Showing posts with label Pengetahuan Dasar. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan Dasar. Show all posts

Sunday, July 8, 2018

Mahaguru Memberkati? 师尊加持?



Ditulis oleh Lotuschef – 6 Juli 2018
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 师尊加持?GM Empowers?




Dari arsip percakapan:

TK: 那我明午12點約你在PP中午餐。想帶你見一見AA師姐。
佢一個人在老人院很悶。
Jadi besok siang kita bertemu di PP untuk makan siang. Hendak mengajakmu mengunjungi saudari sedharma AA. Dia sendirian di panti jompo dan sangat kebosanan.

TK: 法師話呢個咒很重要。可以教HH姐諗
Fashi bilang mantra ini sangat penting. Beritahukan kepada saudari HH untuk menjapanya.

[AA: 😅😇😆😅😘😘😣 u法法希
法師快速回來探我. 法命我好雖要法師來過电比我😘]
(Fashi cepatlah kemari mengunjungiku, berikan kepadaku semangat dharma, butuh fashi untuk hadir dan mengisikan daya kepadaku)

KT : AA好快吸左電⚡
AA menyerap daya listrik dengan cepat.

lotuschef: 😜😜😜
师尊疼她   Mahaguru peduli kepadanya.
我只是中间人   Aku hanyalah perantara saja.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku mengunjungi saudari AA yang menderita stroke berat yang mempengaruhi otak kirinya.
Ia sekarang sedang berada di panti jompo.
Ia bisa bicara pelan-pelan meski keteloran (tidak bisa mengucap dengan jelas), tubuh bagian kirinya mengalami kelumpuhan dan lemah.
Aku memegang tangan kirinya dan memintanya untuk menjapa mantra panjang Guru.

Aku juga menjapanya tanpa suara sambil memfokuskan “energi”-ku kepadanya.
“Gelombang listrik” mulai mengalir dari chakra mahkotaku, melingkar turun melewati kedua sisi wajahku ke tangan kiriku, dan berpindah ke AA.

Kali ini, intensitas gelombang energi tersebut sungguh kuat dan berlangsung sekitar 10 menit.
Saudari KT turut mengamati dan takjub.
AA menjadi cerah dan ia memintaku untuk memeluknya sebelum aku pulang.

KT kemudian memberitahuku bahwa seorang VM membawa beberapa barang pribadi AA untuk diberkati secara pribadi oleh Mahaguru Lu, dan untuk kemudian dikembalikan kepada AA.

Teman-temanku yang terkasih,
Mungkin kamu ingat aku pernah menuliskan hal-hal berikut:

  1. Seorang VM bilang kepada para murid bahwa ia akan mewakili mereka bertanya kepada Mahaguru Lu.
  2. Seorang pembabar dharma mengumpulkan surat-surat dari para murid dan mengatakan bahwa ia akan duduk bersama Mahaguru Lu untuk membahas surat mereka satu demi satu.
  3. Dan yang terkini adalah membawa barang untuk menemui Mahaguru Lu dan memohon berkat dari beliau secara langsung.

Hahaha!

Untuk semua kasus di atas, para VM dan Pembabar Dharma masih belum mampu bersadhana hingga mencapai keberhasilan Guru Yoga?

Cukup dengan memegang tangan saudari AA, dan menjapa mantra Guru, maka Guru bisa memberkati saudari AA di manapun ia berada dan sama sekali tak butuh siapapun untuk menemui Guru secara pribadi sambil membawa barang-barang pribadinya!

Setelah “kejatuhan” XX, sang penerus dan partner-nya, VM LH dari Surabaya…. baru-baru ini; apakah kamu telah sadar melihat KENYATAAN bahwa selama ini aku memberitahukan Kebenaran kepadamu?

Tantrayana yang sederhana dan tak terbatas ini memerlukan pengetahuan dasar sebagai KUNCI-nya agar si praktisinya bisa MENGAMALKAN Buddha Dharma dengan leluasa, sesuai dengan situasi yang dihadapi!


Salam metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, March 23, 2015

Kurangnya Berbagai Pengetahuan Dasar!



Ditulis oleh Lotuschef – 5 Maret 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lacking Basics!



Saat kamu bersadhana, mampukah kamu mengundang kehadiran para dewata dan memastikan mereka benar-benar hadir?

Hahaha!

Saatnya bermain-main!

Ada orang yang menyebarkan desas-desus kebohongan tentang Lotuschef. Ia menganggap Lotuschef mencemarkan nama baik Mahaguru Lu!

Bertanya: Kalau kamu salah satu dari mereka, mohon pikirkan sampai saat ini sudahkah kamu benar-benar paham akan ajaran-ajaran Mahaguru Lu? :)

Para pembohong dan tukang gosip ini kebanyakan hanya mampu berbahasa Mandarin saja, bisa dibilang kemampuannya dalam berbahasa Inggris minim sekali.

Sungguh sayang melihat mereka masuk dalam kategori “mengikuti si pemimpin”, yang tak punya pendirian!

Dan sayang sekali sebagian besar dari mereka bahkan tak mampu menyerap ajaran-ajaran mendasar dari Mahaguru Lu pula!

Bertanya: Tahukah kamu bahwa dengan menyatakan Lotuschef mencemarkan nama baik Mahaguru Lu, kamu telah menunjukkan kepada dunia kalau kamu tak punya pengetahuan Buddha Dharma sedikitpun?!

Tahukah kamu kalau kebanyakan mesin penerjemah tak cukup handal untuk menerjemahkan dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris dan sebaliknya?

Dan juga, menurutmu bagaimana dengan adanya berbagai kemiripan ajaran Mahaguru Lu dengan yang Lotuschef bagikan?

Berhasil dalam ber-Yoga bergantung pada Yidam dan Sadhaka yang melebur menjadi manunggal!
Ia Hanya Memungkinkan SAAT sadhaka telah memiliki dan mampu mempertahankan “Tubuh, Ucapan, dan Pikiran” yang sama dengan Sang Yidam!

Bertanya: Bila kamu tak punya fondasi mendasar yang dibutuhkan untuk berhasil dalam Yoga, berarti kamu sungguh kekurangan (ataupun tak punya) kebijaksanaan untuk membedakan (mengamati), kebijaksanaan untuk selalu sadar, dan kebijaksanaan untuk mendobrak bebas, …, lalu bagaimana caranya kamu bisa menjatuhkan Penghakiman kepada orang-orang?

Mahaguru Lu bilang bahwa sebelum kamu tercerahkan, ataupun mencapai Kebuddhaan, maka kamu tak akan mampu Benar-benar Membaca orang-orang!

Hahaha!

Demikianlah Mahaguru Lu mengatakan: “Dia bilang, lantas kamu percaya begitu saja?”
Benar-benar sepotong nasihat yang sangat bagus untuk semua orang supaya bisa belajar menjadi bijak!

Lotuschef, dengan segala kerendahan hati dan welas asih menyarankan teman-teman sekalian untuk melihat ke dalam batin sendiri dan tidak mencoba menunjukkan kebodohanmu kepada siapapun, terlebih lagi kepada dunia!

Tingkatan beban karmamu bertanggung jawab atas tingkat pemahamanmu akan Buddha Dharma!

Bukankah malah lebih baik belajar dari Pure Karma cara untuk Menyucikan dan mengurangi beban karma burukmu? :)


Salam semua.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, July 30, 2012

Lojong – Tantra Pelatihan Pikiran

Diambil dari Wikipedia
Dibagikan oleh Lotuschef – 26 Juli 2012
Diterjemahkan secara bebas oleh Lotus Nino
Sumber: Lojong – Mind Training Tantrayana

[caption id="attachment_8654" align="aligncenter" width="427"] Arya Atisha Dipamkara[/caption]

 

Lojong (Tib. བློ་སྦྱོང་, Transliterasi Wylie: blo sbyong) adalah praktik pelatihan pikiran dalam tradisi agama Buddha di Tibet. Ia berlandaskan pada koleksi instruksi pendek yang penting, yang dirumuskan di Tibet pada abad ke-12 oleh Geshe Chekhawa. Praktik ini meliputi proses memperbaiki dan menyucikan motivasi dan tindakan si praktisi.

Sekitar 59 atau lebih bait ajaran yang membentuk naskah utama dari praktik pelatihan pikiran ini didesain sebagai sekumpulan obat untuk menawarkan racun kebiasaan pikiran yang tak diinginkan karena akan menciptakan penderitaan. Mereka berisikan baik metode untuk memperluas cara pandang si praktisi terhadap bodhicitta mutlak, seperti “Temukan kesadaran yang telah kamu miliki saat sebelum kamu dilahirkan” dan “Anggap semua yang kamu lihat sebagai sebuah mimpi”, maupun berbagai metode untuk melihat dunia dalam cara yang lebih konstruktif dalam hubungannya dengan bodhicitta, seperti “Bersyukurlah kepada setiap insan” dan “Saat berbagai hal tak terjadi sesuai harapan, anggaplah bencana tersebut sebagai sebuah cara untuk menyadarkan diri.”

Para guru terkemuka yang mempopulerkan praktik ini di Barat meliputi Pema Chodron, Ken McLeod, Alan Wallace, Chogyam Trungpa, Sogyal Rinpoche, Geshe Kelsang Gyatso, dan Dalai Lama ke-14.

 

[caption id="attachment_8656" align="aligncenter" width="387"] Geshe Chekhawa[/caption]

Sejarah Praktik Lojong


Praktik Lojong untuk melatih pikiran dikembangkan selama lebih dari 300 tahun, antara tahun 900 hingga 1200 M, sebagai bagian dari agama Buddha aliran Mahayana. Atiśa (982–1054 M), seorang guru meditasi dari Benggala, umumnya dipercayai sebagai sang pencipta praktik ini. Lojong ini dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Lampu yang Menerangi Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipam). Praktiknya berlandaskan dari hasil pembelajarannya dengan seorang guru yang berasal dari Sumatra, Dharmaraksita – penulis naskah yang berjudul Roda Senjata-senjata Tajam. Kedua naskah tersebut sangat terkenal di dalam terjemahan bahasa Tibet.

Atiśa melakukan perjalanan menuju ke Sumatra dan berguru kepada Dharmaraksita selama dua belas tahun. Ia kemudian kembali untuk mengajar di India, dan pada masa tuanya menerima undangan untuk mengajar di Tibet, di mana ia tinggal di sana untuk menghabiskan sisa hidupnya.

Sebuah cerita mengisahkan Atiśa mendengar bahwa penduduk Tibet sangat menyenangkan dan mudah bersahabat. Namun bukannya senang, ia malah prihatin kalau ia tak akan punya emosi negatif yang cukup untuk melatih sadhana Lojong. Jadi ia membawa serta pembantunya dari Benggala yang pemarah, yang akan terus-menerus mengkritiknya dan yang sungguh merupakan sebuah tantangan bila harus menghabiskan waktu dengannya. Para guru Tibet kemudian sering bercanda, mengatakan bahwa saat Atiśa sampai ke Tibet, ia merasa tidak ada lagi yang perlu diperbuat di sana.

Ayat-ayat mengenai pelatihan pikiran dalam bentuknya yang sekarang ini ditulis oleh Chekawa Yeshe Dorje (1101–1175 M). Menurut salah satu sumber, Chekhawa melihat sebuah naskah di kasur teman sekamarnya yang bertuliskan: “Keuntungan dan kemenangan untuk orang lain, kerugian dan kekalahan untuk diri sendiri”. Potongan kalimat ini sangat mengesankan dirinya dan ia kemudian mencari si penulis Langri Tangpa (1054–1123). Namun saat menemukan bahwa Langri Tangpa telah meninggal, ia kemudian belajar kepada salah satu murid Laring Tangpa, yang bernama Sharawa, selama dua belas tahun.

Geshe Chekhawa diakui telah menyembuhkan penyakit lepra lewat sadhana pelatihan pikiran. Salah satu sumber mengatakan bahwa ia pernah tinggal dengan sekumpulan penderita lepra dan melakukan pelatihan sadhana bersama mereka. Sejalan dengan waktu, banyak dari para penderita tersebut yang sembuh, lalu banyak penderita lain yang berdatangan, dan akhirnya orang-orang yang tidak menderita lepra-pun juga tertarik dengan sadhana tersebut. Kisah populer lainnya mengenai Geshe Chekhawa dan pelatihan pikirannya berhubungan dengan saudaranya dan bagaimana sadhana tersebut mampu mengubahnya menjadi orang yang lebih baik.

 

Naskah Utama


Sadhana Lojong yang asli berisi 59 slogan atau aforisme (doktrin/prinsip). Slogan-slogan tersebut kemudian diatur ke dalam tujuh pembagian, yang dinamakan sebagai “7 Poin Lojong.” Slogan yang telah dikategorikan di bawah ini diterjemahkan oleh Komite Penerjemah Nalanda di bawah arahan Chögyam Trungpa Rinpoche. Di sini ditekankan bahwa slogan-slogan berikut diterjemahkan dari naskah Sansekerta dan Tibet kuno, dan oleh karenanya akan ada sedikit perbedaan dengan terjemahan-terjemahan lainnya. Beberapa slogan bisa saja terasa esoterik (penuh misteri rahasia) atau susah untuk dicerna. Banyak guru dan ahli masa kini yang telah menulis tafsiran yang panjang untuk menjelaskan naskah dan slogan-slogan Lojong. Beberapa dari hasil karya tersebut dapat ditemukan di bagian ‘Notes’ dalam artikel aslinya.

 

Poin Pertama: Pendahuluan, sebagai landasan dari praktik dharma.


Slogan 1. Pertama-tama, latihlah bagian pendahuluan; Empat Pengingat atau disebut juga sebagai Empat Pikiran.

1. Pertahankan keinsyafan diri mengenai betapa berharganya bisa terlahir sebagai manusia.

2. Sadarlah akan kenyataan bahwa hidup akan berakhir; kematian akan menjemput semua orang; Ketidakkekalan.

3. Ingatlah kembali apa saja yang pernah kamu perbuat, baik yang bajik/luhur maupun yang tidak, pasti akan membuahkan hasil; Karma.

4. Renungkan bahwa selama kamu terlalu berfokus pada kepentingan diri sendiri dan berkubang dalam pemikiran apakah kamu baik atau buruk, maka kamu akan mengalami penderitaan. Terobsesi dengan mendapatkan apa yang kamu inginkan dan menghindari apa yang tidak kamu inginkan tidak akan menghasilkan kebahagiaan; Ego.

 

Poin Ke-dua: Praktek Utama, yaitu melatih Bodhicitta.


Bodhicitta Absolut (Mutlak)

Slogan 2. Anggaplah semua dharma layaknya bagai mimpi; meski pengalaman yang didapatkan bisa terkesan solid/nyata, mereka sebenarnya hanyalah memori yang akan berlalu.

Slogan 3. Pahamilah sifat sejati dari kesadaran yang telah ada sejak awal.

Slogan 4. Bebaskanlah dirimu sendiri, bahkan penawar racun itu sendiri pada akhirnya.

Slogan 5. Berdiamlah di dalam sifat sejati alaya, intisari, momen saat ini.

Slogan 6. Pasca meditasi, jadilah seperti seorang anak dari ilusi.

 

Bodhicitta Relatif

Slogan 7. Memberi (mengirim) dan menerima (menanggung) harus dilatih secara bergantian. Keduanya harus bagaikan bernafas (dikenal sebagai: Sadhana Tonglen).

Slogan 8. Tiga obyek, tiga racun, tiga akar kebajikan – Tiga obyek adalah: teman, musuh dan netral. Tiga racun adalah: hasrat/nafsu, kebencian, dan apatis/ketidakpedulian. Tiga akar kebajikan adalah obat penawarnya.

Slogan 9. Latihlah (integrasikan) slogan-slogan di dalam semua aktivitasmu.

Slogan 10. Mulailah dengan mengirim dan menanggung dirimu sendiri.

 

Poin Ke-tiga: Mengubah Berbagai Kondisi Buruk menjadi Sarana Mencapai Pencerahan.


Slogan 11. Saat dunia dipenuhi dengan kejahatan, rubahlah semua bencana menjadi jalan bodhi.

Slogan 12. Arahkan semua penyalahan kepada dirimu sendiri.

Slogan 13. Bersyukurlah pada setiap insan.

Slogan 14. Melihat kebingungan sebagai empat kaya (tubuh) adalah perlindungan shunyata yang tak tertandingi.

Kaya terdiri dari Dharmakaya, sambhogakaya, nirmanakaya, svabhavikakaya. Pikiran tidak punya tempat kelahiran, ia tidak pernah berhenti mengalir, ia tak solid, dan ketiga karakteristik tersebut saling berhubungan. Shunyata dapat digambarkan sebagai “keterbukaan yang gamblang nan sempurna.”

Slogan 15. Empat pelatihan adalah yang terbaik dari metode-metode yang ada.

Empat pelatihan adalah: mengumpulkan pahala, menghindari perbuatan jahat, memberikan persembahan kepada para guru, dan memberikan persembahan kepada para pelindung dharma.

Slogan 16. Apapun yang kamu temui/terjadi padamu secara mendadak, gabungkan dengan meditasi.

 

Poin Ke-empat: Menunjukkan Aplikasi Sadhana di dalam semua aspek dan sepanjang kehidupan si praktisi.


Slogan 17. Latihlah lima macam kekuatan, instruksi inti yang telah diringkas.

Lima macam kekuatan adalah: tekad kuat, keakraban, bibit positif, mampu melihat kesalahan sehingga bisa dibenahi, dan aspirasi (niat/cita-cita).

Slogan 18. Instruksi mahayana untuk melepaskan kesadaran di saat kematian adalah 5 macam kekuatan: caramu dalam melakukannya adalah faktor penting.

Saat kamu sudah sekarat, latihlah 5 kekuatan ini.

 

Point Ke-lima: Mengevaluasi Pelatihan Pikiran.


Slogan 19. Semua dharma akan berujung pada satu titik yang sama – Semua ajaran Buddha adalah mengenai mengurangi ego, mengurangi penyerapan demi diri sendiri.

Slogan 20. Dari dua orang saksi, peganglah yang utama – Kamu lebih memahami/mengetahui dirimu sendiri daripada orang lain.

Slogan 21. Selalu mempertahankan pikiran yang penuh sukacita.

Slogan 22. Bila kamu masih dapat berlatih meski ada gangguan, artinya kamu telah terlatih dengan baik.

 

Poin Ke-enam: Berbagai Disiplin Pelatihan Pikiran.


Slogan 23. Selalu mematuhi tiga prinsip dasar – Berdedikasi pada sadhana yang dilatih, menghindari/tidak melakukan tindakan yang keterlaluan (ofensif), mengembangkan kesabaran.

Slogan 24. Rubahlah perilakumu, tapi tetaplah bersikap netral – Kurangi kemelekatan terhadap ego, tapi tetap jadilah dirimu sendiri.

Slogan 25. Jangan membicarakan kecacatan anggota tubuh – Jangan menikmati/bersenang hati melihat kecacatan orang lain.

Slogan 26. Jangan merenungi orang lain – Jangan menikmati/bersenang hati melihat kelemahan orang lain.

Slogan 27. Bersihkanlah kekotoran yang paling besar terlebih dahulu – bekerjalah untuk mengatasi halangan terbesarmu terlebih dahulu.

Slogan 28. Tinggalkan harapan akan keberhasilan – jangan terlilit oleh pikiran apa jadinya dirimu pada masa yang akan datang, lakukanlah yang terbaik di pada saat ini.

Slogan 29. Hindari makanan yang beracun.

Slogan 30. Jangan menjadi terlalu mudah ditebak – Jangan menyimpan unek-unek.

Slogan 31. Jangan bergossip atau memfitnah orang lain.

Slogan 32. Jangan menunggu untuk menyergap – Janganlah kamu menyerang orang lain setelah menunggunya menunjukkan kelemahannya.

Slogan 33. Jangan membesar-besarkan masalah hingga ke titik yang menyakitkan – Jangan mempermalukan orang lain.

Slogan 34. Jangan memindahkan beban yang diangkut lembu kepada sapi – Bertanggungjawablah kepada dirimu sendiri.

Slogan 35. Jangan mencoba untuk menjadi yang paling cepat – Jangan berkompetisi dengan sesamamu.

Slogan 36. Jangan bertindak dengan maksud lain – Lakukan berbagai perbuatan baik tanpa punya niat lain untuk memberi manfaat bagi diri sendiri.

Slogan 37. Jangan merubah dewa menjadi setan – Jangan gunakan slogan-slogan ini atau kekuatan dharma (spiritualitas)-mu untuk memompa penyerapan demi dirimu sendiri.

Slogan 38. Jangan jadikan penderitaan orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan dirimu.

 

Poin Ke-tujuh: Panduan Pelatihan Pikiran.


Slogan 39. Semua aktivitas harus dilakukan dengan satu niat.

Slogan 40. Benahi semua kesalahan dengan satu niat.

Slogan 41. Dua aktivitas: satu di awal (hari), satu di akhir (hari).

Slogan 42. Salah satu dari keduanya yang terjadi, bersabarlah (dan jangan tinggalkan Bodhicitta-mu).

Slogan 43. Berpeganglah pada kedua hal ini, meski kamu harus mempertaruhkan nyawamu.

Slogan 44. Latihlah dengan tiga macam kesulitan.

Slogan 45. Bersandarlah pada tiga agen utama: guru, dharma, sangha.

Slogan 46. Perhatikanlah supaya ketiga hal berikut jangan sampai hilang: rasa syukur kepada gurumu, rasa menghargai ajaran-ajaran dharma, dan perilaku yang benar.

Slogan 47. Untuk ketiga hal berikut, jagalah supaya tak terpisahkan: tubuh, ucapan, dan pikiran.

Slogan 48. Berlatihlah tanpa prasangka dalam semua hal. Sungguh penting untuk melakukan hal tersebut secara menyeluruh dan sepenuh hati.

Slogan 49. Selalu bermeditasi untuk merenungkan apapun yang menimbulkan kebencian/dendam.

Slogan 50. Jangan sampai termakan oleh bujuk rayu kondisi eksternal.

Slogan 51. Pada saat ini, latihlah poin-poin utama: memprioritaskan orang lain di atas diri sendiri, dharma, dan pembangkitan welas asih.

Slogan 52. Jangan salah mengartikan.

Enam hal yang kamu mungkin salah artikan adalah: kesabaran, mendamba, kegembiraan, welas asih, prioritas dan sukacita.
Kamu bisa bersabar saat semua hal berjalan sesuai dengan keinginanmu, namun saat bertolak belakang maka bersabar adalah hal yang susah.
Kamu mendamba hal-hal duniawi, bukannya mendamba pikiran dan hati yang terbuka.
Kamu gembira akan kekayaan dan hiburan, bukannya akan potensimu dalam mencapai pencerahan.
Kamu bisa berwelas asih pada orang-orang yang kamu sukai, tapi terhadap yang lainnya kamu tidak bisa.
Mendapatkan harta dunia adalam prioritasmu, bukannya melatih cinta kasih dan welas asih.
Kamu bersukacita saat musuhmu menderita, dan tidak bisa bergembira atas nasib baik orang lain.

Slogan 53. Jangan bimbang (dalam melatih sadhana Lojong).

Slogan 54. Berlatihlah sepenuh hati.

Slogan 55. Bebaskan dirimu lewat menelaah dan menganalisa: Pahamilah pikiranmu dengan jujur dan tanpa rasa takut.

Slogan 56. Jangan berkubang dalam mengasihani diri sendiri.

Slogan 57. Jangan iri hati.

Slogan 58. Jangan sembrono dan meremehkan.

Slogan 59. Jangan mengharapkan pujian.

 

Berbagai Tafsiran


Tafsiran yang berkembang di kemudian hari mengenai sadhana pelatihan pikiran ini ditulis oleh Jamgon Kongrul (salah satu pendiri gerakan Rime non-sektarian dalam tradisi agama Buddha Tibet) pada abad ke-19. Tafsiran tersebut diterjemahkan oleh Ken McLeod, awalnya dengan judul Sebuah Jalur Langsung Menuju Pencerahan. Terjemahan ini berfungsi sebagai naskah utama untuk Buku Kebijaksanaan Osho. Di kemudian hari, setelah melalui beberapa kali konsultasi dengan Chogyam Trungpa, Ken McLeod menerjemahkan kembali karya tersebut menjadi Jalan Agung Penyadaran Diri.

Ada dua tafsiran penting terhadap naskah-naskah utama sadhana pelatihan pikiran yang ditulis oleh Geshe Kelsang Gyatso (pendiri Tradisi Kadampa Baru) dan mereka menjadi landasan bagi program-program pembelajaran di NKT Buddhist Centers di seluruh dunia. Yang pertama adalah Welas Asih Universal, yang merupakan tafsiran untuk naskah utama Tujuh Poin Utama dalam Melatih Pikiran oleh Geshe Chekhawa. Sedangkan yang kedua, adalah Delapan Langkah Menuju Kebahagiaan, yang merupakan tafsiran dari naskah utama – Delapan Ayat Pelatihan Pikiran oleh Geshe Langri Tangpa.

Di tahun 2006, Wisdom Publications menerbitkan hasil karya Pelatihan Pikiran: Koleksi Agung (Theg-pa chen-po blo-sbyong rgya-rtsa) yang diterjemahkan oleh Thupten Jinpa. Karya ini adalah sebuah terjemahan dari kompilasi karya tradisional Tibet, yang berkisar dari abad ke-15, dan secara keseluruhan berisi 53 naskah yang berhubungan dengan sadhana pelatihan pikiran. Di antara naskah-naskah ini ada beberapa perbedaan versi mengenai ayat-ayat utamanya, beserta dengan tafsiran-tafsiran awal yang penting dari Se Chilbu, Sangye Gompa, Konchok Gyaltsen, dan lainnya.

Friday, July 27, 2012

Triloka – Tiga Tingkat Alam

Pranala Sumber: Three Realms, 5 Definition(s), AKA: Triple Realm, Three Worlds
Ditulis oleh Lotuschef – 19 Juni 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Triloka – Triple Realm

 

Guru sedang sering-seringnya membahas hal ini di sesi ceramah dharma-Nya akhir-akhir ini. Saya kira artikel ini bisa membantu teman-teman untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang sedang dibagikan oleh Guru.

Salam semuanya.

Om Guru Lian-sheng Siddhi Hom.

Lama Lotuschef

[caption id="attachment_8546" align="aligncenter" width="383"] Trailokyavijaya Raja (Raja Kemenangan Atas Tiga Tingkat Alam)[/caption]

 

Bahasa Sansekerta-nya adalah Triloka. Ia adalah ekuivalen metafisik dalam agama Buddha untuk tiga tingkat alam: bumi, angkasa, dan surga.

  1. Alam Nafsu Sensual (Bhs. Sansekerta: Kamadhatu) akan seks dan makanan. Ia meliputi Enam Alam Surga Nafsu, Alam Manusia dan Neraka.

  2. Alam Berwujud (Bhs. Sansekerta: Rupadhatu) berisi materi yang besar dan berdaya tahan. Konsepnya adalah semi material. Ia berada di atas dunia nafsu dan terdiri dari tubuh-tubuh, tempat-tempat dan benda-benda, yang semuanya bersifat mistis dan menakjubkan. Ia terdiri dari 18 surga, termasuk Surga Empat Zen (Bhs. Sansekerta: Brahmaloka).

  3. Alam Tiada Wujud (Bhs. Sansekerta: Arupadhatu) dari roh yang murni, di mana tidak ada lagi tubuh dan materi yang bisa dinyatakan dengan kata-kata. Ia adalah tempat di mana pikiran tinggal di sana di dalam perenungan mistik; luasnya tak terhingga, namun bisa dibagi menjadi Empat Tingkatan / Tempat Kekosongan dalam dunia tanpa materi tersebut. Ia terdiri dari empat surga, dan “Surga yang bukan persepsi ataupun tanpa persepsi” berada di tingkatan paling tinggi.


 

Tiga tingkatan di dalam alam samsara: Alam Nafsu, Alam Berwujud, dan Alam Tanpa Wujud.

Alam Nafsu adalah tempat para mahluk neraka, setan kelaparan, binatang, manusia, asura, dan dewa yang menikmati lima obyek nafsu.

Alam Berwujud adalah tempat para dewa yang mempunyai wujud.

Alam Tanpa Wujud adalah tempat para dewa yang tidak mempunyai wujud.

 

Para mahluk dari Alam Nafsu punya delusi/khayalan yang sungguh kuat, sedangkan mereka di Alam Berwujud khayalannya sudah lebih halus, dan mereka yang di Alam Tanpa Wujud punya khayalan yang sangat halus.

Alam Nafsu (dunia kita), Alam Berwujud (alam untuk dewa tingkat rendah), dan Alam Tanpa Wujud (untuk dewa yang lebih tinggi). Tanah Suci Surga Barat (Sukhavati) berada di luar Alam Tiga Tingkat ini – ia melampaui samsara dan tidak mengalami kemunduran.

Thursday, July 26, 2012

Instruksi Petunjuk yang diberikan kepada si Ibu Tua


Diambil dari:
Treasure from JUNIPER RIDGE
Instruksi Berharga nan Mendalam dari Padmasambhava kepada Dakini Yeshe Tsogyal.
Dicatat dan disembunyikan oleh Yeshe Tsogyal.
Dari wahyu Nyang Ral Nyima Özer, Rigdzin Gödem, Sangye Lingpa, Rinchen Lingpa, Dorje Lingpa, Jamyang Khyentse Wangpo, dan Chokgyur Lingpa.

Diterjemahkan dan disunting oleh: Erik Pema Kunsang & Marcia Binder Schmidt.

Dibagikan oleh Lotuschef – 16 Febuari 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Pointing-Out Instruction to the Old Lady




Saat nirmanakaya, Guru Padmasambhava, diundang oleh Raja Trisong Deutsen dan saat itu sedang tinggal di Samye yang Megah di Batu Merah, seorang Wanita dari Tön yang saleh dan pengabdiannya juga menakjubkan, mengirimkan pembantunya – seorang Wanita bernama Margong, yang juga dikenal dengan nama Rinchen Tso untuk mempersembahkan sarapan pagi yang terdiri dari tahu susu dengan irisan buah anggur.

Lalu, saat sang guru sedang dalam perjalanan-Nya menuju Samye Chimpu, dan saat Beliau sedang melewati gerbang, Wanita Tön ini bersujud di tengah jalan dan berjalan mengitari  Beliau, sambil beranjali di hadapan-Nya, ia berkata: Guru yang agung, kasihanilah aku. Engkau sudah hampir pergi, dan aku, si ibu tua ini juga sudah mau tutup usia.

Pertama-tama, karena aku terlahir sebagai seorang wanita, aku masuk dalam kalangan kelahiran dengan derajat rendah. Karena perhatianku selalu teralihkan oleh berbagai aktivitas, aku lupa akan Dharma. Kedua, karena kecerdasanku yang rendah, akal pikiranku juga lemah. Ketiga, aku merasa kabur karena sudah tua dan pikiranku juga keruh.

Guru yang mulia, kasihanilah aku, berikanlah kepadaku si ibu tua ini sebuah ajaran yang tak sulit, mudah dicerna dan diaplikasikan, serta sangat efektif. Mohon anugerahkanlah sebuah instruksi untuk seorang ibu tua yang umurnya sudah tak panjang lagi.

Sang guru menimpalinya: Ibu tua, siapakah kamu?
Si ibu tua menjawab-Nya: Aku adalah orang yang selalu mengirimkan seorang pelayan untuk mempersembahkan semangkok dadih.
Sang guru dengan penuh sukacita berkata: Wah kamu sungguh seorang yang punya pengabdian lebih besar dibanding Trisong Deutsen.

Lalu Beliau memberikan instruksi kepada si ibu tua bersama dengan pembantunya dengan kata-kata berikut: Ibu tua, duduklah dengan tegap dan silangkan kakimu. Untuk sementara waktu, tenangkan pikiranmu sepenuhnya.

Sang guru mengarahkan jari-Nya ke arah hati si ibu tua tersebut dan memberikan instruksi berikut: Ibu tua, dengarkanlah aku. Bila kamu ditanya apa bedanya antara pikiran para Buddha yang benar-benar sempurna dengan pikiran insan dari tiga alam (triloka), sebenarnya tiada lain terletak pada antara menyadari dan tidak menyadari sifat sejati dari pikiran.

Karena para insan yang berperasaan gagal menyadari sifat sejati ini, maka khayalan muncul dan dari kebodohan ini berbagai jenis penderitaan akan muncul juga. Beginilah makanya para insan berputar-putar di dalam samsara. Sebenarnya bahan baku kebuddhaan ada di dalam diri mereka, namun mereka gagal mengenalinya.

Pertama-tama, bahan baku kebuddhaan ada di dalam dirimu. Lebih khususnya, bahan baku tersebut ada pada manusia yang telah mendapatkan kebebasan dan kekayaan. Lebih lanjut lagi, bukannya berarti para pria berkelimpahan bahan baku kebuddhaan ini, sedangkan para wanita kekurangan. Jadi, meski kamu terlahir sebagai seorang wanita, kamu tidak terhalangi untuk mencapai kebuddhaan.

Pintu-pintu Dharma yang banyaknya 84,000 ini telah diajarkan supaya bisa mengenali dan menyadari pikiran kebijaksanaan para buddha, tapi untuk memahaminya perlu instruksi tiga kata kunci dari seorang guru. Jadi, meski kecerdasanmu rendah dan pikiranmu juga dangkal, kamu tidak dirugikan.

Kini, arti dari Dharma, pikiran buddha, dan instruksi tiga kata kunci dari sang guru adalah sebagai berikut: Dengan memurnikan obyek-obyek yang dilihat/dipahami secara eksternal, persepsimu akan terbebaskan (catatan penerjemah: tidak terpaku) dengan sendirinya. Dengan memurnikan pikiran yang melihat/memahami yang berada di dalam (internal), maka kesadaranmu yang tak melekat akan terbebaskan dengan sendirinya. Karena kesadaran yang terang cemerlang di antara keduanya begitu menyenangkannya, maka kamu mengenali sifat sejati dirimu sendiri.

Bagaimana caranya obyek eksternal yang dilihat bisa dimurnikan? Kesadaran yang sudah ada ini, kondisi pikiran yang telah tercerahkan, tidak terkotori oleh pikiran dan melihatnya sebagai kecemerlangan alami. Biarkanlah seperti itu adanya, dan obyek dilihat/dipahami tanpa melekat padanya. Dengan cara ini, bagaimanapun penampakan muncul, mereka sebenarnya tidak nyata dan tidak dianggap sebagai hal-hal yang aktual (nyata). Jadi, apapun yang kamu lihat, baik itu tanah ataupun batu, gunung ataupun tebing, tanaman ataupun pohon, rumah ataupun kastil, barang ataupun peralatan, teman ataupun musuh, anggota keluarga ataupun pasangan, suami ataupun istri, anak laki ataupun anak perempuan – terhadap semuanya itu dan hal-hal lainnya – kamu tidak turut campur tangan dalam sikap mengklaim kepemilikan; jadi mereka dilihat/dipahami namun tidak diperlakukan dengan cara seperti itu. Bila terbebaskan dari kemelekatan terhadap apapun juga, maka kamu akan termurnikan dari obyek-obyek yang kamu lihat secara eksternal.

Obyek-obyek yang dimurnikan bukan berarti kamu berhenti melihat/memahami. Arti sebenarnya adalah tidak melekat dan pada saat yang bersamaan selalu terang cemerlang nan kosong. Contohnya adalah pantulan dalam sebuah cermin, mereka punya penampakan namun kosong karena tidak ada yang bisa diraih, dan persepsimu ini disebut sebagai “persepsi yang muncul terhadap dirimu sendiri”.

Dengan sarana pikiran di dalam yang melihat yang dimurnikan, berikut adalah instruksi untuk membebaskan kesadaran yang tak melekat di dalam kesadaran itu sendiri: Apapun yang muncul di dalam pikiranmu – aliran pikiran, memori ingatan, atau lima emosi yang beracun – saat kamu tidak berfokus padanya, maka gerakan pikiran tersebut akan hilang dengan sendirinya; oleh karenanya kamu tidak terkotori oleh kekeliruan berpikir.

Sempurna di dalam bukan berarti menjadi batu yang diam kaku. Ia berarti kesadaranmu selalu terbebas dari kecacatan dalam berpikir, analoginya adalah seperti pergi ke sebuah pulau yang terbuat dari emas; di dalam pulau emas ini, tidak ada yang namanya “batu”. Dengan cara yang sama, saat pikiranmu melebur ke dalam kesadaran asal, bahkan tidak ada yang namanya “pikiran”.

Karena kesadaran yang terang cemerlang di antara keduanya begitu menyenangkannya, berikut adalah instruksi untuk mengenali sifat sejati dirimu: Saat melatih diri, bebas dari ketidaktahuan, kesadaran dirimu jernih, murni, dan sepenuhnya sadar. Saat melatih diri, kamu akan mengalami bahwa kesadaran bawaanmu yang telah ada dari sejak awal itu tak terkotori oleh sikap dengan suatu konsep tertentu ataupun melekat pada kenikmatan, kecemerlangan, ataupun tiada pikiran. Karena itulah yang disebut sebagai pikiran buddha, maka kamu telah mengenali sifat sejatimu sendiri.

Kira-kira contohnya seperti kamu tidak perlu membayangkan bahwa ibumu sebagai ibumu, karena kamu tidak punya ketakutan bahwa dia ternyata bukan ibumu. Dengan cara yang sama, saat kesadaranmu mengenali ia adalah sifat sejati dari dharmata yang sudah ada sejak awal, maka kamu tidak akan lagi salah membayangkan bahwa fenomena samsara adalah sifat sejati – bahkan tanpa mengetahuinya sekalipun, kamu tidak pernah terpisahkan dari sifat sejati dharmata ini.

Karena ini yang disebut sebagai pelatihan tanpa sandiwara (tidak dibuat-buat), bunda dharmata adalah kenyataan bahwa semua fenomena tidak punya sifat sejati; tempat tinggal dharmata adalah pengenalan bahwa semua fenomena tidak punya sifat sejati; dan disebut “dirimu sendiri yang mengenali kesejatian dirimu” berhubung kamu mengenali bahwa kesadaranmu adalah ruang dharmadhatu yang sudah ada dari awal.

Begitu kamu telah mengenalinya, maka tidak ada lagi yang namanya kelahiran yang unggul ataupun rendahan, tak ada lagi aktivitas yang mulia maupun rendahan, tak ada lagi akal pikiran yang tajam ataupun tumpul, tak ada lagi kecerdasan tinggi ataupun rendah, tak ada lagi pengetahuan yang luas maupun sempit, tak ada lagi umur panjang ataupun pendek, tak ada lagi pikiran yang jernih maupun keruh.

Inilah sebuah instruksi dengan tingkat kesulitan yang rendah dan mudah dipahami, juga mudah untuk diaplikasikan serta sangat efektif, dengannya kamu tidak akan ketakutan saat ajal menjelang. Ibu tua, latihlah instruksi ini! Tekunlah selalu, karena waktu berjalan terus! Kamu tidak mendapat penghargaan dengan menjadi budak bagi suami dan anakmu, jadi jangan pulang dengan tangan kosong, tapi bawalah selalu bekal instruksi dari gurumu ini! Tugas-tugas dalam hidup ini tidak ada habisnya; jadi capailah kesempurnaan dalam praktek meditasimu!

Ibu tua, simpanlah nasihat ini sebagai temanmu sehingga kamu tidak takut lagi di saat kematian telah datang menjemput!



Begitulah yang mulia membabarkan. Dan karena sang guru memberikan instruksi ini sambil menunjukkan jari-Nya ke hati ibu tua tersebut, maka ini dikenal sebagai “Instruksi Petunjuk yang diberikan kepada si Ibu Tua.” Saat mendengarkannya, si ibu tua dan pelayannya mendapatkan pembebasan dan keberhasilan

Putri Tsogyal dari Kharchen menuliskan ajaran ini demi memberi manfaat bagi generasi-generasi mendatang. Instruksi ini ditulis di lereng Samye sebelah selatan, pada tanggal tujuh belas bulan musim panas kedua tahun Kelinci.


Disembunyikan sebagai harta terma demi generasi-generasi mendatang,
Semoga terma ini bertemu dengan manifestasi yang layak!
Semoga terma ini mengajar para insan dengan cara-caranya yang sesuai!
Dengan ini, semoga mereka yang telah ditakdirkan akan membebaskan aliran kesadaran mereka!

SEGEL, SEGEL, SEGEL. ÷


Monday, July 2, 2012

Proyeksi Astral - Boddhicitta 3

Artikel asli ditulis oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 14 Maret 2012

Tautan ke artikel tersebut :

Diterjemahkan oleh Lotus Junhao



Visualisasi 4 Batin Yang Tak Terhingga (Apramana)

Mari saya ulas balik lagi.

Anda memvisualisasikan Silsilah Satya Buddha

Namo Buddha Vairocana

Namo Buddha Locani

Namo Padmakumara

Namo Buddha Hidup Lian Sheng

Mereka semua memancarkan sinar kepada setiap orang yang Anda visualisasikan hadir bersadhana dengan Anda.

Visualisasikan mereka menjadi bersinar dan kemudian berubah menjadi titik-titik sinar.

Sebenarnya petunjuk dari Guru untuk hal ini sangat jelas, kemudian kelompok terakhir yang Anda undang yakni para insan di 6 Alam yang mencakup Dewa, Manusia, Asura, Hewan, Hantu Kelaparan dan para insan di Neraka.

Hehe! Semuanya disana?

Ketika Anda dapat memvisualisasikan sedemikian banyak maka kekuatan proyeksi astral Anda tentu saja hebat!

Semua ini mungkin dilakukan dengan adanya Boddhicitta!

Anda berbagi kebaikan pemberkatan Enerji Semesta dengan semuanya dan hal ini dapat dilakukan karena kita telah bersarana dengan Ordo Satya Buddha.

Ah! Sekarang, apakah teman-teman menyadari apa yang telah diajarkan oleh Guru sedari awal?

Pelajari dasar-dasar dan kemudian gunakan untuk memberikan manfaat bagi Anda dan juga bagi para insan lainnya.

Dengan melakukan ini juga membantu Anda berteman dengan setiap orang dan Anda akan menemukan bahwa jalan Anda menjadi mulus dan Anda dapat menolong lebih banyak insan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat oleh Anda.

Kenapa mengejar sesuatu sukar yang dinamakan Kekuatan Dharma saat Anda tidak tahu apa itu sebenarnya Kekuatan Dharma?

Setiap langkah di dalam praktik Sadhana yang diajarkan oleh Guru jika dilakukan dengan baik maka dapat membantu teman-teman kepada Pencerahan dan keBuddhaan, setujukah teman-teman?

Selamat melatih diri ya!

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016

Wednesday, May 30, 2012

Kekuatan Dharma Dari Mantra Hati Mahaguru Lu (2)

Artikel asli ditulis oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 15 Juni 2011

Tautan ke artikel tersebut : Power of Grand Master Lu’s Mantra 师尊心咒的威力 [2]

Bagian pertama : Kekuatan Dharma Dari Mantra Hati Mahaguru Lu

Diterjemahkan oleh Lotus Junhao

 

Darimana penyembelih ayam tersebut mendapatkan kekuatan Dharma untuk menetralisir semua karma buruk dia atas semua ayam yang dibunuh dia?


Mahaguru Lu bertemu dia untuk pertama kalinya saat sesi penjatuhan hukuman di Neraka.


Baiklah, dalam Tantrayana hal-hal pokok yang diperlukan yakni : - Berlindung (bersarana) dan transfer pemberkatan langsung dari Guru Akar.


Penyembelih tersebut sungguh sangat beruntung memiliki Mahaguru Lu yang mengajari dia secara pribadi bagaimana menjapa mantra Mahaguru Lu.


Mahaguru Lu memberikan transfer pemberkatan atas mantra secara pribadi karena dia menarik penyembelih ke samping untuk mengajari dia.


Haha! Ini merupakan transfer pemberkatan langsung!


Jika tidak, hal tersebut mengakibatkan dia dikategorikan mencuri Dharma dan apa yang dia japa akan kurang “kekuatannya” atau hasilnya.


Juga semua ayam-ayam yang terlihat diseberangkan oleh Guru kita yang welas asih.


Om = Alam Semesta – tubuh suci dan sinar putih


Guru = seorang Guru yang benar-benar tercerahkan dan suci


Liansheng = Nama Sang Guru, yang merupakan transformasi dari bunga teratai. Satu jalan kemudahan bagi para penjapa mantra-Nya untuk terlahir di Tanah Suci Maha Kolam Teratai Kembar.


Siddhi = Tanah Suci dari Padmakumara (Bocah Teratai) yakni Maha Kolam Teratai Kembar


Hom = perolehan / pencapaian & seperti sekuntum bunga yang sedang mekar.


Silahkan unduh file di bawah ini untuk penjelasan lebih rinci mengenai makna mantra hati Mahaguru Lu :


The Collection of Exposition on The Heart Mantra of Buddha Liansheng


Kita umat Ordo Satya Buddha seharusnya menghargai apa yang diajarkan oleh Mahaguru, rajin dan melatih diri untuk menolong orang-orang lain yang kurang beruntung.


 

Amituofo

Pure Karma

Lama Lotuschef

True Buddha School

Monday, May 28, 2012

Pelatihan Diri – Berbagai macam halangan

Ditulis oleh Lotuschef – 5 Mei 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Cultivation – Obstacles

 

[caption id="attachment_6840" align="aligncenter" width="322" caption="Blazing Splendor"][/caption]

Berikut adalah ekstrak dari buku “Blazing Splendor” (Kemegahan yang menyala-nyala) oleh Tulku Urgyen Rinpoche.

 

Mengenai guru personalnya:

Samten Gyatso selalu berpikir bahwa menjadi seorang vajra acharya atau guru bagi insan lain adalah sebuah halangan pribadi, meski ia adalah seorang yang sukses dalam hal tersebut dan menjadi sangat terkenal.

Karena tujuan utamanya sebenarnya adalah menghabiskan hidupnya untuk melatih diri sendirian di dalam gua, dia meratap kepada saya, “Saya merasa bahwa seluruh hidup saya ini telah mengarah ke jalan yang salah – saya jatuh ke dalam kuasa rintangan.”

 

Di masa lampau, tradisi yang berjalan adalah si murid akan mematuhi perintah gurunya, yang akan mengatakan, “Pergilah ke tempat ini dan itu, lalu kibarkan bendera kemenangan realisasi (keberhasilan pelatihan diri).  Saat kamu telah mencapai keberhasilan, barulah kamu bisa benar-benar memberi manfaat bagi para insan.

Si murid kemudian akan pergi ke lokasi yang telah ditunjukkan dan berlatih dengan penuh fokus hingga mencapai keberhasilan.

Barulah setelah itu dia akan “turun gunung” untuk memberi manfaat bagi para insan.

Ya memang begitulah seharusnya. Tanpa mendapatkan ijin atau perintah dari sang guru, si murid tidak akan mulai bekerja demi menyejahterakan para insan sebagai seorang vajra acharya. Namun setelah menerima perintah atau ijin, si murid pasti harus menjalankan tugas tersebut.

 

Saat Samten Gyatso bertambah tua, dia sering berpikir, “Seharusnya saya tetap tinggal di dalam gua, tapi saya malah jatuh dalam kuasa rintangan.”

Ini bukan hanya sekedar omongan kecil belaka karena ia benar-benar merasakan hal tersebut.

Dia tak punya ambisi untuk menjadi vajra acharya atau duduk di tingkat yang lebih tinggi daripada orang lain.

 

Pernah sekali dia menjelaskan, “Menjadi sukses sebenarnya disebut sebagai rintangan yang menyenangkan. Kalau rintangan yang tak menyenangkan pasti gampang dikenali oleh semua orang, tapi kesuksesan/keberhasilan ini jarang dianggap sebagai penghalang jalan. Hambatan yang tak menyenangkan antara lain meliputi: difitnah atau terlibat dalam skandal, jatuh sakit atau bertemu dengan kegagalan dan kesialan.

Para praktisi yang berbakat bisa mengatasi hal-hal semacam ini. Mereka akan mengenali berbagai situasi tersebut sebagai halangan dan menggunakannya sebagai bagian dari jalan yang ditempuhnya (merubahnya menjadi sarana pendukung untuk mencapai keberhasilan).”

 “Tapi dengan halangan-halangan yang menyenangkan, seperti menjadi terkenal, punya banyak murid yang mengitarimu dan bekerja untuk kebahagiaan orang lain, maka kamu akan mulai berpikir, ‘Wah... sekarang saya benar-benar orang yang spesial. Saya bisa memberi manfaat bagi banyak insan. Semuanya baik-baik saja! Saya super sukses!’ – tanpa menyadari bahwa tergila-gila dengan kesuksesan adalah halangan besar dalam kemajuan spiritual.”

Saat hal ini terjadi, Samten Gyatso memberikan peringatan bahwa orang-orang seringnya hanya berpikir, “Kapasitas altruistik*-ku untuk memberi manfaat bagi para insan sedang bertambah besar!” Inilah yang mereka katakan pada diri mereka sendiri, padahal gagal melihat bahwa mereka sedang termakan umpan halangan.

*) Altruistik (kata sifat): menunjukkan perhatian yang tidak egois demi kesejahteraan orang lain.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Saya bagikan potongan artikel di atas karena hal tersebut sering disertakan oleh Guru Akar kita dalam sesi ceramah dharma-Nya.

Kerendahhatian dan rasa puas adalah dua hal yang harus selalu dilatih oleh para praktisi.

Menolong insan lain akan lebih efektif saat si penolong telah sampai pada Realisasi atau Pencerahan – betapa benarnya!

 

Saya akan bagikan banyak materi yang bagus dari semuanya dan tidak membatasi pada ajaran-ajaran dari Guru saja. Saya percaya bahwa sharing dari teman yogi lain seperti ini malah akan menambah manfaat dari apa yang Guru Akar kita telah bagikan dengan kita semua.

Ingatlah bahwa Dharma tidak diatur di bawah Hak Cipta karena ia ada bagi mereka yang membutuhkannya. Kalau Anda tidak tahu arti dari berbagi dengan welah asih kepada semua insan, maka Dharma sama sekali tidak akan berguna bagi Anda.

 

Dharma juga berada dalam semua hal yang kita lakukan, oleh karenanya ia tidak punya Bentuk Yang Konstan atau Tetap.

Patuhilah Hukum Alam dan jangan mengganggu Keseimbangan Alam Semesta juga.

 

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Monday, May 21, 2012

Lima Macam Mata – [3] Mata Kebijaksanaan

Ditulis dan disadur oleh Lotuschef – 2 Mei 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Five Eyes - Wisdom Eye

Dari pranala: The Five Eyes


Mata Kebijaksanaan


Sekarang sampai pada Mata Kebijaksanaan.

Untuk menjelaskan mengenai Mata Kebijaksanaan, kita perlu memperkenalkan konsep yang sangat mendasar dan penting di dalam agama Buddha – dalam Bahasa Sansekerta ia dinamakan ‘Shunyata’ dan bisa diterjemahkan menjadi ‘kekosongan’. Shunyata adalah sebuah ajaran unik yang tak ditemukan di dalam agama-agama lain.

Banyak naskah di dalam agama Buddha yang berfokus pada pembelajaran mengenai kekosongan. Yang dapat saya bagikan kepada Anda sekalian hari ini hanyalah bagaikan setetes air dari lautan yang luas, tapi saya akan coba sebaik mungkin.  Saya akan memperkenalkan tiga modus analitis dalam berpikir, yang sering dijelaskan oleh Sang Buddha dalam banyak kesempatan, yang menuntun kepada pemahaman akan Shunyata:



  1. Metode analitis untuk kehancuran (disintegrasi).

    Di sini saya gunakan radio sebagai contoh. Bayangkan saya punya sebuah radio di sini. Kalau saya keluarkan (lepaskan) speaker-nya, apakah loud-speaker-nya bisa disebut sebagai radio? Tentunya tidak. Anda akan tetap menyebutnya sebagai loud-speaker. Apakah transistor juga disebut sebagai radio? Bukan juga, tetap saja itu disebut transistor. Lalu bagaimana dengan kondensator, resistor, casis plastik, kawat, dll.? Mereka masing-masing tidak bisa disebut sebagai radio. Kini perhatikan baik-baik – saat semua bagian itu terpisah, bisakah Anda memberitahu saya yang mana yang disebut radio? Tidak ada radio di sana. Jadi, ‘radio’ hanyalah sebuah nama yang diberikan kepada sekelompok bagian yang digabungkan untuk sementara waktu saja. Saat dibongkar, radio tersebut kehilangan keberadaannya. Radio bukanlah entitas permanen. Oleh karenanya sifat sejati dari radio adalah kekosongan.Namun bukan hanya radio saja yang merupakan kekosongan; loud-speaker juga. Kalau saya lepaskan magnetnya dari loud-speaker tersebut, apa masih disebut sebagai loud-speaker? Tentunya tidak, Anda akan menyebutnya sebagai sebuah magnet. Kalau bingkainya saya lepaskan, apakah Anda masih menyebutnya sebagai loud-speaker? Bukan lagi, Anda akan menyebutnya sebagai bingkai. Saat semua bagian diambil (dipisahkan), lalu mana yang disebut sebagai loud-speaker? Jadi saat kita membongkar loud-speaker, ia akan kehilangan keberadaannya. Loud-speaker bukanlah entitas permanen, dan pada kenyataannya, loud-speaker adalah kekosongan.Sekarang, metode analisis untuk disintegrasi ini bisa diaplikasikan untuk semua hal di dunia, dan akan mengarah ke kesimpulan yang sama: Semua hal bisa hancur; oleh karenanya tidak ada satu hal pun yang merupakan entitas permanen. Jadi, benda apapun yang kita beri nama, ia, pada kenyataannya, adalah kekosongan.

    Buddha menggunakan metode disintegrasi terhadap dirinya sendiri. Dalam imajinasi-Nya, Beliau melepaskan kepala-Nya dari tubuhnya dan bertanya apakah kepala tersebut masih disebut tubuh manusia atau diri. Jawabannya adalah tidak. Itu adalah sebuah kepala. Lalu Beliau melepas tangan-Nya dari tubuh-Nya. Apakah bagian itu masih disebut sebagai tubuh manusia atau diri? Lagi-lagi jawabannya adalah tidak. Itu adalah sebuah tangan. Beliau kemudian melepaskan jantung dan bertanya apakah itu masih merupakan tubuh manusia atau diri. Jawabannya masih saja tidak, dan kita mulai memahami dengan lebih baik karena sekarang jantung bisa dilepaskan dari sebuah tubuh dan ditransplantasikan ke tubuh lain tanpa mengubah seseorang menjadi orang lain.

    Buddha melepaskan bagian-bagian tubuh-Nya satu demi satu dan menemukan bahwa tidak satupun dari bagian itu yang dapat disebut sebagai tubuh manusia atau diri. Akhirnya, setelah semua bagian dilepaskan, di manakah yang disebut diri? Oleh karenanya, Buddha menyimpulkan bahwa tubuh fisik ini tidak hanya merupakan kekosongan saja, tapi konsep dasar dari ‘diri’ itu sendiri juga adalah kekosongan.

  2. Metode analitis untuk penggabungan (integrasi).

    Meski kita melihat ratusan dari ribuan dari berbagai macam hal di dunia, manusia mampu menggabungkannya ke dalam beberapa elemen dasar. Contohnya, berdasarkan karakteristik-karakterisik kimiawi, manusia telah mengklasifikasikan emas sebagai elemen dasar. Kita bisa menamai ribuan artikel mulai dari patung emas yang rumit bentuknya hingga sebuah emas batangan yang sederhana, tapi semua itu bisa dilebur dan dicetak ulang menjadi berbagai bentuk lain. Mereka bisa dirubah dan tidak permanen (menetap). Hal-hal yang tidak berubah adalah karakteristik kimia dasarnya, yang mana kita menyebutnya sebagai ‘emas.’ Dalam kata lain, semua artikel tersebut digabungkan dalam kategori elemen yang kita namakan sebagai ‘emas.’Pada jaman Sang Buddha, para filsuf India menggabungkan berbagai macam hal ke dalam empat elemen dasar, mereka adalah: padat, cair, gas, dan panas. Buddha melaju lebih jauh lagi dan menyatakan bahwa empat elemen tersebut dapat digabungkan menjadi kekosongan. Dengan melanjutkan contoh mengenai emas di atas, pernyataan Budha berarti bahwa kita juga dapat menanyakan keberadaan emas sebagai entitas permanen, meski kita telah mengenalinya sebagai karakteristik dasar dari berbagai macam artikel emas. Bagaimanapun yang kita tampilkan, tetap saja merupakan bentuk spesifik dari emas, seperti emas batangan yang pada dasarnya dapat berubah dan tidak permanen. Oleh karenanya, emas hanyalah sebuah nama yang diberikan untuk karakteristik tertentu. Emas itu sendiri adalah kekosongan.Dengan asas pemikiran yang sama, Buddha menyimpulkan bahwa semua benda padat adalah kekosongan. Bukan yang padat saja, tapi yang cair juga merupakan kekosongan karena karakteristik dari keadaan cair adalah tidak berbentuk, tidak bisa digenggam, dan kosong dari keberadaannya yang bebas. Begitulah, 2500 tahun yang lalu, Buddha menyimpulkan bahwa semua hal di alam semesta dapat digabungkan ke dalam kekosongan.

    Adalah hal yang sungguh menarik untuk diperhatikan di mana para ilmuwan barat juga telah sampai pada kesimpulan yang mendekati. Sebelum Albert Einstein menemukan teori relativitas, para ilmuwan menggabungkan semua hal di alam semesta ini ke dalam dua elemen utama: materi dan energi. Einstein menggabungkan kedua elemen tersebut dan membuktikan secara matematis bahwa materi adalah sebuah bentuk energi. Dengan demikian, dia menyimpulkan bahwa semua hal di dalam alam semesta ini hanyalah berbagai bentuk rupa dari energi.

    Tapi apa itu bentuk asal mula dari energi? Meski saya tidak berusaha untuk menegaskan bahwa energi sama dengan kekosongan, tapi setidaknya saya ingin mengatakan bahwa energi juga tidak mempunyai bentuk, tidak bisa digenggam, dan dapat disamakan dengan kekosongan.

  3. Metode analitis untuk penembusan (penetrasi).

    Buddha menjalankan metode ini melalui meditasi. Meditasi itu sendiri akan cukup sulit bagi kebanyakan orang, tapi untungnya teknologi sains masa kini membantu kita lewat beberapa analogi tertentu yang bisa cukup menjelaskan mengenai metode ini. Mari kita kembali ke bagian spektrum elektromagnetik. Kita tahu bahwa mata telanjang kita hanya dapat melihat sebagian kecil dari alam semesta yang bisa terlihat oleh mata kita saja, tapi dengan bantuan beberapa alat, seperti perangkat infra merah, sinar X, mikroskop, dll., manusia jaman sekarang bisa melihat alam-alam lain di dalam alam semesta ini. Saya tunjukkan bagan lainnya (Bagan II) supaya Anda bisa lebih paham.Jangan sampai salah memahami bagan di atas bahwa berbagai gambar dan ruang kosong di atas terdiri atas entitas yang berbeda. Mereka sebenarnya adalah orang yang sama. Juga jangan salah menganggap bahwa gambar-gambar tersebut (dari kiri ke kanan) berada di ruang yang berbeda. Mereka berada di tempat yang sama. Supaya lebih jelas, anggap saja saya adalah orang yang berada di bagan tersebut.

    [caption id="attachment_5633" align="aligncenter" width="489" caption="Bagan II: Orang yang sama dilihat lewat berbagai spektrum elektromagnetik."][/caption]

    Kini bayangkan bahwa mata Anda bisa mendeteksi sinar infra merah. Yang Anda lihat berdiri di depan Anda adalah gambar berwarna merah, kuning, dan hijau. Kini kembali ke alat yang Anda gunakan sehari-hari di mana Anda melihat bentuk eksternal saya dengan mata telanjang. Lalu bayangkan mata Anda dapat melihat dengan sinar X. Kulit, daging, dan darah akan menghilang, dan yang Anda lihat sekarang adalah struktur tulang dari tubuh saya. Berganti lagi ke instrumen  lain – mata mikroskopik, orang yang berdiri di depan Anda adalah struktur rantai molekul yang rumit. Sekarang ditembusi lebih dalam lagi. Ilmu sains masa kini mengajarkan kita bahwa molekul terdiri dari atom-atom, dan atom terdiri dari partikel, dan akhirnya semua massa dapat dikonversikan menjadi energi – yang sifat aslinya adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat atau pegang. Kita sebut saja sebagai bentuk yang tidak mempunyai bentuk, yang diwakili lewat ruang hampa dengan nomor 5 pada bagan di atas.

    Perhatian Anda akan tertuju pada sebuah kenyataan bahwa saya adalah orang yang sama dalam pengertian umum, tapi saya bisa terlihat kepada Anda dalam berbagai macam bentuk: gambar yang berwarna-warni, tubuh berdaging, struktur tulang, kumpulan molekul, dan banyak bentuk yang berhubungan dengan berbagai alam atau instrumen, dan pada akhirnya adalah bentuk yang tidak punya bentuk.

    Metode yang ke-tiga ini – metode analitis penetrasi, sekali lagi membawa kita pada kesimpulan yang sama bahwa semua hal di dalam alam semesta ini dapat ditembus hingga ke dasarnya, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai energi, dan oleh Buddha disebut sebagai kekosongan.



Kini harap perhatikan hal yang sangat penting: Yang saya bahas selama ini benar-benar dari segi intelektual saja. Tapi kekosongan adalah sebuah kondisi yang didapatkan dari pengalaman langsung. Dikatakan bahwa saat seseorang mencapai suatu kondisi di mana ia mengalami kenikmatan tertinggi (mahasukha), pengalaman tersebut rasanya ratusan kali lipat lebih kuat dari kenikmatan lain yang bisa dialami oleh orang awam. Dan lagi, kekosongan menjadi sebuah kondisi di mana ia bisa melampaui sensasi perubahan dan ketidakkekalan.

Selangkah lebih maju lagi, seperti yang Anda mungkin ketahui, penyadaran atas penderitaan manusia adalah penyebab langsung yang membawa calon Buddha, Pangeran Siddharta, untuk meninggalkan istananya dan menjadi seorang pertapa dalam perjalanannya mencari cara untuk mencapai pembebasan umat manusia (dari penderitaan). Buddha menyebutkan ada delapan macam penderitaan manusia, yang di dalam Bahasa Sansekerta disebut sebagai ‘duhkha,’ yang sebenarnya punya penjelasan lebih luas dari sekedar kata ‘penderitaan.’ Mereka adalah: kelahiran, masa tua, sakit, kematian, kehilangan orang dikasihi dan kondisi menyenangkan, berhubungan dengan orang dan kondisi yang tidak menyenangkan, gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dan ketidakkekalan. Saya tidak punya waktu untuk menjelaskan dengan mendetil mengenai delapan poin ini, tapi kalau Anda menganalisanya dengan mendetil maka Anda akan sampai pada kesimpulan bahwa kedelapan penderitaan itu berhubungan dengan, atau berasal dari, tubuh fisik dan kesadaran yang kita sebut sebagai ‘diri.’ Kedua hal tersebut adalah dasar dari mana penderitaan manusia berasal.

Kini saat tubuh fisik dan kesadaran diri tidak ada lagi pada saat kekosongan telah tercapai, apa mungkin penderitaan masih bisa muncul? Saat tingkatan itu telah tercapai, semua hal di dalam alam semesta, termasuk diri sendiri, dilihat sebagai kekosongan. Semua penderitaan manusia akan menghilang, dan ia dikatakan telah memiliki Mata Kebijaksanaan.

Ini bagaikan rasa lega yang tiba-tiba muncul setelah terlepas dari beban yang berat. Seperti pertemuan yang tak terduga antara ibu dengan anaknya yang telah hilang bertahun-tahun. Seperti menemukan daratan saat sudah putus asa berlayar di laut yang penuh badai. Itulah beberapa gambaran mengenai betapa menyenangkannya saat Mata Kebijaksanaan telah didapatkan.

Banyak murid Sang Buddha yang telah mencapai tingkatan ini. Merekalah yang disebut sebagai Arahat. Meski mereka adalah para suciwan, Buddha masih mengeluarkan peringatan yang tegas kepada mereka: “Jangan berhenti saat telah mendapatkan Mata Kebijaksanaan.” Buddha menjelaskan bahwa dengan Mata Fisik atau Mata Dewa kita melihat dunia yang sebenarnya tidak lengkap, penuh perubahan, dan tidak nyata sebagai (yang dianggap) lengkap, kekal, dan nyata. Karena itulah kita menjadi melekat kepada dunia ini dan dengannya kita menjadi menderita. Ini adalah salah satu ekstrim.

Namun dengan Mata Kebijaksanaan kita melihat semuanya di dalam alam semesta sebagai tidak kekal, tidak nyata, dan kosong, dan menjadi senang untuk tinggal di dalam kondisi kekosongan. Dengan ini menjadi melekat dengan kekosongan, dan juga merupakan ekstrim di arah yang berlawanan.

Saat ada kemelekatan, baik kepada bentuk ataupun kepada kekosongan, kesadaran diri, yang merupakan akar dari semua kebodohan dan penderitaan tidak akan dapat dihilangkan sepenuhnya. Maka, ajaran tertinggi dari Buddha, adalah untuk mendapatkan Mata Dharma.



[Bersambung]



Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Wednesday, April 25, 2012

Jodoh

Ditulis oleh Lotuschef – 22 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Affinity

 



[Diambil dari facebook Aaron Fernandez]

Mahaguru Sheng-yen Lu

Dalam hidup saya,  saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang tidak memanfaatkan khalayak.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang tidak membohongi khalayak.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang tidak sombong dan egois.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang punya pemahaman nan agung.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang baik hati dan berwelas asih.

Saya benar-benar belum pernah bertemu dengan seorang Guru hingga akhirnya saya bertemu dengan-Mu dan mulai memahami Buddha Dharma.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Perasaan-perasaan kita berakar dari jodoh banyak kehidupan lampau dan kemelekatan pada kehidupan kali ini. Oleh karenanya kita tidak perlu melakukan perhitungan akan jodoh baik ataupun yang buruk.

Selama kita memperlakukan semua orang dengan ketulusan, kita akan tetap suci bagaikan bunga-bunga teratai yang tak terkotori oleh lumpur.

(Kutipan dari Buku Guru Lu: Bepergian Dengan Hatimu)
[Diterjermahkan ke Bahasa Inggris oleh tim Padmakumara, didesain oleh yamantaka999]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Sore tadi saya mengobrol dengan Guru tentang Jodoh.

Saya menerima sebuah email di jam 16:04 dari seorang murid, si R, yang memberitahu saya mengenai anak laki-lakinya, Duncan, yang melihat Kalachakra. Oh ya, Duncan memang kelihatan seperti seorang Buddha kecil, jadi tidak heran juga kalau dia bisa melihat Kalachakra.

Hahaha!

 

Kemudian saya menunjukkan kepada Guru beberapa murid yang merupakan murid saya pada kehidupan lampau. Beliau menunjukkan beberapa lainnya lagi kepada saya.

Saya lalu membuat sumpah untuk tidak mengangkat murid dalam kunjungan saya kali ini ke alam samsara. Biarlah mereka semua berlindung (bersarana) kepada Guru saja.

Guru sebelumnya pernah bilang kalau mereka yang telah ditahbiskan lebih dari sepuluh tahun boleh menerima (mengangkat) murid.

Tapi saya hanya berharap untuk hidup di sisi Guru, selama Guru hidup.

 

Petikan bait dari Aaron Fernandez semuanya telah dijelaskan dalam kutipan artikel Guru di atas.

Adalah Jodoh yang membawa kita semua bersarana kepada Guru. Percayalah bahwa kebanyakan dari kita memang punya jodoh yang panjang dan mendalam lebih dari satu kehidupan lampau.

Bagi banyak orang, mungkin terlihat tidak adil kalau para Buddha saat mereka mengunjungi alam samsara muncul sebagai para guru besar ataupun kaisar.

Seperti yang Buddha sendiri katakan: Semua alam semesta ini adalah milikku!

 

Ada fakta yang paling penting: bahwa setiap individu bisa menjadi seorang Buddha bila mereka punya Jodoh dan melatih diri dengan benar.

Pertama-tama, selesaikan dulu semua pengaruh Karma dan selamat melatih diri dengan bimbingan Guru!

:)

 

[Saya bagikan sudut pandang baru mengenai Retret kepada teman-teman sekalian.

Tidaklah perlu bersembunyi di gua-gua yang jauh dari peradaban atau mengunci diri di dalam ruangan dan menjauhkan diri dari banyak orang.

Selama orang bisa tinggal dalam kondisi Samadhi yang abadi (terus-menerus), maka Retret ya kira-kira sama artinya dengan hal di atas dan semuanya benar-benar bergantung pada pola pikir praktisi yang bersangkutan.

Saya harap tulisan-tulisan saya ini tidak membuat pusat-pusat Retret tutup karena bisnisnya menurun! Hehe!]

 

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Friday, April 20, 2012

Alasan Bagus untuk Melatih Diri

Ditulis oleh Lotuschef – 18 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: A Good Reason to Cultivate

Yang Mulia Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche

“Kalau kamu benar-benar ingin memberi manfaat kepada para insan, langkah pertama adalah dirimu harus telah mencapai realisasi (keberhasilan). Pertama-tama dewasakanlah pikiranmu sendiri, karena bila tidak maka kamu tidak akan mampu menolong para insan. Kamu tak mungkin bisa memberi air kepada orang lain kecuali punya kendi yang berisi air. Saat ia kosong, kamu mungkin bisa membuat gerakan menuang, tapi tidak ada air yang keluar darinya.”

- Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche -

---

Pola pikir mau menolong para insan lain adalah faktor yang sangat penting di dalam pelatihan diri.

Kutipan di atas adalah kata-kata yang sungguh berharga dan perlu selalu diingat, teman-teman setuju?

Kalau kita tidak melatih diri dengan baik, bagaimana bisa punya sumber daya untuk menolong insan lain?

Bagaimana caranya bisa memberi kalau tak ada yang bisa diberikan?

Kalau teman-teman sungguh ingin menolong insan lain, kini mulailah dengan mempelajari berbagai fondasi dan dasar-dasar yang diperlukan.

Nantinya kita akan paham bahwa dengan fondasi yang bagus akan ajaran-ajaran Buddha, pelatihan diri kita akan melaju pesat. Tentu saja perlu pola pikir “mau belajar” untuk bisa menolong orang lain; “menanam” untuk memberi makan yang lain; “mengalami” supaya bisa memandu yang lain; .......

Selamat berpetualang!

:)

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Tuesday, March 20, 2012

Pusaka Kebutan Buddha/Dewata

Ditulis oleh Lotuschef – 16 Maret 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 




[拂尘] dieja sebagai Fúchén /Fo Chen/, dengan karakter “Fú”ditulis dengan aksara Han di sebelah kiri yang menunjukkan fungsi aksi (sebagai kata kerja). Nama lainnya adalah Kebutan atau ekor kebutan.

Alat tersebut terbuat dari bulu rambut atau serat rami dan diikat di bagian ujungnya dengan tongkat yang panjang. Fungsinya adalah untuk menyapu (membersihkan) atau mengusir nyamuk, oleh karenanya istilahnya menjadi kebutan atau alat pengusir.

Ordo Vinaya (Disiplin) punya peraturan bahwa para bhiksu boleh menggunakan kebutan ini untuk mengusir gangguan nyamuk, tapi Kebutan yang berwarna Putih dilarang digunakan karena merupakan obyek yang dianggap berharga.


Yaochijingmu membawa Pusaka Kebutan di tangan kanan-Nya


Di dharani-dharani tercatat ada banyak Bodhisattva dan Sesepuh Yogi yang membawa/memegang kebutan putih ini. Begitu juga saat Buddha memberikan Ceramah Dharma kepada ibunda-Nya di Surga Trayatrimsa (dari 33 surga), di sana nampak Brahma memegang Kebutan Putih ini dan berdiri di samping kanan Sang Buddha.

Para Guru Taois juga sering terlihat membawa Kebutan Putih ini di tangan mereka.

Para Guru Zen menganggap kebutan ini sebagai obyek yang melambangkan martabat tinggi. Ia digunakan oleh para kepala biara atau wakilnya saat memberikan ceramah kepada khalayak di aula-aula besar. Ia juga merupakan simbol “memimpin”. Jadi dikatakan bahwa kebutan ini juga melambangkan “memberikan Ceramah Dharma”.

Kemudian ia juga merupakan salah satu senjata Taois.

Di dalam Kungfu dari Ordo Wu Dang, ada banyak macam senjata yang unik, kebutan ini adalah salah satunya. Ada pepatah yang mengatakan: Ia yang memegang Pusaka Kebutan Buddha bukanlah insan biasa.

Dalam tradisi Taois, kebutan ini  punya arti: menyapu/menyingkirkan jodoh samsara. Ia juga dibawa oleh para Guru Taois saat mereka bepergian.

Alat ini juga digunakan sebagai perangkat ritual dalam sistem Taois. Para Guru dapat merubahnya menjadi sebuah senjata yang masuk dalam kategori senjata lembut dan fleksibel.

Kebutan ini punya gaya yang khusus dan hidup serta dapat digunakan sebagai senjata lembut atau keras. Saat dilambaikan/dilayangkan bagaikan koreografi tarian, variasi fleksibilitasnya sungguh menakjubkan.


Ia juga digunakan dalam gerakan Memotong, Menjerat, Menarik, Menggetarkan, Menyapu sebagai fungsi utamanya; lalu bisa berisikan pisau, pedang, cambuk, anak panah, dan berbagai kemampuan senjata lainnya.

Sewaktu melatihnya, si praktisi harus menyatukan bentuk dan pikiran, pikiran dan qi, qi dan roh. Ia harus mampu mempertahankan gerakannya yang alami dan berkesinambungan – semuanya dilakukan dalam satu nafas. Pusaka ini bisa digunakan untuk bertahan dan juga disukai oleh banyak penggunanya.

Kebutan ini juga merupakan benda pusaka para peri dan guru besar. Banyak orang yang membelinya untuk keperluan pemberkatan dan keberuntungan (manggala).


Hahaha! Jadi kalian butuh juga?

Tak perlu kalau bisa mendapatkannya secara astral, dan oleh karenanya tak perlu dibawa-bawa secara fisik pula!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016

Friday, March 2, 2012

Daftar Istilah Agama Buddha Aliran Bon



Dibagikan oleh Lotuschef – 4 Maret 2012

Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 

Diambil dari pranala sumber: Ligmincha Institute – Glossary of Bon Buddhist Terms



Bardo (Bhs. Tib.: bar do; Bhs. Skrt.: antarabhava)
Bardo – (Bhs. Tibet: bar do; Bhs. Sansekerta: antarabhava)
Bardo berarti “kondisi di antara,” dan mengacu pada kondisi transisi keberadaan para insan – kehidupan, meditasi, mimpi, kematian – tapi paling umum mengacu pada kondisi peralihan antara kematian dan kelahiran kembali.


Bon – (Bhs. Tibet: bon)
Bon adalah tradisi spiritual yang paling tua di Tibet. Ia meliputi berbagai ajaran dan sadhana yang dapat diterapkan ke dalam semua aspek kehidupan, termasuk hubungan kita dengan elemen-elemen alam; etika dan moralitas; perkembangan cinta kasih, welas asih, kebahagiaan, dan ketenangan; serta ajaran Bon yang tertinggi “Kesempurnaan Agung,”, dzogchen.

Menurut catatan tradisi Bon mengenai keasliannya, beribu-ribu tahun sebelum kelahiran Buddha Shakyamuni, Buddha Tonpa Shenrab Miwoche datang ke dunia ini dan menyebarkan ajaran-ajarannya di daerah Olmo Lungring. Ol menyimbolkan tiada kelahiran, mo adalah yang tiada berkurang, lung sebagai wahyu-wahyu Tonpa Shenrab, dan ring mewakili welas asihnya yang tiada batas. Beberapa cendekiawan masa kini mengidentifikasikan Olmo Lungring dengan Zhang Zhung, negara yang mengitari Gunung Kailash di Tibet bagian barat dan merupakan tempat kelahiran peradaban Tibet.

Tonpa Shenrab mentransmisikan ajaran Bon berturut-turut dalam tiga siklus. Pertama kali, ia mengajarkan “Sembilan Jalan Bon”; kemudian “Empat Pintu Bon dan Yang Kelima, Pitaka”; dan akhirnya beliau mambuka ajaran “Sila-sila Eksternal, Batin (Internal), dan Rahasia.” Di dalam siklus ajaran terakhirnya, siklus eksternal berupa jalan renunsiasi, atau ajaran-ajaran sutra; siklus internal berupa jalan transformasi, atau ajaran tantra; dan siklus rahasia berupa jalan pembebasan diri, atau ajaran dzogchen. Pembagian kategori ke dalam sutra, tantra, dan dzogchen juga ditemukan di Ordo Nyingma dalam Buddhisme Tibet.

Para umat Bon menerima ajaran dan transmisi oral dari para guru dalam silsilah yang tak terputuskan dari masa lampai hingga hari ini. Sebagai tambahan, banyak naskah-naskah literatur Bon ini yang hingga kini masih dilestarikan. Meski banyak hal dalam tradisi Bon masa kini yang mirip dengan Buddhisme Tibet, agama Bon masih mempertahankan kekayaan dan cita rasa akarnya tersendiri dari jaman pra-Buddhis.


Chakras © Florida Yoga Academy, LLC
Chakra (Bhs. Tibet: khor-lo; Bhs. Sansekerta: chakra)
Chakra berarti ‘roda’ atau ‘lingkaran.’ Chakra adalah sebuah kata dalam Bahasa Sansekerta yang mengacu pada titik-titik pusat energi di dalam tubuh. Sebuah chakra menunjukkan sebuah lokasi titik pertemuan sejumlah nadi energi (tsa). Berbagai sistem meditasi bekerja dengan berbagai chakra yang berbeda juga.


Ilustrasi yang menggambarkan nadi-nadi beserta dengan chakra-chakra utama dan kecil.
Kanal (Bhs. Tibet: tsa; Bhs. Sansekerta: nadi)
Nadi adalah ‘pembuluh darah’ di dalam sistem sirkulasi energi di dalam tubuh. Lewat nadi, aliran gelombang energi halus akan menopang dan memberi kehidupan. Nadi-nadi itu sendiri berisi dengan energi dan tidak bisa ditemukan (dilihat) secara fisik. Namun, melalui pelatihan ataupun dari tingkat sensitivitas yang alami, para individu bisa dengan sadar mengalami (merasakan) nadi-nadi ini.


© Dakini As Art
Machig Labdrön (1055-1153 M), yang mengembangkan tradisi Chöd dengan
menggabungkan tradisi perdukunan Bönpo pribumi Tibet
dengan ajaran Dzogchen.
Chod (tib: gchod)
Artinya: memotong, melenyapkan. Juga dikenal sebagai ‘menggunakan ketakutan secara bijaksana,’ dan merupakan ‘sadhana kemurahan hati’. Chod adalah sebuah praktek sadhana untuk menghancurkan semua kemelekatan terhadap tubuh dan ego si praktisi di mana dengan penuh welas asih ia mempersembahkan seluruh tubuhnya untuk para insan lain. Untuk tujuan ini, si praktisi akan memanggil berbagai macam kelas mahluk dan kemudian melakukan pemotongan dan mentransformasikan tubuh si praktisi tersebut menjadi berbagai macam obyek dan bahan persembahan. Sadhana Chod menggunakan nyanyian yang merdu, tambur, lonceng, dan terompet tanduk, dan umumnya dilakukan di lokasi yang menimbulkan ketakutan, seperti tanah pekuburan, pemakaman, dan lintasan-lintasan pegunungan yang jauh.


© ‘Kurukulle (Details C)’ by Images of Enlightenment, Nepal.
Dakini (Bhs. Tibet: mkha' 'gro ma; Bhs. Sansekerta: dakini)
Ekuivalen untuk dakini di Tibet adalah khadroma, yang artinya penjelajah angkasa yang berjenis kelamin wanita. ‘Angkasa’ mengacu pada kekosongan dan dakini menjelajahi kekosongan tersebut; yang artinya, ia bertindak dengan realisasi penuh atas kekosongan, realitas absolut. Seorang dakini dapat berwujud manusia perempuan yang telah merealisasikan sifat sejatinya, atau dewi atau wanita bukan manusia, atau manifestasi langsung dari pikiran yang tercerahkan. Dakini juga mengacu pada kelas mahluk yang terlahir di alam suci para dakini.


Dharma (Bhs. Tibet: ch"s; Bhs. Sansekerta: dharma)
Dharma merupakan istilah yang sangat luas dan punya banyak arti. Dalam artinya yang paling umum, dharma adalah ajaran spiritual yang berasal dari para Buddha dan juga merupakan jalan spiritual itu sendiri. Dharma juga berarti keberadaan (eksistensi).


Dharmakaya (Bhs. Tibet: ch"s sku; Bhs. Sansekerta: dharmakaya)
Seorang buddha mempunyai tiga tubuh (kaya): dharmakaya, sambhogakaya, dan nirmanakaya. Dharmakaya, sering diterjemahkan sebagai “tubuh kebenaran,” mengacu pada sifat sejati buddha yang absolut, yang sama dan dimiliki oleh semua buddha serta identik dengan sifat sejati dari semua hal yang berkondisi: kekosongan. Dharmakaya bersifat non-dual, terbebas dari segala macam konseptualitas dan karakteristik. (Lihat juga sambhogakaya dan nirmanakaya.)


Dzogchen -- (Bhs. Tibet: rdzogs chen)
Adalah “Maha Sempurna” atau “Penyelesaian yang agung.” Dzogchen dianggap sebagai ajaran dan sadhana yang tertinggi dalam Buddhisme Tibet. Prinsip dasarnya adalah realitas, termasuk individu, yang sebenarnya telah lengkap dan sempurna, dan tidak ada yang perlu ditransformasikan (seperti di dalam tantra) atau disangkal/ditinggalkan (seperti di dalam sutra) tapi hanya dikenali sebagaimana adanya. Inti dari sadhana dzogchen adalah “pembebasan diri”, sehingga semua yang muncul di dalam pengalaman adalah sebagaimana adanya, tanpa ditambahi elaborasi pikiran konseptual, tanpa ada keserakahan ataupun kebencian.


Za Rahula Dharmapala
Pelindung Dharma (Bhs. Tibet: srung ma/ chos skyong; Bhs. Sansekerta: dharmapala)
Para pelindung dharma adalah mahluk pria atau wanita yang disumpah untuk melindungi (ajaran-ajaran) dharma dan para praktisinya. Mereka bisa saja merupakan para pelindung duniawi ataupun manifestasi angkara murka dari para insan yang telah cerah. Para praktisi tantra umumnya berusaha mengambil hati dan mengandalkan para pelindung dharma yang berhubungan dengan silsilah mereka.


Jalus -- (Bhs. Tibet: 'ja lus)
(Lihat tubuh sinar pelangi)


Karma -- (Bhs. Tibet: las; Bhs. Sansekerta: karma)
Karma berarti “tindakan,” tapi dalam artinya yang lebih luas mengacu pada hukum sebab dan akibat. Berbagai tindakan yang dilakukan oleh fisik (tubuh), verbal (ucapan), atau mental (pikiran), akan menjadi “bibit” yang akan menghasilkan “buah” berupa konsekuensi dari tindakan-tindakan tersebut di masa mendatang saat kondisinya telah matang. Tindakan yang positif punya efek yang positif, seperti kebahagiaan; sebaliknya yang negatif juga berefek negatif, seperti ketidakbahagiaan. Karma bukan berarti takdir kehidupan, namun dimengerti sebagai kondisi yang ada itu muncul dari hasil tindakan-tindakan di masa lampau.


Jejak karma -- (Bhs. Tibet: bag chags)
Setiap tindakan – baik yang dilakukan oleh tubuh, ucapan, atau pikiran – yang diperbuat oleh seorang individu, jika dilakukan dengan suatu tujuan, dan bahkan sedikit kebencian atau nafsu, akan meninggalkan jejak di aliran pikiran si individu tersebut. Akumulasi dari jejak-jejak karma ini akan mengkondisikan setiap momen pengalaman individu tersebut, baik secara positif maupun negatif.


Kunzhi -- (Bhs. Tibet: kun gzhi)
Dalam tradisi Bon, kunzhi adalah dasar dari semua keberadaan, termasuk insan. Kunzhi merupakan penyatuan dari kekosongan dan kecemerlangan; dari indeterminasi (hal yang tak dapat ditentukan) realitas tertinggi  yang terbuka dan absolut beserta pertunjukan  penampakan dan kesadaran yang tidak pernah berhenti. Kunzhi ini adalah basis atau dasar dari semua ciptaan.


Kunzhi namshe -- (Bhs. Tibet: kun gzhi rnam shes, Bhs. Sansekerta: alaya vijnana)
Kunzhi namshe adalah kesadaran dasar seorang individu. Ia adalah “repositori” atau “gudang penyimpanan” di mana jejak-jejak karma disimpan di dalamnya, dan di mana pada suatu masa mendatang, pengalaman yang terkondisi olehnya akan muncul.


Lama - (Bhs. Tibet: bla ma; Bhs. Sansekerta: guru)
Lama berarti “bunda yang tertinggi.” Lama mengacu pada seorang guru tertinggi yang tingkat kepentingannya di atas segala-galanya bagi seorang (murid) praktisi. Dalam tradisi Tibet, lama bahkan sering dianggap lebih penting daripada buddha, karena hanya lama-lah yang bisa memberikan ajaran-ajaran kepada si murid. Pada tingkat tertinggi, lama adalah sifat sejati buddha diri sendiri. Pada tingkatnya yang relatif, lama adalah guru pribadi si murid. Namun, istilah lama sering digunakan sebagai cara yang sopan untuk menyapa bhiksu atau guru spiritual.


Loka - (Bhs. Tibet: 'jig rten; Bhs. Sansekerta: loka)
Adalah “dunia” atau “sistem dunia.” Loka biasanya digunakan dalam Bahasa Inggris untuk mengacu kepada enam alam samsara, namun sebenarnya adalah sistem-sistem dunia yang lebih besar, salah satunya adalah tempat bernaungnya enam alam samsara. (Lihat “enam alam samsara.”)


Lung - (Bhs. Tibet: rlung, Bhs. Mandarin: chi, Bhs. Sansekerta: prana)
Lung adalah energi angin yang penting, juga sering dikenal di dunia Barat sebagai prana atau chi. Lung punya berbagai arti yang lebih luas, namun yang paling umum mengacu pada energi vital tempat bersandarnya vitalitas tubuh dan kesadaran.


Nirmanakaya, yang menggambarkan Buddha Shakyamuni - para guru silsilah - mula guru (akar) - hingga murid praktisi
Nirmanakaya - (Bhs. Tibet: sprul sku, Bhs. Sansekerta: nirmanakaya)
Nirmanakaya adalah “tubuh perwujudan” (manifestasi) dari dharmakaya. Di sini sering mengacu pada manifestasi fisik yang terlihat dari seorang buddha. Istilah ini juga punya kualitas yang sama dengan dimensi fisik.


Prana -- (Lihat lung di atas.)


Tubuh Sinar Pelangi Guru Rinpoche, Padmasambhava
Tubuh sinar pelangi - (Bhs. Tibet: 'ja lus)
Tanda realisasi penuh dari keberhasilan sadhana dzogchen adalah pencapaian tubuh pelangi. Praktisi dzogchen yang telah mendapatkan realisasi, yang tidak lagi tertipu oleh substansi nyata ataupun dualisme seperti pikiran dan benda, akan melepaskan energi elemen yang membentuk tubuh fisik pada saat kematiannya. Tubuhnya akan melebur dan hanya meninggalkan rambut dan kuku, kemudian si praktisi dengan penuh kesadaran memasuki tahap kematian.


Rigpa - (Bhs. Tibet: rig pa; Bhs. Sansekerta: vidya)
Adalah kesadaran atau mengenali. Dalam ajaran-ajaran dzogchen, rigpa berarti kesadaran langsung akan kebenaran, langsung mengenali kesadaran non-dual yaitu sifat sejati dirinya.


Rinpoche -- (Bhs. Tibet: rin po che)
Yang berarti “ia yang mulia.” Sebuah sebutan kehormatan yang digunakan untuk menyapa seorang lama yang berinkarnasi.


Samaya - (Bhs. Tibet: dam tshig; Bhs. Sansekerta: samaya)
Adalah Komitmen atau Sumpah. Secara umum adalah komitmen yang dibuat oleh seorang praktisi dalam hubungannya dengan sadhana tantra – di sini mengatur berbagai perilaku dan tindakan. Ada sumpah-sumpah yang umum dan khusus untuk berbagai sadhana tantra tertentu.


Sambhogakaya Lima Dhyani Buddha dan Vajrasattva
Sambhogakaya -- (Bhs. Tibet: longs sku; Bhs. Sansekerta: sambhogakaya)
Adalah “tubuh pahala kenikmatan” seorang buddha. Sambhogakaya adalah tubuh yang sepenuhnya terbuat dari sinar. Bentuk ini sering divisualisasikan di dalam sadhana tantra dan sutra dan terlihat lewat berbagai simbol ornamen dan postur. Di dalam Dzogchen, tubuh dharmakaya yang tanpa perhiasanlah yang lebih sering digunakan sebagai obyek visualisasi.


Samsara - (Bhs. Tibet: 'khor ba; Bhs. Sansekerta: samsara)
Alam penderitaan yang muncul dari pikiran yang dualistik dan tertutup, di mana semua entitas di dalamnya tidak ada yang kekal, keberadaan yang melekat juga tidak ada, dan di mana semua insan tunduk pada penderitaan. Samsara meliputi enam alam siklus kehidupan, tapi dalam definisinya yang lebih luas mengacu pada modus karakteristik keberadaan para insan yang menderita karena terjerat jala kebodohan dan dualitas. Samsara akan berakhir saat insan mencapai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan – yaitu pencapaian nirvana.


Shenlha Okar
Shenlha Okar -- (Bhs. Tibet: gShen Lha 'od dkar)
Shenlha Okar adalah tubuh sambhogakaya dari Shenrab Miwoche, buddha yang mendirikan tradisi Bon.


Shenrab Miwoche
Shenrab Miwoche -- (Bhs. Tibet: gShen rab mi bo che)
Shenrab Miwoche adalah tubuh nirmanakaya buddha yang mendirikan tradisi Bon, yang menurut kepercayaan tradisi pernah hidup 17,000 tahun lalu. Ada lima belas jilid biografi yang membahas Shenrab Miwoche dalam literatur Bon.


Bhavacakra (Bhs. Tibet: srid pa'i 'khor lo) sebagai simbol samsara (atau siklus kehidupan).
Enam alam samsara - (Bhs. Tibet: rigs drug)
Yang umumnya disebut sebagai “enam alam” atau “enam loka.” Enam alam ini menunjukkan enam kelas mahluk yang berada di dalamnya: dewa, setengah dewa (asura), manusia, binatang, setan kelaparan, dan mahluk neraka. Para insan di dalam enam alam ini tidak bisa luput dari penderitaan. Enam alam ini adalah alam tempat para insan terlahir, dan juga merupakan tempat mereka mendapatkan pengalaman yang luas. Mereka juga akan mengalami dampak gabungan dari berbagai pengalaman yang mungkin terjadi, yang akan membentuk dan membatasi berbagai pengalaman lain mereka juga bahkan di dalam kehidupan saat ini.


Sutra -- (Bhs. Tibet: mdo; Bhs. Sansekerta: sutra)
Sutra adalah naskah yang berisi ajaran-ajaran yang datang langsung dari Buddha historis yang berbasiskan jalan renunsiasi dan menjadi dasar dari kehidupan monastik (biara).


Tantra -- (Bhs. Tibet: rgyud; Bhs. Sansekerta: tantra)
Tantra adalah ajaran-ajaran dari para Buddha yang berbasiskan pada jalan transformasi dan meliputi berbagai sadhana yang bekerja dengan energi di dalam tubuh, pemindahan kesadaran, yoga mimpi dan tidur, dan lain sebagainya. Beberapa kelas tantra tertentu juga berisi ajaran-ajaran dzogchen.


Tapihritsa
Tapihritsa - (Bhs. Tibet: ta pi hri tsa)
Meski dianggap sebagai figur yang bersejarah, Tapihritsa, bagi para sadhaka Bon, secara ikonografis dilambangkan sebagai seorang dharmakaya Buddha, telanjang dan tidak mengenakan ornamen-ornamen, melambangkan realitas yang absolut. Ia adalah salah satu dari dua guru utama dalam aliran dzogchen dari Zhang Zhung Nyam Gyud.


Terma -- (Bhs. Tibet: gter)
Dalam budaya Tibet ada sebuah tradisi yang bernama “terma”; benda-benda suci, naskah atau ajaran yang disembunyikan oleh para guru dari suatu jaman tertentu untuk memberi manfaat para insan pada jaman-jaman di masa mendatang saat terma tersebut ditemukan. Para guru yang menemukan terma disebut sebagai “terton,” atau sang penemu harta terpendam. Terma telah dan bisa ditemukan di lokasi-lokasi fisik, seperti gua atau kuburan; di dalam elemen-elemen seperti air, kayu, tanah bumi atau udara; atau diterima lewat mimpi, pengalaman visioner, dan ditemukan langsung di dalam tingkat-tingkat kesadaran yang mendalam. Untuk kasus yang terakhir, terma tersebut dinamakan sebagai gong-ter: harta hati.


Tiga racun utama
Berupa kebodohan, amarah kebencian, dan nafsu; sebagai tiga kesengsaraan mendasar yang mengabadikan perputaran kehidupan di dalam alam-alam yang penuh penderitaan.


Aksara Tibet "A" di dalam thigle.
Tigle -- (Bhs. Tibet: thig le; Bhs. Sansekerta: bindu)
Tigle punya beberapa arti yang bergantung pada konteks pemakaiannya. Meski biasanya diterjemahkan sebagai “tetesan” atau “titik mani,” saat dipakai dalam konteks yoga mimpi dan tidur, tigle mengacu pada bola sinar cemerlang yang melambangkan kualitas kesadaran dan digunakan sebagai sebuah fokus dalam latihan meditasi.


Transmisi – (Bhs. Tibet: lung)
Seringkali seorang guru silsilah yang memenuhi syarat akan memberikan transmisi  untuk suatu ajaran tertentu lewat pembacaan naskah ajaran dalam Bahasa Tibet secara verbal di hadapan si murid. Pembacaan tersebut biasanya dilakukan setelah instruksi-instruksi yang mendetil telah diberikan; contohnya, pada penutupan sebuah retret. Dengan menerima transmisi, seorang murid diberkati (diberikan abhiseka) untuk mulai belajar dan melatih ajaran-ajaran (yang telah ditransmisikan tersebut) .


Tsa – lihat “kanal.”


Longchen Nyingtik
Yidam --(Bhs. Tibet: yid dam; Bhs. Sansekerta: devata)
Yidam adalah dewata yang mendampingi atau dewata obyek meditasi yang merupakan perwujudan aspek pikiran yang tercerahkan. Ada empat macam kategori yidam: damai, meningkatkan, kuat berpengaruh dan angkara murka. Yidam bermanifestasi dalam berbagai bentuk tersebut untuk mengatasi kekuatan/serangan negatif tertentu.


Yogi  -- (Bhs. Tibet: rnal 'byor pa; Bhs. Sansekerta: yogi)
Adalah seorang praktisi yoga meditatif , seperti yoga mimpi dan tidur, yang berjenis kelamin pria.


Yogini - (Bhs. Tibet: rnal 'byor ma; Bhs. Sansekerta: yogini)
Adalah praktisi yoga meditatif yang berjenis kelamin wanita.


Zhang Zhung Nyam Gyud -- (Bhs. Tibet: Zhang Zhung snyam rgyud)
Adalah salah satu dari siklus ajaran dzogchen yang paling penting dalam tradisi Bon. Ia masuk dalam seri ajaran upadesha (instruksi oral yang rahasia).


Zhine - (Bhs. Tibet: zhi gnas; Bhs. Sansekerta: samatha)
Adalah “tinggal dalam ketenangan” atau “kedamaian.” Praktek ini menggunakan fokus yang berupa obyek eksternal ataupun internal untuk mengembangkan konsentrasi dan stabilitas mental.  Samatha ini juga merupakan praktek yang fundamental, sebagai dasar perkembangan dari praktek-praktek meditasi lainnya yang lebih tinggi, dan dibutuhkan untuk melatih yoga mimpi dan tidur.



Dibagikan oleh Lotuschef / Pure Karma / True Buddha School