Showing posts with label kukai. Show all posts
Showing posts with label kukai. Show all posts

Saturday, September 5, 2015

Penjelasan Arti “Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran” oleh Mahaguru Lu



Dikutip dari ceramah dharma Buddha Hidup Lian Sheng – 6 Oktober 1990
(Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, Jilid 1, hal. 252-253)
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Yuan Zheng Tang
Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: SZ on MEANING OF "TEN STAGES OF MIND DEVELOPMENT"



Karya utama Kukai (Kobo Daishi) “Sepuluh Kondisi Pikiran/Kesadaran”

Aku telah selesai membahas 10 tahap perkembangan pikiran seperti yang dikategorikan oleh Bhiksu Jepang Koho (Kobo Daishi) kemarin. Meski Koho membaginya menjadi 10 tahap seperti yang pertama adalah “Pikiran Binatang” hingga ke-10 “Pikiran Kemuliaan yang Penuh Misteri”, itu masih merupakan pikiran yang sama yang melewati berbagai tahap transformasi.

Tantrayana percaya bahwa segala hal di atas bumi punya pikirannya masing-masing. Jadi sebuah gunung punya pikiran, begitu juga dengan sungai, bengawan, laut, matahari, bulan, bintang, kaca, pohon, padi, dan bibit. Pertanyaan yang terpenting buat kita adalah bagaimana caranya supaya bisa benar-benar memahaminya?

Menurut pendapatku, Koho mencoba memberitahu bahwa kita tak boleh memfitnah diri sendiri, apalagi meremehkan diri sendiri. Di dalam himne pujian 5 suku kata Bodhisattva Manjushri dikatakan: “Bila kita menganggap diri sendiri sebagai orang biasa – mahluk fana, kita sedang memfitnah para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan mendatang.” Ini karena doktrin Tantra dengan jelas menegaskan bahwa: “Kamu adalah seorang Buddha.”

Beberapa analogi digunakan untuk menggambarkan para sadhaka. Mereka yang melatih Mahayana bagaikan “mengendarai kendaraan sapi”; yang melatih Hinayana “mengendarai kendaraan kambing”, dan mereka yang berkonsentrasi pada Vajrayana “mengendarai kendaraan daya mistis”. Dalam kata lain, bila kita ingin tercerahkan sebagai seorang Buddha sesegera mungkin, kita harus mengendarai kendaraan yang terakhir tadi.

Hanya Tantrayana yang mendukung “Kebuddhaan secara langsung” – di mana setelah memperoleh daya kesaktian mistis, kita akan mampu mendobrak dan menjadi tercerahkan. Sepuluh tahap perkembangan pikiran adalah tunggal dan sama seperti pikiran seorang Buddha.

Oleh karenanya kita tak boleh mundur, menganggap diri sendiri tak punya harapan, menyerah pada kenyataan dan mengklaim diri sendiri punya pikiran binatang. Karena dengan melakukan hal tersebut, kita sedang memfitnah para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan mendatang.

Berhubung kita semua adalah para Buddha di masa mendatang, tentunya kita nanti juga akan punya pencapaian batin. Bila kita selalu memvisualisasikan diri sendiri sebagai Buddha, kita sedang menjunjung tinggi prinsip Tantra akan “Kebuddhaan secara langsung” dan hal ini merupakan pertanda akan Kebuddhaan kita di masa mendatang. Hingga saat ini, tak ada ordo lain yang mampu menjanjikan kepadamu jalan yang lebih cepat untuk mencapai keberhasilan spiritual.

Berhubung pikiran binatang dan pikiran manusia adalah sama seperti pikiran para Buddha, kita harus selalu mengendalikan ucapan, perilaku, dan pikiran supaya berfungsi secara alamiah, sehingga akan segera tercerahkan sepenuhnya dan menjadi Buddha.

Om Mani Padme Hum.

Sunday, April 20, 2014

Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran



Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Ten States in the Development of the Mind 十住心论



Kobo Daishi [Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran]


Mengutip dari: 3.12 Ten States in the Development of the Mind


Di tahun 830, minat Kukai telah berpindah dari yang awalnya berfokus pada kontroversi antara Madhyamaka dan Yogacara yang berhubungan dengan kekosongan atau keberadaan dharma, beserta kritiknya atas pandangan mereka akan bahasa karena tak menyampaikan kebenaran (Dharma), ke arah mengevaluasi doktrin-doktrin Buddhis secara keseluruhan, termasuk ordo-ordo besar Buddhis lainnya.
Perpindahan ini kemungkinan besar berhubungan dengan perselisihan yang terus berlangsung di periode tersebut antara Saicho – pendiri ordo Tendai dengan ordo-ordo Buddhis Nara.
Dalam rangka memberikan skema komprehensif yang mampu menjelaskan kedudukan setiap ajaran agama dan kedudukan agama Buddha esoterik dalam hubungannya dengan doktrin-doktrin agama Buddha lainnya, Kukai mencoba menunjukkan pentingnya agama Buddha menurut versinya.

