Showing posts with label kobo daishi. Show all posts
Showing posts with label kobo daishi. Show all posts
Saturday, June 4, 2016
Perubahan yang Aneh
Ditulis oleh Lotuschef – 2 Juni 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 怪异变化 Weird Transformation
Di dalam Tantrayana, melatih sadhana ada kemungkinan malah menjadi “aneh” atau “sakit jiwa”.
Hahaha!
Aku tidak guyon loh!
Kamu ingatkah 10 Tahap Pengembangan Pikiran oleh Kobo Daishi? Aku pernah membagikannya di dalam blog ini.
Mahaguru Lu juga mengajarkan hal yang sama!
Kamu ingatkah Mahaguru Lu pernah menulis tentang Membaca Tengkorak?
Dan aku juga menulis tentang Membaca Tulang?
YA!
Tak hanya Membaca Aura saja, namun juga tulang!
Artikel ini merupakan pengingat di saat yang tepat untuk melakukan Evaluasi Diri yang Sejujur-jujurnya!
Mulailah dari Wajahmu!
Fotolah dirimu sekarang ini!
Dan bandingkan dengan foto kira-kira 5 hingga 10 tahun yang lalu.
Sekarang: tiliklah seluruh tubuhmu!
Lihatlah bentuk badanmu dari paling atas hingga ke ujung kaki.
Kamu lihat ada yang berbeda?
Apakah bobot badanmu bertambah mungkin di sekitar perut dan pinggulmu?
Kemudian: Apakah kiranya tulang punggungmu bengkok?
Seperti orang bongkok?
Lalu: Jari-jarimu!
Apakah mereka kaku dan bengok, serta tak bisa diluruskan?
Lanjutkan dengan: tangan-bahu, pinggul-tubuh bagian bawah, sendi-sendinya masih fleksibel?
Bisakah kamu memutar sendi-sendi tangan-bahumu dengan mudah dan tanpa rasa sakit?
Bisakah juga kamu melenturkan/merenggangkan tubuh bagian bawahmu dan menekuk lututmu dengan mudah tanpa merasa sakit ataupun kaku?
Hahaha!
Maka kini, dengan menggunakan data Mahaguru Lu sebagai Konstanta-nya, bandingkanlah!
Wajah: Apakah sekarang kamu tampak semakin muda daripada sebelumnya?
Apakah kamu bersinar dan memancarkan kehangatan dan kegembiraan?
Ataukah kamu malah menjadi kelihatan tua dan lelah sampai-sampai sebuah senyuman juga tak bisa membuat wajahmu nampak gembira?
KEDUA MATAMU kelihatan lelah oleh berbagai persoalan dunia ini? Dan kelihatan kalau beban masalahmu bertambah dan kamu mengunci dirimu sendiri ke dalam berbagai kebutuhan duniawi?!
Bentuk Tubuh: Aku telah melihat banyak master pria yang menjadi gemuk, bentuk badannya menjadi seperti wanita, bertingkah seperti wanita, dan bahkan bicara dan gerak-geriknya juga seperti wanita!
Oleh karenanya lakukanlah sisa evaluasi lainnya dengan menggunakan kata-kata Mahaguru Lu sebagai panduanmu!
Kalau kamu tak ingat apapun, ini adalah saatnya bagimu untuk benar-benar memahami apa itu seorang Guru Akar, dan MENGAPA kamu memilih untuk bersarana kepada-Nya!
Lamdre, yang baru mulai dibabarkan oleh Mahaguru Lu, memberimu kesempatan baru untuk memahami Pelatihan Buddha Dharma dari Titik Awal!
Jangan lewatkan kesempatan besar ini untuk belajar dan menyelamatkan dirimu sendiri!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
10 tahap perkembangan pikiran,
aura,
Bahasa Indonesia,
kobo daishi,
lamdre,
lotuschef,
perubahan aneh,
sadhana,
tantra,
tengkorak,
tubuh,
tulang,
wajah
Thursday, June 2, 2016
怪异变化 Weird Transformation
Terjemahan Indonesia: Perubahan yang Aneh
In Tantrayana, cultivation can go "weird" or "haywire"!
Hahaha!
Not kidding!
Remember the 10 Stages of Mind Development by Kobo Dashi, that I shared in this blog?
As well as GM Lu's sharing of the same!
Remember GM Lu's article about Reading Skulls?
And Mine about Bone-reading?
YES!
Not only Aura-reading, but bones too!
Now, this is a timely reminder to do an Honest Evaluation of Yourself!
Lets start with you Face!
Take a photo of yourself now!
Compare it with those from say past 5 to 10 years.
Now: the whole body!
Look at your own form from top to toe then.
What do you see that is different?
Have you put on weight say around your abdomen and your hips?
Next: Is you spine somehow bent?
Like you have a hunch back?
Now: Your fingers!
Are they stiff and bent and can't be straightened?
Next: Are your arm-shoulder, hip-lower limb, joints still flexible?
Can you rotate your arm-shoulder joints with ease and no pain?
Can you also flex your lower limbs and bend your knees easily without any pain or stiffness?
Hahaha!
Now, using GM Lu's data as a Constant, compare!
Face: do you look younger now then before?
Do you have a shine and project a welcoming warmth and cheer?
Have you aged so much and looks so exhausted that even a smile don't cheer up your own face?
YOUR EYES are so world-weary that you showed you have put on more worldly burdens and locked yourself down with too much sentient material needs!
Body Shape: I have seen many male masters become plump and womanly in shape and behave like females, and even talk and gesture like females!
Do the rest of the evaluation with GM Lu's words as your guide!
If you can't remember any, then its time you truly understand what A Root Guru means and WHY you choose one to take refuge with!
Lamdre that GM Lu has just started to share, gives you yet another opportunity to understand Cultivation of Buddha Dharma From the Start!
Don't miss this great opportunity to learn and succour yourself!
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Saturday, September 5, 2015
Alam Pikiran Binatang
Dikutip dari ceramah dharma Buddha Hidup Lian Sheng – 2 Oktober 1990
(Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, Jilid 1, hal. 218-221)
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Yuan Zheng Tang
Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: ANIMAL MIND 动物的心
Kemarin saat mambahas “bagaimana cara kita mengundang roh”, aku sempat menyebutkan roh-roh binatang. Mereka punya semacam kesaktian, meski tak cukup hebat di dalam banyak aspek. Namun di dalam sadhana dan ritual, kita masih bisa memanggil mereka untuk mengerahkan bantuan.
Hari ini akan membahas “10 tahap perkembangan pikiran.”
Seorang guru dharma yang pikirannya mirip dengan seekor binatang biasanya akan mampu mengundang kehadiran roh binatang. Apa itu “pikiran binatang”? Untuk hal ini, Bhiksu Jepang Koho (Kobo Daishi) memberikan istilah “Yi Ti Di Yang Xin” (kambing dari area yang berbeda). Ada dua kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan pikiran binatang: makanan dan seks. Binatang punya insting untuk makan saat mereka lapar, dan bersenggama untuk memuaskan nafsu seksual mereka.
Manusia yang hanya tertarik pada makanan dan seks akan terlahir kembali ke dalam alam binatang di kehidupan selanjutnya. Meski si guru dharma tersebut mampu mengundang kehadiran roh binatang untuk menolongnya menyelesaikan beberapa tugas seperti meramal dan mengenyahkan kesialan, gaya hidupnya bukanlah panutan karena hanya peduli seputar makanan dan seks saja.
Mereka yang melakukan 10 kejahatan: membunuh, mencuri, seks yang tak wajar, berbohong, bicara kasar, omongannya memecah belah, bicara ngawur dan tak masuk akal, tamak, berniat jahat, dan berpandangan salah, sudah pasti terjatuh ke alam binatang. Jadi tanyakan pada dirimu sendiri: “Kenapa orang-orang membunuh, mencuri, menuruti nafsu birahi hingga berlebihan?” Karena pada umumnya ya demi makanan, ketenaran, keuntungan, dan nafsu seksual.
Menurutmu, apakah mereka yang telah melanggar sila-sila tersebut masih bisa melakukan ritual dengan hasil yang efektif? Mungkin saja, tapi mungkin juga tidak. Kenapa? Karena mereka punya pikiran binatang, mampu mendatangkan bantuan dari para roh binatang di dalam ramalan mereka, terutama untuk persoalan seputar makanan dan seks.
Mereka yang mendapatkan bantuan dari roh-roh binatang mampu menipu banyak orang, karena kesaktiannya cukup terbilang kuat. Banyak medium yang mengaku memuja Buddha, namun pada kenyataannya daya penyembuhan mereka datang dari roh binatang. Sumber kesaktian tiap orang berbeda-beda. Kalau si medium yang bersangkutan hanya tertarik pada ketenaran, keuntungan, makanan dan seks, besar kemungkinan hanya roh binatang yang datang untuk membantunya.
Di sini, sebelum aku membuka rahasia lebih banyak lagi, aku perlu menekankan kepadamu bahwa bila tujuan hidupmu hanya mencari ketenaran, keuntungan finansial, makanan enak dan kenikmatan seks belaka, kamu akan masih bisa menggambar fu untuk orang-orang, menyembuhkan penyakit orang-orang, mengenyahkan kesialan orang-orang, tapi berhubung pikiranmu sangat dekat dengan pikiran binatang, hanya roh binatang yang datang membantumu. Kamu ingatlah benar-benar poin penting ini!
Maka sebagai sadhaka, kita perlu menahan diri dari melakukan 10 macam kejahatan. Yang ada justru harus mengamalkan 10 perbuatan bajik, dan belajar dasar-dasar menjadi manusia. Yang telah melakukan 10 kejahatan pasti terjatuh ke alam binatang saat waktunya tiba, karena tingkah lakunya tak berbeda dari binatang itu sendiri. Kamu perlu tahu, bahkan kekuatan roh binatang bisa dibilang sakti, namun bagaimana halnya dengan kesaktian para Buddha dan Bodhisattva? Sudah pasti hebat!
Oleh karenanya saat sebuah ramalan sangat akurat, belum tentu dilakukan oleh seorang buddha. Bisa saja kerjaan seekor roh binatang. Saat ada sebuah rumah ibadah yang terkenal karena ramalannya akurat, belum tentu ada dewa yang bertugas di sana. Bisa jadi itu kerjaan sekelompok roh binatang. Dengan kondisi demikian, supaya bisa berbaur dengan para binatang, orang yang bertugas harus bertingkah seperti binatang pula, sampai pada akhirnya terjerat sendiri! Maka bila kita ingin hidup dengan bersih, sudah seharusnya tak berbaur dengan kelompok roh binatang.
Untuk bersadhana, pikiran harus sadar dan jernih. Karena begitu kita hanya mengejar ketenaran, keuntungan, makanan dan seks, pikiran kita sudah pasti menjadi kotor dan otomatis menunjukkan akhir dari kehidupan kebatinan kita! Kita akan dikelilingi oleh roh binatang.
Di sini menyimpulkan, kita tak boleh meremehkan kesaktian roh binatang. Dan harus paham bahwa tabiat binatang adalah mencari ketenaran, keuntungan, makanan dan seks.
Om Mani Padme Hum.
Penjelasan Arti “Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran” oleh Mahaguru Lu
Dikutip dari ceramah dharma Buddha Hidup Lian Sheng – 6 Oktober 1990
(Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, Jilid 1, hal. 252-253)
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Yuan Zheng Tang
Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: SZ on MEANING OF "TEN STAGES OF MIND DEVELOPMENT"
Karya utama Kukai (Kobo Daishi) “Sepuluh Kondisi Pikiran/Kesadaran”
Aku telah selesai membahas 10 tahap perkembangan pikiran seperti yang dikategorikan oleh Bhiksu Jepang Koho (Kobo Daishi) kemarin. Meski Koho membaginya menjadi 10 tahap seperti yang pertama adalah “Pikiran Binatang” hingga ke-10 “Pikiran Kemuliaan yang Penuh Misteri”, itu masih merupakan pikiran yang sama yang melewati berbagai tahap transformasi.
Tantrayana percaya bahwa segala hal di atas bumi punya pikirannya masing-masing. Jadi sebuah gunung punya pikiran, begitu juga dengan sungai, bengawan, laut, matahari, bulan, bintang, kaca, pohon, padi, dan bibit. Pertanyaan yang terpenting buat kita adalah bagaimana caranya supaya bisa benar-benar memahaminya?
Menurut pendapatku, Koho mencoba memberitahu bahwa kita tak boleh memfitnah diri sendiri, apalagi meremehkan diri sendiri. Di dalam himne pujian 5 suku kata Bodhisattva Manjushri dikatakan: “Bila kita menganggap diri sendiri sebagai orang biasa – mahluk fana, kita sedang memfitnah para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan mendatang.” Ini karena doktrin Tantra dengan jelas menegaskan bahwa: “Kamu adalah seorang Buddha.”
Beberapa analogi digunakan untuk menggambarkan para sadhaka. Mereka yang melatih Mahayana bagaikan “mengendarai kendaraan sapi”; yang melatih Hinayana “mengendarai kendaraan kambing”, dan mereka yang berkonsentrasi pada Vajrayana “mengendarai kendaraan daya mistis”. Dalam kata lain, bila kita ingin tercerahkan sebagai seorang Buddha sesegera mungkin, kita harus mengendarai kendaraan yang terakhir tadi.
Hanya Tantrayana yang mendukung “Kebuddhaan secara langsung” – di mana setelah memperoleh daya kesaktian mistis, kita akan mampu mendobrak dan menjadi tercerahkan. Sepuluh tahap perkembangan pikiran adalah tunggal dan sama seperti pikiran seorang Buddha.
Oleh karenanya kita tak boleh mundur, menganggap diri sendiri tak punya harapan, menyerah pada kenyataan dan mengklaim diri sendiri punya pikiran binatang. Karena dengan melakukan hal tersebut, kita sedang memfitnah para Buddha dari masa lampau, sekarang, dan mendatang.
Berhubung kita semua adalah para Buddha di masa mendatang, tentunya kita nanti juga akan punya pencapaian batin. Bila kita selalu memvisualisasikan diri sendiri sebagai Buddha, kita sedang menjunjung tinggi prinsip Tantra akan “Kebuddhaan secara langsung” dan hal ini merupakan pertanda akan Kebuddhaan kita di masa mendatang. Hingga saat ini, tak ada ordo lain yang mampu menjanjikan kepadamu jalan yang lebih cepat untuk mencapai keberhasilan spiritual.
Berhubung pikiran binatang dan pikiran manusia adalah sama seperti pikiran para Buddha, kita harus selalu mengendalikan ucapan, perilaku, dan pikiran supaya berfungsi secara alamiah, sehingga akan segera tercerahkan sepenuhnya dan menjadi Buddha.
Om Mani Padme Hum.
Wednesday, April 30, 2014
Pertemuan yang Menarik 趣遇 [2]
Ditulis oleh Lotuschef – 25 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Interesting Encounters 趣遇 [2]
Kasus 3 – Seseorang bertanya kepadaku tentang mantra “Om Mani Padme Hom”!
Aku jelaskan kepadanya bahwa itu mantra Bodhisattva Avalokiteshvara (Guanyin).
Ia mencakupi enam alam samsara!
Aku mengajarkannya untuk memandangi gambar Guanyin dan membayangkan chakra hati dirinya bersinar bagaikan bola lampu, berbagi sinar dengan semua insan tanpa membeda-bedakan.
Juga memberikan penekanan pada aksara Om dan Hom.
Bila dia melakukannya dengan benar, hanya dalam seminggu ia pasti akan melihat orang-orang mulai tertarik kepadanya. :)
Kasus 4 – Yang ini bilang kalau ia punya firasat akan melayaniku di mejanya setelah melihatku di antrian. :)
Setelah menjawab semua pertanyaanku untuk urusan-urusan resmi, kami mulai mengobrol.
Aku beritahu dia kalau Guru Akarku adalah Padmakumara, Buddha Hidup Lian Sheng.
Ia bilang kalau pernah dengar tentang Guru.
Hehe! Kubilang padanya bahwa banyak orang yang menyebarkan desas-desus kalau kita ini “sesat”!
......
Dia bertanya kepadaku di mana MH370.
Aku bertanya balik kepadanya menurutnya pesawat itu ada di mana.
Ia menutup matanya sejenak dan memberitahu bahwa menurutnya pesawat itu ada di sekitar Thailand.
Kubilang bahwa aku tahu kalau orang-orang di sana masih hidup, tapi mengenai lokasi tak boleh diberitahukan.
Teman-teman murid juga sudah bertanya kepada Guru, dan beliau hanya tersenyum saja.
Saat aku bertanya kepada Guru, beliau juga tersenyum.
Demi keselamatan para penumpang, yang terbaik adalah jangan berspekulasi, karena mereka malah akan dipindahkan ke lokasi-lokasi lain yang lebih tersembunyi.
Begitu pula mereka nantinya malah harus menyesuaikan diri lagi ke lingkungan yang baru dan mungkin lebih “tak bersahabat”.
Tapi aku sempat melihat wajah seorang politikus. Jadi kemungkinan hal ini memang berkaitan dengan masalah politik dan yang paling baik adalah tak turut campur tangan.
Seperti perang politik yang sangat disayangkan melibatkan orang-orang yang tak bersalah!
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Di kasus ke-4 ini, orang tersebut tak sadar bahwa dalam area pandangku selama lebih dari semenit, dengan otomatis aku telah mendapatkan gambaran dirinya secara menyeluruh. :)
Saat ia menutup kedua matanya dan sedikit menggerakkan kepalanya, kepalanya melengkung dan tulang punggungnya tak lurus – berarti ia tak menarik “energi cahaya” untuk membantunya “mencari” subjeknya!
Hahaha!
Ingatkah aku pernah menulis tentang CL yang membuka sesi konsultasi setelah jam 10 atau 11 malam?
Tentang bagaimana ia akan menarik telinganya untuk mendapatkan informasi dari roh-roh di sekitarnya untuk menjawab Wen-shi 问事.
Aku baru saja membagikan thesis 10 kondisi pola pikir dari Kobo Dhaishi yang dijelaskan dalam Bahasa Mandarin oleh Guru.
Mengundang roh-roh binatang, roh-roh janin, roh-roh manusia, ... adalah tingkatan awal dari tahapan pengembangan pikiran!
Menurut Guru, akurasinya sangat jauh di bawah mereka yang mampu beryoga dan mengundang kehadiran para Buddha dan Bodhisattva! :)
Oh ya! Saat kamu mampu beryoga dengan Guru atau Buddha atau Bodhisattva manapun; sungguh kiranya tak perlu bertanya apapun saat mereka (orang-orang yang bersangkutan) berada di hadapanmu, KARENA KAMU mampu membaca pikiran mereka dengan akurat! 他心通
Hahaha!
Semua hal ini sudah pernah diajarkan oleh Guru!
Demikianlah bila kamu masih Mencari Jawaban Dari Luar setelah berpuluh-puluh tahun berlindung (bersarana) kepada Guru, berarti KAMU tak benar-benar memperhatikan ajaran Guru, serta tak pernah tulus dan tekun bersadhana pula!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Disunting dari Jurnal Lotuschef
Related Posts:
Labels:
avalokiteshvara,
Bahasa Indonesia,
buddha hidup lian sheng,
energi cahaya,
guan yin,
kobo daishi,
lotuschef,
MH370,
om mani padme hom,
padmakumara,
sepuluh tahap pengembangan pikiran,
Yoga
Friday, April 25, 2014
Lotuschef in Interesting Encounters 趣遇 [2]
Terjemahan Indonesia: Pertemuan yang Menarik 趣遇 [2]
Case 3 – Asked me about mantra " Om Mani Padme Hom"!
I explained to him that this one is Avalokitesvara or Guanyin Boddisattva's mantra.
It spans the 6-realms of Samsara!
Taught him to look at a picture of Guanyin and visualize that his heart chakra lights up like a light bulb, sharing light with all without discrimination or segregation.
Also putting emphasis on the OM & Hom syllables.
He should see people galvanizing to him within a week if he does this properly. :)
Case 4 – This one said that he has a feeling that he will attend to me eventually after seeing me in the queue. :)
After answering all my queries for official matters, we chatted.
I told him that my Root Guru is Padmakumara, the Living Buddha Lian Sheng.
He said he heard of Shizun.
Hehe! I said that most people spread words that we are "evil"!
...........
He asked me where is MH 370.
I asked him where does he think the plane is.
He closed his eyes for a while and told me that he thinks the plane is somewhere in Thailand.
I said that I know the people on board are still alive as to location? can't tell.
Fellow students had asked Shizun and SZ just smiled.
When I asked SZ, he also smiled.
For the safety of the passengers, it is best not to speculate, else the passengers will be moved to other locations that are more secluded.
Also they need to adjust to new and probably "ruder" environment.
Well? I saw a certain politician's face, so this is probably political and best not to get involve.
This seem to be a political war that unfortunately involved innocents!
Dear all,
Case 4 is unaware that being in my vision or sight for more than a minute, a pretty comprehensive scan of him is unconsciously done. :)
As he closed both eyes and moved his head a little, his head is bent and his spine is not straight.
Which means, he is not drawing "light energy" to help him "search" for his subject!
Hahaha!
Remember I wrote about CL, who does consultation after 10 or 11 pm?
How she would pull her ears for info from surrounding spirits to feed to those that Wen-shi 问事 or consult with her?
I just shared the 10 states of mindset thesis from Kobo Daishi and explained in Chinese by SZ.
Calling upon Animal spirits; Fetus spirits; Human spirits; .... are the early stages of mind development!
As per SZ, the accuracy is compromised compared with those that can yoga and invoke presence of Buddhas and Boddisattvas! :)
O! When you can Yoga with SZ or any Buddha or Boddhisattva; there is Really and Truly No need for the One to ask any questions when they are before you, BECAUSE YOU can already Accurately Read Their Minds! 他心通
Hahaha!
All these are shared by SZ previously too!
If you are still Seeking External Answers after decades of refuge with SZ; YOU are really not paying proper attention to SZ's sharing and Never Sincere & Diligent in Cultivation too!
Cheers all
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Edited from Notes of Lotuschef
Related Posts:
Sunday, April 20, 2014
Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran
Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Ten States in the Development of the Mind 十住心论
Kobo Daishi [Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran]
Mengutip dari: 3.12 Ten States in the Development of the Mind
Di tahun 830, minat Kukai telah berpindah dari yang awalnya berfokus pada kontroversi antara Madhyamaka dan Yogacara yang berhubungan dengan kekosongan atau keberadaan dharma, beserta kritiknya atas pandangan mereka akan bahasa karena tak menyampaikan kebenaran (Dharma), ke arah mengevaluasi doktrin-doktrin Buddhis secara keseluruhan, termasuk ordo-ordo besar Buddhis lainnya.
Perpindahan ini kemungkinan besar berhubungan dengan perselisihan yang terus berlangsung di periode tersebut antara Saicho – pendiri ordo Tendai dengan ordo-ordo Buddhis Nara.
Dalam rangka memberikan skema komprehensif yang mampu menjelaskan kedudukan setiap ajaran agama dan kedudukan agama Buddha esoterik dalam hubungannya dengan doktrin-doktrin agama Buddha lainnya, Kukai mencoba menunjukkan pentingnya agama Buddha menurut versinya.
Di dalam skema tersebut, Kukai bersikeras menggunakan konsep-konsep yang dibahas di atas untuk membedakan agama Buddha esoterik dari eksoterik.
Meski demikian, saat dilihat secara garis besar, Dharma sebagai jalan kebenaran di dalam skema Kukai telah cukup merangkul agama Buddha eksoterik dan ajaran-ajaran lainnya sebagai berbagai macam wujud manifestasinya, dalam tingkat relatif dengan menuruti kondisi atau konteks yang sesuai dan tingkat pencapaian.
Dalam rangka menjelaskan perbedaan tingkat atau kondisi (ju, yang secara literal berarti “hunian” atau “penginapan”) pikiran (jujushin) yang sesuai dengan berbagai macam doktrin ordo-ordo dan sektor keagamaan lainnya, Kukai mengembangkan sebuah skema hirarkis.
Agama Buddha ordo Shingon diposisikan di paling atas karena memberikan sudut pandang dharma yang paling komprehensif.
Banyak orang menganggap sistem yang dibuat oleh Kukai ini sebagai magnum opus (mahakarya)-nya, Himitsu mandara jujushinron (Risalah mengenai Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran) dalam 10 jilid, yang ditulis sekitar tahun 830, lima tahun sebelum beliau wafat.
Karya tersebut ditulis sebagai tanggapan atas perintah dari Kaisar Junna yang meminta setiap aliran Agama Buddha harus mempresentasikan risalah pengenalan atas ajaran-ajarannya.
Saat naskah tersebut terbukti terlalu sulit untuk dicerna Sang Kaisar, Kukai kemudian membuat ringkasan risalah dengan tema yang sama yang lebih mudah dipahami, Hizo hoyaku (Kunci Berharga yang Membuka Harta Karun Rahasia) dalam tiga jilid.
Inti dari kedua karya tersebut adalah klasifikasi dari berbagai doktrin yang masing-masing dievaluasi dengan kritis dari sudut pandang Shingon yang tertinggi dan komprehensif.
Jenis sistem yang mirip untuk mengklasifikasikan doktrin-doktrin adalah p’an-chiao (panjiao) atau chiao-pan (jiaoban) (Bhs. Jepang: kyôsô hanjaku atau kyô-han) yang sudah ada di China dalam tradisi T’ien-t’ai dan Hua-yen.
Sistem pembagian seperti itu terbukti sangat membantu dalam usaha mereka untuk membedakan diri mereka dari, dan pada saat yang bersamaan, menggabungkan doktrin-doktrin yang ada sebelumnya sebagai upaya bijaksana yang relatif benar.
Sutra Teratai juga mengekspresikan ide yang hampir sama, dengan mengatakan bahwa berbagai macam doktrin merupakan upaya kemudahan yang pada akhirnya membawa pada kebenaran yang lebih lengkap (seperti yang diungkapkan di dalam naskah itu sendiri).
Adalah penemuan Kukai sendiri yang mengasosiasikan berbagai macam doktrin yang dievaluasi dan diklasifikasikan dengan kondisi-kondisi pikiran atau tingkat-tingkat pencapaian kebatinan tertentu.
Setiap kondisi di dalam perkembangan pikiran yang akan berhubungan dengan kumpulan doktrin-doktrin tertentu yang sesuai dengan kondisi tersebut, sebagai perspektif dan pengalaman realitas yang dijalaninya, akan menjadi nyata sampai tingkat tertentu dalam lingkupnya sendiri yang terbatas namun belum merupakan kebenaran sepenuhnya hingga tingkat terakhir telah dicapai.
Dalam kata lain, untuk naik ke hirarki pikiran yang lebih tinggi, adalah untuk mengalami terbukanya kelopak-kelopak Dharma karena orang yang bersangkutan menjadi tersadarkan lebih dalam hingga ia sepenuhnya menyadari pencerahannya sendiri dalam non-dualitas dengan Dharma itu sendiri, yaitu pencapaian Kebuddhaan.
Dilihat dari sudut pandang mandala, terbukanya kelopak Dharma ini juga merupakan indikasi evolusi orang yang bersangkutan dari lingkar terluar menuju ke pusat mandala alam semesta.
Namun berhubung tiap tingkat pikiran merupakan sebuah “hunian” bagi pikiran itu sendiri, hirarki dari “tingkat” terendah hingga tertinggi akan terlihat sekuensial (berurutan) dari dimensi eksoterik.
Sebenarnya pengurutan semacam itu tidaklah perlu bila dilihat dari sudut pandang esoterik atau holistik.
Atau dalam kata lain, ada kemungkinan untuk langsung melompat dari kondisi atau “tempat kediaman” mana saja ke alam yang paling komprehensif.
Berbagai ajaran yang dievaluasi di sini tak hanya mencakup berbagai aliran agama Buddha saja, tapi juga meliputi variasi agama Brahma, Hindu, praktik-praktik keagamaan India, serta doktrin-doktrin non-Buddhis Tiongkok.
Dan dari lingkup ajaran-ajaran Buddha meliputi doktrin-doktrin utama dari India dan Tiongkok yang masuk ke Jepang: Ritsu (Bhs. China: Lu-tsung, yang mempelajari Vinaya), Kusha (berbasiskan Abhidharma), Jojitsu (Bhs. Sansekerta: Satyasiddhi, berbasiskan Sautrantika), Hosso (Bhs. Sansekerta: Yogacara, China: Fa-hsiang), Sanron (Bhs. China: San-lun, yang berbasiskan Madhyamaka India), Tendai (Bhs. China: T’ien-t’ai), Kegon (Bhs. China: Hua-yen), dan Shingon.
