subjek dari penderitaan adalah yang dimaksud sebagai Pembebasan. Tak ada pembebasan selain itu. Kalau kamu tahu cara melihat wujud, maka wujud tak akan memicu pikiran, dan pikiran tak akan memunculkan wujud. Baik wujud maupun pikiran suci adanya.

Kalau tak ada khayalan, maka pikiran adalah tanah suci para Buddha. Saat ada khayalan, pikiran menjadi neraka. Orang-orang awam menciptakan khayalan. Dan dengan [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di neraka. Para bodhisattva menembusi semua khayalan. Dan dengan tak [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di tanah suci para Buddha. Kalau kamu tak [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], semua kondisi pikiranmu adalah kosong, dan tiap pikiran menjadi tenang. Kamu melanglang menyusuri tanah-tanah suci para Buddha. Kalau kamu [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], setiap kondisi pikiranmu akan terganggu dan setiap pikiranmu akan selalu bergerak. Demikianlah kamu melanglang dari satu neraka ke neraka lainnya. Saat pikiran muncul, maka muncul juga yang namanya Karma Baik dan Karma Buruk, Surga dan Neraka. Saat tak ada pikiran yang muncul, maka tak ada Karma Baik ataupun Karma Buruk, tak ada Surga ataupun Neraka.

Tubuh ini bukan [ada] ataupun [tiada]. Oleh karenanya, [keberadaan] sebagai seorang awam dan [ketidakberadaan] sebagai seorang suciwan, adalah konsep-konsep yang seorang suciwan tak mengurusinya. Hatinya kosong dan luas bagaikan langit. Dari sanalah baru akan menyaksikan Sang Jalan. Ia melampaui para Arhat dan orang-orang awam.

Saat pikiran mencapai nirwana, kamu tak melihat nirwana, karena pikiran adalah nirwana. Kalau kamu melihat nirwana di suatu tempat di luar pikiran, berarti kamu menyesatkan dirimu sendiri.

Segala bentuk penderitaan merupakan benih buddha, karena penderitaan mendorong orang-orang awam untuk mencari kebijaksanaan. Kamu tak bisa bilang bahwa penderitaan merupakan Kebuddhaan. Tubuh dan pikiranmu adalah lahannya. Penderitaan adalah benihnya, kebijaksanaan merupakan tunasnya, dan Kebuddhaan adalah butiran gandumnya. Sang Buddha di dalam pikiran adalah bagaikan sebuah wewangian di dalam pohon. Ia datang dari pikiran yang bebas dari penderitaan, seperti wewangian yang menyebar dari pohon yang tak lapuk/membusuk. Jadi tak ada wewangian tanpa si pohon, dan tiada Buddha tanpa sang pikiran. Kalau ada wewangian tanpa sebuah pohon, berarti itu jenis wewangian lain. Kalau ada seorang Buddha tanpa pikiranmu, itu adalah Buddha lain.

Saat tiga racun ada di dalam pikiranmu, kamu tinggal di tanah yang kotor.

Saat tiga racun menghilang dari pikiranmu, kamu tinggal di tanah suci.

Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “kalau kamu mengisi sepetak tanah dengan noda dan kotoran, tak akan ada Buddha yang muncul.” Noda dan kotoran mengacu pada racun-racun. Buddha mengacu pada pikiran yang suci dan tersadarkan. Tiada bahasa yang bukan Dharma.

Seharian penuh berbicara terus tanpa mengatakan sepatah katapun adalah Sang Jalan.
Seharian penuh berhening dan masih mengatakan sesuatu berarti bukan Sang Jalan.

Jadi ucapan seorang Tathagata tak bergantung pada keheningan, ataupun keheningannya bergantung pada ucapan, ataupun ucapannya terpisah dari keheningannya. Mereka yang memahami baik ucapan maupun keheningan berarti berada di dalam samadhi. Kalau kamu bicara saat kamu tahu, Ucapanmu adalah bebas. Kalau kamu diam saat kamu tak tahu, diam-mu itu terikat. Bila ucapan tak melekat pada wujud, maka ia bebas. Lagipula kemelekatan tak ada hubungannya dengan bahasa. Realita tidaklah tinggi ataupun rendah. Kalau kamu melihat tinggi ataupun rendah, maka itu bukan yang sejati. Rakit tidaklah nyata, namun rakit (yang menyeberangkan) penumpang adalah nyata. Orang yang menaiki rakit seperti itu dapat menyeberangi sesuatu yang tak nyata. Demikianlah kenapa hal itu nyata.

Menurut dunia, ada yang namanya pria dan wanita, kaya dan miskin. Namun menurut Sang Jalan, tak ada pria ataupun wanita, tak ada kaya ataupun miskin. Saat seorang dewi merealisasikan Sang Jalan, ia tak merubah jenis kelaminnya. Saat bocah istal (pengurus kandang kuda) tersadarkan akan Kebenaran Sejati, ia tak merubah statusnya. Bebas dari jenis kelamin dan status, mereka punya tampilan mendasar yang sama. Sang dewi selama dua belas tahun mencari sisi kewanitaannya tanpa berhasil sedikitpun. Demikian pula bila menghabiskan dua belas tahun untuk mencari sisi laki-lakinya juga tak akan berbuah. Dua belas tahun mengacu pada [dua belas pintu masuk]. Maka tanpa pikiran, tiada Buddha. Tanpa Buddha, juga tiada pikiran.
*) Dua belas pintu masuk adalah: 6 organ inderawi (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) + 6 objek inderawi (pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan, dan pikiran).

Sama halnya, tanpa air maka tak ada es, dan tanpa es maka tak ada air. Siapapun yang bicara mengenai [meninggalkan pikiran] tak akan pergi jauh ke mana-mana. Janganlah melekat pada rupa penampilan pikiran. Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu tak melihat rupa penampilan, kamu melihat Sang Buddha.” Itulah yang dimaksud terbebas dari rupa penampilan pikiran. Tanpa [pikiran] maka tak ada Buddha – berarti Sang Buddha muncul dari pikiran. Pikiran melahirkan Buddha. Namun meski Buddha lahir dari pikiran, pikiran tak datang dari Sang Buddha, seperti ikan yang datang dari air, tapi air bukan datang dari ikan. Siapapun yang ingin melihat ikan akan melihat air sebelum melihat ikannya. Dan siapapun yang ingin melihat Buddha, akan melihat pikirannya sebelum ia melihat Sang Buddha. Begitu kamu melihat si ikan, kamu melupakan airnya. Begitu pula saat kamu telah melihat Sang Buddha, kamu melupakan pikiran. Kalau kamu tak melupakan pikiran, maka pikiran malah akan membingungkanmu, seperti air yang akan membingungkanmu bila kamu tak melupakannya.

Fana dan Kebuddhaan itu seperti air dan es. Menderita tiga racun berarti fana. Sedangkan tersucikan oleh tiga pelepasan adalah Kebuddhaan. Yang membeku menjadi es di musim dingin akan meleleh menjadi air di musim panas. Hilangkan es maka tak akan ada air lagi. Menyingkirkan kefanaan maka tak ada lagi Kebuddhaan. Sudah jelas bahwa kodrat es sama dengan kodrat air. Dan kodrat air sama dengan  kodrat es. Kodrat kefanaan sama dengan kodrat Kebuddhaan. Kefanaan dan Kebuddhaan punya kodrat yang sama, sama seperti Wuto dan Futzu (ket: tanaman Aconitum carmichaelii) punya akar yang sama tapi berbeda musim. Hanya karena khayalan perbedaan saja sehingga kita punya kata-kata [Kefanaan] dan [Kebuddhaan]. Saat seekor ular menjadi naga, ia tak berganti kulit. Dan saat seorang awam menjadi suciwan, ia tak berganti wajah. Ia tahu akan pikirannya sendiri melalui kebijaksanaan batinnya, dan mengurus/memelihara tubuhnya lewat disiplin eksternal.

Orang-orang awam menyelamatkan para Buddha, dan sebaliknya para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Demikianlah yang dimaksud sebagai kesetaraan (imparsial). Orang awam menyelamatkan Buddha karena penderitaan menciptakan kesadaran. Sedangkan Buddha menyelamatkan orang awam karena kesadaran menghilangkan penderitaan. Penderitaan selalu ada, tapi kesadaran juga selalu ada. Kalau bukan karena penderitaan, maka tak ada bahan untuk menciptakan kesadaran. Dan kalau bukan karena kesadaran, maka tak ada bahan untuk menghilangkan penderitaan. Saat kamu tersesatkan, para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Saat kamu tersadarkan, orang-orang awam menyelamatkan para Buddha. Para Buddha tak menjadi Buddha begitu saja. Mereka diselamatkan oleh orang-orang awam. Para Buddha menganggap khayalan sebagai ayah mereka, dan keserakahan sebagai ibu mereka. Khayalan dan keserakahan adalah nama lain dari Kefanaan. Khayalan dan Kefanaan bagaikan tangan kiri dan tangan kanan. Tak ada bedanya.

Saat kamu tersesat, kamu berada di pantai ini. Saat kamu tersadarkan, kamu berada di pantai seberang. Namun begitu kamu tahu kalau pikiranmu kosong dan kamu tak melihat rupa penampilan, kamu telah melampaui khayalan dan kesadaran. Dan begitu kamu telah melampaui kedua hal tersebut, pantai seberang sudah tak ada lagi. Tathagata bukan berada di pantai ini ataupun di pantai seberang. Ia juga tak berada di tengah-tengahnya. Para Arhat berada di tengah-tengahnya dan orang-orang awam di pantai ini. Kebuddhaan ada di pantai seberang.

Para Buddha punya tiga tubuh: tubuh transformasi (nirmanakaya), tubuh pahala (sambhogakaya), dan tubuh sejati (dharmakaya). Tubuh transformasi juga dinamakan tubuh inkarnasi. Tubuh Transformasi muncul saat orang-orang awam melakukan perbuatan baik, Tubuh Pahala muncul di saat mereka melatih kebijaksanaan, dan Tubuh Sejati muncul saat mereka telah sadar akan keagungan yang maha mulia. Tubuh Transformasi adalah tubuh yang kamu lihat terbang di seluruh penjuru untuk menyelamatkan para insan di manapun berada. Tubuh Pahala mengakhiri segala keraguan. Pencerahan Agung yang muncul di Himalaya tiba-tiba menjadi nyata. Tubuh Sejati tak melakukan dan tak mengatakan apapun. Ia sepenuhnya hening. Namun sebenarnya tak ada satupun tubuh buddha, apalagi sampai menjadi tiga.

Pembahasan mengenai tiga tubuh ini hanya berdasarkan pemahaman manusia saja, yang bisa saja dangkal, sedang, ataupun mendalam.
Orang-orang dengan pemahaman yang dangkal akan membayangkan mereka mengumpulkan berkat dan salah menganggap Tubuh Transformasi sebagai Sang Buddha.
Mereka dengan pemahaman yang sedang akan membayangkan mereka sedang mengakhiri penderitaan dan salah menganggap Tubuh Pahala sebagai Sang Buddha.

Sedangkan mereka dengan pemahaman mendalam membayangkan mereka sedang mengalami Kebuddhaan dan salah menganggap Tubuh Sejati sebagai Sang Buddha.
Namun mereka dengan pemahaman paling mendalam akan melihat ke dalam dan tak terpengaruh oleh apapun juga.
Berhubung pikiran yang jernih adalah Sang Buddha, mereka mendapatkan pemahaman seorang Buddha tanpa menggunakan pikiran. Tiga tubuh, seperti semua hal lainnya, tak dapat dicapai dan tak bisa digambarkan pula.

Pikiran yang leluasa akan mencapai Sang Jalan. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha tak membabarkan Dharma. Mereka tak menyelamatkan para insan awam. Dan mereka tak mengalami Kebuddhaan.” Inilah yang kumaksudkan. Para insan menciptakan karma, namun karma tak menciptakan para insan. Mereka menciptakan karma di kehidupan ini dan menerima balasannya di kehidupan selanjutnya. Mereka tak bisa lari. Hanya ia yang sempurna yang tak menciptakan karma di kehidupan ini dan tak menerima balasannya juga. Di dalam sutra di katakan, “Ia yang tak menciptakan karma akan mendapatkan Dharma.” Ini bukan omong kosong belaka. Kamu bisa menciptakan karma, tapi kamu tak bisa menciptakan seorang manusia. Saat kamu menciptakan karma, kamu terlahir kembali bersama dengan karmamu. Saat kamu tak menciptakan karma, kamu menghilang bersama dengan karmamu. Demikianlah, karma bergantung pada individu, dan individu bergantung pada karma, bila seorang individu tak menciptakan karma, maka karma tak akan berpegang kepadanya. Dengan cara yang sama, “Seseorang bisa memperbesar Sang Jalan, namun Sang Jalan tak bisa memperbesar seseorang.”

Orang-orang awam terus menciptakan karma dan dengan salahnya bersikeras kalau tak ada retribusi. Tapi bisakah mereka menyangkal adanya penderitaan? Bisakah mereka menyangkal apa yang kondisi pikiran saat ini tabur maka kondisi pikiran selanjutnya akan tuai? Bagaimana caranya mereka meloloskan diri? Namun bila kondisi pikiran sekarang tak menabur apapun, kondisi pikiran selanjutnya tak akan menuai apapun. Jangan sampai salah memahami karma.

Di dalam sutra dikatakan, “Meski percaya kepada para Buddha, orang-orang membayangkan kalau para Buddha yang melatih penyangkalan diri (menjauhi kesenangan) bukanlah umat Buddha. Sama halnya dengan mereka yang membayangkan kalau para Buddha akan menerima balasan kekayaan ataupun kemiskinan. Mereka ini para icchantika. Mereka tak mampu percaya.” Ia yang paham akan ajaran para suciwan adalah seorang suciwan. Ia yang paham akan ajaran orang-orang awam adalah orang awam. Seorang awam yang mampu melepaskan ajaran awam dan mengikuti ajaran suciwan akan menjadi seorang suciwan. Namun orang-orang bodoh di dunia ini suka mencari suciwan di luaran sana. Mereka tak percaya kalau kebijaksanaan pikiran mereka sendiri adalah Sang Suciwan. Di dalam sutra dikatakan, “Kepada orang-orang yang tak punya pemahaman, jangan babarkan sutra ini.” Dan dikatakan juga, “Pikiran adalah ajaran.” Namun orang-orang yang tak punya pemahaman tak percaya kalau pikiran mereka sendiri atau dengan memahami ajaran ini mereka bisa menjadi suciwan. Mereka lebih suka mencari pengetahuan di luaran sana dan mendamba hal-hal di angkasa, patung/citra (sesuatu yang menyerupai) buddha, sinar, dupa, dan warna. Mereka termakan umpan kepalsuan dan pikirannya tersesat sampai jadi gila.

Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu melihat semua [rupa penampilan] sebagai bukan [rupa penampilan], kamu melihat Tathagata.” Pintu menuju Kebenaran Sejati banyaknya tak terhingga, namun mereka semua datang dari pikiran. Saat rupa penampilan pikiran menjadi setransparan angkasa, mereka hilang semuanya. Penderitaan kita yang tiada berakhir adalah akar dari segala penyakit. Saat orang-orang awam masih hidup, mereka kuatir akan kematian. Saat mereka kenyang, mereka kuatir akan kelaparan. Mereka selalu berada dalam kondisi Ketidakpastian yang Besar. Namun para suciwan tak mempertimbangkan masa lalu.  Mereka juga tak kuatir akan masa depan. Juga tak melekat pada saat ini. Dan dari waktu ke waktu mereka selalu mengikuti Sang Jalan. Kalau kamu belum sadar akan kebenaran agung ini, lebih baik cari seorang guru di atas bumi ini atau di dalam surga. Jangan menumpuk kekuranganmu sendiri.

[--- Akhir dari Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma ---]

~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Nasihat Bagus lagi dari Bodhidharma, Sang Patriak Zen! Sungguh bersyukur kepada para penerjemah ceramah ini!

Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Tuesday, February 10, 2015

Transformasi yang Tak Terbatas [1]



Ditulis oleh Lotuschef – 3 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 千变万化 Immeasurable Transformation [1]



Baca juga:
[1] Fenomena Menghiasi Kekosongan, Namun Tak Pernah Mencemarinya
[2] Keleluasaan Di Segala Saat, Kesucian Di dalam Kekosongan

Kedua artikel tersebut secara kebetulan ditunjukkan kepadaku di hari yang sama, tapi di waktu yang berbeda! :)
Namun jumlah pembaca untuk masing-masing artikel sangat berbeda jauh, dan kemungkinan besar karena kurangnya pemahaman untuk [1] yang isinya mendalam! :)

Lotus NN menunjukkan kepadaku kutipan [1] dari Facebook Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche.
Kuminta ia untuk membagikannya denganku dan aku akan mengunggahnya ke dalam blog-ku.

Lalu aku mencari pranala ceramah Dharma Mahaguru Lu tanggal 31 Januari 2015 dan menemukan ringkasannya di situs Satya Buddha.

Aku menerjemahkan secara verbal beberapa bagian dari ceramah tersebut kepada Lotus NN.

Ia bilang: Fashi, ini sangat mirip dengan yang kamu ceritakan kepadaku mengenai Tugas [3] tentang Kekosongan & Keberadaan.

Aku: Yup. Kebetulan sekali kamu berbagi kutipan dari Dilgo kepadaku juga.
Baik kutipan dari Mahaguru maupun Dilgo pada dasarnya berasal dari Guru Padmasambhava juga! :)
Topik yang sama, namun pendekatannya berbeda!

~~~~~~

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Hanya sebuah topik dari Guru Padmasambhava bisa diekspresikan dan diajarkan lewat berbagai macam konteks.

Marilah kita meringkas dari Sutra Avatamsaka yang menakjubkan!

Buddha punya berbagai Dharma/metode/cara yang banyaknya tiada berbatas untuk menyelamatkan setiap insan!

DAN disesuaikan dengan tingkat Pengaruh Karma masing-masing individu – ada berbagai faktor yang mempengaruhinya seperti Jodoh (afinitas), Kebijaksanaan, dll. Hal-hal tersebut akan menentukan tingkat penerimaan masing-masing individu akan filosofi buddha dharma dan berbagai aksi yang akan dilakukannya.

Menjalankan dengan leluasa???
Sangat tergantung tingkat pengaruh karma orang yang bersangkutan. Ia harus mampu menguraikan, menganalisa, memilih, dan menggunakan Dharma yang telah dipelajarinya!


Baca juga: Iman yang kokoh?

Murid X di artikel tersebut mengaku kalau sudah bersadhana seperti yang telah diajarkan!
NAMUN ia juga bilang bahwa tiap kali ia mengunjungi kediaman si Z, ia seperti “Ka-ying” (maksudnya seperti terkena hal-hal negatif)!
Kemudian ia juga merasa kalau jangan-jangan “Ciong dengan Pejabat Taisui di tahun yang itu”!

Bisa dibilang kalau ia tak menunjukkan tanda-tanda punya Iman yang Kokoh kepada Guru Akarnya, Mahaguru Lu!
Dan jelaslah sudah, ia juga gagal Menjalankan dengan Leluasa berbagai hal bagus yang diajarkan oleh Mahaguru Lu!

Aku bilang: Gagal menyerap dan mengingat berbagai ajaran untuk digunakan “Saat Dibutuhkan”!

Hahaha!

Dan saudari Y, juga tak menunjukkan tanda-tanda paham akan ajaran Mahaguru Lu pula!

~~~~~~~~

Teman-temanku sekalian yang terkasih, apakah kini kamu merasa perlu MELENGKAPI dirimu dengan berbagai fondasi dasar buddha dharma sebelum melatih sadhana tantra?

Pure Karma juga akan segera mengubah sistem pembabaran dharma yang dilakukan!

Hanya mereka yang tulus belajar dharma dan bersadhana yang akan diperbolehkan untuk bergabung di dalam sesi kami.

Puja homa hanya akan dilakukan secara privat dengan beberapa orang saja, dan akan dibuka untuk umum saat dibutuhkan.

Mengubah atau mentransformasi adalah bagian yang diperlukan untuk bisa maju di dalam pelatihan diri.

Kalau kamu tak mampu mengikuti ataupun tak setuju dengan metode kami, kiranya carilah orang-orang lain yang mampu berbagi Dharma Buddha yang otentik denganmu!
Tak perlu menjelek-jelekkan, memfitnah atau memarahi siapapun juga!
Hahaha!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:



Thursday, January 1, 2015

Babi tolol Babi tolol Babi tolol



Dikutip dari dari artikel Mahaguru Lu: 蓮生活佛著作盧勝彥文集184_給你點上心燈
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 11 Oktober 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 笨豬笨豬笨豬 Stupid Pig Stupid Pig Stupid Pig



世尊一日坐次,見二人「舁豬」過。(舁是扛、抬之意)
Suatu hari Sang Bhagawan melihat 2 orang yang lewat sambil menggotong seekor babi.

世尊問:「這箇是什麼?」
Bhagawan bertanya: “Ini apa?”

人答:「佛具一切智,豬子也不識。」
Mereka menjawabnya: “Sang Buddha mengetahui segalanya, masa tak bisa mengenali babi.”

世尊說:「也須問過。」
Bhagawan mengatakan: “Setidaknya perlu bertanya dulu.”

我這篇文章是「笨豬、笨豬、笨豬」,這不是罵釋迦牟尼佛,請勿誤解。
Artikel [Babi Tolol Babi Tolol Babi Tolol] ini bukan untuk mengata-ngatai Buddha Shakyamuni. Jangan salah tangkap.

大家看到這段小問答,會很容易錯過,二人抬豬過。
Banyak orang juga mengerti begitu membaca percakapan pendek ini, mengenai 2 orang yang lewat sambil menggotong babi.

佛問是啥?
Sang Buddha bertanya apa itu?

抬豬的人說:「佛懂一切智,卻不認識豬仔,奇哉!」
Mereka yang menggotong babi berkata: “Sang Buddha memahami segala sesuatu, tapi tak mengenali seekor babi, betapa hebatnya!”

佛說:「也要問過才懂啊!」
Buddha bilang: “Harus bertanya sekali dulu baru kemudian bisa mengenali!”

別人錯過這問答,我盧勝彥可不能錯過,因為我小時候養過豬。
Orang-orang mungkin tak sadar apa yang dimaksud di dalam percakapan ini, namun tak begitu denganku, Lu Sheng Yan, karena waktu muda dulu pernah beternak babi.

而且問答中,有很大很大的啟示在裡面。
Lagipula di dalam percakapan ini ada petunjuk besar.


我看到市面上,有很多人罵密宗,並且說密宗不是佛教。
Di pasar, aku perhatikan banyak orang yang mengkritik Tantrayana, bahkan hingga mengatakan Tantrayana bukan agama Buddha.

我很想問他們幾個問題:
Aku sangat ingin menanyakan beberapa hal berikut kepada mereka:

「一、你受過皈依灌頂否?」
1. Apa kamu sudah menerima Abhiseka Berlindung (Sarana)?

「二、你持過八百萬遍的咒語否?」
2. Apa kamu sudah menjapa mantra sebanyak 8 juta kali?

「三、你修過護摩(火供)千壇否?」
3. Apa kamu sudah melatih Puja Api Homa seribu sesi?

「四、你入過三摩地否?」
4. Apa kamu pernah memasuki Samadhi sebelumnya?

「五、你拙火升起否?」
5. Apa api kundalini-mu sudah menyala?

「六、你無漏法修成否?」
6. Kamu sudah berhasil melatih Dharma Anasvara (Tiada Kebocoran)?

「七、你明點法修成否?」
7. Kamu sudah berhasil melatih Dharma Tetesan Bindu?

「八、你證明根本智否?」
8. Apakah kamu telah membuktikan Kebijaksanaan Sedari Awal (Mendasar)?
......。


你不能只看了幾本密宗的書籍,就開始大罵特罵密宗。
Kamu tak bisa hanya karena membaca sedikit buku bertopik Tantrayana lalu mulai mengkritik Tantrayana habis-habisan.

佛說:「也須問過。」
Makanya Sang Buddha bilang: “Harus tanya terlebih dulu.”

也就是說,你也要「實修過」,你若確確實實的實修過密宗,你若證得了,知曉一切真實,你就不會罵了。
Yang maksudnya, kamu harus [sudah melatihnya dengan tekun dulu]; karena bila kamu benar-benar sudah melatih Tantrayana, bila telah membuktikannya, dan tahu akan Segala Kebenaran, maka kamu tak akan mengkritisinya sama sekali.


從密宗中, Di dalam Tantrayana,
證明「持明成就」,Membuktikan [mempertahankan keberhasilan Kecemerlangan] (ini sebenarnya adalah keberhasilan dalam penjapaan mantra),
證明「護摩成就」,Membuktikan [keberhasilan Puja Homa],
證明「三摩地成就」,Membuktikan [keberhasilan Samadhi],
證明「拙火成就」、「無漏成就」、「明點成就」,Membuktikan [keberhasilan Kundalini]; [keberhasilan Dharma Anasvara]; [keberhasilan Dharma Tetesan Bindu];

最後證明「一切智智」成就,這還能罵嗎?
Setelah membuktikan semua keberhasilan kebijaksanaan tersebut, kamu masih bisa mengkritik?

你自以為讀了很多的密宗的書,但,未能真實的實修過。
Kamu pikir kamu sudah banyak membaca buku Tantrayana, tapi sayangnya tak mampu melatihnya dengan tekun dan sungguh-sungguh.

坦白說:「你還未見識密宗,連豬仔也不識,是笨豬、笨豬、笨豬。」
Sejujurnya mengatakan: “Kamu masih tak tahu Tantrayana, bahkan juga tak bisa mengenali Babi, kamu ini Babi tolol, Babi tolol, Babi tolol.”


我舉禪宗的:Aku mengutip dari aliran Zen:

「見山是山,見水是水。」
Melihat Gunung sebagai Gunung, melihat Air sebagai Air.

「見山不是山,見水不是水。」
Melihat Gunung bukan sebagai Gunung, melihat Air bukan sebagai Air.

「見山還是山,見水還是水。」
Melihat Gunung masih sebagai Gunung, melihat Air masih sebagai Air.


我說,用錢財來比喻最妙:
Kukatakan, menggunakan Uang sebagai contoh adalah hal yang sangat unik:

「見錢是錢,世人貪錢。」
Melihat uang sebagai uang, Orang-orang di dunia serakah akan uang.

「見錢如糞土,修行人知錢是空。」
Melihat uang sebagai kotoran, seorang yogi tahu bahwa uang adalah Kosong.

「見錢乃是錢,用於掃地。」
Melihat uang masih sebagai uang, menggunakannya untuk menyapu lantai.

我這樣說,你明白嗎?
Diungkapkan dengan cara ini, kamu kini pahamkah?


我火大的是,連密宗的法都未實修過,連密宗的法都未證明過,就開始罵密宗,這不是「笨豬、笨豬、笨豬」嗎?
Sungguh bikin panas, melihat orang-orang yang bahkan belum pernah melatih Dharma Tantra apapun, belum pernah membuktikan Dharma Tantra apapun, langsung mengkritik Tantrayana; bukankah ini [Babi tolol, babi tolol, babi tolol]?


我住美國二十多年。
Aku ini tinggal di Amerika selama 20 tahun lebih.

一般的英語略知一二。
Tahu sedikit Bahasa Inggris yang umum.

但,高深堪稱入「英語三昧」的英語,我確實矇喳喳?不懂。
Tapi untuk Bahasa Inggris yang lebih mendalam bagaikan [Samadhi Bahasa Inggris], aku sungguh-sungguh tak tahu? Tak paham.

我女兒盧佛青,修得法學博士,大律師的英語語法完全入了「英語三昧」,他們的英語才是英語,真正是高而妙的。

你問躲懂英語否?

我未從小實修過。
Aku tak mempelahari Bahasa Inggris dari sejak dulu.

我真的是連「英語」也未識啊!
Aku bahkan benar-benar Berbahasa Inggris-pun juga aku tak tahu!

~~~~~~~~~

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Sungguhlah artikel di waktu yang tepat. :)

Bukankah orang-orang yang memfitnah Mahaguru Lu, sebenarnya cocok masuk kategori ini [Babi tolol Babi tolol Babi tolol]?

Hahaha!

Itulah kenapa aku memberi istilah “orang-orang bodoh” untuk mereka!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:



Friday, December 26, 2014

Kenapa Sampai Bisa Salah?



Diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan anotasi oleh Lotuschef – 26 Desember 2014
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: 为什么会错?Why Can Be Wrong?



Diambil dari Kidung Sang Buddha Hidup (1) – Firman-firman Emas Sang Raja Dharma:

“Di dunia Saha ini, segala macam persoalan, siapapun orangnya, tetap harus menggunakan Kebijaksanaan diri sendiri untuk memutuskan (menentukan).

Kadang kala saat ada berbagai macam kejadian, diri sendirilah yang harus memikul tanggung jawabnya, tak bisa melempar kesalahan pada orang lain,

Ini karena Diri Sendiri tak menggunakan Kebijaksanaan untuk berpikir dan menganalisa.

Dalam perjalananmu mempelajari Agama Buddha, melakukan Refleksi Perenungan adalah hal yang penting.

Orang-orang punya kebiasaan untuk memarahi orang lain, melemparkan tanggung jawab kepada orang-orang lain, Diri Sendiri tak bersalah, pokoknya yang salah adalah orang-orang lain.

Saat kamu merenungkan [Kenapa Bisa Salah?], maka kamu akan membenahi segala kesalahan diri sendiri.

Aku (Mahaguru Lu), seringkali merenungkan diri sendiri, kuharap setiap individu juga mampu melatih teknik Refleksi Perenungan.”

~~~~~~~~~

Hahaha!

Ini tentu saja sebuah hal yang berguna bagi semua orang!

Seringkali Merenungkan Diri Sendiri, seperti yang sering kusarankan kepada para murid agar mereka bisa belajar untuk beraktivitas dengan lebih efektif;
Juga akan membantumu belajar bagaimana agar mampu Merelakan “Bawaan” yang tak diperlukan yang kamu anggap penting dalam hidupmu di suatu masa, padahal seringkali hanyalah khayalan belaka.

Kamu butuh mobil baru?
Rumah baru?
Apapun yang baru?

Hehe! Mampu berlaku bijak adalah sebuah faktor penting!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef



Related Posts:

Monday, June 23, 2014

22 Juni 2014 [Kamu, sungguh-sungguhkah telah mendengarkan kata-kata Guru?]


Ditulis oleh Lotuschef – 22 Juni 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 22-6-2014 [You, Truly have listened to Shizun's words?]



Terjemahan Bahasa Mandarin: 22-6-2014 【你,真的有听师尊的话吗?】


Di atas adalah rekaman layar – 22 Juni 2014, 12:46 pm, waktu Singapura.
Berarti pukul 21:46, waktu Seattle.

Hari ini, Guru membahas mengenai [Kebijaksanaan], keberhasilan ber-[Yoga], diri sendiri akan mengetahuinya, ...


Dan di atas adalah buletin yang sudah lewat, namun sungguh terlihat bila kamu semua tidak memperhatikan kata-kata Guru.

Lihatlah di poin nomor [3].

3, 慶典當日下午兩點,有師尊親自主持的"長壽三尊護摩法會",
請當日報名護摩法會的主祈者和所有報名者,在報名表的第一項都寫上:祈願師尊蓮生活佛健康長壽!長住世間!不入涅槃!永轉法輪!

不入涅槃! = Jangan memasuki Nirwana!

Masih lagi mengharap Guru [jangan memasuki Nirwana!]

Hahaha!
Para Saudara dan Saudari Besar!

Kamu-kamu semua ini.... sungguh tak pernah memperhatikan kata-kata Sang Guru Akar,
Cobalah kamu renungkan: Apakah kamu telah mampu “menembus” dan mencapai Pencerahan?

[Tercerahkan] atau malah [Membuat Kesalahan Besar]?
Atau jangan-jangan sejak masa lampau yang tak terhingga sampai saat ini, kalian semua selalu membuat [Kesalahan Besar]!

Atau dari sejak dulu hingga sekarang, terus berkubang di Lumpur Dunia, dan tak pernah punya [Kesucian] barang semenit atau bahkan sedetikpun!

Saatnya sadar diri!

Tentukan nasibmu sendiri dan terlahirlah kembali, masukilah [Pure Karma {Karma yang suci}] sekarang!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Friday, May 23, 2014

Sebuah Lagu Cinta Yang Sedih


Artikel asli karya Mahaguru Lu
Anotasi oleh Lotuschef – 7 Mei 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: A Sad Love Song 情愛的悲歌



Sempat melihat ini lagi.
Ada helai-helai pencerahan bahkan di dalam cerita yang menyedihkan.
Kurasa bagian bawah mendekati bagian akhir sungguh mencerahkan.
[Komentar ada di bagian bawah setelah artikel Mahaguru Lu.]

===

Sebuah Lagu Cinta yang Sedih 情愛的悲歌


Artikel Mahaguru Lu, dipublikasikan di World True Buddha Newspaper 450
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Shaun Ho
Disunting oleh Cheng Yew Chung
Dikoreksi oleh Jackie Ho dan Jason Yu
Tanggal rilis: 3 Desember 2009
[Rilis terakhir]



Suatu saat aku mendengar seorang gadis berdoa, “Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum. Buddha Hidup Lian Sheng, aku telah melakukan puja api homa sebanyak 49 kali. Sekarang aku hendak mengundang Kurukulle untuk memberkatiku dengan cinta dan keharmonisan. Laksanakanlah sesuai dengan sumpahmu, dan kabulkanlah permohonanku untuk menikah dengan teman priaku.”

Ia berdoa dengan sangat tulus, “Aku mohon, Mahaguru! Aku mohon, Kurukulle!”

Puja api homa dari agama buddha aliran Vajrayana sungguh sangat hebat. Karena itulah aku bisa mendengar permohonannya yang berapi-api saat aku sedang melakukan perjalanan spiritual.

Demi menjawab doanya, aku pergi mencari tahu tentang teman prianya itu. Aku kaget melihat teman prianya ternyata juga muridku. Jadi, murid wanitaku jatuh cinta kepada salah seorang murid priaku. Namun, si pria tiap ada kesempatan selalu mencoba menghindarinya.

Yang lebih mengherankanku adalah si murid pria juga melakukan puja api homa. Di dalam homa puja yang dilakukannya juga menyertakan Ragaraja. Ia juga berdoa dengan tulus, “Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum. Buddha Hidup Lian Sheng, aku telah melakukan puja api homa Ragaraja sebanyak 49 kali. Mohon berkatilah supaya aku dan kekasihku bisa menikah.”

Masalahnya adalah saat si wanita tergila-gila dengan murid pria ini, si murid pria juga ternyata sedang jatuh cinta kepada wanita lain, bukan si murid wanita tersebut.

Suatu hari si pria membawa kekasihnya ke rumahnya dengan Mercedes-Benz-nya. Mereka terlihat sangat mesra, saling berpegangan tangan dan berciuman. Saat si murid wanita melihatnya, ia terperangah. Ia sungguh sedih dan hanya bisa menyaksikan pria idamannya melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya dan memasuki rumah bersamanya, kemudian menutup pintu.

Si murid wanita menjadi sangat depresi, ia tak mampu lagi menahan air matanya. Ia telah menunggu si murid pria pulang rumah, tapi malah adegan tersebut yang disaksikannya.

Namun ia masih belum putus harapan. Ia pulang ke rumah untuk berdoa dan melakukan sebuah homa puja lagi. Ia berulang kali berteriak dengan nyaring, “Om Guru Lian Sheng Siddhi Hum. Mahaguru, apakah kau tak mendengarku?”

“Namo Kurukulle. Tak ada orang lain yang akan kunikahi kecuali dia, dan dia juga hanya akan menikahiku. Apakah engkau mendengarkan?

