Showing posts with label kodrat. Show all posts
Showing posts with label kodrat. Show all posts
Friday, September 25, 2015
Koan Zen – Hati & Kodrat
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan anotasi oleh Lotuschef – 23 September 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 禅宗公案 Zen Koan – 心与性 Heart & Nature
有一学僧至南阳慧忠国师处参学,请示道:
Seorang bhiksu murid belajar dari Nan Yang Hui Zhong Guo Shi (Guru Negara, biasanya menjabat sebagai penasehat raja). Ia memohon ajaran, berkata:
‘禅-是心的别名,而“心”是在佛不增,
“Zen adalah nama lain dari Hati, dan Hati adalah Buddha yang Tak Mengalami Peningkatan,
在凡不减的真如实性,禅宗祖师们将此“心”易名为“性”,
Di dunia ini, kodrat buddha sejati yang telah melekat dari sejak awal tidaklah berkurang, para Patriak Zen pada umumnya menamakan Hati ini sebagai Kodrat,
请问禅师,心与性之差别如何?’
Guru Zen, mohon jelaskan apa bedanya Hati dengan Kodrat?”
慧忠毫不隐藏的回答道:
Tanpa ada yang disembunyikan, Hui Zhong menjawabnya:
‘迷时则有差别,悟时则无差别。
“Saat Tersesat maka ada perbedaan, saat Tercerahkan maka tak ada perbedaan.”
学僧又再进一步的问道:
Bhiksu murid kembali bertanya lebih lanjut:
‘经上说:佛性是常,心是无常,为什么你会说无差别呢?’
“Di dalam sutra dikatakan: Kodrat Buddha sifatnya kekal, Hati sifatnya tak kekal, lalu kenapa Anda bilang tak ada perbedaan?”
慧忠国师耐烦的举喻说明道:
Hui Zhong Guo Shi dengan sabar memberikan contoh dan berkata:
‘你只依语而不依义,譬如寒时结水成冰,暖时融冰成水;迷时结性成心,悟时融心成性,心性本同,依迷悟而有所差别。’
“Kamu ini menempel pada bahasa (kata-kata), bukannya pada arti sebenarnya, seperti ketika dingin maka air berubah menjadi es, ketika hangat maka es meleleh menjadi air; ketika tersesat maka kodrat berubah menjadi hati, ketika tercerahkan hati berubah menjadi kodrat, hati dan kodrat pada dasarnya sama saja, menjadi beda sepenuhnya tergantung pada saat ini tersesat atau tercerahkan.”
学僧终于契会于心。
Bhiksu murid akhirnya mengingat-ingat kata-kata tersebut dalam hatinya.
在佛教里,心性的别名很多,如‘本来面目’,‘如来藏’、‘法身’、‘实相’、‘自性’、‘真如’、‘本体’、‘真心’、‘般若’、‘禅’等等。
这无非是用种种方法要吾人认识自己。
迷悟虽有差,本性则无异。
如黄金是一,但可制耳环、戒指、手镯等各种不同之金器,故金器虽异,实一黄金耳。
明乎此,心与性名虽不同,实则皆吾人之本体也。
~~~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Istilah!
Salah satu bentuk Kemelekatan! :)
Pas sekali aku juga sedang merenungkan “Tekad Seseorang” di dalam Melatih Tantrayana!
BETUL SEKALI!
Bagaimana seorang praktisi mampu “MENGGUNAKAN TEKADNYA”, atau menggerakkan Qi (Prana) / Energi Cahaya untuk menjalankan dengan leluasa (renyun 任运)!
Tentunya kamu harus punya pengetahuan seperti di atas, apakah ada perbedaan antara hatimu dan kodratmu!
Kamu harus tahu bahwa aku sedang berbagi cara “MENGAMALKAN” Buddha Dharma.
Seperti memasak, kita belajar cara mencampur berbagai macam bahan hingga orang yang memakannya menjadi sangat puas.
Seharusnya kini kamu paham kenapa Mahaguru Lu menganugerahkan nama “Chef” (Koki) kepadaku?
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
hati,
koan,
kodrat,
lotuschef,
mengamalkan,
menggunakan,
menjalankan dengan leluasa,
renyun,
zen
Wednesday, March 4, 2015
Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma
Dibagikan oleh Lotuschef – 23 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Bodhidharma's Wake-up Sermon
Di atas adalah sesi Puja Api Homa di Semarang, Indonesia.
Teman-teman sekalian juga bisa menerjemahkan sendiri dari versi Bahasa Mandarinnya [--- 达磨大师《悟性论 ---]
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
~~~~~~~~~~~
Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma
Diterjemahkan dari: Wake-up SermonIntisari dari Sang Jalan adalah melepaskan diri dari kemelekatan. Dan tujuan mereka yang melatihnya adalah terbebaskan dari segala macam rupa penampilan. Di dalam sutra dituliskan bahwa melepaskan diri dari kemelekatan adalah pencerahan, karena ia meniadakan rupa penampilan. Kebuddhaan berarti kesadaran. Orang-orang awam yang pikirannya tersadarkan akan mencari Jalan menuju Pencerahan, dan oleh karenanya disebut sebagai para Buddha. Demikian pula sutra-sutra juga menuliskan, “Mereka yang membebaskan dirinya dari segala macam rupa penampilan disebut sebagai Buddha.” Penampilan dari wujud rupa sebagai [bukan penampilan] tak bisa dilihat secara visual, ia hanya bisa dipahami lewat sarana kebijaksanaan. Siapapun yang mendengar dan mempercayai ajaran ini berarti menapaki Mahayana dan meninggalkan tiga alam. Ketiga alam mengacu pada Keserakahan, Amarah, dan Khayalan. Meninggalkan tiga alam tersebut berarti kembali dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan kepada Moralitas, Meditasi, dan Kebijaksanaan. Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak punya kodrat. Mereka bergantung pada badan jasmani. Dan mereka yang mampu merenung pasti akan melihat kalau kodrat dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan adalah kodrat Buddha. Di luar Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak ada kodrat Buddha lainnya. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha hanya akan menjadi Buddha saat hidup bersama dengan tiga racun, dan memelihara diri mereka dengan Dharma yang suci.” Ketiga racun tersebut adalah Keserakahan, Amarah, dan Khayalan.
Mahayana adalah yana (kendaraan) yang terbesar di antara semua yana. Ia adalah kendaraan para bodhisattva, yang menggunakan semua hal tanpa menggunakan apapun, dan yang bepergian sepanjang hari tanpa bepergian. Demikianlah kendaraan para Buddha.
Di dalam sutra dikatakan, “Tiada kendaraan adalah kendaraan dari para Buddha.”
Oleh karenanya siapapun yang merealisasikan bahwa enam indera tidaklah nyata, bahwa lima skandha (agregat) adalah fiksi, bahwa tak ada satupun dari mereka yang bisa ditemukan di bagian tubuh manapun, akan memahami bahasa para Buddha. Di dalam sutra tertulis, “Gua lima agregat adalah aula Zen. Terbukanya mata batin adalah pintu masuk Mahayana.” Memangnya masih kurang jelas?
Tak memikirkan tentang apapun adalah Zen. Begitu kamu tahu hal ini, maka berjalan, duduk, ataupun berbaring, semua yang kamu lakukan adalah Zen. Memahami kalau pikiran adalah kosong berarti melihat Sang Buddha. Para Buddha dari sepuluh penjuru tak punya pikiran. Demikianlah melihat [tiada pikiran] adalah melihat Sang Buddha.
Melepaskan diri tanpa menyesal adalah amal terbesar. Melampaui gerakan dan keheningan adalah meditasi tertinggi. Orang-orang awam terus bergerak, dan para Arhat berdiam diri. Namun meditasi tertinggi melampaui semua yang dilakukan orang awam maupun Arhat. Orang-orang yang mencapai pemahaman seperti ini akan membebaskan diri mereka dari semua rupa penampilan tanpa perlu bersusah payah, dan menyembuhkan penyakit tanpa perlu perawatan. Demikianlah kesaktian Zen yang agung.
Menggunakan pikiran untuk mencari realita adalah Khayal belaka. Tak menggunakan pikiran untuk mencari realita barulah Kesadaran. Membebaskan diri sendiri dari segala kata-kata berarti Pembebasan. Tak ternoda oleh debu sensasi inderawi berarti Menjaga Dharma. Melampaui kehidupan dan kematian berarti Meninggalkan rumah (ditahbiskan).
Tak menderita kehidupan lain berarti Mencapai Sang Jalan. Tak menciptakan khayalan berarti Pencerahan. Tak melibatkan diri dalam kebodohan berarti Kebijaksanaan. Tiada kekuatiran berarti Nirwana. Dan tiada rupa dari pikiran berarti Pantai seberang.
Saat kamu tersesat, pantai ini muncul. Saat kamu tersadarkan, pantainya tak ada. Orang-orang awam tinggal di pantai ini. Namun mereka yang menemukan kendaraan yang teragung dari segalanya tidaklah tinggal di pantai ini ataupun pantai seberang. Mereka mampu meninggalkan kedua pantai. Mereka yang melihat bahwa pantai yang satu berbeda dari pantai satunya lagi berarti belum paham akan Zen.
Khayalan berarti menjadi awam. Sedangkan kesadaran berarti Kebuddhaan. Mereka tak sama, dan juga tak berbeda. Itu hanyalah cara orang-orang membedakan antara khayalan dengan kesadaran. Saat kita tersesat, ada dunia di mana kita harus meloloskan diri darinya. Saat kita sadar, tak perlu meloloskan diri dari apapun.
Dari sudut Dharma yang Imparsial (setara dan tak bias), sebenarnya orang awam tiada bedanya dengan para suciwan. Di dalam sutra dikatakan bahwa Dharma Imparsial merupakan sesuatu yang tak bisa ditembusi oleh orang awam, dan tak bisa dilatih oleh para suciwan. Dharma Imparsial hanya dilatih oleh para maha bodhisattva dan buddha. Melihat kehidupan sebagai berbeda dari kematian, atau gerakan dianggap berbeda dari keheningan, berarti menjadi parsial. Menjadi imparsial berarti melihat penderitaan tiada bedanya dengan nirwana, karena kodrat dari keduanya adalah kosong. Membayangkan mereka mengakhiri penderitaan dan memasuki nirwana, para Arhat malah akhirnya terperangkap oleh nirwana. Namun para bodhisattva tahu bahwa penderitaan pada dasarnya kosong. Dan dengan berdiam di dalam kekosongan, mereka berdiam di dalam nirwana. Nirwana berarti tiada kelahiran dan tiada kematian. Ia melampaui lahir dan mati, dan melampaui nirwana juga. Saat pikiran berhenti bergerak, ia memasuki nirwana. Nirwana adalah pikiran yang kosong. Saat khayalan sudah tak ada lagi, para Buddha mencapai nirwana. Saat penderitaan sudah tak ada lagi, para bodhisattva memasuki pencerahan – suatu tempat tak berpenghuni yang terbebas dari keserakahan, amarah, ataupun khayalan. Keserakahan adalah alam nafsu, amarah adalah alam dengan wujud, dan khayalan adalah alam tanpa wujud. Saat pikiran terpicu, kamu memasuki tiga alam. Saat sebuah pikiran berakhir, kamu meninggalkan tiga alam. Awal munculnya ataupun berakhirnya ketiga alam, keberadaan ataupun ketidakberadaan segala hal, semuanya bergantung pada pikiran. Dan hal ini berlaku untuk semua hal, bahkan sampai ke benda mati seperti batu dan tongkat.
Siapapun yang mengerti kalau pikiran adalah sebuah fiksi (rekaan), dan tak ada satupun yang nyata, berarti tahu bahwa pikirannya sendiri bukan ada ataupun tiada. Orang-orang awam terus menciptakan pikiran, menganggapnya ia ada. Dan para Arhat terus meniadakan pikiran, menganggapnya tiada. Namun para bodhisattva dan budda tak menciptakan ataupun meniadakan pikiran. Inilah yang dimaksud sebagai “pikiran bukannya ada ataupun tiada” – dan hal ini dinamakan sebagai Jalan Tengah.
Kalau kamu memakai pikiranmu untuk mempelajari realita, kamu tak akan paham akan pikiranmu ataupun realita. Kalau kamu mempelajari realita tanpa menggunakan pikiranmu, kamu akan memahami keduanya. Mereka yang tak paham ya tak akan paham mengenai [pemahaman]. Dan mereka yang paham, akan paham [tidak memahami]. Orang-orang dengan visi penglihatan yang sejati akan tahu kalau pikiran itu kosong. Mereka melampaui pemahaman dan bukan pemahaman. Tiadanya baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] adalah pemahaman yang sesungguhnya. Dilihat dengan penglihatan sejati, wujud bukanlah sekedar wujud belaka, karena wujud bergantung pada pikiran. Dan pikiran juga bukan sekedar pikiran belaka, karena pikiran bergantung pada wujud. Pikiran dan wujud saling menciptakan dan meninggalkan. Yang [ada] akan muncul dan saling berhubungan dengan yang [tiada]. Dan yang [tiada] tak akan muncul dan berhubungan dengan yang [ada]. Demikianlah visi penglihatan yang sejati. Dengan menggunakan visi semacam ini, tiada yang [dilihat] dan tiada yang [tak dilihat]-nya. Penglihatan semacam ini menembus hingga sepuluh penjuru tanpa melihat: karena tiada yang dilihatnya; karena [tak melihat] berarti [melihat]; karena [melihat] berarti [tak melihat]. Yang dilihat orang awam adalah khayalan. Sedangkan visi penglihatan sejati terlepas dari melihat. Pikiran dan dunia saling bertolak belakang, dan visi penglihatan akan muncul saat mereka saling bertemu. Saat pikiranmu tak bergejolak di dalam, maka dunia tak akan muncul di luar. Saat dunia dan pikiran menjadi tembus pandang, inilah visi penglihatan yang sejati. Dan pemahaman semacam ini adalah pemahaman yang sejati.
Tak melihat apapun berarti melihat Sang Jalan, dan tak memahami apapun berarti memahami Dharma, karena melihat bukanlah [melihat] ataupun [tak melihat], dan berhubung pemahaman bukanlah [pemahaman] ataupun [bukan pemahaman]. Melihat tanpa melihat adalah visi yang sejati. Mehamami tanpa memahami adalah pemahaman yang sejati.
Visi yang sejati bukan sekedar melihat yang [melihat]. Ia juga melihat yang [tak melihat]. Dan pemahaman yang sejati bukanlah sekedar memahami [pemahaman]. Ia juga memahami yang [bukan pemahaman]. Kalau kamu paham semua hal, berarti kamu tak paham. Hanya saat kamu tak memahami sesuatupun, barulah dikatakan pemahaman yang sejati. Pemahaman adalah bukan [memahami] ataupun [tak memahami].
Di dalam sutra dikatakan, “Tidak melepaskan kebijaksanaan berarti kebodohan.” Jadi saat pikiran tak ada, baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] menjadi benar. Saat pikiran ada, [pemahaman] dan [bukan pemahaman] menjadi salah semuanya. Saat kamu paham, realita bergantung kepadamu. Saat kamu tak paham, kamu bergantung pada realita. Saat realitas bergantung padamu, yang tak nyata akan menjadi nyata. Saat kamu bergantung pada realita, yang nyata akan menjadi salah. Saat kamu bergantung pada realita, semuanya menjadi salah. Saat realita bergantung padamu, semuanya menjadi benar. Demikianlah para suciwan tak menggunakan pikirannya untuk mencari realita, ataupun realita untuk mencari pikirannya, ataupun pikirannya untuk mencari pikirannya sendiri, ataupun realita untuk mencari realita. Pikirannya tak menimbulkan realita. Dan realita tak memicu pikirannya. Dan berhubung pikirannya dan realita sama-sama hening, maka ia selalu berada di dalam kondisi samadhi.
Saat pikiran awam muncul, Kebuddhaan menghilang. Saat pikiran awam menghilang, Kebuddhaan muncul. Saat pikiran muncul, realita menghilang. Saat pikiran menghilang, realita muncul. Siapapun yang tahu bahwa tak ada satupun hal yang bergantung pada apapun juga, ia telah menemukan Sang Jalan. Dan siapapun yang memahami bahwa pikiran tak bergantung pada apapun, ia selalu berada di dalam pencerahan.
Saat kamu tak paham, kamu salah. Saat kamu paham, kamu tak salah. Ini karena kodrat [salah] adalah kosong. Saat kamu tak paham, yang benar sepertinya salah. Saat kamu paham, yang salah tidaklah salah, karena [salah] itu tak ada.
Di dalam sutra dikatakan, “Tak ada satupun yang punya kodratnya sendiri.” Bertindaklah. Jangan bertanya. Karena begitu kamu bertanya, kamu salah. [Salah] adalah hasil dari bertanya. Saat kamu telah mencapai pemahaman seperti ini, segala tindakan yang salah dari berbagai kehidupan di masa lampaumu akan terhapuskan. Saat kamu tersesat, enam indera dan lima bayangan menjadi penyebab penderitaan dan kematian. Begitu kamu tersadarkan, enam indera dan lima bayangan menjadi bahan pencapaian nirwana dan keabadian.
Ia yang mencari Sang Jalan tak mencari di luar dirinya sendiri. Ia tahu kalau pikiran adalah Sang Jalan. Namun saat ia menemukan pikiran, ia tak menemukan apapun. Dan saat ia menemukan Sang Jalan, ia tak menemukan apapun. Bila kamu berpikir bisa menggunakan pikiran untuk menemukan Sang Jalan, berarti kamu tersesat. Saat kamu tersesat, Kebuddhaan akan [ada]. Saat kamu sadar, Kebudhaan menjadi [tak ada]. Ini karena kesadaran adalah Kebudhaan.
Kalau kamu mencari Sang Jalan, ia tak akan muncul hingga tubuhmu menghilang. Seperti mengupas kulit pohon dari sebuah pohon. Tubuh karma ini selalu mengalami perubahan. Ia tak punya realita yang pasti. Bersadhanalah sesuai pikiranmu. Jangan membenci hidup dan mati, atau mencintai hidup dan mati. Bebaskan segala pikiranmu dari khayalan dan di dalam kehidupan ini kamu akan menyaksikan awal dari nirwana, dan di dalam kematian kamu akan mengalami [kepastian akan tiada kelahiran kembali].
Melihat wujud tapi tak ternodai olehnya, atau mendengar suara namun tak ternodai olehnya, adalah Pembebasan. Mata yang tak melekat pada wujud adalah pintu gerbang Zen. Singkatnya, mereka yang melihat keberadaan dan kodrat fenomena tanpa melekat kepadanya akan Terbebaskan. Mereka yang melihat wujud luaran fenomena malah terpenjara olehnya. Tidak menjadi subjek dari penderitaan adalah yang dimaksud sebagai Pembebasan. Tak ada pembebasan selain itu. Kalau kamu tahu cara melihat wujud, maka wujud tak akan memicu pikiran, dan pikiran tak akan memunculkan wujud. Baik wujud maupun pikiran suci adanya.
Kalau tak ada khayalan, maka pikiran adalah tanah suci para Buddha. Saat ada khayalan, pikiran menjadi neraka. Orang-orang awam menciptakan khayalan. Dan dengan [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di neraka. Para bodhisattva menembusi semua khayalan. Dan dengan tak [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di tanah suci para Buddha. Kalau kamu tak [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], semua kondisi pikiranmu adalah kosong, dan tiap pikiran menjadi tenang. Kamu melanglang menyusuri tanah-tanah suci para Buddha. Kalau kamu [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], setiap kondisi pikiranmu akan terganggu dan setiap pikiranmu akan selalu bergerak. Demikianlah kamu melanglang dari satu neraka ke neraka lainnya. Saat pikiran muncul, maka muncul juga yang namanya Karma Baik dan Karma Buruk, Surga dan Neraka. Saat tak ada pikiran yang muncul, maka tak ada Karma Baik ataupun Karma Buruk, tak ada Surga ataupun Neraka.
Tubuh ini bukan [ada] ataupun [tiada]. Oleh karenanya, [keberadaan] sebagai seorang awam dan [ketidakberadaan] sebagai seorang suciwan, adalah konsep-konsep yang seorang suciwan tak mengurusinya. Hatinya kosong dan luas bagaikan langit. Dari sanalah baru akan menyaksikan Sang Jalan. Ia melampaui para Arhat dan orang-orang awam.
Saat pikiran mencapai nirwana, kamu tak melihat nirwana, karena pikiran adalah nirwana. Kalau kamu melihat nirwana di suatu tempat di luar pikiran, berarti kamu menyesatkan dirimu sendiri.
Segala bentuk penderitaan merupakan benih buddha, karena penderitaan mendorong orang-orang awam untuk mencari kebijaksanaan. Kamu tak bisa bilang bahwa penderitaan merupakan Kebuddhaan. Tubuh dan pikiranmu adalah lahannya. Penderitaan adalah benihnya, kebijaksanaan merupakan tunasnya, dan Kebuddhaan adalah butiran gandumnya. Sang Buddha di dalam pikiran adalah bagaikan sebuah wewangian di dalam pohon. Ia datang dari pikiran yang bebas dari penderitaan, seperti wewangian yang menyebar dari pohon yang tak lapuk/membusuk. Jadi tak ada wewangian tanpa si pohon, dan tiada Buddha tanpa sang pikiran. Kalau ada wewangian tanpa sebuah pohon, berarti itu jenis wewangian lain. Kalau ada seorang Buddha tanpa pikiranmu, itu adalah Buddha lain.
Saat tiga racun ada di dalam pikiranmu, kamu tinggal di tanah yang kotor.
Saat tiga racun menghilang dari pikiranmu, kamu tinggal di tanah suci.
Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “kalau kamu mengisi sepetak tanah dengan noda dan kotoran, tak akan ada Buddha yang muncul.” Noda dan kotoran mengacu pada racun-racun. Buddha mengacu pada pikiran yang suci dan tersadarkan. Tiada bahasa yang bukan Dharma.
Seharian penuh berbicara terus tanpa mengatakan sepatah katapun adalah Sang Jalan.
Seharian penuh berhening dan masih mengatakan sesuatu berarti bukan Sang Jalan.
Jadi ucapan seorang Tathagata tak bergantung pada keheningan, ataupun keheningannya bergantung pada ucapan, ataupun ucapannya terpisah dari keheningannya. Mereka yang memahami baik ucapan maupun keheningan berarti berada di dalam samadhi. Kalau kamu bicara saat kamu tahu, Ucapanmu adalah bebas. Kalau kamu diam saat kamu tak tahu, diam-mu itu terikat. Bila ucapan tak melekat pada wujud, maka ia bebas. Lagipula kemelekatan tak ada hubungannya dengan bahasa. Realita tidaklah tinggi ataupun rendah. Kalau kamu melihat tinggi ataupun rendah, maka itu bukan yang sejati. Rakit tidaklah nyata, namun rakit (yang menyeberangkan) penumpang adalah nyata. Orang yang menaiki rakit seperti itu dapat menyeberangi sesuatu yang tak nyata. Demikianlah kenapa hal itu nyata.
Menurut dunia, ada yang namanya pria dan wanita, kaya dan miskin. Namun menurut Sang Jalan, tak ada pria ataupun wanita, tak ada kaya ataupun miskin. Saat seorang dewi merealisasikan Sang Jalan, ia tak merubah jenis kelaminnya. Saat bocah istal (pengurus kandang kuda) tersadarkan akan Kebenaran Sejati, ia tak merubah statusnya. Bebas dari jenis kelamin dan status, mereka punya tampilan mendasar yang sama. Sang dewi selama dua belas tahun mencari sisi kewanitaannya tanpa berhasil sedikitpun. Demikian pula bila menghabiskan dua belas tahun untuk mencari sisi laki-lakinya juga tak akan berbuah. Dua belas tahun mengacu pada [dua belas pintu masuk]. Maka tanpa pikiran, tiada Buddha. Tanpa Buddha, juga tiada pikiran.
*) Dua belas pintu masuk adalah: 6 organ inderawi (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) + 6 objek inderawi (pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan, dan pikiran).
Sama halnya, tanpa air maka tak ada es, dan tanpa es maka tak ada air. Siapapun yang bicara mengenai [meninggalkan pikiran] tak akan pergi jauh ke mana-mana. Janganlah melekat pada rupa penampilan pikiran. Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu tak melihat rupa penampilan, kamu melihat Sang Buddha.” Itulah yang dimaksud terbebas dari rupa penampilan pikiran. Tanpa [pikiran] maka tak ada Buddha – berarti Sang Buddha muncul dari pikiran. Pikiran melahirkan Buddha. Namun meski Buddha lahir dari pikiran, pikiran tak datang dari Sang Buddha, seperti ikan yang datang dari air, tapi air bukan datang dari ikan. Siapapun yang ingin melihat ikan akan melihat air sebelum melihat ikannya. Dan siapapun yang ingin melihat Buddha, akan melihat pikirannya sebelum ia melihat Sang Buddha. Begitu kamu melihat si ikan, kamu melupakan airnya. Begitu pula saat kamu telah melihat Sang Buddha, kamu melupakan pikiran. Kalau kamu tak melupakan pikiran, maka pikiran malah akan membingungkanmu, seperti air yang akan membingungkanmu bila kamu tak melupakannya.
Fana dan Kebuddhaan itu seperti air dan es. Menderita tiga racun berarti fana. Sedangkan tersucikan oleh tiga pelepasan adalah Kebuddhaan. Yang membeku menjadi es di musim dingin akan meleleh menjadi air di musim panas. Hilangkan es maka tak akan ada air lagi. Menyingkirkan kefanaan maka tak ada lagi Kebuddhaan. Sudah jelas bahwa kodrat es sama dengan kodrat air. Dan kodrat air sama dengan kodrat es. Kodrat kefanaan sama dengan kodrat Kebuddhaan. Kefanaan dan Kebuddhaan punya kodrat yang sama, sama seperti Wuto dan Futzu (ket: tanaman Aconitum carmichaelii) punya akar yang sama tapi berbeda musim. Hanya karena khayalan perbedaan saja sehingga kita punya kata-kata [Kefanaan] dan [Kebuddhaan]. Saat seekor ular menjadi naga, ia tak berganti kulit. Dan saat seorang awam menjadi suciwan, ia tak berganti wajah. Ia tahu akan pikirannya sendiri melalui kebijaksanaan batinnya, dan mengurus/memelihara tubuhnya lewat disiplin eksternal.
Orang-orang awam menyelamatkan para Buddha, dan sebaliknya para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Demikianlah yang dimaksud sebagai kesetaraan (imparsial). Orang awam menyelamatkan Buddha karena penderitaan menciptakan kesadaran. Sedangkan Buddha menyelamatkan orang awam karena kesadaran menghilangkan penderitaan. Penderitaan selalu ada, tapi kesadaran juga selalu ada. Kalau bukan karena penderitaan, maka tak ada bahan untuk menciptakan kesadaran. Dan kalau bukan karena kesadaran, maka tak ada bahan untuk menghilangkan penderitaan. Saat kamu tersesatkan, para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Saat kamu tersadarkan, orang-orang awam menyelamatkan para Buddha. Para Buddha tak menjadi Buddha begitu saja. Mereka diselamatkan oleh orang-orang awam. Para Buddha menganggap khayalan sebagai ayah mereka, dan keserakahan sebagai ibu mereka. Khayalan dan keserakahan adalah nama lain dari Kefanaan. Khayalan dan Kefanaan bagaikan tangan kiri dan tangan kanan. Tak ada bedanya.
Saat kamu tersesat, kamu berada di pantai ini. Saat kamu tersadarkan, kamu berada di pantai seberang. Namun begitu kamu tahu kalau pikiranmu kosong dan kamu tak melihat rupa penampilan, kamu telah melampaui khayalan dan kesadaran. Dan begitu kamu telah melampaui kedua hal tersebut, pantai seberang sudah tak ada lagi. Tathagata bukan berada di pantai ini ataupun di pantai seberang. Ia juga tak berada di tengah-tengahnya. Para Arhat berada di tengah-tengahnya dan orang-orang awam di pantai ini. Kebuddhaan ada di pantai seberang.
Para Buddha punya tiga tubuh: tubuh transformasi (nirmanakaya), tubuh pahala (sambhogakaya), dan tubuh sejati (dharmakaya). Tubuh transformasi juga dinamakan tubuh inkarnasi. Tubuh Transformasi muncul saat orang-orang awam melakukan perbuatan baik, Tubuh Pahala muncul di saat mereka melatih kebijaksanaan, dan Tubuh Sejati muncul saat mereka telah sadar akan keagungan yang maha mulia. Tubuh Transformasi adalah tubuh yang kamu lihat terbang di seluruh penjuru untuk menyelamatkan para insan di manapun berada. Tubuh Pahala mengakhiri segala keraguan. Pencerahan Agung yang muncul di Himalaya tiba-tiba menjadi nyata. Tubuh Sejati tak melakukan dan tak mengatakan apapun. Ia sepenuhnya hening. Namun sebenarnya tak ada satupun tubuh buddha, apalagi sampai menjadi tiga.
Pembahasan mengenai tiga tubuh ini hanya berdasarkan pemahaman manusia saja, yang bisa saja dangkal, sedang, ataupun mendalam.
Orang-orang dengan pemahaman yang dangkal akan membayangkan mereka mengumpulkan berkat dan salah menganggap Tubuh Transformasi sebagai Sang Buddha.
Mereka dengan pemahaman yang sedang akan membayangkan mereka sedang mengakhiri penderitaan dan salah menganggap Tubuh Pahala sebagai Sang Buddha.
Sedangkan mereka dengan pemahaman mendalam membayangkan mereka sedang mengalami Kebuddhaan dan salah menganggap Tubuh Sejati sebagai Sang Buddha.
Namun mereka dengan pemahaman paling mendalam akan melihat ke dalam dan tak terpengaruh oleh apapun juga.
Berhubung pikiran yang jernih adalah Sang Buddha, mereka mendapatkan pemahaman seorang Buddha tanpa menggunakan pikiran. Tiga tubuh, seperti semua hal lainnya, tak dapat dicapai dan tak bisa digambarkan pula.
Pikiran yang leluasa akan mencapai Sang Jalan. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha tak membabarkan Dharma. Mereka tak menyelamatkan para insan awam. Dan mereka tak mengalami Kebuddhaan.” Inilah yang kumaksudkan. Para insan menciptakan karma, namun karma tak menciptakan para insan. Mereka menciptakan karma di kehidupan ini dan menerima balasannya di kehidupan selanjutnya. Mereka tak bisa lari. Hanya ia yang sempurna yang tak menciptakan karma di kehidupan ini dan tak menerima balasannya juga. Di dalam sutra di katakan, “Ia yang tak menciptakan karma akan mendapatkan Dharma.” Ini bukan omong kosong belaka. Kamu bisa menciptakan karma, tapi kamu tak bisa menciptakan seorang manusia. Saat kamu menciptakan karma, kamu terlahir kembali bersama dengan karmamu. Saat kamu tak menciptakan karma, kamu menghilang bersama dengan karmamu. Demikianlah, karma bergantung pada individu, dan individu bergantung pada karma, bila seorang individu tak menciptakan karma, maka karma tak akan berpegang kepadanya. Dengan cara yang sama, “Seseorang bisa memperbesar Sang Jalan, namun Sang Jalan tak bisa memperbesar seseorang.”
Orang-orang awam terus menciptakan karma dan dengan salahnya bersikeras kalau tak ada retribusi. Tapi bisakah mereka menyangkal adanya penderitaan? Bisakah mereka menyangkal apa yang kondisi pikiran saat ini tabur maka kondisi pikiran selanjutnya akan tuai? Bagaimana caranya mereka meloloskan diri? Namun bila kondisi pikiran sekarang tak menabur apapun, kondisi pikiran selanjutnya tak akan menuai apapun. Jangan sampai salah memahami karma.
Di dalam sutra dikatakan, “Meski percaya kepada para Buddha, orang-orang membayangkan kalau para Buddha yang melatih penyangkalan diri (menjauhi kesenangan) bukanlah umat Buddha. Sama halnya dengan mereka yang membayangkan kalau para Buddha akan menerima balasan kekayaan ataupun kemiskinan. Mereka ini para icchantika. Mereka tak mampu percaya.” Ia yang paham akan ajaran para suciwan adalah seorang suciwan. Ia yang paham akan ajaran orang-orang awam adalah orang awam. Seorang awam yang mampu melepaskan ajaran awam dan mengikuti ajaran suciwan akan menjadi seorang suciwan. Namun orang-orang bodoh di dunia ini suka mencari suciwan di luaran sana. Mereka tak percaya kalau kebijaksanaan pikiran mereka sendiri adalah Sang Suciwan. Di dalam sutra dikatakan, “Kepada orang-orang yang tak punya pemahaman, jangan babarkan sutra ini.” Dan dikatakan juga, “Pikiran adalah ajaran.” Namun orang-orang yang tak punya pemahaman tak percaya kalau pikiran mereka sendiri atau dengan memahami ajaran ini mereka bisa menjadi suciwan. Mereka lebih suka mencari pengetahuan di luaran sana dan mendamba hal-hal di angkasa, patung/citra (sesuatu yang menyerupai) buddha, sinar, dupa, dan warna. Mereka termakan umpan kepalsuan dan pikirannya tersesat sampai jadi gila.
Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu melihat semua [rupa penampilan] sebagai bukan [rupa penampilan], kamu melihat Tathagata.” Pintu menuju Kebenaran Sejati banyaknya tak terhingga, namun mereka semua datang dari pikiran. Saat rupa penampilan pikiran menjadi setransparan angkasa, mereka hilang semuanya. Penderitaan kita yang tiada berakhir adalah akar dari segala penyakit. Saat orang-orang awam masih hidup, mereka kuatir akan kematian. Saat mereka kenyang, mereka kuatir akan kelaparan. Mereka selalu berada dalam kondisi Ketidakpastian yang Besar. Namun para suciwan tak mempertimbangkan masa lalu. Mereka juga tak kuatir akan masa depan. Juga tak melekat pada saat ini. Dan dari waktu ke waktu mereka selalu mengikuti Sang Jalan. Kalau kamu belum sadar akan kebenaran agung ini, lebih baik cari seorang guru di atas bumi ini atau di dalam surga. Jangan menumpuk kekuranganmu sendiri.
[--- Akhir dari Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma ---]
~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Nasihat Bagus lagi dari Bodhidharma, Sang Patriak Zen! Sungguh bersyukur kepada para penerjemah ceramah ini!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Thursday, February 26, 2015
Ceramah Aliran Darah oleh Bodhidharma
Dibagikan oleh Lotuschef – 12 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Bodhidharma's Bloodstream Sermon
Bersumber dari Bodhidharma, Sang Patriak Zen
注:此经出自《大藏经》第48卷.
Catatan: Diambil dari <Tripitaka Sutra> Bab 48
Ayat pembuka:
三界混起,同归一心,前佛后佛,以心传心,不立文字。
Semua yang muncul di tiga alam berasal dari pikiran. Demikianlah Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan langsung dari pikiran ke pikiran tanpa memerlukan tulisan kata-kata.
~~~~~~~~~~~~
Ceramah Aliran Darah oleh Bodhidharma
Oleh Dr. Tan Kheng KhooPikiran adalah Buddha, nirwana atau pencerahan.
Ia adalah realitas dari kodrat.
Pikiran adalah kodrat Buddha.
Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha.
Tiada gunanya mengundang Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan dan menjaga sila, bila kamu tak melihat kodratmu sendiri.
Seharian pergi berkeliling mencari seorang Buddha benar-benar menyia-nyiakan waktu.
Cukup realisasikan kodratmu sendiri.
Tiada Buddha di luar kodrat Buddhamu.
Kodrat dari pikiran ini pada dasarnya kosong, tak suci ataupun ternoda.
Kodrat ini terbebas dari sebab dan akibat.
Kodrat Buddha ini tak perlu melakukan latihan ataupun realisasi.
Ia tak melakukan kebaikan ataupun kejahatan; ia tak menjaga sila.
Ia tak malas ataupun bertenaga.
Ia tak melakukan apapun.
Seorang Buddha bukanlah seorang Buddha.
Tanpa melihat kodratmu, kamu tak akan mampu melatih “tiada pikiran” secara terus-menerus.
Pikiran ini atau kodrat Buddha bukanlah pikiran yang sensual (inderawi).
Ia tak pernah hidup ataupun mati di sepanjang segala kalpa.
Sang pikiran tak punya wujud dan kesadarannya tak terbatas.
“Wujud seorang tathagata banyaknya tak terhingga. Begitu pula dengan kesadarannya.”
Pikiran kita sama dengan pikiran semua Buddha.
“Semua yang punya wujud adalah ilusi belaka.”
“Di manapun kamu berada, di sana ada Buddha.”
Kita selalu punya kodrat Buddha kita sendiri.
Pikiran kita adalah Sang Buddha: jangan memuja seorang Buddha dengan seorang Buddha.
Begitu seseorang menyadari pikirannya atau kodrat Buddha-nya, ia berhenti menciptakan karma.
Pikiranmu bagaikan angkasa: kamu tak bisa merengkuhnya.
Tak ada sebab ataupun akibat di dalamnya.
Tiada yang mampu memahaminya.
Pikiran ini bukan berada di luar tubuh, yang tak punya kesadaran.
Bukan tubuh yang bergerak, tapi pikiranlah yang bergerak.
Ceramah ini membahas mengenai Kodrat Buddha, yang kosong dan tak memiliki wujud.
Kita selalu punya kodrat Buddha di dalam diri kita, dan ceramah ini juga menggambarkan kodrat Buddha secara mendetil.
Namun tak mengajarkan kita cara melihat kodrat Buddha kita.
~~~~~~~~~~~
Di atas ini adalah ringkasan ceramah yang cukup akurat.
Silakan menikmatinya!
Semoga kamu mendapatkan kunci-kunci untuk membantumu dalam melatih diri!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
~~~~~~~~~~~
Terjemahan lengkap Ceramah Aliran Darah dari Patriak Bodhidharma.
Sumber: The Zen Teachings of Bodhidharma
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Red Pine 1987
Ceramah Aliran Darah
Semua yang muncul di tiga alam berasal dari pikiran. Demikianlah Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan langsung dari pikiran ke pikiran tanpa ambil pusing mengenai berbagai macam definisi. Namun kalau mereka tak mendefinisikannya, apa yang mereka maksud dengan pikiran? Kamu akan bertanya. Itu pikiranmu. Begitu jawabanku. Itu pikiranku. Kalau aku tak punya pikiran, bagaimana caraku menjawab? Kalau kamu tak punya pikiran, bagaimana caramu bertanya? Yang bertanya itulah pikiranmu. Setelah melewati berkalpa-kalpa tanpa awal dan akhir, apapun yang kamu lakukan, di manapun kamu berada, itulah pikiranmu yang sebenarnya, itulah Buddha-mu yang sesungguhnya. Pikiran ini adalah Sang Buddha, ia masih sama. Di luar pikiran ini, kamu tak akan menemukan Buddha yang lain. Mencari pencerahan atau nirwana di luar pikiran ini adalah hal yang tak mungkin. Realitas sifat sejati (kodrat)-mu – ketiadaan sebab dan akibat, adalah yang dimaksudkan sebagai pikiran. Pikiranmu adalah nirwana. Kamu mungkin berpikir kamu bisa menemukan Buddha atau pencerahan di suatu tempat di luar pikiran, tapi sayangnya tempat itu tak ada.
Mencoba untuk menemukan Buddha atau pencerahan adalah bagaikan menggenggam angkasa. Angkasa punya nama, tapi tak punya wujud. Ia bukan sesuatu yang bisa kamu ambil atau letakkan. Dan kamu tentunya juga tak bisa menggenggamnya. Di luar pikiran, kamu tak akan pernah melihat seorang Buddha. Sang Buddha adalah sebuah produk dari pikiran. Lalu kenapa mencari seorang Buddha di luar pikiran ini?
Para Buddha di masa lampau dan masa mendatang hanya membahas tentang pikiran ini. Pikiran ini adalah Sang Buddha, dan Sang Buddha adalah pikiran. Di luar pikiran tersebut tiada Buddha, dan di luar Buddha tak ada yang namanya pikiran. Bila kamu pikir ada Buddha di luar pikiran, mohon tanya dia ada di mana? Tak ada Buddha di luar pikiran, kenapa harus membayangkannya? Kamu tak akan mengetahui pikiranmu yang sesungguhnya selama kamu menipu dirimu sendiri. Selama kamu terpesona oleh wujud yang tak bernyawa, kamu tak akan terbebaskan. Kalau kamu tak percaya padaku, maka menipu dirimu sungguh tak akan menolong. Ini bukanlah kesalahan Buddha. Namun orang-orang memang sungguh tersesatkan. Mereka tak sadar kalau pikiran mereka sendiri adalah Sang Buddha. Kalau tidak, maka mereka tak akan mencari seorang Buddha di luar pikiran sendiri.
Buddha tak menyelamatkan Buddha. Bila kamu menggunakan pikiranmu untuk mencari seorang Buddha, kamu tak akan melihat Sang Buddha. Selama kamu mencari-cari Buddha di tempat lain, kamu tak akan melihat bahwa pikiranmu sendiri adalah Buddha. Jangan menggunakan seorang Buddha untuk memuja seorang Buddha. Dan jangan pula menggunakan pikiran untuk mengundang seorang Buddha. Para Buddha tak menjapa sutra. Mereka tak menjaga sila. Dan mereka juga tak melanggar sila. Mereka tak menjaga atau melanggar apapun. Para Buddha tak melakukan kebaikan maupun kejahatan.
Untuk menemukan seorang Buddha, kamu harus melihat kodratmu sendiri. Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha. Bila kamu tak melihat kodratmu, maka mengundang para Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan, dan menjaga sila – semuanya tak berguna. Mengundang Buddha akan menghasilkan karma baik, menjapa sutra membuat ingatan menjadi baik, menjaga sila membuatmu mendapatkan kelahiran kembali yang baik, dan memberikan persembahan menghasilkan berkat di masa mendatang – tapi tak menghasilkan Buddha. Bila kamu tak berusaha memahaminya sendiri, kamu perlu mencari seorang guru untuk menemukan titik ujung dari kehidupan dan kematian. Namun bila ia tak melihat kodratnya sendiri, orang semacam itu bukanlah guru. Bahkan bilapun ia mampu menjapa 12 macam kanon, ia tak akan mampu melepaskan diri dari Roda Kehidupan dan Kematian. Ia akan menderita di tiga alam tanpa bisa berharap untuk terlepas darinya. Dahulu kala, bhiksu Bintang Baik mampu menjapa keseluruhan kanon. Tapi ia tak mampu melepaskan diri dari Sang Roda, itu karena ia tak mampu melihat kodratnya sendiri. Kalau itu yang terjadi dengan Bintang Baik, maka melihat orang-orang jaman sekarang yang menjapa beberapa sutra atau sastra, dan berpikir kalau hal tersebut adalah Dharma, sungguhlah orang-orang bodoh. Kalau kamu tak melihat pikiranmu sendiri, menjapa banyak prosa juga tak ada gunanya.
Untuk menemukan seorang Buddha, yang perlu kamu lakukan adalah melihat kodratmu sendiri. Kodratmu adalah Sang Buddha. Dan Sang Buddha adalah orang yang bebas: bebas dari segala macam rencana, bebas dari segala macam kecemasan. Kalau kamu tak melihat kodratmu dan pergi berkeliling mencari-carinya, kamu tak akan menemukan seorang Buddha. Ada sebuah kebenaran bahwa “tak ada yang perlu dicari.” Namun untuk mencapai pemahaman seperti itu kamu akan butuh seorang guru, dan kamu harus berjuang untuk membuat dirimu paham. Hidup dan mati adalah hal yang penting. Makanya jangan disia-siakan.
Sungguh tak ada manfaat dengan menipu dirimu sendiri. Bahkan bila kamu punya segunung perhiasan, dan pelayan yang banyaknya bagai butiran pasir di sepanjang Sungai Gangga, kamu hanya bisa melihat mereka saat matamu terbuka. Namun bagaimana halnya saat matamu ditutup? Kamu harus menyadarinya bahwa apapun yang kamu lihat adalah bagaikan sebuah mimpi atau ilusi.
Kalau kamu tak segera menemukan seorang guru, kamu akan hidup dengan penuh kesia-siaan. Sungguh benar, memang kamu punya kodrat Buddha. Tapi tanpa bantuan seorang guru, kamu tak akan pernah mengetahuinya. Hanya satu dari sejuta orang yang mampu tercerahkan tanpa bantuan seorang guru. Bila memang demikian, karena berbagai kondisi yang sesuai, seseorang paham akan apa yang dimaksudkan oleh Buddha, dan oleh karenanya ia tak memerlukan seorang guru. Orang seperti itu punya kesadaran alamiah yang mengungguli apapun yang pernah diajarkan. Bila kamu bukan orang yang terberkati seperti itu, maka belajarlah dengan tekun, dan lewat berbagai instruksi maka kamu akan memahaminya.
Orang-orang yang tak paham dan berpikir bisa melakukannya tanpa belajar adalah tiada beda dengan jiwa-jiwa tersesat yang tak bisa membedakan antara putih dan hitam. Salah membabarkan Buddha Dharma, orang-orang seperti ini sesungguhnya malah menghina Sang Buddha dan merusak Dharma. Mereka berkotbah layaknya mereka mampu menurunkan hujan. Tapi yang dikotbahkan adalah ajaran iblis, bukan Buddha. Guru mereka adalah Raja Iblis dan murid-murid mereka adalah antek-antek Iblis. Orang-orang tersesat yang mengikuti arahan semacam itu tanpa disadari malah makin terperosok ke dalam Lautan Kelahiran dan Kematian. Bila mereka tak mampu melihat kodratnya, bagaimana caranya mereka menyebut dirinya Buddha? Mereka adalah pembohong yang menipu orang-orang lain supaya masuk ke alam para iblis. Bila mereka tak mampu melihat kodratnya, ajaran mereka mengenai 12 kanon juga sama saja dengan ajaran iblis. Mereka patuh kepada Mara, bukannya kepada Buddha. Berhubung mereka tak mampu membedakan putih dari hitam, bagaimana caranya melepaskan diri dari kelahiran dan kematian?
Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha, sebaliknya yang tidak adalah manusia awam. Namun bila kamu bisa menemukan kodrat Buddhamu dari kodrat awammu, kamu akan bertanya: ada di mana? Kodrat awam kita adalah kodrat Buddha kita. Di luar kodrat ini tak ada Buddha. Sang Buddha adalah kodrat kita. Tak ada Buddha selain kodrat ini. Dan tak ada kodrat selain Sang Buddha. Tapi misalkan aku tak melihat kodratku, memangnya aku tak bisa mendapatkan pencerahan dengan mengundang Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan, menjaga sila, memberikan bakti pelayanan, ataupun melakukan perbuatan baik?
Tidak, kamu tak bisa. Memangnya kenapa tidak?
Kalaupun kamu mendapatkan sesuatu, hal tersebut hanyalah kondisional (bersyarat), itu karena karma. Ia adalah hasil dalam bentuk retribusi. Ia memutar Sang Roda. Dan selama kamu masih tercengkeram kelahiran dan kematian, kamu tak akan mendapatkan pencerahan. Kamu harus melihat kodratmu sendiri untuk mencapai pencerahan. Kalau tidak, semua pembahasan mengenai sebab dan akibat sungguhlah tak masuk akal. Para Buddha tak melatih omong kosong. Seorang Buddha sudah terbebaskan dari karma, bebas dari sebab dan akibat. Kalau dibilang ia mencapai sesuatu hal, berarti memfitnah Buddha. Apanya yang bisa dicapai olehnya? Bahkan berfokus pada sebuah pikiran, sebuah kesaktian, sebuah pemahaman, ataupun sebuah pandangan adalah hal yang tak mungkin bagi seorang Buddha. Seorang Buddha tidaklah sepihak. Kodrat pikirannya pada dasarnya adalah kosong, bukan suci, juga bukan bernoda. Ia bebas dari segala macam praktik dan realisasi. Ia bebas dari sebab dan akibat.
Seorang Buddha tak menjaga sila. Ia tak melakukan kebaikan ataupun kejahatan. Ia tak bertenaga ataupun malas. Ia adalah seseorang yang tak melakukan apapun, orang yang bahkan tak memfokuskan pikirannya pada seorang Buddha. Seorang Buddha bukanlah Buddha. Janganlah berpikir akan para Buddha. Bila kamu tak paham apa yang sedang kubicarakan, maka kamu tak akan memahami pikiranmu sendiri. Orang-orang yang tak melihat kodratnya sendiri dan membayangkan mereka mampu melatih “tiada pikiran” secara terus-menerus adalah pembohong dan orang bodoh. Mereka terjatuh ke dalam ruang yang tak ada ujungnya. Bagaikan orang mabuk, mereka tak bisa membedakan antara yang baik dengan yang jahat. Bila kamu bermaksud melatih hal demikian, kamu harus sudah mampu melihat kodratmu sendiri sebelum mengakhiri pikiran yang rasional. Mencapai pencerahan tanpa melihat kodratmu sendiri adalah suatu hal yang tak mungkin terjadi. Tapi masih saja ada orang-orang yang melakukan banyak kejahatan dan menganggap tak ada yang namanya karma. Orang-orang seperti ini salah menganggap bahwa berhubung segala hal adalah kosong, maka berbuat kejahatan bukanlah hal yang salah. Demikianlah mereka akan terjatuh ke neraka dengan kegelapan yang tak berujung tanpa ada harapan untuk terbebaskan. Demikianlah orang yang bijak tak akan percaya akan konsep seperti itu.
Tapi kalau setiap kondisi atau gerakan kita, kapanpun muncul, merupakan pikiran; kenapa kita tak melihat pikiran ini saat tubuh seseorang mati?
Pikiran selalu ada. Kamu hanya tak bisa melihatnya saja.
Kalau ada, kenapa aku tak melihatnya?
Apakah kamu pernah bermimpi?
Tentu saja.
Saat kamu bermimpi, apakah itu dirimu?
Ya, itu aku.
Dan apakah yang kamu lakukan dan katakan berbeda darimu?
Tidak, tak berbeda.
Kalau memang tak berbeda, maka tubuh ini adalah tubuhmu yang sesungguhnya. Dan tubuh yang sesungguhnya ini adalah pikiranmu. Dan pikiran ini, meski telah melalui berkalpa-kalpa tanpa awal, selalu sama. Ia tak pernah hidup ataupun mati, muncul ataupun menghilang, bertambah ataupun berkurang. Ia tak suci ataupun ternoda, baik ataupun buruk, lampau ataupun mendatang. Bukan benar ataupun salah. Bukan pria ataupun wanita. Tak muncul sebagai bhiksu ataupun orang awam, senior ataupun pemula, suciwan ataupun orang bodoh, buddha ataupun orang awam. Ia tak berjuang mencari realisasi dan tak menderita karma. Ia tak punya kekuatan ataupun wujud. Ia bagaikan angkasa. Kamu tak bisa memilikinya dan tak bisa kehilangannya. Gerakannya tak terhalangi oleh gunung, sungai, ataupun tembok batu. Kekuatannya yang tak bisa dihentikan mampu menembusi Gunung Lima Skandha dan menyeberangi Sungai Samsara. Tiada karma yang mampu menjerat tubuh sejati ini. Namun pikiran ini begitu lembut dan sulit untuk dilihat. Ia tak sama dengan pikiran sensual (ket: inderawi). Semua orang juga ingin melihat pikiran ini, dan mereka yang menggerakkan tangan dan kakinya dengan menggunakan sinarnya banyaknya bagaikan butiran pasir di sepanjang Sungai Gangga, tapi saat kamu menanyakan kepada mereka, mereka tak bisa menjelaskannya. Mereka bagaikan wayang. Pikiran ini milik mereka untuk digunakan. Tapi kenapa mereka tak bisa melihatnya?
Sang Buddha mengatakan kalau orang-orang sedang tersesat. Itulah kenapa saat mereka bertindak, mereka terjatuh ke dalam sungai kelahiran dan kematian yang tiada berujung. Dan saat hendak keluar, yang ada malah terjerumus lebih dalam. Semua ini karena mereka tak melihat kodratnya sendiri. Kalau saja orang-orang tak tersesat, kenapa mereka tak bertanya tentang sesuatu yang ada di depan mata mereka? Tak ada satupun dari mereka yang paham mengenai gerakan tangan dan kakinya sendiri. Makanya Sang Buddha tak salah. Orang-orang tersesat tak tahu siapa diri mereka. Hanya seorang Buddha sajalah yang tahu akan sesuatu yang sangat susah untuk dilukiskan. Hanya orang bijak yang paham mengenai pikiran, pikiran ini dinamakan sebagai kodrat, pikiran ini dinamakan sebagai pembebasan. Kehidupan ataupun kematian tak mampu mengekang pikiran ini. Tak ada satupun yang mampu. Oleh karenanya ia dinamakan sebagai Tathagata yang Tak Bisa Dihentikan, Yang Tak Dapat Dipahami, Jati Diri yang Kudus, ia yang Abadi, Suciwan nan Agung. Namanya bisa berbeda-beda, namun esensinya sama. Para Buddha juga berbeda-beda, namun tak satupun yang meninggalkan pikirannya sendiri. Kapasitas pikiran tak ada batasnya, dan manifestasinya juga tiada habis-habisnya. Melihat wujud dengan matamu, mendengarkan suara dengan telingamu, mencium bau dengan hidungmu, merasakan citarasa dengan lidahmu, setiap gerakan ataupun kondisi merupakan keseluruhan pikiranmu. Di segala saat, di mana bahasa tak mampu menembusi, itulah pikiranmu.
Di dalam sutra dikatakan, “Wujud seorang Tathagata banyak tiada batas. Begitu pula dengan kesadarannya.” Berbagai macam wujud yang tak terhingga dikarenakan pikirannya. Kemampuannya untuk membedakan berbagai macam hal, apapun gerakannya ataupun keadaannya, adalah kesadaran sang pikiran. Namun sang pikiran tak punya wujud dan kesadarannya tak ada batasnya. Demikianlah maka dikatakan, “Berbagai wujud seorang Tathagata tiada habisnya, begitu pula dengan kesadarannya.” Tubuh materi yang terdiri dari empat elemen merupakan masalah. Tubuh materi juga tunduk pada kelahiran dan kematian. Namun tubuh yang sejati sudah ada tanpa diadakan, karena tubuh sejati seorang Tathagata tak pernah berubah. Di dalam sutra dikatakan, “Orang-orang harus sadar bahwa kodrat buddha adalah sesuatu yang mereka semua selalu miliki.” Kashyapa cukup merealisasikan kodratnya sendiri.
Kodrat kita merupakan sang pikiran. Dan sang pikiran adalah kodrat kita. Kodrat ini sama dengan pikiran dari semua Buddha. Para Buddha dari masa lalu dan masa mendatang hanya mentransmisikan pikiran ini saja. Di luar pikiran ini tak ada Buddha di manapun juga. Namun orang-orang yang tersesat tak menyadari bahwa pikiran mereka sendiri adalah Sang Buddha. Mereka terus-menerus mencari di luaran sana. Mereka tak pernah berhenti mengundang para Buddha atau memuja para Buddha, serta keheranan sebenarnya Buddha ada di Mana? Jangan menikmati ilusi semacam ini. Cukup ketahui pikiranmu sendiri. Di luar pikiranmu tak ada Buddha yang lain. Tertulis di dalam berbagai sutra, “Semua hal yang punya wujud merupakan ilusi.” Dikatakan juga bahwa, “Di manapun kamu berada, di sana ada seorang Buddha.” Pikiranmu adalah Sang Buddha. Jadi jangan menggunakan seorang Buddha untuk memuja seorang Buddha.
Bahkan bila seorang Buddha atau Bodhisattva tiba-tiba muncul di hadapanmu, tak perlu memberikan penghormatan. Pikiran kita ini kosong dan tak berisikan wujud semacam itu. Mereka yang terpaku pada penampakan adalah iblis. Mereka melenceng dari Sang Jalan. Kenapa memuja ilusi yang dilahirkan oleh pikiran? Mereka yang memuja tak mengetahuinya, sedangkan mereka yang mengetahui tak akan memuja. Dengan memuja, kamu terjerat sihir sang iblis. Aku menjelaskan hal ini karena aku kuatir kamu tak menyadari hal ini. Kodrat dasar seorang Buddha tak memiliki wujud. Ingatlah selalu, bahkan bila ada wujud tak lazim yang muncul. Jangan direngkuh, jangan pula ketakutan, dan jangan ragu kalau Pikiranmu pada dasarnya suci murni. Di mana bisa ada tempat untuk wujud seperti itu? Lagipula, penampakan roh, setan, atau malaikat tak menimbulkan rasa hormat ataupun takut. Karena pada dasarnya pikiranmu adalah kosong. Semua penampakan jugalah ilusi. Jangan terpaku pada penampakan. Bila kamu membayangkan seorang Buddha, Dharma, atau seorang Bodhisattva dan memberikan hormat kepada mereka, maka kamu menurunkan derajatmu ke tingkat orang awam. Kalau kamu mencari pemahaman langsung, jangan melekat pada penampakan apapun juga, dan kamu akan berhasil. Aku tak punya nasihat lain. Berbagai sutra menuliskan, “Segala penampakan adalah ilusi belaka.” Mereka tak punya keberadaan yang tetap, ataupun wujud yang konstan. Mereka tak abadi. Janganlah melekat pada penampakan dan kamu akan menjadi satu pikiran dengan Sang Buddha. Di dalam sutra dikatakan, “Mereka yang terbebas dari segala macam wujud adalah Sang Buddha.”
Tapi kenapa kita jangan memuja para Buddha dan Bodhisattva?
Iblis dan setan memiliki kesaktian manifestasi (pengejawantahan). Mereka mampu menciptakan penampakan berbagai bodhisattva sebagai kedoknya. Namun mereka palsu adanya. Tak satupun dari mereka adalah Buddha. Sang Buddha adalah pikiranmu sendiri. Jangan sampai salah memuja.
Buddha, dalam Bahasa Sansekerta, adalah yang kamu sebut sebagai “sadar”, “dengan ajaibnya tersadarkan”. Menanggapi sesuatu, melengkungkan alismu, mengedipkan matamu, menggerakkan tangan dan kakimu, semuanya adalah kodratmu yang sadar dengan ajaibnya. Dan kodrat inilah yang dinamakan Sang Pikiran. Dan Sang Pikiran adalah Sang Buddha. Dan Sang Buddha adalah Sang Jalan. Dan Sang Jalan adalah Zen. Namun kata Zen ini masih merupakan teka-teki bagi orang-orang awam maupun suciwan. Melihat kodratmu adalah Zen. Bila kamu tak melihat kodratmu, itu bukanlah Zen.
Bahkan kalaupun kamu bisa menjelaskan beribu-ribu sutra dan sastra, namun bila kamu tak melihat kodratmu sendiri, ajaranmu adalah ajaran orang awam, bukan seorang Buddha. Sang Jalan yang sejati sebegitunya mulia. Ia tak dapat diekspresikan lewat bahasa. Jadi apa gunakanya kitab suci? Hanya ia yang melihat kodratnya sendiri yang menemukan Sang Jalan, bahkan meski ia tak mampu membaca sepatah kata pun. Ia yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha. Dan berhubung tubuh seorang Buddha pada hakekatnya suci dan tak bernoda, serta apapun yang diucapkannya adalah ekspresi dari pikirannya, yang pada dasarnya kosong, maka seorang Buddha tak dapat ditemukan di dalam kata-kata atau di manapun di dalam 12 kanon.
Sang Jalan pada dasarnya sempurna. Ia tak membutuhkan proses penyempurnaan. Sang Jalan tak punya wujud ataupun suara. Ia lembut dan sukar dirasakan. Seperti saat kamu meminum air: kamu tahu seberapa panas atau dinginnya air itu, tapi kamu tak bisa memberitahukannya kepada orang lain. Hal-hal yang hanya diketahui oleh seorang Tathagata, maka orang-orang awam dan para dewa tak pernah menyadarinya. Kesadaran orang awam sungguhlah rendah. Selama mereka melekat pada wujud penampakan, mereka tak akan menyadari bahwa pikiran mereka sesungguhnya kosong.
Dan salah melekati pada penampakan berbagai macam hal, menyebabkan mereka kehilangan Sang Jalan. Kalau kamu tahu bahwa semua hal datang dari dalam pikiran, maka janganlah melekat. Sekali saja melekat, kamu bisa tak sadar diri. Dan begitu kamu melihat kodratmu sendiri, keseluruhan kanon menjadi bagaikan prosa yang panjang. Beribu-ribu sutra dan sastra hanyalah mengenai pikiran yang jernih. Pemahaman datang di tengah-tengah kalimatnya. Jadi kitab suci seberapa bergunanya? Kebenaran tertinggi itu melampaui kata-kata. Sedangkan doktrin kitab suci hanyalah kata-kata belaka.
Mereka bukanlah Sang Jalan. Karena Sang Jalan tak terekspresikan lewat kata-kata. Mereka tak berbeda dengan hal-hal yang muncul di dalam mimpimu di malam hari, mau muncul istana ataupun kereta, taman ataupun singa di tepian danau; jangan menjadi senang dan puas akan hal-hal seperti itu. Mereka adalah buaian lingkaran kelahiran dan kematian. Ingatlah selalu akan hal ini saat kamu sudah mendekati ajalmu. Jangan melekat pada penampakan, dan kamu akan mampu menembus semua halangan. Sesaat saja kamu ragu-ragu, maka kamu akan terjerat sihir iblis. Tubuh sejatimu itu suci dan tak terpengaruh apapun juga. Namun karena tertutup berbagai macam khayalan, kamu jadi tak mampu menyadarinya. Dan karena hal ini juga kamu menderita karma dengan sia-sia. Di manapun kamu menemukan kesenangan, di sana kamu akan terjerat. Tapi sekali kamu tersadarkan akan tubuh dan pikiran sejatimu, kamu tak lagi terjerat oleh kemelekatan.
Siapapun juga, yang melepaskan hal-hal transenden demi hal-hal duniawi, dengan berbagai macam perwujudannya, adalah orang awam. Namun seorang Buddha adalah ia yang menemukan kebebasan dalam nasib baik maupun buruk. Demikianlah kesaktiannya sampai-sampai karma juga tak mampu mencengkeramnya. Ada karma seperti apapun, Buddha akan mengubahnya. Surga dan neraka tak berarti baginya. Tapi kesadaran orang awam sungguhlah redup bila dibanding kesadaran Buddha yang mampu menembusi apapun luar-dalam. Jadi kalau kamu tak yakin, janganlah bertindak. Sekali kamu bertindak, kamu akan mengembara melalui kelahiran dan kematian, serta menyesal karena tak punya naungan (perlindungan/sarana). Kemiskinan dan kesusahan diciptakan oleh pikiran yang salah. Untuk memahami pikiran ini, kamu harus bertindak tanpa bertindak. Hanya dengan itulah kamu nantinya akan mampu melihat berbagai hal dari sudut pandang seorang Tathagata.
Tapi saat pertama kali kamu mulai menapaki Sang Jalan, kesadaranmu tak akan terfokus. Janganlah ragu karena hal-hal seperti itu datang dari pikiranmu sendiri, bukan dari tempat lain.
Bila, seperti di dalam mimpi, kamu melihat sinar yang lebih cemerlang dibanding matahari, sisa-sisa kemelekatanmu tiba-tiba akan berakhir dan kodrat sejati akan muncul. Kejadian seperti itu akan menjadi dasar pencerahan. Tapi hal ini hanya kamu saja yang tahu. Kamu tak bisa menjelaskannya kepada orang-orang. Atau bila, saat kamu sedang berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring di taman yang sunyi, kamu melihat sinar, baik yang terang ataupun redup, jangan beritahukan kepada orang-orang, dan jangan berfokus kepadanya. Ia hanyalah sinar dari kodratmu sendiri.
Atau bila, saat kamu sedang berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring dalam keheningan dan gelapnya malam, semuanya nampak (bersinar) seperti di siang hari, janganlah kaget. Ia hanyalah pikiranmu sendiri yang hendak menampakkan dirinya.
Atau bila, saat kamu sedang bermimpi di malam hari, kamu melihat bulan dan bintang-bintang bersinar dengan cemerlang, itu berarti bekerjanya pikiranmu akan segera berakhir. Tapi jangan beritahukan kepada orang-orang. Dan bila mimpimu tak jelas, seakan-akan kamu sedang berjalan di dalam kegelapan, itu karena pikiranmu tertutupi kekuatiran. Hal ini juga suatu hal yang kamu sendiri yang mengetahuinya. Kalau kamu telah melihat kodratmu sendiri, kamu tak perlu lagi membaca sutra atau mengundang para Buddha. Pembelajaran dan Pengetahuan tak hanya tak berguna, mereka juga akan menutupi kesadaranmu. Doktrin ajaran hanya digunakan untuk menunjuk pada pikiran. Tapi begitu kamu melihat pikiranmu, buat apa masih memperhatikan doktrin-doktrin lagi?
Dalam proses dari orang awam sampai menjadi Buddha, kamu harus mengakhiri karma, memelihara kesadaranmu, dan menerima apa yang kehidupan bawakan untukmu. Kalau kamu selalu marah, yang ada malah kamu melawan Sang Jalan. Sungguh tak ada gunanya menipu dirimu sendiri. Para Buddha bergerak bebas melewati kelahiran dan kematian, muncul dan menghilang kapanpun juga. Mereka tak bisa dikekang oleh karma atau ditundukkan oleh para iblis. Demikianlah saat orang-orang awam melihat kodrat mereka sendiri, semua kemelekatan akan berakhir. Kesadaran bukannya tersembunyi, dan kamu hanya bisa menemukannya di saat ini juga. Hanya saat ini! Bila kamu sungguh-sungguh ingin menemukan Sang Jalan, jangan terpaku dan melekat pada apapun juga. Begitu kamu mengakhiri karma dan memelihara kesadaranmu, segala macam kemelekatan yang masih ada akan berakhir. Pemahaman akan muncul dengan sendirinya. Bahkan kamu tak perlu mengusahakannya. Tapi para fanatik tak paham yang dimaksudkan Sang Buddha. Dan semakin keras mereka mencobanya, semakin jauh mereka dari yang dimaksud oleh Suciwan. Sepanjang hari mereka mengundang para Buddha dan membaca sutra, tapi tetap saja tak melihat kodratnya sendiri yang ilahi. Demikianlah mereka tak bisa melepaskan diri dari Sang Roda.
Seorang Buddha adalah orang yang menganggur. Ia tak pergi berkeliling mengejar keuntungan dan ketenaran. Memangnya hal-hal seperti itu pada akhirnya ada gunanya? Orang-orang yang tak melihat kodrat mereka sendiri dan berpikir kalau membaca sutra, mengundang para Buddha, belajar dengankeras dalam jangka waktu yang lama, berlatih di pagi dan malam, tak pernah berbaring, atau mendapatkan pengetahuan, menganggap semua itu sebagai Dharma – justru sebenarnya malah menghujat Dharma. Para Buddha dari masa lalu dan masa mendatang hanya membahas mengenai melihat kodratmu. Semua sadhana tiada yang abadi. Kalau tak bisa melihat kodrat sendiri, maka mereka yang mengaku telah mencapai pencerahan yang sempurna dan tiada tandingannya adalah para pembohong. Di antara sepuluh murid teragung Shakyamuni, Ananda adalah yang terkemuka dalam pembelajaran. Namun ia tak memahami Sang Buddha. Yang ia lakukan hanyalah belajar dan mengingat-ingat saja. Para Arhat tak memahami Sang Buddha. Yang mereka pahami adalah ada banyak sadhana untuk mencapai realisasi, dan mereka menjadi terperangkap oleh sebab-dan-akibat. Demikian karma orang awam: tak bisa melepaskan diri dari kelahiran dan kematian. Dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan yang diajarkan, orang-orang tersebut yang ada malah menghujat Sang Buddha. {Catatan penerjemah: bagian berikut bukan ajakan untuk membunuh.} Membunuh merekapun juga bukan tindakan yang salah, karena dikatakan di dalam Sutra, “Berhubung para icchantika tak mampu mempercayai, membunuh mereka juga tak akan disalahkan, sedangkan orang yang percaya akan mencapai tingkat Kebuddhaan.”
Kalau kamu tak melihat kodratmu sendiri, maka kamu tak boleh mengkritik kebaikan orang-orang lain. Sungguh tak ada manfaat dari menipu dirimu sendiri. Baik dan buruk sudah jelas berbeda. Sebab dan akibat juga jelas. Surga dan neraka ada di depan matamu. Namun orang-orang bodoh tak mempercayainya dan langsung terjatuh ke neraka yang gelapnya tiada berujung tanpa menyadarinya. Yang menghalangi mereka untuk mempercayainya adalah beratnya karma mereka sendiri. Bagaikan orang buta yang tak percaya ada hal yang namanya sinar, bahkan bila kamu harus menjelaskan kepada orang-orang seperti ini, mereka masih saja tak percaya, karena mereka buta. Mohon tanya bagaimana caranya mereka membedakan sinar?
Sama halnya dengan orang-orang bodoh di kaum rendahan atau di antara orang miskin dan hina. Mereka tak hidup, juga tak mati. Dan meski menderita seperti itu, kalau kamu tanya mereka, mereka akan bilang kalau merasa bahagia seperti para dewa. Demikianlah semua orang awam, bahkan mereka yang merasa dirinya mendapatkan kelahiran yang baik pun sama tak sadarnya. Karena karma mereka yang berat, orang-orang bodoh seperti itu tak akan percaya dan tak bisa terbebaskan.
Orang-orang yang melihat bahwa pikiran mereka adalah Sang Buddha, tak perlu mencukur rambutnya; karena orang awam juga Buddha. Kalau tak melihat kodratnya sendiri, maka mereka yang mencukur rambutnya sungguhlah para fanatik.
Namun berhubung orang-orang awam yang menikah tak melepaskan seks, bagaimana caranya mereka menjadi Buddha?
Aku hanya membahas mengenai melihat kodratmu saja. Aku tak membahas tentang seks hanya karena kamu tak melihat kodratmu. Begitu kamu melihat kodratmu, seks pada dasarnya tak penting. Ia akan berakhir sejalan dengan kesenanganmu di dalamnya. Bahkan bilapun beberapa kebiasaan masih tersisa, mereka tak bisa mencelakaimu, karena kodratmu pada intinya adalah suci. Meski tinggal di dalam tubuh materi yang terdiri dari empat elemen, kodratmu pada dasarnya suci. Ia tak dapat dirusak.
Tubuhmu pada dasarnya adalah suci. Ia tak dapat dirusak. Tubuh sejatimu tak punya sensasi, tak kelaparan ataupun kehausan, tak kepanasan ataupun kedinginan, tak menderita sakit, tiada cinta ataupun kemelekatan, tiada kesenangan ataupun kesakitan, tiada baik ataupun buruk, tiada pendek ataupun panjang, tiada kelemahan ataupun kekuatan. Sebenarnya tiada apapun di sini. Justru karena kamu melekat pada tubuh materi ini maka hal-hal seperti lapar – haus – panas – dingin – sakit muncul. Begitu kamu berhenti melekat dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana adanya, kamu akan terbebaskan, bahkan dari kelahiran dan kematian. Kamu akan mengubah segala hal. Kamu akan memiliki kesaktian batin yang tak dapat dihalangi. Dan kamu akan selalu merasa damai di manapun kamu berada. Kalau kamu meragukan hal ini, kamu tak akan menembusi apapun. Lebih baik jangan lakukan apapun. Karena begitu kamu bertindak, kamu tak mampu menghindari siklus kelahiran dan kematian. Namun begitu kamu melihat kodratmu, kamu adalah seorang Buddha meski mata pencaharianmu adalah menjadi tukang jagal.
Tapi bukankah para penjagal menciptakan karma dengan membunuh binatang? Bagaimana caranya mereka bisa menjadi Buddha?
Aku hanya membahas mengenai melihat kodratmu. Aku belum membahas mengenai menciptakan karma. Apapun yang kita lakukan, karma kita tak bisa mencengkeram kita. Setelah melewati berkalpa-kalpa tanpa awal, orang-orang terjatuh ke dalam neraka hanya karena mereka tak melihat kodratnya sendiri. Selama seseorang menciptakan karma, ia akan terus melewati roda kelahiran dan kematian. Namun begitu ia merealisasikan kodrat sejatinya, ia berhenti menciptakan karma. Kalau ia tak melihat kodratnya, memanggil para Buddha juga tak akan membebaskannya dari karmanya, meski ia tukang jagal ataupun bukan. Namun begitu ia melihat kodratnya, semua keraguan akan sirna. Bahkan karma seorang tukang jagal tak akan berpengaruh pada orang seperti itu. Di India, 27 patriak hanya mentransmisikan jejak sang pikiran saja.
Dan alasan utama aku datang ke China adalah untuk mentransmisikan ajaran seketika dari Mahayana. Bahwa pikiran ini adalah Sang Buddha. Aku tak membahas tentang sila, bhakti ataupun praktik-praktik pertapaan asketik seperti membenamkan diri ke dalam air dan api, menapaki roda pisau, makan sekali dalam sehari, ataupun tak pernah berbaring. Hal-hal ini merupakan ajaran-ajaran fanatik dan sementara belaka. Begitu kamu menyadari gerakanmu, maka kamu secara ajaib akan menyadari kodratmu.
Pikiranmu adalah pikiran dari semua Buddha. Para Buddha dari masa lampau dan masa mendatang hanya membahas mengenai transmisi pikiran ini.
Mereka tak mengajarkan hal-hal lain kalau seseorang paham akan ajaran ini, bahkan bilapun ia buta huruf ia tetaplah seorang Buddha. Bila kamu tak melihat kodratmu sendiri yang tersadarkan dengan ajaibnya, kamu tak akan pernah menemukan seorang Buddha meski kamu memecah tubuhmu hingga menjadi butiran-butiran atom.
Sang Buddha adalah tubuhmu yang sesungguhnya, pikiran sejatimu. Pikiran ini tak berwujud atau tak punya karakteristik, tak ada sebab ataupun akibat, tak punya otot ataupun tulang. Ia bagaikan angkasa. Kamu tak bisa memegangnya. Ia bukanlah pikiran materialis ataupun nilihis. Kecuali seorang Tathagata, tak ada siapapun – orang awam ataupun yang tersesat – yang mampu memahaminya.
Namun pikiran ini bukan berada di luar tubuh materi yang dibentuk dari empat elemen. Tanpa pikiran ini, kita tak akan bisa bergerak. Tubuh sendiri tak punya kesadaran. Layaknya tumbuhan atau batu, tubuh ini tak punya kodrat. Jadi bagaimana ia bisa bergerak? Pikiranlah yang bergerak. Bahasa dan perilaku, persepsi dan konsep – semuanya adalah fungsi dari pikiran yang bergerak. Semua gerakan adalah gerakan sang pikiran. Gerakan adalah fungsinya. Selain gerakan tak ada yang namanya pikiran, dan selain pikiran tak ada yang namanya gerakan. Tapi gerakan bukanlah pikiran. Dan pikiran bukanlah gerakan. Gerakan pada dasarnya tiada pikiran. Dan pikiran pada dasarnya tanpa gerakan. Tapi gerakan tak bisa ada tanpa pikiran. Dan pikiran tak akan ada tanpa gerakan. Pikiran dan gerakan saling bersanding dan tak terpisahkan. Gerakan adalah fungsi pikiran, dan fungsinya tampil dalam bentuk gerakan. Meski demikian, pikiran tidaklah bergerak maupun berfungsi, inti dari fungsinya adalah kekosongan, dan kekosongan pada dasarnya tiada pergerakan. Gerakan sama dengan pikiran. Dan pikiran pada dasarnya tiada pergerakan. Demikianlah maka berbagai sutra memberitahu kita untuk bergerak tanpa melakukan gerakan, bepergian tanpa bepergian, melihat tanpa melihat, tertawa tanpa tertawa, mendengar tanpa mendengar, mengetahui tanpa mengetahui, menjadi bahagia tanpa menjadi bahagia, berjalan tanpa berjalan, berdiri tanpa berdiri. Dan sutra-sutra juga mengatakan, “Lampauilah bahasa. Lampauilah pemikiran.” Pada dasarnya, melihat, mendengar, dan mengetahui – sepenuhnya kosong. Kemarahanmu, kebahagiaanmu, ataupun rasa sakit – semua bagaikan kemarahan, kebahagiaan ataupun rasa sakit si wayang. Kamu mencarinya tapi tak menemukan satu hal pun.
Menurut sutra, perbuatan jahat akan menghasilkan kesukaran, dan perbuatan baik menghasilkan berkah. Orang-orang pemarah masuk ke neraka, dan yang bahagia masuk ke surga. Namun begitu kamu tahu bahwa kodrat dari amarah dan sukacita adalah kosong, dan kamu mampu melepaskannya, kamu telah membebaskan dirimu dari karma. Kalau kamu tak melihat melihat kodratmu, mengutip sutra juga tak akan membantu. Aku masih bisa bicara lebih jauh, tapi ceramah pendek yang ini sudahlah cukup.
[Akhir dari ceramah aliran darah]
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Subscribe to:
Posts (Atom)