Di dalam skema tersebut, Kukai bersikeras menggunakan konsep-konsep yang dibahas di atas untuk membedakan agama Buddha esoterik dari eksoterik.
Meski demikian, saat dilihat secara garis besar, Dharma sebagai jalan kebenaran di dalam skema Kukai telah cukup merangkul agama Buddha eksoterik dan ajaran-ajaran lainnya sebagai berbagai macam wujud manifestasinya, dalam tingkat relatif dengan menuruti kondisi atau konteks yang sesuai dan tingkat pencapaian.

Dalam rangka menjelaskan perbedaan tingkat atau kondisi (ju, yang secara literal berarti “hunian” atau “penginapan”) pikiran (jujushin) yang sesuai dengan berbagai macam doktrin ordo-ordo dan sektor keagamaan lainnya, Kukai mengembangkan sebuah skema hirarkis.
Agama Buddha ordo Shingon diposisikan di paling atas karena memberikan sudut pandang dharma yang paling komprehensif.

Banyak orang menganggap sistem yang dibuat oleh Kukai ini sebagai magnum opus (mahakarya)-nya, Himitsu mandara jujushinron (Risalah mengenai Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran) dalam 10 jilid, yang ditulis sekitar tahun 830, lima tahun sebelum beliau wafat.

Karya tersebut ditulis sebagai tanggapan atas perintah dari Kaisar Junna yang meminta setiap aliran Agama Buddha harus mempresentasikan risalah pengenalan atas ajaran-ajarannya.

Saat naskah tersebut terbukti terlalu sulit untuk dicerna Sang Kaisar, Kukai kemudian membuat ringkasan risalah dengan tema yang sama yang lebih mudah dipahami, Hizo hoyaku (Kunci Berharga yang Membuka Harta Karun Rahasia) dalam tiga jilid.

Inti dari kedua karya tersebut adalah klasifikasi dari berbagai doktrin yang masing-masing dievaluasi dengan kritis dari sudut pandang Shingon yang tertinggi dan komprehensif.

Jenis sistem yang mirip untuk mengklasifikasikan doktrin-doktrin adalah p’an-chiao (panjiao) atau chiao-pan (jiaoban) (Bhs. Jepang: kyôsô hanjaku atau kyô-han) yang sudah ada di China dalam tradisi T’ien-t’ai dan Hua-yen.

Sistem pembagian seperti itu terbukti sangat membantu dalam usaha mereka untuk membedakan diri mereka dari, dan pada saat yang bersamaan, menggabungkan doktrin-doktrin yang ada sebelumnya sebagai upaya bijaksana yang relatif benar.

Sutra Teratai juga mengekspresikan ide yang hampir sama, dengan mengatakan bahwa berbagai macam doktrin merupakan upaya kemudahan yang pada akhirnya membawa pada kebenaran yang lebih lengkap (seperti yang diungkapkan di dalam naskah itu sendiri).

Adalah penemuan Kukai sendiri yang mengasosiasikan berbagai macam doktrin yang dievaluasi dan diklasifikasikan dengan kondisi-kondisi pikiran atau tingkat-tingkat pencapaian kebatinan tertentu.

Setiap kondisi di dalam perkembangan pikiran yang akan berhubungan dengan kumpulan doktrin-doktrin tertentu yang sesuai dengan kondisi tersebut, sebagai perspektif dan pengalaman realitas yang dijalaninya, akan menjadi nyata sampai tingkat tertentu dalam lingkupnya sendiri yang terbatas namun belum merupakan kebenaran sepenuhnya hingga tingkat terakhir telah dicapai.

Dalam kata lain, untuk naik ke hirarki pikiran yang lebih tinggi, adalah untuk mengalami terbukanya kelopak-kelopak Dharma karena orang yang bersangkutan menjadi tersadarkan lebih dalam hingga ia sepenuhnya menyadari pencerahannya sendiri dalam non-dualitas dengan Dharma itu sendiri, yaitu pencapaian Kebuddhaan.