Api homa menyala berkobar-koar, namun si pria tetap jatuh cinta dengan kekasihnya sekarang. Ia tak punya rasa cinta sedikitpun kepada si murid wanita ini meski homa puja telah berkali-kali dilakukannya.

Si murid pria juga sangat tekun melakukan sadhana Ragaraja dan telah menjapa Mantra Ragaraja hingga tak terhitung banyaknya. Ia hafal luar kepala.

Akhirnya aku bertemu dengan Kurukulle dan Ragaraja untuk membahas dua murid yang melakukan puja api homa beserta dengan permohonan mereka.

Kami melihat empat persoalan utama:

Sebab-musabab untaian cinta di antara mereka bertiga. (2) Hasil akhir apa yang akan adil dan setara bagi semua pihak? (3) Apakah iman mereka [dalam agama buddha] akan meningkat melalui kekuatan puja api homa? (4) Apakah ada pihak yang akan terlukai?

Dan hasil pembahasannya adalah:
Kurukulle geleng kepala.
Ragaraja juga geleng kepala.
Akupun menggelengkan kepala.

Belitan rasa sayang dan cinta tak pernah berakhir karena tak bisa diputuskan. Mereka yang terobsesi dengan dorongan cinta yang dimunculkan oleh diri sendiri pasti batinnya akan sangat tersiksa. Mereka yang terobsesi dengan cinta seperti ini akan menjadi posesif dan selamanya terjerat dalam lingkaran yang tiada berujung, karena hatinya akan bergetar kesenangan saat semua hal berjalan sesuai dengan keinginannya, namun menjadi marah saat hal-hal tidak sesuai dengan harapannya. Jalan keluar untuk persoalan seperti ini hanyalah dengan membiarkan semua hal berjalan secara alamiah.

Aku masih merasa kasihan kepada murid wanitaku. Aku tahu kalau doanya tak bisa dikabulkan. Bahkan meski dia melakukan puja api homa berkali-kalipun, Kurukulle tak mampu menolongnya. Aku pun juga tak mampu menolongnya.

Aku berbisik kepadanya, “Muridku, kamu minta tolong kepadaku, lantas aku harus bicara ke siapa?”

Ia mendengar suaraku tapi tak bisa melihatku. Ia melihat ke sekeliling sambil kebingungan dan tak mampu memahamiku. Yang bisa kulakukan hanyalah melanjutkan perjalanan spiritualku lagi.

Semua cinta muncul dari sebab dan kondisi. Beberapa jodoh ada yang mendalam, namun yang lainnya dangkal. Beberapa jodoh akan matang, namun yang lainnya belum bisa (belum saatnya). Orang-orang bisa saja melakukan puja api homa dan berdoa, dan meski mereka akan menerima berkat, akan sangatlah sulit untuk merubah berbagai persoalan bila karma dan kondisi telah ditentukan.

Saat semua kondisi telah lengkap, maka otomatis sebab dan jodoh akan matang. Bila kondisi tak terpenuhi, maka tak akan ada yang terjadi meski kamu memaksa.

Aku bukannya bilang bahwa praktik-praktik Vajrayana tak punya kekuatan. Di sini aku mengatakan bahwa kemelekatan terhadap ego, pandangan egois, satkayadrsti [kepercayaan yang salah akan individualitas yang permanen], nafsu yang besar, berbagai wujud materialistik dan karma tetap – semuanya sangat susah dirubah.

Aku telah mencoba sebaik mungkin untuk menyadarkan si murid ini dan berharap ia bisa merelakan, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk menghentikan siksaan batinnya.

Suatu hari, pria yang dipujanya akan menikah, namun pengantin wanitanya bukan dia.

Amarah adalah hal yang sangat menakutkan dalam kehidupan manusia. Sekali amarahnya muncul dari lubuk hatinya, maka ia akan marah pada si pria dan pengantin wanitanya. Amarahnya bahkan bisa menjalar kemana-mana hingga ke orang tua dan saudara kandung mereka, serta orang-orang lainnya.

Amarah bisa mengubah segalanya. Dan pada akhirnya ia akan sepenuhnya kehilangan moral, etika, kebijaksanaan, iman  kepada agamanya, dan juga toleransi – ini karena hatinya selamanya termakan oleh kebencian dan rasa tak puas. Akan mustahil baginya untuk menjadi bahagia dan mengalami sukacita kedamaian.

Ia tak mampu menjaga keseimbangan emosinya lagi. Ia pun membenci Mahaguru karena tak memberikan jawaban atas permohonannya. Ia membenci homa puja dan membenci Kurukulle karena tak menolongnya.

Ia menyingkirkan gambar Mahaguru dan semua patung Buddha di altarnya. Tungku api homanya juga diberikan kepada orang lain. Semua peralatan puja dibuangnya, dan ia juga membakar jubah sembahyangnya. Hanya ada kebencian, kebencian, dan kebencian. Kebenciannya tak pernah berakhir.

Aku juga menangis dengan percuma karena aku sadar aku tak bisa mengubah pikirannya. Ia menyobek sertifikat sarananya.

Aku merasa malu karena tak bisa membantunya. Aku juga menyalahkan dan malu akan akan diriku sendiri karena tak mampu menolongnya. Aku sedih tapi tak mampu berbuat apapun dalam situasi yang sedang dihadapinya.

Insan awam punya nafsu, dan banyak dari mereka yang berlindung (bersarana) hanya demi memuaskan nafsu-nafsu mereka. Padahal, begitu seseorang telah bersarana, ia harus merenungkan cara kerja sebab-musabab. Mereka yang selalu berkecimpung dalam nafsu pasti dengan mudah akan kehilangan imannya dalam dharma.

Cobalah renungkan:
Saat mati, kamu tak membawa apapun bersamamu.
Hanya karmamu saja yang akan menyertaimu.
Saat berbagai nafsu tak terpuaskan,
Praktik ajaran agama buddhamu merosot ke sisi gelap.


Begitu kamu bersarana, kamu harus mengembangkan bodhicitta, mengejar kebuddhaan, dan menolong para insan. Hal ini dicapai tanpa mengharap pamrih dan lewat menyadari “kekosongan tiga roda” [kekosongan akan si pemberi, si penerima, dan objek yang diberikan] dan mempraktikkan tiada kemelekatan. Bodhicitta yang dihasilkan darinya tak akan merugikan orang lain maupun diri sendiri. Seorang pemeluk agama buddha yang sejati adalah ia yang terbebas dari segala kekuatiran, terbebas dari pikiran kotor, terbebas dari rintangan, terbebas dari keresahan, terbebas dari emosi yang menganggu, dan terbebas dari kegundahan.

Saat kita melakukan puja api homa, kita memohon para buddha dan bodhisattva untuk memberkati kita semaksimal mungkin. Namun pada saat yang bersamaan, kita harus sadar akan semua penampilan yang dangkal di dunia ini, apakah itu keberhasilan ataupun kegagalan, kesejahteraan ataupun kemiskinan, semua hanyalah fenomena sementara. Yang kita ketahui sebagai “pembentukan, keberlangsungan, kemerosotan, dan kepunahan,” “kemunculan, keberlangsungan, perubahan, dan kepunahan,” “ketidakkekalan,” “tiada ego,” “penderitaan” dan “kekosongan” adalah berbagai hasil dari sebab-musabab (cinta dan romantika asmara muncul dari adanya jodoh).

Saat mempraktikkan ajaran agama buddha, kita perlu mengarahkan diri untuk mencapai kemurahan hati, kesucian, penerangan, dan akhirnya mencapai pembebasan.

Kita mempraktikkan agama buddha untuk mempelajari kebijaksanaan pembebasan dan kebijaksanaan bodhi. Para praktisi harus dipenuhi dengan sukacita dharma, rasa kepuasan yang selalu memancarkan kegembiraan sehingga kesehatan dan kebahagian akan datang, memampukan kita untuk melihat keindahan dalam semua hal, serta mensyukuri semua hal di dalam hidup. Para praktisi harus menyebarkan sukacita dharma bagaikan asap dupa yang mewangikan udara, mampu menyentuh semua insan.

Hidup yang penuh berkat akan tercapai saat keserakahan, amarah, dan kebodohan telah terhapus. Inilah cara pandang sejati akan kehidupan. Kecemburuan dan kebencian sudah pasti bukan pandangan yang benar. Para praktisi agama buddha harus paham bahwa agama buddha dibangun di atas fondasi pandangan yang benar bahwa karma sungguhlah ada. Saat kamu membenci seseorang atau sesuatu, maka kamulah yang pertama kali akan menderita karena kemarahanmu sendiri.

Kepada mereka yang telah bersarana, aku ingin menyampaikan kepadamu sekalian. Apakah kamu tahu isi hati Mahaguru? Saat kamu bersarana, hatimu harus manunggal dengan hatiku. Tahukah kamu akan sumpah-sumpahku? Saat bersarana, kamu harus mematuhi sumpah-sumpah tersebut. Tahukah kamu akan berbagai ajaran Tantra Satya Buddha-ku? Saat kamu bersarana, kamu harus paham berbagai ajaran dharma tersebut. Jangan biarkan perasaan romantis menyetir hidupmu.

Aku harap mereka yang melatih puja api homa akan memfokuskan pikiran mereka sepenuhnya ke dalam melakukan persembahan, beramal, tekun, menjapa mantra, bersyukur dan bersarana, bukannya berdoa, berdoa, dan berdoa. Bagaimana caranya berdoa bisa memuaskan semua insan?

===

Beberapa komentar:

Ada beberapa kunci mendasar dalam artikel Guru di atas.

Apa arti bersarana bagimu?

Yoga – berarti harus menyelaraskan diri dengan Guru Akar.

Jodoh & Sebab – semua ada hubungannya dengan Karma.

Kemauan untuk berubah menjadi lebih baik, dan juga bersadhana untuk menyelamatkan diri dan para insan lain.

Perihal cinta-benci jangan dijadikan prioritas dan sungguh tak berguna!

:)

Boleh dibilang kalau banyak yang bersarana hanya demi Keuntungan Diri Sendiri.

Beberapa orang belajar sadhana untuk membuat diri mereka Kaya, Berkuasa, yang tujuan akhirnya untuk Memupuk Ego, Memuaskan Nafsu, dan sejenisnya.

Kakek Guru Thubten Dhargye (Guru dari Mahaguru Lu) pernah berkata bahwa Punya seorang murid seperti Mahaguru Lu sudah cukup, karena Mahaguru punya jutaan murid!

Ini berarti Seorang Murid yang Tulen sudahlah cukup!

Sebagai ganti dari Aku Berdoa Memohon ini dan itu, kenapa kamu tak bersadhana dan “memberikan” berkat atau mempersembahkan buah pencapaian sadhanamu kepada semua insan?

Para Dewata tak bisa membantumu bila tujuanmu terlalu obsesif seperti cerita di atas.

Saat permohonanmu tak terkabul, yang ada malah rasa benci dan amarah dari Kebodohanmu membakarmu layaknya Api Neraka.

Kamu menjadi destruktif!

Bila kasusnya seperti itu, maka lebih baik kamu jangan bersarana. Jangan lakukan apapun!

Aku sering mengatakan kepada para murid: Bila kamu tak melakukannya dengan benar, lebih baik jangan mulai sama sekali.

Apalagi saat melatih qi-gong. Asal-asalan melatihnya malah akan merusak sistem internalmu dan tak membawa manfaat sama sekali!

Seperti halnya melatih teknik 9 langkah pernafasan, bila tak dilakukan dengan benar, kamu juga akan terluka!

Pola Pikirmu adalah Kunci Yang Menentukan!

Saat kamu tak punya Energi yang Benar, maka kamu tak bisa berlatih dengan baik!

Aku sudah pernah melihat beberapa murid yang memulai dengan sangat antusias, dan beberapa lagi mulai “merasa” bahwa semua urusan mulai lancar. Lalu faktor Keserakahan mulai menyusupi, dan mereka juga terasuki racun-racun Amarah dan Kebodohan pula.

Mereka merasa kalau merela Layak Mendapat Lebih Banyak!

Seperti mendapat Pujian, Gengsi, Kekayaan, Kuasa untuk Mendikte dan Mengendalikan, ...

Seperti di artikel Mahaguru Lu di atas, orang-orang seperti itu akan lenyap dimakan oleh berbagai atribut negatif saat hal-hal yang dialami tak berjalan sesuai dengan yang mereka dambakan!

Teman-temanku sekalian yang terkasih, marilah jadikan tulisan ini sebagai Seruan supaya Bangun. Marilah merefleksikan ajaran-ajaran yang telah dibagikan.

Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:


Friday, October 25, 2013

Kebijaksanaan yang nampak gila – Buddha Berbanding Insan Awam


Ditulis oleh Lotuschef – 28 September 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Crazy Wisdom – Buddha VS Sentient Being 佛于凡人


Di atas adalah cuplikan layar gambar Guru pada sesi upacara Kalachakra tanggal 22 September 2013 di Vajragarbha Pelangi, Seattle.

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Pernahkah menonton film atau drama di mana para bintangnya (pemeran) takut nama mereka dicemarkan atau difitnah?
Bahkan kebanyakan dari pencemaran nama dan fitnah tersebut juga tidak benar!

Dalam kasus tersebut, mereka akan kehilangan popularitas dan tak laku lagi!

Hikmah apa yang bisa dipetik dari menonton film-film semacam itu?
Bukankah sebagian besar insan awam tak punya Kebijaksanaan Pengamatan yang Menakjubkan?

KENAPAKAH?
Karena sebagian besar insan bagaikan Domba-domba yang mengikuti para Gembala yang mereka pilih sendiri!

Hahaha!

Kenapa membiarkan orang lain memimpin dan menyesatkanmu?
Bila kamu ingin menjadi seorang sadhaka Tantra, maka kamu ingin berlatih karena sadar bahwa Hidup ini adalah Penderitaan; kemudian kamu ingin meninggalkan semua penderitaan tersebut; lalu kamu ingin membantu para insan lain untuk meninggalkan penderitaan juga!

Tak ada ruginya sama sekali bila mengikuti Sang Guru Akarmu sendiri daripada orang lain! :)
Sadarlah!

Bertanya: Setelah sekian lama Guru membabarkan Buddha Dharma, seberapa sering beliau difitnah dan namanya dicemarkan?

Bertanya lagi: Pernahkah Guru menyerah dan kemudian kalah serta merugi?

Guru mengatakan bahwa beliau tak pernah terganggu oleh berbagai hal negatif yang diarahkan kepadanya karena mereka bukan apa-apa dan mudah sekali dikosongkan kembali ke alam semesta!

Kamu mau mengikuti Guru – seorang Buddha Hidup, atau Komite Pusat – pasamuan insan awam?

SUNGGUH! Pilihan ada di tanganmu sendiri!

Tapi memilihpun harus dengan bijaksana, demi Keselamatan dirimu sendiri!

Kebenaran memegang peranan penting di sini! Cari dan temukanlah!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Friday, September 20, 2013

Kebijaksanaan yang nampak gila – Buddha Mengetahui Semua Hal [2]


Ditulis oleh Lotuschef – 11 September 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Crazy Wisdom – A Buddha Knows All [2]


Baca juga: Kebijaksanaan yang nampak gila – Buddha Mengetahui Semua Hal [1]

Guru punya kebijaksanaan yang tiada batas bagaikan alam semesta, dan orang-orang dengan kebijaksaan semacam ini tak akan menggunakannya untuk merugikan orang lain.

Oleh karenanya tak butuh untuk bertahan ataupun membalas. 
Itulah pandangan Guru mengenai Pencemaran nama baik, Fitnah, Dimarahi, Perlakuan kejam, Siksaan fisik, Ilmu hitam, dll. yang diarahkan kepadanya! :)

Mereka yang sepenuhnya tulus terhadap Guru dan berlatih dengan tekun sesuai ajaran beliau, ketahuilah bahwa Guru selalu menyertaimu dan memastikan kalau kamu akan baik-baik saja.
Hanya perlu sepenuhnya Percaya pada Guru! :)


Di atas adalah jepretan foto Guru – 8 September 2013, Vajragarbha Pelangi, Seattle.

Mari kutuliskan sebuah cerita:

Saat aku sedang berada di Seattle, seorang murid memberitahuku bahwa 3 orang stafnya mengundurkan diri dalam waktu yang bersamaan sehingga membuatnya jadi kesusahan.
Kukatakan kepadanya untuk mempercayai Guru!
Dan juga bersadhana dan bicara kepada Guru!
Guru kemudian berkata kepadaku: “ditonton saja bergulirnya kisah ini”.

Kemudian aku diberitahu, suatu saat si staf yang mengundurkan diri tersebut mencuri distributorship (kuasa penyaluran) untuk lini produk utama jualannya. Principal (pimpinan) lini produk tersebut kemudian memberitahunya mengenai hal itu. Si murid sungguh kaget serta merasa dikhianati!
Ia berkata: orang-orang ini sungguh licik dan tak jujur!

Lalu datanglah kabar baik!
Principal perusahaan tersebut sebenarnya sedang terjerat masalah keuangan dan melakukan pinjaman besar selama satu tahun.
Kala itu sudah hampir sampai di akhir tahun. Hal itu dilakukan karena selama satu tahun terakhir mereka tak bisa menjual satu barangpun.
Mereka juga memanfaatkan si murid ini untuk membawa mereka berkeliling menemui para klien, di mana semua pengeluaran ditanggung oleh si murid ini!
Akhirnya mereka sepertinya harus tutup dan akan dilelang oleh Lembaga Keuangan tempat mereka meminjam dana!


Karma sungguhlah sesuatu yang tak bisa dihindari oleh siapapun! :)
Dan sungguh benarlah kalau kita tak perlu kuatir, karena saat satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka untuk kita.
Itu akan terjadi bila kamu adalah sadhaka yang berlatih dengan tekun dan punya Bodhicitta agung!

Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Sunday, July 28, 2013

Lotuschef Bercakap-cakap – Prajna Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna)

Prajnaparamita
Repro oleh Biksu Ajahn Vimalo (Paul Hendrick)

Ditulis oleh Lotuschef – 23 Juli 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Chat – Maha Prajna


Prajñā (Bhs. Sansekerta: प्रज्ञा) atau paññā (Bhs. Pāli) dalam agama Buddha merujuk pada kebijaksanaan, pemahaman, kemampuan untuk menilai, wawasan, atau ketajaman berpikir.

Ia adalah salah satu dari tiga divisi dalam Jalan Mulia Beruas Delapan.

Kebijaksanaan seperti ini dianggap sudah ada di dalam arus universal dalam diri tiap insan, dan secara intuitif mampu dialami lewat meditasi.

Dalam beberapa ordo agama Buddha, ia secara khusus dianggap sebagai kebijaksanaan yang hanya bisa muncul lewat realisasi langsung dari berbagai konsep seperti Empat Kebenaran Mulia, ketidakkekalan, hukum sebab-musabab yang saling bergantungan (Pratityasamudpada), tiada diri dan kekosongan.

Prajna adalah kebijaksanaan yang mampu menghancurkan penderitaan (klesha) dan membawa kepada pencerahan.

[Dikutip dari Wikipedia – Wisdom in Buddhism]

---

Guru membahas mengenai AGUNG atau Maha di Seattle, 21 Juli 2013.
Maha adalah proporsi seagung alam semesta!
Prajna sebenarnya juga disebut sebagai Kebijaksanaan Universal oleh beberapa orang.
Menggunakan Buddha Dharma untuk menghapus penderitaan, sebenarnya adalah menggunakan Maha Prajna untuk mengubah atau mentransformasi atau mengosongkan penderitaan.

Menurut Guru, seorang praktisi harus mengharmoniskan lingkungan luar dan dalam, menyucikan mereka, dan melebur mereka sehingga mampu mencapai penyatuan (yoga).

Mari dipikirkan: Bila kamu adalah salah seorang di antara murid-murid generasi awal di Ordo Satya Buddha, namun selama 20 atau 30 tahun ini kamu tak mampu memahami kunci-kunci untuk membuka berbagai pintu yang bahkan baru di tingkat pertama – Hinayana.
Kamu juga tak tahu cara menggunakan Empat Kebenaran Mulia untuk menyelesaikan dan keluar dari berbagai permasalahan hidupmu.

Berarti: Kamu bahkan sama sekali belum mulai melatih diri dengan benar!

Selalu ingatlah yang Guru katakan: Hormati Guru-mu, Hargailah Dharma yang diajarkannya, dan Berlatihlah dengan tekun.

Bila tak tahu atau tak paham, berarti harus mencari bantuan dari mereka yang tahu, atau melakukan riset dari internet atau perpustakaan.

Kalau cuman bisa membaca dan menghafal juga sama sekali tak ada gunanya.

Saat membaca sebuah Dharani, yang harus kamu perhatikan adalah: dharani ini sebenarnya mau memberitahu tentang apa?

Dharani – adalah Sutra atau Mantra.

Berhubung hidup ini pendek, maka lebih baik tidak membuang-buang sisa waktumu lagi.

Guru berkata bahwa beliau selama ini hanya memberikan abhiseka tingkat ke-3 kepada Empat orang murid.
Pastinya si professor yang mampu mempertahankan kenikmatan agung selama 24 jam adalah salah satu dari mereka! :)

Banyak Buddha Hidup yang juga akan muncul dari Ordo Satya Buddha!

Selama kamu mendengarkan Guru dan berlatih dengan tekun sesuai dengan yang diajarkan olehnya, kamu pasti akan mendapatkan keberhasilan yang sama atau bahkan lebih tinggi.

Guru, beliau seorang Buddha, tak pernah berbohong!

Salam.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef