Showing posts with label pikiran. Show all posts
Showing posts with label pikiran. Show all posts
Friday, September 6, 2019
Tanggapan Mutual berarti Melebur Manunggal
Sumber: Karya tulis Mahaguru Lu 蓮生活佛 > 師尊文集 > 249_來自佛國的語言
Diterjemahkan oleh Lotuschef ke Bahasa Inggris – 27 Oktober 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 「相應」即是「合一」Mutual Response is Merge as One
Catatan:
相 Xiāng – mutual, saling, timbal balik
應 Yīng – respon (tanggapan)
蓮生活佛 > 師尊文集 > 249_來自佛國的語言
有人問我:「什麼是相應?」
Seseorang bertanya kepadaku: Apakah yang dimaksud dengan Tanggapan Mutual (Yoga)?
我答:「合一。」
Aku menjawabnya: Melebur manunggal menjadi satu.
人問:「如何合一?」
Orang-orang bertanya: Bagaimana mencapai pemanunggalan itu?
我答:「制心一處。」
Aku menjawabnya: Satu hati yang terfokus.
我又說:「佛陀說,制心一處,無事不辦!」
Aku melanjutkan: Sang Buddha mengatakan, hati yang mampu berfokus, tak ada hal yang tak bisa diselesaikan!
佛的意思是說:只要能制心一處,任何事都可以成功。
Sang Buddha bermaksud mengatakan: Hanya saat hati berfokus pada satu hal, maka segala hal akan berhasil dilakukan.
這和老子說的:「人能守一,萬事畢!是同一的道理。」
Sama seperti yang dikatakan Lao-zi: Mereka yang mampu menjaga Satu, semua persoalan akan terselesaikan! Prinsipnya sama.
●
我們常說:天人合一。
我說:
神人合一。
天我合一。
佛我合一。
心氣合一。
本尊與我合一。
上師與我合一。
護法與我合一。
諸尊與我合一。
智慧與我合一。
宇宙與我合一。
這「合一」就是彼此互融,入我我入,祂進入我,我進入祂。
[Manunggal] ini sesungguhnya adalah saling menampung, memasuki aku – aku memasuki, Ia memasukiku, Aku memasuki-Nya.
我的精神集中力,完全投射在本尊的身、口、意上。
Kemampuan konsentrasi vitalitasku semuanya terproyeksikan/terfokus pada tubuh, ucapan dan pikiran Sang Yidam.
我的觀想,全是本尊的莊嚴寂靜。
Visualisasiku, semuanya adalah sang yidam yang tampil dalam segala kemuliaannya yang hening nan khidmat.
我的咒語,全是本尊的心咒。
Mantraku, semuanya adalah mantra hati sang yidam.
我的手印,全是本尊的身。
Tanganku yang membentuk mudra, semuanya merupakan tubuh sang yidam.
從這裡去覺受!
Dari sini bisa dirasakan!
慈悲。
愛。
光明。
遼闊。
由專一而進入寂靜。
由專一而進入宏觀。
由專一而進入溫暖。(法樂)
密教修「相應法」,是藉觀想(意)、手印(身)、咒語(口)。
三者合一,清淨,進入三昧之中。
這裡面蘊藏著:
神祕。
高遠。
無限。
永恆。
從實實在在的修持上,去達到合一相應的境界。
淨土宗教你,念佛達到合一相應。
禪宗教你參話頭,禪修達到合一相應。
律宗教你守戒律,讓精神達到合一相應。
密教教你身口意清淨,以手印、持咒、觀想達到合一相應。
這裡一個最重要的口訣: 「一」。
Di sini, kunci rahasia yang sangat penting adalah: [Satu].
世上萬事都是喧囂嘈雜的。
紛紛擾擾而無休無止。
你只要實修「一」。
Kamu hanya perlu tekun melatih [Satu].
你的心靈就昇華了,達到與本尊合一。
Hati, ruh, atau sukmamu akan membubung menjadi bunga lotus, mencapai pemanunggalan dengan sang yidam.
~~~~~~~~~~~~~
Bahasa Buddha?
Hahaha!
Ini adalah kunci-kunci yang Mahaguru Lu berulang kali ajarkan selama ini!
Aku yakin mereka yang tekun pasti mengingatnya di dalam hati!
Apakah kamu masih mengejar hal-hal yang tidak bajik dan tidak penting seperti Nama, Ketenaran, Gelar, Kemuliaan, Penghormatan, Citra Diri, …?
Sayang sekali banyak yang tertinggal di belakang karena tersesatkan oleh orang-orang yang telah menjual jiwanya kepada Mara atau sejenisnya!
Karena mengikuti para pemimpinnya yang telah rusak, mereka terjatuh bersama ke 3 alam rendah, atau malah lebih buruk, ke Neraka Vajra Tiada Akhir.
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Monday, March 13, 2017
Hanya Butuh [Tubuh Ucapan Pikiran]!
Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 10 Maret 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 只需[身口意]Only Need [Body Speech Mind]!
Dari arsip percakapan:
A: Hendak berbagi artikel denganmu karena tulisannya masuk akal dan juga logis.
Metode untuk memperkuat frekuensi dari jarak yang terpisah jauh supaya bisa mendekat.
Jadi hal ini menjelaskan mengapa abhiseka jarak jauh itu memungkinkan.
---
Keajaiban Pengamalan Tiga Misteri
Oleh Maha Acharya Feng Da An
...
Berbagai macam Energi Buddha dan Medan Energi Para Insan menembus ke dalam tubuh dan pikiran orang-orang secara bersamaan dan terus-menerus. Energi Buddha sifatnya lembut (karena ia menampilkan kodrat sejati Dharmadatu) dan halus, jadi pengamalannya bersifat suci. Sedangkan Medan Energi Para Insan itu keruh (karena terbentuk dari berbagai khayalan), sehingga pengamalannya bersifat kotor.
Para insan tak mampu mengalami/merasakan Energi Buddha karena Medan Energi mereka telah menyelubunginya. Di dalam Medan Energi, semakin jauh suatu objek, semakin lemah Medan Energinya. Medan Energi yang kuat bisa menutupi yang lemah. Oleh karenanya, berbagai objek yang mampu dilihat, didengar dan disentuh oleh para insan adalah yang berada di dekat mereka saja.
Sedangkan perihal suara, semakin jauh jaraknya, maka akan semakin lemah dan ia akan menghilang saat terpisah sangat jauh. Tapi bila saja ada sebuah cara untuk menaikkan kekuatan panjang gelombang, maka suara yang berada di kejauhan juga bisa didengar atau bahkan lebih kencang daripada suara dari objek-objek yang berada lebih dekat, contohnya adalah radio. Televisi dan mesin faksimili juga punya fungsi yang mirip, mereka membuat orang-orang bisa melihat objek yang jauh dalam warna yang sempurna; Medan Energi sebuah objek yang jauh tersebut telah diperkuat sehingga mampu mengalahkan Medan Energi objek yang lebih dekat.
Sama halnya, Energi Buddha juga bisa diperkuat dengan berbagai cara yang menakjubkan sehingga ia menjadi lebih kuat daripada Medan Energi Para Insan.
Ada berbagai macam fasilitas siaran untuk meninggikan suara. Lalu, bagaimana cara memperkuat Energi Buddha?
Adalah dengan tiga pengamalan yang ajaib:
- Berbagai macam Mudra untuk melahirkan benih pencerahan.
- Berbagai macam Mantra untuk mengairi dan menumbuhkan benih pencerahan.
- Berbagai macam perenungan suci untuk mengalami kondisi-kondisi yang berhubungan dengannya.
---
B: hahaha!
Bija aksara bisa dipelihara dengan mudra, mantra, dan juga visualisasi!
种子字让手印,真言,观想而滋润!
Adalah konsep dari artikel yang baru saja kutulis :)
Masih ingatkah rasanya berkat energi saat kamu menonton siaran langsung atau bahkan dari rekaman?
Ini sama seperti yang hendak dijelaskan oleh artikel di atas!
Tapi mereka harus merasakannya sendiri barulah bisa dibilang “nyata” adanya!
A: Ya, aku juga ingat saat puja di sini, kamu memberitahu bahwa bija aksara akan tumbuh bila dipelihara dengan bodhicitta dan penjapaan mantra.
Sekali lagi mengucap terima kasih kepadamu.
B: hahaha!
Tidak banyak orang yang menghargai hal-hal yang kubagikan! :)
Kunci-kunci yang kubagikan juga berakhir di telinga-telinga yang tuli!
Padahal yang dibutuhkan hanyalah inti-inti dasar saja!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
你还在追什么?
Apa lagi yang masih kamu kejar?
Salam Metta,
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
energi buddha,
lotuschef,
mantra,
medan energi insan,
mudra,
pikiran,
tiga misteri,
tubuh,
ucapan,
visualisasi
Wednesday, March 9, 2016
Vikalpa di dalam Meditasi Yoga
Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 5 Maret 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Vikalpa in Yoga Meditation 瑜伽定中的妄念

Mengutip dari situs tripurashakti.com: yoga meditation, contemplation, and devotion for self-realisation (meditasi yoga, perenungan, dan bakti untuk realisasi diri): Vikalpa
Vikalpa = salah satu dari 5 jenis pikiran atau vritti; ada 5 jenis pergerakan di dalam medan pikiran dan salah satunya adalah vikalpa (yogasutra 1.6)
Vikalpa = berbagai pergerakan di dalam pikiran yang berupa “fantasi ataupun imajinasi”
Lima jenis pikiran adalah: pramana, viparyaya, vikalpa, nidra, smriti
VIKALPA: PRAKTIS
Mengamati Vikalpa
Kita ingin memahami makna vikalpa, bukan hanya sekedar definisinya saja, namun lebih ke bagaimana cara mengamatinya di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Jadi pilihlah suatu hari atau suatu minggu untuk menyadari pergerakan pikiran ini, yang dinamakan vikalpa, di dalam berbagai aktivitas, situasi, dan percakapan.
Amatilah bagaimana vikalpa berkaitan dengan perbuatan, pikiran, dan ucapan.
Kamu ingin menemukan contoh vikalpa-mu sendiri, sehingga kamu akan punya pengetahuan langsung mengenai konsep vikalpa ini.
Salah satu cara memulainya adalah dengan menangkap sebuah pikiran, pikiran apa saja… berhubung hanya ada 5 jenis pikiran, 5 jenis vritti, jadi pikiran ini pasti salah satu dari kelima jenis tersebut.
Pikiran ini merupakan imajinasi ataukah fantasi (vikalpa)?
Kalau bukan vikalpa; lalu cari tahulah dengan menggunakan buddhi, yang merupakan salah satu dari 4 jenis pikiran lainnya.
Beberapa contoh vikalpa adalah melamun, berfantasi tentang sebuah kejadian di masa mendatang, menciptakan drama kecil di dalam pikiran tentang berbagai situasi yang berasal dari pemikiran di masa lampau dengan memikirkan bagaimana mereka seharusnya terjadi, atau memikirkan tentang seekor gajah berwarna merah jambu yang sebenarnya tak ada.
Dialog internal mengenai Vikalpa
Tanyakan kepada pikiranmu sendiri: Kenapa kita berfantasi dan berimajinasi?
Bercakap-cakaplah dengan pikiranmu sendiri: Apakah hal tersebut berguna atau tidak?
Tanyakan kepada pikiranmu sendiri: fantasi-fantasi ini akan membawa kita ke mana?
Demikianlah sebuah cara untuk meningkatkan kesadaranmu akan vikalpa adalah dengan sungguh-sungguh bertanya kepada pikiran untuk membantumu memahami vikalpa.
Mengapa kita berfantasi? Hal tersebut akan menghasilkan apa? Dan bagaimana kita berurusan dengannya?
Pikiran, bisakah kita menyadari adanya vikalpa, dan bisakah kamu membantuku mengurangi frekuensi fantasi dan imajinasi?
Saat kamu belajar untuk bicara kepada pikiranmu, pikiran akan menjadi seorang teman yang hebat yang mampu membantumu di dalam menjalani kehidupan spiritualmu.
Kemudian pikiran juga akan mulai membantumu mengatasi vikalpa yang tak dibutuhkan. Bukankah itu hal yang bagus?!
~~~~~~~~~~~
Teman-temanku yang terkasih,
Apa solusi dari Mahaguru Lu untuk Menghentikan Vikalpa?
以念止念 Menggunakan Pikiran Untuk Menghentikan Pikiran!
Hahaha!
Gampang diomongkan tapi susah dicapai.
Perhatikanlah foto-foto di atas.
Bisakah kamu mengira kenapa aku membagikannya? :)
Cobalah direnungkan: Apa yang terjadi saat kamu bisa Menghentikan Vikalpa?
Silakan mengirimkan interpretasimu mengenai foto-foto di atas ke purekarmaservices@gmail.com.
Interpretasi atau penarikan kesimpulan membutuhkan pengetahuan dharma tantra otentik yang memadahi. Kiranya kamu punya pengetahuan yang memadahi untuk membaca foto-foto di atas dengan akurat?
Petunjuk: Cobalah [Melebur kedalamnya]!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
dharma tantra,
fantasi,
imajinasi,
lotuschef,
menghentikan pikiran,
pikiran,
vikalpa
Thursday, August 6, 2015
Pola Pikir: Justru Niat-lah yang Dianggap!
Ditulis oleh Lotuschef – 3 Agustus 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Mindset: It’s the Thought that Counts!
Mengacu ke rekaman ceramah dharma Mahaguru Lu:
- 2015年8月1日聖尊蓮生活佛盧勝彥開講「大圓滿九次第法」-西雅圖雷藏寺
- 08/01/2015 Nine Stages Dharma of the Great Perfection Dzogchen by Grand Master Lu
Yidam sesi puja bersama: Ksitigarbha Bodhisattva
Di dalam ceramahnya, Mahaguru Lu berbagi banyak konsep, dan mari kita membahas salah satu darinya! :)
Mungkin kita ingat insiden saat Mahaguru Lu sempat ingin menyelamatkan seekor ikan besar dengan membelinya, tapi harga yang dipatok oleh si penjual terlalu tinggi, jadi beliau tak ada pilihan lain dan terpaksa menyerah.
Di dalam pikirannya, beliau merasa gagal menyelamatkan ikan tersebut.
Namun Jin-mu menjelaskan kepadanya kalau ikan tersebut sebenarnya telah beliau selamatkan!
Demikianlah ternyata Niat-lah yang penting dan dianggap (masuk hitungan)!
Subhūti (Pali: सुभूति; Mandarin: 须菩提; pinyin: Xūpútí) adalah salah satu dari Sepuluh Maha Sravaka Buddha Shakyamuni, dan paling unggul dalam pemahaman akan kekosongan (shunyata).
Dalam Bahasa Prakrit dan Pali, namanya berarti “Keberadaan yang Baik” (su: "baik", bhūti: "keberadaan").
Terkadang juga dipanggil dengan “Tetua Subhuti” (Sthavira Subhuti). Ia juga satu generasi dengan para arhat termashyur seperti Śāriputra,Mahākāśyapa, Mahāmaudgalyāyana, Mahākātyāyana, dan Ānanda.
~~~~~~~~~~
Mahaguru Lu mengisahkan Subhuti yang dengan menggunakan pikirannya menyambut gurunya, Buddha Shakyamuni, namun tubuh fisiknya sebenarnya sedang berada di dalam gua yang sangat jauh.
Orang lain yang hadir secara fisik untuk menyambut Buddha Shakyamuni mengklaim bahwa dirinya-lah yang pertama dalam melakukannya, NAMUN Sang Buddha bilang bahwa dia bukanlah yang pertama.
Di sini Mahaguru Lu hendak mengilustrasikan teori “tiada halangan”.
Pikiran seseorang mampu melintasi segala alam semesta dan dharmadhatu!
Mungkin kamu ingat kalau aku pernah menulis tentang “Astral, tak mengenal halangan?”
Hahaha!
Tentunya membutuhkan pemahaman akan kekosongan?
Bagaimana halnya denganmu?
Dan kalau kembali mengingat beberapa tugas dengan topik “WAKTU”:
Di dalam pelatihan diri, Kapankah Waktu Menjadi Hal yang Penting?
Di dalam pelatihan diri, Kapankah Waktu BUKAN LAGI Hal yang Penting?
Kalau kamu punya pola pikir dan pengetahuan yang BENAR, pertanyaan-pertanyaan tersebut Bukanlah Halangan sama sekali dong?
Dengan Dharma Maha Kesempurnaan (Maha Paripurna) yang Mahaguru Lu ajarkan hingga saat ini, kiranya kamu bisa mendapatkan pendekatan yang lebih baik untuk menjawab pertanyaan tersebut?
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
lotuschef,
maha kesempurnaan,
maha paripurna,
niat,
pikiran,
subhuti,
tiada halangan
Wednesday, March 4, 2015
Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma
Dibagikan oleh Lotuschef – 23 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Bodhidharma's Wake-up Sermon
Di atas adalah sesi Puja Api Homa di Semarang, Indonesia.
Teman-teman sekalian juga bisa menerjemahkan sendiri dari versi Bahasa Mandarinnya [--- 达磨大师《悟性论 ---]
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
~~~~~~~~~~~
Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma
Diterjemahkan dari: Wake-up SermonIntisari dari Sang Jalan adalah melepaskan diri dari kemelekatan. Dan tujuan mereka yang melatihnya adalah terbebaskan dari segala macam rupa penampilan. Di dalam sutra dituliskan bahwa melepaskan diri dari kemelekatan adalah pencerahan, karena ia meniadakan rupa penampilan. Kebuddhaan berarti kesadaran. Orang-orang awam yang pikirannya tersadarkan akan mencari Jalan menuju Pencerahan, dan oleh karenanya disebut sebagai para Buddha. Demikian pula sutra-sutra juga menuliskan, “Mereka yang membebaskan dirinya dari segala macam rupa penampilan disebut sebagai Buddha.” Penampilan dari wujud rupa sebagai [bukan penampilan] tak bisa dilihat secara visual, ia hanya bisa dipahami lewat sarana kebijaksanaan. Siapapun yang mendengar dan mempercayai ajaran ini berarti menapaki Mahayana dan meninggalkan tiga alam. Ketiga alam mengacu pada Keserakahan, Amarah, dan Khayalan. Meninggalkan tiga alam tersebut berarti kembali dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan kepada Moralitas, Meditasi, dan Kebijaksanaan. Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak punya kodrat. Mereka bergantung pada badan jasmani. Dan mereka yang mampu merenung pasti akan melihat kalau kodrat dari Keserakahan, Amarah, dan Khayalan adalah kodrat Buddha. Di luar Keserakahan, Amarah, dan Khayalan tak ada kodrat Buddha lainnya. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha hanya akan menjadi Buddha saat hidup bersama dengan tiga racun, dan memelihara diri mereka dengan Dharma yang suci.” Ketiga racun tersebut adalah Keserakahan, Amarah, dan Khayalan.
Mahayana adalah yana (kendaraan) yang terbesar di antara semua yana. Ia adalah kendaraan para bodhisattva, yang menggunakan semua hal tanpa menggunakan apapun, dan yang bepergian sepanjang hari tanpa bepergian. Demikianlah kendaraan para Buddha.
Di dalam sutra dikatakan, “Tiada kendaraan adalah kendaraan dari para Buddha.”
Oleh karenanya siapapun yang merealisasikan bahwa enam indera tidaklah nyata, bahwa lima skandha (agregat) adalah fiksi, bahwa tak ada satupun dari mereka yang bisa ditemukan di bagian tubuh manapun, akan memahami bahasa para Buddha. Di dalam sutra tertulis, “Gua lima agregat adalah aula Zen. Terbukanya mata batin adalah pintu masuk Mahayana.” Memangnya masih kurang jelas?
Tak memikirkan tentang apapun adalah Zen. Begitu kamu tahu hal ini, maka berjalan, duduk, ataupun berbaring, semua yang kamu lakukan adalah Zen. Memahami kalau pikiran adalah kosong berarti melihat Sang Buddha. Para Buddha dari sepuluh penjuru tak punya pikiran. Demikianlah melihat [tiada pikiran] adalah melihat Sang Buddha.
Melepaskan diri tanpa menyesal adalah amal terbesar. Melampaui gerakan dan keheningan adalah meditasi tertinggi. Orang-orang awam terus bergerak, dan para Arhat berdiam diri. Namun meditasi tertinggi melampaui semua yang dilakukan orang awam maupun Arhat. Orang-orang yang mencapai pemahaman seperti ini akan membebaskan diri mereka dari semua rupa penampilan tanpa perlu bersusah payah, dan menyembuhkan penyakit tanpa perlu perawatan. Demikianlah kesaktian Zen yang agung.
Menggunakan pikiran untuk mencari realita adalah Khayal belaka. Tak menggunakan pikiran untuk mencari realita barulah Kesadaran. Membebaskan diri sendiri dari segala kata-kata berarti Pembebasan. Tak ternoda oleh debu sensasi inderawi berarti Menjaga Dharma. Melampaui kehidupan dan kematian berarti Meninggalkan rumah (ditahbiskan).
Tak menderita kehidupan lain berarti Mencapai Sang Jalan. Tak menciptakan khayalan berarti Pencerahan. Tak melibatkan diri dalam kebodohan berarti Kebijaksanaan. Tiada kekuatiran berarti Nirwana. Dan tiada rupa dari pikiran berarti Pantai seberang.
Saat kamu tersesat, pantai ini muncul. Saat kamu tersadarkan, pantainya tak ada. Orang-orang awam tinggal di pantai ini. Namun mereka yang menemukan kendaraan yang teragung dari segalanya tidaklah tinggal di pantai ini ataupun pantai seberang. Mereka mampu meninggalkan kedua pantai. Mereka yang melihat bahwa pantai yang satu berbeda dari pantai satunya lagi berarti belum paham akan Zen.
Khayalan berarti menjadi awam. Sedangkan kesadaran berarti Kebuddhaan. Mereka tak sama, dan juga tak berbeda. Itu hanyalah cara orang-orang membedakan antara khayalan dengan kesadaran. Saat kita tersesat, ada dunia di mana kita harus meloloskan diri darinya. Saat kita sadar, tak perlu meloloskan diri dari apapun.
Dari sudut Dharma yang Imparsial (setara dan tak bias), sebenarnya orang awam tiada bedanya dengan para suciwan. Di dalam sutra dikatakan bahwa Dharma Imparsial merupakan sesuatu yang tak bisa ditembusi oleh orang awam, dan tak bisa dilatih oleh para suciwan. Dharma Imparsial hanya dilatih oleh para maha bodhisattva dan buddha. Melihat kehidupan sebagai berbeda dari kematian, atau gerakan dianggap berbeda dari keheningan, berarti menjadi parsial. Menjadi imparsial berarti melihat penderitaan tiada bedanya dengan nirwana, karena kodrat dari keduanya adalah kosong. Membayangkan mereka mengakhiri penderitaan dan memasuki nirwana, para Arhat malah akhirnya terperangkap oleh nirwana. Namun para bodhisattva tahu bahwa penderitaan pada dasarnya kosong. Dan dengan berdiam di dalam kekosongan, mereka berdiam di dalam nirwana. Nirwana berarti tiada kelahiran dan tiada kematian. Ia melampaui lahir dan mati, dan melampaui nirwana juga. Saat pikiran berhenti bergerak, ia memasuki nirwana. Nirwana adalah pikiran yang kosong. Saat khayalan sudah tak ada lagi, para Buddha mencapai nirwana. Saat penderitaan sudah tak ada lagi, para bodhisattva memasuki pencerahan – suatu tempat tak berpenghuni yang terbebas dari keserakahan, amarah, ataupun khayalan. Keserakahan adalah alam nafsu, amarah adalah alam dengan wujud, dan khayalan adalah alam tanpa wujud. Saat pikiran terpicu, kamu memasuki tiga alam. Saat sebuah pikiran berakhir, kamu meninggalkan tiga alam. Awal munculnya ataupun berakhirnya ketiga alam, keberadaan ataupun ketidakberadaan segala hal, semuanya bergantung pada pikiran. Dan hal ini berlaku untuk semua hal, bahkan sampai ke benda mati seperti batu dan tongkat.
Siapapun yang mengerti kalau pikiran adalah sebuah fiksi (rekaan), dan tak ada satupun yang nyata, berarti tahu bahwa pikirannya sendiri bukan ada ataupun tiada. Orang-orang awam terus menciptakan pikiran, menganggapnya ia ada. Dan para Arhat terus meniadakan pikiran, menganggapnya tiada. Namun para bodhisattva dan budda tak menciptakan ataupun meniadakan pikiran. Inilah yang dimaksud sebagai “pikiran bukannya ada ataupun tiada” – dan hal ini dinamakan sebagai Jalan Tengah.
Kalau kamu memakai pikiranmu untuk mempelajari realita, kamu tak akan paham akan pikiranmu ataupun realita. Kalau kamu mempelajari realita tanpa menggunakan pikiranmu, kamu akan memahami keduanya. Mereka yang tak paham ya tak akan paham mengenai [pemahaman]. Dan mereka yang paham, akan paham [tidak memahami]. Orang-orang dengan visi penglihatan yang sejati akan tahu kalau pikiran itu kosong. Mereka melampaui pemahaman dan bukan pemahaman. Tiadanya baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] adalah pemahaman yang sesungguhnya. Dilihat dengan penglihatan sejati, wujud bukanlah sekedar wujud belaka, karena wujud bergantung pada pikiran. Dan pikiran juga bukan sekedar pikiran belaka, karena pikiran bergantung pada wujud. Pikiran dan wujud saling menciptakan dan meninggalkan. Yang [ada] akan muncul dan saling berhubungan dengan yang [tiada]. Dan yang [tiada] tak akan muncul dan berhubungan dengan yang [ada]. Demikianlah visi penglihatan yang sejati. Dengan menggunakan visi semacam ini, tiada yang [dilihat] dan tiada yang [tak dilihat]-nya. Penglihatan semacam ini menembus hingga sepuluh penjuru tanpa melihat: karena tiada yang dilihatnya; karena [tak melihat] berarti [melihat]; karena [melihat] berarti [tak melihat]. Yang dilihat orang awam adalah khayalan. Sedangkan visi penglihatan sejati terlepas dari melihat. Pikiran dan dunia saling bertolak belakang, dan visi penglihatan akan muncul saat mereka saling bertemu. Saat pikiranmu tak bergejolak di dalam, maka dunia tak akan muncul di luar. Saat dunia dan pikiran menjadi tembus pandang, inilah visi penglihatan yang sejati. Dan pemahaman semacam ini adalah pemahaman yang sejati.
Tak melihat apapun berarti melihat Sang Jalan, dan tak memahami apapun berarti memahami Dharma, karena melihat bukanlah [melihat] ataupun [tak melihat], dan berhubung pemahaman bukanlah [pemahaman] ataupun [bukan pemahaman]. Melihat tanpa melihat adalah visi yang sejati. Mehamami tanpa memahami adalah pemahaman yang sejati.
Visi yang sejati bukan sekedar melihat yang [melihat]. Ia juga melihat yang [tak melihat]. Dan pemahaman yang sejati bukanlah sekedar memahami [pemahaman]. Ia juga memahami yang [bukan pemahaman]. Kalau kamu paham semua hal, berarti kamu tak paham. Hanya saat kamu tak memahami sesuatupun, barulah dikatakan pemahaman yang sejati. Pemahaman adalah bukan [memahami] ataupun [tak memahami].
Di dalam sutra dikatakan, “Tidak melepaskan kebijaksanaan berarti kebodohan.” Jadi saat pikiran tak ada, baik [pemahaman] maupun [bukan pemahaman] menjadi benar. Saat pikiran ada, [pemahaman] dan [bukan pemahaman] menjadi salah semuanya. Saat kamu paham, realita bergantung kepadamu. Saat kamu tak paham, kamu bergantung pada realita. Saat realitas bergantung padamu, yang tak nyata akan menjadi nyata. Saat kamu bergantung pada realita, yang nyata akan menjadi salah. Saat kamu bergantung pada realita, semuanya menjadi salah. Saat realita bergantung padamu, semuanya menjadi benar. Demikianlah para suciwan tak menggunakan pikirannya untuk mencari realita, ataupun realita untuk mencari pikirannya, ataupun pikirannya untuk mencari pikirannya sendiri, ataupun realita untuk mencari realita. Pikirannya tak menimbulkan realita. Dan realita tak memicu pikirannya. Dan berhubung pikirannya dan realita sama-sama hening, maka ia selalu berada di dalam kondisi samadhi.
Saat pikiran awam muncul, Kebuddhaan menghilang. Saat pikiran awam menghilang, Kebuddhaan muncul. Saat pikiran muncul, realita menghilang. Saat pikiran menghilang, realita muncul. Siapapun yang tahu bahwa tak ada satupun hal yang bergantung pada apapun juga, ia telah menemukan Sang Jalan. Dan siapapun yang memahami bahwa pikiran tak bergantung pada apapun, ia selalu berada di dalam pencerahan.
Saat kamu tak paham, kamu salah. Saat kamu paham, kamu tak salah. Ini karena kodrat [salah] adalah kosong. Saat kamu tak paham, yang benar sepertinya salah. Saat kamu paham, yang salah tidaklah salah, karena [salah] itu tak ada.
Di dalam sutra dikatakan, “Tak ada satupun yang punya kodratnya sendiri.” Bertindaklah. Jangan bertanya. Karena begitu kamu bertanya, kamu salah. [Salah] adalah hasil dari bertanya. Saat kamu telah mencapai pemahaman seperti ini, segala tindakan yang salah dari berbagai kehidupan di masa lampaumu akan terhapuskan. Saat kamu tersesat, enam indera dan lima bayangan menjadi penyebab penderitaan dan kematian. Begitu kamu tersadarkan, enam indera dan lima bayangan menjadi bahan pencapaian nirwana dan keabadian.
Ia yang mencari Sang Jalan tak mencari di luar dirinya sendiri. Ia tahu kalau pikiran adalah Sang Jalan. Namun saat ia menemukan pikiran, ia tak menemukan apapun. Dan saat ia menemukan Sang Jalan, ia tak menemukan apapun. Bila kamu berpikir bisa menggunakan pikiran untuk menemukan Sang Jalan, berarti kamu tersesat. Saat kamu tersesat, Kebuddhaan akan [ada]. Saat kamu sadar, Kebudhaan menjadi [tak ada]. Ini karena kesadaran adalah Kebudhaan.
Kalau kamu mencari Sang Jalan, ia tak akan muncul hingga tubuhmu menghilang. Seperti mengupas kulit pohon dari sebuah pohon. Tubuh karma ini selalu mengalami perubahan. Ia tak punya realita yang pasti. Bersadhanalah sesuai pikiranmu. Jangan membenci hidup dan mati, atau mencintai hidup dan mati. Bebaskan segala pikiranmu dari khayalan dan di dalam kehidupan ini kamu akan menyaksikan awal dari nirwana, dan di dalam kematian kamu akan mengalami [kepastian akan tiada kelahiran kembali].
Melihat wujud tapi tak ternodai olehnya, atau mendengar suara namun tak ternodai olehnya, adalah Pembebasan. Mata yang tak melekat pada wujud adalah pintu gerbang Zen. Singkatnya, mereka yang melihat keberadaan dan kodrat fenomena tanpa melekat kepadanya akan Terbebaskan. Mereka yang melihat wujud luaran fenomena malah terpenjara olehnya. Tidak menjadi subjek dari penderitaan adalah yang dimaksud sebagai Pembebasan. Tak ada pembebasan selain itu. Kalau kamu tahu cara melihat wujud, maka wujud tak akan memicu pikiran, dan pikiran tak akan memunculkan wujud. Baik wujud maupun pikiran suci adanya.
Kalau tak ada khayalan, maka pikiran adalah tanah suci para Buddha. Saat ada khayalan, pikiran menjadi neraka. Orang-orang awam menciptakan khayalan. Dan dengan [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di neraka. Para bodhisattva menembusi semua khayalan. Dan dengan tak [menggunakan pikiran] untuk [melahirkan pikiran], mereka selalu menemukan diri mereka di tanah suci para Buddha. Kalau kamu tak [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], semua kondisi pikiranmu adalah kosong, dan tiap pikiran menjadi tenang. Kamu melanglang menyusuri tanah-tanah suci para Buddha. Kalau kamu [menggunakan pikiran]-mu untuk [menciptakan pikiran], setiap kondisi pikiranmu akan terganggu dan setiap pikiranmu akan selalu bergerak. Demikianlah kamu melanglang dari satu neraka ke neraka lainnya. Saat pikiran muncul, maka muncul juga yang namanya Karma Baik dan Karma Buruk, Surga dan Neraka. Saat tak ada pikiran yang muncul, maka tak ada Karma Baik ataupun Karma Buruk, tak ada Surga ataupun Neraka.
Tubuh ini bukan [ada] ataupun [tiada]. Oleh karenanya, [keberadaan] sebagai seorang awam dan [ketidakberadaan] sebagai seorang suciwan, adalah konsep-konsep yang seorang suciwan tak mengurusinya. Hatinya kosong dan luas bagaikan langit. Dari sanalah baru akan menyaksikan Sang Jalan. Ia melampaui para Arhat dan orang-orang awam.
Saat pikiran mencapai nirwana, kamu tak melihat nirwana, karena pikiran adalah nirwana. Kalau kamu melihat nirwana di suatu tempat di luar pikiran, berarti kamu menyesatkan dirimu sendiri.
Segala bentuk penderitaan merupakan benih buddha, karena penderitaan mendorong orang-orang awam untuk mencari kebijaksanaan. Kamu tak bisa bilang bahwa penderitaan merupakan Kebuddhaan. Tubuh dan pikiranmu adalah lahannya. Penderitaan adalah benihnya, kebijaksanaan merupakan tunasnya, dan Kebuddhaan adalah butiran gandumnya. Sang Buddha di dalam pikiran adalah bagaikan sebuah wewangian di dalam pohon. Ia datang dari pikiran yang bebas dari penderitaan, seperti wewangian yang menyebar dari pohon yang tak lapuk/membusuk. Jadi tak ada wewangian tanpa si pohon, dan tiada Buddha tanpa sang pikiran. Kalau ada wewangian tanpa sebuah pohon, berarti itu jenis wewangian lain. Kalau ada seorang Buddha tanpa pikiranmu, itu adalah Buddha lain.
Saat tiga racun ada di dalam pikiranmu, kamu tinggal di tanah yang kotor.
Saat tiga racun menghilang dari pikiranmu, kamu tinggal di tanah suci.
Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “kalau kamu mengisi sepetak tanah dengan noda dan kotoran, tak akan ada Buddha yang muncul.” Noda dan kotoran mengacu pada racun-racun. Buddha mengacu pada pikiran yang suci dan tersadarkan. Tiada bahasa yang bukan Dharma.
Seharian penuh berbicara terus tanpa mengatakan sepatah katapun adalah Sang Jalan.
Seharian penuh berhening dan masih mengatakan sesuatu berarti bukan Sang Jalan.
Jadi ucapan seorang Tathagata tak bergantung pada keheningan, ataupun keheningannya bergantung pada ucapan, ataupun ucapannya terpisah dari keheningannya. Mereka yang memahami baik ucapan maupun keheningan berarti berada di dalam samadhi. Kalau kamu bicara saat kamu tahu, Ucapanmu adalah bebas. Kalau kamu diam saat kamu tak tahu, diam-mu itu terikat. Bila ucapan tak melekat pada wujud, maka ia bebas. Lagipula kemelekatan tak ada hubungannya dengan bahasa. Realita tidaklah tinggi ataupun rendah. Kalau kamu melihat tinggi ataupun rendah, maka itu bukan yang sejati. Rakit tidaklah nyata, namun rakit (yang menyeberangkan) penumpang adalah nyata. Orang yang menaiki rakit seperti itu dapat menyeberangi sesuatu yang tak nyata. Demikianlah kenapa hal itu nyata.
Menurut dunia, ada yang namanya pria dan wanita, kaya dan miskin. Namun menurut Sang Jalan, tak ada pria ataupun wanita, tak ada kaya ataupun miskin. Saat seorang dewi merealisasikan Sang Jalan, ia tak merubah jenis kelaminnya. Saat bocah istal (pengurus kandang kuda) tersadarkan akan Kebenaran Sejati, ia tak merubah statusnya. Bebas dari jenis kelamin dan status, mereka punya tampilan mendasar yang sama. Sang dewi selama dua belas tahun mencari sisi kewanitaannya tanpa berhasil sedikitpun. Demikian pula bila menghabiskan dua belas tahun untuk mencari sisi laki-lakinya juga tak akan berbuah. Dua belas tahun mengacu pada [dua belas pintu masuk]. Maka tanpa pikiran, tiada Buddha. Tanpa Buddha, juga tiada pikiran.
*) Dua belas pintu masuk adalah: 6 organ inderawi (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) + 6 objek inderawi (pemandangan, suara, bau, rasa, sentuhan, dan pikiran).
Sama halnya, tanpa air maka tak ada es, dan tanpa es maka tak ada air. Siapapun yang bicara mengenai [meninggalkan pikiran] tak akan pergi jauh ke mana-mana. Janganlah melekat pada rupa penampilan pikiran. Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu tak melihat rupa penampilan, kamu melihat Sang Buddha.” Itulah yang dimaksud terbebas dari rupa penampilan pikiran. Tanpa [pikiran] maka tak ada Buddha – berarti Sang Buddha muncul dari pikiran. Pikiran melahirkan Buddha. Namun meski Buddha lahir dari pikiran, pikiran tak datang dari Sang Buddha, seperti ikan yang datang dari air, tapi air bukan datang dari ikan. Siapapun yang ingin melihat ikan akan melihat air sebelum melihat ikannya. Dan siapapun yang ingin melihat Buddha, akan melihat pikirannya sebelum ia melihat Sang Buddha. Begitu kamu melihat si ikan, kamu melupakan airnya. Begitu pula saat kamu telah melihat Sang Buddha, kamu melupakan pikiran. Kalau kamu tak melupakan pikiran, maka pikiran malah akan membingungkanmu, seperti air yang akan membingungkanmu bila kamu tak melupakannya.
Fana dan Kebuddhaan itu seperti air dan es. Menderita tiga racun berarti fana. Sedangkan tersucikan oleh tiga pelepasan adalah Kebuddhaan. Yang membeku menjadi es di musim dingin akan meleleh menjadi air di musim panas. Hilangkan es maka tak akan ada air lagi. Menyingkirkan kefanaan maka tak ada lagi Kebuddhaan. Sudah jelas bahwa kodrat es sama dengan kodrat air. Dan kodrat air sama dengan kodrat es. Kodrat kefanaan sama dengan kodrat Kebuddhaan. Kefanaan dan Kebuddhaan punya kodrat yang sama, sama seperti Wuto dan Futzu (ket: tanaman Aconitum carmichaelii) punya akar yang sama tapi berbeda musim. Hanya karena khayalan perbedaan saja sehingga kita punya kata-kata [Kefanaan] dan [Kebuddhaan]. Saat seekor ular menjadi naga, ia tak berganti kulit. Dan saat seorang awam menjadi suciwan, ia tak berganti wajah. Ia tahu akan pikirannya sendiri melalui kebijaksanaan batinnya, dan mengurus/memelihara tubuhnya lewat disiplin eksternal.
Orang-orang awam menyelamatkan para Buddha, dan sebaliknya para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Demikianlah yang dimaksud sebagai kesetaraan (imparsial). Orang awam menyelamatkan Buddha karena penderitaan menciptakan kesadaran. Sedangkan Buddha menyelamatkan orang awam karena kesadaran menghilangkan penderitaan. Penderitaan selalu ada, tapi kesadaran juga selalu ada. Kalau bukan karena penderitaan, maka tak ada bahan untuk menciptakan kesadaran. Dan kalau bukan karena kesadaran, maka tak ada bahan untuk menghilangkan penderitaan. Saat kamu tersesatkan, para Buddha menyelamatkan orang-orang awam. Saat kamu tersadarkan, orang-orang awam menyelamatkan para Buddha. Para Buddha tak menjadi Buddha begitu saja. Mereka diselamatkan oleh orang-orang awam. Para Buddha menganggap khayalan sebagai ayah mereka, dan keserakahan sebagai ibu mereka. Khayalan dan keserakahan adalah nama lain dari Kefanaan. Khayalan dan Kefanaan bagaikan tangan kiri dan tangan kanan. Tak ada bedanya.
Saat kamu tersesat, kamu berada di pantai ini. Saat kamu tersadarkan, kamu berada di pantai seberang. Namun begitu kamu tahu kalau pikiranmu kosong dan kamu tak melihat rupa penampilan, kamu telah melampaui khayalan dan kesadaran. Dan begitu kamu telah melampaui kedua hal tersebut, pantai seberang sudah tak ada lagi. Tathagata bukan berada di pantai ini ataupun di pantai seberang. Ia juga tak berada di tengah-tengahnya. Para Arhat berada di tengah-tengahnya dan orang-orang awam di pantai ini. Kebuddhaan ada di pantai seberang.
Para Buddha punya tiga tubuh: tubuh transformasi (nirmanakaya), tubuh pahala (sambhogakaya), dan tubuh sejati (dharmakaya). Tubuh transformasi juga dinamakan tubuh inkarnasi. Tubuh Transformasi muncul saat orang-orang awam melakukan perbuatan baik, Tubuh Pahala muncul di saat mereka melatih kebijaksanaan, dan Tubuh Sejati muncul saat mereka telah sadar akan keagungan yang maha mulia. Tubuh Transformasi adalah tubuh yang kamu lihat terbang di seluruh penjuru untuk menyelamatkan para insan di manapun berada. Tubuh Pahala mengakhiri segala keraguan. Pencerahan Agung yang muncul di Himalaya tiba-tiba menjadi nyata. Tubuh Sejati tak melakukan dan tak mengatakan apapun. Ia sepenuhnya hening. Namun sebenarnya tak ada satupun tubuh buddha, apalagi sampai menjadi tiga.
Pembahasan mengenai tiga tubuh ini hanya berdasarkan pemahaman manusia saja, yang bisa saja dangkal, sedang, ataupun mendalam.
Orang-orang dengan pemahaman yang dangkal akan membayangkan mereka mengumpulkan berkat dan salah menganggap Tubuh Transformasi sebagai Sang Buddha.
Mereka dengan pemahaman yang sedang akan membayangkan mereka sedang mengakhiri penderitaan dan salah menganggap Tubuh Pahala sebagai Sang Buddha.
Sedangkan mereka dengan pemahaman mendalam membayangkan mereka sedang mengalami Kebuddhaan dan salah menganggap Tubuh Sejati sebagai Sang Buddha.
Namun mereka dengan pemahaman paling mendalam akan melihat ke dalam dan tak terpengaruh oleh apapun juga.
Berhubung pikiran yang jernih adalah Sang Buddha, mereka mendapatkan pemahaman seorang Buddha tanpa menggunakan pikiran. Tiga tubuh, seperti semua hal lainnya, tak dapat dicapai dan tak bisa digambarkan pula.
Pikiran yang leluasa akan mencapai Sang Jalan. Demikianlah di dalam sutra dikatakan, “Para Buddha tak membabarkan Dharma. Mereka tak menyelamatkan para insan awam. Dan mereka tak mengalami Kebuddhaan.” Inilah yang kumaksudkan. Para insan menciptakan karma, namun karma tak menciptakan para insan. Mereka menciptakan karma di kehidupan ini dan menerima balasannya di kehidupan selanjutnya. Mereka tak bisa lari. Hanya ia yang sempurna yang tak menciptakan karma di kehidupan ini dan tak menerima balasannya juga. Di dalam sutra di katakan, “Ia yang tak menciptakan karma akan mendapatkan Dharma.” Ini bukan omong kosong belaka. Kamu bisa menciptakan karma, tapi kamu tak bisa menciptakan seorang manusia. Saat kamu menciptakan karma, kamu terlahir kembali bersama dengan karmamu. Saat kamu tak menciptakan karma, kamu menghilang bersama dengan karmamu. Demikianlah, karma bergantung pada individu, dan individu bergantung pada karma, bila seorang individu tak menciptakan karma, maka karma tak akan berpegang kepadanya. Dengan cara yang sama, “Seseorang bisa memperbesar Sang Jalan, namun Sang Jalan tak bisa memperbesar seseorang.”
Orang-orang awam terus menciptakan karma dan dengan salahnya bersikeras kalau tak ada retribusi. Tapi bisakah mereka menyangkal adanya penderitaan? Bisakah mereka menyangkal apa yang kondisi pikiran saat ini tabur maka kondisi pikiran selanjutnya akan tuai? Bagaimana caranya mereka meloloskan diri? Namun bila kondisi pikiran sekarang tak menabur apapun, kondisi pikiran selanjutnya tak akan menuai apapun. Jangan sampai salah memahami karma.
Di dalam sutra dikatakan, “Meski percaya kepada para Buddha, orang-orang membayangkan kalau para Buddha yang melatih penyangkalan diri (menjauhi kesenangan) bukanlah umat Buddha. Sama halnya dengan mereka yang membayangkan kalau para Buddha akan menerima balasan kekayaan ataupun kemiskinan. Mereka ini para icchantika. Mereka tak mampu percaya.” Ia yang paham akan ajaran para suciwan adalah seorang suciwan. Ia yang paham akan ajaran orang-orang awam adalah orang awam. Seorang awam yang mampu melepaskan ajaran awam dan mengikuti ajaran suciwan akan menjadi seorang suciwan. Namun orang-orang bodoh di dunia ini suka mencari suciwan di luaran sana. Mereka tak percaya kalau kebijaksanaan pikiran mereka sendiri adalah Sang Suciwan. Di dalam sutra dikatakan, “Kepada orang-orang yang tak punya pemahaman, jangan babarkan sutra ini.” Dan dikatakan juga, “Pikiran adalah ajaran.” Namun orang-orang yang tak punya pemahaman tak percaya kalau pikiran mereka sendiri atau dengan memahami ajaran ini mereka bisa menjadi suciwan. Mereka lebih suka mencari pengetahuan di luaran sana dan mendamba hal-hal di angkasa, patung/citra (sesuatu yang menyerupai) buddha, sinar, dupa, dan warna. Mereka termakan umpan kepalsuan dan pikirannya tersesat sampai jadi gila.
Di dalam sutra dikatakan, “Saat kamu melihat semua [rupa penampilan] sebagai bukan [rupa penampilan], kamu melihat Tathagata.” Pintu menuju Kebenaran Sejati banyaknya tak terhingga, namun mereka semua datang dari pikiran. Saat rupa penampilan pikiran menjadi setransparan angkasa, mereka hilang semuanya. Penderitaan kita yang tiada berakhir adalah akar dari segala penyakit. Saat orang-orang awam masih hidup, mereka kuatir akan kematian. Saat mereka kenyang, mereka kuatir akan kelaparan. Mereka selalu berada dalam kondisi Ketidakpastian yang Besar. Namun para suciwan tak mempertimbangkan masa lalu. Mereka juga tak kuatir akan masa depan. Juga tak melekat pada saat ini. Dan dari waktu ke waktu mereka selalu mengikuti Sang Jalan. Kalau kamu belum sadar akan kebenaran agung ini, lebih baik cari seorang guru di atas bumi ini atau di dalam surga. Jangan menumpuk kekuranganmu sendiri.
[--- Akhir dari Ceramah Penyadaran oleh Bodhidharma ---]
~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Nasihat Bagus lagi dari Bodhidharma, Sang Patriak Zen! Sungguh bersyukur kepada para penerjemah ceramah ini!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Friday, October 3, 2014
Karma – Ketertarikan yang Membawa Maut
Ditulis oleh Lotuschef – 3 Oktober 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Karma – Lethal Attraction 业-桃花
Dalam Bahasa Mandarin: 业-桃花 Karma – Lethal Attraction
Foto-foto yang dipajang di atas diambil dari salah satu sesi puja api homa di sebuah taman atap, Semarang, Indonesia.
Kurukulle (Tara Merah) menjadi salah satu Yidam Tamunya.
Cukup manggala!
Di sana melatih sadhana “Afinitas Besar”!
---
1. Baru-baru ini bertemu dengan seorang pria muda yang punya [mata Bunga Persik] – jenis mata yang mampu menarik lawan jenis namun mematikan!
Sayangnya, orang ini punya wajah yang melankolis dan menderita, nampak menyedihkan. Ia mampu menarik lawan jenis namun hubungan asmaranya tak akan berlangsung lama. Selalu saja cintanya diputus!
2. LY bunuh diri saat cintanya ditolak oleh kekasihnya. Mahaguru-lah yang dengan sepenuh tenaga menariknya kembali ke dunia. Ia seorang dosen dan juga professor!
3. Seorang mahasiswa, cintanya selalu diputus oleh para wanita.
Setiap kali terjadi, rasanya seperti mau mati saja!
Lalu dia bertanya: Reverend, kenapa cintaku selalu putus di tengah jalan?
Kujawab: Kamu memilih orang, orang-orang juga punya HAK untuk memilihmu atau orang lain dong.
Kusarankan dia untuk merenung: Sebelum ini, saat dia tak berhubungan dengan wanita itu, bagaimana dia bisa (tetap bertahan) hidup.
4. Seseorang datang untuk sesi konsultasi pribadi.
Ia menikah dengan seorang janda.
Di tempat kerjanya, seorang rekan kerja tertarik untuk menjalin hubungan asmara dengannya.
Orang yang berkonsultasi ini punya [Mata Bunga Persik].
Masalahnya semua wanita, baik yang di rumah maupun yang di luar sana, semuanya datang untuk [Menagih Hutang Karma] darinya.
“Menyentuh” wanita manapun di luaran sana akan membawa maut baginya.
Semua penagih hutang karmanya dalam tubuh wanita sudah mengantri untuk menagih darinya.
Orang ini benar-benar menumpuk banyak [Hutang Cinta] dari berbagai kehidupan lampaunya!
Tak sampai 3 bulan sejak sesi konsultasi tadi, ia meninggal karena ditabrak truk barang!
Jelas sekali orang ini tak mendengarkan nasihatku.
---
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Tahukah bahwa Hui Neng, Sang Patriak Zen ke-6, adalah orang yang buta huruf?
Begitu seseorang mendapatkan Pengetahuan, bila tak di-[Gunakan], maka jadi [Nol] – tak berguna.
Hahaha!
Di dalam Buddha Dharma, ada berbagai “Penawar Racun” atau Metode Kemudahan, yang dirancang untuk menyelesaikan berbagai persoalan duniawi.
Harus [Digunakan]!
[Merelakan] adalah cara Menggunakannya dengan baik!
Di dunia saha ini, bila kamu bisa [Memahami] bahwa semua hal hanyalah bagaikan Gelembung-gelembung Mimpi, maka segala Kemuliaan atau Kementerengan yang cuman sesaat ini akan [Lewat] semuanya.
Itulah yang disebut sebagai [Memahami] [Ketidakkekalan]!
Tahu cara [Merelakan], maka kamu akan mendapatkan [Tubuh – Ucapan – Pikiran] yang [Suci].
Demikianlah Mahaguru Lu mengatakan: Saat [Tubuh – Ucapan – Pikiran]-mu bersih atau suci, maka kamu adalah seorang Buddha.
Dengan kemelekatan dan belitan yang tiada habisnya ini!
Dan kamu sendiri tak bisa lepas darinya!
Bertanya: Bagaimana caranya kamu bisa melatih diri untuk berhasil Beryoga dengan Yidam?
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- Lotuschef Bermain-main – Kesetaraan & Mitosnya
- Perjumpaan yang Menarik
- Lebih Menderita berarti Lebih Banyak Berkat!
- Kembali ke Dasar – Guru Yoga [2]
- Kebijaksanaan yang nampak gila – 失魂 Roh yang hilang
Labels:
asmara,
Bahasa Indonesia,
cinta,
Karma,
ketertarikan,
ketidakkekalan,
lotuschef,
mata bunga persik,
maut,
mematikan,
merelakan,
pikiran,
suci,
tubuh,
ucapan,
yidam,
Yoga
Tuesday, August 12, 2014
Rahasia Setan
Karya tulis Buddha Hidup Lian Sheng, Lu Sheng Yan
Diambil dari wtbnnews.org – 妖魔」的密密密
Disunting oleh Lama Lotuschef – 17 Mei 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Demon’s Secret
Aku pergi ke “Rimba Kelam” di Neraka dan tinggal di rumah sebuah keluarga hantu.
Keluarga hantu ini terus-menerus diganggu oleh para setan.
Aku bertanya kepada Petugas Neraka:
“Keluarga ini khan juga dari kelompok hantu, koq masih bisa diganggu?” tanyaku keheranan.
Petugas Neraka menimpali:
“Di dunia ini, ada sekelompok manusia yang hati dan pikirannya tercemar, tapi mereka belum sampai melakukan kejahatan skala besar. Setelah meninggal dunia, mereka akan jatuh ke Neraka ‘Rimba Kelam’ ini dan akan diganggu oleh para setan.”
Aku keheranan:
“Hanya karena pikirannya tercemar, mereka bisa diganggu. Aneh sekali!”
Si petugas mengatakan:
“Saat hati dan pikiran melenceng, maka para setan akan datang untuk merasuki. Ya beginilah adanya.”
Aku bertanya lebih lanjut:
“Setan-setan itu datang dari mana? Dari Neraka?”
Si petugas menjawabku:
“Para setan datang dari hati sendiri. Justru hati sendirilah yang mengundang para setan dari Rimba Kelam untuk muncul.”
Malam hari itu, aku tinggal di dalam Rimba Kelam.
Para setan tak muncul di malam itu.
Tuan rumah sangat penasaran karena biasanya para setan selalu muncul tiap malam untuk mengganggu. Kini ada tamu yang tinggal di rumahnya, lalu setan tak muncul.
Mereka bertanya kepada Petugas Neraka:
“Kenapa para setan tak muncul saat ada tamu yang tinggal di sini?”
Ia menimpalinya:
“Tamu tersebut bukan tamu sembarangan. Para setan tak akan berani datang mendekat!
Si hantu bertanya:
“Jadi dia tamu apa?”
“Tathagata Utusan Tertinggi nan Sangat Rahasia yang Memantau Alam Yin dan Penghuni Neraka.”
Si hantu kagetnya bukan kepalang:
“Tathagata tinggal di dalam rumahku?”
Saat aku tinggal di dalam rumahnya, para setan tak ada yang berani datang.
Tapi saat aku pergi, para setan datang lagi.
Akhirnya, si hantu memohon kepadaku untuk menuliskan sebuah kata untuk ditempel di dalam rumahnya.
Aku berpikir sejenak.
Jadi aku menuliskan “Melihat Fu Ini Sama Artinya Dengan Melihat Orang Aslinya.”
Ditandatangani oleh : “Tathagata Utusan Tertinggi nan Sangat Rahasia yang Memantau Alam Yin dan Penghuni Neraka.”
Segera saja tak ada setan yang berani mengganggu lagi.
Semua keluarga hantu di Rimba Kelam mendengar kabar ini dan mereka datang kepadaku serta memohonku untuk menggambar fu untuk mereka.
Kugambarkan satu demi satu untuk mereka semua.
Si Petugas Neraka berkata:
“Semua setan, semua mara, muncul sebagai akibat dari hati manusia yang melenceng. Hal tersebut membuka jalan bagi mereka untuk merasuki dan menganggu. Bilamana seseorang berkelakuan saleh, lurus, suci dan bersinar cemerlang, para dewata sudah pasti akan melindunginya, hingga tak ada setan yang berani datang dan menganggu. Inilah yang dinamakan ‘Yang sesat tak akan bisa mengalahkan yang saleh’, oleh karenanya saat para setan melihat fu dari Mahaguru Lu di sini, semuanya kabur cepat-cepat.
Aku memimpin sebuah sesi upacara dharma di Rimba Kelam.
Aku mengajarkan para hantu sadhana Sembilan Langkah Pernafasan Buddha:
- Sembilan Langkah Pernafasan Buddha adalah fondasi praktik Tantrayana yang punya arti sangat penting.
- Dengan memfokuskan pikiran pada pernafasan, lubang hidung kiri, lubang hidung kanan, kedua lubang hidung, pernafasan dilakukan dalam sembilan langkah.
- Menghirup karma baik berwarna putih, menghembuskan karma buruk berwarna hitam.
- Setelah melalui sembilan langkah Pertukaran ini, maka pikiran si praktisi akan terfokus pada Tu Na (Tu: menghirup; Na: menghembus) dan menghentikan semua pikiran yang jahat/tak baik.
- Semua Energi Vital terfokuskan sepenuhnya menjadi Satu.
- Pada kenyataannya, Dengan Satu Pikiran si praktisi bisa menghancurkan semua pikiran jahat/buruk.
- Oleh karenanya ia akan mampu memasuki/mencapai meditasi kedamaian.
- Dan dengan ini membangun fondasi utama Meditasi Zen.
Aku mengajarkan semua hantu di Rimba Kelam untuk melatih Sembilan Langkah Pernafasan Buddha. Hanya dengan melatihnya selama setengah tahun hingga satu tahun penuh, semua pikiran yang jahat dan melenceng hilang sepenuhnya. Para hantu kini tak lagi takut akan para setan dari Rimba Kelam.
Rupanya dikabarkan bahwa:
Para hantu telah berhasil keluar dari Neraka. Panjang umur. Panjang umur.
[---]
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom.
Related Posts:
- Dharma Tantra yang Menakjubkan [1]
- Raja Setan Mulut Berapi
- Menangkap Empat Cacing Parasit [抓出四条蛔虫]
- Mengenai Perbedaan Kekuatan
- Raja Setan Bermuka Terbakar Mengatakan Ini
Labels:
artikel mahaguru,
Bahasa Indonesia,
hantu,
hati,
lotuschef,
neraka,
pikiran,
sembilan langkah pernafasan,
setan
Saturday, July 19, 2014
Tugas
Ditulis oleh Lotuschef – 18 July 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Assignment 作业
Pure Karma mencetak kertas sembahyang ini dalam dua sisi.
Satu sisi dengan mantra Usnisa Wijaya dan sisi satunya lagi dengan mandala mantra vajra 6 alam.
Untuk Puja Api Homa, kertas tersebut dipakai untuk melilit potongan kayu cendana, seperti gambar di atas.
Untuk keperluan lain, digunakan juga untuk melilit Sertifikat Sarana.
Dan tugas kali ini:
Kertas Sembahyang Mantra Vajra yang Membebaskan Enam Alam [1]
Kertas Sembahyang Mantra Vajra yang Membebaskan Enam Alam [2]
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Bacalah kedua artikel di atas dan beritahukan pandanganmu mengenai email BB kepadaku dalam kata-katamu sendiri.
Kalau kamu memang ingin belajar, maka kerjakanlah tugas rumah ini.
Pikirkan baik-baik sebelum kamu mengajukan pertanyaan lagi!
Salam dan marilah bermain-main.
---
Mengutip dari obrolan:
[--- PK: Dicoba lagi ya. :)
Sayangku, kamu belum mengerjakannya dengan baik.
Hehe! Bacalah ulang email BB dan pikirkan sekali lagi.
Salam.
AA: Ok fashi, menyenangkan, aku menemukan beberapa petunjuk hehehe :)
PK: Hehe!
Mahaguru bilang untuk melatih kalian semua dalam hal Pola Pikir juga!
Kebijaksanaan akan muncul dari pikiran dan Bodhicitta yang dilatih dengan baik! :)
Dan aku rela mengajar kalian semua tanpa meminta uang.
Jadi mereka yang bahkan tak ingin mencobanya, wah sayang sekali!
Mintalah W dan J untuk turut mencobanya juga!
Yang aku bagikan kepadamu untuk tugas ini tak boleh dibagikan dengan orang lain.
Salam dan ayo bermain-main!
Bukankah pembelajaran interaktif seperti ini sungguh bagus?
AA: Ya, benar. Bisa belajar cara melihat dari sisi lain hahaha.
Kasus yang bagus buat tugas kita :)
Ok, aku akan beritahu W dan J untuk turut mencoba dan belajar.
Selamat malam, fashi. ---]
[--- PK ke BB: Sayangku, jawablah semua pertanyaan di sana terlebih dulu sebelum kamu mengirimkan email dengan topik ini kepadaku!
Salam.
BB: Ok, aku coba lagi ya.
PK: Masih belum benar.
Petunjuk dariku adalah Pikirkan: tubuh, ucapan, dan pikiran!
Kamu bisa coba lagi.
BB: :D ya lor, sementara ini itu panah terbaik dariku dan masih belum kena. ---]
[--- PK ke CC: Hi sayang, beberapa sudah benar.
Tapi berikut adalah beberapa pertanyaan yang kamu belum pikirkan: -----
Hahaha!
Pikirkan lagi dan coba jawablah pertanyaan di artikel ke-[2].
Salam. ---]
[--- DD: Hi Fashi, mohon lihat jawaban-jawabanku di bawah ini. Terima kasih!
PK ke DD: Bukan. Yang ini lebih mendalam lagi dan juga diambil dari emailnya!
Kamu tak menggunakan apa yang kubagikan lewat artikel-artikelku, dan juga yang kuajarkan kepada kalian semua secara privat.
Lihatlah dari berbagai sudut pandang daripada yang kamu lakukan sekarang.
Pikirkan: Tubuh, Ucapan, Pikiran. ---]
[--- PK ke EE: 这点也不明确!再想想!
这样有来有往才真正的用脑,学思维!
再用心一点吧!
请不要给任何看我的评语!
EE: Terima kasih Fashi, aku akan diam dan mengerjakannya kembali.
Salam. ---]
[--- FF: Aku juga ingin turut main-main dan mengirimkan tugasku.
PK: Pasti, ganti sudut pandangnya dan kali ini cobalah lebih definitif. Mahaguru bilang bahwa Pencerahan adalah Tunggal nan Absolut! ---]
[--- PK ke GG: Tak banyak yang bisa melakukan 敬师 重法 实修!
Cobalah pikirkan, dari Ketiga ini, kamu harus meleburnya ke dalam kehidupanmu dan menjadikannya sebagai kebiasaanmu hingga mereka layaknya udara yang kau hirup! :)
Lakukan salah satu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di artikel ke-[2] ya.
Ayo bermain-main! ---]
[--- HH: Fashi... ini PR-nya ^_^
PK ke HH: Hahaha!
Beberapa sudah benar tapi masih harus berpikir lebih dalam. :)
Coba lagi! ---]
---
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Mau turut serta mencobanya? :)
Batas akhir mengumpulkan tugas ini adalah Senin, 12 Juli 2014, jam 12 siang.
Ingatlah: Bila kamu ingin belajar, maka kamu harus mau berusaha. :)
Buang jauh-jauh: Ego, Kesombongan, Muka, karena mereka adalah racun yang Menghalangi kemajuan pelatihan dirimu.
Salam dan ayo bersenang-senang!
Aku hanya Menolong mereka yang mau Menolong diri mereka sendiri! :)
Ingatlah: Tubuh, Ucapan, dan Pikiran. Dan jangan tinggalkan rumah tanpa membawa Empat Kebenaran Mulia juga!
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
ego,
kesombongan,
lotuschef,
muka,
pekerjaan rumah,
pikiran,
tubuh,
tugas,
ucapan
Friday, July 18, 2014
Kertas Sembahyang Mantra Vajra yang Membebaskan Enam Alam [2]
Ditulis oleh Lotuschef – 16 Juli 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Vajra Six Realms Liberating Mantra Joss Paper [2]
Baca juga: Kertas Sembahyang Mantra Vajra yang Membebaskan Enam Alam [1]
Bertanya:
- Kenapa email dari BB tergolong permohonan pribadi untuk mencari pengetahuan sehingga dikenakan biaya?
- Kenapa biaya yang dikenakan dialihkan ke Kegiatan Amal yang hanya disetujui oleh Pure Karma saja?
- Kenapa jawaban atas email pendek tersebut ditangguhkan oleh Pure Karma?
- Kenapa mengarahkan BB ke Guru Akarnya sendiri?
- Kenapa email tersebut ia layangkan ke gmail Lama Lotuschef, bukannya ke email resmi Pure Karma?
- Lama Lotuschef melihat bahwa orang tersebut saat ini belum cocok untuk diedukasi. Kenapa kiranya?
---
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Mohon kirimkan pendapatmu ke purekarmaservices@gmail.com.
Kamu juga boleh mengirimkannya dalam Bahasa Indonesia.
Namun ingatlah selalu bahwa Pure Karma tak berkewajiban untuk menjawab semua pertanyaan yang kamu layangkan!
Pikirkanlah tentang: Tubuh – Ucapan – Pikiran.
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
guru akar,
kertas sembahyang,
lotuschef,
pikiran,
tubuh,
ucapan,
vajra enam alam
Sunday, May 4, 2014
Lotuschef Bermain-main – Wajah-wajah
Ditulis oleh Lotuschef – 28 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef at Play – Faces 脸孔
Berikut ini dicuplik dari upacara di Vajragarbha Taiwan, 26 April 2014 lalu.
2014年4月26日聖尊蓮生活佛盧勝彥主持「高王觀世音菩薩」護摩大法會+開示-台灣雷藏寺
04/26/2014 Nine Stages Dharma of the Great Perfection Dzogchen by Grand Master Lu-Taiwan Lei Tsang Temple
Amat-amati juga foto-foto candid dari orang-orang di sekitarmu. :)
Beberapa dari mereka akan menunjukkan Wajah ASLINYA kepadamu bila penglihatanmu cukup Tajam!
Ada orang yang mengatakan kalau di sekitar Guru bagaikan tempat berkumpulnya binatang, seperti kebun binatang kiranya.
Hahaha! Di sini mau menyampaikan apa?
Bahwa semua Pengaruh Karma Pribadimu itu terukir dengan jelas di wajahmu!
Di artikel-artikel yang kutulis baru-baru ini tentang “Pertemuan Menarik”, ada beberapa wajah yang aku sendiri tak ingin “melihatnya” meski hanya sebentar saja!
Tapi Guru bilang “lihatlah baik-baik”, jadi aku melaksanakan seperti yang beliau inginkan.
Lalu ada pula orang-orang yang “memaksa” menyodorkan foto-foto keluarga atau teman-teman mereka supaya “kulihat”!
Mohon maaf sekali bila kamu berpikir dengan memaksaku melihat foto-foto yang disodorkan di hadapanku adalah hal yang sia-sia! Mereka tak akan mendapatkan berkat dariku!
Yang ada malah mereka dengan karma buruk yang berat bisa kena efek negatifnya setelah dilihat!
Rasa Benci dari Keserakahan & Kebodohan dalam dirimu bisa muncul sendiri saat sesi Pembacaan Aura atau “Dilihat”!
Maksudnya: Saat para Dharmapala atau Dewata dipaksa untuk melihat orang-orang tertentu, orang-orang tersebut malah bisa dihukum lebih awal daripada dibiarkan berjalan secara alamiah!
Jangan paksa siapapun ke hadapan para Yogi Sejati karena kamu mungkin tak akan suka dengan hasilnya setelah itu!
Ingatkah yang tertulis di dalam Sutra Hevajra?
Ia yang mampu beryoga dengan Hevajra akan mampu menggunakan visualisasi untuk mengambil nyawa insan yang sangat jahat, dengan menggunakan Pisau Purbha.
Seingatku aku pernah menuliskan artikel tersebut di blog ini!
Kalau tak salah di seri Senjata Astral.
Ingatlah selalu bahwa Tubuh – Ucapan – dan Pikiranmu adalah petunjuk siapa dirimu sebenarnya! :)
Lebih baik jangan menjadi pusat perhatian kalau auramu tanpa kau sadari selalu menunjukkan dirimu sebenarnya!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Disunting dari Jurnal Lotuschef
Related Posts:
- Perjumpaan yang Menarik
- Lotuschef Bermain-main – Kesetaraan & Mitosnya
- Ceramah dharma Guru, 29 Juni 2013 – Beberapa hal edukatif…
- Lotuschef Bermain-main – Mendengarkan dengan Benar? [2]
- Kebijaksanaan yang nampak gila – 失魂 Roh yang hilang
Labels:
aura,
Bahasa Indonesia,
Hevajra,
Karma,
kebodohan,
keserakahan,
lotuschef,
penglihatan,
pikiran,
purbha,
tubuh,
ucapan,
wajah
Saturday, February 8, 2014
Lotuschef Bermain-main – Kata-kata Guru atau Darimu?
Ditulis oleh Lotuschef – 22 Januari 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef at Play – SZ’s Words or Yours?
Kutipan dari artikel Lotuschef Bercakap-cakap – Negosiasi Dengan Alam Roh:
[--- Hahaha! Saat menerjemahkan Metode Penyucian yang Guru ajarkan baru-baru ini, aku menemukan satu artikel Ringkasan dalam Bahasa Mandarin di situs resmi Ordo Satya Buddha yang ditulis oleh seorang VM.
Aku sempat berpikir untuk menggunakannya dan menerjemahkannya, tapi ngeri sekali aku melihat yang tertulis selain tak akurat juga Poin-poin Pentingnya dihilangkan atau tak dituliskan!
Artikel itu ditulis dengan catatan tanggal 20 Januari 2014, hanya 2 hari setelah Guru memberikan ceramah tersebut! ---]
Bukan itu saja yang sangat ngawur!
Judul artikelnya juga salah!
口清淨 – berarti Mulut atau Ucapan yang Bersih.
【TBSN最新】2014年1月18日蓮生活佛盧勝彥主持「準提佛母護摩法會」開示大圓滿口訣--口清淨
接著,蓮生法王繼續開示「大圓滿法口訣部--口清淨」
一個行者無論再微小的事情都要細心的做好,但要如何清淨自己與環境呢?蓮生法王提到四種以「吽」字(ཧཱུྃ)的修持口訣--
四種「口清淨」的方法:
一、 行者觀想心際蓮花開放,內立有一藍色的「吽」字(ཧཱུྃ),此時行者口輕聲唸「吽、吽、吽…」,觀想藍吽字從右鼻孔出,藍吽字由小變大,藍吽字變多,佈滿房子的牆壁四周、家人身上,再向外推展至整個山河大地…,甚至整個地球,全部佈滿藍色吽字。
然後,再將外在所有藍色的「吽」字,一一從左鼻孔吸回,行者自身充滿藍色吽字,最後再將自身內在與環境外在世界,用力大聲唸一藍色大吽字,
全部變成藍色的光,內在、外在全部清淨。
Bagian terakhir berarti [Saat semua telah berubah menjadi Sinar berwarna biru, semua hal Internal dan Eksternal menjadi Bersih].
Bukankah si penulis artikel ini tidak mencatat ceramah Guru dengan Sebenarnya?
Penyucian, menurut Guru, adalah Membersihkan atau Menyucikan [Tubuh, Ucapan, dan Pikiran]!
Namun si penulis hanya menuliskan Penyucian Mulut/Ucapan saja!
Guru yang selalu menekankan 3 faktor utama dalam Sadhana: [Mudra – mewakili Tubuh; Mantra – mewakili Ucapan; Visualisasi – mewakili Pikiran], maka melakukan 3 faktor dalam Sadhana tersebut dengan cermat pasti akan menyucikan si praktisi!
Saat pertama kali aku menyampaikan ceramah dharmaku tanggal 7 November 2009 di Seattle, Guru juga membahas mengenai Interpretasi (Pengartian) dan Terjemahan, beserta dengan tingkat Akurasinya.
Tapi ini bukan TERJEMAHAN!
Membuat ringkasan ceramah Guru dengan jujur dan akurat dalam bahasa Mandarin, bahasa yang digunakan Guru, tak membutuhkan kemampuan Menerjemahkan, berhubung hal tersebut berada dalam lingkup bahasa yang sama!
Guru katakan bahwa saat kamu belum mencapai Kebuddhaan, jangan memberikan opini atau saran; karena kamu bisa menyesatkan orang-orang dan ke belakangnya akan membuat masalah tambah kacau!
Hal seperti ini istilahnya “Kalau tak tahu, jangan berlagak atau berpura-pura tahu!”
Teman-temanku sekalian yang terkasih, kini pahamilah kenapa aku selalu menekankan semua orang untuk MENDENGARKAN GURU AKAR SAJA, BUKAN YANG LAINNYA!
Hahaha!
Sungguh! Pernyataan-pernyaataan yang dipublikasikan tanggal 22 September 2013 kemarin, dibilang berasal dari Guru dan diunggah di situs resmi Satya Buddha juga!
Lebih baik memastikan ada rekaman video Guru atau tulisan Guru sendiri, sebelum kamu mengandalkan atau belajar dari sumber tersebut!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
interpretasi,
lotuschef,
mantra,
mudra,
penyucian,
pikiran,
terjemahan,
tubuh,
ucapan,
visualisasi
Monday, January 16, 2012
Aura Kebijaksanaan [Bab 21] Kebodohan
Diambil dari buku karya Buddha Hidup Lian Sheng, Shen-yen Lu:
No. 154 – The Aura of Wisdom, Bab 21: Kebodohan
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh True Buddha Foundation Translation Team
Dibagikan dengan komentar oleh Lotuschef – 24 Juni 2011
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Aura of Wisdom [Ch.21] Ignorance 无明
BAB 21 – Kebodohan
Saat Sang Buddha mencapai Pencerahan di bawah pohon bodhi, beliau mengatakan hal berikut, “Sifat Sejati yang telah ada di dalam diri semua insan tiada bedanya dari Dharmakaya Tathagata (Vairocana).
Semua pahala duniawi dan transendental milik para insan oleh karenanya telah sempurna dan lengkap. Dan ternyata kebodohan-lah yang membutakan mata mereka dari menyadari sinar dan pahala yang telah ada di dalam diri mereka sendiri.”
Perhatikanlah kata “kebodohan” ini.
Saat kebodohan telah disingkirkan, para insan dan Buddha ternyata setara dan tiada berbeda.
Pelatihan agama Buddha aliran Tantra selalu menggunakan Tiga Rahasia berikut:
Rahasia Tubuh – dengan membentuk mudra.
Rahasia Ucapan – dengan menjapa mantra.
Rahasia Hati (Pikiran) – dengan merenungkan pikiran yang benar (Visualisasi Kesucian)
Seseorang pernah berkata, “Praktek agama Buddha aliran Tantra menekankan pada visualisasi, seperti visualisasi persembahan yang dirubah dari satu menjadi banyak dan memenuhi seluruh alam semesta. Berhubung visualisasi ini hanyalah imajinasi yang tak nyata (hanya membayangkan), dan imajinasi yang tak nyata merupakan pikiran yang melompat kesana kemari, maka mempersembahkan imajinasi yang tak nyata ini sama artinya dengan membohongi para buddha dan bodhisattva. Bukankan ini merupakan kebodohan?”
Aku menimpalinya, "Untuk mampu menyingkirkan kebodohan, ada hal yang penting di sini yang perlu diterapkan, yaitu menggunakan metode ‘mengakhiri ilusi dengan ilusi’. Jadi, kamu menyingkirkan pikiran-pikiran yang tak beraturan dengan menggunakan pikiran-pikiran juga, yang berarti menggapai kenyataan dengan menggunakan ilusi.”
“Meski visualisasi transformasi (perubahan) persembahan merupakan sebuah proses berpikir, walau begitu ia dilakukan dengan ketulusan. Saat digabungkan dengan kekuatan pemberkatan dari penjapaan mantra dan pembentukan mudra, visualisasi persembahan tersebut terberkati oleh kekuatan dharma dari Tiga Rahasia Tathagata. Sebegitu hebatnya hingga segala keinginanmu bisa terkabulkan.”
Demikianlah perubahan yang menakjubkan dari pemberkatan, ia menyingkap pemahaman yang sesungguhnya akan hati (pikiran) seseorang.
Bagi orang di luar sana (orang yang tak tahu menahu), semua hal adalah dibuat-buat dan palsu.
Namun di dalam Tantra, semua imajinasi yang tak nyata, saat diberkati dengan kekuatan perubahan yang menakjubkan dari Tathagata, akan berubah menjadi kenyataan.
Orang-orang jaman sekarang sudah berjumpa dengan dharma tantra Satya Buddha yang kubabarkan.
Pada kenyataannya, “Tathata/Dharmata (Sifat Sejati dari Kenyataan)” adalah aku, dan Buddha dharma adalah aku.
Melalui penerapan Tiga Rahasia “Tubuh, Ucapan dan Pikiran”, begitu banyak dimensi yang sangat menakjubkan dan rahasia akan terekspresikan.
Namun saat seseorang meninggalkan Tiga Rahasia tersebut, sungguhlah tak ada harapan lagi untuk mencapai Kebuddhaan!
‘Mantra’, ‘mudra’, ‘visualisasi’: ‘Tubuh’, ‘ucapan’, ‘pikiran’.
Saat mendapatkan kontak spiritual melalui Tiga Rahasia ini, melakukan pemberkatan melalui transformasi yang menakjubkan, dan menyadari Kebenaran melalui berbagai dukungan dan visualisasi, si praktisi pada akhirnya mampu mencapai Kebudhaan dalam kehidupan ini juga.
---
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
“Kebodohan” ini merupakan topik favoritku!!!
Ada banyak artikel di dalam blogku yang menunjukkan bahwa visualisasi yang kita lakukan adalah Benar dan Manjur.
Transformasi persembahan untuk para insan di 6 alam samsara – aku memberitahu si Y untuk memvisualisasikan sinar-sinar warna putih yang turun dari angkasa dan menghujani semua insan, lalu Y berkata: bukan putih, tapi ada banyak warna seperti Pelangi.
Mandala chakra mantra vajra 6 alam – saat mandala ini berputar, si M mengatakan kalau dia melihat sinar-sinar pelangi yang memancar ke seluruh penjuru dan memberkati semua insan.
Kebodohan juga bisa muncul dari rasa takut akan Sesuatu Yang Tak Diketahui, atau malah karena tak tahan melihat orang lain yang lebih cerdas daripada dirinya sendiri, sehingga akhirnya memfitnah, menjadi bengis dan mengancam.
Hal-hal seperti ini sudah banyak kutemui.
Amituofo
Lotuschef
TBS
Pure Karma Vihara
Subscribe to:
Posts (Atom)
