Dilihat dari sudut pandang mandala, terbukanya kelopak Dharma ini juga merupakan indikasi evolusi orang yang bersangkutan dari lingkar terluar menuju ke pusat mandala alam semesta.

Namun berhubung tiap tingkat pikiran merupakan sebuah “hunian” bagi pikiran itu sendiri, hirarki dari “tingkat” terendah hingga tertinggi akan terlihat sekuensial (berurutan) dari dimensi eksoterik.

Sebenarnya pengurutan semacam itu tidaklah perlu bila dilihat dari sudut pandang esoterik atau holistik.
Atau dalam kata lain, ada kemungkinan untuk langsung melompat dari kondisi atau “tempat kediaman” mana saja ke alam yang paling komprehensif.


Berbagai ajaran yang dievaluasi di sini tak hanya mencakup berbagai aliran agama Buddha saja, tapi juga meliputi variasi agama Brahma, Hindu, praktik-praktik keagamaan India, serta doktrin-doktrin non-Buddhis Tiongkok.

Dan dari lingkup ajaran-ajaran Buddha meliputi doktrin-doktrin utama dari India dan Tiongkok yang masuk ke Jepang: Ritsu (Bhs. China: Lu-tsung, yang mempelajari Vinaya), Kusha (berbasiskan Abhidharma), Jojitsu (Bhs. Sansekerta: Satyasiddhi, berbasiskan Sautrantika), Hosso (Bhs. Sansekerta: Yogacara, China: Fa-hsiang), Sanron (Bhs. China: San-lun, yang berbasiskan Madhyamaka India), Tendai (Bhs. China: T’ien-t’ai), Kegon (Bhs. China: Hua-yen), dan Shingon.

Sistem klasifikasi dari Kukai ini bisa diringkas menjadi singkat dalam skema berikut:


Tahap ke-1 hingga ke-3 – Tahapan pra-buddhis: “wahana” awam dari jerat samsara.

Tahap 1 – “Pikiran seekor kambing yang dengan bodohnya bertransmigrasi di dalam enam nasib (atau alam)” (ishô teiyô-shin):
Kondisi nafsu yang digerakkan oleh insting binatang tanpa batasan moral; kondisi yang juga menaungi orang-orang awam, mahluk di neraka, setan lapar, binatang, asura (“raksasa”), dan berbagai dewa atau mahluk surgawi yang terjerat di dalam takdir samsara mereka.

Tahap 2 – “Pikiran seorang anak yang dipoles tapi membabi buta terobsesi oleh berbagai aturan moralitas” (gudô jisai-shin):
Kondisi dimana berbagai tindakan etis dan mulia membawa keteraturan sosial namun tanpa tujuan “religius”; Konfusianisme dan sila-sila Buddhis (ritsu) untuk orang awam berada di tahap ini.

Tahap 3 – “Pikiran seorang anak yang tenang dan tak takut apapun” (yodô mui-shin):
Kondisi yang melakukan pemujaan dewata dan praktik religi-magis ekstrinsik (dari sumber luar) demi mengatasi kecemasan dengan berpikir untuk mendapatkan kemampuan supranatural atau keabadian, atau mencapai surga yang kekal dan penuh kebahagiaan; Taoisme dan berbagai bentuk agama Hindu dan Brahma berada di tahap ini.


Tahap ke-4 hingga ke-10 – Tahapan Buddhis (tahap ke-4 hingga ke-9 adalah agama Buddha eksoterik, dan ke-10 adalah esoterik):

Tahap 4 hingga 5 – Tahapan Hinayana: “wahana” bagi mereka yang bercita-cita mendapatkan pencerahan diri tanpa menghiraukan pencerahan insan-insan lainnnya.

Tahap 4 – “Pikiran seseorang yang hanya mengakui zat/komposisi dan menyangkal diri” (yuiun muga-shin):
Kondisi sravaka yang menganalisa fenomena menjadi berbagai “agregat” (skandha) dan/atau komposisi (Dharma) psiko-fisik, untuk kemudian menyangkal segala macam kepercayaan atas keberadaan sebuah ego yang permanen (atman); ajaran-ajaran Buddha historis dan murid-murid terdekatnya beserta dengan pendidikan Abhidharma berada di tahap ini. Meski kekukuhan realitas bisa dipecah menjadi zat-zat dharmanya, dharma-dharma itu sendiri akan menjadi belenggu, sehingga akan membutuhkan tiga kehidupan hingga 60 eon untuk mencapai pembebasan.

Tahap 5 – “Pikiran yang terbebaskan dari benih-benih karma” (batsu gôinju-shin):
Kondisi pratyeka-buddha yang tiada bertuan serta memahami wawasan Hukum Sebab-Musabab yang saling bergantungan (Pratityasamudpada) yang memampukannya untuk mengenali ketidakkekalan, tanpa ego, dan semua hal di mana pada dasarnya tak punya substansi, oleh karenanya mampu mencegah supaya karma tak tercipta. Namun saat menikmati tingkat “pencerahan” tertentu, ia terjatuh kembali pada “egoisme” kepuasan diri sendiri, apatis tanpa welas asih terhadap sesamanya, dan pandangan sempit akan keduniawian lain. Di sinilah ia belum mampu mencapai pencerahan yang sepenuhnya. Aliran Sautrantika masuk dalam tahap ini.

Tahap ke-6 hingga ke-9 – Tahapan Mahayana: Wahana para bodhisattva – mereka yang mencari pencerahan demi dirinya sendiri dan para insan lain juga, dengan mengatasi dualisme atas diri-dan-insan lain, serta mengenai kesalingbergantungan antara pencerahan diri sendiri dan pencerahan insan lain, dan antara kebijaksanaan dan kewelasasihan.

Tahap 6 – “Pikiran penganut Mahayana yang prihatin atas nasib insan lain” (taen daijô-shin):
Kondisi Yogacara dengan perspektif Vijnapti-matrata nya (Bhs. Jepang: yuishiki) yang mengatakan bahwa semua hal hanyalah “pikiran saja”, dicapai lewat menganalisa semua hal-kejadian sebagai fenomena kesadaran yang berasal dari “gudang” yang tak sadar atau “wadah kesadaran” (alaya-vijnana). Intinya adalah untuk melepaskan diri dari proses objektifikasi (pembendaan) diskriminatif terhadap berbagai macam fenomena sehingga mampu merealisasi ketenangan “pikiran saja” dari perspektif yang tidak mendiskriminasikan, yang akan memampukan praktik “maha welas asih.” Tahap ini masih membutuhkan praktik selama beberapa eon untuk mencapai dan bukan merupakan kondisi terakhir.

Tahap 7 – “Pikiran seseorang yang merealisasi tiada mula” (kakushin fushô-shin):
Kondisi Madhyamaka dengan perspektif sunyavada-nya (Bhs. Jepang: kugan) bahwa semua hal adalah kosong adanya. Di sini menganggap sesuatu yang abstrak, termasuk konsepsi, sebagai hal yang konkrit – baik objek dan pikiran – yang menjadi belenggu ini dihapus lewat delapan penyangkalan dari Nagarjuna, yang lewat Pratityasamudpada mereka bisa menunjukkan kekosongan mereka sendiri.

Tahap 8 – “Pikiran seseorang yang merealisasikan keselarasan dengan satu jalan kebenaran” (nyojitsu ichidô-shin atau ichidô muishin):
Kondisi T’ien-t’ai dengan perspektifnya akan “kemanunggalan semua hal”, di mana si praktisi merealisasi bahwa sebuah momen memuat keabadian, sebuah pikiran memuat semua dunia yang mungkin ada, dan sebutir biji wijen memuat sebuah gunung, yang berarti non-dualitas antara satu dan banyak; dan antara kekosongan, pratityasamudpada, dan “di tengah antara mereka.”

Tahap 9 – “Pikiran seseorang yang merealisasikaan ketiadaan substansi di dalam kebenaran tertinggi” (goku mujishô-shin):
Kondisi Hua-yen dengan perspektifnya akan ketiadaan halangan dan interpenetrasi mutual di antara keberadaan pola-pola (Bhs. China: li, Jepang: ri) semua hal dan perihal-peristiwa yang konkrit (Bhs. China: shih, Jepang: ji)  berbasiskan pada kekosongan mereka, di mana tunggal maupun jamak bersifat non-dual. Non-dualitas semacam ini diperluas hingga ke semua hamparan dharmadhatu.

Tahap 10 – Bagi Kukai, baik Tendai maupun Kegon masih kekurangan elemen penting mengenai pemahaman akan pengalaman langsung untuk bisa benar-benar merealisasi apa yang mereka ajarkan.

Si praktisi harus melaju lebih lanjut dengan sadhana ritual jasmaniah yang disediakan oleh kondisi selanjutnya dan terakhir – Mantrayana: “Pikiran Kemuliaan yang Penuh Misteri” (himitsu shôgon-shin).

Inilah kondisi Shingon, di mana ajaran-ajaran esoterik dan praktik pengalaman jasmaniahnya merupakan komposisi yang mengantar ke puncak perkembangan pikiran.

Di puncak tersebut, hosshin seppô akan terungkap dan si praktisi mencapai sokushinjôbutsu melalui hubungan timbal balik mikro-makro kosmos dari 3 misteri dan melalui kaji.


Dengan tak menolak atau menyangkal kondisi-kondisi sebelumnya, kondisi final ini memenuhi dan mencakupi semua perspektif dari apa yang diklaim sebagai perspektif yang paling komprehensif, dalam sudut pandang – atau lebih tepatnya dalam non-dualitasnya dengan – Dharma.

Mengingat Dharma itu sendiri, berbagai kebenaran yang diajarkan di semua kondisi sebelumnya hanyalah bersifat relatif dan sementara. Mereka hanyalah merupakan upaya kemudahan yang bersifat membantu karena bisa menolong mengantar si praktisi menuju ke kebenaran final ini, namun bisa juga menjadi belenggu bila ia malah melekat kepada mereka.


Setiap kondisi disebut sebagai “istana” (kyû atau gû), yang semuanya bergabung menjadi sebuah istana semesta yang agung (hokkaigû atau hokkai shinden).

Istana agung ini berisikan seluruh alam semesta sebagai sebuah mandala, dengan kondisi ke-10 atau  yang tertinggi – istana rahasia yang terdalam dari Dainichi, berada di pusat dan puncaknya dari mana Dharma timbul menjadi berbagai wujud di kondisi-kondisi yang lebih rendah, istana-istana luar.


Semakin dekat si praktisi ke pusat, maka akan semakin kuat dia merasakan tarikan kaji ke arah puncak di tengah. Namun seperti yang dituliskan di atas, pengurutan hirarki tidaklah sedemikan perlu saat semuanya dilihat dari perspektif yang paling komprehensif ini.

Karena istana semesta nan agung menembusi dan mencakupi semua istana lainnya atau semua tempat berdiamnya pikiran.
Demikianlah si praktisi mampu membuat loncatan seketika dari titik mana saja di mandala alam semesta ini ke titik pusat dengan keberhasilan melatih sadhana esoterik agama Buddha aliran Shingon.

Struktur mandala inilah yang dimaksud dalam istilah mandala pada judul karya tulis dengan versi yang lebih panjang – Risalah Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran.

Ia mengacu pada cetak biru perwujudan alam semesta dari Dharma (hosshin), yang selanjutnya membentuk praktik ritual sesuai dengan pengaturannya dan bagaimana si praktisi mengalami Dharma sesuai dengan hal tersebut juga.

---

Teman-temanku sekalian yang terkasih,

Membaca tulisan di atas, aku yakin kalau mereka yang telah dan masih mendengarkan ajaran Dharma dari Guru dengan penuh perhatian, akan menyadari bahwa mereka telah berkali-kali dibagikan dalam tulisan dan ceramah Guru. :)

Kini kamu bisa membaca lagi artikel-artikel Guru yang menjelaskan tentang Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran atau Thesis Mengenai Sepuluh Kediaman Pikiran.
Bisa ditemukan di Buku ke-1 Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, dari halaman 218 – 253.

Ada Sepuluh Kediaman Dharma dari Sutra Avatamsaka juga yang aku telah bagikan di blog ini.

Selamat menikmati!!!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef



Related Posts:


Saturday, April 12, 2014

SZ on MEANING OF "TEN STAGES OF MIND DEVELOPMENT"





Kukai's (Kobo Daishi) major work "The Ten States of Mind/Consciousness) ---


THE MEANING OF "TEN STAGES OF MIND DEVELOPMENT"
Dharma Talk by Living Buddha Lian Sheng on 6/10/90
(page 252-253 Achievement of Rainbow Light Body volume one)
Translated by Yuan Zheng Tang

I have finished talking about the ten stages of mind development as categorized by the Japanese monk Koho yesterday. Although Koho had classified our minds into ten stages such as the first stage of "Animal mind" to the tenth stage of "Secret and solemn mind", it is the same mind that went through the transformation.

It is the belief of Tantrayana that everything on earth has a mind of its own. Thus a mountain has a mind, so has a stream, river, sea, sun , moon, star, glass, tree, padi and seedling. The most important question to us is how do we go about really understanding them ?

In my opinion, Koho tried to tell us that we must not slander ourselves, let alone underestimate ourselves. It is said in the Manjusri Bodhisattva five-syllable hymn that : "If we call ourselves commoners - mortals, we are slandering the Buddhas of past , present and future lives." This is because the Tantric doctrine clearly affirms that : "You are a Buddha."

Certain analogies had been used to describe the cultivators. Those who cultivate Mahayana are considered "riding on the cow vehicle" ; those who practise Hinayana- "riding on the goat vehicle" and those who concentrate on Vajrayana - "riding on the mystic power vehicle." In other words, if we want to be enlightened as a Buddha as soon as possible , we must ride on the last type of vehicle.

Only Tantrayana advocates "instant Buddhahood." - After attaining mystic powers, we are able to have a breakthrough and be enlightened. All the ten stages of mental development are one and the same as the mind of a Buddha.

Therefore, we cannot give up , consider ourselves hopeless , be resigned to the fact and claim that we have animal minds. By so doing , we are slandering the Buddhas of past, present and future lives.

As we are all future Buddhas, we will have spiritual achievement in the future. If we constantly visualize ourselves as Buddhas, we are upholding the Tantric principle of "instant Buddhahood", and this itself is a tell-tale sign of our future Buddhahood. To-date, no other schools can promise you a faster way to spiritual fruition yet.

As animal minds and human minds are the same as that of the Buddhas', we must always will that our speech, body and mind function naturally, so that we will be fully enlightened and become Buddhas in no time.

Om Mani Padme Hum.


Related Posts:

Ten States in the Development of the Mind 十住心论


Terjemahan Indonesia: Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran



弘法大师 [十住心论]

Kobo Daishi [Ten States in the Development of the Mind]


Quoting from: 3.12 Ten States in the Development of the Mind


By 830 Kûkai has shifted his interest from an earlier focus upon the controversy between Madhaymaka and Yogâcâra concerning the emptiness or existence of the dharmas and his critique of their view on language as not conveying truth (the Dharma), to evaluating Buddhist doctrines as a whole, including the other major Buddhist schools. This shift is most likely connected to the dispute on-going during that period between the founder of the Tendai school, Saichô, and the older Nara Buddhist schools. In providing a comprehensive scheme that would explain the place of each religious teaching as well as the place of esoteric Buddhism in relation to the other Buddhist doctrines, Kûkai aimed to demonstrate the significance of his version of Buddhism.

In this scheme, Kûkai is adamant in using the above-discussed concepts to distinguish esoteric from exoteric Buddhism. 
And yet, given a bird's eye view, the truth, the Dharma, in Kûkai's scheme is encompassing enough to include exoteric Buddhism and all other teachings as its unfoldings or manifestations, in relative degrees in accordance with the appropriate circumstance or context and the level of attainment. 

In order to explain the different levels or states (jû, literally “dwellings” or “lodgings”) of mind (jûjûshin) that correspond to the various doctrines of other schools and religious sects, Kûkai developed an hierarchical scheme. 

Shingon Buddhism is placed at the top of the hierarchy as providing the most comprehensive view to the Dharma. 

Kûkai provides this systematization in what many consider to be his magnum opus, Himitsu mandara jûjûshinron (Treatise on the Secret Mandala of the Ten States of Mind) in ten volumes, composed around 830, five years before his death. 

It was written in response to an order of Emperor Junna that each Buddhist sect present an introductory treatise of its teachings. 

When the text proved to be too difficult for the emperor, Kûkai produced an abridged and more accessible treatise on the same theme, Hizô hôyaku (Precious Key to the Secret Treasury) in three volumes. 

At the core of both works is this classification of the various doctrines whereby each is critically evaluated under the light of the culminating and most comprehensive view of Shingon. 

A similar sort of system of classifying doctrines, called p’an-chiao (panjiao) or chiao-pan (jiaoban) (Jpn:kyôsô hanjaku or kyô-han) already existed in China, e.g. within the T’ien-t’ai and the Hua-yen traditions. 

Such a system of classification proved helpful in their attempts to distinguish themselves from, and at the same time, incorporate previous doctrines as expedient means that are relatively true. 


The Lotus Sûtra had also already expressed the similar idea that various doctrines were meant as expedient means that lead eventually to a fuller truth (expressed within its own text). 

It is Kûkai's own invention however to associate the different doctrines evaluated and classified with specific states of mind or stages of spiritual attainment. 

That is, each state in the development of the mind is correlated with a specific set of doctrines appropriate to it, as its perspective and lived experience of reality, true to a certain extent within its limited purview but not yet the whole truth until the final state is reached

In other words, to move up this hierarchy of levels of mind, is to experience the unfolding of the Dharma as one becomes further awakened until one fully realizes one's enlightenment in non-duality with the Dharma itself, i.e. the attainment of Buddha-hood. 

From a mandalic perspective, this unfolding of the Dharma is also indicative of one's evolution from the periphery towards the center of the mandalic universe. 

However as each level of mind is a “dwelling” or “lodging” place for the mind, the hierarchy from the lowest to the highest “stages” is sequential only in the exoteric dimension. 

That is to say that the sequential ordering is not necessary in itself when viewed from the esoteric, i.e., holistic, standpoint. 
In other words, it is possible to move directly from any state or “dwelling” to the most comprehensive realm.

The teachings evaluated here not only include Buddhist schools but also variations of Brahmanism, Hinduism, and Indian religious practices as well as Chinese non-Buddhist doctrines. 

And the Buddhist teachings include the major Indian and Chinese doctrines that have made their way to Japan: Ritsu (Chn. Lu-tsung, Vinaya studies), Kusha (based on Abhidharma), Jôjitsu (Skrt. Satyasiddhi, based on Sautrântika), Hossô (Skrt. Yogâcâra, Chn. Fa-hsiang), Sanron (Chn. San-lun based on Indian Madhyamaka), Tendai (Ch. T’ien-t’ai), Kegon (Chn. Hua-yen), and Shingon. Kûkai's classification system may be briefly summarized in the following schema:

1st to 3rd states: Pre-Buddhist stages: worldly “vehicles” of samsaric entrapment:

1st state: “The mind of the goat foolishly transmigrating in the six destinies (or realms)” (ishô teiyô-shin): The state of desire driven by animal instincts without moral restraint; the stage to which belong common people, hell-beings, hungry-ghosts, beasts, asuras (“titans”), and various deities or celestial beings trapped in their samsaric destinies.


2nd state: “The mind of the child tempered but ignorantly obsessed with moral precepts” (gudô jisai-shin): The state of ethical actions and virtue that promote social order but without any “religious” goal; the stage to which belong Confucianism and the Buddhist precepts (ritsu) for the laity.


3rd state: “The mind of the child composed and fearing nothing” (yodô mui-shin): The state of deity worship and extrinsic magico-religious practice for the sake of overcoming anxiety with the thought of attaining supernatural powers or immortality, or reaching an eternal and blissful heaven; the stage to which belong Taoism and various forms of Hinduism or Brahmanism.

4th to 10th states: Buddhist stages (the fourth to ninth being exoteric Buddhism and the tenth being esoteric Buddhism):

4th to 5th states: Hinâyâna stages: “vehicles” of those who aspire towards self-enlightenment without caring for the enlightenment of others.

4th state: “The mind of one affirming only the elements and negating the self” (yuiun muga-shin): The state of the śrâvaka who analyzes phenomena into the psycho-physical “aggregates” (skandhas) and/or the elements (dharmas), to thus negate any belief in a permanent ego (atman); the stage to which belong the teachings of the historical Buddha and his direct disciples and of the Abhidharma scholastics. While the substantiality of reality is thus deconstructed into its elemental dharmas, the dharmas themselves however become fetters, thus taking from three lives to sixty aeons to achieve liberation.

5th state: “The mind freed from karmic seeds” (batsu gôinju-shin): The state of the pratyeka-buddha, who, masterless on his own, attains insight into the chain of dependent origination to recognize the impermanence, self-less-ness, and non-substantiality of all, thus preventing new karma to arise. But in enjoying a certain level of “enlightenment,” he falls back into the “egoism” of self-complacency, compassionless apathy towards fellow beings, and the narrow vision of other-worldliness. Hence he has not yet reached complete enlightenment. The Sautrântika school belongs to this stage.

6th to 9th states: Mahâyâna stages: “vehicles” of the bodhisattvas, those who seek enlightenment both for self and for others, by overcoming self-other duality and recognizing the interdependency between self-enlightenment and other-enlightenment and between wisdom and compassion.

6th state: “The mind of the Mahâyâna adherent who is concerned with others” (taen daijô-shin): The state of Yogâcâra with its Vijñapti-mâtratâ (Jpn: yuishiki) standpoint that everything is “mind-only,” reached by its analysis of thing-events as phenomena of consciousness originating from a deep un-conscious “storehouse” or “receptacle consciousness” (âlaya-vijñâna). Its point is to detach oneself from the discriminating objectification of phenomena in order to realize the tranquility of “mind-only” from a non-discriminating perspective, which would allow the practice of “great compassion.” And yet this still takes several aeons of practice to achieve and is not the final state.

7th state: “The mind of one who realizes non-origination” (kakushin fushô-shin): The state of Madhyamaka with its śûnyavâda (Jpn: kûgan) standpoint that everything is empty. Here reifying and substantializing conceptions — including both objects and mind — that act as fetters are eliminated through Nâgârjuna's eight-fold negations which via their dependent origination show their emptiness.

8th state: “The mind of one who realizes harmony with the one path of truth” (nyojitsu ichidô-shin or ichidô muishin): The state of T’ien-t’ai with its standpoint of “oneness of all,” wherein one realizes that one moment contains eternity, a single thought contains all possible worlds, and a sesame seed contains a mountain, i.e. the non-duality between one and many; and between emptiness, dependent origination, and their “middle.”

9th state: “The mind of one who realizes the absence of substance within ultimate truth” (goku mujishô-shin): The state of Hua-yen with its standpoint of the mutual non-obstruction and interpenetration between the patternment (Chn: li; Jpn: ri) of all and the concrete thing-events (Chn: shih; Jpn: ji) on the basis of their emptiness, whereby one and many are non-dualistic. This non-duality is extended to the level of the entire dharmadhâtu.

10th state: Both Tendai and Kegon for Kûkai however lack the crucial element of direct experiential understanding to truly realize what they preach. 

One must thus proceed further by means of bodily ritual practice provided by the next and final state: Mantrayâna: “The mind of secret sublimity” (himitsu shôgon-shin). 

This is the state of Shingon, whose esoteric teachings and bodily experiential practice constitute the summit of the development of the mind. 

At this summit hosshin seppô is revealed and one attains sokushinjôbutsu through the micro-macro-cosmic correlativity of the three mysteries and through kaji.

Rather than rejecting or negating the previous states, this final state fulfills and encompasses their standpoints from what is claimed to be the most comprehensive standpoint, in view of — or rather in non-duality with — the Dharma. 


In light of the Dharma, the truths taught in those previous states are but relative or provisional truths, expedient means that are helpful only insofar as they lead one towards this final truth but which can also serve as fetters if one becomes attached to them. 


Each state is referred to as a “palace” (kyû or gû), which are all combined in the one grand cosmic palace (hokkaigû or hokkai shinden). 

This grand palace constitutes the entire cosmos as a mandala, with the tenth and highest state, the innermost secret palace of Dainichi, at the center and summit from which the Dharma emanates into its various manifestations in the lower states, the outer palaces. 


The closer one is to the center, the stronger one feels the pull of kaji drawing one up towards the central summit. But as stated above, the sequential ordering of the hierarchy is not necessary when the whole is viewed from this most comprehensive standpoint. 

For the grand cosmic palace penetrates and comprehends all of the specific palaces or dwellings of the mind. 
Hence one can make a sudden leap from any point in this cosmic mandala towards the center by successfully engaging in the esoteric practice of Shingon Buddhism. 

It is this mandalic structure that the term mandala in the title of the longer version of this work (Treatise on the Secret Mandala of the Ten States of Mind) signifies. 

It refers to the blueprint of the cosmic embodiment of the Dharma (hosshin), which in turn structures one's (ritual) practice in its arrangement and how one accordingly experiences the Dharma.

---

Dear all, 

Reading through the above, I am sure those that have & still are listening attentively to SZ's Sharing of Dharma, will realized all these are already shared many times over in SZ's writings and speeches. :)

Now you can go read over SZ's articles explaining the Ten States of Mind Development or Ten Abiding Heart Thesis.
Found in Rainbow Body Attainment book 1. From Page 218 to page 253. 

There is a Ten Abiding Dharma from Avatamsaka Sutra too that I have shared in this blog.

Enjoy!!!



Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom