Showing posts with label mandala. Show all posts
Showing posts with label mandala. Show all posts

Thursday, February 27, 2020

Persembahan Dalam & Luar 内供养/ 外供养



Ditulis oleh Lotuschef – 22 Agustus 2011
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 内供养/ 外供养 Internal & External Offering


Saat berada di HSR, Taichung, kami membeli beberapa bungkus nasi kotak dengan menu daging.

Setelah melakukan penyeberangan dan penyucian, kami melakukan persembahan maha mandala dan mulai makan.

E berbagi makanan dengan si V, istrinya.

Kuberitahu Si V untuk menjapa [Om Ah Hom] untuk menyucikan sebelum mempersembahkan/makan.
[Buddha/para dewata di dalam tubuh juga perlu memakan makanan yang ‘tersucikan’.]

J dan S bertanya kepadaku mengapa Si V masih harus melakukan persembahan lagi dengan kotak makanan yang sama yang telah dipersembahkan oleh Si E.

Teman-teman pembaca yang terkasih, apakah kalian membaca tulisan-tulisan di blog ini?

Apa yang Mahaguru katakan perihal persembahan? Baru-baru ini aku telah mempublikasikannya.

Melakukan persembahan, kemudian memakannya, dengan demikian orang yang bersangkutan sesungguhnya sedang memberikan persembahan kepada Buddha dan Para Dewata DI DALAM TUBUHNYA.

Saat kita melakukan Puja Api Homa, kita sedang melakukan SECARA LUARAN kepada para dewata, dan mereka yang tertulis di dalam naskah doa sebagai yang mempersembahkan akan menerima berkat atau pahala. Tentunya para peserta juga merupakan pihak penerima dari sesi persembahan ini.

Si V adalah satu-satunya yang mengangkat topik [内供养/ 外供养 Persembahan Dalam dan Luar].

Ia pun patuh melakukan penyucian dan kemudian mempersembahkan.

Haha!

Mahaguru katakan bahwa segala hal yang kita lakukan adalah PELATIHAN DIRI!
Sering-sering bacalah artikel Mahaguru karena mengandung kebijaksanaan agung dari seorang yang telah Tercerahkan.


Amituofo
Lotuschef
Pure Karma
True Buddha School


Saturday, January 26, 2019

Mantra Mulaguru yang Menakjubkan 奇妙的上师心咒



Ditulis oleh Lotuschef – 25 Januari 2019
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Wondrous Root Guru's Mantra 奇妙的上师心咒


一刹那间,智遍一切
谁想念佛,佛就在身边
“Dengan seketika, Kebijaksanaan melingkupi segalanya.
Siapapun yang hendak menjapa nama Buddha,
maka Buddha akan berada di sisinya.”



Di atas adalah mandala vajra 6 alam [Ah He Sa Sa Ma Ha].
Ia merupakan sebagian dari mantra panjang Mahaguru Lu.

Rabu kemarin, aku bertemu dengan teman murid, Q, dan kulihat ia nampak kelabu ~ yang berarti kondisi kesehatannya tidak baik.

Aku membawa beberapa tumpuk mandala di atas, begitu juga Usnisa Wijaya tsatsa dan beberapa hadiah saat bepergian ke Hong Kong kali ini.

Kuajarkan kepada Q supaya memegang selembar mandala vajra 6 alam ini, menutup matanya, memvisualisasikan Guru Akar (Mulaguru) tersenyum dan memancarkan cahaya kepadanya. Ia hanya perlu mempertahankan visualisasi tersebut dan menjapa mantra tanpa bersuara.

Tentunya aku juga membantunya sedikit dengan meletakkan jari telunjuk dan tengahku di atas tangannya yang sedang memegang mandala tersebut. Sinarnya terpancar dan membuat mandala tersebut bercahaya.

Dua teman murid lainnya ada di sana juga, dan setelah itu aku menjelaskan kepada mereka bahwa aura Q sudah berubah, pipinya mulai merona dan bercahaya.
Sesungguhnya, gerakan energi baik tersebut telah mengusir qi yang stagnan atau basi.

Hahaha!
Cetakan mandala vajra 6 alam ini benar-benar menolong banyak insan.

Bila kamu menjapa nama Buddha, maka Buddha akan berada di sisimu.
Sama halnya bila kamu menjapa mantra Mulaguru, maka Mulaguru akan berada di sisimu juga.

Kali ini adalah tugas yang mudah, metodenya pun sering kupakai, dan hanya perlu mantra Mulaguru saja!

Kemudian Q menceritakan bahwa ia pernah menderita kanker beberapa tahun lalu!

DAN, hari ini aku juga bertemu dengan seorang kawan lama yang ber-aura kelabu yang sama.
Awalnya ia tetap mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan hanya sedang kelelahan.
Namun kemudian ia bilang bahwa ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah mendapatkan perawatan atas komplikasi kanker paru-paru yang sering muncul berulang kali.
Berhubung ia beragama lain, aku memberinya beberapa saran dan diam-diam menolongnya.
Saat berpisah, aku mengamati bahwa auranya secara umum telah membaik. 😍


Salam Metta.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Friday, January 25, 2019

Wondrous Root Guru's Mantra 奇妙的上师心咒



一刹那间,智遍一切
谁想念佛,佛就在身边
In an instant, Wisdom engulfs everything,
Whoever wish to chant the Buddha's name, the Buddha will just be by your side.


The above is the 6 realms vajra mandala which is [Ah He Sa Sa Ma Ha].
Its in part of GM Lu's long mantra.

On Wednesday, I met a fellow student, Q, and I noticed she is greyish ~ which means she is not in good health.

This trip to HK, I brought along many stacks of the above mandalas; some Usnisa incense blocks; and other gifts.

I taught Q how to hold on to a piece of the 6 realm vajra mandala, close her eyes, visualise Root Guru smiling and beaming light at her, and she just maintain this visualisation and chant mantra silently.

Of course, I helped her a little by placing my index & middle fingers over her hand which is securing the printed mandala. Its light initialisation or sparking up the mandala.

2 other fellow students were present, and after a while I pointed out to these 2 students that Q aura's has changed and her cheeks started to be rosy and shiny.
Actually its movements of good energy chasing away the stale or stagnant qi.

Hahaha!
This printed pieces of 6 realm vajra mandala really helped many.

If you chant the Buddha's name, the Buddha will be beside you.
Similarly,  if you chant Root Guru's mantra, Root Guru will be beside you.

Its a pretty easy assignment and the method is one that I repeatedly use, and just need Root Guru's mantra!

Later, Q revealed that she suffered from cancer years ago!

AND, I met an old friend today that has the same greyish aura.
At first she keep insisting that she is well and just tired.
However, she told the truth that she was recently discharged from hospital for treatment of complication of lung cancer which seems to recur over and over again.
As she is of other religious leanings, I gave her some advice and some help silently.
We parted ways when I noticed her general aura improved. 😍


With Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Wednesday, July 4, 2018

Mandala Vajra 6 Alam 六道金刚咒轮 – Penyembuhan 治疗 ?



Dibagikan dengan tambahan anotasi oleh Lotuschef – 3 Juli 2018
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 六道金刚咒轮 6-realms Vajra Mandala – 治疗 Healing?


Mengutip dari artikel 六道金刚咒:

六道金刚咒普度众生,有无量无边功德。
Mantra vajra 6 alam menyelamatkan semua insan, pahalanya tak terbatas.

凡耳闻此咒声,或目睹此咒字,或身手触著此咒,均消灭三世业障,将来均得成佛。
Mereka yang mendengar penjapaan mantra ini atau melihat mantra ini, atau tubuh ataupun anggota tubuhnya menyentuh mantra ini, akan mampu menghapus dosa/karma dari 3 masa kehidupan, bisa mencapai Kebuddhaan di masa mendatang.

又此咒对于超度死亡众生,功德尤大。
Sungguh besar pahala mantra ini terhadap penyelamatan insan yang telah mangkat.

死亡众生虽已堕恶道,亦可出离,往生净土。
Para insan yang mati dan terjatuh ke alam-alam rendah, juga bisa meninggalkan alam tersebut untuk terlahir kembali di Tanah Suci.

生前如多念此咒,则死后焚身,即得舍利。
Banyak menjapa mantra ini dalam masa hidupmu, saat ajal menjemput dan dikremasi maka akan menghasilkan Sarira.

利益众生无上殊胜的六道金刚咒功德及因缘 [六道金刚咒」可译为
「带成佛咒」- (mantra yang membawa ke Kebuddhaan),即佩带身上,亦可成佛。

此咒因缘是阿达尔妈佛传于毗卢遮那佛。
[Mantra ini berasal dari Adharma Buddha yang mentransmisikannya kepada Vairocana Buddha].
在毗卢遮那佛时,有某修道人,心甚慈悲。
彼时有一大河与某湖相连,因天旱水涸,致河水与湖水,亦因之干断。
湖内之鱼,天天被干死者甚多。
某人乃天天将湖内之鱼捞起来,一担一担送到河里去。
但天旱甚剧,将此一担鱼送到河去;待回到湖时,又见有许多鱼都干死了。某人叹气说:「得救的众生少,不得救的众生多,众生真难度!」

彼时毗卢遮那佛化身对他说: Inkarnasi Vairocana Buddha mengatakan kepadanya:
众生度众生,当然得度的众生甚少;如以佛法度众生,则众生自能普度。
Para insan menyelamatkan para insan, tentu saja yang diselamatkan sangat sedikit;
Kalau saja mereka menggunakan Buddha Dharma untuk menyelamatkan para insan, tentunya para insan mampu menyelamatkan diri mereka sendiri.

某人闻此言,即求毗卢遮那佛传授普度众生之法。
Mereka yang mendengar hal tersebut, segera memohon kepada Vairocana untuk mentransmisikan dharma penyelamatan para insan.

毗卢遮那佛乃授以此咒。
Vairocana Buddha akan mentransmisikan mantra ini.

某念咒七遍后,所有已死之鱼均往生西方净土;未死之鱼,均消灭无量业障,随后均得往生成佛。
(Mengacu ke kisah di atas) Yang menjapanya sebanyak Tujuh kali, maka semua ikan yang mati akan terlahir kembali di Surga Sebelah Barat; sedangkan ikan-ikan yang masih hidup, karmanya yang tak terhingga akan terhapuskan dan bisa mencapai Kebuddhaan saat meninggal.

此「六道金刚心咒」具有不可思议功德之大概情形。
Demikianlah gambaran umum dari pahala [mantra vajra 6 alam] yang tak terbayangkan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-temanku yang terkasih,
Bila kamu ingat, beberapa tahun yang lalu aku menerima setumpuk mandala vajra 6 alam dan kemudian melakukan riset tentangnya dan membagikan pengetahuan tersebut kepada semua orang.

Aku juga mengajarkan cara visualisasi saat menjapa mantra panjang Padmakumara Putih yang berisikan mantra vajra 6 alam di dalamnya. Mungkin kamu masih ingat?

Kala itu aku menggunakannya untuk menolong seseorang dengan Kanker Pankreas Stadium 4 dan tumornya mulai mengering serta mengecil. Petanda tumornya juga menurun dari 540 menjadi 17 dalam jangka waktu 3 bulan.
Sayangnya, orang tersebut tidak menepati janjinya untuk beramal.
Umurnya hanya bertambah panjang 3 tahun saja dari 10 tahun yang dimintanya.

Dan kini aku menjapakan [Mantra panjang Padmakumara Putih] sebanyak 108 kali untuk “memberkati” setumpuk kertas dengan cetakan [mandala vajra 6 alam] di hari Sabtu dan membagi-bagikannya kepada beberapa hadirin di sesi upacara di Medan.

Di hari Minggu, setelah sesi sadhana memperingati ulang tahun Mahaguru Lu, aku mengajarkan seseorang cara MENGGUNAKAN mandala ini untuk menyembuhkan dirinya sendiri!

Itu merupakan penjapaan dengan visualisasi di mana kertas mandala diletakkan di tempat yang menderita sakit (tempat masalah berada).

Melalui telapak tangan orang yang sedang menggenggam kertas mandala tersebut, aku juga memberikan sedikit bantuan dengan menyalurkan “Qi” (prana) lewat mudra jari Vajra.

Hehe! Ia mulai merasakan kehangatan menyebar dari mandala tersebut dan hal ini berlangsung selama beberapa saat hingga menjadi panas sekali dan ia harus melepaskan kertas mandala tersebut.
Kehangatan tersebut masih terasa lebih dari satu jam bahkan setelah kertas mandala dilepaskan.
Orang ini menderita Penyakit Hati Berlemak.

Akan memantau perkembangannya dan bila orang ini sungguh-sungguh tekun dan tulus dalam menyembuhkan dirinya sendiri, maka tak akan ada masalah.


Salam metta,

Om。ah。hum。 gu-ru-bei。ah-ha-sa-sa-ma-ha。 lian-sheng。sid-dhi。hum。
Lama Lotuschef

Tuesday, July 3, 2018

六道金刚咒轮 6-realms Vajra Mandala - 治疗 Healing?




Quoting from 六道金刚咒:

六道金刚咒普度众生,有无量无边功德。
6-realms vajra mantra liberates all beings, has infinite merits.

凡耳闻此咒声,或目睹此咒字,或身手触著此咒,均消灭三世业障,将来均得成佛。
Those that hear this mantra's sound from chanting or sight this mantra, or body or limbs come into contact with this mantra, all will be able to eliminate sins/karma of 3 lifetimes, can attain Buddhahood in the future.

又此咒对于超度死亡众生,功德尤大。
This mantra has great merits towards liberation of deceased beings.

死亡众生虽已堕恶道,亦可出离,往生净土。
Those deceased beings that descended into lower realms, can also leave this realm to rebirth in Pureland.

生前如多念此咒,则死后焚身,即得舍利。
Chanting more of this mantra during one's lifetime, upon death and being cremated will yield Sariras.

利益众生无上殊胜的六道金刚咒功德及因缘 [六道金刚咒」可译为
「带成佛咒」- (bring to Buddhahood mantra),即佩带身上,亦可成佛。

此咒因缘是阿达尔妈佛传于毗卢遮那佛。
[This mantra originates from Adharma Buddha's transmission to Vairocana Buddha]
在毗卢遮那佛时,有某修道人,心甚慈悲。
彼时有一大河与某湖相连,因天旱水涸,致河水与湖水,亦因之干断。
湖内之鱼,天天被干死者甚多。
某人乃天天将湖内之鱼捞起来,一担一担送到河里去。
但天旱甚剧,将此一担鱼送到河去;待回到湖时,又见有许多鱼都干死了。某人叹气说:「得救的众生少,不得救的众生多,众生真难度!」

彼时毗卢遮那佛化身对他说:Vairocana Buddha's transformation said to him: 
众生度众生,当然得度的众生甚少;如以佛法度众生,则众生自能普度。
Sentient beings liberate Sentient beings of course those liberated is very few;
if adhere to Buddha dharma to liberate sentient beings, then sentient beings can self liberate.

某人闻此言,即求毗卢遮那佛传授普度众生之法。
Those that heard this statement, similar to begging Vairocana to transmit dharma of liberation of sentient beings.

毗卢遮那佛乃授以此咒。
Vairocana Buddha will transmit this mantra.

某念咒七遍后,所有已死之鱼均往生西方净土;未死之鱼,均消灭无量业障,随后均得往生成佛。
Those that chant this mantra Seven times, all dead fishes will get rebirth in Western Paradise; those fishes that are still alive, will have their infinite karma eliminated and can attain Buddhahood upon their death.

此「六道金刚心咒」具有不可思议功德之大概情形。
This is roughly the unimaginable merits of [6-realms vajra mantra] .

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dear all, 
Remember how many years ago I received a stack of this 6-realms vajra mandala and subsequently researched it and shared widely with all?

I also taught a visualisation method when chanting White Padmakumara's long mantra that has the 6-realm vajra mantra incorporated within, recall?

Now, I use them for someone with Stage 4 Pancreatic Cancer and the tumour dried up and shrunk and cancer markers dropped from 540 to 17 in about 3 months. 
Sadly, he didn't keep the promise to do charity.
His life was prolonged for only 3 years out of the 10 years he requested.

Now, I chanted  [White Padmakumara's long mantra] 108 times to "initial" a stack of the paper printed with [6-realms vajra mandala] on Saturday and gave them out to some attendees of the Medan event.

On Sunday, after cultivation session in celebration of GM Lu's birthday, I taught someone how to USE this mandala to heal himself! 

That is chanting with visualisation and placing the printed square of mandala where the illness or problem is.

I also aided a little by sending "Qi" via a Vajra-finger mudra through this person's palm that is holding down the printed mandala.

Hehe! He started to feel warmth spreading from the mandala and this continued for quite sometime until it became scorching and he has to remove the printed mandala. 
The warmth lasted for more than an hour after removing the printed mandala.
This person has Fatty Liver. 

Will monitor the progress and if this person is truly diligent and sincere in Healing himself, he should have no problem.


With metta,

Om。ah。hum。 gu-ru-bei。ah-ha-sa-sa-ma-ha。 lian-sheng。sid-dhi。hum
Lama Lotuschef

Friday, November 10, 2017

Menyadari dan Mengamalkan



Ditulis oleh Lotuschef – 8 November 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Realised and Use 悟与用


Di atas ini: Dari Mahaguru Lu ~ Buddha Dharma adalah untuk menyaksikan gudang harta di dalam batin diri sendiri.
Ialah 内明之学 ~ yang berarti menimba ilmu pengetahuan sehingga batin akhirnya mampu memancarkan cahaya, menimba ilmu dari kondisi orang awam hingga mencapai pantai seberang.

Di ceramah Mahaguru Lu baru-baru ini, beliau membahas mengenai Mandala!
Ya, berbagai mandala ini ada di dalam diri kita masing-masing!

Mungkin kamu ingat ada banyak artikel yang telah kutulis perihan Formasi Mandala?

Dan juga artikel: Pemakaman Berjalan 移動墳場

Kutipan:

[---Komentar Lama Lotuschef:
Hahaha! Terdengar menakutkan???
Jadi ingatlah untuk selalu melakukan penyeberangan bardo sebelum makan. Menyeberangkan semua arwah binatang, serangga, bakteri… dengan cara itu, kamu tidak lagi menjadi sebuah pemakaman berjalan! ---]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!
Bila di dalam dirimu bukanlah sebuah Mandala, maka sungguhlah kamu sebuah Pemakaman Berjalan!

Sebuah cara yang mudah untuk membangun Mandala adalah dengan Mandala Padmakumara Putih dan juga Maharaja Avalokiteshvara (Gaowang), dengan Borobudur sebagai panduannya!

Daripada menyia-nyiakan waktu untuk merugikan orang-orang lain, mengapa kamu tak mencoba melatih hal-hal menarik yang aku bagikan kepadamu?

DAN RENUNGKANLAH: Punyakah kamu hal-hal yang BERGUNA seputar Buddha Dharma untuk dibagikan denganku? Bila tidak, mengapa aku harus mendengarkanmu?
Apalagi sampai mengharapku mematuhimu!!!


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Wednesday, November 8, 2017

Realised and Use 悟与用


Terjemahan Bahasa: Menyadari dan Mengamalkan


Above: From GM Lu ~ Buddha Dharma, is to see Self/own inner treasure trove.
Is 内明之学 ~ means studying the knowledge to lighten up inner self, learning from mortal through to attain Buddha's other-shore/nirvana.

In his recent speech, GM Lu talks about Mandalas!
Yes, the ones inside Self!

Remember how many articles I shared about Mandala Formations?

Also the article:
移動墳場
Mobile Cemetery
Extract:

[--- Comment:
Lama Lotuschef:-
Hahaha! Sounds scary???
However, remember to do bardo deliverance for all before you eat. Deliver all spirits of animals, insects, germs or bacteria.... that way, you are no longer a walking cemetery! ---]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha! 
If you are not A Mandala within, then you are a Mobile Cemetery within!

An easy to form Mandala is that of White Padmakumara and also the High King Avalokitesvara, using the Borobudur as guide!

Instead of wasting time to detriment others, why don't you try out the goodies that I shared?

AND, THINK: do you have anything USEFUL to share with me on Buddha Dharma? If not, why should I listen to you?
What more expect me to obey you!!!


With Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Tuesday, May 13, 2014

Altar Fisik – Perlukah?


Ditulis oleh Lotuschef – 17 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Physical Altars – Need Them? 有形坛城-需要吗?



Di atas adalah altar di salah satu aula Nirvana Memorial Garden, Singapura.
Di sana melakukan pelimpahan pahala secara sukarela. Semua biaya ditanggung oleh Lotuschef & teman-teman murid, termasuk semua suplai yang didonasikan untuk kegiatan amal setelah sesi puja.

 Altar temporer (sementara) yang dibangun oleh Pure Karma untuk setiap sesi puja api homa di luar ruangan.

Altar Pure Karma di dalam ruangan. Sangat cemerlang dan sederhana, dan yang terpenting: hangat dan menyambut!

Yang ini adalah perayaan di China untuk memperingati patriak Zen, Hui Neng.
Perlu dicatat bahwa pola-pola pikir duniawi telah mengotori Kesucian Agama Buddha Aliran Zen yang diajarkan oleh Reverend Hui Neng.
Hahaha! Pikiran-pikiran duniawi “BERPIKIR” kalau banyak hal dibutuhkan (untuk melakukan sesuatu)!

Satu lagi yang dibangun Pure Karma untuk puja api homa di luar ruangan.
Tak ada perasaan yang kacau, bukan?

Yang ini dibangun oleh VM Lian Ye menurut interpretasinya akan panduan yang dipublikasikan oleh Komite Pusat!
Apakah di atas memberimu perasaan yang “MENYENANGKAN”? :)

Yang ini baru saja dibagikan di artikel kemarin. TERASA ANEH!

Dua altar di atas salah peletakan. Patung-patung yang seharusnya ada di sisi naga malah diletakkan di sisi macan, begitu juga sebaliknya. Pandangan mata dari patung-patung buddha juga memancarkan kesinisan dan aneh!

Altar ditata ulang dan kemudian kembali mengundang para Dewata yang bersangkutan untuk memuliakan atar dengan kehadiran mereka dan supaya mereka mau terus berdiam di sana!


Dalam Tantrayana, saat kamu mulai bersadhana, kamu hanya butuh altar yang sederhana saja.
Demikianlah jangan membangun altar yang rumit dengan banyak patung yang KAMU PIKIR atau orang lain bilang KAMU BUTUH INI DAN ITU!

Hahaha!
Dan semakin kamu mendapatkan kemajuan dalam tingkat pelatihan dirimu, menurut Guru, kamu adalah altar atau mandala itu sendiri.
Atau lebih tepatnya: tubuhmu adalah mandalamu!

Bahkan di banyak rumah ibadah, banyak patung malah membikin tambah rumit rumah ibadah itu sendiri!

Bagi kita semua di Satya Buddha, KITA CUMAN BUTUH GURU AKAR KITA, PADMAKUMARA, BUDDHA HIDUP LIAN SHENG!

Sebuah altar yang patung-patungnya “didiami” oleh roh-roh binatang, hantu, dan sebagainya?
Lebih baik jangan punya altar! :)

Di dalam blog ini sudah banyak dibagikan artikel mengenai Altar.
Baca-bacalah kembali.

Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Disunting dari Jurnal Lotuschef

Related Posts:


Sunday, April 20, 2014

Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran



Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Ten States in the Development of the Mind 十住心论



Kobo Daishi [Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran]


Mengutip dari: 3.12 Ten States in the Development of the Mind


Di tahun 830, minat Kukai telah berpindah dari yang awalnya berfokus pada kontroversi antara Madhyamaka dan Yogacara yang berhubungan dengan kekosongan atau keberadaan dharma, beserta kritiknya atas pandangan mereka akan bahasa karena tak menyampaikan kebenaran (Dharma), ke arah mengevaluasi doktrin-doktrin Buddhis secara keseluruhan, termasuk ordo-ordo besar Buddhis lainnya.
Perpindahan ini kemungkinan besar berhubungan dengan perselisihan yang terus berlangsung di periode tersebut antara Saicho – pendiri ordo Tendai dengan ordo-ordo Buddhis Nara.
Dalam rangka memberikan skema komprehensif yang mampu menjelaskan kedudukan setiap ajaran agama dan kedudukan agama Buddha esoterik dalam hubungannya dengan doktrin-doktrin agama Buddha lainnya, Kukai mencoba menunjukkan pentingnya agama Buddha menurut versinya.

Di dalam skema tersebut, Kukai bersikeras menggunakan konsep-konsep yang dibahas di atas untuk membedakan agama Buddha esoterik dari eksoterik.
Meski demikian, saat dilihat secara garis besar, Dharma sebagai jalan kebenaran di dalam skema Kukai telah cukup merangkul agama Buddha eksoterik dan ajaran-ajaran lainnya sebagai berbagai macam wujud manifestasinya, dalam tingkat relatif dengan menuruti kondisi atau konteks yang sesuai dan tingkat pencapaian.

Dalam rangka menjelaskan perbedaan tingkat atau kondisi (ju, yang secara literal berarti “hunian” atau “penginapan”) pikiran (jujushin) yang sesuai dengan berbagai macam doktrin ordo-ordo dan sektor keagamaan lainnya, Kukai mengembangkan sebuah skema hirarkis.
Agama Buddha ordo Shingon diposisikan di paling atas karena memberikan sudut pandang dharma yang paling komprehensif.

Banyak orang menganggap sistem yang dibuat oleh Kukai ini sebagai magnum opus (mahakarya)-nya, Himitsu mandara jujushinron (Risalah mengenai Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran) dalam 10 jilid, yang ditulis sekitar tahun 830, lima tahun sebelum beliau wafat.

Karya tersebut ditulis sebagai tanggapan atas perintah dari Kaisar Junna yang meminta setiap aliran Agama Buddha harus mempresentasikan risalah pengenalan atas ajaran-ajarannya.

Saat naskah tersebut terbukti terlalu sulit untuk dicerna Sang Kaisar, Kukai kemudian membuat ringkasan risalah dengan tema yang sama yang lebih mudah dipahami, Hizo hoyaku (Kunci Berharga yang Membuka Harta Karun Rahasia) dalam tiga jilid.

Inti dari kedua karya tersebut adalah klasifikasi dari berbagai doktrin yang masing-masing dievaluasi dengan kritis dari sudut pandang Shingon yang tertinggi dan komprehensif.

Jenis sistem yang mirip untuk mengklasifikasikan doktrin-doktrin adalah p’an-chiao (panjiao) atau chiao-pan (jiaoban) (Bhs. Jepang: kyôsô hanjaku atau kyô-han) yang sudah ada di China dalam tradisi T’ien-t’ai dan Hua-yen.

Sistem pembagian seperti itu terbukti sangat membantu dalam usaha mereka untuk membedakan diri mereka dari, dan pada saat yang bersamaan, menggabungkan doktrin-doktrin yang ada sebelumnya sebagai upaya bijaksana yang relatif benar.

Sutra Teratai juga mengekspresikan ide yang hampir sama, dengan mengatakan bahwa berbagai macam doktrin merupakan upaya kemudahan yang pada akhirnya membawa pada kebenaran yang lebih lengkap (seperti yang diungkapkan di dalam naskah itu sendiri).

Adalah penemuan Kukai sendiri yang mengasosiasikan berbagai macam doktrin yang dievaluasi dan diklasifikasikan dengan kondisi-kondisi pikiran atau tingkat-tingkat pencapaian kebatinan tertentu.

Setiap kondisi di dalam perkembangan pikiran yang akan berhubungan dengan kumpulan doktrin-doktrin tertentu yang sesuai dengan kondisi tersebut, sebagai perspektif dan pengalaman realitas yang dijalaninya, akan menjadi nyata sampai tingkat tertentu dalam lingkupnya sendiri yang terbatas namun belum merupakan kebenaran sepenuhnya hingga tingkat terakhir telah dicapai.

Dalam kata lain, untuk naik ke hirarki pikiran yang lebih tinggi, adalah untuk mengalami terbukanya kelopak-kelopak Dharma karena orang yang bersangkutan menjadi tersadarkan lebih dalam hingga ia sepenuhnya menyadari pencerahannya sendiri dalam non-dualitas dengan Dharma itu sendiri, yaitu pencapaian Kebuddhaan.


Dilihat dari sudut pandang mandala, terbukanya kelopak Dharma ini juga merupakan indikasi evolusi orang yang bersangkutan dari lingkar terluar menuju ke pusat mandala alam semesta.

Namun berhubung tiap tingkat pikiran merupakan sebuah “hunian” bagi pikiran itu sendiri, hirarki dari “tingkat” terendah hingga tertinggi akan terlihat sekuensial (berurutan) dari dimensi eksoterik.

Sebenarnya pengurutan semacam itu tidaklah perlu bila dilihat dari sudut pandang esoterik atau holistik.
Atau dalam kata lain, ada kemungkinan untuk langsung melompat dari kondisi atau “tempat kediaman” mana saja ke alam yang paling komprehensif.


Berbagai ajaran yang dievaluasi di sini tak hanya mencakup berbagai aliran agama Buddha saja, tapi juga meliputi variasi agama Brahma, Hindu, praktik-praktik keagamaan India, serta doktrin-doktrin non-Buddhis Tiongkok.

Dan dari lingkup ajaran-ajaran Buddha meliputi doktrin-doktrin utama dari India dan Tiongkok yang masuk ke Jepang: Ritsu (Bhs. China: Lu-tsung, yang mempelajari Vinaya), Kusha (berbasiskan Abhidharma), Jojitsu (Bhs. Sansekerta: Satyasiddhi, berbasiskan Sautrantika), Hosso (Bhs. Sansekerta: Yogacara, China: Fa-hsiang), Sanron (Bhs. China: San-lun, yang berbasiskan Madhyamaka India), Tendai (Bhs. China: T’ien-t’ai), Kegon (Bhs. China: Hua-yen), dan Shingon.

Sistem klasifikasi dari Kukai ini bisa diringkas menjadi singkat dalam skema berikut:


Tahap ke-1 hingga ke-3 – Tahapan pra-buddhis: “wahana” awam dari jerat samsara.

Tahap 1 – “Pikiran seekor kambing yang dengan bodohnya bertransmigrasi di dalam enam nasib (atau alam)” (ishô teiyô-shin):
Kondisi nafsu yang digerakkan oleh insting binatang tanpa batasan moral; kondisi yang juga menaungi orang-orang awam, mahluk di neraka, setan lapar, binatang, asura (“raksasa”), dan berbagai dewa atau mahluk surgawi yang terjerat di dalam takdir samsara mereka.

Tahap 2 – “Pikiran seorang anak yang dipoles tapi membabi buta terobsesi oleh berbagai aturan moralitas” (gudô jisai-shin):
Kondisi dimana berbagai tindakan etis dan mulia membawa keteraturan sosial namun tanpa tujuan “religius”; Konfusianisme dan sila-sila Buddhis (ritsu) untuk orang awam berada di tahap ini.

Tahap 3 – “Pikiran seorang anak yang tenang dan tak takut apapun” (yodô mui-shin):
Kondisi yang melakukan pemujaan dewata dan praktik religi-magis ekstrinsik (dari sumber luar) demi mengatasi kecemasan dengan berpikir untuk mendapatkan kemampuan supranatural atau keabadian, atau mencapai surga yang kekal dan penuh kebahagiaan; Taoisme dan berbagai bentuk agama Hindu dan Brahma berada di tahap ini.


Tahap ke-4 hingga ke-10 – Tahapan Buddhis (tahap ke-4 hingga ke-9 adalah agama Buddha eksoterik, dan ke-10 adalah esoterik):

Tahap 4 hingga 5 – Tahapan Hinayana: “wahana” bagi mereka yang bercita-cita mendapatkan pencerahan diri tanpa menghiraukan pencerahan insan-insan lainnnya.

Tahap 4 – “Pikiran seseorang yang hanya mengakui zat/komposisi dan menyangkal diri” (yuiun muga-shin):
Kondisi sravaka yang menganalisa fenomena menjadi berbagai “agregat” (skandha) dan/atau komposisi (Dharma) psiko-fisik, untuk kemudian menyangkal segala macam kepercayaan atas keberadaan sebuah ego yang permanen (atman); ajaran-ajaran Buddha historis dan murid-murid terdekatnya beserta dengan pendidikan Abhidharma berada di tahap ini. Meski kekukuhan realitas bisa dipecah menjadi zat-zat dharmanya, dharma-dharma itu sendiri akan menjadi belenggu, sehingga akan membutuhkan tiga kehidupan hingga 60 eon untuk mencapai pembebasan.

Tahap 5 – “Pikiran yang terbebaskan dari benih-benih karma” (batsu gôinju-shin):
Kondisi pratyeka-buddha yang tiada bertuan serta memahami wawasan Hukum Sebab-Musabab yang saling bergantungan (Pratityasamudpada) yang memampukannya untuk mengenali ketidakkekalan, tanpa ego, dan semua hal di mana pada dasarnya tak punya substansi, oleh karenanya mampu mencegah supaya karma tak tercipta. Namun saat menikmati tingkat “pencerahan” tertentu, ia terjatuh kembali pada “egoisme” kepuasan diri sendiri, apatis tanpa welas asih terhadap sesamanya, dan pandangan sempit akan keduniawian lain. Di sinilah ia belum mampu mencapai pencerahan yang sepenuhnya. Aliran Sautrantika masuk dalam tahap ini.

Tahap ke-6 hingga ke-9 – Tahapan Mahayana: Wahana para bodhisattva – mereka yang mencari pencerahan demi dirinya sendiri dan para insan lain juga, dengan mengatasi dualisme atas diri-dan-insan lain, serta mengenai kesalingbergantungan antara pencerahan diri sendiri dan pencerahan insan lain, dan antara kebijaksanaan dan kewelasasihan.

Tahap 6 – “Pikiran penganut Mahayana yang prihatin atas nasib insan lain” (taen daijô-shin):
Kondisi Yogacara dengan perspektif Vijnapti-matrata nya (Bhs. Jepang: yuishiki) yang mengatakan bahwa semua hal hanyalah “pikiran saja”, dicapai lewat menganalisa semua hal-kejadian sebagai fenomena kesadaran yang berasal dari “gudang” yang tak sadar atau “wadah kesadaran” (alaya-vijnana). Intinya adalah untuk melepaskan diri dari proses objektifikasi (pembendaan) diskriminatif terhadap berbagai macam fenomena sehingga mampu merealisasi ketenangan “pikiran saja” dari perspektif yang tidak mendiskriminasikan, yang akan memampukan praktik “maha welas asih.” Tahap ini masih membutuhkan praktik selama beberapa eon untuk mencapai dan bukan merupakan kondisi terakhir.

Tahap 7 – “Pikiran seseorang yang merealisasi tiada mula” (kakushin fushô-shin):
Kondisi Madhyamaka dengan perspektif sunyavada-nya (Bhs. Jepang: kugan) bahwa semua hal adalah kosong adanya. Di sini menganggap sesuatu yang abstrak, termasuk konsepsi, sebagai hal yang konkrit – baik objek dan pikiran – yang menjadi belenggu ini dihapus lewat delapan penyangkalan dari Nagarjuna, yang lewat Pratityasamudpada mereka bisa menunjukkan kekosongan mereka sendiri.

Tahap 8 – “Pikiran seseorang yang merealisasikan keselarasan dengan satu jalan kebenaran” (nyojitsu ichidô-shin atau ichidô muishin):
Kondisi T’ien-t’ai dengan perspektifnya akan “kemanunggalan semua hal”, di mana si praktisi merealisasi bahwa sebuah momen memuat keabadian, sebuah pikiran memuat semua dunia yang mungkin ada, dan sebutir biji wijen memuat sebuah gunung, yang berarti non-dualitas antara satu dan banyak; dan antara kekosongan, pratityasamudpada, dan “di tengah antara mereka.”

Tahap 9 – “Pikiran seseorang yang merealisasikaan ketiadaan substansi di dalam kebenaran tertinggi” (goku mujishô-shin):
Kondisi Hua-yen dengan perspektifnya akan ketiadaan halangan dan interpenetrasi mutual di antara keberadaan pola-pola (Bhs. China: li, Jepang: ri) semua hal dan perihal-peristiwa yang konkrit (Bhs. China: shih, Jepang: ji)  berbasiskan pada kekosongan mereka, di mana tunggal maupun jamak bersifat non-dual. Non-dualitas semacam ini diperluas hingga ke semua hamparan dharmadhatu.

Tahap 10 – Bagi Kukai, baik Tendai maupun Kegon masih kekurangan elemen penting mengenai pemahaman akan pengalaman langsung untuk bisa benar-benar merealisasi apa yang mereka ajarkan.

Si praktisi harus melaju lebih lanjut dengan sadhana ritual jasmaniah yang disediakan oleh kondisi selanjutnya dan terakhir – Mantrayana: “Pikiran Kemuliaan yang Penuh Misteri” (himitsu shôgon-shin).

Inilah kondisi Shingon, di mana ajaran-ajaran esoterik dan praktik pengalaman jasmaniahnya merupakan komposisi yang mengantar ke puncak perkembangan pikiran.

Di puncak tersebut, hosshin seppô akan terungkap dan si praktisi mencapai sokushinjôbutsu melalui hubungan timbal balik mikro-makro kosmos dari 3 misteri dan melalui kaji.


Dengan tak menolak atau menyangkal kondisi-kondisi sebelumnya, kondisi final ini memenuhi dan mencakupi semua perspektif dari apa yang diklaim sebagai perspektif yang paling komprehensif, dalam sudut pandang – atau lebih tepatnya dalam non-dualitasnya dengan – Dharma.

Mengingat Dharma itu sendiri, berbagai kebenaran yang diajarkan di semua kondisi sebelumnya hanyalah bersifat relatif dan sementara. Mereka hanyalah merupakan upaya kemudahan yang bersifat membantu karena bisa menolong mengantar si praktisi menuju ke kebenaran final ini, namun bisa juga menjadi belenggu bila ia malah melekat kepada mereka.


Setiap kondisi disebut sebagai “istana” (kyû atau gû), yang semuanya bergabung menjadi sebuah istana semesta yang agung (hokkaigû atau hokkai shinden).

Istana agung ini berisikan seluruh alam semesta sebagai sebuah mandala, dengan kondisi ke-10 atau  yang tertinggi – istana rahasia yang terdalam dari Dainichi, berada di pusat dan puncaknya dari mana Dharma timbul menjadi berbagai wujud di kondisi-kondisi yang lebih rendah, istana-istana luar.


Semakin dekat si praktisi ke pusat, maka akan semakin kuat dia merasakan tarikan kaji ke arah puncak di tengah. Namun seperti yang dituliskan di atas, pengurutan hirarki tidaklah sedemikan perlu saat semuanya dilihat dari perspektif yang paling komprehensif ini.

Karena istana semesta nan agung menembusi dan mencakupi semua istana lainnya atau semua tempat berdiamnya pikiran.
Demikianlah si praktisi mampu membuat loncatan seketika dari titik mana saja di mandala alam semesta ini ke titik pusat dengan keberhasilan melatih sadhana esoterik agama Buddha aliran Shingon.

Struktur mandala inilah yang dimaksud dalam istilah mandala pada judul karya tulis dengan versi yang lebih panjang – Risalah Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran.

Ia mengacu pada cetak biru perwujudan alam semesta dari Dharma (hosshin), yang selanjutnya membentuk praktik ritual sesuai dengan pengaturannya dan bagaimana si praktisi mengalami Dharma sesuai dengan hal tersebut juga.

---

Teman-temanku sekalian yang terkasih,

Membaca tulisan di atas, aku yakin kalau mereka yang telah dan masih mendengarkan ajaran Dharma dari Guru dengan penuh perhatian, akan menyadari bahwa mereka telah berkali-kali dibagikan dalam tulisan dan ceramah Guru. :)

Kini kamu bisa membaca lagi artikel-artikel Guru yang menjelaskan tentang Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran atau Thesis Mengenai Sepuluh Kediaman Pikiran.
Bisa ditemukan di Buku ke-1 Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, dari halaman 218 – 253.

Ada Sepuluh Kediaman Dharma dari Sutra Avatamsaka juga yang aku telah bagikan di blog ini.

Selamat menikmati!!!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef



Related Posts:


Thursday, April 17, 2014

Physical Altars – Need Them? 有形坛城-需要吗?

Terjemahan Indonesia: Altar Fisik – Perlukah?

Altar in one of the halls at Nirvana memorial gardens. Singapore.
We did merits dedication on a voluntary basis, all expenses incurred paid by Lotuschef & fellow students. Including charity supplies donated to charity after the session.

A temporary altar that Pure Karma sets up each session, for Fire Puja event outdoor.

Pure Karma's indoor altar. Very clear and simple and most important, Welcoming!

This is a celebration in China, in honor of Zen patriarch, Hui Neng.
Note that Sentient Mindsets had infiltrated into the Purity of Zen Buddhism, shared by Reverend Hui Neng.
Hahaha! Sentient minds "THINK" lots of things are needed!

Another one set up by Pure Karma for outdoor fire puja event.
No cluttered feel, agree?

This one is set up by VM Lian Ye, as per his interpretation of Core's published guidelines!
Does it gives you the a "GOOD" feel? :)

The above already shared in recent post. "FEEL" weird! 

The 2 above is an altar which is just not right. Statues for dragon-side went to tiger-side and vice-versa. The eyes of the buddha statues also weird or sinister looking!

We rearrange the altar and re-invoke the respective Divinities & Deities to grace the altar with their continued presence!

In Tantrayana, when you start to cultivate, you might need a simple altar.
However, don't set up a complicated one with lots of statues which YOU THINK or Someone Say YOU NEED!

Hahaha!
As you progress in the cultivation hierarchy, as per SZ, you are the altar or mandala.
Or more precisely, your body is your mandala!

Even in temples, too many statues only complicate ONE!

For all of us in TBS, YOU ONLY NEED ROOT GURU, PADMAKUMARA, THE LIVING BUDDHA LIAN SHENG!

An altar whereby statues are "Occupied" by spirits of animals; ghosts, ..... ?
Best don't have one! :)

We have shared lots on Altars in this blog.
Please go refer.

Cheers all


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Edited from Notes of Lotuschef


Related Posts:


Saturday, April 12, 2014

Ten States in the Development of the Mind 十住心论


Terjemahan Indonesia: Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran



弘法大师 [十住心论]

Kobo Daishi [Ten States in the Development of the Mind]


Quoting from: 3.12 Ten States in the Development of the Mind


By 830 Kûkai has shifted his interest from an earlier focus upon the controversy between Madhaymaka and Yogâcâra concerning the emptiness or existence of the dharmas and his critique of their view on language as not conveying truth (the Dharma), to evaluating Buddhist doctrines as a whole, including the other major Buddhist schools. This shift is most likely connected to the dispute on-going during that period between the founder of the Tendai school, Saichô, and the older Nara Buddhist schools. In providing a comprehensive scheme that would explain the place of each religious teaching as well as the place of esoteric Buddhism in relation to the other Buddhist doctrines, Kûkai aimed to demonstrate the significance of his version of Buddhism.

In this scheme, Kûkai is adamant in using the above-discussed concepts to distinguish esoteric from exoteric Buddhism. 
And yet, given a bird's eye view, the truth, the Dharma, in Kûkai's scheme is encompassing enough to include exoteric Buddhism and all other teachings as its unfoldings or manifestations, in relative degrees in accordance with the appropriate circumstance or context and the level of attainment. 

In order to explain the different levels or states (jû, literally “dwellings” or “lodgings”) of mind (jûjûshin) that correspond to the various doctrines of other schools and religious sects, Kûkai developed an hierarchical scheme. 

Shingon Buddhism is placed at the top of the hierarchy as providing the most comprehensive view to the Dharma. 

Kûkai provides this systematization in what many consider to be his magnum opus, Himitsu mandara jûjûshinron (Treatise on the Secret Mandala of the Ten States of Mind) in ten volumes, composed around 830, five years before his death. 

It was written in response to an order of Emperor Junna that each Buddhist sect present an introductory treatise of its teachings. 

When the text proved to be too difficult for the emperor, Kûkai produced an abridged and more accessible treatise on the same theme, Hizô hôyaku (Precious Key to the Secret Treasury) in three volumes. 

At the core of both works is this classification of the various doctrines whereby each is critically evaluated under the light of the culminating and most comprehensive view of Shingon. 

A similar sort of system of classifying doctrines, called p’an-chiao (panjiao) or chiao-pan (jiaoban) (Jpn:kyôsô hanjaku or kyô-han) already existed in China, e.g. within the T’ien-t’ai and the Hua-yen traditions. 

Such a system of classification proved helpful in their attempts to distinguish themselves from, and at the same time, incorporate previous doctrines as expedient means that are relatively true. 


The Lotus Sûtra had also already expressed the similar idea that various doctrines were meant as expedient means that lead eventually to a fuller truth (expressed within its own text). 

It is Kûkai's own invention however to associate the different doctrines evaluated and classified with specific states of mind or stages of spiritual attainment. 

That is, each state in the development of the mind is correlated with a specific set of doctrines appropriate to it, as its perspective and lived experience of reality, true to a certain extent within its limited purview but not yet the whole truth until the final state is reached. 

In other words, to move up this hierarchy of levels of mind, is to experience the unfolding of the Dharma as one becomes further awakened until one fully realizes one's enlightenment in non-duality with the Dharma itself, i.e. the attainment of Buddha-hood. 

From a mandalic perspective, this unfolding of the Dharma is also indicative of one's evolution from the periphery towards the center of the mandalic universe. 

However as each level of mind is a “dwelling” or “lodging” place for the mind, the hierarchy from the lowest to the highest “stages” is sequential only in the exoteric dimension. 

That is to say that the sequential ordering is not necessary in itself when viewed from the esoteric, i.e., holistic, standpoint. 
In other words, it is possible to move directly from any state or “dwelling” to the most comprehensive realm.

The teachings evaluated here not only include Buddhist schools but also variations of Brahmanism, Hinduism, and Indian religious practices as well as Chinese non-Buddhist doctrines. 

And the Buddhist teachings include the major Indian and Chinese doctrines that have made their way to Japan: Ritsu (Chn. Lu-tsung, Vinaya studies), Kusha (based on Abhidharma), Jôjitsu (Skrt. Satyasiddhi, based on Sautrântika), Hossô (Skrt. Yogâcâra, Chn. Fa-hsiang), Sanron (Chn. San-lun based on Indian Madhyamaka), Tendai (Ch. T’ien-t’ai), Kegon (Chn. Hua-yen), and Shingon. Kûkai's classification system may be briefly summarized in the following schema:

1st to 3rd states: Pre-Buddhist stages: worldly “vehicles” of samsaric entrapment:

1st state: “The mind of the goat foolishly transmigrating in the six destinies (or realms)” (ishô teiyô-shin): The state of desire driven by animal instincts without moral restraint; the stage to which belong common people, hell-beings, hungry-ghosts, beasts, asuras (“titans”), and various deities or celestial beings trapped in their samsaric destinies.


2nd state: “The mind of the child tempered but ignorantly obsessed with moral precepts” (gudô jisai-shin): The state of ethical actions and virtue that promote social order but without any “religious” goal; the stage to which belong Confucianism and the Buddhist precepts (ritsu) for the laity.


3rd state: “The mind of the child composed and fearing nothing” (yodô mui-shin): The state of deity worship and extrinsic magico-religious practice for the sake of overcoming anxiety with the thought of attaining supernatural powers or immortality, or reaching an eternal and blissful heaven; the stage to which belong Taoism and various forms of Hinduism or Brahmanism.

4th to 10th states: Buddhist stages (the fourth to ninth being exoteric Buddhism and the tenth being esoteric Buddhism):

4th to 5th states: Hinâyâna stages: “vehicles” of those who aspire towards self-enlightenment without caring for the enlightenment of others.

4th state: “The mind of one affirming only the elements and negating the self” (yuiun muga-shin): The state of the śrâvaka who analyzes phenomena into the psycho-physical “aggregates” (skandhas) and/or the elements (dharmas), to thus negate any belief in a permanent ego (atman); the stage to which belong the teachings of the historical Buddha and his direct disciples and of the Abhidharma scholastics. While the substantiality of reality is thus deconstructed into its elemental dharmas, the dharmas themselves however become fetters, thus taking from three lives to sixty aeons to achieve liberation.

5th state: “The mind freed from karmic seeds” (batsu gôinju-shin): The state of the pratyeka-buddha, who, masterless on his own, attains insight into the chain of dependent origination to recognize the impermanence, self-less-ness, and non-substantiality of all, thus preventing new karma to arise. But in enjoying a certain level of “enlightenment,” he falls back into the “egoism” of self-complacency, compassionless apathy towards fellow beings, and the narrow vision of other-worldliness. Hence he has not yet reached complete enlightenment. The Sautrântika school belongs to this stage.

6th to 9th states: Mahâyâna stages: “vehicles” of the bodhisattvas, those who seek enlightenment both for self and for others, by overcoming self-other duality and recognizing the interdependency between self-enlightenment and other-enlightenment and between wisdom and compassion.

6th state: “The mind of the Mahâyâna adherent who is concerned with others” (taen daijô-shin): The state of Yogâcâra with its Vijñapti-mâtratâ (Jpn: yuishiki) standpoint that everything is “mind-only,” reached by its analysis of thing-events as phenomena of consciousness originating from a deep un-conscious “storehouse” or “receptacle consciousness” (âlaya-vijñâna). Its point is to detach oneself from the discriminating objectification of phenomena in order to realize the tranquility of “mind-only” from a non-discriminating perspective, which would allow the practice of “great compassion.” And yet this still takes several aeons of practice to achieve and is not the final state.

7th state: “The mind of one who realizes non-origination” (kakushin fushô-shin): The state of Madhyamaka with its śûnyavâda (Jpn: kûgan) standpoint that everything is empty. Here reifying and substantializing conceptions — including both objects and mind — that act as fetters are eliminated through Nâgârjuna's eight-fold negations which via their dependent origination show their emptiness.

8th state: “The mind of one who realizes harmony with the one path of truth” (nyojitsu ichidô-shin or ichidô muishin): The state of T’ien-t’ai with its standpoint of “oneness of all,” wherein one realizes that one moment contains eternity, a single thought contains all possible worlds, and a sesame seed contains a mountain, i.e. the non-duality between one and many; and between emptiness, dependent origination, and their “middle.”

9th state: “The mind of one who realizes the absence of substance within ultimate truth” (goku mujishô-shin): The state of Hua-yen with its standpoint of the mutual non-obstruction and interpenetration between the patternment (Chn: li; Jpn: ri) of all and the concrete thing-events (Chn: shih; Jpn: ji) on the basis of their emptiness, whereby one and many are non-dualistic. This non-duality is extended to the level of the entire dharmadhâtu.

10th state: Both Tendai and Kegon for Kûkai however lack the crucial element of direct experiential understanding to truly realize what they preach. 

One must thus proceed further by means of bodily ritual practice provided by the next and final state: Mantrayâna: “The mind of secret sublimity” (himitsu shôgon-shin). 

This is the state of Shingon, whose esoteric teachings and bodily experiential practice constitute the summit of the development of the mind. 

At this summit hosshin seppô is revealed and one attains sokushinjôbutsu through the micro-macro-cosmic correlativity of the three mysteries and through kaji.

Rather than rejecting or negating the previous states, this final state fulfills and encompasses their standpoints from what is claimed to be the most comprehensive standpoint, in view of — or rather in non-duality with — the Dharma. 


In light of the Dharma, the truths taught in those previous states are but relative or provisional truths, expedient means that are helpful only insofar as they lead one towards this final truth but which can also serve as fetters if one becomes attached to them. 


Each state is referred to as a “palace” (kyû or gû), which are all combined in the one grand cosmic palace (hokkaigû or hokkai shinden). 

This grand palace constitutes the entire cosmos as a mandala, with the tenth and highest state, the innermost secret palace of Dainichi, at the center and summit from which the Dharma emanates into its various manifestations in the lower states, the outer palaces. 


The closer one is to the center, the stronger one feels the pull of kaji drawing one up towards the central summit. But as stated above, the sequential ordering of the hierarchy is not necessary when the whole is viewed from this most comprehensive standpoint. 

For the grand cosmic palace penetrates and comprehends all of the specific palaces or dwellings of the mind. 
Hence one can make a sudden leap from any point in this cosmic mandala towards the center by successfully engaging in the esoteric practice of Shingon Buddhism. 

It is this mandalic structure that the term mandala in the title of the longer version of this work (Treatise on the Secret Mandala of the Ten States of Mind) signifies. 

It refers to the blueprint of the cosmic embodiment of the Dharma (hosshin), which in turn structures one's (ritual) practice in its arrangement and how one accordingly experiences the Dharma.

---

Dear all, 

Reading through the above, I am sure those that have & still are listening attentively to SZ's Sharing of Dharma, will realized all these are already shared many times over in SZ's writings and speeches. :)

Now you can go read over SZ's articles explaining the Ten States of Mind Development or Ten Abiding Heart Thesis.
Found in Rainbow Body Attainment book 1. From Page 218 to page 253. 

There is a Ten Abiding Dharma from Avatamsaka Sutra too that I have shared in this blog.

Enjoy!!!



Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom

Tuesday, July 23, 2013

Yang dibahas dalam ceramah Guru hari ini – Sharpyinma & Sutra Intan

Mandala Prajnaparamita

Ditulis oleh Lotuschef – 21 Juli 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: In Guru’s Speech Today – Sharpyinma & Diamond Sutra


Vajrayana, tingkat ke-2 – Bagian Aksi.

Kamu bisa menggunakan pasir berwarna untuk membangun sebuah mandala, atau membuat mandala dengan Sharpyinma (Bunda Prajnaparamita) di tengah pusat dan dan keluarganya di sebelah-sebelahnya.
Atau bila tak punya rupang-rupangnya, kamu bahkan boleh menggunakan batu-batu untuk melambangkan Sharpyinma dan keluarga (rekan-rekannya) di dalam ruang mandalanya.

Hari ini Guru mengatakan bahwa saat kamu mampu mengundang Sharpyinma untuk turun dan menyatu denganmu, maka tubuhmu adalah mandala Sharpyinma. Kamu hanya perlu menjapa Sutra Intan, dan semuanya akan sukses!

Inilah tingkat ke-3 – Bagian Yoga.

Semua yang bersadhana denganmu, keluargamu, teman-temanmu, dll., mereka semua adalah bagian dari mandalamu dan mendapatkan manfaat dengan setara dari keberhasilan latihan Yoga-mu.



Foto di paling atas diambil pada saat puja api homa, dengan Sharpyinma berada di dalam pikiran.Lihatlah dengan baik bola sinar yang berwarna keemasan tersebut, kamu akan melihat seorang figur dengan rambut berwarna emas di atas mahkotanya?

Seorang saudari sedharma berkata: bersadhana dengan Pure Karma sungguh menakjubkan, semua yang hadir (baik yang terlihat maupun yang tak terlihat) berbasuh dengan bola-bola sinar semesta.
Sama kiranya dengan bermain-main di alam semesta?

Hahaha! Saat itu, semuanya berubah menjadi sebuah Mandala?


Foto di atas menayangkan Gerbang Surga yang terbuka dan sinarnya yang melingkar sangat mirip dengan konstelasi bintang. Ia berhasil diabadikan oleh Lotus Susan lewat ponsel Samsung-nya.

Bukankah itu sebuah mandala?
Semua yang hadir juga merupakan anggota dari mandala tersebut.


Oh, Sutra Intan? Hahaha! MILIKKU?

Lotuschef at Play - 无明士与金刚经 Anonymous and Diamond Sutra

Lotuschef at Play - Copyrights on Diamond Sutra?金刚经版权?

25-12-2011 Sutra carved on Golden Rock Wall


Teman-teman sekalian yang terkasih, bukankah  ini semua sungguh menarik?
Baik Sharpyinma maupun Sutra Intan – mereka seperti punya jodoh yang dekat denganku.

Orang-orang dengan cara pikir yang sempit mengatakan bahwa Lotuschef tak boleh mengadakan fahui.

Apa itu Fahui?
Fa adalah Dharma, sedangkan Hui adalah perkumpulan.

Di dalam puja api homa, kita melatih 3 tingkat dari Vajrayana secara lengkap, mereka adalah:
  1. Yidam sebagai Tuan – kita melayani tuan kita [Guru Padmakumara dan satu atau dua yidam lain] dengan berbagai macam persembahan yang menakjubkan.
    Hari ini guru mengatakan bahwa kamu harus memberikan persembahan torma kepada Sang Yidam juga.
    Tak ada persembahan berarti sungguh tak ada ketulusan, bukan?
  2. Kita mengundang para yidam dan seluruh alam semesta untuk turut berpartisipasi di dalam sesi yang kita adakan. Mereka bagaikan teman kita sendiri dan turut berbaur dalam pesta, bukan?
  3. Melebur dengan yidam atau para yidam, dan semuanya yang berbaur dalam pesta ini membentuk sebuah mandala, khan?
    Setiap insan adalah bagian dari mandala dari yidam atau para yidam yang dipilih, bukannya begitu?

Sungguh sebuah cara yang menakjubkan dan menyenangkan untuk mengadakan sebuah pesta.

Kenapa tak sering-sering melakukannya seperti yang dilakukan oleh Pure Karma?

Semua yang hadir dengan tulus melatih 3 tahapan dalam Vajrayana, baik dengan Bentuk maupun dengan yang Tanpa Bentuk juga!

:) Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef