Showing posts with label hati. Show all posts
Showing posts with label hati. Show all posts
Friday, September 25, 2015
Koan Zen – Hati & Kodrat
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan anotasi oleh Lotuschef – 23 September 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 禅宗公案 Zen Koan – 心与性 Heart & Nature
有一学僧至南阳慧忠国师处参学,请示道:
Seorang bhiksu murid belajar dari Nan Yang Hui Zhong Guo Shi (Guru Negara, biasanya menjabat sebagai penasehat raja). Ia memohon ajaran, berkata:
‘禅-是心的别名,而“心”是在佛不增,
“Zen adalah nama lain dari Hati, dan Hati adalah Buddha yang Tak Mengalami Peningkatan,
在凡不减的真如实性,禅宗祖师们将此“心”易名为“性”,
Di dunia ini, kodrat buddha sejati yang telah melekat dari sejak awal tidaklah berkurang, para Patriak Zen pada umumnya menamakan Hati ini sebagai Kodrat,
请问禅师,心与性之差别如何?’
Guru Zen, mohon jelaskan apa bedanya Hati dengan Kodrat?”
慧忠毫不隐藏的回答道:
Tanpa ada yang disembunyikan, Hui Zhong menjawabnya:
‘迷时则有差别,悟时则无差别。
“Saat Tersesat maka ada perbedaan, saat Tercerahkan maka tak ada perbedaan.”
学僧又再进一步的问道:
Bhiksu murid kembali bertanya lebih lanjut:
‘经上说:佛性是常,心是无常,为什么你会说无差别呢?’
“Di dalam sutra dikatakan: Kodrat Buddha sifatnya kekal, Hati sifatnya tak kekal, lalu kenapa Anda bilang tak ada perbedaan?”
慧忠国师耐烦的举喻说明道:
Hui Zhong Guo Shi dengan sabar memberikan contoh dan berkata:
‘你只依语而不依义,譬如寒时结水成冰,暖时融冰成水;迷时结性成心,悟时融心成性,心性本同,依迷悟而有所差别。’
“Kamu ini menempel pada bahasa (kata-kata), bukannya pada arti sebenarnya, seperti ketika dingin maka air berubah menjadi es, ketika hangat maka es meleleh menjadi air; ketika tersesat maka kodrat berubah menjadi hati, ketika tercerahkan hati berubah menjadi kodrat, hati dan kodrat pada dasarnya sama saja, menjadi beda sepenuhnya tergantung pada saat ini tersesat atau tercerahkan.”
学僧终于契会于心。
Bhiksu murid akhirnya mengingat-ingat kata-kata tersebut dalam hatinya.
在佛教里,心性的别名很多,如‘本来面目’,‘如来藏’、‘法身’、‘实相’、‘自性’、‘真如’、‘本体’、‘真心’、‘般若’、‘禅’等等。
这无非是用种种方法要吾人认识自己。
迷悟虽有差,本性则无异。
如黄金是一,但可制耳环、戒指、手镯等各种不同之金器,故金器虽异,实一黄金耳。
明乎此,心与性名虽不同,实则皆吾人之本体也。
~~~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Istilah!
Salah satu bentuk Kemelekatan! :)
Pas sekali aku juga sedang merenungkan “Tekad Seseorang” di dalam Melatih Tantrayana!
BETUL SEKALI!
Bagaimana seorang praktisi mampu “MENGGUNAKAN TEKADNYA”, atau menggerakkan Qi (Prana) / Energi Cahaya untuk menjalankan dengan leluasa (renyun 任运)!
Tentunya kamu harus punya pengetahuan seperti di atas, apakah ada perbedaan antara hatimu dan kodratmu!
Kamu harus tahu bahwa aku sedang berbagi cara “MENGAMALKAN” Buddha Dharma.
Seperti memasak, kita belajar cara mencampur berbagai macam bahan hingga orang yang memakannya menjadi sangat puas.
Seharusnya kini kamu paham kenapa Mahaguru Lu menganugerahkan nama “Chef” (Koki) kepadaku?
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
hati,
koan,
kodrat,
lotuschef,
mengamalkan,
menggunakan,
menjalankan dengan leluasa,
renyun,
zen
Monday, February 2, 2015
Tradisi dan Kebiasaan
Dikutip dari: 行天宮的靈應 文/聖尊蓮生活佛盧勝彥, Xing Tian Gong's Spiritual Response / Karya tulis Mahaguru Lu – Buku No.245 《古里古怪集》
Diringkas dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 2 Januari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Customs & Traditions 習慣与傳統
有一次。
與師母、陳嘉萍、盧輝[鳳皇]等,到台北一家餐廳,吃午餐。
路經「行天宮」恩主公廟,隨緣進入參拜一下。一入廟,看見香火鼎盛,香客如雲。
大殿內有法會,僧尼誦經。
大殿外有許多穿著藍袍的居士,手上持香,給香客收驚、收煞,人潮洶湧,供品一桌又一桌。
Suatu hari saat Mahaguru sedang berada di Taipei, dalam perjalanannya menuju ke sebuah restoran untuk makan siang.
Mahaguru melewati rumah ibadah yang bernama Xing Tian Gong (Istana Langit yang Bergerak) dan memutuskan untuk masuk dan memberikan penghormatan. Saat masuk ke dalam, Mahaguru melihat ada begitu banyak dupa yang dibakar, dan orang-orang yang mempersembahkan dupa banyaknya bagaikan awan-awan yang bergerak.
Di aula besar, para bhiksu dan bhiksuni sedang menjapa sutra.
Di luar aula, para umat yang mengenakan jubah berwarna biru memegangi dupa yang menyala dan membantu melayani para pengunjung untuk mengusir berbagai ketakutan dan pertanda buruk; lalu lintas manusia begerak dengan sangat cepat, dan aneka ragam persembahan memenuhi meja-meja di sana.
我說: 「我想進入大殿參拜關聖帝君。」
Aku bilang: “Aku hendak memasuki aula besar untuk memberikan penghormatan kepada Guan Sheng Di Jun – Kaisar Guan yang Suci.”
但,我看到一塊招牌,上書:「香客止步」。
Tapi aku melihat papan loh yang bertuliskan:
[Tidak boleh membawa persembahan dupa ke dalam (maksudnya: berhenti di sini)].
我手持香,在大殿外,遙向關聖帝君參拜,口中祝曰:
「聖帝千秋萬歲,香火不斷,度生如天。」
說完由偏門走了出來。
Aku memegangi dupa yang telah dihidupkan di luar aula besar dan menghaturkan penghormatan dari jauh kepada Kaisar Guan yang Suci, sambil mengucap:
“Panjang umur Kaisar yang suci, ribuan musim gugur, puluhan ribu tahun lamanya, persembahan dupa tiada pernah berhenti, menyelamatkan para insan bagaikan Angkasa.”
Setelah mengucap demikian, aku keluar dari pintu samping.
沒有想到——
關聖帝君從後趕至追我。
Tak dinyana, Kaisar Guan yang Suci bergegas mengejar dari belakang.
帝君手持「青龍刀」把我的後腳跟,劃了一下,我後腳立刻像扭到一樣,走起路一跛又一跛的。
帝君說:「止、止、止。」
Sambil membawa [golok naga hijau]-nya, ia menggores kaki belakangku. Aku langsung terhuyung-huyung, seakan-akan pincang.
Kaisar berkata:
“Berhenti, berhenti, berhenti.”
我轉頭問:「帝君何事找我,又如何劃我一腳?」
Aku berbalik dan bertanya:
“Kaisar mencariku untuk persoalan apa, dan kenapa menggores kakiku?”
帝君說:「見你來朝,頂透三光,若不來見,禮尚有失。」
Kaisar mengatakan:
“Melihatmu mengunjungi rumah ibadah, chakra mahkota menampilkan 3 sinar, kalau tak datang menemuimu, sungguhlah lancang.”
我說:「何劃我一刀?」
Aku bertanya: “Kenapa menggoresku sekali dengan golok?”
帝君答:「吾是想告訴你,行止宜當心,勿落怨敵口誅筆伐。」
Sang Kaisar berkata:
“Aku memberitahumu supaya waspada dalam segala tindakanmu, agar tak menimbulkan permusuhan lewat berbagai keluhan dan tulisan yang menyerang.
我說:「多謝示警!」
Aku mengatakan: Terima kasih atas peringatanmu!
帝君與我拜別。
我到餐館,兩隻腳才能正常走路。
Lalu kami berpisah dan saat aku tiba di restoran, kedua kakiku sudah bisa berjalan dengan normal kembali.
後來——
我聽說,行天宮,廢去用香拜拜,只用手合掌,供品也不用了。(太多香,影響環保;供品,聖賢亦不食)
Kemudian hari, kudengar kalau rumah ibadah tersebut telah melarang penggunaan dupa untuk berdoa. Kini hanya dengan menangkupkan kedua telapak tangan saja. Persembahan juga tak lagi diperlukan.
(Dupa yang terlalu banyak akan mempengaruhi lingkungan sekitar; mengenai Persembahan – para suciwan tak akan memakannya.)
人問我:「這樣行嗎?」
Orang-orang bertanya kepadaku: “Apakah hal tersebut boleh dilakukan?”
我如此回答:
依傳統來說:
香是信香,有傳達之意。
供品是禮,有虔敬之意。
Aku menjawabnya demikian:
Menurut tradisi:
Dupa adalah Wanginya Iman, punya makna “berkomunikasi”.
Persembahan adalah sopan santun, bermakna “ketulusan dan penghormatan”.
一般人行之久矣!突然間改變,人們會沒有辦法去適應。
然而,習慣也會成自然!
Persoalannya adalah kebanyakan orang sudah lama sekali menjalankan tradisi ini! Perubahan yang mendadak pasti membuat orang-orang susah menyesuaikan diri.
Demikianlah yang namanya Kebiasaan bisa berubah menjadi hal yang dianggap wajar!
又,我們密教修供養法:
火供——護摩供品甚多,以火燒供品及香。
水供——供品亦多。
煙供——解怨親債主之怨心。
Terlebih lagi, di dalam Tantrayana kita punya banyak Sadhana Persembahan:
Persembahan Api – persembahan dalam puja homa sangat banyak, menggunakan api untuk membakar berbagai persembahan dan dupa.
Persembahan Air – di sini persembahannya tak begitu banyak.
Persembahan Asap – digunakan untuk menyelesaikan berbagai keluh kesah dan dendam dari para musuh karma.
(儀軌繁多,有香有供)
(Sadhana ada banyak jenisnya dan di dalamnya ada dupa dan persembahan.)
以人間之禮儀敬佛、菩薩、金剛、護法、空行、諸天。祈禱本尊降臨。
Ini sesuai dengan sopan santun di dunia saha dalam rangka menghormati para Buddha, Bodhisattva, Vajra, Dharmapala, Dakini, dan semua dewata. Dengannya mengundang yidam untuk turun ke dunia.
但,到了至高境界也能:
Namun, di tingkat tertinggi, juga bisa:
以天為壇城。(無佛像)
Angkasa sebagai Mandala. (Tak perlu rupang buddha lagi)
以心香召請。(無信香)
Dengan dupa hati sendiri bisa melakukan pengundangan. (Bukan wewangian atau dupa menurut kepercayaan).
以心供最上。(無實物供)
Dengan Hati sebagai persembahan yang tertinggi. (Tak membutuhkan persembahan aktual yang berwujud).
我且問:「以至高的境界,是不是一般的凡夫俗子,能意會得?」
Lalu aku bertanya:
Sudah mencapai tingkat tertinggi, namun apa ada orang-orang awam yang kiranya mampu memahami atau mencapai tingkat seperti ini?
詩: Sajak:
無無無又無 Tiada Tiada Tiada dan Tiada
空空空又空 Kosong Kosong Kosong dan Kosong
證得平等性 Mengafirmasi Sifat Sejati dari Kesetaraan
有無都是風 Ada ataupun tiada, semuanya seperti Angin
~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Di dalam artikel tersebut tersedia baik kiat-kiat yang sederhana dan mendasar, maupun kiat rahasia Maha Kesempurnaan juga.
Cobalah mencarinya :)
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- Sama Sekali Kehilangan Suara, sebuah artikel Buddha Hidup…
- Fenomena Hantu Lapar [2]
- Percaya Mutlak Pada Guru?
- Lotuschef Merenung – Tahap Mengumpulkan Bekal
- Melihat dengan bijaksana – Biaya-biaya penyelenggaraan…
Labels:
Bahasa Indonesia,
dupa,
hati,
kebiasaan,
ketulusan,
kiat,
komunikasi,
lotuschef,
penghormatan,
pengundangan,
persembahan,
sadhana,
tradisi
Tuesday, August 12, 2014
Rahasia Setan
Karya tulis Buddha Hidup Lian Sheng, Lu Sheng Yan
Diambil dari wtbnnews.org – 妖魔」的密密密
Disunting oleh Lama Lotuschef – 17 Mei 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Demon’s Secret
Aku pergi ke “Rimba Kelam” di Neraka dan tinggal di rumah sebuah keluarga hantu.
Keluarga hantu ini terus-menerus diganggu oleh para setan.
Aku bertanya kepada Petugas Neraka:
“Keluarga ini khan juga dari kelompok hantu, koq masih bisa diganggu?” tanyaku keheranan.
Petugas Neraka menimpali:
“Di dunia ini, ada sekelompok manusia yang hati dan pikirannya tercemar, tapi mereka belum sampai melakukan kejahatan skala besar. Setelah meninggal dunia, mereka akan jatuh ke Neraka ‘Rimba Kelam’ ini dan akan diganggu oleh para setan.”
Aku keheranan:
“Hanya karena pikirannya tercemar, mereka bisa diganggu. Aneh sekali!”
Si petugas mengatakan:
“Saat hati dan pikiran melenceng, maka para setan akan datang untuk merasuki. Ya beginilah adanya.”
Aku bertanya lebih lanjut:
“Setan-setan itu datang dari mana? Dari Neraka?”
Si petugas menjawabku:
“Para setan datang dari hati sendiri. Justru hati sendirilah yang mengundang para setan dari Rimba Kelam untuk muncul.”
Malam hari itu, aku tinggal di dalam Rimba Kelam.
Para setan tak muncul di malam itu.
Tuan rumah sangat penasaran karena biasanya para setan selalu muncul tiap malam untuk mengganggu. Kini ada tamu yang tinggal di rumahnya, lalu setan tak muncul.
Mereka bertanya kepada Petugas Neraka:
“Kenapa para setan tak muncul saat ada tamu yang tinggal di sini?”
Ia menimpalinya:
“Tamu tersebut bukan tamu sembarangan. Para setan tak akan berani datang mendekat!
Si hantu bertanya:
“Jadi dia tamu apa?”
“Tathagata Utusan Tertinggi nan Sangat Rahasia yang Memantau Alam Yin dan Penghuni Neraka.”
Si hantu kagetnya bukan kepalang:
“Tathagata tinggal di dalam rumahku?”
Saat aku tinggal di dalam rumahnya, para setan tak ada yang berani datang.
Tapi saat aku pergi, para setan datang lagi.
Akhirnya, si hantu memohon kepadaku untuk menuliskan sebuah kata untuk ditempel di dalam rumahnya.
Aku berpikir sejenak.
Jadi aku menuliskan “Melihat Fu Ini Sama Artinya Dengan Melihat Orang Aslinya.”
Ditandatangani oleh : “Tathagata Utusan Tertinggi nan Sangat Rahasia yang Memantau Alam Yin dan Penghuni Neraka.”
Segera saja tak ada setan yang berani mengganggu lagi.
Semua keluarga hantu di Rimba Kelam mendengar kabar ini dan mereka datang kepadaku serta memohonku untuk menggambar fu untuk mereka.
Kugambarkan satu demi satu untuk mereka semua.
Si Petugas Neraka berkata:
“Semua setan, semua mara, muncul sebagai akibat dari hati manusia yang melenceng. Hal tersebut membuka jalan bagi mereka untuk merasuki dan menganggu. Bilamana seseorang berkelakuan saleh, lurus, suci dan bersinar cemerlang, para dewata sudah pasti akan melindunginya, hingga tak ada setan yang berani datang dan menganggu. Inilah yang dinamakan ‘Yang sesat tak akan bisa mengalahkan yang saleh’, oleh karenanya saat para setan melihat fu dari Mahaguru Lu di sini, semuanya kabur cepat-cepat.
Aku memimpin sebuah sesi upacara dharma di Rimba Kelam.
Aku mengajarkan para hantu sadhana Sembilan Langkah Pernafasan Buddha:
- Sembilan Langkah Pernafasan Buddha adalah fondasi praktik Tantrayana yang punya arti sangat penting.
- Dengan memfokuskan pikiran pada pernafasan, lubang hidung kiri, lubang hidung kanan, kedua lubang hidung, pernafasan dilakukan dalam sembilan langkah.
- Menghirup karma baik berwarna putih, menghembuskan karma buruk berwarna hitam.
- Setelah melalui sembilan langkah Pertukaran ini, maka pikiran si praktisi akan terfokus pada Tu Na (Tu: menghirup; Na: menghembus) dan menghentikan semua pikiran yang jahat/tak baik.
- Semua Energi Vital terfokuskan sepenuhnya menjadi Satu.
- Pada kenyataannya, Dengan Satu Pikiran si praktisi bisa menghancurkan semua pikiran jahat/buruk.
- Oleh karenanya ia akan mampu memasuki/mencapai meditasi kedamaian.
- Dan dengan ini membangun fondasi utama Meditasi Zen.
Aku mengajarkan semua hantu di Rimba Kelam untuk melatih Sembilan Langkah Pernafasan Buddha. Hanya dengan melatihnya selama setengah tahun hingga satu tahun penuh, semua pikiran yang jahat dan melenceng hilang sepenuhnya. Para hantu kini tak lagi takut akan para setan dari Rimba Kelam.
Rupanya dikabarkan bahwa:
Para hantu telah berhasil keluar dari Neraka. Panjang umur. Panjang umur.
[---]
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom.
Related Posts:
- Dharma Tantra yang Menakjubkan [1]
- Raja Setan Mulut Berapi
- Menangkap Empat Cacing Parasit [抓出四条蛔虫]
- Mengenai Perbedaan Kekuatan
- Raja Setan Bermuka Terbakar Mengatakan Ini
Labels:
artikel mahaguru,
Bahasa Indonesia,
hantu,
hati,
lotuschef,
neraka,
pikiran,
sembilan langkah pernafasan,
setan
Friday, December 20, 2013
Lotuschef Bercakap-cakap – Guru membahas mengenai Melenyapkan Hati dan Kesadaran
Ditulis oleh Lotuschef – 13 Desember 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Chat – SZ on Extermination of Heart & Planes
Baca juga: Lotuschef Bercakap-cakap – Dukungan Dalam Bersadhana? :)
Kutipan:
[--- Mari kubagikan sebuah saran penting kepadamu semua:
Bila kamu punya Pertanyaan baik sedikit maupun banyak untuk ditanyakan kepada siapapun, berarti pelatihan dirimu masih sangat jauh, untuk benar-benar mampu mendengar dan memahami apa yang Guru telah dan sedang ajarkan kepadamu!
Untuk Yana pertama, bila kamu sendiri berpikir untuk menekan orang lain dan memaksa mereka untuk mengikuti caramu bersadhana atau bahkan mengenai hal-hal lainnya, kamu artinya menciptakan penderitaan bagi orang lain, dan tentu saja membuatmu gagal melewati Yana pertama ini!
Oleh karenanya, kini Siapa Mendukung Siapa? Hahaha! ---]
Berikut arsip percakapan dari Facebook:
[--- Thomas Chung (TC): Aku sebenarnya punya banyak pertanyaan hehe. Itulah kenapa aku mengandalkan blogspot-mu yang menjelaskan apa yang Guru sampaikan secara implisit (tak langsung) dalam ceramah-ceramah dharmanya.
Francesca Poon (FP): Hahaha! Tapi kamu bukan orang dengan pola pikir yang mencari kesalahanku dan berusaha menunjukkan kalau aku Tolol!
TC: Ah akulah yang paling tolol di antara mereka semua.
FP: Semuanya ada dibahas di ceramah Guru – 7 Desember 2013, yang aku juga baru saja tonton siang tadi! Kunci-kunci penting dalam Sadhana Maha Kesempurnaan! Orang yang Tolol adalah ia yang menunjuk orang lain sebagai Orang Tolol! Kalau kamu melihat Orang-orang Tolol berarti kamu juga seorang yang Tolol! Kalau tak melihat apapun, berarti kamu bukan seorang Tolol!
TC: Aku sudah mulai menonton video-video youtube mengenai ceramah Guru yang beliau sampaikan sekitar akhir tahun 1980-an dan akhir 1990-an. Aku bisa memahaminya dengan lebih baik. Tapi ceramah yang membahas Maha Kesempurnaan dan Sutra Altar masih terlalu sulit untuk kupahami.
FP: Dengan Pikiran yang Terbuka! Dan juga Ketulusan dalam menolong Diri Sendiri dan Insan Lain, adalah hal-hal yang kamu butuhkan untuk berlatih dengan baik. Banyak hal sederhana yang kebanyakan orang malah abaikan.
Mereka memilih untuk mengejar KEKUATAN, harta dan ketenaran, karena mereka pikir itu semua adalah “upah mereka” dengan “mengikuti tindakan Guru dalam bersadhana”! Hahaha! Sedih loh bila kamu mendengarkan apa yang dikatakan Guru di ceramah beliau tanggal 30 November dan 7 Desember 2013 ini!
Ingatkah kamu kalau aku pernah menulis: Tantrayana adalah mengenai kesederhanaan? Hahaha!
Aku juga menulis Orang Awam Mengukur Buddha! Makanya daripada mengukur Buddha, bukankah sebaiknya mereka “mengukur” diri mereka sendiri dengan tolokan panduan-panduan yang Guru berikan, terutama di dalam Maha Kesempurnaan!
Mengucapkan selamat kepadamu karena mau berusaha menonton rekaman ceramah dharma Guru! Itu merupakan satu langkah menuju Ketulusan dengan mau mempelajari bagian fundamental (dasar-dasar)! ---]
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
hati,
kesadaran,
lotuschef,
maha kesempurnaan,
melenyapkan,
sadhana,
tolol
Sunday, September 15, 2013
Hati tak bertambah ataupun berkurang, ia mendapat ataupun kehilangan juga menuruti jodoh 心无增减,得失随缘
Kutipan artikel guru diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef
Ditulis oleh Lotuschef – 7 September 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 心无增减,得失随缘 No increase nor decrease at heart, gain or loss as per affinity
Kasus A
Mengutip artikel Guru: 蓮生活佛盧勝彥第147冊文集 - 心無掛礙
[有一位出家人釋賞天,在講經說法的時候,喜歡提及蓮生活佛盧勝彥。
他不稱呼我的法號「釋蓮生」,也不稱我是「蓮生活佛」,更不提「華光自在佛」,他直接稱呼我叫「盧小子」。
釋賞天批評我的時候,情緒是激動的,聲調是高昂的,說的比較急,像嘩啦嘩啦的水,流個不止。]
[Ada seorang yang bhiksu, dengan nama keluarga Shi (seperti nama Shakyamuni) Shang Tian, yang suka menyebut Buddha Hidup Lian Sheng, Lu Sheng Yan saat berceramah dharma.
Ia tak mau menyebut gelarku sebagai “Shi Lian Sheng”, atau memanggilku dengan “Buddha Hidup Lian Sheng”, apalagi dengan sebutan “Hua Guang Zi Zai Fo” – Buddha Padma Prabha Svara. Langsung memanggilku “Lu si bocah kurang ajar”.
Saat Shi Shang Tian mengkritikku, emosinya bergejolak, suaranya meninggi, bicaranya juga terburu-buru, seperti air yang mengalir “hua la hua la” tak berhenti.]
Kasus B
Baca juga: Kebijaksanaan yang nampak gila – Bertemu dengan Seorang yang Jiwanya Tersesat
[Lalu LL berjalan mendatangiku dan saudari AA sedang mengobrol denganku.
Saat dia datang, ia memanggil: Lian Chu Da De! [bukan fashi]! :)
Lalu bertanya: Apa kabarmu?
Dan melanjutkan bercerita bahwa aku kini lebih populer dan terkenal dibanding dia.
Aku katakan: Siapa yang sedang membanding-bandingkan dan siapa pula yang ingin membanding-bandingkan?
Aku pernah mengingatkan dia sebelum aku pulang dari Seattle tahun 2009, menyarankannya supaya tetap teguh dan bersadhana dengan tekun serta jangan asal ikut-ikutan orang lain dengan membabibuta, harus punya keyakinan teguh pada Guru.
Ia mengulangi lagi kalau aku sudah jauh di atas dia dan ....
Kuberitahu dia bahwa aku tak ingin melanjutkan percakapan ini dengan dengannya.
Ia terus saja menempel dan mulai bicara lagi.]
Kasus C
Baca juga: Menanggapi Anak Panah Pencerahan 1 September 2013
[Kemarin ada anak panah pencerahan yang diajukan lagi kepada Guru.
Sayangnya murid ini sudah melakukan kesalahan besar di awal saat menuliskan penghormatannya! :)
Dituliskan: Berharap Guru tak memasuki Nirwana! [不入涅盘].
Sebuah pernyataan yang Guru telah jelaskan supaya jangan dipakaikan kepadanya!!!]
---
Teman-temanku yang terkasih, saatnya BERMAIN-MAIN! :)
Kasus A dan B bisa dibilang mirip kalau melihat si pembicara yang ingin meletakkan diri mereka di posisi terdepan, seperti Pahlawah lah! :)
Kelihatan berani tapi hanya dibuat-buat, dan tak ada inti Buddha Dharma yang sejati di dalamnya, bukan?
Ngomong dengan nada tinggi atau bahkan berteriak, menunjukkan kalau diri mereka sendiri tak stabil dan tak nyaman dengan semua perkataannya. Jadilah mereka harus menggunakan “Senjata” yang menurut mereka akan mampu membawanya berada di atas para musuhnya. Mereka pikir “senjata” tersebut harus digunakan untuk menaklukkan para musuhnya sebelum tujuannya terungkap.
Halah tindakan para Tukang Gertak! :)
Konfrontasi sebenarnya merupakan hal yang besar dan menakutkan bagi mereka, ini karena mereka kurang Percaya Diri dan tak punya Tujuan yang Mulia.
Seorang Yogi Sejati atau Murid Buddha, akan mampu menyampaikan pengetahuan mereka dengan Tenang, Kalem, dan Pikiran yang Jernih – Kalimatnya pendek tapi maksudnya tersampaikan dengan jelas!
Satu hal lagi yang umum adalah suka Membanding-bandingkan!
Guru baru saja menjelaskan bahwa Pelatihan Diri SUNGGUH bergantung pada DIRIMU SENDIRI!
Dalam Kasus A, Shi ST, ketahuan kalau sama sekali tak punya pengetahuan mengenai Tantrayana; dan sama halnya dengan kebanyakan orang di ordo Hinayana ataupun Mahayana, pikiran mereka terlalu sempit dan tak punya Pengetahuan yang Benar akan Buddha Dharma, tapi terus-menerus menggunakan Buddha Dharma untuk “menelanjangi” orang lain yang mereka anggap sebagai “iblis”!
Hahaha!
Kalau saja dia punya sedikit pemahaman akan 9 Yana, bukankah ia tak akan melancarkan rudal ke Guru dengan berapi-api?
Contoh nyata kebodohan? :)
Berbagai bentuk panggilan seperti Shi – atau Anak Kecil Kurang Ajar, atau Da De, sama sekali tak akan berarti bagi seorang Buddha Hidup atau Yogi Sejati!
Guru sebelumnya pernah menuturkan, bahwa kamu melihatnya sebagai seorang Buddha atau seorang Awam akan menentukan Pemberkatan yang akan kamu terima dari beliau!
Jadi, rugi/tidaknya ya tergantung kamu sendiri!
Kasus B dan C – dari awal sekali yang keluar dari mulutnya ataupun tulisannya sudah menunjukkan sikap mereka!
B – dengan lantang memanggil Lian Chu Da De!
C – menulis: Berharap Guru tak memasuki Nirwana! [不入涅盘]!
Bukankah yang beginian harusnya langsung dihentikan saja?
Guru sungguh berwelas asih, masih mau melanjutkan membacakan Anak Panah Pencerahan yang diajukan.
Berarti aku kurang berwelas asih dong? Hahaha!
Aku langsung hentikan percakapan tersebut!
[Hati tak bertambah ataupun berkurang, ia mendapat ataupun kehilangan juga menuruti jodoh] – berarti Karma seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri.
Oleh karenanya, apa yang dia putuskan untuk lakukan, tak berdampak kepada orang lain, selama orang-orang lain tersebut paham konsep ini dengan baik.
Di dalam Sutra Intan, kunci penting yang harus diingat adalah: jangan beri kesempatan pada Hal-Hal Negatif untuk muncul dalam Hati/Pikiranmu.
Melihat berbagai anak panah pencerahan yang ditembakkan, kebanyakan anak panah baru-baru ini terlalu panjang, dan kita sendiri bisa melihatnya bahwa mereka tak yakin akan tulisan mereka sendiri, sambil berpikir bahwa memasukkan banyak konsep akan membantu tujuan mereka (maksudnya: masukkan saja yang banyak, siapa tahu ada yang mengenai)!
Sebenarnya jawaban untuk {Bagaimana cara memotong Penderitaan dengan segera?} bisa diringkas ke dalam 2 karakter Bahasa Mandarin saja.
Sungguh tak perlu menduplikat Dharani ke dalam Anak Panah Pencerahan!
Guru sudah memberikan jawabannya di dalam ceramah-ceramahnya!
Hahaha!
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
anak panah pencerahan,
Bahasa Indonesia,
hati,
jodoh,
Karma,
lotuschef,
sutra intan
Subscribe to:
Posts (Atom)



