Showing posts with label nirmanakaya. Show all posts
Showing posts with label nirmanakaya. Show all posts
Monday, February 1, 2016
Tiga serangkai notasi musik Kehampaan, Kecemerlangan, dan Sukacita
Karya tulis Mahaguru Lu: 蓮生活佛 > 師尊文集 > 240_打開寶庫之門——盧勝彥的祕密口訣 > 空、明、樂的三部曲
Dibagikan dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan anotasi oleh Lotuschef – 2 Desember 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 空、明、樂的三部曲 3 Music Sheets of Void, Brightness, Bliss
我常常提到三界天的分別是:
Aku seringkali menjelaskan perbedaan 3 Alam Surga sebagai berikut:
空──無色界天。Kehampaan – Alam Surga Tanpa Wujud
明──色界天。Kecemerlangan – Alam Surga Dengan Wujud
樂──欲界天。Sukacita – Alam Surga Nafsu
這個「空」是指空(四空天),「明」是指光明莊嚴,「樂」是指受用快樂無比。
[Kehampaan] ini adalah (4 surga kosong), [Kecemerlangan] adalah terang dan anggun, [Sukacita] adalah di mana kebahagiaannya sungguh besar dan tak tertandingi.
要到這空、明、樂,須要一步一步的修行。
Ketiga jenis surga tersebut perlu dilatih langkah demi langkah.
有人問我: Ada yang bertanya:
「空、明、樂與佛的 法 Dharma、報 Sambhoga、應 Nirmana 三身,是不是有關聯性?」
Kekosongan, Kecemerlangan, Sukacita dengan 3 tubuh (kaya) buddha, apakah ada hubungannya?
我答: Aku menjawabnya:
「有同有不同!」 Ada kemiripan dan perbedaan.
我如此解釋佛的三身如下:
法身──這是諸法形象的本體。
Dharmakaya – adalah wujud dari tubuh asal (kodrat) semua Dharma.
稱呼甚多,真如、空性、真實、實相、真心等等。
是非常難以解釋的。
所以:
恆在、不審、不生、不滅、不垢、不淨、不來、不去、不一、不異、無差別、無分別、平等、實性。
又是身空、心空、法空、性空。
Demikian juga halnya tubuh hampa, hati hampa, dharma hampa, kodrat juga hampa.
我們常說「法身 Dharmakaya 佛」是毘盧遮那 Vairocana佛(大日如來)。
(這個空性比四空天,更高超)
報身──是佛的圓滿功德所感的圓滿色身,具有三十二種莊嚴,八十種隨形好,是一種光明無盡,無自性的幻化。
Sambhogakaya – adalah perwujudan tubuh Buddha yang pahalanya sempurna, terdiri dari 32 tanda keagungan utama (Dvatrimsam Maha Purusa Laksanani) dan 80 tanda keagungan kecil (Aśītyanuvyañjanāni),
Yang merupakan transformasi dari sejenis cahaya cemerlang yang tiada batasnya dan tanpa kodrati.
盧舍那佛 Locanabuddha 即是報身佛 Sambhogakaya 。
所有的佛國淨土顯化出來的佛,都是報身佛,釋迦牟尼佛的報身是常居色究竟天。
(佛的報身,比色界天的光明,更無盡)
應身──是慈悲六道眾生,應世顯出來度眾生而化現的。
Nirmanakaya – adalah tubuh atau wujud transformasi, muncul dari Bodhicitta untuk semua insan di dalam 6 alam samsara, demi menyelamatkan mereka yang memiliki wujud.
出現在世間是為了「無緣大慈、同體大悲」變化出來,度化眾生的明師即是也。
促使眾生因應身佛(化佛)的指引,利益有情眾生而出現。
世界存在,輪迴不空,所以(化佛)就不停的出現。
應身佛教導眾生的修行。
應身佛的形象不一,也無所不在。
在人間的「釋迦牟尼佛」也就是應身佛。
我認為:
空性──法身。
光明──報身。
光明覺性──應身。(化身)
簡單的說:
「空、明、明空」。
空性證法身佛。
光明莊嚴證報身佛。
光明覺性證應身佛(化佛)。
講了這麼多,到底口訣是什麼?
口訣在一個字:「修」。
Setelah bicara panjang lebar seperti ini, sebenarnya apa Rahasianya?
Satu kata: Melatih diri.
有一個笑話:
甲說:
「我太太最近迷上吹口琴,我好喜歡!」
乙問:
「為什麼?」
甲答:
「她天天練習吹口琴,就不會對我嘮叨了!」
哈哈哈!
我教大家修行,是有益處:
修行之後,有了證悟,便不會生貪心,不生妄念,不生煩惱,不生迷惑,清淨無染了。
這「修」之一字,是眾生獲得解脫的基點,要離開六道輪迴。
Hanya satu kata [Melatih diri] inilah yang menjadi hal terpenting bagi semua insan supaya bisa Mendobrak Bebas dan meninggalkan 6 alam Samsara.
只有一個字:「修」。
~~~~~~~~~~~
Kamu menikmatinya?
Dan mendapatkan kiat-kiat yang berguna?
Selamat melatih diri!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Wednesday, December 2, 2015
空、明、樂的三部曲 3 Music Sheets of Void, Brightness, Bliss
Terjemahan Indonesia: Tiga serangkai notasi musik Kehampaan, Kecemerlangan, dan Sukacita
Source: 蓮生活佛 > 師尊文集 > 240_打開寶庫之門——盧勝彥的祕密口訣 > 空、明、樂的三部曲

我常常提到三界天的分別是:
I often mention differentiating the 3 Heavenly Realm as:
空──無色界天。Void - Formless Heavenly Realm
明──色界天。 Brightness - Form Heavenly Realm
樂──欲界天。Bliss - Desire Heavenly Realm
空──無色界天。Void - Formless Heavenly Realm
明──色界天。 Brightness - Form Heavenly Realm
樂──欲界天。Bliss - Desire Heavenly Realm
這個「空」是指空(四空天),「明」是指光明莊嚴,「樂」是指受用快樂無比。
This [Void] is (4 Void Heaven) , [Brightness] is bright and dignified, [Bliss] is use with great and unsurpass joy/happiness.
要到這空、明、樂,須要一步一步的修行。
All these 3 need to cultivate Step by Step.
有人問我:Someone asked:
「空、明、樂與佛的 法 Dharma、報 Sambhoga、應 Nirmana 三身,是不是有關聯性?」
Void, Brightness, Bliss and Buddha's 3 kayas, have they connections?
我答:I answered:
「有同有不同!」Have similarities and differences!
我如此解釋佛的三身如下:
法身──這是諸法形象的本體。
Dharmakaya - this is forms of all Dharma's original body or nature.
稱呼甚多,真如、空性、真實、實相、真心等等。
是非常難以解釋的。
所以:
恆在、不審、不生、不滅、不垢、不淨、不來、不去、不一、不異、無差別、無分別、平等、實性。
又是身空、心空、法空、性空。
Also body void, heart void, dharma void, nature void.
我們常說「法身 Dharmakaya 佛」是毘盧遮那 Vairocana佛(大日如來)。
(這個空性比四空天,更高超)
報身──是佛的圓滿功德所感的圓滿色身,具有三十二種莊嚴,八十種隨形好,是一種光明無盡,無自性的幻化。
Sambhogakaya - is Buddha's rounded perfection merit perception of rounded perfect form/body, consist of 32 type of dignity (Dvatrimsam Maha Purusa Laksanani), aśītyanuvyañjanāni [八十种好 Aśītyanuvyañjanāni],
is transformation from a type of infinite brightness & without self nature.
盧舍那佛 Locanabuddha 即是報身佛 Sambhogakaya 。
所有的佛國淨土顯化出來的佛,都是報身佛,釋迦牟尼佛的報身是常居色究竟天。
(佛的報身,比色界天的光明,更無盡)
應身──是慈悲六道眾生,應世顯出來度眾生而化現的。
Nirmanakaya - is transformation body or form resulting from Boddhicitta for beings of 6 realms of transmigration, to succour them with forms.
出現在世間是為了「無緣大慈、同體大悲」變化出來,度化眾生的明師即是也。
促使眾生因應身佛(化佛)的指引,利益有情眾生而出現。
世界存在,輪迴不空,所以(化佛)就不停的出現。
應身佛教導眾生的修行。
應身佛的形象不一,也無所不在。
在人間的「釋迦牟尼佛」也就是應身佛。
促使眾生因應身佛(化佛)的指引,利益有情眾生而出現。
世界存在,輪迴不空,所以(化佛)就不停的出現。
應身佛教導眾生的修行。
應身佛的形象不一,也無所不在。
在人間的「釋迦牟尼佛」也就是應身佛。
我認為:
空性──法身。
光明──報身。
光明覺性──應身。(化身)
空性──法身。
光明──報身。
光明覺性──應身。(化身)
簡單的說:
「空、明、明空」。
空性證法身佛。
光明莊嚴證報身佛。
光明覺性證應身佛(化佛)。
「空、明、明空」。
空性證法身佛。
光明莊嚴證報身佛。
光明覺性證應身佛(化佛)。
講了這麼多,到底口訣是什麼?
口訣在一個字:「修」。
After saying so much, so what is the Key Point/ Secret?
It is one word: Cultivate.
有一個笑話:
甲說:
「我太太最近迷上吹口琴,我好喜歡!」
乙問:
「為什麼?」
甲答:
「她天天練習吹口琴,就不會對我嘮叨了!」
哈哈哈!
我教大家修行,是有益處:
修行之後,有了證悟,便不會生貪心,不生妄念,不生煩惱,不生迷惑,清淨無染了。
這「修」之一字,是眾生獲得解脫的基點,要離開六道輪迴。
Only [Cultivate] this one word, is the fundamental point for all beings to achieve Break free and leave the 6 realms of transmigration.
只有一個字:「修」。
~~~~~~~~~~~
Enjoy?
Pick up some useful tips?
Happy cultivating!
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Wednesday, March 4, 2015
Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma
Dibagikan oleh Lotuschef – 23 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Bodhidharma's Wake-up Sermon
Di atas adalah sesi Puja Api Homa di Semarang, Indonesia.
Teman-teman sekalian juga bisa menerjemahkan sendiri dari versi Bahasa Mandarinnya [--- 达磨大师《悟性论 ---]
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
~~~~~~~~~~~
Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma
Diterjemahkan dari: Wake-up SermonIntisari dari Sang Jalan adalah melepaskan diri dari kemelekatan. Dan tujuan mereka yang melatihnya adalah terbebaskan dari segala macam rupa penampilan. Di dalam sutra dituliskan bahwa melepaskan diri dari kemelekatan adalah pencerahan, karena ia meniadakan rupa penampilan. Kebuddhaan berarti kesadaran. Orang-orang awam yang pikirannya tersadarkan akan mencari Jalan menuju Pencerahan, dan oleh karenanya disebut sebagai para Buddha. Demikian pula sutra-sutra juga menuliskan, “Mereka yang membebaskan dirinya dari segala macam rupa penampilan disebut sebagai Buddha.” Penampilan dari wujud rupa sebagai [bukan penampilan] tak bisa dilihat secara visual, ia hanya bisa dipahami lewat sarana kebijaksanaan. Siapapun yang mendengar dan mempercayai ajaran ini berarti menapaki Mahayana dan meninggalkan tiga alam. Ketiga alam mengacu pada Keserakahan, Amarah, dan Khayalan. Meninggalkan tiga alam tersebut berarti kembali dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan kepada Moralitas, Meditasi, dan Kebijaksanaan. Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak punya kodrat. Mereka bergantung pada badan jasmani. Dan mereka yang mampu merenung pasti akan melihat kalau kodrat dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan adalah kodrat Buddha. Di luar Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak ada kodrat Buddha lainnya. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha hanya akan menjadi Buddha saat hidup bersama dengan tiga racun, dan memelihara diri mereka dengan Dharma yang suci.” Ketiga racun tersebut adalah Keserakahan, Amarah, dan Khayalan.
Mahayana adalah yana (kendaraan) yang terbesar di antara semua yana. Ia adalah kendaraan para bodhisattva, yang menggunakan semua hal tanpa menggunakan apapun, dan yang bepergian sepanjang hari tanpa bepergian. Demikianlah kendaraan para Buddha.
Di dalam sutra dikatakan, “Tiada kendaraan adalah kendaraan dari para Buddha.”
Oleh karenanya siapapun yang merealisasikan bahwa enam indera tidaklah nyata, bahwa lima skandha (agregat) adalah fiksi, bahwa tak ada satupun dari mereka yang bisa ditemukan di bagian tubuh manapun, akan memahami bahasa para Buddha. Di dalam sutra tertulis, “Gua lima agregat adalah aula Zen. Terbukanya mata batin adalah pintu masuk Mahayana.” Memangnya masih kurang jelas?
Tak memikirkan tentang apapun adalah Zen. Begitu kamu tahu hal ini, maka berjalan, duduk, ataupun berbaring, semua yang kamu lakukan adalah Zen. Memahami kalau pikiran adalah kosong berarti melihat Sang Buddha. Para Buddha dari sepuluh penjuru tak punya pikiran. Demikianlah melihat [tiada pikiran] adalah melihat Sang Buddha.
Melepaskan diri tanpa menyesal adalah amal terbesar. Melampaui gerakan dan keheningan adalah meditasi tertinggi. Orang-orang awam terus bergerak, dan para Arhat berdiam diri. Namun meditasi tertinggi melampaui semua yang dilakukan orang awam maupun Arhat. Orang-orang yang mencapai pemahaman seperti ini akan membebaskan diri mereka dari semua rupa penampilan tanpa perlu bersusah payah, dan menyembuhkan penyakit tanpa perlu perawatan. Demikianlah kesaktian Zen yang agung.
Menggunakan pikiran untuk mencari realita adalah Khayal belaka. Tak menggunakan pikiran untuk mencari realita barulah Kesadaran. Membebaskan diri sendiri dari segala kata-kata berarti Pembebasan. Tak ternoda oleh debu sensasi inderawi berarti Menjaga Dharma. Melampaui kehidupan dan kematian berarti Meninggalkan rumah (ditahbiskan).
Tak menderita kehidupan lain berarti Mencapai Sang Jalan. Tak menciptakan khayalan berarti Pencerahan. Tak melibatkan diri dalam kebodohan berarti Kebijaksanaan. Tiada kekuatiran berarti Nirwana. Dan tiada rupa dari pikiran berarti Pantai seberang.
Saat kamu tersesat, pantai ini muncul. Saat kamu tersadarkan, pantainya tak ada. Orang-orang awam tinggal di pantai ini. Namun mereka yang menemukan kendaraan yang teragung dari segalanya tidaklah tinggal di pantai ini ataupun pantai seberang. Mereka mampu meninggalkan kedua pantai. Mereka yang melihat bahwa pantai yang satu berbeda dari pantai satunya lagi berarti belum paham akan Zen.
Khayalan berarti menjadi awam. Sedangkan kesadaran berarti Kebuddhaan. Mereka tak sama, dan juga tak berbeda. Itu hanyalah cara orang-orang membedakan antara khayalan dengan kesadaran. Saat kita tersesat, ada dunia di mana kita harus meloloskan diri darinya. Saat kita sadar, tak perlu meloloskan diri dari apapun.
Dari sudut Dharma yang Imparsial (setara dan tak bias), sebenarnya orang awam tiada bedanya dengan para suciwan. Di dalam sutra dikatakan bahwa Dharma Imparsial merupakan sesuatu yang tak bisa ditembusi oleh orang awam, dan tak bisa dilatih oleh para suciwan. Dharma Imparsial hanya dilatih oleh para maha bodhisattva dan buddha. Melihat kehidupan sebagai berbeda dari kematian, atau gerakan dianggap berbeda dari keheningan, berarti menjadi parsial. Menjadi imparsial berarti melihat penderitaan tiada bedanya dengan nirwana, karena kodrat dari keduanya adalah kosong. Membayangkan mereka mengakhiri penderitaan dan memasuki nirwana, para Arhat malah akhirnya terperangkap oleh nirwana. Namun para bodhisattva tahu bahwa penderitaan pada dasarnya kosong. Dan dengan berdiam di dalam kekosongan, mereka berdiam di dalam nirwana. Nirwana berarti tiada kelahiran dan tiada kematian. Ia melampaui lahir dan mati, dan melampaui nirwana juga. Saat pikiran berhenti bergerak, ia memasuki nirwana. Nirwana adalah pikiran yang kosong. Saat khayalan sudah tak ada lagi, para Buddha mencapai nirwana. Saat penderitaan sudah tak ada lagi, para bodhisattva memasuki pencerahan – suatu tempat tak berpenghuni yang terbebas dari keserakahan, amarah, ataupun khayalan. Keserakahan adalah alam nafsu, amarah adalah alam dengan wujud, dan khayalan adalah alam tanpa wujud. Saat pikiran terpicu, kamu memasuki tiga alam. Saat sebuah pikiran berakhir, kamu meninggalkan tiga alam. Awal munculnya ataupun berakhirnya ketiga alam, keberadaan ataupun ketidakberadaan segala hal, semuanya bergantung pada pikiran. Dan hal ini berlaku untuk semua hal, bahkan sampai ke benda mati seperti batu dan tongkat.
Siapapun yang mengerti kalau pikiran adalah sebuah fiksi (rekaan), dan tak ada satupun yang nyata, berarti tahu bahwa pikirannya sendiri bukan ada ataupun tiada. Orang-orang awam terus menciptakan pikiran, menganggapnya ia ada. Dan para Arhat terus meniadakan pikiran, menganggapnya tiada. Namun para bodhisattva dan budda tak menciptakan ataupun meniadakan pikiran. Inilah yang dimaksud sebagai “pikiran bukannya ada ataupun tiada” – dan hal ini dinamakan sebagai Jalan Tengah.
Kalau kamu memakai pikiranmu untuk mempelajari realita, kamu tak akan paham akan pikiranmu ataupun realita. Kalau kamu mempelajari realita tanpa menggunakan pikiranmu, kamu akan memahami keduanya. Mereka yang tak paham ya tak akan paham mengenai [pemahaman]. Dan mereka yang paham, akan paham [tidak memahami]. Orang-orang dengan visi penglihatan yang sejati akan tahu kalau pikiran itu kosong. Mereka melampaui pemahaman dan bukan pemahaman. Tiadanya baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] adalah pemahaman yang sesungguhnya. Dilihat dengan penglihatan sejati, wujud bukanlah sekedar wujud belaka, karena wujud bergantung pada pikiran. Dan pikiran juga bukan sekedar pikiran belaka, karena pikiran bergantung pada wujud. Pikiran dan wujud saling menciptakan dan meninggalkan. Yang [ada] akan muncul dan saling berhubungan dengan yang [tiada]. Dan yang [tiada] tak akan muncul dan berhubungan dengan yang [ada]. Demikianlah visi penglihatan yang sejati. Dengan menggunakan visi semacam ini, tiada yang [dilihat] dan tiada yang [tak dilihat]-nya. Penglihatan semacam ini menembus hingga sepuluh penjuru tanpa melihat: karena tiada yang dilihatnya; karena [tak melihat] berarti [melihat]; karena [melihat] berarti [tak melihat]. Yang dilihat orang awam adalah khayalan. Sedangkan visi penglihatan sejati terlepas dari melihat. Pikiran dan dunia saling bertolak belakang, dan visi penglihatan akan muncul saat mereka saling bertemu. Saat pikiranmu tak bergejolak di dalam, maka dunia tak akan muncul di luar. Saat dunia dan pikiran menjadi tembus pandang, inilah visi penglihatan yang sejati. Dan pemahaman semacam ini adalah pemahaman yang sejati.
Tak melihat apapun berarti melihat Sang Jalan, dan tak memahami apapun berarti memahami Dharma, karena melihat bukanlah [melihat] ataupun [tak melihat], dan berhubung pemahaman bukanlah [pemahaman] ataupun [bukan pemahaman]. Melihat tanpa melihat adalah visi yang sejati. Mehamami tanpa memahami adalah pemahaman yang sejati.
Visi yang sejati bukan sekedar melihat yang [melihat]. Ia juga melihat yang [tak melihat]. Dan pemahaman yang sejati bukanlah sekedar memahami [pemahaman]. Ia juga memahami yang [bukan pemahaman]. Kalau kamu paham semua hal, berarti kamu tak paham. Hanya saat kamu tak memahami sesuatupun, barulah dikatakan pemahaman yang sejati. Pemahaman adalah bukan [memahami] ataupun [tak memahami].
Di dalam sutra dikatakan, “Tidak melepaskan kebijaksanaan berarti kebodohan.” Jadi saat pikiran tak ada, baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] menjadi benar. Saat pikiran ada, [pemahaman] dan [bukan pemahaman] menjadi salah semuanya. Saat kamu paham, realita bergantung kepadamu. Saat kamu tak paham, kamu bergantung pada realita. Saat realitas bergantung padamu, yang tak nyata akan menjadi nyata. Saat kamu bergantung pada realita, yang nyata akan menjadi salah. Saat kamu bergantung pada realita, semuanya menjadi salah. Saat realita bergantung padamu, semuanya menjadi benar. Demikianlah para suciwan tak menggunakan pikirannya untuk mencari realita, ataupun realita untuk mencari pikirannya, ataupun pikirannya untuk mencari pikirannya sendiri, ataupun realita untuk mencari realita. Pikirannya tak menimbulkan realita. Dan realita tak memicu pikirannya. Dan berhubung pikirannya dan realita sama-sama hening, maka ia selalu berada di dalam kondisi samadhi.
Saat pikiran awam muncul, Kebuddhaan menghilang. Saat pikiran awam menghilang, Kebuddhaan muncul. Saat pikiran muncul, realita menghilang. Saat pikiran menghilang, realita muncul. Siapapun yang tahu bahwa tak ada satupun hal yang bergantung pada apapun juga, ia telah menemukan Sang Jalan. Dan siapapun yang memahami bahwa pikiran tak bergantung pada apapun, ia selalu berada di dalam pencerahan.
Saat kamu tak paham, kamu salah. Saat kamu paham, kamu tak salah. Ini karena kodrat [salah] adalah kosong. Saat kamu tak paham, yang benar sepertinya salah. Saat kamu paham, yang salah tidaklah salah, karena [salah] itu tak ada.
Di dalam sutra dikatakan, “Tak ada satupun yang punya kodratnya sendiri.” Bertindaklah. Jangan bertanya. Karena begitu kamu bertanya, kamu salah. [Salah] adalah hasil dari bertanya. Saat kamu telah mencapai pemahaman seperti ini, segala tindakan yang salah dari berbagai kehidupan di masa lampaumu akan terhapuskan. Saat kamu tersesat, enam indera dan lima bayangan menjadi penyebab penderitaan dan kematian. Begitu kamu tersadarkan, enam indera dan lima bayangan menjadi bahan pencapaian nirwana dan keabadian.
Ia yang mencari Sang Jalan tak mencari di luar dirinya sendiri. Ia tahu kalau pikiran adalah Sang Jalan. Namun saat ia menemukan pikiran, ia tak menemukan apapun. Dan saat ia menemukan Sang Jalan, ia tak menemukan apapun. Bila kamu berpikir bisa menggunakan pikiran untuk menemukan Sang Jalan, berarti kamu tersesat. Saat kamu tersesat, Kebuddhaan akan [ada]. Saat kamu sadar, Kebudhaan menjadi [tak ada]. Ini karena kesadaran adalah Kebudhaan.
Kalau kamu mencari Sang Jalan, ia tak akan muncul hingga tubuhmu menghilang. Seperti mengupas kulit pohon dari sebuah pohon. Tubuh karma ini selalu mengalami perubahan. Ia tak punya realita yang pasti. Bersadhanalah sesuai pikiranmu. Jangan membenci hidup dan mati, atau mencintai hidup dan mati. Bebaskan segala pikiranmu dari khayalan dan di dalam kehidupan ini kamu akan menyaksikan awal dari nirwana, dan di dalam kematian kamu akan mengalami [kepastian akan tiada kelahiran kembali].
Melihat wujud tapi tak ternodai olehnya, atau mendengar suara namun tak ternodai olehnya, adalah Pembebasan. Mata yang tak melekat pada wujud adalah pintu gerbang Zen. Singkatnya, mereka yang melihat keberadaan dan kodrat fenomena tanpa melekat kepadanya akan Terbebaskan. Mereka yang melihat wujud luaran fenomena malah terpenjara olehnya. Tidak menjadi subjek dari penderitaan adalah yang dimaksud sebagai Pembebasan. Tak ada pembebasan selain itu. Kalau kamu tahu cara melihat wujud, maka wujud tak akan memicu pikiran, dan pikiran tak akan memunculkan wujud. Baik wujud maupun pikiran suci adanya.
Kalau tak ada khayalan, maka pikiran adalah tanah suci para Buddha. Saat ada khayalan, pikiran menjadi neraka. Orang-orang awam menciptakan khayalan. Dan dengan [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di neraka. Para bodhisattva menembusi semua khayalan. Dan dengan tak [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di tanah suci para Buddha. Kalau kamu tak [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], semua kondisi pikiranmu adalah kosong, dan tiap pikiran menjadi tenang. Kamu melanglang menyusuri tanah-tanah suci para Buddha. Kalau kamu [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], setiap kondisi pikiranmu akan terganggu dan setiap pikiranmu akan selalu bergerak. Demikianlah kamu melanglang dari satu neraka ke neraka lainnya. Saat pikiran muncul, maka muncul juga yang namanya Karma Baik dan Karma Buruk, Surga dan Neraka. Saat tak ada pikiran yang muncul, maka tak ada Karma Baik ataupun Karma Buruk, tak ada Surga ataupun Neraka.
Tubuh ini bukan [ada] ataupun [tiada]. Oleh karenanya, [keberadaan] sebagai seorang awam dan [ketidakberadaan] sebagai seorang suciwan, adalah konsep-konsep yang seorang suciwan tak mengurusinya. Hatinya kosong dan luas bagaikan langit. Dari sanalah baru akan menyaksikan Sang Jalan. Ia melampaui para Arhat dan orang-orang awam.
Saat pikiran mencapai nirwana, kamu tak melihat nirwana, karena pikiran adalah nirwana. Kalau kamu melihat nirwana di suatu tempat di luar pikiran, berarti kamu menyesatkan dirimu sendiri.
Segala bentuk penderitaan merupakan benih buddha, karena penderitaan mendorong orang-orang awam untuk mencari kebijaksanaan. Kamu tak bisa bilang bahwa penderitaan merupakan Kebuddhaan. Tubuh dan pikiranmu adalah lahannya. Penderitaan adalah benihnya, kebijaksanaan merupakan tunasnya, dan Kebuddhaan adalah butiran gandumnya. Sang Buddha di dalam pikiran adalah bagaikan sebuah wewangian di dalam pohon. Ia datang dari pikiran yang bebas dari penderitaan, seperti wewangian yang menyebar dari pohon yang tak lapuk/membusuk. Jadi tak ada wewangian tanpa si pohon, dan tiada Buddha tanpa sang pikiran. Kalau ada wewangian tanpa sebuah pohon, berarti itu jenis wewangian lain. Kalau ada seorang Buddha tanpa pikiranmu, itu adalah Buddha lain.
Saat tiga racun ada di dalam pikiranmu, kamu tinggal di tanah yang kotor.
Saat tiga racun menghilang dari pikiranmu, kamu tinggal di tanah suci.
Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “kalau kamu mengisi sepetak tanah dengan noda dan kotoran, tak akan ada Buddha yang muncul.” Noda dan kotoran mengacu pada racun-racun. Buddha mengacu pada pikiran yang suci dan tersadarkan. Tiada bahasa yang bukan Dharma.
Seharian penuh berbicara terus tanpa mengatakan sepatah katapun adalah Sang Jalan.
Seharian penuh berhening dan masih mengatakan sesuatu berarti bukan Sang Jalan.
Jadi ucapan seorang Tathagata tak bergantung pada keheningan, ataupun keheningannya bergantung pada ucapan, ataupun ucapannya terpisah dari keheningannya. Mereka yang memahami baik ucapan maupun keheningan berarti berada di dalam samadhi. Kalau kamu bicara saat kamu tahu, Ucapanmu adalah bebas. Kalau kamu diam saat kamu tak tahu, diam-mu itu terikat. Bila ucapan tak melekat pada wujud, maka ia bebas. Lagipula kemelekatan tak ada hubungannya dengan bahasa. Realita tidaklah tinggi ataupun rendah. Kalau kamu melihat tinggi ataupun rendah, maka itu bukan yang sejati. Rakit tidaklah nyata, namun rakit (yang menyeberangkan) penumpang adalah nyata. Orang yang menaiki rakit seperti itu dapat menyeberangi sesuatu yang tak nyata. Demikianlah kenapa hal itu nyata.
Menurut dunia, ada yang namanya pria dan wanita, kaya dan miskin. Namun menurut Sang Jalan, tak ada pria ataupun wanita, tak ada kaya ataupun miskin. Saat seorang dewi merealisasikan Sang Jalan, ia tak merubah jenis kelaminnya. Saat bocah istal (pengurus kandang kuda) tersadarkan akan Kebenaran Sejati, ia tak merubah statusnya. Bebas dari jenis kelamin dan status, mereka punya tampilan mendasar yang sama. Sang dewi selama dua belas tahun mencari sisi kewanitaannya tanpa berhasil sedikitpun. Demikian pula bila menghabiskan dua belas tahun untuk mencari sisi laki-lakinya juga tak akan berbuah. Dua belas tahun mengacu pada [dua belas pintu masuk]. Maka tanpa pikiran, tiada Buddha. Tanpa Buddha, juga tiada pikiran.
*) Dua belas pintu masuk adalah: 6 organ inderawi (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) + 6 objek inderawi (pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan, dan pikiran).
Sama halnya, tanpa air maka tak ada es, dan tanpa es maka tak ada air. Siapapun yang bicara mengenai [meninggalkan pikiran] tak akan pergi jauh ke mana-mana. Janganlah melekat pada rupa penampilan pikiran. Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu tak melihat rupa penampilan, kamu melihat Sang Buddha.” Itulah yang dimaksud terbebas dari rupa penampilan pikiran. Tanpa [pikiran] maka tak ada Buddha – berarti Sang Buddha muncul dari pikiran. Pikiran melahirkan Buddha. Namun meski Buddha lahir dari pikiran, pikiran tak datang dari Sang Buddha, seperti ikan yang datang dari air, tapi air bukan datang dari ikan. Siapapun yang ingin melihat ikan akan melihat air sebelum melihat ikannya. Dan siapapun yang ingin melihat Buddha, akan melihat pikirannya sebelum ia melihat Sang Buddha. Begitu kamu melihat si ikan, kamu melupakan airnya. Begitu pula saat kamu telah melihat Sang Buddha, kamu melupakan pikiran. Kalau kamu tak melupakan pikiran, maka pikiran malah akan membingungkanmu, seperti air yang akan membingungkanmu bila kamu tak melupakannya.
Fana dan Kebuddhaan itu seperti air dan es. Menderita tiga racun berarti fana. Sedangkan tersucikan oleh tiga pelepasan adalah Kebuddhaan. Yang membeku menjadi es di musim dingin akan meleleh menjadi air di musim panas. Hilangkan es maka tak akan ada air lagi. Menyingkirkan kefanaan maka tak ada lagi Kebuddhaan. Sudah jelas bahwa kodrat es sama dengan kodrat air. Dan kodrat air sama dengan kodrat es. Kodrat kefanaan sama dengan kodrat Kebuddhaan. Kefanaan dan Kebuddhaan punya kodrat yang sama, sama seperti Wuto dan Futzu (ket: tanaman Aconitum carmichaelii) punya akar yang sama tapi berbeda musim. Hanya karena khayalan perbedaan saja sehingga kita punya kata-kata [Kefanaan] dan [Kebuddhaan]. Saat seekor ular menjadi naga, ia tak berganti kulit. Dan saat seorang awam menjadi suciwan, ia tak berganti wajah. Ia tahu akan pikirannya sendiri melalui kebijaksanaan batinnya, dan mengurus/memelihara tubuhnya lewat disiplin eksternal.
Orang-orang awam menyelamatkan para Buddha, dan sebaliknya para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Demikianlah yang dimaksud sebagai kesetaraan (imparsial). Orang awam menyelamatkan Buddha karena penderitaan menciptakan kesadaran. Sedangkan Buddha menyelamatkan orang awam karena kesadaran menghilangkan penderitaan. Penderitaan selalu ada, tapi kesadaran juga selalu ada. Kalau bukan karena penderitaan, maka tak ada bahan untuk menciptakan kesadaran. Dan kalau bukan karena kesadaran, maka tak ada bahan untuk menghilangkan penderitaan. Saat kamu tersesatkan, para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Saat kamu tersadarkan, orang-orang awam menyelamatkan para Buddha. Para Buddha tak menjadi Buddha begitu saja. Mereka diselamatkan oleh orang-orang awam. Para Buddha menganggap khayalan sebagai ayah mereka, dan keserakahan sebagai ibu mereka. Khayalan dan keserakahan adalah nama lain dari Kefanaan. Khayalan dan Kefanaan bagaikan tangan kiri dan tangan kanan. Tak ada bedanya.
Saat kamu tersesat, kamu berada di pantai ini. Saat kamu tersadarkan, kamu berada di pantai seberang. Namun begitu kamu tahu kalau pikiranmu kosong dan kamu tak melihat rupa penampilan, kamu telah melampaui khayalan dan kesadaran. Dan begitu kamu telah melampaui kedua hal tersebut, pantai seberang sudah tak ada lagi. Tathagata bukan berada di pantai ini ataupun di pantai seberang. Ia juga tak berada di tengah-tengahnya. Para Arhat berada di tengah-tengahnya dan orang-orang awam di pantai ini. Kebuddhaan ada di pantai seberang.
Para Buddha punya tiga tubuh: tubuh transformasi (nirmanakaya), tubuh pahala (sambhogakaya), dan tubuh sejati (dharmakaya). Tubuh transformasi juga dinamakan tubuh inkarnasi. Tubuh Transformasi muncul saat orang-orang awam melakukan perbuatan baik, Tubuh Pahala muncul di saat mereka melatih kebijaksanaan, dan Tubuh Sejati muncul saat mereka telah sadar akan keagungan yang maha mulia. Tubuh Transformasi adalah tubuh yang kamu lihat terbang di seluruh penjuru untuk menyelamatkan para insan di manapun berada. Tubuh Pahala mengakhiri segala keraguan. Pencerahan Agung yang muncul di Himalaya tiba-tiba menjadi nyata. Tubuh Sejati tak melakukan dan tak mengatakan apapun. Ia sepenuhnya hening. Namun sebenarnya tak ada satupun tubuh buddha, apalagi sampai menjadi tiga.
Pembahasan mengenai tiga tubuh ini hanya berdasarkan pemahaman manusia saja, yang bisa saja dangkal, sedang, ataupun mendalam.
Orang-orang dengan pemahaman yang dangkal akan membayangkan mereka mengumpulkan berkat dan salah menganggap Tubuh Transformasi sebagai Sang Buddha.
Mereka dengan pemahaman yang sedang akan membayangkan mereka sedang mengakhiri penderitaan dan salah menganggap Tubuh Pahala sebagai Sang Buddha.
Sedangkan mereka dengan pemahaman mendalam membayangkan mereka sedang mengalami Kebuddhaan dan salah menganggap Tubuh Sejati sebagai Sang Buddha.
Namun mereka dengan pemahaman paling mendalam akan melihat ke dalam dan tak terpengaruh oleh apapun juga.
Berhubung pikiran yang jernih adalah Sang Buddha, mereka mendapatkan pemahaman seorang Buddha tanpa menggunakan pikiran. Tiga tubuh, seperti semua hal lainnya, tak dapat dicapai dan tak bisa digambarkan pula.
Pikiran yang leluasa akan mencapai Sang Jalan. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha tak membabarkan Dharma. Mereka tak menyelamatkan para insan awam. Dan mereka tak mengalami Kebuddhaan.” Inilah yang kumaksudkan. Para insan menciptakan karma, namun karma tak menciptakan para insan. Mereka menciptakan karma di kehidupan ini dan menerima balasannya di kehidupan selanjutnya. Mereka tak bisa lari. Hanya ia yang sempurna yang tak menciptakan karma di kehidupan ini dan tak menerima balasannya juga. Di dalam sutra di katakan, “Ia yang tak menciptakan karma akan mendapatkan Dharma.” Ini bukan omong kosong belaka. Kamu bisa menciptakan karma, tapi kamu tak bisa menciptakan seorang manusia. Saat kamu menciptakan karma, kamu terlahir kembali bersama dengan karmamu. Saat kamu tak menciptakan karma, kamu menghilang bersama dengan karmamu. Demikianlah, karma bergantung pada individu, dan individu bergantung pada karma, bila seorang individu tak menciptakan karma, maka karma tak akan berpegang kepadanya. Dengan cara yang sama, “Seseorang bisa memperbesar Sang Jalan, namun Sang Jalan tak bisa memperbesar seseorang.”
Orang-orang awam terus menciptakan karma dan dengan salahnya bersikeras kalau tak ada retribusi. Tapi bisakah mereka menyangkal adanya penderitaan? Bisakah mereka menyangkal apa yang kondisi pikiran saat ini tabur maka kondisi pikiran selanjutnya akan tuai? Bagaimana caranya mereka meloloskan diri? Namun bila kondisi pikiran sekarang tak menabur apapun, kondisi pikiran selanjutnya tak akan menuai apapun. Jangan sampai salah memahami karma.
Di dalam sutra dikatakan, “Meski percaya kepada para Buddha, orang-orang membayangkan kalau para Buddha yang melatih penyangkalan diri (menjauhi kesenangan) bukanlah umat Buddha. Sama halnya dengan mereka yang membayangkan kalau para Buddha akan menerima balasan kekayaan ataupun kemiskinan. Mereka ini para icchantika. Mereka tak mampu percaya.” Ia yang paham akan ajaran para suciwan adalah seorang suciwan. Ia yang paham akan ajaran orang-orang awam adalah orang awam. Seorang awam yang mampu melepaskan ajaran awam dan mengikuti ajaran suciwan akan menjadi seorang suciwan. Namun orang-orang bodoh di dunia ini suka mencari suciwan di luaran sana. Mereka tak percaya kalau kebijaksanaan pikiran mereka sendiri adalah Sang Suciwan. Di dalam sutra dikatakan, “Kepada orang-orang yang tak punya pemahaman, jangan babarkan sutra ini.” Dan dikatakan juga, “Pikiran adalah ajaran.” Namun orang-orang yang tak punya pemahaman tak percaya kalau pikiran mereka sendiri atau dengan memahami ajaran ini mereka bisa menjadi suciwan. Mereka lebih suka mencari pengetahuan di luaran sana dan mendamba hal-hal di angkasa, patung/citra (sesuatu yang menyerupai) buddha, sinar, dupa, dan warna. Mereka termakan umpan kepalsuan dan pikirannya tersesat sampai jadi gila.
Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu melihat semua [rupa penampilan] sebagai bukan [rupa penampilan], kamu melihat Tathagata.” Pintu menuju Kebenaran Sejati banyaknya tak terhingga, namun mereka semua datang dari pikiran. Saat rupa penampilan pikiran menjadi setransparan angkasa, mereka hilang semuanya. Penderitaan kita yang tiada berakhir adalah akar dari segala penyakit. Saat orang-orang awam masih hidup, mereka kuatir akan kematian. Saat mereka kenyang, mereka kuatir akan kelaparan. Mereka selalu berada dalam kondisi Ketidakpastian yang Besar. Namun para suciwan tak mempertimbangkan masa lalu. Mereka juga tak kuatir akan masa depan. Juga tak melekat pada saat ini. Dan dari waktu ke waktu mereka selalu mengikuti Sang Jalan. Kalau kamu belum sadar akan kebenaran agung ini, lebih baik cari seorang guru di atas bumi ini atau di dalam surga. Jangan menumpuk kekuranganmu sendiri.
[--- Akhir dari Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma ---]
~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Nasihat Bagus lagi dari Bodhidharma, Sang Patriak Zen! Sungguh bersyukur kepada para penerjemah ceramah ini!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Monday, February 23, 2015
Bodhidharma's Wake Up Sermon
Terjemahan Indonesia: Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma
Dear all, You can also translate your own from the Chinese version as follows: [--- 达磨大师《悟性论 ---]
- Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
- Lama Lotuschef
- ~~~~~~~~~~~
THE ZEN TEACHINGS OF BODHIDHARMA
Translated by Red Pine 1987
Wake-up Sermon
The essence of the Way is detachment.
And the goal of those who practice is freedom from appearances.
The sutras say, Detachment is enlightenment because it negates appearances.
Buddhahood means awareness Mortals whose minds are aware reach the Way of Enlightenment and are therefore called Buddhas.
The sutras say, "Those who free themselves from all appearances are called Buddhas."
The appearance of appearance as no appearance can’t be seen visually but can only be known by means of wisdom.
Whoever hears and believes this teaching embarks on the Great Vehicle" and leaves the three realms.
The three realms are greed, anger, and delusion.
To leave the three realms means to go from greed, anger, and delusion back to morality, meditation, and wisdom.
Greed, anger, and delusion have no nature of their own.
They depend on mortals.
And anyone capable of reflection is bound to see that the nature of greed, anger, and delusion is the buddha-nature.
Beyond greed, anger, and delusion there is no other buddha-nature.
The sutras say, "Bu as have only become buddhas while living with the three poisons and nourishing themselves on the pure Dharma."
[经云:诸佛从本来,常处于三毒,长养于白法,而成于世尊。
经文中说:诸佛从本源而来,常处于三毒之中,在去除垢染的法中成长,最后成就为世尊的境界。
All Buddhas from their origins, abides within the 3 Poisons, grow by nourishing themselves with Purifying Dharma, ultimately attain Buddhahood. ]
The Great Vehicle is the greatest of all vehicles.
Using the mind to look for reality is delusion.
When you’re deluded, this shore exists.
Delusion means mortality.
In the light of the impartial Dharma, mortals look no different from sages.
Whoever knows that the mind is a fiction and devoid of anything real knows that his own mind neither exists nor doesn’t exist.
If you use your mind to study reality, you won’t understand either your mind or reality.
True vision isn’t just seeing seeing.
The sutras say, "Not to let go of wisdom is stupidity."
When the mortal mind appears, buddhahood disappears.
When you don’t understand, you are wrong.
To see form but not be corrupted by form or to hear sound but not to be corrupted by sound is liberation.
When delusions are absent, the mind is the land of Buddhas.
When the mind reaches nirvana, you don’t see nirvana, because the mind is nirvana.
*) Twelve entreances are: The six sense - organs, (eye, ear, nose, tongue, body and mind) and the six sense objects (sight, sound, smell, taste, touch and thought).
Likewise, without water there’s no ice, and without ice there is no water.
Mortality and Buddhahood are like water and ice.
Mortals liberate Buddhas and Buddhas liberate mortals.
The sutras say, "Despite believing in Buddhas, people who imagine that Buddhas practice austerities aren’t Buddhists.
The three poisons are greed, anger, and delusion.
The Great Vehicle is the greatest of all vehicles.
It’s the conveyance of bodhisattvas, who use everything wit out using anything and who travel all day without traveling.
Such is the vehicle of Buddhas.
The sutras say, "No vehicle is the vehicle of Buddhas."
Whoever realizes that the six senses aren’t real, that the five aggregates are fictions, that no such things can be located anywhere in the body, understands the language of Buddhas.
The sutras say, "No vehicle is the vehicle of Buddhas."
Whoever realizes that the six senses aren’t real, that the five aggregates are fictions, that no such things can be located anywhere in the body, understands the language of Buddhas.
The sutras say, "The cave of five aggregates is the hall of Zen.
The opening of the inner eye is the door of the Great Vehicle."
What could be clearer?
Not thinking about anything is Zen.
Not thinking about anything is Zen.
Once you know this, walking, standing, sitting, or lying down, everything you do is Zen.
To know that the mind is empty is to see the Buddha.
The Buddhas of the ten directions" have no mind.
To see no mind is to see the Buddha.
To give up yourself without regret is the greatest charity.
To give up yourself without regret is the greatest charity.
To transcend motion and stillness is the highest meditation.
Mortals keep moving, and Arhats stay still."
But the highest meditation surpasses both that of mortals and that of Arhats.
People who reach such understanding free themselves from all appearances without effort and cure all illnesses without treatment.
Such is the power of great Zen.
Using the mind to look for reality is delusion.
Not using the mind to took for reality is awareness.
Freeing oneself from words is liberation.
Remaining unblemished by the dust of sensation is guarding the Dharma.
Transcending life and death is leaving home."
Not suffering another existence is reaching the Way.
Not suffering another existence is reaching the Way.
Not creating delusions is enlightenment.
Not engaging in ignorance is wisdom.
No affliction is nirvana.
And no appearance of the mind is the other shore.
When you’re deluded, this shore exists.
When you wake tip, it doesn’t exist.
Mortals stay on this shore.
But those who discover the greatest of all vehicles stay on neither this shore nor the other shore. They’re able to leave both shores.
Those who see the other shore as different from this shore don’t understand Zen.
Delusion means mortality.
And awareness means Buddhahood.
They’re not the same.
And they’re not different.
It’s ‘List that people distinguish delusion from awareness.
When we’re deluded there’s a world to escape.
When we’re aware, there’s nothing to escape.
In the light of the impartial Dharma, mortals look no different from sages.
The sutras say that the impartial Dharma is something that mortals can’t penetrate and sages can’t practice.
The impartial Dharma is only practiced by great bodhisattvas and Buddhas.
To look on life as different from death or on motion as different from stillness is to be partial.
To be impartial means to look on suffering as no different from nirvana,
because the nature of both is emptiness.
By imagining they’re putting an end to Suffering and entering nirvana Arhats end up trapped by nirvana.
But bodhisattvas know that suffering is essentially empty.
And by remaining in emptiness they remain in nirvana.
Nirvana means no birth and no death.
It’s beyond birth and death and beyond nirvana.
When the mind stops moving, it enters nirvana.
Nirvana is an empty mind.
When delusions don't exist, Buddhas reach nirvana.
Where afflictions don’t exist, bodhisattvas enter the place of enlightenment
An uninhabited place is one without greed, anger, or delusion.
Greed is the realm of desire, anger the realm of form, and delusion the formless realm.
When a thought begins, you enter the three realms.
When a thought ends, you leave the three realms.
The beginning or end of the three realms, the existence or nonexistence of anything, depends on the mind.
This applies to everything, even to such inanimate objects as rocks and sticks.
Whoever knows that the mind is a fiction and devoid of anything real knows that his own mind neither exists nor doesn’t exist.
Mortals keep creating the mind, claiming it exists.
And Arhats keep negating the mind, claiming it doesn’t exist.
But bodhisattvas and Buddhas neither create nor negate the mind.
This is what’s meant by the mind that neither exists nor doesn’t exist.
The mind that neither exists nor doesn’t exist is called the Middle Way.
If you use your mind to study reality, you won’t understand either your mind or reality.
If you study reality without using your mind, you’ll understand both.
Those who don’t understand don’t understand understanding.
And those who understand, understand not understanding.
People capable of true vision know that the mind is empty.
They transcend both understanding and not understanding.
The absence of both understanding and not understanding is true understanding
Seen with true vision, form isn’t simply form, because form depends on mind.
And mind isn’t simply mind, because mind depends on form.
Mind and form create and negate each other.
That which exists exists in relation to that which doesn’t exist.
And that which doesn’t exist doesn’t exist in relation to that which exists.
This is true vision.
By means of such vision nothing is seen and nothing is not seen.
Such vision reaches throughout the ten directions without seeing:
because nothing is seen;
because not seeing is seen;
because seeing isn’t seeing.
What mortals see are delusions.
True vision is detached from seeing.
The mind and the world are opposites, and vision arises where they meet.
When your mind doesn’t stir inside, the world doesn’t arise outside.
When the world and the mind are both transparent, this is true vision.
And such understanding is true understanding.
To see nothing is to perceive the Way,
To see nothing is to perceive the Way,
and to understand nothing is to know the Dharma,
because seeing is neither seeing nor not seeing and
because understanding is neither understanding nor not understanding.
Seeing without seeing is true vision.
Understanding without understanding is true understanding.
True vision isn’t just seeing seeing.
It’s also seeing not seeing.
And true understanding isn’t just understanding understanding.
It’s also understanding not understanding.
If you understand anything, you don’t understand.
Only when you understand nothing is it true understanding.
Understanding is neither understanding nor not understanding.
The sutras say, "Not to let go of wisdom is stupidity."
When the mind doesn’t exist, understanding and not understanding are both true.
When the mind exists, understanding and not understanding are both false.
When you understand, reality depends on you.
When you don’t understand, you depend on reality.
When reality depends on you, that which isn’t real becomes real.
When you depend on reality, that which is real becomes false.
When you depend on reality, everything is false.
When reality depends on you, everything is true.
Thus, the sage doesn’t use his mind to look for reality,
or reality to look for his mind,
or his mind to look for his mind,
or reality to look for reality.
His mind doesn’t give rise to reality.
And reality doesn’t give rise to his mind.
And because both his mind and reality are still, he’s always in samadhi.
When the mortal mind appears, buddhahood disappears.
When the mortal mind disappears, buddhahood appears.
When the mind appears, reality disappears.
When the mind disappears, reality appears.
Whoever knows that nothing depends on anything has found the Way.
And whoever knows that the mind depends on nothing is always at the place of enlightenment.
When you don’t understand, you are wrong.
When you understand, you are not wrong.
This is because the nature of wrong is empty.
When you don’t understand right seems wrong.
When you understand, wrong isn’t wrong, because wrong doesn’t exist.
The sutras say, "Nothing has a nature of its own."
Act. Don’t question.
When you question, you’re wrong.
Wrong is the result of questioning.
When you reach such an understanding, the wrong deeds of your past lives are wiped away.
When you’re deluded, the six senses and five shades are constructs of suffering and mortality
When you wake up, the six senses and five shades are constructs of nirvana and immortality.
Someone who seeks the Way doesn’t look beyond himself.
Someone who seeks the Way doesn’t look beyond himself.
He knows that the mind is the Way.
But when he finds the mind, he finds nothing.
And when he finds the Way, he finds nothing.
If you think you can use the mind to find the Way, you’re deluded.
When you're deluded, buddhahood exists.
When you’re aware, it doesn’t exist.
This is because awareness is buddhahood.
If you’re looking for the Way, the Way won’t appear until your body’ disappears.
It’s like stripping bark from a tree.
This karmic body undergoes constant change.
It has no fixed reality.
Practice according to your thoughts.
Don’t hate life and death or love life and death.
Keep your every thought free of delusion, and in life you’ll witness the beginning of nirvana and in death you’ll experience the assurance of no rebirth.
To see form but not be corrupted by form or to hear sound but not to be corrupted by sound is liberation.
Eyes that aren’t attached to form are the gates of Zen.
In short, those who perceive the existence and nature of phenomena and remain unattached are liberated.
Those who perceive the external appearance of phenomena are at their mercy.
Not to be subject to afflictions is what’s meant by liberation.
There’s no other liberation.
When you know how to look at form, form doesn’t give rise to mind and mind doesn’t give rise to form.
Form and mind are both pure.
When delusions are absent, the mind is the land of Buddhas.
When delusions are present, the mind is hell.
Mortals create delusions.
And by using the mind to give birth to mind they always find themselves in hell.
Bodhisattvas see through delusions.
And by not using the mind to give birth to mind they always find themselves in the land of Buddhas.
If you don’t use your mind to create mind, every state of mind is empty and every thought is still. You go from one buddhaland to another.
If you use your mind to create mind, every state of mind is disturbed and every thought is in motion. You go from one hell to the next.
When a thought arises, there’s good karma and bad karma, heaven and hell.
When no thought arises, there’s no good karma or bad karma, no heaven or hell.
The body neither exists nor doesn’t exist.
The body neither exists nor doesn’t exist.
Hence existence as a mortal and nonexistence as a sage are conceptions with which a sage has nothing to do.
His heart is empty and spacious as the sky.
That which follows is witnessed on the Way.
It’s beyond the ken of Arhats and mortals.
When the mind reaches nirvana, you don’t see nirvana, because the mind is nirvana.
If you see nirvana somewhere outside the mind, you’re deluding yourself.
Every suffering is a buddha-seed, because suffering impels mortals to seek wisdom.
Every suffering is a buddha-seed, because suffering impels mortals to seek wisdom.
But you can only say that suffering gives rise to Buddhahood.
You can’t say that suffering is Buddhahood.
Your body and mind are the field.
Suffering is the seed, wisdom the sprout, and Buddhahood the grain.
The Buddha in the mind is like a fragrance in a tree.
The Buddha comes from a mind free of suffering, just as a fragrance comes from a tree free of decay.
There’s no fragrance without the tree and no Buddha without the mind.
If there’s a fragrance without a tree, it’s a different fragrance.
If there’s a Buddha without your mind, it’s a different Buddha.
When the three poisons are present in your mind, you live in a land of filth.
When the three poisons are absent from your mind, you live in a land of purity.
When the three poisons are present in your mind, you live in a land of filth.
When the three poisons are absent from your mind, you live in a land of purity.
The sutras say, "if you fill a land with impurity and filth, no Buddha will ever appear."
Impurity and filth refer to on (?) and the other poisons.
A Buddha refers to a pure and awakened mind.
There’s no language that, isn’t the Dharma.
To talk all day without saying anything is the Way.
To be silent all day and still say something isn’t the Way.
Hence neither does a Tathagata speech depend on silence,
nor does his silence depend on speech,
nor does his speech exist apart from his silence.
Those who understand both speech and silence are in samadhi.
If you speak when you know, Your speech is free.
If you’re silent when you don’t know, your silence is tied.
If speech isn’t attached to appearances its free.
If silence is attached to appearances, it’s tied.
Language is essentially free.
It has nothing to do with attachment.
And attachment has nothing to do with language.
Reality has no high or low.
If you see high or low, It isn’t real.
A raft isn’t real. But a passenger raft is.
A person who rides such a raft can cross that which isn’t real.
That’s why it’s real.
According to the world there’s male and female, rich and poor.
According to the world there’s male and female, rich and poor.
According to the Way there’s no male or female, no rich or poor.
When the goddess realized the Way, she didn’t change her sex.
When the stable boy" awakened to the Truth, he didn’t change his status.
Free of sex and status, they shared the same basic appearance.
The goddess searched twelve years for her womanhood without success.
To search twelve years for ones manhood would likewise be fruitless.
The twelve years refer to the twelve entrances.*
Without the mind there s no Buddha.
Without the Buddha there is no mind.
*) Twelve entreances are: The six sense - organs, (eye, ear, nose, tongue, body and mind) and the six sense objects (sight, sound, smell, taste, touch and thought).
Likewise, without water there’s no ice, and without ice there is no water.
Whoever talks about leaving the mind doesn’t get very far.
Don’t become attached to appearances of the mind.
The sutras say, "When you see no appearance, you see the Buddha."
This is what’s meant by being free from appearances of the mind.
Without the mind there’s no Buddha means that the-buddha comes from the mind.
The mind gives birth to the Buddha.
But although the Buddha comes from the mind,
the mind doesn’t come from the Buddha,
just as fish come from water,
but water doesn’t come from fish.
Whoever wants to see a fish sees the water before he sees the fish.
And whoever wants to see a Buddha sees the mind before he sees the Buddha.
Once you’ve seen the fish, You forget about the water.
And once you’ve seen the Buddha, you forget about the mind.
If you don’t forget about the mind, the mind will confuse you, just as the water will confuse you if you don’t forget about it.
Mortality and Buddhahood are like water and ice.
To be afflicted by the three poisons is mortality.
To be purified by the three releases" is Buddhahood.
That which freezes into ice in the winter melts into water in summer.
Eliminate ice and there’s no more water.
Get rid of mortality and there’s no more Buddhahood.
Clearly, the nature of ice is the nature of water.
And the nature of water is the nature of ice.
And the nature of mortality is the nature of Buddhahood.
Mortality and Buddhahood share the same nature, just as Wutou and Futzu share the same root but not the same season.
It’s only because of the delusion of differences that we have the words mortality and buddhahood. When a snake becomes a dragon, it doesn’t change its scales.
And when a mortal becomes a sage, he doesn’t change his face.
He knows his mind through internal wisdom and takes care of his body through external discipline.
Mortals liberate Buddhas and Buddhas liberate mortals.
This is what’s meant by impartiality.
Mortals liberate Buddhas because affliction creates awareness.
And Buddhas liberate mortals because awareness negates affliction.
There can’t help but be affliction.
And there can’t help but be awareness.
If it weren’t for affliction, there would be nothing to create awareness.
And if it weren’t for awareness, there would be nothing to negate affliction.
When you’re deluded, Buddhas liberate mortals.
When you’re aware, mortals liberate Buddhas.
Buddhas don’t become Buddhas on their own.
They’re liberated by mortals.
Buddhas regard delusion as their father and greed as their mother.
Delusion and greed are different names for mortality.
Delusion and mortality are like the left hand and the right hand.
There’s no other difference.
When you’re deluded, you’re on this shore.
When you’re deluded, you’re on this shore.
When you’re aware, you’re on the other shore.
But once you know your mind is empty and you see no appearances, you’re beyond delusion and awareness.
And once you’re beyond delusion and awareness, the other shore doesn’t exist.
The tathagata isn’t on this shore or the other shore.
And he isn’t in midstream.
Arhats are in midstream and mortals are on this shore.
On the other shore is Buddhahood.
Buddhas have three bodies: a transformation body a reward body, and a real body.
The transformation body is also called the incarnation body.
The transformation body appears when mortals do good deeds,
the reward body when they cultivate wisdom,
and the real body when they become aware of the sublime.
The transformation body is the one you see flying in all directions rescuing others wherever it can. The reward body puts an end to doubts.
The Great Enlightenment occurred in the Himalayas suddenly becomes true.
The real body doesn’t do or say anything.
It remains perfectly still.
But actually, there’s not even one buddha-body, much less three.
This talk of three bodies is simply based on human understanding, which can be shallow, moderate, or deep.
People of shallow understanding imagine they’re piling up blessings and mistake the transformation body for the Buddha.
People of moderate understanding imagine they’re putting an end to Suffering and mistake the reward body for the Buddha.
And people of deep understanding imagine they’re experiencing Buddhahood and mistake the real body for the Buddha.
And people of deep understanding imagine they’re experiencing Buddhahood and mistake the real body for the Buddha.
But people of the deepest understanding took within, distracted by nothing.
Since a clear mind is the Buddha they attain the understanding of a Buddha without using the mind.
The three bodies, like all other things, are unattainable and indescribable.
The unimpeded mind reaches the Way.
The sutras say, " Buddhas don’t preach the Dharma. They don’t liberate mortals. And they don’t experience Buddhahood."
This is what I mean.
Individuals create karma; karma doesn’t create individuals.
They create karma in this life and receive their reward in the next.
They never escape.
Only someone who’s perfect creates no karma in this life and receives no reward.
The sutras say, "Who creates no karma obtains the Dharma."
This isn’t an empty saying.
You can create karma but you can’t create a person.
When you create karma, you’re reborn along with your karma.
When you don’t create karma, you vanish along with your karma.
Hence, with karma dependent on the individual and the individual dependent on karma, if an individual doesn’t create karma, karma has no hold on him.
In the same manner, "A person can enlarge the Way. The Way can’t enlarge a person."
Mortals keep creating karma and mistakenly insist that there’s no retribution.
Mortals keep creating karma and mistakenly insist that there’s no retribution.
But can they deny suffering?
Can they deny that what the present state of mind sows the next state of mind reaps?
How can they escape?
But if the present state of mind sows nothing, the next state of mind reaps nothing.
Don’t misconceive karma.
The sutras say, "Despite believing in Buddhas, people who imagine that Buddhas practice austerities aren’t Buddhists.
The same holds for those who imagine that Buddhas are subject to rewards of wealth or poverty. They’re icchantikas. They’re incapable of belief."
Someone who understands the teaching of sages is a sage.
Someone who understands the teaching of mortals is a mortal.
A mortal who can give up the teaching of mortals and follow the teaching of sages becomes a sage. But the fools of this world prefer to look for sage a away.
They don’t believe that the wisdom of their own mind is the sage.
The sutras say, "Among men of no understanding, don’t preach this sutra.
And the sutras say, "Mind is the teaching."
But people of no understanding don’t believe their own mind or that by understanding this teaching they can become a sage.
They prefer to look for distant knowledge and long for things in space, buddha-images, light, incense, and colors.
They fall prey to falsehood and lose their minds to Insanity.
The sutras say, "When you see that all appearances are not appearances, you see the tathagata."
The sutras say, "When you see that all appearances are not appearances, you see the tathagata."
The myriad doors to the truth all come from the mind.
When appearances of the mind are as transparent as space, they’re gone.
Our endless sufferings are the roots of illness.
When mortals are alive, they worry about death.
When they’re full, they worry about hunger.
Theirs is the Great Uncertainty.
But sages don’t consider the past.
And they don’t worry about the future.
Nor do they cling to the present.
And from moment to moment they follow the Way.
If you haven’t awakened to this great truth, you’d better look for a teacher on earth or in the heavens. Don’t compound your own deficiency.
~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Yet another piece of Good Advice from Zen Patriarch, Bodhidharma!
Grateful thanks to translators of this Sermon!
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Tuesday, October 29, 2013
Reinkarnasi Para Dewata
Ditulis oleh Lotuschef – 25 Oktober 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef on Reincarnation of Deities & Divinities 仙佛转世
Berikut adalah pranala ceramah dharma Guru tanggal 20 Oktober 2013 di Vajragarbha Pelangi, Seattle:
10/20/2013 Nine Stages Dharma of the Great Perfection (Dzogchen) by Grand-Master Lu – Rainbow Temple
Di ceramah tersebut, Guru membahas mengenai berbagai Reinkarnasi.
Beliau mengatakan bahwa seorang Buddha atau Bodhisattva mampu membelah dirinya menjadi berbagai pengejawantahannya dalam wujud awam.
Cucu laki-laki Guru adalah seorang reinkarnasi dari Tetua Gunung Buddha 佛山长老.
Sedangkan cucu perempuannya adalah seorang Bodhisattva Tingkat ke-7 七地菩萨.
Namun beliau mengatakan bahwa para reinkarnasi tersebut masih harus MELATIH DIRI untuk KEMBALI TERHUBUNG dengan Wujud Asal mereka.
Aku ingat pernah menulis sebuah artikel mengenai Reinkarnasi Para Dewata juga.
Hahaha! Baik mereka merupakan reinkarnasi ataupun bukan, sungguh tak ada artinya dan bukan masalah juga!
KUNCINYA adalah Dirimu sendiri yang Berlatih.
Semua sepenuhnya bersandar pada usaha dan ketulusanmu sendiri!
Kembalilah mempelajari dasar-dasar yang dibutuhkan dan pelajarilah Karakteristik Para Dewata atau yidam yang kamu pilih.
Perhatikanlah, di atas kutulis sebagi YIDAM, yang berarti satu (tunggal).
Sementara ini latihlah SATU YIDAM saja!
Belajar berjalan dulu sebelum belajar TERBANG!
Teman-teman murid yang membuang-buang waktunya mengejar para reinkarnasi atau yang di dalam Satya Buddha adalah para Teratai Besar warna XX; kini saatnya untuk bangun dan sadar!
Mereka mau jadi apapun atau berasal dari manapun, Sungguh tak ada hubungannya denganmu!
Hahaha!
Mengutip dari Wikipedia – Trikaya:
Doktrin ajaran mengatakan bahwa seorang Buddha mempunyai tiga kaya atau tubuh:
- Dharmakaya atau Tubuh Kebenaran yang mengejawantahkan prinsip utama dari pencerahan dan ia tiada batasnya;
- Sambhogakaya atau Tubuh Kenikmatan Pahala yang berupa tubuh manifestasi kenikmatan atau cahaya terang;
- Nirmanakaya atau tubuh ciptaan yang mengejawantah di dalam waktu dan ruang.
Mengutip dari Rigpa Shedra – Nirmanakaya:
Nirmanakaya (Bhs. Sansekerta: nirmāṇakāya; Bhs. Tibet: སྤྲུལ་སྐུ་, tulku; Trans. Wylie: sprul sku), atau ‘dimensi manifestasi yang tiada pernah berhenti’ adalah sebuah rupakaya atau tubuh berwujud yang muncul dari kuasa sambhogakaya dan tampil sebagai ia yang menjinakkan berbagai insan, baik yang suci maupun tak suci.
Saat dibagi ke dalam kategori, Nirmanakaya ada empat jenis:
- Nirmanakaya dari kelahiran, seperti para guru kita yang lahir di Surga Tushita sebagai anak para dewa, Dampa Tok Karpo.
- Nirmanakaya maha unggul (Skt. uttamanirmāṇakāya; Tib. མཆོག་གི་སྤྲུལ་སྐུ་, Wyl. mchog gi sprul sku), seperti Buddha Shakyamuni yang menampilkan dua belas karya pencerahan (Skt. dvadaśabuddhakārya; Wyl. mdzad pa bcu gnyis) di sini, Jambudwipa.
- Nirmanakaya beragam (Skt. janmanirmāṇakāya; Tib. སྐྱེ་བ་སྤྲུལ་སྐུ, Wyl. skye ba sprul sku) yang mengejawantah demi menjinakkan para insan mulai dari Indra hingga seorang gadis belia.
- Nirmanakaya ketrampilan (Skt. śilpinnirmāṇakāya; Tib. བཟོ་བོ་སྤྲུལ་སྐུ་, Wyl. bzo bo sprul sku) seperti manifestasi seorang pemain kecapi demi menjinakkan Gandharva Rabga, kemudian juga mengejawantah menjadi makanan enak, jembatan, taman hiburan, dan pulau-pulau, juga bisa dalam wujud pahatan, lukisan, tenunan bergambar, dan rupang-rupang hasil cor logam.
Atau, seperti yang ditulis oleh Sogyal Rinpoche:
Di dalam Buddhisme Tibet, nirmanakaya digambarkan sebagai pengejawantahan pencerahan, dalam berbagai wujud dan cara yang tiada batasnya, di dalam dimensi fisik. Ia secara tradisional didefinisikan dalam tiga bagian.
Pertama adalah pengejawantahan dari seorang Buddha yang telah tercerahkan sepenuhnya, seperti Siddhartha Gautama, yang terlahir ke dan mengajar di dunia ini;
Yang ke-dua adalah yang kelihatannya seperti orang awam namun ia terberkati dengan kapasitas khusus untuk memberi manfaat bagi banyak insan: seorang tulku; dan
Yang ke-tiga adalah insan dengan tingkat pencerahan tertentu yang berkarya untuk memberi manfaat dan menginspirasi insan-insan lain melalui berbagai karya seni, ketrampilan, dan ilmu pengetahuan (sains). Maksudnya, seperti yang dikatakan oleh Kalu Rinpoche, adalah “ekspresi spontan, seperti sinar yang terpancar dengan spontan dari matahari, tanpa sang matahari harus menyuruhnya atau sadar memikirkan tindakan memancarkan ini. Demikianlah sang matahari dalam memancarkan sinarnya.”
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
dharmakaya,
lotuschef,
manifestasi,
melatih diri,
nirmanakaya,
pengejawantahan,
reinkarnasi,
sambhogakaya,
trikaya,
tubuh,
yidam
Friday, October 25, 2013
Lotuschef on Reincarnation of Deities & Divinities 仙佛转世
Terjemahan Indonesia: Reinkarnasi Para Dewata

In the above speech, Guru talks about Reincarnations.
He said a Buddha or Boddhisattva can general clones of themselves in Sentient form.
His grandson is reincarnation of Buddha Mountain Elder 佛山长老.
His grand daughter, a 7th level Boddhisattva 七地菩萨.
However, he states that these reincarnations still need to CULTIVATE to LINK BACK to their Original Forms.
I remember writing an article about Reincarnations of Deities & Divinities too.
Hahaha! Reincarnation or not, doesn't matter and shouldn't matter too!
The KEY is Cultivation by yourself.
All your own efforts and sincerity!
Back to Basics and please study the Characteristics of Divinities or that of you chosen yidam.
Note it is YIDAM, means only one.
Please stick to ONE YIDAM first!
Learn to walk before you learn to FLY!
To those students that waste time chasing those divine reincarnations or in TBS, Big XX-color lotuses; wake up now!
What they are, Truly nothing to do with you!
Hahaha!
Quoting from Wikipedia – Trikaya:
The doctrine says that a Buddha has three kāyas or bodies:
When it is divided, there are four kinds:
Or, as Sogyal Rinpoche writes:
In Tibetan Buddhism the nirmanakaya is envisioned as the manifestation of enlightenment, in an infinite variety of forms and ways, in the physical world. It is traditionally defined in three ways.
One is the manifestation of a completely realized Buddha, such as Gautama Siddhartha, who is born into the world and teaches in it;
another is a seemingly ordinary being who is blessed with a special capacity to benefit others: a tulku; and
the third is actually a being through whom some degree of enlightenment works to benefit and inspire others through various arts, crafts, and sciences. In their case this enlightened impulse is, as Kalu Rinpoche[2] says, "a spontaneous expression, just as light radiates spontaneously from the sun without the sun issuing directives or giving any conscious thought to the matter. The sun is, and it radiates."[3]
Cheers all.
- The Dharmakāya or Truth body which embodies the very principle of enlightenment and knows no limits or boundaries;
- The Sambhogakāya or body of mutual enjoyment which is a body of bliss or clear light manifestation;
- The Nirmāṇakāya or created body which manifests in time and space.
Quoting from Rigpa Shedra – Nirmanakaya:
Nirmanakaya (Skt. nirmāṇakāya; Tib. སྤྲུལ་སྐུ་, tulku; Wyl. sprul sku), or 'the dimension of ceaseless manifestation'[1], is defined as a rupakaya or 'formbody' that arises from the ruling condition of the sambhogakaya and appears as the tamer of various beings, both pure and impure.
When it is divided, there are four kinds:
- Nirmanakaya through birth, such as our teacher taking birth in the heaven of Tushita as the son of the gods, Dampa Tok Karpo.
- Supreme nirmanakaya (Skt. uttamanirmāṇakāya; Tib. མཆོག་གི་སྤྲུལ་སྐུ་, Wyl. mchog gi sprul sku), such as Shakyamuni Buddha who displayed the twelve deeds here in Jambudvipa.
- Diverse nirmanakaya (Skt. janmanirmāṇakāya; Tib. སྐྱེ་བ་སྤྲུལ་སྐུ, Wyl. skye ba sprul sku) that manifest in order to tame various beings from Indra to a young girl.
- Craft nirmanakaya (Skt. śilpinnirmāṇakāya; Tib. བཟོ་བོ་སྤྲུལ་སྐུ་, Wyl. bzo bo sprul sku) such as the manifestation of the lute player in order to tame the gandharva Rabga, and as good food, bridges, pleasure gardens, and islands, as well as sculpted forms, paintings, woven images and cast metal statues.
Or, as Sogyal Rinpoche writes:
In Tibetan Buddhism the nirmanakaya is envisioned as the manifestation of enlightenment, in an infinite variety of forms and ways, in the physical world. It is traditionally defined in three ways.
One is the manifestation of a completely realized Buddha, such as Gautama Siddhartha, who is born into the world and teaches in it;
another is a seemingly ordinary being who is blessed with a special capacity to benefit others: a tulku; and
the third is actually a being through whom some degree of enlightenment works to benefit and inspire others through various arts, crafts, and sciences. In their case this enlightened impulse is, as Kalu Rinpoche[2] says, "a spontaneous expression, just as light radiates spontaneously from the sun without the sun issuing directives or giving any conscious thought to the matter. The sun is, and it radiates."[3]
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Lama Lotuschef
Subscribe to:
Posts (Atom)