Sistem klasifikasi dari Kukai ini bisa diringkas menjadi singkat dalam skema berikut:
Tahap ke-1 hingga ke-3 – Tahapan pra-buddhis: “wahana” awam dari jerat samsara.
Tahap 1 – “Pikiran seekor kambing yang dengan bodohnya bertransmigrasi di dalam enam nasib (atau alam)” (ishô teiyô-shin):
Kondisi nafsu yang digerakkan oleh insting binatang tanpa batasan moral; kondisi yang juga menaungi orang-orang awam, mahluk di neraka, setan lapar, binatang, asura (“raksasa”), dan berbagai dewa atau mahluk surgawi yang terjerat di dalam takdir samsara mereka.
Tahap 2 – “Pikiran seorang anak yang dipoles tapi membabi buta terobsesi oleh berbagai aturan moralitas” (gudô jisai-shin):
Kondisi dimana berbagai tindakan etis dan mulia membawa keteraturan sosial namun tanpa tujuan “religius”; Konfusianisme dan sila-sila Buddhis (ritsu) untuk orang awam berada di tahap ini.
Tahap 3 – “Pikiran seorang anak yang tenang dan tak takut apapun” (yodô mui-shin):
Kondisi yang melakukan pemujaan dewata dan praktik religi-magis ekstrinsik (dari sumber luar) demi mengatasi kecemasan dengan berpikir untuk mendapatkan kemampuan supranatural atau keabadian, atau mencapai surga yang kekal dan penuh kebahagiaan; Taoisme dan berbagai bentuk agama Hindu dan Brahma berada di tahap ini.
Tahap ke-4 hingga ke-10 – Tahapan Buddhis (tahap ke-4 hingga ke-9 adalah agama Buddha eksoterik, dan ke-10 adalah esoterik):
Tahap 4 hingga 5 – Tahapan Hinayana: “wahana” bagi mereka yang bercita-cita mendapatkan pencerahan diri tanpa menghiraukan pencerahan insan-insan lainnnya.
Tahap 4 – “Pikiran seseorang yang hanya mengakui zat/komposisi dan menyangkal diri” (yuiun muga-shin):
Kondisi sravaka yang menganalisa fenomena menjadi berbagai “agregat” (skandha) dan/atau komposisi (Dharma) psiko-fisik, untuk kemudian menyangkal segala macam kepercayaan atas keberadaan sebuah ego yang permanen (atman); ajaran-ajaran Buddha historis dan murid-murid terdekatnya beserta dengan pendidikan Abhidharma berada di tahap ini. Meski kekukuhan realitas bisa dipecah menjadi zat-zat dharmanya, dharma-dharma itu sendiri akan menjadi belenggu, sehingga akan membutuhkan tiga kehidupan hingga 60 eon untuk mencapai pembebasan.
Tahap 5 – “Pikiran yang terbebaskan dari benih-benih karma” (batsu gôinju-shin):
Kondisi pratyeka-buddha yang tiada bertuan serta memahami wawasan Hukum Sebab-Musabab yang saling bergantungan (Pratityasamudpada) yang memampukannya untuk mengenali ketidakkekalan, tanpa ego, dan semua hal di mana pada dasarnya tak punya substansi, oleh karenanya mampu mencegah supaya karma tak tercipta. Namun saat menikmati tingkat “pencerahan” tertentu, ia terjatuh kembali pada “egoisme” kepuasan diri sendiri, apatis tanpa welas asih terhadap sesamanya, dan pandangan sempit akan keduniawian lain. Di sinilah ia belum mampu mencapai pencerahan yang sepenuhnya. Aliran Sautrantika masuk dalam tahap ini.
Tahap ke-6 hingga ke-9 – Tahapan Mahayana: Wahana para bodhisattva – mereka yang mencari pencerahan demi dirinya sendiri dan para insan lain juga, dengan mengatasi dualisme atas diri-dan-insan lain, serta mengenai kesalingbergantungan antara pencerahan diri sendiri dan pencerahan insan lain, dan antara kebijaksanaan dan kewelasasihan.
Tahap 6 – “Pikiran penganut Mahayana yang prihatin atas nasib insan lain” (taen daijô-shin):
Kondisi Yogacara dengan perspektif Vijnapti-matrata nya (Bhs. Jepang: yuishiki) yang mengatakan bahwa semua hal hanyalah “pikiran saja”, dicapai lewat menganalisa semua hal-kejadian sebagai fenomena kesadaran yang berasal dari “gudang” yang tak sadar atau “wadah kesadaran” (alaya-vijnana). Intinya adalah untuk melepaskan diri dari proses objektifikasi (pembendaan) diskriminatif terhadap berbagai macam fenomena sehingga mampu merealisasi ketenangan “pikiran saja” dari perspektif yang tidak mendiskriminasikan, yang akan memampukan praktik “maha welas asih.” Tahap ini masih membutuhkan praktik selama beberapa eon untuk mencapai dan bukan merupakan kondisi terakhir.
Tahap 7 – “Pikiran seseorang yang merealisasi tiada mula” (kakushin fushô-shin):
Kondisi Madhyamaka dengan perspektif sunyavada-nya (Bhs. Jepang: kugan) bahwa semua hal adalah kosong adanya. Di sini menganggap sesuatu yang abstrak, termasuk konsepsi, sebagai hal yang konkrit – baik objek dan pikiran – yang menjadi belenggu ini dihapus lewat delapan penyangkalan dari Nagarjuna, yang lewat Pratityasamudpada mereka bisa menunjukkan kekosongan mereka sendiri.
Tahap 8 – “Pikiran seseorang yang merealisasikan keselarasan dengan satu jalan kebenaran” (nyojitsu ichidô-shin atau ichidô muishin):
Kondisi T’ien-t’ai dengan perspektifnya akan “kemanunggalan semua hal”, di mana si praktisi merealisasi bahwa sebuah momen memuat keabadian, sebuah pikiran memuat semua dunia yang mungkin ada, dan sebutir biji wijen memuat sebuah gunung, yang berarti non-dualitas antara satu dan banyak; dan antara kekosongan, pratityasamudpada, dan “di tengah antara mereka.”
Tahap 9 – “Pikiran seseorang yang merealisasikaan ketiadaan substansi di dalam kebenaran tertinggi” (goku mujishô-shin):
Kondisi Hua-yen dengan perspektifnya akan ketiadaan halangan dan interpenetrasi mutual di antara keberadaan pola-pola (Bhs. China: li, Jepang: ri) semua hal dan perihal-peristiwa yang konkrit (Bhs. China: shih, Jepang: ji) berbasiskan pada kekosongan mereka, di mana tunggal maupun jamak bersifat non-dual. Non-dualitas semacam ini diperluas hingga ke semua hamparan dharmadhatu.
Tahap 10 – Bagi Kukai, baik Tendai maupun Kegon masih kekurangan elemen penting mengenai pemahaman akan pengalaman langsung untuk bisa benar-benar merealisasi apa yang mereka ajarkan.
Si praktisi harus melaju lebih lanjut dengan sadhana ritual jasmaniah yang disediakan oleh kondisi selanjutnya dan terakhir – Mantrayana: “Pikiran Kemuliaan yang Penuh Misteri” (himitsu shôgon-shin).
Inilah kondisi Shingon, di mana ajaran-ajaran esoterik dan praktik pengalaman jasmaniahnya merupakan komposisi yang mengantar ke puncak perkembangan pikiran.
Di puncak tersebut, hosshin seppô akan terungkap dan si praktisi mencapai sokushinjôbutsu melalui hubungan timbal balik mikro-makro kosmos dari 3 misteri dan melalui kaji.
Dengan tak menolak atau menyangkal kondisi-kondisi sebelumnya, kondisi final ini memenuhi dan mencakupi semua perspektif dari apa yang diklaim sebagai perspektif yang paling komprehensif, dalam sudut pandang – atau lebih tepatnya dalam non-dualitasnya dengan – Dharma.
Mengingat Dharma itu sendiri, berbagai kebenaran yang diajarkan di semua kondisi sebelumnya hanyalah bersifat relatif dan sementara. Mereka hanyalah merupakan upaya kemudahan yang bersifat membantu karena bisa menolong mengantar si praktisi menuju ke kebenaran final ini, namun bisa juga menjadi belenggu bila ia malah melekat kepada mereka.
Setiap kondisi disebut sebagai “istana” (kyû atau gû), yang semuanya bergabung menjadi sebuah istana semesta yang agung (hokkaigû atau hokkai shinden).
Istana agung ini berisikan seluruh alam semesta sebagai sebuah mandala, dengan kondisi ke-10 atau yang tertinggi – istana rahasia yang terdalam dari Dainichi, berada di pusat dan puncaknya dari mana Dharma timbul menjadi berbagai wujud di kondisi-kondisi yang lebih rendah, istana-istana luar.
Semakin dekat si praktisi ke pusat, maka akan semakin kuat dia merasakan tarikan kaji ke arah puncak di tengah. Namun seperti yang dituliskan di atas, pengurutan hirarki tidaklah sedemikan perlu saat semuanya dilihat dari perspektif yang paling komprehensif ini.
Karena istana semesta nan agung menembusi dan mencakupi semua istana lainnya atau semua tempat berdiamnya pikiran.
Demikianlah si praktisi mampu membuat loncatan seketika dari titik mana saja di mandala alam semesta ini ke titik pusat dengan keberhasilan melatih sadhana esoterik agama Buddha aliran Shingon.
Struktur mandala inilah yang dimaksud dalam istilah mandala pada judul karya tulis dengan versi yang lebih panjang – Risalah Mandala Rahasia dari Sepuluh Kondisi Pikiran.
Ia mengacu pada cetak biru perwujudan alam semesta dari Dharma (hosshin), yang selanjutnya membentuk praktik ritual sesuai dengan pengaturannya dan bagaimana si praktisi mengalami Dharma sesuai dengan hal tersebut juga.
---
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Membaca tulisan di atas, aku yakin kalau mereka yang telah dan masih mendengarkan ajaran Dharma dari Guru dengan penuh perhatian, akan menyadari bahwa mereka telah berkali-kali dibagikan dalam tulisan dan ceramah Guru. :)
Kini kamu bisa membaca lagi artikel-artikel Guru yang menjelaskan tentang Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran atau Thesis Mengenai Sepuluh Kediaman Pikiran.
Bisa ditemukan di Buku ke-1 Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, dari halaman 218 – 253.
Ada Sepuluh Kediaman Dharma dari Sutra Avatamsaka juga yang aku telah bagikan di blog ini.
Selamat menikmati!!!
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- Sembilan Yana (Kendaraan) Tradisi Nyingma [1]
- Agama Buddha Yang Murni
- Mahaguru Lu Menjelaskan Mengenai Tidak Ada Pikiran
- Mengingat kembali ajaran-ajaran utama [2] – Empat…
- Pengertian (Pandangan) Benar
Labels:
Bahasa Indonesia,
eksoterik,
esoterik,
istana,
kobo daishi,
kukai,
lotuschef,
mandala,
sepuluh tahap pengembangan pikiran
Saturday, April 12, 2014
ANIMAL MIND 动物的心
Terjemahan Indonesia: Alam Pikiran Binatang
ANIMAL MIND
Dharma Talk by Living Buddha Lian Sheng on 2/10/90
(page 218-221 Achievement of Rainbow Light Body volume one)
Translated by Yuan Zheng Tang
While talking about "how we can invoke spirits" yesterday, I mentioned about the spirits of animals . They have certain powers - albeit they are not very powerful in many aspects. However, we can still summon their help in our spiritual cultivation and rituals.
Today I am going to talk about the "ten stages of mind development."
A Dharma master who has a mind similar to that of an animal should be able to invoke the spirit of an animal. What is "animal mind"? Japanese monk Koho termed it "Yi Ti Di Yang Xin" (goats from different areas) . Two words can be used to describe the minds of animal: food and sex. Animals have the instinct to eat when they are hungry. And they copulate to satisfy their sexual desire.
Human beings who are interested only in food and sex will be reborn into the animal realm in their next life. Although a Dharma master can invoke the spirits of animal to help him do chores such as divination and misfortune eradication , his life style is not exemplary as his main concern is limited to food and sex.
Those who have committed the ten non-virtues of killing, stealing, indulging in sexual misconduct, lying, harsh speech, divisive speech, senseless talk, covetousness, harmful intent and wrong view are destined to descend to the animal realm. Ask yourself this question : "Why do people kill, steal and indulge in sexual desire ?" Mainly for the sake of food, fame, profit and sexual desire.
Do you think that those who have transgressed these precepts can still be effective in their rituals ? Maybe, maybe not. Why ? Because they have animal minds, they can invoke the help of animal spirits in their divination, especially issues which concern food and sex.
Those who can get help from animal spirits are able to con many people, as they have relatively strong spiritual power. Many mediums claim to enshrine Buddha, but the fact is their healing powers are derived from animal spirits. The source of power differs from person to person. If the medium in charge is only interested in fame, profit, food and sex, it is highly likely that only animal spirits will come to his assistance.
Therefore before I divulge more secrets , I have to stress to you that if seeking fame, earning financial benefit, eating good food and indulging in sex are your aims in life , you can still draw charms for people, cure people's sickness, and eradicate people's misfortune, but since your mind is so close to that of an animal, only animal spirit will appear to assist you. You have to remember this salient point !
Therefore as cultivators we must refrain from doing the ten non-virtues. Instead, we must cultivate the ten virtues. And learn the fundamentals of being a human being. Those who have committed the ten non-virtues are sure to descend to the animal realm in due course, since their behavior are not different from that of animals. A point to note is that even the force of animal spirit is powerful, what about that of Buddhas and Bodhisattvas? They must be formidable !
Therefore when a divination is very accurate it does not necessarily mean it was done by a Buddha. It could be the work of an animal spirit. When a temple is noted for its accuracy in reading your future, it does not necessarily mean a god has been in charge. It could be the work of a group of animal spirits. Under such circumstances, in order to mingle with the animals, the person in charge would have to behave like the animals, and eventually he would be trapped ! So if we want to live clean , we should not be mixing with this group of animal spirits.
In order to carry out spiritual cultivation, we must remain sober and have a clear mind . Once we aim only for fame, profit, food and sex, our mind will be filthy and this spells the end of our spiritual life ! We will be surrounded by animal spirits.
In conclusion, we should not underestimate the prowess of animal spirits. And we must understand that it is an animal's nature to seek fame, profit, food and sex.
Om Mani Padme Hum.
Related Posts:
SZ on MEANING OF "TEN STAGES OF MIND DEVELOPMENT"
Terjemahan Indonesia: Penjelasan Arti “Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran” oleh Mahaguru Lu

THE MEANING OF "TEN STAGES OF MIND DEVELOPMENT"
Dharma Talk by Living Buddha Lian Sheng on 6/10/90
(page 252-253 Achievement of Rainbow Light Body volume one)
Translated by Yuan Zheng Tang
I have finished talking about the ten stages of mind development as categorized by the Japanese monk Koho yesterday. Although Koho had classified our minds into ten stages such as the first stage of "Animal mind" to the tenth stage of "Secret and solemn mind", it is the same mind that went through the transformation.
It is the belief of Tantrayana that everything on earth has a mind of its own. Thus a mountain has a mind, so has a stream, river, sea, sun , moon, star, glass, tree, padi and seedling. The most important question to us is how do we go about really understanding them ?
In my opinion, Koho tried to tell us that we must not slander ourselves, let alone underestimate ourselves. It is said in the Manjusri Bodhisattva five-syllable hymn that : "If we call ourselves commoners - mortals, we are slandering the Buddhas of past , present and future lives." This is because the Tantric doctrine clearly affirms that : "You are a Buddha."
Certain analogies had been used to describe the cultivators. Those who cultivate Mahayana are considered "riding on the cow vehicle" ; those who practise Hinayana- "riding on the goat vehicle" and those who concentrate on Vajrayana - "riding on the mystic power vehicle." In other words, if we want to be enlightened as a Buddha as soon as possible , we must ride on the last type of vehicle.
Only Tantrayana advocates "instant Buddhahood." - After attaining mystic powers, we are able to have a breakthrough and be enlightened. All the ten stages of mental development are one and the same as the mind of a Buddha.
Therefore, we cannot give up , consider ourselves hopeless , be resigned to the fact and claim that we have animal minds. By so doing , we are slandering the Buddhas of past, present and future lives.
As we are all future Buddhas, we will have spiritual achievement in the future. If we constantly visualize ourselves as Buddhas, we are upholding the Tantric principle of "instant Buddhahood", and this itself is a tell-tale sign of our future Buddhahood. To-date, no other schools can promise you a faster way to spiritual fruition yet.
As animal minds and human minds are the same as that of the Buddhas', we must always will that our speech, body and mind function naturally, so that we will be fully enlightened and become Buddhas in no time.
Om Mani Padme Hum.
Related Posts:
Ten States in the Development of the Mind 十住心论
Terjemahan Indonesia: Sepuluh Tahap Perkembangan Pikiran

弘法大师 [十住心论]
Kobo Daishi [Ten States in the Development of the Mind]
Quoting from: 3.12 Ten States in the Development of the Mind
By 830 Kûkai has shifted his interest from an earlier focus upon the controversy between Madhaymaka and Yogâcâra concerning the emptiness or existence of the dharmas and his critique of their view on language as not conveying truth (the Dharma), to evaluating Buddhist doctrines as a whole, including the other major Buddhist schools. This shift is most likely connected to the dispute on-going during that period between the founder of the Tendai school, Saichô, and the older Nara Buddhist schools. In providing a comprehensive scheme that would explain the place of each religious teaching as well as the place of esoteric Buddhism in relation to the other Buddhist doctrines, Kûkai aimed to demonstrate the significance of his version of Buddhism.
In this scheme, Kûkai is adamant in using the above-discussed concepts to distinguish esoteric from exoteric Buddhism.
In this scheme, Kûkai is adamant in using the above-discussed concepts to distinguish esoteric from exoteric Buddhism.
And yet, given a bird's eye view, the truth, the Dharma, in Kûkai's scheme is encompassing enough to include exoteric Buddhism and all other teachings as its unfoldings or manifestations, in relative degrees in accordance with the appropriate circumstance or context and the level of attainment.
In order to explain the different levels or states (jû, literally “dwellings” or “lodgings”) of mind (jûjûshin) that correspond to the various doctrines of other schools and religious sects, Kûkai developed an hierarchical scheme.
Shingon Buddhism is placed at the top of the hierarchy as providing the most comprehensive view to the Dharma.
Kûkai provides this systematization in what many consider to be his magnum opus, Himitsu mandara jûjûshinron (Treatise on the Secret Mandala of the Ten States of Mind) in ten volumes, composed around 830, five years before his death.
It was written in response to an order of Emperor Junna that each Buddhist sect present an introductory treatise of its teachings.
When the text proved to be too difficult for the emperor, Kûkai produced an abridged and more accessible treatise on the same theme, Hizô hôyaku (Precious Key to the Secret Treasury) in three volumes.
At the core of both works is this classification of the various doctrines whereby each is critically evaluated under the light of the culminating and most comprehensive view of Shingon.
A similar sort of system of classifying doctrines, called p’an-chiao (panjiao) or chiao-pan (jiaoban) (Jpn:kyôsô hanjaku or kyô-han) already existed in China, e.g. within the T’ien-t’ai and the Hua-yen traditions.
Such a system of classification proved helpful in their attempts to distinguish themselves from, and at the same time, incorporate previous doctrines as expedient means that are relatively true.
The Lotus Sûtra had also already expressed the similar idea that various doctrines were meant as expedient means that lead eventually to a fuller truth (expressed within its own text).
It is Kûkai's own invention however to associate the different doctrines evaluated and classified with specific states of mind or stages of spiritual attainment.
That is, each state in the development of the mind is correlated with a specific set of doctrines appropriate to it, as its perspective and lived experience of reality, true to a certain extent within its limited purview but not yet the whole truth until the final state is reached.
In other words, to move up this hierarchy of levels of mind, is to experience the unfolding of the Dharma as one becomes further awakened until one fully realizes one's enlightenment in non-duality with the Dharma itself, i.e. the attainment of Buddha-hood.
From a mandalic perspective, this unfolding of the Dharma is also indicative of one's evolution from the periphery towards the center of the mandalic universe.
However as each level of mind is a “dwelling” or “lodging” place for the mind, the hierarchy from the lowest to the highest “stages” is sequential only in the exoteric dimension.
That is to say that the sequential ordering is not necessary in itself when viewed from the esoteric, i.e., holistic, standpoint.
In other words, it is possible to move directly from any state or “dwelling” to the most comprehensive realm.
The teachings evaluated here not only include Buddhist schools but also variations of Brahmanism, Hinduism, and Indian religious practices as well as Chinese non-Buddhist doctrines.
And the Buddhist teachings include the major Indian and Chinese doctrines that have made their way to Japan: Ritsu (Chn. Lu-tsung, Vinaya studies), Kusha (based on Abhidharma), Jôjitsu (Skrt. Satyasiddhi, based on Sautrântika), Hossô (Skrt. Yogâcâra, Chn. Fa-hsiang), Sanron (Chn. San-lun based on Indian Madhyamaka), Tendai (Ch. T’ien-t’ai), Kegon (Chn. Hua-yen), and Shingon. Kûkai's classification system may be briefly summarized in the following schema:
1st to 3rd states: Pre-Buddhist stages: worldly “vehicles” of samsaric entrapment:
1st state: “The mind of the goat foolishly transmigrating in the six destinies (or realms)” (ishô teiyô-shin): The state of desire driven by animal instincts without moral restraint; the stage to which belong common people, hell-beings, hungry-ghosts, beasts, asuras (“titans”), and various deities or celestial beings trapped in their samsaric destinies.
1st to 3rd states: Pre-Buddhist stages: worldly “vehicles” of samsaric entrapment:
1st state: “The mind of the goat foolishly transmigrating in the six destinies (or realms)” (ishô teiyô-shin): The state of desire driven by animal instincts without moral restraint; the stage to which belong common people, hell-beings, hungry-ghosts, beasts, asuras (“titans”), and various deities or celestial beings trapped in their samsaric destinies.
2nd state: “The mind of the child tempered but ignorantly obsessed with moral precepts” (gudô jisai-shin): The state of ethical actions and virtue that promote social order but without any “religious” goal; the stage to which belong Confucianism and the Buddhist precepts (ritsu) for the laity.
3rd state: “The mind of the child composed and fearing nothing” (yodô mui-shin): The state of deity worship and extrinsic magico-religious practice for the sake of overcoming anxiety with the thought of attaining supernatural powers or immortality, or reaching an eternal and blissful heaven; the stage to which belong Taoism and various forms of Hinduism or Brahmanism.
4th to 10th states: Buddhist stages (the fourth to ninth being exoteric Buddhism and the tenth being esoteric Buddhism):
4th to 5th states: Hinâyâna stages: “vehicles” of those who aspire towards self-enlightenment without caring for the enlightenment of others.
4th state: “The mind of one affirming only the elements and negating the self” (yuiun muga-shin): The state of the śrâvaka who analyzes phenomena into the psycho-physical “aggregates” (skandhas) and/or the elements (dharmas), to thus negate any belief in a permanent ego (atman); the stage to which belong the teachings of the historical Buddha and his direct disciples and of the Abhidharma scholastics. While the substantiality of reality is thus deconstructed into its elemental dharmas, the dharmas themselves however become fetters, thus taking from three lives to sixty aeons to achieve liberation.
5th state: “The mind freed from karmic seeds” (batsu gôinju-shin): The state of the pratyeka-buddha, who, masterless on his own, attains insight into the chain of dependent origination to recognize the impermanence, self-less-ness, and non-substantiality of all, thus preventing new karma to arise. But in enjoying a certain level of “enlightenment,” he falls back into the “egoism” of self-complacency, compassionless apathy towards fellow beings, and the narrow vision of other-worldliness. Hence he has not yet reached complete enlightenment. The Sautrântika school belongs to this stage.
6th to 9th states: Mahâyâna stages: “vehicles” of the bodhisattvas, those who seek enlightenment both for self and for others, by overcoming self-other duality and recognizing the interdependency between self-enlightenment and other-enlightenment and between wisdom and compassion.
6th state: “The mind of the Mahâyâna adherent who is concerned with others” (taen daijô-shin): The state of Yogâcâra with its Vijñapti-mâtratâ (Jpn: yuishiki) standpoint that everything is “mind-only,” reached by its analysis of thing-events as phenomena of consciousness originating from a deep un-conscious “storehouse” or “receptacle consciousness” (âlaya-vijñâna). Its point is to detach oneself from the discriminating objectification of phenomena in order to realize the tranquility of “mind-only” from a non-discriminating perspective, which would allow the practice of “great compassion.” And yet this still takes several aeons of practice to achieve and is not the final state.
7th state: “The mind of one who realizes non-origination” (kakushin fushô-shin): The state of Madhyamaka with its śûnyavâda (Jpn: kûgan) standpoint that everything is empty. Here reifying and substantializing conceptions — including both objects and mind — that act as fetters are eliminated through Nâgârjuna's eight-fold negations which via their dependent origination show their emptiness.
8th state: “The mind of one who realizes harmony with the one path of truth” (nyojitsu ichidô-shin or ichidô muishin): The state of T’ien-t’ai with its standpoint of “oneness of all,” wherein one realizes that one moment contains eternity, a single thought contains all possible worlds, and a sesame seed contains a mountain, i.e. the non-duality between one and many; and between emptiness, dependent origination, and their “middle.”
9th state: “The mind of one who realizes the absence of substance within ultimate truth” (goku mujishô-shin): The state of Hua-yen with its standpoint of the mutual non-obstruction and interpenetration between the patternment (Chn: li; Jpn: ri) of all and the concrete thing-events (Chn: shih; Jpn: ji) on the basis of their emptiness, whereby one and many are non-dualistic. This non-duality is extended to the level of the entire dharmadhâtu.
10th state: Both Tendai and Kegon for Kûkai however lack the crucial element of direct experiential understanding to truly realize what they preach.
One must thus proceed further by means of bodily ritual practice provided by the next and final state: Mantrayâna: “The mind of secret sublimity” (himitsu shôgon-shin).
This is the state of Shingon, whose esoteric teachings and bodily experiential practice constitute the summit of the development of the mind.
At this summit hosshin seppô is revealed and one attains sokushinjôbutsu through the micro-macro-cosmic correlativity of the three mysteries and through kaji.
Rather than rejecting or negating the previous states, this final state fulfills and encompasses their standpoints from what is claimed to be the most comprehensive standpoint, in view of — or rather in non-duality with — the Dharma.
In light of the Dharma, the truths taught in those previous states are but relative or provisional truths, expedient means that are helpful only insofar as they lead one towards this final truth but which can also serve as fetters if one becomes attached to them.
Each state is referred to as a “palace” (kyû or gû), which are all combined in the one grand cosmic palace (hokkaigû or hokkai shinden).
This grand palace constitutes the entire cosmos as a mandala, with the tenth and highest state, the innermost secret palace of Dainichi, at the center and summit from which the Dharma emanates into its various manifestations in the lower states, the outer palaces.
The closer one is to the center, the stronger one feels the pull of kaji drawing one up towards the central summit. But as stated above, the sequential ordering of the hierarchy is not necessary when the whole is viewed from this most comprehensive standpoint.
For the grand cosmic palace penetrates and comprehends all of the specific palaces or dwellings of the mind.
Hence one can make a sudden leap from any point in this cosmic mandala towards the center by successfully engaging in the esoteric practice of Shingon Buddhism.
It is this mandalic structure that the term mandala in the title of the longer version of this work (Treatise on the Secret Mandala of the Ten States of Mind) signifies.
It refers to the blueprint of the cosmic embodiment of the Dharma (hosshin), which in turn structures one's (ritual) practice in its arrangement and how one accordingly experiences the Dharma.
---
Dear all,
Reading through the above, I am sure those that have & still are listening attentively to SZ's Sharing of Dharma, will realized all these are already shared many times over in SZ's writings and speeches. :)
Now you can go read over SZ's articles explaining the Ten States of Mind Development or Ten Abiding Heart Thesis.
Found in Rainbow Body Attainment book 1. From Page 218 to page 253.
There is a Ten Abiding Dharma from Avatamsaka Sutra too that I have shared in this blog.
Enjoy!!!
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- The
mind of secret sublimity 秘密庄严心
- NON-ARISING
MIND 觉心不生心
- ASURA
MIND 阿修罗的心
- Kûkai,
Kobo Daishi 弘法大师
- “WITHOUT
SELF NATURE” MIND 极无自性心
Subscribe to:
Posts (Atom)








