Showing posts with label kodrat buddha. Show all posts
Showing posts with label kodrat buddha. Show all posts

Sunday, February 3, 2019

Cara Menyampaikan Pengaduan? 告状的技巧?



Diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan tambahan anotasi oleh Lotuschef – 29 Januari 2019
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 告状的技巧?Technique of Lodging Complaints?


Banyak orang yang belum pernah bertemu denganku tapi mulai memfitnahku hanya karena mendengar Kabar Angin! Hehe!
有很多与我未曾谋面的众生,却凭着听闻而开始无缘故的毁谤我!嘻嘻!

Sesungguhnya, untuk mengadukan diriku, kamu harus punya teknik yang BENAR!
其实,如要告我的状,你需要【正】技巧或方法!

Aku telah menuliskan bahwa bila kamu ingin mengadukan diriku supaya dihukum, kamu harus mengadukannya ke Guru Akar (Mulaguru)-ku, Buddha Hidup Lian Sheng!
我写过如你要投诉我让我挨板子,你必须通过我的根本上师,莲生活佛!

Perihal teknik pengaduannya, dengarkan Mahaguru Lu dan Kiat-kiat untuk melakukannya adalah hanya melalui Guru Yoga!
欲要告状的技巧,听听鲁师尊的开示,搬到我的要诀只能通过上师相应法!

Hehe! Namun, bila kamu sudah mencapai keberhasilan dalam Guru Yoga, kamu tak akan mencelakaiku atau siapapun LAGI!
嘻嘻!可当你能成就上师相应法,你就不会再想伤害我或任何人了!

Karena keberhasilan dalam Guru Yoga berarti kamu telah mencapai suatu taraf Pencerahan!
因为,上师相应法成就者已同时达到某程度的【开悟】!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

2010-11-27 《蓮生法王講六祖壇經》歸依有自心三寶 內調心性 外敬他人
[Sutra Altar ~ Berlindung (Sarana) kepada tri ratna (tiga permata) hati sendiri, di dalam adalah menyelaraskan kodrat hati sendiri, sedangkan di luar menghormati para insan]

Extract:
https://www.youtube.com/watch?v=GbW5Yz0p8Q8

經文分明講,「自歸依佛」,自己歸(皈)依自己;「不言歸依他佛,自佛不歸。」
Di dalam sutra tersebut jelas sekali tertulis: Diri sendiri bersarana kepada Buddha – diri sendiri bersarana kepada diri sendiri, tidak bicara mengenai bersarana kepada Buddha lain, dan bukan bersarana kepada Buddha diri sendiri.

為什麼「自佛不歸」?
Mengapa tidak bersarana kepada Buddha diri sendiri?

因為,第一個,你錯用心,
Karena, pertama-tama, kamu MENGGUNAKAN Hati secara salah;

第二個就是還沒證明到「自佛」,你還沒辦法證明到「自佛」,就是說你的修行還不夠力,功力還不夠。
Kedua, belum mengukuhkan [Buddha Diri Sendiri], kamu masih belum punya cara untuk mengukuhkan [Buddha Diri Sendiri], yang artinya kamu masih belum bersadhana hingga punya kekuatan yang cukup, atau Usahanya masih belum mencukupi!

有一個joke,跳蚤、蟑螂和蜈蚣,它們三個是好朋友,有一天早上,它們三個睡醒,就商討:「誰去買豆漿?買燒餅回來?」跳蚤就講:「我去買好了。」蟑螂就講:「跳蚤一蹦一蹦一蹦一蹦的,豆漿在你手上,跳一跳,豆漿都會跳出來。跳蚤哪能去買豆漿?」蜈蚣就講:「我去買好了,因為我的腳很多,而且我走得很快。」跳蚤和蟑螂就同意蜈蚣去買。經過了一個小時,還沒有買到,「奇怪,怎麼還沒回來?」跳蚤和蟑螂便開門出去看,原來蜈蚣還在門口穿鞋子。這就是錯用心。

修行本身來講,你一定要[穩紮穩打],像師尊,能夠開悟明心,能夠看見佛性,是穩紮穩打,而不是在那邊拖時間。
Bicara mengenai Sadhana itu sendiri, kamu harus [tenang dan stabil], seperti Mahaguru, bisa tercerahkan atau merealisasikan hati sendiri, mampu melihat kodrat Buddha, tenang dan stabil, dan tidak membuang-buang waktu.


很多真佛弟子皈依了很多年,才來問我:「我的本尊是誰?我的護法是誰?」
Banyak murid Ordo Satya Buddha yang sudah bersarana bertahun-tahun, mendatangiku dan bertanya: Siapakah Yidam saya? Dharmapala-ku siapa?


可見你還沒有修啊!
Sungguh kelihatan bahwa kamu belum bersadhana!


還有很多人,「上師相應法」都沒有修,「加行法」也沒有修。
Masih banyak lagi, bahkan belum melatih [Guru Yoga], [Prayoga]-pun juga tidak dilatih.



◎你要穩紮穩打的話,一定要先修好「加行法」,種種的「加行」,只要「加行」很穩了,「上師相應」就快了,「上師」一相應,「本尊」就相應了;「本尊」一相應,「護法」當然相應。

因為「護法」是跟著「本尊」的,「本尊」是跟著「上師」的,「上師」是跟著「加行」的,你只要「加行法」一相應,「上師」就可以相應,可見我們「加行法」的基礎都打得不好,「上師」都沒有相應。

不是講我們這裡的上師都沒有相應,不是。不過,只要當了上師以後,又不想當上師的,當然是「上師」都沒有相應;或者是說,他離開了上師的職位,當然沒有「上師」相應,他不能夠做到真正的上師,如何稱為「上師」相應?所以,「加行法」非常重要,加行就是穩紮穩打,不能像蜈蚣出去買豆漿,一個小時以後還在那裡穿鞋子。

為什麼「自佛不歸」啊?因為沒有認識「佛性」啊!沒有見證「佛性」啊!你如果真的開悟了,真的是見性了,你當然是「歸依自佛」。為什麼會「自佛不歸」呢?就是你的功力不夠,才「自佛不歸」。「無所依處」,因你「自佛不歸」就沒有可以依靠的地方;你相應了,道心絕對是堅固的;你開悟了,就知道甚麼叫作「皈依」,甚麼叫作「自歸依」;見證「佛性」,你也能夠「自歸依」了。今天,你不能「自歸依佛」,是你自己「無所依處」啊!你沒有辦法去依止。

我們「自歸依佛」也不是自己非常的驕傲:「我是歸依我自己!」不是這樣子的,這也不是「唯我獨尊」。
Kita Bersarana kepada Buddha diri sendiri bukan berarti diri ini menjadi sombong; Aku bersarana kepada diriku sendiri! Bukan seperti itu, juga bukan [Hanya akulah yang terunggul].

釋迦牟尼佛講「唯我獨尊」是因為祂已經明心、見到「佛性」,所以祂敢講:「唯我獨尊。」所以,「唯我獨尊」就是「自歸依」啊!
Buddha Shakyamuni berkata [Hanya akulah yang terunggul] karena beliau telah mencapai Realisasi Sempurna, mampu melihat kodrat Buddha-Nya sendiri, oleh karenanya berani mengatakan: “Akulah yang terunggul.”
Demikianlah, [Akulah yang terunggul] berarti Bersarana kepada diri sendiri!

「我是歸依我自己的『佛性』」,所以才叫「唯我獨尊」啊!
Aku sedang bersarana kepada Kodrat Buddha-ku sendiri, oleh karenanya diistilahkan sebagai [Hanya akulah yang terunggul]!

祂不是「我就是權威」、「我就是霸王」、「我就是獨裁者」,不是的,是祂認識了自己的「佛性」,已經歸依自己的「佛性」,所以祂才會稱為「唯我獨尊」啊!
Beliau bukan sedang berkata [Akulah Sang Penguasa], [Akulah Maharaja], [Akulah Sang Diktator], bukan seperti itu, maksudnya adalah Beliau telah mengetahui Kodrat Buddha-Nya sendiri, dan telah bersarana kepada Kodrat Buddha-Nya sendiri, demikianlah Beliau mengistilahkannya sebagai [Hanya Akulah yang terunggul]!

「我」,是「佛性」,而不是肉身的這個「我」,大家不要搞錯了,「莫錯用心」,不是「權威」。
[Aku] adalah [Kodrat Buddha], bukannya [Aku] dari tubuh daging, kalian semua jangan salah memahaminya, [Jangan menggunakan hati secara salah], Bukan [Penguasa].

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha! Mengapa kamu pikir kamu perlu menyerang sesama teman di akun Facebook mereka hanya karena berfoto bersama AKU?
哈哈哈! 你为什么认为你需要在他人的面书户头攻击那些与我合照的同门?

Kamu pikir kamu siapa?
你认为你是谁?


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Saturday, December 29, 2018

Berbagai Masalah Awam – Eka Sarana 尘埃 – 一皈依 [2]



Ditulis oleh Lotuschef – 18 Desember 2018
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 【2】尘埃 – 一皈依 Sentient Problems – One Refuge


《說說蓮拂 Mari mengobrol tentang Lian Fu

舞自在 Menari dengan leluasa

我不認識蓮拂上師
Aku tak kenal dengan VM Lian Fu
因為昨天委會公布開除了上師資格
Namun karena kemarin Admin mempublikasikan pencopotan status VM-nya
同時 也不是真佛宗的法師 弘法人員
Dan di saat yang sama, ia tak lagi menjadi pembabar dharma Ordo Satya Buddha dan reverend
開除理由是【不懂密教一皈依】
Alasan dikeluarkannya adalah [Tidak mengerti Eka Sarana Tantrayana]
我就想怎麼可能不懂!
Aku berpikir bagaimana mungkin dia tidak mengerti!

【一皈依】是剛皈依的真佛宗弟子都懂的道理不是嗎?
Satu tempat berlindung (Eka Sarana) – suatu hal yang harus dimengerti oleh semua murid yang baru saja bersarana, bukankah begitu?

這點引起我的興趣
Memicu rasa ingin tahuku
剛剛就特別找她的開示出來看
Baru saja secara khusus menonton ceramah dharma-nya
我看完整篇開示 覺得都很好啊
Setelah menontonnya sampai selesai, aku merasa yang dibabarkannya sangat bagus

找不到漏洞或邪見
Tidak menemukan kekurangan atau pandangan salah
當時她也如真佛大眾一般
Di saat yang sama dia juga seperti semua murid Satya Buddha
言語時時刻刻頂戴根本上師
Selalu menjunjung Sang Guru Akar di puncak kepalanya
感恩根本上師
Bersyukur kepada Sang Guru Akar
開示一百分
Memberikan nilai 100 untuk ceramah Dharma-nya
哪裡不懂一皈依?
Lantas di mana bisa dikatakan tidak mengerti Eka Sarana?
完全沒毛病阿?
Sama sekali tidak ada kesalahannya

但是這樣又被師尊認證開悟
Namun, ia yang dikukuhkan sebagai yang tercerahkan oleh Mahaguru Lu
又被師尊認證為藍蓮花童子的上師
dan juga dikukuhkan sebagai VM dan juga Padmakumara Biru
怎麼最後會被以不懂「密教一皈依」開除了呢?
Mengapa pada akhirnya disingkirkan dengan tuduhan tidak mengeri [Eka Sarana di dalam Tantrayana]?

我相信 這中間過程 一定是有理由的
畢竟這是2009年,九年前的開示了
這九年中間
發生什麼事
我不知道
但我想一定發生很多事
APA YANG TERJADI?

我想再次提醒大家
Aku hendak mengingkatkan kawan-kawan sekalian
所謂【明心見性】的開悟者
Bahwa seseorang yang telah tercerahkan telah [menyadari kodrat sejatinya sepenuhnya]
她是知道修行方向目標而已
ia telah paham arah atau kunci di dalam melatih diri
沒有疑惑
tak diragukan lagi
就像她還沒到目的地
bahkan meski ia belum mencapai tujuan
但是至少她手中有指南針
setidaknya ia telah memegang kompas di tangannya
知道正確方向在哪裡不會迷路
tahu arah tujuan sesungguhnya dan tak akan tersesat
如此而已
但並不代表她已經證道
該怎麼修行還是要怎麼修行
一樣都沒少

而她明心見性後
要不要走到目標?
或者說她要選擇哪條路
怎麼走到目標
那是她的選擇!

想到一個禪宗公案: 二祖慧可斷臂求法
Mengingat kembali sebuah Koan Zen mengenai Patriak Zen Hui-ke yang memotong tangannya sendiri untuk memperoleh dharma
從達摩祖師那邊得到印心
最後付法給三祖僧璨之後
竟然大異其趣
整天在賭場酒店出入
Setelah menerima mudra Dharma dari Bodhidharma dan kemudian mentransmisikannya kepada Patriak ke-3 Seng Chan, ia menjadi orang yang berbeda sama sekali, menghabiskan waktunya masuk-keluar rumah judi dan hotel.

人家看見他就問: Orang-orang yang melihatnya bertanya:
你是一個堂堂受戒的出家人
整天跑酒店賭場
這樣像話嗎?
Anda, seorang bhiksu yang menerima disiplin sila, menghabiskan waktu masuk-keluar rumah judi dan hotel, apakah pantas?

二祖就答:「我自調心,何關汝事?」
 ( 這裡的調心就是指修行之路)
Patriak ke-2 menimpali: Aku menala diri atau hati sendiri, apa hubungannya denganmu?
(Di sini, Menala Hati merupakan arah atau rute melatih diri)

關於宗委會開除蓮拂上師的事

一來我對這位上師
【過去不識 現在不識 未來也不識】

二來是否她 明心見性之後
跟二祖一樣 發願要去度化異教徒
以至於
行徑言語
跟主流真佛同門上師弘法人員不同
這我也不清楚

但畢竟她是師尊認可過傳授過代表開悟的祖衣
的藍蓮花童子 所以 小子我不敢亂評論
【我沒那麼笨 別想套我話 好嗎!】

最後 套二祖的名言
Mengutip kata-kata Patriak ke-2 dengan sedikit pengubahan:
改一下:
「人家大姑娘 因果自負  何關汝事?」
Wanita tersebut bertanggung jawab atas karmanya sendiri, apa hubungannya denganmu?
「人家大姑娘 自調心  與佛性何干?」》
Wanita tersebut menala hatinya sendiri, apa hubungannya dengan kodrat Buddha?

[23:36, 12/17/2018] lotuschef: 哈哈哈!
「人家大姑娘 因果自負  何關汝事?」
「人家大姑娘 自調心  與佛性何干?」👍👍👍
AA: 😆😆😆
 lotuschef: 所以,那个纪大卫 的后台,连宁, 真的没有开悟!而是常常开误!
Begitulah, Ji David yang membela lian ning, sama sekali bukan orang yang tercerahkan dan terus menerus membuat kesalahan.

就像之前攻击我时,说- 师尊有先见之明 -赐名 连戒,就是知道他会犯戒 ~ 连戒,连戒,连连犯戒!
Seperti berbagai serangan yang dulu dilancarkan kepadaku, mengatakan bahwa Mahaguru Lu mampu melihat ke masa depan, memberi nama Lotus Sila (kepada seseorang) dan tahu bahwa orang ini akan terus melanggar sila!

跟着就搬我 - 连厨, 连厨,。。。。。。辛亏他没有发表他的愚笨二继续写。。。
Kemudian menggunakan analogi yang sama kepadaku dan berkata bahwa Lotus Chef, Lotus Chef … beruntung dia tidak meneruskan menuliskan kebodohannya…
我问他:是不是说师尊错了,明知连戒会犯戒还留下这祸根?哈哈哈!
Aku menanyainya: Apakah kamu mencoba mengatakan bahwa Mahaguru Lu membuat kesalahan, sudah jelas tahu bahwa Lotus Sila adalah akar musibah dan tetap membiarkannya berada di dekatnya? Hahaha!
现在,他们又重犯 - 说连弗不懂【一皈依】!
Dan sekarang, mereka membuat kesalahan yang sama lagi – menuduh Lian Fu tidak mengerti [Eka Sarana]!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Komentar di atas mengenai Lian Fu ini sungguh menarik dan cukup mencerahkan!

Bukankah [menari dengan leluasa] ini punya penyadaran dharma yang cukup bagus?

Teman-temanku yang terkasih, baca juga artikel seperti [Antek Iblis] dan juga [TOKCHEF] di blogspot ini!

Sambil menikmatinya, cobalah menebak apa yang Admin inginkan atau xx ning inginkan?
Jubah silsilah yang dianugerahkan kepada Lian Fu? Hehe!
Atau mungkin ada saingan yang menginginkan tahta dharma untuk menggantikan Mahaguru Lu?


Salam metta,

OM GURU LIAN SHENG SIDDHI HOM
Lama Lotuschef





Wednesday, October 18, 2017

Lotuschef Bermain-main – Pencerahan & Kepemilikan Duniawi



Ditulis oleh Lotuschef – 3 Februari 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef at Play – Enlightenment & Sentient Possession


Mahaguru bilang “Kamu tidak berhutang kepadaku dan aku tidak berhutang kepadamu, kamu tak harus bersarana kepadaku.”

Di kesempatan lain: “Kamu tak perlu mengagumiku sebagai Lu Sheng Yan, tapi belajarlah dari Buddha Hidup Lian Sheng.”

Mahaguru juga baru-baru ini mengatakan bahwa beliau telah melepaskan hampir semua kepemilikan duniawinya kecuali beberapa hal saja.

Yang ingin kukatakan?

Lihatlah para murid yang dengan penuh semangat berlutut dan menunggu “Mo-ding” (pemberkatan jamah kepala) di setiap selesai upacara di Vajragarbha Caotun.

Lihatlah mereka yang penuh semangat datang ke Vajragarbha Caotun dari berbagai belahan dunia untuk menghadiri upacara yang dipimpin oleh Mahaguru.

Di upacara baru-baru ini, ada beberapa orang yang bukan murid yang turut datang karena direkomendasikan teman-temannya. Sekitar 10 orang tersebut adalah kawan dari teman-teman di Pure Karma.


Dari arsip percakapan:

YY: Mereka menyerobot para penggemarku!
[YY ini seorang reverend dan punya sekelompok pengikut yang ia sebut sebagai Penggemar!]

LC: Sungguhkah kamu punya Penggemar?
[Aku memulai Dialog Zen saat Mahaguru menganggukkan kepala memberi tanda “jalankan”.]

Catatan: Bagi si reverend ini, Penggemar adalah para murid yang mengikutinya atau memberinya persembahan. Persembahan tersebut baginya melambangkan Tunjangan Hidup untuk berbagai kebutuhannya sehari-hari.


Banyak orang yang mendapatkan tanggapan dari Mahaguru perihal “Anak Panah Pencerahan” dan reverend ini juga salah satu dari mereka.
Mahaguru bilang bahwa ia sudah dekat dengan garis batas dan memberitahunya supaya melanjutkan kerja kerasnya hingga Realisasi Pencerahan Sempurna.

Hahaha! Sungguh menyenangkan “bermain-main” dengannya!

Aku mengingatkannya bahwa di dalam urusan Melatih Diri, semuanya bergantung pada Usaha dan Ketekunan Sendiri.

Penggemar adalah barang kepemilikan duniawi yang harus “Direlakannya”.

Penggemar jugalah sesama murid dan orang awam yang harus kita Perlakukan Secara Setara – inilah Kebijaksanaan Kesetaraan!
Tak seorangpun boleh memperlakukan insan lain layaknya pelayan atau budaknya.
Tak seorangpun boleh merendahkan insan lain hanya karena status awamnya dalam kehidupan!

Baca kembali perihal 10 Atribut Seorang Yogi Sejati yang ditulis oleh Mahaguru di dalam buku “Pedang Pusaka Yogi.”
Para Vajra Master, Reverend, Ketua Rumah Ibadah,… berlaku tidak jujur dan mencuri dari Mahaguru dan rumah ibadah yang bersangkutan!
Menurut Tara Putih, mereka ini nantinya akan jatuh ke Neraka Vajra atau 3 alam rendah!

Tiada Pemisahan & Membeda-bedakan: Namun si reverend di atas menyebut sesama murid sebagai Penggemar-NYA!

Ucapan, Pikiran dan Tindakanmu itu mencerminkan dirimu yang sesungguhnya. Mereka menceritakan tentang dirimu dengan sangat jelas dan akurat pula. :)
Tercerahkan? Masih sangat jauh, berhubung reverend ini terjerat kembali oleh “Lumpur Dunia”.


Bagaimana halnya dengan mereka yang Diumumkan Telah Tercerahkan?
Ya kamu lihat sendiri saja!

Aku juga sempat mengamati Thubten Ksiti Rinpoche kita.
Hahaha!
Kamu juga boleh memasukkannya ke dalam daftarmu untuk dibandingkan dengan mereka yang kamu anggap telah Tercerahkan, kamu anggap sebagai Pemegang Otoritas Buddha Dharma, dan tentu saja nomor pertama dalam daftar tersebut adalah Mahaguru!

Bagaikan pancaran Sinar Mentari yang memberimu kehangatan, rasa aman dan nyaman, kecemerlangan dan sukacita!
Itulah yang seharusnya kamu rasakan. Gunakanlah sebagai alat pengukur saat kamu masih dalam tahap pembelajaran. Dengannya kamu akan terbantu supaya tidak terjatuh dalam perangkap orang-orang yang serakah dan jahat.

Mahaguru bilang bahwa Maitreya Bodhisattva berjanji untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya, dan sungguh terjadi, beliau punya harta yang cukup banyak untuk bisa hidup dan ada surplus untuk diamalkan.
The Sheng Yen Lu Foundation hanyalah salah satu tempat untuk menyalurkan surplus tersebut, begitu juga dengan berbagai cabang Lotus Light Charity di seluruh belahan dunia.

AKU SENDIRI? Aku juga diurus dan dijaga dengan baik, masih hingga sekarang ini, oleh Mahaguru dan Para Dewata!

Reverend YY masih kurang Iman dan Rasa Percaya yang Mutlak kepada Mahaguru!

Seorang murid lain yang cukup senior sedang duduk bersama saat kami semua sedang mengobrol.
Ia tanya: Bagaimana Mahaguru berbicara kepadamu?

Hahaha! Di dalam pertanyaannya, aku tahu bahwa ia masih belum bisa ber-Yoga dengan Guru!

Teman-temanku sekalian, sebuah mentalitas yang penuh dengan keraguan sudah pasti merugikan pelatihan dirimu sendiri.
Sama halnya dengan berpikir terlalu banyak dan merasa bahwa kamu orang pintar!

Kebijaksanaan itu sungguhlah sebuah hal yang lain, apalagi Kebijaksanaan Universal para Buddha!

Menurut Mahaguru, hendak bersadhana harus dimulai dengan menyucikan dirimu sendiri dari berbagai pikiran, perbuatan dan kebiasaan buruk! [31-1-2014]

自空– Mengosongkan Diri
他空– Mengosongkan Insan Lain

Inilah kunci untuk menampilkan Kodrat Buddha-mu sendiri!

Jadi aku sarankan agar kamu dengarkan TERLEBIH DULU dan CERNALAH sebelum kamu masuk ke dalam percakapan apapun!
Cepat-cepat ingin menyampaikan pendapatmu, malah menunjukkan dirimu yang Tak Stabil dan Terburu-buru. Kamu tidak memberi dirimu sendiri Waktu untuk Menyerap dan Menganalisa.

Aku perhatikan ada banyak yang mencatat ceramah Mahaguru, kata demi kata, lalu mereka mengobrol dengan orang lain, lalu kelewatan beberapa bagian dari ceramah Mahaguru, kemudian mereka menjadi frustrasi dan gelisah, hingga pada akhirnya sedih karena merasa kehilangan kesempatan untuk belajar dari Mahaguru.

Melihat proses seperti itu, orang yang bersangkutan terlihat terlalu sibuk dengan AGENDANYA SENDIRI untuk bisa benar-benar memperhatikan Mahaguru.
Terperangkap oleh dirinya sendiri serta oleh Untaian Pikiran dan Reaksi yang mengikutinya.

Aku selalu menyarankan teman-teman sekalian untuk Mendengarkan Dengan Penuh Perhatian dulu. Kalau kamu merasa ada bagian yang terlewatkan, kamu bisa menunggu publikasi transkripsinya atau menonton rekaman videonya.
Sama sekali tak ada kerugian dan kehilangan!

Kamu harus tahu saat kamu sibuk menulis, PIKIRANMU menjadi Penuh dan kamu tak bisa menyerap Inti Ajaran yang Mahaguru hendak berikan kepadamu!

Tahukah kamu bahwa mereka yang belum berjodoh mendengarkan atau mendapatkan manfaat dari ajaran Mahaguru, mereka akan tertidur atau tidak bisa hadir untuk mendengarkan ceramah beliau!

Hahaha! Aku bicara sungguhan!

Banyak orang memberikan persembahan kepada Reverend atau Sangha, karena memang berpahala.
Mereka akan diberkati oleh para Buddha, karena Sangha merupakan salah satu dari Triratna Buddha, Dharma dan Sangha.

Tapi kamu harus memberikan persembahan kepada Sangha yang Sejati, begitu juga kepada Buddha yang Otentik dan Sejati!

Gunakanlah pengetahuan Buddha Dharmamu dan bermain-mainlah.
Dari sikap si reverend di atas, bagaimana penilaianmu?
Aku tidak menuliskan semuanya, nanti malah kamu sibuk menerka-nerka!

Hahaha! Sungguh! Banyak orang yang tersesat karena suka “mencampuri urusan orang” dan buang-buang waktu menebak siapa yang aku tulis!

Jangan sia-siakan waktumu untuk hal-hal yang tidak penting!


Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, October 9, 2017

Kata Sandi Sarana – Sarana Kepada Diri Sendiri



Dibagikan oleh Lotuschef – 26 April 2011
Disunting kembali oleh Lotuschef – 9 Oktober 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 26-4-2011 皈依的口诀 – 皈依自性 Password for Refuge – Refuge in Self




取录于师尊文集75, 真佛法中法。

皈依的口訣─皈依自性


  皈依的含義,就是皈向、依靠、救度。密教有四皈依,就是皈依金剛上師,皈依佛,皈依法,皈依僧。

  而梵語的「南摩」,就是「皈依」。其四皈依即是:

  南摩古魯貝。

  南摩不打耶。

  南摩達摩耶。

  南摩僧伽耶。

  為什麼要皈依?因為有了皈依才有師父來教你佛法,若無師傳法,就無法可修。這是很簡單的道理。

  佛法的禪宗、密宗、律宗,很重視師父。

  禪宗,是師父來印證。

  律宗,是師父來傳戒。

  密宗,是師父來傳法。

  西藏密宗,其教理,首重根本金剛上師,是重傳承尊師法的,從「多傑羌如來」至傳法的根本上師,是根本中之根本。

  我認為皈依的根本,在一個「信」字上,「信」是一切的開始,也就是「信為道元功德母,增長一切諸善法,除滅一切諸疑惑,示現開發無上道。」

  有信才有樂,信心之體,必有歡喜之相,高高興興的皈依「蓮生活佛」。

  淨土宗的法門是皈依「信」念。

  天台宗的法門是皈依「一」念。

  密宗真言法門是皈依「阿」字。

  有信,才有「皈依」,有了皈依,才有「行」,是依密宗之法而行也,如此才有真正的歸向。

  「皈依」,是信解行證之始,先信樂其法,次了解其法,依其法而實際修行。

  最後是得證其果。

  所以,皈依的根本,就是「信」。

  皈依觀想的方法是:

  先觀想上師形容,天心白光迸現,射入行者的天心,喉際紅光迸現,射入行者喉際,心際藍光迸現,射入行者心際。

  行者恭唸「四皈依咒」:「南摩古魯貝。南摩不打耶。南摩達摩耶。南摩僧伽耶。」三遍。

  隨即觀想,「上師」出現虛空,「佛」出現虛空,「法本」現光出現虛空,「僧寶」出現虛空,互相融合,化為五色的大光明,這五色的大光明灌入行者的頂竅,注滿全身。再觀想自覺一切的業障,惡業,不淨業,罪業,全部化為黑色的氣,從毛細孔排了出去,自己變得光明透澈,身心輕安,充滿福慧。

  如此,即是真實的「皈依觀想法」的內明。

  蓮生活佛現在開示「無上的皈依口訣」如下:

  「自己實是因緣和合之體,是有佛性常住自心,這佛性是不生不滅,不斷不常,不來不去,不一不異。原來是佛,原與煩惱業緣均無交涉。凡夫因妄想執著而不知也。如今師尊特別指出,﹁這是真實的大智慧,『自己是佛』,一切佛法,無非權巧方便,最主要的皈依,是『皈依自性』,這才是皈依口訣,豁破了無明之後,回復本來常住真心,圓滿其清淨光明之法身。」

  這樣子的口訣,正是:

  譬如靈丹藥。

  點鐵成金寶。

  誦持陀羅尼。

  變凡作賢聖。

  常常持四皈依咒,觀想上師三光加被,五色大光明灌頂,可以入於無相定中,得皈依口訣,堅固自己的道心,永遠身語意三業清淨,就是堅固的「金剛幢如來」。

  師尊傳下權巧的法門。(寶輪)

  開啟你自心的佛性。(啟藏)

  迷時師度。(外皈依)

  悟時自度。(內皈依)

  你就是佛。(密皈依)


Artikel di atas diekstrak dari buku karya tulis Mahaguru Lu No. 75 – Dharma Satya Buddha di Dalam Dharma

Ringkasannya:

Bersarana: Berlindung kepada, percaya kepada, menyelamatkan dan terseberangkan.
Namo: Bersarana
Mengapa bersarana? Supaya memiliki seorang guru untuk mengajarmu Dharma dan bersadhana.
Mahaguru percaya bahwa IMAN KEPERCAYAAN merupakan awal dari segalanya – ia merupakan sumber dari jalur mengumpulkan berkah, berkembangnya segala metode kebaikan, penghancur segala keraguan, titik mula dari Jalur Tertinggi.

Dengan Iman maka barulah bersarana. Iman merupakan kompas penunjuk arah.
Pertama-tama adalah Iman yang disertai dengan Sukacita Dharma, kemudian berlanjut ke dalam proses memahami Dharma, mengandalkan Dharma untuk melatih diri hingga mencapai keberhasilan.
Di dalam Tantrayana – ada 4 Sarana yang meliputi sarana kepada Guru Akar dan Tri Ratna.
Memvisualisasikan Sang Guru Akar, Buddha, Dharma dan Sangha menyatu dan memancarkan cahaya untuk memenuhi tubuh sang yogi – dengan demikian maka semua kegelapan akan terhapus sehingga sang yogi menjadi cemerlang dan tembus pandang, penuh dengan sukacita dan keberuntungan.

Rahasia dalam Sarana adalah kamu pada akhirnya menemukan bahwa Kodrat Buddha dirimu sendiri sudah ada di dalam diri, ia bersifat abadi dan tiada apapun juga yang mampu menghancurkannya. Segala kesulitan dan penderitaan tidak ada yang permanen, dan Dharma hanyalah sebagai fasilitator saja.
Yang terpenting adalah bersarana kepada Diri Sendiri.
Menghapuskan kebodohan, kembali kepada Kodrat Buddha yang telah berdiam abadi, kembali menemukan kodratnya yang suci nan terang benderang.

Dengan sering memvisualisasikan 4 Sarana dan Guru Akar memancarkan 3 cahaya kepada dirimu, maka kamu akan bisa memasuki Samadhi Tiada Wujud, menerima sandi sarana, pikiranmu menjadi teguh dalam menapaki Sang Jalan (Tao), tri karma (ucapan, pikiran, tindakan) selalu suci, inilah yang dinamakan sebagai Buddha Panji Vajra yang Kokoh nan Tak Goyah.

Semoga kamu menikmati artikel di atas dan mampu menggunakannya untuk pelatihan dirimu.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lotuschef

Saturday, January 23, 2016

Nagarjuna Menunjukkan Kesalahan Orang-orang yang Melatih [Kemujuran]



Karya tulis Mahaguru Lu: 蓮生活佛著作 > 盧勝彥文集 > 184_給你點上心燈 > 龍樹破「修福」者
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 16 Oktober 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 龍樹破「修福」者 Nagarjuna Broke Up [Auspiciousness] Cultivators


Nagarjuna menerima naskah Kesempurnaan Kebijaksanaan dari seorang nagini.
Di sebelahnya adalah Aryadeva, yang kemudian menguraikan ajarannya.
Di angkasa, Bodhisattva Manjushri, yang menyamar sebagai manusia sedang duduk di atas seekor singa.

天竺十四祖龍樹大士,得了十三祖迦毘摩羅付法之外,便至南天竺弘法。
Setelah Patriak ke-14, Nagarjuna, menerima dharma dari Patriak ke-13, Kapimala, beliau kemudian pergi menuju India Selatan untuk membabarkan dharma.

南天竺的國人,太半以修「福」為主,所謂修行,就是「做善事」了。
Orang-orang di India Selatan, lebih dari setengah penduduknya sebagian besar melatih [Kemujuran], dan bagi mereka yang namanya bersadhana hanyalah sekedar [berbuat baik ataupun beramal].

龍樹大士為他們說法。
Nagarjuna membabarkan dharma kepada mereka.

有修福者,質問龍樹:「人有福報,世間第一。徒言佛性,有誰能見?」
Lalu seorang pelatih kemujuran menanyai Nagarjuna: “Orang yang punya pahala kemujuran, adalah yang paling unggul di dunia. Anda bicara tentang Kodrat Buddha, siapa yang bisa melihatnya?”

龍樹說:「汝欲見佛性,先須除我慢。」
Nagarjuna menimpalinya: “Kalau Anda ingin melihat Kodrat Buddha, pertama-tama harus menyingkirkan Kesombongan dulu.”

修福者問:「佛性大小?」
Pelatih kemujuran bertanya: “Kodrat Buddha itu besar atau kecil?”

龍樹說:「非大非小,非廣非狹。無福無報,不死不生。」
Nagarjuna menjawabnya: “Tidak besar, juga bukan tidak kecil, tidak luas tidak sempit. Tak ada kemujuran ataupun pahala, tiada kematian ataupun kelahiran.”

修福者折服。
Si pelatih kemujuran menjadi terkesan.

龍樹大士為度化這些人,施展神通,現如滿月之輪,清淨湛然。
Nagarjuna dalam usahanya menyelamatkan orang-orang ini, menampilkan kesaktian Astral dengan mengubah diri menjadi Chakra Bulan Purnama yang bersih, suci dan hening.

其中,龍樹的首座弟子「迦那提婆」,謂大眾說:「識此相否?」
Di tengah orang-orang, Kanadeva (Aryadeva), murid Nagarjuna yang paling unggul, menanyakan kepada sekumpulan orang-orang di sana: “Kalian tahukah wujud ini?”

大眾答:「目所未?,安能辨識?」
Mereka menjawabnya: “Tak pernah melihatnya, bagaimana cara menjelaskannya?”

提婆說:「這是大士現佛性體相,以示我等。何以知之,因其無相三昧,形如滿月,佛性之義,廓然虛明。」
Aryadeva mengatakan: “Ini adalah Sang Mahaguru sedang menunjukkan sebuah wujud Kodrat Buddha kepada kita. Bagaimana cara mengetahuinya, karena samadhi tanpa wujudnya berbentuk seperti Bulan Purnama, dan itulah makna dari Kodrat Buddha, sunyi namun suci dan cemerlang.”

龍樹大士復本相,說偈:「身現圓月相,以表諸佛體。說法無其形,用辨非聲色。」
Nagarjuna kemudian kembali ke wujud asalnya, dan mengucapkan syair berikut:
“Tubuh menampilkan wujud Bulan Purnama, untuk melambangkan tubuh para Buddha.
Membabarkan dharma tanpa menampilkan wujud mereka, menjelaskan bukan suara ataupun wujud.”

最後,龍樹大士付法給上首弟子「迦那提婆」。
Pada akhirnya, Nagarjuna mentransmisikan sajak tersebut kepada murid terunggulnya [Kanadeva].

付法偈曰: Sajak transmisi dharma:

「為明隱顯法。Hanya dengan memahami dharma yang tak terlihat dan terlihat.
方說解脫理。Barulah kemudian mampu menjelaskan teori mendobrak bebas.
於法心不證。Mengenai dharma itu sendiri, Hati tak bisa dibuktikan.
無瞋亦無喜。」Tiada kebencian ataupun kesukaan.

在這裡,我要告訴大家,到了今天,談到修行,許多人都會說:
Sampai di sini, aku hendak memberitahumu semua, hingga hari ini, saat membahas pelatihan diri, banyak orang yang akan bilang:

「我心好,就好了!」
“Aku punya hati yang baik, itu sudahlah cukup!”

「修行,就是做善事,就對了!」
“Bersadhana, sudahlah cukup dengan melakukan amal ataupun perbuatan baik, itu sudah benar!”

這二句話,至今仍然盛行。
Dua pernyataan di atas, hingga sekarang masih saja berkembang luas.

我不敢說,這兩句話,有什麼不對,「心好」、「做善事」,正是做人的根本,升天的根本,至天堂的根本。不管任何宗教,均以「心好」、「做善事」為根本第一。
Aku sendiri tak berani bilang kalau dua pernyataan tersebut salah, [Punya hati yang baik], [melakukan perbuatan baik], tentu saja merupakan landasan untuk menjadi manusia dan supaya bisa masuk surga. Mau agama apapun juga, semuanya menjadikan [hati yang baik] dan [melakukan perbuatan baik] sebagai dasarnya.

佛教亦言:「諸惡莫做,眾善奉行。」也!
Agama Buddha ada sebuah pepatah: “Jangan lakukan kejahatan apapun, junjunglah segala perbuatan baik.”

然而,「心好」、「做善事」,是有形的。
Namun yang namanya [Baik hati] dan [Berbuat baik] itu berwujud.

一般,以為「心好」、「做善事」就是功德很大了,但是,他們不知道,「心好」、「做善事」,就如同一粒沙,彈入一座山。
Dan banyak orang yang menganggap bahwa [Baik hati] dan [Berbuat baik] sebagai pahala besar, sayangnya mereka tak tahu bahwa [Baik hati] dan [Berbuat baik] hanyalah segenggam pasir yang dilemparkan ke gunung.

這是我常常用的比喻。
Beginilah aku biasanya mengilustrasikan maksudku.

以今天的宇宙觀而言:
Menggunakan cara pandang universal jaman sekarang ini sebagai contoh:

地球如一粒沙。
Bumi ini hanyalah bagaikan sebutir pasir.

汝善事再大,仍然在沙中。在一粒沙中,做善事。
Mau seberapa besarnya pun perbuatan baikmu, masihlah sebutir saja di dalam sebuah kubangan pasir.
Melakukan perbuatan baik di dalam sebutir pasir.

所以,做善事,要以無功德想,才是長養「菩提心」的方法。
Oleh karenanya, melakukan perbuatan baik harus dengan menganggapnya sebagai Tiada Pahala, barulah dinamakan sebagai sadhana untuk mengembangkan dan memelihara [Bodhicitta].

也即是:「所謂功德,就是沒有功德,才是功德。」
Maksudnya adalah: “Yang namanya pahala, adalah bukan pahala, maka disebut pahala.”
(Komentar Lotuschef: Hahaha! Tak asing di telinga? Ini mirip dengan ajaran Buddha di dalam Sutra Intan!)

大家可以想一想,中國有五千年的歷史,其中慈善家不在少數,我們今天看看,他們的功德也是無形的。
Kamu semua renungkanlah hal ini, di dalam sejarah Tiongkok selama 5000 tahun, yang namanya orang beramal juga tidak sedikit, dan kalau kita lihat di jaman sekarang ini, pahala mereka (sudah) tak ada wujudnya.

有形的功德,何存?梁武帝蕭衍自以為功德甚大,如今他的有形功德何存?
Adakah yang namanya pahala dengan wujud? Kaisar Liang Wu Ti, Xiao Yan, merasa bahwa pahalanya cukup besar, tapi di saat ini apakah wujud pahalanya masih ada?

我實實在在的告訴大家:「功德無形、無相。」
Aku sungguh-sungguh memberitahumu semua: “Pahala itu tak berbentuk, tak berwujud.”

龍樹大士現出淨月輪相,以表佛性。
Nagarjuna menampilkan chakra bulan purnama yang suci untuk menunjukkan Kodrat Buddha.

在密教的觀想之中,正是「月輪觀」,「月輪」就代表了佛性,因為除了「淨月輪」,佛性根本是無言無說的,是不可說的。
Di dalam visualisasi Tantrayana, inilah yang sesungguhnya merupakan [visualisasi Chakra Rembulan], dan [Chakra Rembulan] ini melambangkan Kodrat Buddha, karena selain [Chakra Rembulan yang Suci] maka Kodrat Buddha pada dasarnya tak bisa digambarkan dan dijelaskan.

我當然明白「淨月輪」是無相三昧的表徵。
Aku, tentu saja, paham bahwa [Chakra Rembulan yang Suci] ini merupakan perlambang Samadhi Tiada Wujud.

我若坐法座之上,不言不語。
Kalau saja aku duduk di atas singgasana dharma dan tak mengucap sepatah katapun.

請大家告訴我,佛性是什麼?是什麼?
Adakah kiranya dari kamu yang bisa memberitahuku, apakah yang dimaksud dengan Kodrat Buddha? Apakah itu?

~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Bukankah artikel ini punya citarasa Sutra Intan dan juga konsep Tiga Roda Kekosongan?

Kalau kamu tak paham apa yang Mahaguru Lu sedang ajarkan di sini, maka kamu belum tekun mempelajari isi sutra-sutra yang berhubungan dengan topik tersebut!

Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, October 5, 2015

Koan Zen – Bhiksu Tungku Rusak



Diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan anotasi oleh Lotuschef – 30 September 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 禅宗公案 Zen Koan – 破灶堕和尚 Broken Stove Monk


Sumber: 破灶堕和尚

有一个 “灵性” 附在一个破灶上,以灶为身,使灶显灵。
Sebuah tungku masak yang telah rusak ditempeli oleh “roh” dan menggunakannya sebagai tubuhnya. Dari sana ia menampilkan keajaiban “spiritual”.

于是有很多人祭祀它、供它、求它解决疑难。
Demikianlah maka banyak orang yang datang untuk berdoa, memberikan persembahan, dan memohon bantuan untuk menyelesaikan berbagai masalah mereka.

这个灵性贪图人的供养,而且好食血腥之物,也就随乡人的愿而大显神通。
Roh ini serakah akan persembahan, suka makanan yang berdarah, oleh karenanya menampilkan kesaktian besar sesuai dengan harapan para warga desa.

顿时,一传十、十传百,乡人都杀牛宰羊供养这个破灶。
Tentunya kabar ini menyebar dan semua warga desa menyembelih sapi dan kambing untuk dipersembahkan kepada tungku rusak tersebut.

有位禅师(慧安国师的弟子)恰好路过此地,看乡人如此愚痴,而这灵性欲望如此炽盛,不惜杀生害命,太不象话了!
Ada seorang guru zen (murid guru negara Hui-an) yang kebetulan lewat tempat itu. Melihat kebodohan para warga desa, begitu juga dengan semakin bertambahnya kerakusan roh tersebut, tak peduli akan nyawa-nyawa yang dibunuh dan dicelakai, sungguh keterlaluan!

于是,他油然生起大悲心,要度化这个附灶的灵性。
Demikianlah, hatinya yang penuh welas asih otomatis berkembang dan ia ingin menyelamatkan roh yang menempel pada tungku tersebut.

他拿起禅杖,在灶上敲了三下,说道:
Mengangkat tongkat Zen-nya, ia mengetuk tungku tersebut 3x, dan berkata:

“泥瓦合成,圣从何来?灵从何起?恁么烹宰物命!”
“Lempung dan tanah bercampur, Orang Suci datang dari mana? Roh berasal dari mana? Membunuh dan memasak nyawa seperti ini!”

其意是告诫这个灵性,你本性是遍一切处、妙用无边的,可你却拘着在这个泥水砖瓦合成的破灶上,受人供养,杀生害命,看似享受,实是造业,将来定会受报无穷。
[Di atas ini adalah peringatan untuk si roh mengenai perbuatannya yang akan berakhir dengan malapetaka besar bagi dirinya sendiri dan juga tentang kodrat diri yang tiada batasnya bila digunakan dengan luhur.]

问它“灵从何起”?
Menanyainya, “roh berasal dari mana?”

即是点醒它,灵不在砖瓦的灶上,而在你的佛性中,趁现在无色身之累,赶快回光返照,认识佛性,即能遍一切处,自在逍遥而无往不利矣。
Adalah untuk menyadarkan si roh, memberitahunya bahwa ia tak terbentuk dari tungku tanah liat atau lempung, tapi berasal dari kodrat buddha yang sudah ada di dalam diri sendiri; di saat ini bila tak ada rintangan wujud lagi, segeralah menyadari kodrat buddha maka akan bisa bebas leluasa, berada di manapun, tak terintangi, dan semuanya berjalan dengan lancar pula.

禅师又敲了三下,这个灶就一下子倒塌了。
Guru Zen sekali lagi mengetuknya 3x dan kali ini tungku tersebut pecah.

灵性现一俊俏男子身,给禅师顶礼,感谢说:
Si roh tampil dalam wujud tubuh lelaki yang tampan, memberikan penghormatan kepada Guru Zen, sambil mengucap syukur:

“我本此庙灶神,久受业报。今日蒙师说无生法,得脱此处,生在天中,特来致谢。”
“Aku ini dulunya adalah dewa kompor dari rumah ibadah ini, membayar karmaku dalam jangka waktu yang lama. Hari ini bersyukur kepada Guru karena telah mengajarkan ~ Dharma tiada bertambah ataupun timbul; sehingga bisa terbebaskan dari tempat ini, terlahir di surga, demikianlah khusus datang untuk menghaturkan rasa syukurku.”

由此,禅师得名为 “破灶堕” 和尚。

一切精灵都能附在草木砖瓦上而显灵,就象我们这个妄心纳在肉身里面,但只能遍这个肉身,而不能遍其它的地方。

因为执着了这个身体是我,却不知身外的一切都是我,这是多么愚昧无知呵!

古德云:“青青翠竹,尽是法身;郁郁黄花,无非般若。”

山河大地尽是法王身。

佛性是无所不在、无时不在、无处不在的。

只因我们妄想执着之故,不知道佛性遍一切处,只晓得这个肉身。

这不是太可惜了吗?

~~~~~~~~

Bagaimana dengan Kodrat Buddha seseorang?

Mengapa mengunci Diri ke dalam suatu wujud TERTENTU?

Mereka yang mengejar gelar, nama, dan ketenaran, kini saatnya sadar!

Ingatkah Mahaguru Lu pernah menjelaskan bahwa tubuh manusia ini hanyalah gabungan dari elemen tanah, air, api, dan angin?
Dan mengenai sadhana 4 peluruhan agung 四大分解 ?


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Tuesday, September 22, 2015

Koan Zen – Payungmu Menyelamatkan Dirimu Sendiri



Diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan anotasi oleh Lotuschef – 22 September 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 禅宗公案 Zen Koan – 自伞自度 Own Umbrella Succour Self



Sumber: 自伞自度

有一个信者在屋檐下躲雨,看见一位禅师正撑伞走过,于是就喊道:
‘禅师!普度一下众生吧!带我一程如何?’
Seorang umat sedang berdiri di bawah atap supaya tak terkena siraman air hujan, dengan nyaring ia memanggil seorang Guru Zen yang sedang lewat sambil membawa sebuah payung:
“Guru Zen! Mohon selamatkan seorang insan awam ini! Bagaimana bila turut membawaku serta ?”

禅师道:‘我在雨里,你在檐下,而檐下无雨,你不需要我度。’
Guru Zen menimpalinya: “Aku di bawah guyuran hujan, sedangkan kamu di bawah naungan atap, tak ada hujan di bawah atap, jadi kamu tak perlu aku untuk menolongmu.”
      
信者立刻走出檐下,站在雨中,说道:‘现在我也在雨中,该度我了吧!’
Si umat segera berpindah dari bawah atap dan kini berdiri di bawah guyuran hujan, ia berkata: “Sekarang aku juga terkena hujan, sekarang seharusnya aku ditolong dong!”
      
禅师:‘我也在雨中,你也在雨中,我不被雨淋,因为有伞;
你被雨淋,因为无伞。
所以不是我度你,而是伞度我,你要被度,不必找我,请自找伞!’
Guru Zen: “Aku juga di bawah guyuran hujan, kamu juga di bawah guyuran hujan, aku tak terkena hujan karena punya payung, kamu terkena hujan karena tak punya payung.
Jadi, bukan aku yang menolongmu tapi payunglah yang menolongku, kalau kamu ingin ditolong, tak perlu mencariku, justru kamu sendirilah yang mencari payung!”
      
说完便走了!
Setelah berkata demikian, Guru Zen segera pergi! 
   
自己有伞,就可以不被雨淋,自己有真如佛性,应该不被魔迷。
Punya payung sendiri maka tak akan kehujanan, punya kodrat buddha sendiri yang sudah melekat di dalam diri maka tak akan disesatkan Mara.

雨天不带伞想别人助我,平时不找到真如自性,想别人度我。
Di hari-hari di mana hujan turun, bila tak membawa payung dan berpikir untuk meminta orang lain menolong dirimu, berarti tak menemukan kodrat buddha yang sepanjang masa sudah melekat di dalam dirimu, mengharap orang-orang lain untuk mengulurkan pertolongan.

自家宝藏不用,专想别人的,岂能称心满意?
Tak menggunakan harta sendiri, selalu memikirkan harta orang lain, bagaimana caranya terpuaskan?

自伞自度,自性自度,凡事求诸己,禅师不肯借伞,这就是禅师的大慈悲了。
Payung sendiri menyelamatkan diri sendiri, kodrat sendiri menyelamatkan diri sendiri, jawaban untuk segala persoalan lihatlah ke dalam batin sendiri; Guru Zen menolak meminjamkan payung – sebenarnya merupakan kebajikan dan welas asihnya yang agung.

~~~~~~~~~

Teman-teman sekalian yang terkasih,
Kisah di atas adalah yang Mahaguru Lu selalu tekankan di segala waktu: Lakukanlah sendiri (Do It Yourself ~ DIY)!

Mahaguru Lu bilang bahwa TAK ADA SEORANGPUN yang mampu menolongmu untuk berlatih hingga mencapai Kebuddhaan. Hanya dirimu sendiri yang mampu!

Sifat manusia pada dasarnya rakus dan malas berusaha?

Bagaimana halnya dengan kisah-kisah Zen yang telah kuunggah?

Supaya kamu berusaha mencernanya!

Jangan cari jawaban dariku! :)

Ingatlah selalu bahwa Mahaguru Lu bilang: Tak ada jawaban untuk Pencerahan!

Hahaha!

Kalau kamu memperhatikan ajaran-ajaran Mahaguru Lu, kamu tak akan mencari jawaban dari siapapun!

Kuncinya: Kamu sudah punya semuanya di dalam dirimu, tinggal Ditemukan saja!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, August 8, 2015

Bagaimanakah yang sesungguhnya bersama dengan Buddha?



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 8 Agustus 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 何為真正的与佛同在?What is Truly to be with Buddha?


Catatan:
Beberapa bagian dipilih dan diterjemahkan dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef. Turut mempersilakan teman-teman untuk menerjemahkan sendiri supaya mendapatkan versi yang mampu dipahami sepenuhnya. :)

Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom

~~~~~~~~


~~~~~~~~

何為真正的与佛同在?


Dikutip dari Facebook Reverend Lian Wu.

這些相是我与師尊珍贵的合照集合。
早期可跟師尊合照机会多,后期人多了,不好意思再打扰師尊再与師尊合照了。
Penulis memasang beberapa foto dirinya bersama dengan Mahaguru.
Ia meratap karena di masa-masa awal dulu ada banyak kesempatan untuk berfoto bersama Mahaguru, namun sejalan dengan bertambahnya jumlah murid, penulis merasa lebih baik tak mengganggu Mahaguru dengan acara berfoto dengan beliau.

唯有与蓮花童子金身合照,結果有人說我的臉很象蓮花童子的臉。(笑)
Oleh karenanya hanya bisa berfoto dengan patung Padmakumara, sampai-sampai ada beberapa orang yang bilang kalau wajah si penulis cukup mirip dengan wajah Padmakumara. (Tertawa)

我是很渴望天天与師尊在一起,但沒福份啦。嗚~
Penulis dengan penuh semangat berharap untuk bisa bersama Mahaguru setiap harinya, tapi ternyata tak punya pahala seperti itu. Woo~

其實如果沒入佛知見領悟到師尊的意旨,就算天天与師尊一起,都是离佛很遠。
Pada kenyataannya, bila tak memasuki realisasi Buddha untuk memahami instruksi Mahaguru, bahkan bila setiap haripun berada dekat Mahaguru secara fisik, sama artinya dengan sangat jauh dari Buddha.


相反,如果領悟到師尊的意旨入佛知見證得般若實相,不管你遠隔天涯,才是真的与師尊在一起。
Sedangkan, bila merealisasikan instruksi Mahaguru dengan memasuki realisasi Buddha yang menegaskan kebenaran wujud sejati dari Prajna Kebijaksanaan, maka mau seberapa jauhpun jarak memisahkan, orang tersebut sungguh-sungguh selalu bersama dengan Mahaguru.


請看以下這故事:
Bacalah kisah berikut:
Catatan** [Mahaguru baru-baru ini mengisahkan tentang Subhuti yang “pertama kali” menyambut dan bertemu dengan Buddha Shakyamuni.]

Baca juga: Pola Pikir: Justru Niat-lah yang Dianggap!
Kutipan:
[--- Subhūti (Pali: सुभूति; Mandarin: 须菩提; pinyin: Xūpútí) adalah salah satu dari Sepuluh Maha Sravaka Buddha Shakyamuni, dan paling unggul dalam pemahaman akan kekosongan (shunyata). ---]

有一次,佛從忉利天來下人間,人間的佛弟子,都歡喜的去見佛。
依次序,比丘應在比丘尼之先,但蓮華色尼 (Uppalavana Theri) 為了先得見佛,即化作轉輪王(Chakravartin),走在最前面。

他以為最先見佛了,但佛對他說:
不是你先見,『須菩提 (Subhūti) 先見我身』
。
Sang Buddha berkata kepada Uppalavana Theri: Kamu bukanlah yang pertama menemuiku, Subhuti-lah yang pertama kali melihat wujud tubuhku.

原來,那一次,須菩提沒有參加迎佛的勝會。
Sebenarnya, pada saat itu, Subhuti tak bergabung dalam acara penyambutan Sang Buddha.

當眾人去見佛時,他想:佛曾說:見法即見佛,我何不正觀法相!
Saat semuanya pergi untuk bertemu Sang Buddha, ia berpikir: Buddha berkata “Melihat Dharma adalah Melihat Buddha, kenapa aku tak memvisualisasikan Dharmakaya dengan benar!”

於是他就觀察諸法的從緣生滅,從無常為門而悟入空性進入實相,徹見了如來法身。

佛肯定的說:不可以身相得見如來。
Sang Buddha mengatakan dengan sangat jelas: Tak bisa mengandalkan wujuh badaniah untuk melihat Buddha.


這些身相,都不過是假名如幻的妄相;佛的無盡莊嚴,也一樣的絕無少許法可取可得 。

《金剛經》- Sutra Intan 所說
「凡所有相,皆是虛妄,若見諸相非相,即見如來!

共勉之。
~~~~~~~~~~~

Hahaha!
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Kamu sudah membaca artikel yang ditulis oleh Reverend Lian Wu di Facebook-nya ataupun di blog ini?

Bila sudah, dan kamu juga memahaminya, maka KAMU merupakan salah satu orang yang tak akan mengerumuni Mahaguru Lu! :)

Pelatihan diri yang tekun akan membawamu sangat dekat dengan Mahaguru Lu – Buddha Hidup Lian Sheng, dan semua dewata pilihanmu, kapanpun dan di manapun kamu inginkan!

Mereka yang memberitahuku ataupun orang-orang lain, pamer kalau sangat dekat atau bisa makan semeja dengan Mahaguru, …. Sungguh sudah saatnya untuk sadar dan berusaha untuk benar-benar memahami Buddha Dharma! :)

Para VIP dan VVIP?

Hahaha!

Seperti yang dituliskan di dalam Sutra Intan, demikianlah Sang Buddha bersabda:
凡所有相,皆是虛妄 Semua dengan Wujud, adalah bohongan belaka (bukanlah yang sejati).

Kalau begitu apa yang merupakan Kebenaran Mutlak?
Kodrat Buddha dirimu sendiri!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
 
 

Wednesday, April 1, 2015

Rahasianya Justru Ada Pada Dirimu Sendiri



Artikel rujukan ditulis oleh Mahaguru Lu
Dipilih dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 21 Maret 2015
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: 祕密在汝那邊 The Secret Is In Your Possession


Mempersilakan teman-teman untuk menerjemahkan sendiri sehingga menjadi versi yang mampu dipahami sesuai dengan tingkat pelatihan dirimu saat ini. :)

~~~~~~~~~


蓮生活佛 > 師尊文集 > 188_送你一盞明燈

蓮生活佛/文

  道明禪師即慧明禪師。
Guru Zen Dao Ming juga dikenal sebagai Hui Ming.

  首先依五祖弘忍禪師,初無解悟。
Pertama kali belajar di bawah bimbingan Patriak Zen ke-5, Master Hong Ren, namun belum mendapatkan pencerahan.

  後來,聽到五祖祕密付法付祖衣給六祖「盧行者」,即率眾追殺六祖。
Lalu ia mendengar bahwa Patriak Zen ke-5 secara rahasia mentransmisikan dharma dan jubah silsilah kepada Patriak ke-6 [Yogi Lu]. Ia kemudian membawa sekelompok orang untuk mengejar dan membunuh Patriak ke-6.

  在「大庾嶺」追上。
Akhirnya berhasil terkejar di [Da Yu Ling].

  六祖見慧明禪師追至,即擲衣缽於磐石,說:「此衣表徵信物,可力爭,任君拿去。」
Saat melihat Master Hui Ming, Patriak ke-6 melemparkan jubah dan mangkuk patra ke atas batu yang besar dan berkata: “Jubah ini melambangkan Iman, ambillah kalau kamu memang bisa mengambilnya.”

  慧明禪師上前取之。
Master Hui Ming mencoba mengambilnya.

  「衣缽」如山不動。
Bagaikan gunung, [jubah dan mangkuk patra] tak bergerak sama sekali.

  慧明禪師大駭。
Master Hui Ming sangat terkejut.

  慧明說:「我是來求法的,不是為了祖衣,願盧行者開示於我。」
Hui Ming berkata: “Aku di sini untuk memohon Dharma, bukan untuk jubah silsilah. Mohon Yogi Lu mengajariku.”

  六祖答了一句千古名言:「不思善,不思惡,正恁麼時。阿那箇是慧明上座本來面目?」
Patriak ke-6 menimpalinya dengan kalimat yang terkenal sepanjang masa: “Tak memikirkan Kebaikan, Tak memikirkan Kejahatan, bertindak dengan tepat di saat itu. Itulah Kodrat Sejati Master Hui Ming.”


  慧明一聽,當下大悟。遍體汗流,泣而拜之。
Saat mendengarnya, Hui Ming langsung tercerahkan. Sekujur tubuh berkeringat dan dengan air mata yang berderai ia bernamaskara kepada Patriak ke-6.

  慧明禪師又問:「上來密語密意外,還更別有意旨否?」
Master Hui Ming kembali bertanya: “Selain makna dan kata-kata rahasia (yang diturunkan oleh para patriak dari generasi ke generasi), masih adakah arahan lainnya?”

  六祖答:「我今與汝說,即非密也。汝若返照自己面目,密卻在汝那邊。」
Patriak ke-6 menjawabnya: “Apa yang kukatakan kepadamu, sebenarnya juga bukan rahasia. Kalau kamu merenungi kodratmu sendiri, maka rahasia ada di tanganmu sendiri.”


  慧明禪師說:「我雖在五祖弘忍處隨眾,實未省自己面目,今蒙指授入處,如人飲水,冷暖自知。今天,六祖即是我師了。」
Master Hui Ming mengatakan: “Meski aku belajar di bawah bimbingan Patriak ke-5, Master Hong Ren, sebenarnya aku belum mempelajari kodratku sendiri. Terima kasih atas petunjukmu, bagaikan seseorang yang meminum air, hanya ia sendiri yang tahu tingkat dingin atau panasnya air itu. Hari ini, Patriak ke-6 adalah guruku.”

  六祖答:「汝我同師承五祖,善自護持吧!」
Patriak ke-6 menimpalinya: “Sama seperti saat aku belajar di bawah bimbingan Patriak ke-5, aku tetap berusaha sendiri dengan tekun.”

  (這位慧明禪師,後來改名為道明禪師,因為慧明與慧能,同一慧字,因避六祖上字,才改道明。)

●

  我說:「六祖慧能禪師的這句不思善,不思惡,正恁麼時,阿那箇是本來面目?」

  其中大玄旨,而且是大大玄旨,此旨是天大地大間的真理。

  道明禪師一聽即悟。

  我現在問大家:「汝悟了沒?」

  我想,還是有很多人,思了又思,又思再思,遍體汗如雨下,但,仍然不知其中的玄旨。

  六祖慧能又補充說了一句:「汝若返照自己面目,密就在汝那邊。」

  (這句話更清楚了,更慈悲了)

●

  最近。

  有很多人問我:「師尊!什麼叫明心?」

  「師尊!什麼叫見性?」

  我一聽,便跑。

  他們即追。

  我說:「你們不要追著我問,追了大半日,大半月,大半年,也問不出一個所以然。你們何不返照自己面目呢?」

  我實實在在的告訴大家,明心,一定要明明白白自己的心;見性,一定要親證佛性。
Dengan segala kesungguhan aku memberitahumu sekalian, [Ming Xin] berarti Memahami Hati, maka harus sepenuhnya memahami hati sendiri; [Jian Xing] berarti Melihat Kodrat, maka diri sendiri harus mengafirmasi (menegaskan) kodrat buddha sendiri.

這是無法去表現出來的,我不能夠告訴你,因為那是「我」的祕密。
Demikianlah tak ada cara untuk menunjukkan dan memberitahu, karena hal itu adalah Rahasia yang hanya [Aku/Diri Sendiri] tahu.

  重要的是,你自己明白自己的本來面目,一明白,那就是你的了。
Poin pentingnya adalah kamu harus memahami kodrat sejatimu sendiri. Sekali paham, maka selamanya adalah milikmu.

  照光三昧!
Samadhi kesucian tubuh, ucapan, dan pikiran!

  你如果得了「照光三昧」,我保證你,馬上明白,什麼是不思善,不思惡,正恁麼時!
Saat kamu berhasil melatih [Samadhi kesucian tubuh, ucapan, dan pikiran], aku berani jamin kamu akan langsung paham apa itu “Tak memikirkan kebaikan, tak memikirkan kejahatan, bertindak dengan tepat di saat itu”!

~~~~~~~~~~

Hahaha!

Semoga artikel di atas dapat membuatmu lebih paham bahwa hanya KAMU & Dirimu Sendirilah yang mampu mencapai pencerahan. Semuanya atas usahamu sendiri dan kamu HARUS melihat ke dalam batin sendiri juga!

Terlebih lagi, Patriak ke-6 adalah seorang yang buta huruf – di sini menunjukkan kalau beliau tak terkekang oleh Tulisan!
Beliau juga tak datang dari keluarga yang kaya!

Maka mereka yang mendapatkan pendidikan yang baik juga harus punya Kunci untuk mencapai Pencerahan. Kualifikasi akademismu mungkin bisa membantumu tapi tak sepenuhnya. :)

Jadi hal apa yang penting sekarang ini?

Mulailah dari memahami fondasi dasar. Semuanya dibangun dari sana!

Oh! Ulang tahun Patriak ke-6 tahun ini jatuh pada tanggal 28 Maret 2015. Penanggalan Imlek hari ke-9 bulan ke-2.
Ulang tahun imlekku juga jatuh di tanggal yang sama dengan Patriak ke-6. :)

27 Maret 2015 adalah ulang tahun Buddha Shakyamuni.
29 Maret 2015 adalah Ulang Tahun Penahbisan Mahaguru Lu, juga sama dengan Guru Padmasambhava.


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
 

Thursday, February 26, 2015

Ceramah Aliran Darah oleh Bodhidharma



Dibagikan oleh Lotuschef – 12 Februari 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Bodhidharma's Bloodstream Sermon



Bersumber dari Bodhidharma, Sang Patriak Zen
注:此经出自《大藏经》第48卷.
Catatan: Diambil dari <Tripitaka Sutra> Bab 48

Ayat pembuka:
三界混起,同归一心,前佛后佛,以心传心,不立文字。
Semua yang muncul di tiga alam berasal dari pikiran. Demikianlah Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan langsung dari pikiran ke pikiran tanpa memerlukan tulisan kata-kata.

~~~~~~~~~~~~

Ceramah Aliran Darah oleh Bodhidharma

Oleh Dr. Tan Kheng Khoo


Pikiran adalah Buddha, nirwana atau pencerahan.
Ia adalah realitas dari kodrat.
Pikiran adalah kodrat Buddha.
Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha.
Tiada gunanya mengundang Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan dan menjaga sila, bila kamu tak melihat kodratmu sendiri.
Seharian pergi berkeliling mencari seorang Buddha benar-benar menyia-nyiakan waktu.
Cukup realisasikan kodratmu sendiri.
Tiada Buddha di luar kodrat Buddhamu.
Kodrat dari pikiran ini pada dasarnya kosong, tak suci ataupun ternoda.
Kodrat ini terbebas dari sebab dan akibat.
Kodrat Buddha ini tak perlu melakukan latihan ataupun realisasi.
Ia tak melakukan kebaikan ataupun kejahatan; ia tak menjaga sila.
Ia tak malas ataupun bertenaga.
Ia tak melakukan apapun.
Seorang Buddha bukanlah seorang Buddha.
Tanpa melihat kodratmu, kamu tak akan mampu melatih “tiada pikiran” secara terus-menerus.
Pikiran ini atau kodrat Buddha bukanlah pikiran yang sensual (inderawi).
Ia tak pernah hidup ataupun mati di sepanjang segala kalpa.
Sang pikiran tak punya wujud dan kesadarannya tak terbatas.

“Wujud seorang tathagata banyaknya tak terhingga. Begitu pula dengan kesadarannya.”

Pikiran kita sama dengan pikiran semua Buddha.

“Semua yang punya wujud adalah ilusi belaka.”

“Di manapun kamu berada, di sana ada Buddha.”

Kita selalu punya kodrat Buddha kita sendiri.

Pikiran kita adalah Sang Buddha: jangan memuja seorang Buddha dengan seorang Buddha.
Begitu seseorang menyadari pikirannya atau kodrat Buddha-nya, ia berhenti menciptakan karma.

Pikiranmu bagaikan angkasa: kamu tak bisa merengkuhnya.
Tak ada sebab ataupun akibat di dalamnya.
Tiada yang mampu memahaminya.
Pikiran ini bukan berada di luar tubuh, yang tak punya kesadaran.
Bukan tubuh yang bergerak, tapi pikiranlah yang bergerak.

Ceramah ini membahas mengenai Kodrat Buddha, yang kosong dan tak memiliki wujud.
Kita selalu punya kodrat Buddha di dalam diri kita, dan ceramah ini juga menggambarkan kodrat Buddha secara mendetil.
Namun tak mengajarkan kita cara melihat kodrat Buddha kita.

~~~~~~~~~~~

Di atas ini adalah ringkasan ceramah yang cukup akurat.

Silakan menikmatinya!

Semoga kamu mendapatkan kunci-kunci untuk membantumu dalam melatih diri!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

~~~~~~~~~~~


Terjemahan lengkap Ceramah Aliran Darah dari Patriak Bodhidharma.
Sumber: The Zen Teachings of Bodhidharma
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Red Pine 1987

Ceramah Aliran Darah


Semua yang muncul di tiga alam berasal dari pikiran. Demikianlah Buddha dari masa lampau dan masa mendatang mengajarkan langsung dari pikiran ke pikiran tanpa ambil pusing mengenai berbagai macam definisi. Namun kalau mereka tak mendefinisikannya, apa yang mereka maksud dengan pikiran? Kamu akan bertanya. Itu pikiranmu. Begitu jawabanku. Itu pikiranku. Kalau aku tak punya pikiran, bagaimana caraku menjawab? Kalau kamu tak punya pikiran, bagaimana caramu bertanya? Yang bertanya itulah pikiranmu. Setelah melewati berkalpa-kalpa tanpa awal dan akhir, apapun yang kamu lakukan, di manapun kamu berada, itulah pikiranmu yang sebenarnya, itulah Buddha-mu yang sesungguhnya. Pikiran ini adalah Sang Buddha, ia masih sama. Di luar pikiran ini, kamu tak akan menemukan Buddha yang lain. Mencari pencerahan atau nirwana di luar pikiran ini adalah hal yang tak mungkin. Realitas sifat sejati (kodrat)-mu  – ketiadaan sebab dan akibat, adalah yang dimaksudkan sebagai pikiran. Pikiranmu adalah nirwana. Kamu mungkin berpikir kamu bisa menemukan Buddha atau pencerahan di suatu tempat di luar pikiran, tapi sayangnya tempat itu tak ada.

Mencoba untuk menemukan Buddha atau pencerahan adalah bagaikan menggenggam angkasa. Angkasa punya nama, tapi tak punya wujud. Ia bukan sesuatu yang bisa kamu ambil atau letakkan. Dan kamu tentunya juga tak bisa menggenggamnya. Di luar pikiran, kamu tak akan pernah melihat seorang Buddha. Sang Buddha adalah sebuah produk dari pikiran. Lalu kenapa mencari seorang Buddha di luar pikiran ini?

Para Buddha di masa lampau dan masa mendatang hanya membahas tentang pikiran ini. Pikiran ini adalah Sang Buddha, dan Sang Buddha adalah pikiran. Di luar pikiran tersebut tiada Buddha, dan di luar Buddha tak ada yang namanya pikiran. Bila kamu pikir ada Buddha di luar pikiran, mohon tanya dia ada di mana? Tak ada Buddha di luar pikiran, kenapa harus membayangkannya? Kamu tak akan mengetahui pikiranmu yang sesungguhnya selama kamu menipu dirimu sendiri. Selama kamu terpesona oleh wujud yang tak bernyawa, kamu tak akan terbebaskan. Kalau kamu tak percaya padaku, maka menipu dirimu sungguh tak akan menolong. Ini bukanlah kesalahan Buddha. Namun orang-orang memang sungguh tersesatkan. Mereka tak sadar kalau pikiran mereka sendiri adalah Sang Buddha. Kalau tidak, maka mereka tak akan mencari seorang Buddha di luar pikiran sendiri.

Buddha tak menyelamatkan Buddha. Bila kamu menggunakan pikiranmu untuk mencari seorang Buddha, kamu tak akan melihat Sang Buddha. Selama kamu mencari-cari Buddha di tempat lain, kamu tak akan melihat bahwa pikiranmu sendiri adalah Buddha. Jangan menggunakan seorang Buddha untuk memuja seorang Buddha. Dan jangan pula menggunakan pikiran untuk mengundang seorang Buddha. Para Buddha tak menjapa sutra. Mereka tak menjaga sila. Dan mereka juga tak melanggar sila. Mereka tak menjaga atau melanggar apapun. Para Buddha tak melakukan kebaikan maupun kejahatan.

Untuk menemukan seorang Buddha, kamu harus melihat kodratmu sendiri. Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha. Bila kamu tak melihat kodratmu, maka mengundang para Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan, dan menjaga sila – semuanya tak berguna. Mengundang Buddha akan menghasilkan karma baik, menjapa sutra membuat ingatan menjadi baik, menjaga sila membuatmu mendapatkan kelahiran kembali yang baik, dan memberikan persembahan menghasilkan berkat di masa mendatang – tapi tak menghasilkan Buddha. Bila kamu tak berusaha memahaminya sendiri, kamu perlu mencari seorang guru untuk menemukan titik ujung dari kehidupan dan kematian. Namun bila ia tak melihat kodratnya sendiri, orang semacam itu bukanlah guru. Bahkan bilapun ia mampu menjapa 12 macam kanon, ia tak akan mampu melepaskan diri dari Roda Kehidupan dan Kematian. Ia akan menderita di tiga alam tanpa bisa berharap untuk terlepas darinya. Dahulu kala, bhiksu Bintang Baik mampu menjapa keseluruhan kanon. Tapi ia tak mampu melepaskan diri dari Sang Roda, itu karena ia tak mampu melihat kodratnya sendiri. Kalau itu yang terjadi dengan Bintang Baik, maka melihat orang-orang jaman sekarang yang menjapa beberapa sutra atau sastra, dan berpikir kalau hal tersebut adalah Dharma, sungguhlah orang-orang bodoh. Kalau kamu tak melihat pikiranmu sendiri, menjapa banyak prosa juga tak ada gunanya.

Untuk menemukan seorang Buddha, yang perlu kamu lakukan adalah melihat kodratmu sendiri. Kodratmu adalah Sang Buddha. Dan Sang Buddha adalah orang yang bebas: bebas dari segala macam rencana, bebas dari segala macam kecemasan. Kalau kamu tak melihat kodratmu dan pergi berkeliling mencari-carinya, kamu tak akan menemukan seorang Buddha. Ada sebuah kebenaran bahwa “tak ada yang perlu dicari.” Namun untuk mencapai pemahaman seperti itu kamu akan butuh seorang guru, dan kamu harus berjuang untuk membuat dirimu paham. Hidup dan mati adalah hal yang penting. Makanya jangan disia-siakan.

Sungguh tak ada manfaat dengan menipu dirimu sendiri. Bahkan bila kamu punya segunung perhiasan, dan pelayan yang banyaknya bagai butiran pasir di sepanjang Sungai Gangga, kamu hanya bisa melihat mereka saat matamu terbuka. Namun bagaimana halnya saat matamu ditutup? Kamu harus menyadarinya bahwa apapun yang kamu lihat adalah bagaikan sebuah mimpi atau ilusi.

Kalau kamu tak segera menemukan seorang guru, kamu akan hidup dengan penuh kesia-siaan. Sungguh benar, memang kamu punya kodrat Buddha. Tapi tanpa bantuan seorang guru, kamu tak akan pernah mengetahuinya. Hanya satu dari sejuta orang yang mampu tercerahkan tanpa bantuan seorang guru. Bila memang demikian, karena berbagai kondisi yang sesuai, seseorang paham akan apa yang dimaksudkan oleh Buddha, dan oleh karenanya ia tak memerlukan seorang guru. Orang seperti itu punya kesadaran alamiah yang mengungguli apapun yang pernah diajarkan. Bila kamu bukan orang yang terberkati seperti itu, maka belajarlah dengan tekun, dan lewat berbagai instruksi maka kamu akan memahaminya.

Orang-orang yang tak paham dan berpikir bisa melakukannya tanpa belajar adalah tiada beda dengan jiwa-jiwa tersesat yang tak bisa membedakan antara putih dan hitam. Salah membabarkan Buddha Dharma, orang-orang seperti ini sesungguhnya malah menghina Sang Buddha dan merusak Dharma. Mereka berkotbah layaknya mereka mampu menurunkan hujan. Tapi yang dikotbahkan adalah ajaran iblis, bukan Buddha. Guru mereka adalah Raja Iblis dan murid-murid mereka adalah antek-antek Iblis. Orang-orang tersesat yang mengikuti arahan semacam itu tanpa disadari malah makin terperosok ke dalam Lautan Kelahiran dan Kematian. Bila mereka tak mampu melihat kodratnya, bagaimana caranya mereka menyebut dirinya Buddha? Mereka adalah pembohong yang menipu orang-orang lain supaya masuk ke alam para iblis. Bila mereka tak mampu melihat kodratnya, ajaran mereka mengenai 12 kanon juga sama saja dengan ajaran iblis. Mereka patuh kepada Mara, bukannya kepada Buddha. Berhubung mereka tak mampu membedakan putih dari hitam, bagaimana caranya melepaskan diri dari kelahiran dan kematian?

Siapapun yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha, sebaliknya yang tidak adalah manusia awam. Namun bila kamu bisa menemukan kodrat Buddhamu dari kodrat awammu, kamu akan bertanya: ada di mana? Kodrat awam kita adalah kodrat Buddha kita. Di luar kodrat ini tak ada Buddha. Sang Buddha adalah kodrat kita. Tak ada Buddha selain kodrat ini. Dan tak ada kodrat selain Sang Buddha. Tapi misalkan aku tak melihat kodratku, memangnya aku tak bisa mendapatkan pencerahan dengan mengundang Buddha, menjapa sutra, memberikan persembahan, menjaga sila, memberikan bakti pelayanan, ataupun melakukan perbuatan baik?

Tidak, kamu tak bisa. Memangnya kenapa tidak?

Kalaupun kamu mendapatkan sesuatu, hal tersebut hanyalah kondisional (bersyarat), itu karena karma. Ia adalah hasil dalam bentuk retribusi. Ia memutar Sang Roda. Dan selama kamu masih tercengkeram kelahiran dan kematian, kamu tak akan mendapatkan pencerahan. Kamu harus melihat kodratmu sendiri untuk mencapai pencerahan. Kalau tidak, semua pembahasan mengenai sebab dan akibat sungguhlah tak masuk akal. Para Buddha tak melatih omong kosong. Seorang Buddha sudah terbebaskan dari karma, bebas dari sebab dan akibat. Kalau dibilang ia mencapai sesuatu hal, berarti memfitnah Buddha. Apanya yang bisa dicapai olehnya? Bahkan berfokus pada sebuah pikiran, sebuah kesaktian, sebuah pemahaman, ataupun sebuah pandangan adalah hal yang tak mungkin bagi seorang Buddha. Seorang Buddha tidaklah sepihak. Kodrat pikirannya pada dasarnya adalah kosong, bukan suci, juga bukan bernoda. Ia bebas dari segala macam praktik dan realisasi. Ia bebas dari sebab dan akibat.

Seorang Buddha tak menjaga sila. Ia tak melakukan kebaikan ataupun kejahatan. Ia tak bertenaga ataupun malas. Ia adalah seseorang yang tak melakukan apapun, orang yang bahkan tak memfokuskan pikirannya pada seorang Buddha. Seorang Buddha bukanlah Buddha. Janganlah berpikir akan para Buddha. Bila kamu tak paham apa yang sedang kubicarakan, maka kamu tak akan memahami pikiranmu sendiri. Orang-orang yang tak melihat kodratnya sendiri dan membayangkan mereka mampu melatih “tiada pikiran” secara terus-menerus adalah pembohong dan orang bodoh. Mereka terjatuh ke dalam ruang yang tak ada ujungnya. Bagaikan orang mabuk, mereka tak bisa membedakan antara yang baik dengan yang jahat. Bila kamu bermaksud melatih hal demikian, kamu harus sudah mampu melihat kodratmu sendiri sebelum mengakhiri pikiran yang rasional. Mencapai pencerahan tanpa melihat kodratmu sendiri adalah suatu hal yang tak mungkin terjadi. Tapi masih saja ada orang-orang yang melakukan banyak kejahatan dan menganggap tak ada yang namanya karma. Orang-orang seperti ini salah menganggap bahwa berhubung segala hal adalah kosong, maka berbuat kejahatan bukanlah hal yang salah. Demikianlah mereka akan terjatuh ke neraka dengan kegelapan yang tak berujung tanpa ada harapan untuk terbebaskan. Demikianlah orang yang bijak tak akan percaya akan konsep seperti itu.

Tapi kalau setiap kondisi atau gerakan kita, kapanpun muncul, merupakan pikiran; kenapa kita tak melihat pikiran ini saat tubuh seseorang mati?

Pikiran selalu ada. Kamu hanya tak bisa melihatnya saja.

Kalau ada, kenapa aku tak melihatnya?

Apakah kamu pernah bermimpi?

Tentu saja.

Saat kamu bermimpi, apakah itu dirimu?

Ya, itu aku.

Dan apakah yang kamu lakukan dan katakan berbeda darimu?

Tidak, tak berbeda.

Kalau memang tak berbeda, maka tubuh ini adalah tubuhmu yang sesungguhnya. Dan tubuh yang sesungguhnya ini adalah pikiranmu. Dan pikiran ini, meski telah melalui berkalpa-kalpa tanpa awal, selalu sama. Ia tak pernah hidup ataupun mati, muncul ataupun menghilang, bertambah ataupun berkurang. Ia tak suci ataupun ternoda, baik ataupun buruk, lampau ataupun mendatang. Bukan benar ataupun salah. Bukan pria ataupun wanita. Tak muncul sebagai bhiksu ataupun orang awam, senior ataupun pemula, suciwan ataupun orang bodoh, buddha ataupun orang awam. Ia tak berjuang mencari realisasi dan tak menderita karma. Ia tak punya kekuatan ataupun wujud. Ia bagaikan angkasa. Kamu tak bisa memilikinya dan tak bisa kehilangannya. Gerakannya tak terhalangi oleh gunung, sungai, ataupun tembok batu. Kekuatannya yang tak bisa dihentikan mampu menembusi Gunung Lima Skandha dan menyeberangi Sungai Samsara. Tiada karma yang mampu menjerat tubuh sejati ini. Namun pikiran ini begitu lembut dan sulit untuk dilihat. Ia tak sama dengan pikiran sensual (ket: inderawi). Semua orang juga ingin melihat pikiran ini, dan mereka yang menggerakkan tangan dan kakinya dengan menggunakan sinarnya banyaknya bagaikan butiran pasir di sepanjang Sungai Gangga, tapi saat kamu menanyakan kepada mereka, mereka tak bisa menjelaskannya. Mereka bagaikan wayang. Pikiran ini milik mereka untuk digunakan. Tapi kenapa mereka tak bisa melihatnya?

Sang Buddha mengatakan kalau orang-orang sedang tersesat. Itulah kenapa saat mereka bertindak, mereka terjatuh ke dalam sungai kelahiran dan kematian yang tiada berujung. Dan saat hendak keluar, yang ada malah terjerumus lebih dalam. Semua ini karena mereka tak melihat kodratnya sendiri. Kalau saja orang-orang tak tersesat, kenapa mereka tak bertanya tentang sesuatu yang ada di depan mata mereka? Tak ada satupun dari mereka yang paham mengenai gerakan tangan dan kakinya sendiri. Makanya Sang Buddha tak salah. Orang-orang tersesat tak tahu siapa diri mereka. Hanya seorang Buddha sajalah yang tahu akan sesuatu yang sangat susah untuk dilukiskan. Hanya orang bijak yang paham mengenai pikiran, pikiran ini dinamakan sebagai kodrat, pikiran ini dinamakan sebagai pembebasan. Kehidupan ataupun kematian tak mampu mengekang pikiran ini. Tak ada satupun yang mampu. Oleh karenanya ia dinamakan sebagai Tathagata yang Tak Bisa Dihentikan, Yang Tak Dapat Dipahami, Jati Diri yang Kudus, ia yang Abadi, Suciwan nan Agung. Namanya bisa berbeda-beda, namun esensinya sama. Para Buddha juga berbeda-beda, namun tak satupun yang meninggalkan pikirannya sendiri. Kapasitas pikiran tak ada batasnya, dan manifestasinya juga tiada habis-habisnya. Melihat wujud dengan matamu, mendengarkan suara dengan telingamu, mencium bau dengan hidungmu, merasakan citarasa dengan lidahmu, setiap gerakan ataupun kondisi merupakan keseluruhan pikiranmu. Di segala saat, di mana bahasa tak mampu menembusi, itulah pikiranmu.

Di dalam sutra dikatakan, “Wujud seorang Tathagata banyak tiada batas. Begitu pula dengan kesadarannya.” Berbagai macam wujud yang tak terhingga dikarenakan pikirannya. Kemampuannya untuk membedakan berbagai macam hal, apapun gerakannya ataupun keadaannya, adalah kesadaran sang pikiran. Namun sang pikiran tak punya wujud dan kesadarannya tak ada batasnya. Demikianlah maka dikatakan, “Berbagai wujud seorang Tathagata tiada habisnya, begitu pula dengan kesadarannya.” Tubuh materi yang terdiri dari empat elemen merupakan masalah. Tubuh materi juga tunduk pada kelahiran dan kematian. Namun tubuh yang sejati sudah ada tanpa diadakan, karena tubuh sejati seorang Tathagata tak pernah berubah. Di dalam sutra dikatakan, “Orang-orang harus sadar bahwa kodrat buddha adalah sesuatu yang mereka semua selalu miliki.” Kashyapa cukup merealisasikan kodratnya sendiri.

Kodrat kita merupakan sang pikiran. Dan sang pikiran adalah kodrat kita. Kodrat ini sama dengan pikiran dari semua Buddha. Para Buddha dari masa lalu dan masa mendatang hanya mentransmisikan pikiran ini saja. Di luar pikiran ini tak ada Buddha di manapun juga. Namun orang-orang yang tersesat tak menyadari bahwa pikiran mereka sendiri adalah Sang Buddha. Mereka terus-menerus mencari di luaran sana. Mereka tak pernah berhenti mengundang para Buddha atau memuja para Buddha, serta keheranan sebenarnya Buddha ada di Mana? Jangan menikmati ilusi semacam ini. Cukup ketahui pikiranmu sendiri. Di luar pikiranmu tak ada Buddha yang lain. Tertulis di dalam berbagai sutra, “Semua hal yang punya wujud merupakan ilusi.” Dikatakan juga bahwa, “Di manapun kamu berada, di sana ada seorang Buddha.” Pikiranmu adalah Sang Buddha. Jadi jangan menggunakan seorang Buddha untuk memuja seorang Buddha.

Bahkan bila seorang Buddha atau Bodhisattva tiba-tiba muncul di hadapanmu, tak perlu memberikan penghormatan. Pikiran kita ini kosong dan tak berisikan wujud semacam itu. Mereka yang terpaku pada penampakan adalah iblis. Mereka melenceng dari Sang Jalan. Kenapa memuja ilusi yang dilahirkan oleh pikiran? Mereka yang memuja tak mengetahuinya, sedangkan mereka yang mengetahui tak akan memuja. Dengan memuja, kamu terjerat sihir sang iblis. Aku menjelaskan hal ini karena aku kuatir kamu tak menyadari hal ini. Kodrat dasar seorang Buddha tak memiliki wujud. Ingatlah selalu, bahkan bila ada wujud tak lazim yang muncul. Jangan direngkuh, jangan pula ketakutan, dan jangan ragu kalau Pikiranmu pada dasarnya suci murni. Di mana bisa ada tempat untuk wujud seperti itu? Lagipula, penampakan roh, setan, atau malaikat tak menimbulkan rasa hormat ataupun takut. Karena pada dasarnya pikiranmu adalah kosong. Semua penampakan jugalah ilusi. Jangan terpaku pada penampakan. Bila kamu membayangkan seorang Buddha, Dharma, atau seorang Bodhisattva dan memberikan hormat kepada mereka, maka kamu menurunkan derajatmu ke tingkat orang awam. Kalau kamu mencari pemahaman langsung, jangan melekat pada penampakan apapun juga, dan kamu akan berhasil. Aku tak punya nasihat lain. Berbagai sutra menuliskan, “Segala penampakan adalah ilusi belaka.” Mereka tak punya keberadaan yang tetap, ataupun wujud yang konstan. Mereka tak abadi. Janganlah melekat pada penampakan dan kamu akan menjadi satu pikiran dengan Sang Buddha. Di dalam sutra dikatakan, “Mereka yang terbebas dari segala macam wujud adalah Sang Buddha.”

Tapi kenapa kita jangan memuja para Buddha dan Bodhisattva?

Iblis dan setan memiliki kesaktian manifestasi (pengejawantahan). Mereka mampu menciptakan penampakan berbagai bodhisattva sebagai kedoknya. Namun mereka palsu adanya. Tak satupun dari mereka adalah Buddha. Sang Buddha adalah pikiranmu sendiri. Jangan sampai salah memuja.

Buddha, dalam Bahasa Sansekerta, adalah yang kamu sebut sebagai “sadar”, “dengan ajaibnya tersadarkan”. Menanggapi sesuatu, melengkungkan alismu, mengedipkan matamu, menggerakkan tangan dan kakimu, semuanya adalah kodratmu yang sadar dengan ajaibnya. Dan kodrat inilah yang dinamakan Sang Pikiran. Dan Sang Pikiran adalah Sang Buddha. Dan Sang Buddha adalah Sang Jalan. Dan Sang Jalan adalah Zen. Namun kata Zen ini masih merupakan teka-teki bagi orang-orang awam maupun suciwan. Melihat kodratmu adalah Zen. Bila kamu tak melihat kodratmu, itu bukanlah Zen.

Bahkan kalaupun kamu bisa menjelaskan beribu-ribu sutra dan sastra, namun bila kamu tak melihat kodratmu sendiri, ajaranmu adalah ajaran orang awam, bukan seorang Buddha. Sang Jalan yang sejati sebegitunya mulia. Ia tak dapat diekspresikan lewat bahasa. Jadi apa gunakanya kitab suci? Hanya ia yang melihat kodratnya sendiri yang menemukan Sang Jalan, bahkan meski ia tak mampu membaca sepatah kata pun. Ia yang melihat kodratnya sendiri adalah seorang Buddha. Dan berhubung tubuh seorang Buddha pada hakekatnya suci dan tak bernoda, serta apapun yang diucapkannya adalah ekspresi dari pikirannya, yang pada dasarnya kosong, maka seorang Buddha tak dapat ditemukan di dalam kata-kata atau di manapun di dalam 12 kanon.

Sang Jalan pada dasarnya sempurna. Ia tak membutuhkan proses penyempurnaan. Sang Jalan tak punya wujud ataupun suara. Ia lembut dan sukar dirasakan. Seperti saat kamu meminum air: kamu tahu seberapa panas atau dinginnya air itu, tapi kamu tak bisa memberitahukannya kepada orang lain. Hal-hal yang hanya diketahui oleh seorang Tathagata, maka orang-orang awam dan para dewa tak pernah menyadarinya. Kesadaran orang awam sungguhlah rendah. Selama mereka melekat pada wujud penampakan, mereka tak akan menyadari bahwa pikiran mereka sesungguhnya kosong.

Dan salah melekati pada penampakan berbagai macam hal, menyebabkan mereka kehilangan Sang Jalan. Kalau kamu tahu bahwa semua hal datang dari dalam pikiran, maka janganlah melekat. Sekali saja melekat, kamu bisa tak sadar diri. Dan begitu kamu melihat kodratmu sendiri, keseluruhan kanon menjadi bagaikan prosa yang panjang. Beribu-ribu sutra dan sastra hanyalah mengenai pikiran yang jernih. Pemahaman datang di tengah-tengah kalimatnya. Jadi kitab suci seberapa bergunanya? Kebenaran tertinggi itu melampaui kata-kata. Sedangkan doktrin kitab suci hanyalah kata-kata belaka.

Mereka bukanlah Sang Jalan. Karena Sang Jalan tak terekspresikan lewat kata-kata. Mereka tak berbeda dengan hal-hal yang muncul di dalam mimpimu di malam hari, mau muncul istana ataupun kereta, taman ataupun singa di tepian danau; jangan menjadi senang dan puas akan hal-hal seperti itu. Mereka adalah buaian lingkaran kelahiran dan kematian. Ingatlah selalu akan hal ini saat kamu sudah mendekati ajalmu. Jangan melekat pada penampakan, dan kamu akan mampu menembus semua halangan. Sesaat saja kamu ragu-ragu, maka kamu akan terjerat sihir iblis. Tubuh sejatimu itu suci dan tak terpengaruh apapun juga. Namun karena tertutup berbagai macam khayalan, kamu jadi tak mampu menyadarinya. Dan karena hal ini juga kamu menderita karma dengan sia-sia. Di manapun kamu menemukan kesenangan, di sana kamu akan terjerat. Tapi sekali kamu tersadarkan akan tubuh dan pikiran sejatimu, kamu tak lagi terjerat oleh kemelekatan.

Siapapun juga, yang melepaskan hal-hal transenden demi hal-hal duniawi, dengan berbagai macam perwujudannya, adalah orang awam. Namun seorang Buddha adalah ia yang menemukan kebebasan dalam nasib baik maupun buruk. Demikianlah kesaktiannya sampai-sampai karma juga tak mampu mencengkeramnya. Ada karma seperti apapun, Buddha akan mengubahnya. Surga dan neraka tak berarti baginya. Tapi kesadaran orang awam sungguhlah redup bila dibanding kesadaran Buddha yang mampu menembusi apapun luar-dalam. Jadi kalau kamu tak yakin, janganlah bertindak. Sekali kamu bertindak, kamu akan mengembara melalui kelahiran dan kematian, serta menyesal karena tak punya naungan (perlindungan/sarana). Kemiskinan dan kesusahan diciptakan oleh pikiran yang salah. Untuk memahami pikiran ini, kamu harus bertindak tanpa bertindak. Hanya dengan itulah kamu nantinya akan mampu melihat berbagai hal dari sudut pandang seorang Tathagata.

Tapi saat pertama kali kamu mulai menapaki Sang Jalan, kesadaranmu tak akan terfokus. Janganlah ragu karena hal-hal seperti itu datang dari pikiranmu sendiri, bukan dari tempat lain.

Bila, seperti di dalam mimpi, kamu melihat sinar yang lebih cemerlang dibanding matahari, sisa-sisa kemelekatanmu tiba-tiba akan berakhir dan kodrat sejati akan muncul. Kejadian seperti itu akan menjadi dasar pencerahan. Tapi hal ini hanya kamu saja yang tahu. Kamu tak bisa menjelaskannya kepada orang-orang. Atau bila, saat kamu sedang berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring di taman yang sunyi, kamu melihat sinar, baik yang terang ataupun redup, jangan beritahukan kepada orang-orang, dan jangan berfokus kepadanya. Ia hanyalah sinar dari kodratmu sendiri.

Atau bila, saat kamu sedang berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring dalam keheningan dan gelapnya malam, semuanya nampak (bersinar) seperti di siang hari, janganlah kaget. Ia hanyalah pikiranmu sendiri yang hendak menampakkan dirinya.

Atau bila, saat kamu sedang bermimpi di malam hari, kamu melihat bulan dan bintang-bintang bersinar dengan cemerlang, itu berarti bekerjanya pikiranmu akan segera berakhir. Tapi jangan beritahukan kepada orang-orang. Dan bila mimpimu tak jelas, seakan-akan kamu sedang berjalan di dalam kegelapan, itu karena pikiranmu tertutupi kekuatiran. Hal ini juga suatu hal yang kamu sendiri yang mengetahuinya. Kalau kamu telah melihat kodratmu sendiri, kamu tak perlu lagi membaca sutra atau mengundang para Buddha. Pembelajaran dan Pengetahuan tak hanya tak berguna, mereka juga akan menutupi kesadaranmu. Doktrin ajaran hanya digunakan untuk menunjuk pada pikiran. Tapi begitu kamu melihat pikiranmu, buat apa masih memperhatikan doktrin-doktrin lagi?

Dalam proses dari orang awam sampai menjadi Buddha, kamu harus mengakhiri karma, memelihara kesadaranmu, dan menerima apa yang kehidupan bawakan untukmu. Kalau kamu selalu marah, yang ada malah kamu melawan Sang Jalan. Sungguh tak ada gunanya menipu dirimu sendiri. Para Buddha bergerak bebas melewati kelahiran dan kematian, muncul dan menghilang kapanpun juga. Mereka tak bisa dikekang oleh karma atau ditundukkan oleh para iblis. Demikianlah saat orang-orang awam melihat kodrat mereka sendiri, semua kemelekatan akan berakhir. Kesadaran bukannya tersembunyi, dan kamu hanya bisa menemukannya di saat ini juga. Hanya saat ini! Bila kamu sungguh-sungguh ingin menemukan Sang Jalan, jangan terpaku dan melekat pada apapun juga. Begitu kamu mengakhiri karma dan memelihara kesadaranmu, segala macam kemelekatan yang masih ada akan berakhir. Pemahaman akan muncul dengan sendirinya. Bahkan kamu tak perlu mengusahakannya. Tapi para fanatik tak paham yang dimaksudkan Sang Buddha. Dan semakin keras mereka mencobanya, semakin jauh mereka dari yang dimaksud oleh Suciwan. Sepanjang hari mereka mengundang para Buddha dan membaca sutra, tapi tetap saja tak melihat kodratnya sendiri yang ilahi. Demikianlah mereka tak bisa melepaskan diri dari Sang Roda.

Seorang Buddha adalah orang yang menganggur. Ia tak pergi berkeliling mengejar keuntungan dan ketenaran. Memangnya hal-hal seperti itu pada akhirnya ada gunanya? Orang-orang yang tak melihat kodrat mereka sendiri dan berpikir kalau membaca sutra, mengundang para Buddha, belajar dengankeras dalam jangka waktu yang lama, berlatih di pagi dan malam, tak pernah berbaring, atau mendapatkan pengetahuan, menganggap semua itu sebagai Dharma – justru sebenarnya malah menghujat Dharma. Para Buddha dari masa lalu dan masa mendatang hanya membahas mengenai melihat kodratmu. Semua sadhana tiada yang abadi. Kalau tak bisa melihat kodrat sendiri, maka mereka yang mengaku telah mencapai pencerahan yang sempurna dan tiada tandingannya adalah para pembohong. Di antara sepuluh murid teragung Shakyamuni, Ananda adalah yang terkemuka dalam pembelajaran. Namun ia tak memahami Sang Buddha. Yang ia lakukan hanyalah belajar dan mengingat-ingat saja. Para Arhat tak memahami Sang Buddha. Yang mereka pahami adalah ada banyak sadhana untuk mencapai realisasi, dan mereka menjadi terperangkap oleh sebab-dan-akibat. Demikian karma orang awam: tak bisa melepaskan diri dari kelahiran dan kematian. Dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan yang diajarkan, orang-orang tersebut yang ada malah menghujat Sang Buddha. {Catatan penerjemah: bagian berikut bukan ajakan untuk membunuh.} Membunuh merekapun juga bukan tindakan yang salah, karena dikatakan di dalam Sutra, “Berhubung para icchantika tak mampu mempercayai, membunuh mereka juga tak akan disalahkan, sedangkan orang yang percaya akan mencapai tingkat Kebuddhaan.”

Kalau kamu tak melihat kodratmu sendiri, maka kamu tak boleh mengkritik kebaikan orang-orang lain. Sungguh tak ada manfaat dari menipu dirimu sendiri. Baik dan buruk sudah jelas berbeda. Sebab dan akibat juga jelas. Surga dan neraka ada di depan matamu. Namun orang-orang bodoh tak mempercayainya dan langsung terjatuh ke neraka yang gelapnya tiada berujung tanpa menyadarinya. Yang menghalangi mereka untuk mempercayainya adalah beratnya karma mereka sendiri. Bagaikan orang buta yang tak percaya ada hal yang namanya sinar, bahkan bila kamu harus menjelaskan kepada orang-orang seperti ini, mereka masih saja tak percaya, karena mereka buta. Mohon tanya bagaimana caranya mereka membedakan sinar?

Sama halnya dengan orang-orang bodoh di kaum rendahan atau di antara orang miskin dan hina. Mereka tak hidup, juga tak mati. Dan meski menderita seperti itu, kalau kamu tanya mereka, mereka akan bilang kalau merasa bahagia seperti para dewa. Demikianlah semua orang awam, bahkan mereka yang merasa dirinya mendapatkan kelahiran yang baik pun sama tak sadarnya. Karena karma mereka yang berat, orang-orang bodoh seperti itu tak akan percaya dan tak bisa terbebaskan.

Orang-orang yang melihat bahwa pikiran mereka adalah Sang Buddha, tak perlu mencukur rambutnya; karena orang awam juga Buddha. Kalau tak melihat kodratnya sendiri, maka mereka yang mencukur rambutnya sungguhlah para fanatik.

Namun berhubung orang-orang awam yang menikah tak melepaskan seks, bagaimana caranya mereka menjadi Buddha?

Aku hanya membahas mengenai melihat kodratmu saja. Aku tak membahas tentang seks hanya karena kamu tak melihat kodratmu. Begitu kamu melihat kodratmu, seks pada dasarnya tak penting. Ia akan berakhir sejalan dengan kesenanganmu di dalamnya. Bahkan bilapun beberapa kebiasaan masih tersisa, mereka tak bisa mencelakaimu, karena kodratmu pada intinya adalah suci. Meski tinggal di dalam tubuh materi yang terdiri dari empat elemen, kodratmu pada dasarnya suci. Ia tak dapat dirusak.

Tubuhmu pada dasarnya adalah suci. Ia tak dapat dirusak. Tubuh sejatimu tak punya sensasi, tak kelaparan ataupun kehausan, tak kepanasan ataupun kedinginan, tak menderita sakit, tiada cinta ataupun kemelekatan, tiada kesenangan ataupun kesakitan, tiada baik ataupun buruk, tiada pendek ataupun panjang, tiada kelemahan ataupun kekuatan. Sebenarnya tiada apapun di sini. Justru karena kamu melekat pada tubuh materi ini maka hal-hal seperti lapar – haus – panas – dingin – sakit muncul. Begitu kamu berhenti melekat dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana adanya, kamu akan terbebaskan, bahkan dari kelahiran dan kematian. Kamu akan mengubah segala hal. Kamu akan memiliki kesaktian batin yang tak dapat dihalangi. Dan kamu akan selalu merasa damai di manapun kamu berada. Kalau kamu meragukan hal ini, kamu tak akan menembusi apapun. Lebih baik jangan lakukan apapun. Karena begitu kamu bertindak, kamu tak mampu menghindari siklus kelahiran dan kematian. Namun begitu kamu melihat kodratmu, kamu adalah seorang Buddha meski mata pencaharianmu adalah menjadi tukang jagal.

Tapi bukankah para penjagal menciptakan karma dengan membunuh binatang? Bagaimana caranya mereka bisa menjadi Buddha?

Aku hanya membahas mengenai melihat kodratmu. Aku belum membahas mengenai menciptakan karma. Apapun yang kita lakukan, karma kita tak bisa mencengkeram kita. Setelah melewati berkalpa-kalpa tanpa awal, orang-orang terjatuh ke dalam neraka hanya karena mereka tak melihat kodratnya sendiri. Selama seseorang menciptakan karma, ia akan terus melewati roda kelahiran dan kematian. Namun begitu ia merealisasikan kodrat sejatinya, ia berhenti menciptakan karma. Kalau ia tak melihat kodratnya, memanggil para Buddha juga tak akan membebaskannya dari karmanya, meski ia tukang jagal ataupun bukan. Namun begitu ia melihat kodratnya, semua keraguan akan sirna.  Bahkan karma seorang tukang jagal tak akan berpengaruh pada orang seperti itu. Di India, 27 patriak hanya mentransmisikan jejak sang pikiran saja.

Dan alasan utama aku datang ke China adalah untuk mentransmisikan ajaran seketika dari Mahayana. Bahwa pikiran ini adalah Sang Buddha. Aku tak membahas tentang sila, bhakti ataupun praktik-praktik pertapaan asketik seperti membenamkan diri ke dalam air dan api, menapaki roda pisau, makan sekali dalam sehari, ataupun tak pernah berbaring. Hal-hal ini merupakan ajaran-ajaran fanatik dan sementara belaka. Begitu kamu menyadari gerakanmu, maka kamu secara ajaib akan menyadari kodratmu.

Pikiranmu adalah pikiran dari semua Buddha. Para Buddha dari masa lampau dan masa mendatang hanya membahas mengenai transmisi pikiran ini.

Mereka tak mengajarkan hal-hal lain kalau seseorang paham akan ajaran ini, bahkan bilapun ia buta huruf ia tetaplah seorang Buddha. Bila kamu tak melihat kodratmu sendiri yang tersadarkan dengan ajaibnya, kamu tak akan pernah menemukan seorang Buddha meski kamu memecah tubuhmu hingga menjadi butiran-butiran atom.

Sang Buddha adalah tubuhmu yang sesungguhnya, pikiran sejatimu. Pikiran ini tak berwujud atau tak punya karakteristik, tak ada sebab ataupun akibat, tak punya otot ataupun tulang. Ia bagaikan angkasa. Kamu tak bisa memegangnya. Ia bukanlah pikiran materialis ataupun nilihis. Kecuali seorang Tathagata, tak ada siapapun – orang awam ataupun yang tersesat – yang mampu memahaminya.

Namun pikiran ini bukan berada di luar tubuh materi yang dibentuk dari empat elemen. Tanpa pikiran ini, kita tak akan bisa bergerak. Tubuh sendiri tak punya kesadaran. Layaknya tumbuhan atau batu, tubuh ini tak punya kodrat. Jadi bagaimana ia bisa bergerak? Pikiranlah yang bergerak. Bahasa dan perilaku, persepsi dan konsep – semuanya adalah fungsi dari pikiran yang bergerak. Semua gerakan adalah gerakan sang pikiran. Gerakan adalah fungsinya. Selain gerakan tak ada yang namanya pikiran, dan selain pikiran tak ada yang namanya gerakan. Tapi gerakan bukanlah pikiran. Dan pikiran bukanlah gerakan. Gerakan pada dasarnya tiada pikiran. Dan pikiran pada dasarnya tanpa gerakan. Tapi gerakan tak bisa ada tanpa pikiran. Dan pikiran tak akan ada tanpa gerakan. Pikiran dan gerakan saling bersanding dan tak terpisahkan. Gerakan adalah fungsi pikiran, dan fungsinya tampil dalam bentuk gerakan. Meski demikian, pikiran tidaklah bergerak maupun berfungsi, inti dari fungsinya adalah kekosongan, dan kekosongan pada dasarnya tiada pergerakan. Gerakan sama dengan pikiran. Dan pikiran pada dasarnya tiada pergerakan. Demikianlah maka berbagai sutra memberitahu kita untuk bergerak tanpa melakukan gerakan, bepergian tanpa bepergian, melihat tanpa melihat, tertawa tanpa tertawa, mendengar tanpa mendengar, mengetahui tanpa mengetahui, menjadi bahagia tanpa menjadi bahagia, berjalan tanpa berjalan, berdiri tanpa berdiri. Dan sutra-sutra juga mengatakan, “Lampauilah bahasa. Lampauilah pemikiran.” Pada dasarnya, melihat, mendengar, dan mengetahui – sepenuhnya kosong. Kemarahanmu, kebahagiaanmu, ataupun rasa sakit – semua bagaikan kemarahan, kebahagiaan ataupun rasa sakit si wayang. Kamu mencarinya tapi tak menemukan satu hal pun.

Menurut sutra, perbuatan jahat akan menghasilkan kesukaran, dan perbuatan baik menghasilkan berkah. Orang-orang pemarah masuk ke neraka, dan yang bahagia masuk ke surga. Namun begitu kamu tahu bahwa kodrat dari amarah dan sukacita adalah kosong, dan kamu mampu melepaskannya, kamu telah membebaskan dirimu dari karma. Kalau kamu tak melihat melihat kodratmu, mengutip sutra juga tak akan membantu. Aku masih bisa bicara lebih jauh, tapi ceramah pendek yang ini sudahlah cukup.

[Akhir dari ceramah aliran darah]

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom