Showing posts with label esoterik. Show all posts
Showing posts with label esoterik. Show all posts

Thursday, October 16, 2014

Jadilah Dirimu Sendiri!


Dikutip dari dari artikel Mahaguru Lu: 蓮生活佛著作盧勝彥文集184_給你點上心燈做你自己吧!
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 6 Oktober 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 做你自己吧!Be Yourself!


蓮生活佛/文

我學佛,曾欲求一名「大師」當依怙,這是一般人的心理,一點也不為過。
Aku ini belajar agama Buddha, bermaksud mencari seorang [Guru Senior] untuk berlindung (bersarana) kepadanya. Ini merupakan pola pikir kebanyakan orang, dan menurutku tak ada yang salah di sini.

在顯教,我皈依:
Dari aliran Sutrayana / Agama Buddha Eksoterik, aku bersarana kepada:

印順導師(李炳南居士推介)
Guru Pembimbing Yin Shun (atas rekomendasi Kulapati Li Bing Nan).

樂果法師(趙基居士推介)。
Reverend Le Guo (atas rekomendasi Kulapati Zhao Ji).

道安法師(王一之居士推介)。
Reverend Dao An (atas rekomendasi Kulapati Wang Yi Zhi).

在南投碧山岩寺受菩薩戒,是禪銘法師推介,如學禪師極力贊同。
Di Nantou ada rumah ibadah Bi Shan Yan, aku menerima sumpah bodhisattva atas rekomendasi Reverend Chan Min. Guru Zen Ru Xue juga sangat merekomendasikan.

受戒三師即覺光法師、慧三法師、賢頓法師。
Ketiga guru yang memberikan sumpah bodhisattva adalah Reverends Jue Guang, Hui San, Xian Tun.

我曾想依覺光法師。(可惜在香港,受挑撥)
Aku juga bermaksud untuk bersarana kepada Reverend Jue Guang. (Sayang sekali malah dikucilkan saat di Hong Kong).

我曾想依印順導師。(可惜一樣有人挑撥,我台灣住家,就正好在印順導師隔壁,只隔一牆)
Lalu bermaksud untuk bersarana kepada Sang Guru Pembimbing Yin Shun. (Sungguh sayang juga dikucilkan, padahal tempat tinggalku di Taiwan hanya bersebelahan, dipisahkan oleh sebuah dinding saja dengan Sang Guru Pembimbing Yin Shun).

我到了美國,曾想依怙:
Sesampainya di Amerika, aku sempat terpikir untuk bersarana dengan:

宣化上人。選未皈依,就先被倒打一把,令我入美國海關,先被叫進小白屋,免費按摩兩年。
Venerable Xuan Hua. Belum bersarana saja sudah di-“kasih manis”. Sang Guru menuduhku sebagai seorang kriminal sehingga aku diinterogasi habis-habisan di Imigrasi saat memasuki Amerika. Dua tahun dapat “Pijat Gratis”.

星雲大師。還未皈依,也先被整,我的連載「佛王之王」,被拉了下來。
Reverend Xing Yun. Belum sempat bersarana, juga malah dipermainkan, seri bukuku [Raja Buddha dari segala Raja] diseret turun.

至此,在顯教學佛,夢碎!
Sampai sekarang ini, mimpi untuk belajar agama Buddha aliran Eksoretik hancur berkeping-keping!

在密教,我皈依:
Dalam aliran Tantrayana (Esoterik), aku bersarana kepada:

普方上師,修準提佛母。
Vajra Guru Pu Fang, melatih sadhana Bodhisattva Cundi.

十六世大寶法王噶瑪巴,得五佛嚴頂灌。
Yang Kudus Karmapa ke-16, menerima abhiseka mahkota 5 Buddha dengan instruksi yang ketat.

薩迦證空上師,得諸尊灌頂,上師灌頂。
Sakya Dezhung Rinpoche – Kunga Denpe Nyima, menerima abhiseka berbagai yidam, dan juga abhiseka Vajra Guru.

了鳴和尚,紅教諸密,密、密密。
Reverend Liao Ming, menerima berbagai abhiseka rahasia, dan sangat sangat rahasia dari ordo Nyingma.

四大法王之一,大錫杜巴灌頂。
Dari salah satu dari 4 Maharaja Dharma, menerima abhiseka Dasidupa (pinyin).

最後依:吐登達爾吉上師,得無數灌頂加持,無上密等。我受吐登達爾吉上師,教誨甚多,我對之,非常的恭敬,不敢或忘。
Terakhir adalah bersarana kepada Guru Thubten Taerchi, menerika abhiseka yang banyaknya tak terhingga, termasuk Anuttarayoga Tantra dan lainnya. Aku mendapatkan banyak ajaran dari Guru ini. Aku sangat menghormatinya dan tak berani melupakannya.

至此,在密教學佛,差強人意!
Hingga sekarang, mempelajari agama Buddha aliran Tantrayana boleh dibilang sungguh memuaskan!

這樣子繞了一大圈,我覺得「對自己要有信心」,「自信」很重要,修行之事,自然要先有依怙,學師父的法,但一樣要有「自信」,自信自己可以成佛,可以走自己的路。
Setelah mengitari satu putaran besar, aku menjadi [percaya pada diri sendiri]; [Percaya Diri] ini sangat penting dalam hal pelatihan diri. Secara alamiah, kita harus punya sandaran sarana, belajar dharma dari para guru, tapi juga harus [Percaya Diri]. Percaya bahwa diri sendiri akan mencapai kebuddhaan, mampu berjalan dengan caramu sendiri.

我們依怙佛、法、僧,恭敬佛、法、僧、上師,三皈四皈,最後的主旨是「做你自己吧!」這也是自皈依,自燈明。
Kita bersarana kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Sepenuhnya menghormati Buddha, Dharma, Sangha, Vajra Guru, 3 atau 4 sarana, tujuan akhirnya adalah [Menjadi Dirimu Sendiri]!
Inilah Bersarana Kepada Diri Sendiri. Afirmasi (Penegasan oleh) Diri Sendiri.

最後,我終於明白了,「師父引進門,修行在個人」,我們不可能永遠依賴著師父,將來成佛作祖,就是「做你自己吧!」
Akhirnya aku paham bahwa [Guru membimbing kita memasuki pintu ordo, namun pelatihan diri sepenuhnya tergantung pada diri sendiri], tak bisa selamanya mengandalkan Guru. Saat kamu menjadi Buddha maka kamu menjadi Sang Penguasa, yang artinya [Menjadi Dirimu Sendiri!]

在我皈依來、皈依去,依怙來、依怙去的時期,也有人對我說:
Setelah bersarana di sini dan di sana, saat mencari sandaran di mana-mana, ada orang yang bilang kepadaku:

「盧勝彥,你依這個師父不對,要依我!」
Lu Sheng Yan, kamu salah kalau mengandalkan guru ini. Andalkanlah aku saja!

「盧勝彥,你依這個師父,只是幼稚園,要依我!」
Lu Sheng Yan, kamu mengandalkan guru ini, ia hanyalah sekelas TK (Taman kanan-kanak). Andalkanlah aku saja!

「盧勝彥,你師父尚未明心見性,如何教你明心見性,快來皈依我!」
Lu Sheng Yan, gurumu belum mencapai realisasi sempurna, bagaimana caranya bisa mengajarimu Realisasi Sempurna? Ayo segera bersarana kepadaku!

「盧勝彥,你師父不教你,我來教你,你要皈依我!」
Lu Sheng Yan, gurumu tak mengajarimu. Aku akan mengajarimu, jadi bersaranalah kepadaku!

「盧勝彥,你師父佛理不明,我佛理才明,你要皈依我!」
Lu Sheng Yan, gurumu tak paham filosofi Buddha. Tapi aku paham, maka bersaranalah kepadaku!

嘿!有很多人,要拉我入他們的教派呢!
Hei! Begitu banyak orang yang ingin menarikku supaya masuk ke dalam ordo mereka!

然而,經歷了這麼多的師父,得了這麼多的法,我對自己有信心,我自信「真佛密法」可以達彼岸,我證量愈多,愈有自信,完完全全一點也不動搖,一點也不迷惑。
Namun, setelah mendapatkan pengalaman dengan begitu banyak guru, menerima begitu banyak dharma, aku yakin pada diriku sendiri. Aku yakin bahwa [Dharma Tantra Satya Buddha] mampu mengantarmu ke pantai seberang. Semakin banyak pengesahan yang kudapatkan, semakin aku tambah percaya diri. Sama sekali tak gentar, tiada lagi sedikitpun kebingungan ataupun berkhayal.

我做我自己,不必為誰而活,不必為誰去演別人喜歡的角色,我就演我自己。
Aku menjadi diriku sendiri, bukan menjalani hidup mengikuti maunya orang-orang. Aku bertindak sebagai diriku sendiri.

我是一個獨立的我,自我肯定自己,這種事只有佛與佛知道。
Aku adalah diriku yang independen (tak bergantung pada orang lain). Aku mengafirmasi diriku sendiri, dan hal seperti ini hanya sesama Buddha saja yang bisa tahu.

我印證佛,佛印證我。
Aku mengafirmasi Buddha, begitu juga Buddha mengafirmasi diriku.

我很快樂,因為我自主了。別人說我什麼,我根本不在乎,我根本不在意別人怎麼看我,我活我自己的。
Aku sangat bahagia, karena aku telah menjadi orang yang independen. Semua hal yang orang-orang lain katakan tentang diriku, aku benar-benar tak terganggu sedikitpun. Sama sekali tak terganggu melihat bagaimana orang-orang memandangku. Aku menjalani hidupku sendiri.

我昂首挺胸,自己覺得又莊嚴又殊勝,這才是「華光自在佛」的本色!
Aku bisa membusungkan dada (tegap dan penuh keyakinan), aku merasa mulia dan luar biasa unggul. Oleh karenanya inilah karakter sejati [Padma Prabha Svara Buddha ~ Buddha Sinar Teratai yang Leluasa]!

---

居士是一种对人的称谓,梵语为迦罗越 kulapati,可以指居财之士、居家之士、在家学佛者。

Kulapati adalah istilah Sansekerta untuk ketua sebuah aliran.
Dalam Bahasa Inggris sehari-hari kadang menggunakan istilah Chancellor (kanselir) atau Rector (rektor). “Ia yang keagungannya di antara orang-orang telah diakui, atau otoritasnya yang tak terbantahkan dan tak diragukan”.
Pada masa lampau di India, ketua dari sebuah Gurukul juga disebut sebagai Kulapati.
Sebagai contoh, Maharsi Garga adalah kulapati dari sebuah Gurukul (universitas).
Di masa kini, jabatan Kulapati kadang menjadi sebuah pilihan politis.

Kesepakatan umum menyatakan bahwa Kulapati merupakan seorang selebriti ternama yang dihormati khalayak dan memberikan kepemimpinan akademik kepada jaringan atau lembaga pendidikan yang berskala besar.

---

Baca juga: Tradisi Sutra dan Tantra

---

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Betapa pentingnya untuk Menjadi Dirimu Sendiri!
Dari sana barulah kamu bisa benar-benar melatih untuk [自主生死 - mengendalikan nasibmu sendiri]!

Ini juga menjadi salah satu target utama dari pelatihan diri!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:


Sunday, April 20, 2014

Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran



Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Ten States in the Development of the Mind 十住心论



Kobo Daishi [Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran]


Mengutip dari: 3.12 Ten States in the Development of the Mind


Di tahun 830, minat Kukai telah berpindah dari yang awalnya berfokus pada kontroversi antara Madhyamaka dan Yogacara yang berhubungan dengan kekosongan atau keberadaan dharma, beserta kritiknya atas pandangan mereka akan bahasa karena tak menyampaikan kebenaran (Dharma), ke arah mengevaluasi doktrin-doktrin Buddhis secara keseluruhan, termasuk ordo-ordo besar Buddhis lainnya.
Perpindahan ini kemungkinan besar berhubungan dengan perselisihan yang terus berlangsung di periode tersebut antara Saicho – pendiri ordo Tendai dengan ordo-ordo Buddhis Nara.
Dalam rangka memberikan skema komprehensif yang mampu menjelaskan kedudukan setiap ajaran agama dan kedudukan agama Buddha esoterik dalam hubungannya dengan doktrin-doktrin agama Buddha lainnya, Kukai mencoba menunjukkan pentingnya agama Buddha menurut versinya.

Di dalam skema tersebut, Kukai bersikeras menggunakan konsep-konsep yang dibahas di atas untuk membedakan agama Buddha esoterik dari eksoterik.
Meski demikian, saat dilihat secara garis besar, Dharma sebagai jalan kebenaran di dalam skema Kukai telah cukup merangkul agama Buddha eksoterik dan ajaran-ajaran lainnya sebagai berbagai macam wujud manifestasinya, dalam tingkat relatif dengan menuruti kondisi atau konteks yang sesuai dan tingkat pencapaian.

Dalam rangka menjelaskan perbedaan tingkat atau kondisi (ju, yang secara literal berarti “hunian” atau “penginapan”) pikiran (jujushin) yang sesuai dengan berbagai macam doktrin ordo-ordo dan sektor keagamaan lainnya, Kukai mengembangkan sebuah skema hirarkis.
Agama Buddha ordo Shingon diposisikan di paling atas karena memberikan sudut pandang dharma yang paling komprehensif.

Banyak orang menganggap sistem yang dibuat oleh Kukai ini sebagai magnum opus (mahakarya)-nya, Himitsu mandara jujushinron (Risalah mengenai Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran) dalam 10 jilid, yang ditulis sekitar tahun 830, lima tahun sebelum beliau wafat.

Karya tersebut ditulis sebagai tanggapan atas perintah dari Kaisar Junna yang meminta setiap aliran Agama Buddha harus mempresentasikan risalah pengenalan atas ajaran-ajarannya.

Saat naskah tersebut terbukti terlalu sulit untuk dicerna Sang Kaisar, Kukai kemudian membuat ringkasan risalah dengan tema yang sama yang lebih mudah dipahami, Hizo hoyaku (Kunci Berharga yang Membuka Harta Karun Rahasia) dalam tiga jilid.

Inti dari kedua karya tersebut adalah klasifikasi dari berbagai doktrin yang masing-masing dievaluasi dengan kritis dari sudut pandang Shingon yang tertinggi dan komprehensif.

Jenis sistem yang mirip untuk mengklasifikasikan doktrin-doktrin adalah p’an-chiao (panjiao) atau chiao-pan (jiaoban) (Bhs. Jepang: kyôsô hanjaku atau kyô-han) yang sudah ada di China dalam tradisi T’ien-t’ai dan Hua-yen.

Sistem pembagian seperti itu terbukti sangat membantu dalam usaha mereka untuk membedakan diri mereka dari, dan pada saat yang bersamaan, menggabungkan doktrin-doktrin yang ada sebelumnya sebagai upaya bijaksana yang relatif benar.

Sutra Teratai juga mengekspresikan ide yang hampir sama, dengan mengatakan bahwa berbagai macam doktrin merupakan upaya kemudahan yang pada akhirnya membawa pada kebenaran yang lebih lengkap (seperti yang diungkapkan di dalam naskah itu sendiri).

Adalah penemuan Kukai sendiri yang mengasosiasikan berbagai macam doktrin yang dievaluasi dan diklasifikasikan dengan kondisi-kondisi pikiran atau tingkat-tingkat pencapaian kebatinan tertentu.

Setiap kondisi di dalam perkembangan pikiran yang akan berhubungan dengan kumpulan doktrin-doktrin tertentu yang sesuai dengan kondisi tersebut, sebagai perspektif dan pengalaman realitas yang dijalaninya, akan menjadi nyata sampai tingkat tertentu dalam lingkupnya sendiri yang terbatas namun belum merupakan kebenaran sepenuhnya hingga tingkat terakhir telah dicapai.

Dalam kata lain, untuk naik ke hirarki pikiran yang lebih tinggi, adalah untuk mengalami terbukanya kelopak-kelopak Dharma karena orang yang bersangkutan menjadi tersadarkan lebih dalam hingga ia sepenuhnya menyadari pencerahannya sendiri dalam non-dualitas dengan Dharma itu sendiri, yaitu pencapaian Kebuddhaan.


Dilihat dari sudut pandang mandala, terbukanya kelopak Dharma ini juga merupakan indikasi evolusi orang yang bersangkutan dari lingkar terluar menuju ke pusat mandala alam semesta.

Namun berhubung tiap tingkat pikiran merupakan sebuah “hunian” bagi pikiran itu sendiri, hirarki dari “tingkat” terendah hingga tertinggi akan terlihat sekuensial (berurutan) dari dimensi eksoterik.

Sebenarnya pengurutan semacam itu tidaklah perlu bila dilihat dari sudut pandang esoterik atau holistik.
Atau dalam kata lain, ada kemungkinan untuk langsung melompat dari kondisi atau “tempat kediaman” mana saja ke alam yang paling komprehensif.


Berbagai ajaran yang dievaluasi di sini tak hanya mencakup berbagai aliran agama Buddha saja, tapi juga meliputi variasi agama Brahma, Hindu, praktik-praktik keagamaan India, serta doktrin-doktrin non-Buddhis Tiongkok.

Dan dari lingkup ajaran-ajaran Buddha meliputi doktrin-doktrin utama dari India dan Tiongkok yang masuk ke Jepang: Ritsu (Bhs. China: Lu-tsung, yang mempelajari Vinaya), Kusha (berbasiskan Abhidharma), Jojitsu (Bhs. Sansekerta: Satyasiddhi, berbasiskan Sautrantika), Hosso (Bhs. Sansekerta: Yogacara, China: Fa-hsiang), Sanron (Bhs. China: San-lun, yang berbasiskan Madhyamaka India), Tendai (Bhs. China: T’ien-t’ai), Kegon (Bhs. China: Hua-yen), dan Shingon.

Sistem klasifikasi dari Kukai ini bisa diringkas menjadi singkat dalam skema berikut:


Tahap ke-1 hingga ke-3 – Tahapan pra-buddhis: “wahana” awam dari jerat samsara.

Tahap 1 – “Pikiran seekor kambing yang dengan bodohnya bertransmigrasi di dalam enam nasib (atau alam)” (ishô teiyô-shin):
Kondisi nafsu yang digerakkan oleh insting binatang tanpa batasan moral; kondisi yang juga menaungi orang-orang awam, mahluk di neraka, setan lapar, binatang, asura (“raksasa”), dan berbagai dewa atau mahluk surgawi yang terjerat di dalam takdir samsara mereka.

Tahap 2 – “Pikiran seorang anak yang dipoles tapi membabi buta terobsesi oleh berbagai aturan moralitas” (gudô jisai-shin):
Kondisi dimana berbagai tindakan etis dan mulia membawa keteraturan sosial namun tanpa tujuan “religius”; Konfusianisme dan sila-sila Buddhis (ritsu) untuk orang awam berada di tahap ini.

Tahap 3 – “Pikiran seorang anak yang tenang dan tak takut apapun” (yodô mui-shin):
Kondisi yang melakukan pemujaan dewata dan praktik religi-magis ekstrinsik (dari sumber luar) demi mengatasi kecemasan dengan berpikir untuk mendapatkan kemampuan supranatural atau keabadian, atau mencapai surga yang kekal dan penuh kebahagiaan; Taoisme dan berbagai bentuk agama Hindu dan Brahma berada di tahap ini.


Tahap ke-4 hingga ke-10 – Tahapan Buddhis (tahap ke-4 hingga ke-9 adalah agama Buddha eksoterik, dan ke-10 adalah esoterik):

Tahap 4 hingga 5 – Tahapan Hinayana: “wahana” bagi mereka yang bercita-cita mendapatkan pencerahan diri tanpa menghiraukan pencerahan insan-insan lainnnya.

Tahap 4 – “Pikiran seseorang yang hanya mengakui zat/komposisi dan menyangkal diri” (yuiun muga-shin):
Kondisi sravaka yang menganalisa fenomena menjadi berbagai “agregat” (skandha) dan/atau komposisi (Dharma) psiko-fisik, untuk kemudian menyangkal segala macam kepercayaan atas keberadaan sebuah ego yang permanen (atman); ajaran-ajaran Buddha historis dan murid-murid terdekatnya beserta dengan pendidikan Abhidharma berada di tahap ini. Meski kekukuhan realitas bisa dipecah menjadi zat-zat dharmanya, dharma-dharma itu sendiri akan menjadi belenggu, sehingga akan membutuhkan tiga kehidupan hingga 60 eon untuk mencapai pembebasan.

Tahap 5 – “Pikiran yang terbebaskan dari benih-benih karma” (batsu gôinju-shin):
Kondisi pratyeka-buddha yang tiada bertuan serta memahami wawasan Hukum Sebab-Musabab yang saling bergantungan (Pratityasamudpada) yang memampukannya untuk mengenali ketidakkekalan, tanpa ego, dan semua hal di mana pada dasarnya tak punya substansi, oleh karenanya mampu mencegah supaya karma tak tercipta. Namun saat menikmati tingkat “pencerahan” tertentu, ia terjatuh kembali pada “egoisme” kepuasan diri sendiri, apatis tanpa welas asih terhadap sesamanya, dan pandangan sempit akan keduniawian lain. Di sinilah ia belum mampu mencapai pencerahan yang sepenuhnya. Aliran Sautrantika masuk dalam tahap ini.

Tahap ke-6 hingga ke-9 – Tahapan Mahayana: Wahana para bodhisattva – mereka yang mencari pencerahan demi dirinya sendiri dan para insan lain juga, dengan mengatasi dualisme atas diri-dan-insan lain, serta mengenai kesalingbergantungan antara pencerahan diri sendiri dan pencerahan insan lain, dan antara kebijaksanaan dan kewelasasihan.

Tahap 6 – “Pikiran penganut Mahayana yang prihatin atas nasib insan lain” (taen daijô-shin):
Kondisi Yogacara dengan perspektif Vijnapti-matrata nya (Bhs. Jepang: yuishiki) yang mengatakan bahwa semua hal hanyalah “pikiran saja”, dicapai lewat menganalisa semua hal-kejadian sebagai fenomena kesadaran yang berasal dari “gudang” yang tak sadar atau “wadah kesadaran” (alaya-vijnana). Intinya adalah untuk melepaskan diri dari proses objektifikasi (pembendaan) diskriminatif terhadap berbagai macam fenomena sehingga mampu merealisasi ketenangan “pikiran saja” dari perspektif yang tidak mendiskriminasikan, yang akan memampukan praktik “maha welas asih.” Tahap ini masih membutuhkan praktik selama beberapa eon untuk mencapai dan bukan merupakan kondisi terakhir.

Tahap 7 – “Pikiran seseorang yang merealisasi tiada mula” (kakushin fushô-shin):
Kondisi Madhyamaka dengan perspektif sunyavada-nya (Bhs. Jepang: kugan) bahwa semua hal adalah kosong adanya. Di sini menganggap sesuatu yang abstrak, termasuk konsepsi, sebagai hal yang konkrit – baik objek dan pikiran – yang menjadi belenggu ini dihapus lewat delapan penyangkalan dari Nagarjuna, yang lewat Pratityasamudpada mereka bisa menunjukkan kekosongan mereka sendiri.

Tahap 8 – “Pikiran seseorang yang merealisasikan keselarasan dengan satu jalan kebenaran” (nyojitsu ichidô-shin atau ichidô muishin):
Kondisi T’ien-t’ai dengan perspektifnya akan “kemanunggalan semua hal”, di mana si praktisi merealisasi bahwa sebuah momen memuat keabadian, sebuah pikiran memuat semua dunia yang mungkin ada, dan sebutir biji wijen memuat sebuah gunung, yang berarti non-dualitas antara satu dan banyak; dan antara kekosongan, pratityasamudpada, dan “di tengah antara mereka.”

Tahap 9 – “Pikiran seseorang yang merealisasikaan ketiadaan substansi di dalam kebenaran tertinggi” (goku mujishô-shin):
Kondisi Hua-yen dengan perspektifnya akan ketiadaan halangan dan interpenetrasi mutual di antara keberadaan pola-pola (Bhs. China: li, Jepang: ri) semua hal dan perihal-peristiwa yang konkrit (Bhs. China: shih, Jepang: ji)  berbasiskan pada kekosongan mereka, di mana tunggal maupun jamak bersifat non-dual. Non-dualitas semacam ini diperluas hingga ke semua hamparan dharmadhatu.

Tahap 10 – Bagi Kukai, baik Tendai maupun Kegon masih kekurangan elemen penting mengenai pemahaman akan pengalaman langsung untuk bisa benar-benar merealisasi apa yang mereka ajarkan.

Si praktisi harus melaju lebih lanjut dengan sadhana ritual jasmaniah yang disediakan oleh kondisi selanjutnya dan terakhir – Mantrayana: “Pikiran Kemuliaan yang Penuh Misteri” (himitsu shôgon-shin).

Inilah kondisi Shingon, di mana ajaran-ajaran esoterik dan praktik pengalaman jasmaniahnya merupakan komposisi yang mengantar ke puncak perkembangan pikiran.

Di puncak tersebut, hosshin seppô akan terungkap dan si praktisi mencapai sokushinjôbutsu melalui hubungan timbal balik mikro-makro kosmos dari 3 misteri dan melalui kaji.


Dengan tak menolak atau menyangkal kondisi-kondisi sebelumnya, kondisi final ini memenuhi dan mencakupi semua perspektif dari apa yang diklaim sebagai perspektif yang paling komprehensif, dalam sudut pandang – atau lebih tepatnya dalam non-dualitasnya dengan – Dharma.

Mengingat Dharma itu sendiri, berbagai kebenaran yang diajarkan di semua kondisi sebelumnya hanyalah bersifat relatif dan sementara. Mereka hanyalah merupakan upaya kemudahan yang bersifat membantu karena bisa menolong mengantar si praktisi menuju ke kebenaran final ini, namun bisa juga menjadi belenggu bila ia malah melekat kepada mereka.


Setiap kondisi disebut sebagai “istana” (kyû atau gû), yang semuanya bergabung menjadi sebuah istana semesta yang agung (hokkaigû atau hokkai shinden).

Istana agung ini berisikan seluruh alam semesta sebagai sebuah mandala, dengan kondisi ke-10 atau  yang tertinggi – istana rahasia yang terdalam dari Dainichi, berada di pusat dan puncaknya dari mana Dharma timbul menjadi berbagai wujud di kondisi-kondisi yang lebih rendah, istana-istana luar.


Semakin dekat si praktisi ke pusat, maka akan semakin kuat dia merasakan tarikan kaji ke arah puncak di tengah. Namun seperti yang dituliskan di atas, pengurutan hirarki tidaklah sedemikan perlu saat semuanya dilihat dari perspektif yang paling komprehensif ini.

Karena istana semesta nan agung menembusi dan mencakupi semua istana lainnya atau semua tempat berdiamnya pikiran.
Demikianlah si praktisi mampu membuat loncatan seketika dari titik mana saja di mandala alam semesta ini ke titik pusat dengan keberhasilan melatih sadhana esoterik agama Buddha aliran Shingon.

Struktur mandala inilah yang dimaksud dalam istilah mandala pada judul karya tulis dengan versi yang lebih panjang – Risalah Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran.

Ia mengacu pada cetak biru perwujudan alam semesta dari Dharma (hosshin), yang selanjutnya membentuk praktik ritual sesuai dengan pengaturannya dan bagaimana si praktisi mengalami Dharma sesuai dengan hal tersebut juga.

---

Teman-temanku sekalian yang terkasih,

Membaca tulisan di atas, aku yakin kalau mereka yang telah dan masih mendengarkan ajaran Dharma dari Guru dengan penuh perhatian, akan menyadari bahwa mereka telah berkali-kali dibagikan dalam tulisan dan ceramah Guru. :)

Kini kamu bisa membaca lagi artikel-artikel Guru yang menjelaskan tentang Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran atau Thesis Mengenai Sepuluh Kediaman Pikiran.
Bisa ditemukan di Buku ke-1 Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, dari halaman 218 – 253.

Ada Sepuluh Kediaman Dharma dari Sutra Avatamsaka juga yang aku telah bagikan di blog ini.

Selamat menikmati!!!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef



Related Posts: