Showing posts with label Alat amp; Simbol Dharma. Show all posts
Showing posts with label Alat amp; Simbol Dharma. Show all posts

Tuesday, April 10, 2012

Sarira & Keserakahan [2]

Ditulis oleh Lotus Chef – 8 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Sarira & Greed [2]


Petikan di bawah ini diambil dari Facebook yang di-posting tanggal 3 April 2012.

Saya senang karena ada orang yang cukup Sadar untuk memasukkan Disclaimer (seperti Peraturan & Persetujuan) seperti ini:

[Relik Istana Naga ini tidak akan membuat si pemiliknya mendapatkan kekuatan sihir atau untuk digunakan sebagai senjata untuk pamer kekuatan spiritual. Relik ini tidak akan mempercepat pencerahan spiritual tanpa disertai ketekunan dalam melatih diri. Bagi mereka yang sekarang memiliki relik atau ingin membelinya untuk tujuan-tujuan di atas, mohon tinggalkan konsep yang salah tersebut. Jangan sampai disesatkan oleh keserakahan, amarah kebencian dan kebodohan.]



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Saya mendapatkan umpan balik dari para penjual Sarira. Secara umum mereka kurang senang dengan artikel yang saya posting-kan tanggal 3 April 2012 kemarin: Sarira & Keserakahan [1].

Mereka mengklaim bahwa artikel saya mempengaruhi bisnis mereka!

Mahaguru Lu berkata bahwa kita di dalam Ordo Satya Buddha harus jujur dalam berbisnis.

Dalam kasus di atas, jika Promosi (Trik) Penjualan mereka adalah dengan mengatakan bahwa yang mereka jual adalah Sarira dari para Arahat, Bodhisattva dan Buddha yang punya “kekuatan” untuk memperlancar kehidupan Anda, mengabulkan atau memuaskan semua keinginan dan nafsu Anda tanpa pandang bulu; maka mereka hanya sedang memberitahu Anda apa yang ingin Anda dengar berhubung Anda sudah punya prasangka awal mengenai “kekuatan” yang akan dihasilkan.

Sekarang Sarira Istana Naga ini katanya ditinggalkan (dihasilkan) oleh mereka yang telah mencapai tingkat Arahat.

Tingkat tertnggi untuk para pelatih diri dari jalan Hinayana adalah Arahat, masih di bawah Bodhisattva dan Buddha.

Buddha Shakyamuni mendorong para murid-Nya yang telah melatih diri hingga mencapai tingkat Arahat untuk kemudian melatih Bodhicitta sehingga dapat mencapai tingkat Bodhisattva dan Buddha.

Guru juga menjelaskan mengenai hal tersebut pada ceramah-ceramah Dharma -Nya. Beliau berkata bahwa Buddha mendepak Arahat kembali ke alam samsara untuk melatih Bodhicitta.



[caption id="attachment_3393" align="aligncenter" width="225" caption="Ini adalah Ikan Luohan (Arahat). Lihatlah bagian kepalanya yang menonjol!"][/caption]
Saya telah mengamati ada beberapa teman lhama yang juga mempunyai dahi yang menonjol dan tulang kepalanya seperti terbagi dua di bagian tengah, memisahkan bagian depan dan belakang.

Ini sungguh merupakan perubahan formasi tulang yang sangat unik untuk mereka yang telah melatih hingga ke tingkat Arahat.

Ingatlah selalu bahwa Arahat masih perlu melatih Bodhicitta!

Seperti yang dikatakan oleh Guru dalam ceramah dharma-Nya kemarin, Bodhicitta adalah unsur yang penting untuk mencapai Kebuddhaan.

Siapa saja tentunya bebas untuk membeli apa saja yang diinginkannya.

Namun yang ingin saya beritahukan kepada semua teman pelatih diri adalah supaya lebih bijaksana dan mempelajari kebenaran suatu hal terlebih dulu sebelum memutuskan apakah kalian membutuhkan benda-benda duniawi untuk kemajuan pelatihan diri kalian.

Memangnya Shakyamuni juga mempunyainya?

Hahaha!

Baca juga: Selangkah Demi Selangkah Mulai Terbangunkan.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2017

Sunday, April 8, 2012

Sarira – Intisari Buddha



Ditulis oleh Lotus Chef – 6 Maret 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 



Minggu kemarin ada orang yang menunjukkan saya sebuah posting dari Facebook mengenai Relik Sarira Istana Naga.

Si penulis di sana mengatakan bahwa Sarira ini mengeluarkan energi yang dapat membahayakan/mencelakakan beberapa roh.

Di hari pertama Tahun Baru China kemarin, pada saat wawancara sebelum upacara Guru Padmasambhava, Mahaguru Lu mengatakan bahwa Sarira memiliki intisari Buddha dan keberadaannya merupakan hasil/bukti pencapaian dari pelatihan diri yang tinggi.

Sifat mereka sangatlah suci.

Saat digunakan untuk memberkati para insan, sarira dapat membantu membersihkan dan menghidupkan sifat sejati Kebuddhaan, yang kebanyakan masih ‘tertidur’, dalam diri mereka.

Ya tentu saja terserah pada diri masing-masing mau percaya pada Guru atau tidak.




Saya sendiri mengenakan sarira yang masuk dalam kategori sarira Sariputra. Ia dibungkus dalam tabung kapsul akrilik dan dijadikan liontin yang saya kenakan sebagai kalung.

Saya telah gunakan sarira ini untuk mentransfer energi untuk membantu orang-orang mengurangi rasa sakit yang dideritanya.

Hahaha!

Wah sudah ngelantur dari topik!

Buddha selamanya selalu bijaksana dan penuh welas asih.

Jadi tentu saja Tidak Benar kalau mengatakan bahwa sarira memancarkan energi yang akan mencelakai insan lain, baik mereka yang mempunyai Bentuk atau yang Tidak Berbentuk.

Itu hanya niat orang saja yang ingin menggunakannya untuk pamer kekuatan. Dengannya mereka memupuk ego dan keserakahannya sendiri…, dengan menggunakan energi/kekuatan yang tersimpan di dalam sarira untuk memenuhi tujuan-tujuan negatifnya.

Tapi sekali lagi, intisari Buddha ini sama sekali tidak akan membantu memenuhi berbagai tujuan negatif. Jadi teman-teman tidak perlu takut kalau sarira manapun akan/dapat mencelakai insan lain.

Percayalah selalu akan kualitas para Buddha dan Bodhisattva. Welas asih mereka tiada berbatas dan tidak punya maksud untuk merugikan siapapun.

Sekarang jangan percaya dan jangan dengarkan mereka yang bahkan tidak tahu tentang dasar-dasar dalam berbagi Dharma Buddha.

Semua hal negatif muncul dari pikiran orang itu sendiri dan jangan sampai terpengaruh oleh orang-orang semacam itu.



Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited by Lotuschef on 2 July 2016

Friday, April 6, 2012

Sarira & Keserakahan [1]

Ditulis oleh Lotuschef – 3 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Sarira & Greed


Guru pernah berkata bahwa Sarira menandakan adanya Kesucian.

Ia adalah Inti Kesucian para Buddha dan dihasilkan lewat pelatihan diri yang tekun sehingga mereka yang menghasilkannya telah mencapai tingkat: Arhat, Bodhisattva, atau Buddha.

Pada diri mereka yang telah mencapai salah satu dari tingkat tersebut pasti akan terlihat ciri-ciri: punya iman teguh dan kebijaksanaan untuk membuka tabir rahasia-rahasia Alam Semesta.


Nah para insan sejak jaman dulu selalu mendamba kekuatan sarira. Mereka pikir bila memilikinya maka mereka akan punya kekuatan yang besar.

Tapi ingatlah selalu apa yang tertulis di dalam Jalan Utama Berunsur Delapan dari Empat Kebenaran Mulia poin ke-4:



Kategori


Faktor Jalur Utama yang Berunsur Delapan


Faktor-faktor yang akan didapatkan

  Kebijaksanaan (Prajna)  Pengertian/Pandangan Benar  Pengetahuan yang benar nan  unggul
  Pikiran/Niat Benar  Pembebasan yang benar nan  unggul


Menurut saya, Sarira seharusnya tidak dibeli dengan harga yang mahal hanya karena Anda mendambakannya dan menghubung-hubungkannya dengan kekuatan yang besar.

Anda mendamba ini sendiri sudah termasuk Keserakahan, salah satu dari 3 racun.

Hal tersebut juga menunjukkan Kemelekatan Anda terhadap benda-benda tertentu dan Anda menempelinya dengan label “Benda dengan Kekuatan Gaib”.

Anda percaya bahwa benda-benda tersebut punya Kekuatan/Kemampuan untuk mengabulkan dan melaksanakan segala keinginan Anda!

Ada seorang murid wanita yang membeli japamala (108 biji) yang terbuat dari Relik Istana Naga. Dia terus berdiri di kios tempat penjualan barang tersebut dan enggan pergi sebelum membelinya. Saat saya melihatnya, saya bilang kepadanya kalau memang dia sungguh menyukainya ya dibeli saja lah.

Lalu dia menunjukkannya kepada para murid lain dan mereka beramai-ramai turut membeli berbagai macam ornamen dari relik sarira ini juga.

[caption id="attachment_3308" align="aligncenter" width="382" caption="Japamala dan ornamen yang terbuat dari Sarira Relik Istana Naga"][/caption]

Tapi saya lihat aura-aura mereka tidak ada yang membaik saat menggunakan japamala dari relik ini untuk bersadhana.



Kesucian Sarira tersebut telah terkotori oleh 3 Racun: Keserakahan, Kebodohan dan Amarah kebencian.

Kebodohan dalam hal mempersepsikan bahwa Anda akan punya Kekuatan saat memiliki Sarira tersebut malah menciptakan keinginan untuk memiliki – ini sama artinya dengan Serakah.

Amarah kebencian muncul dari sifat Serakah akan Kekuatan, saat itu Anda akan berpikir bahwa Anda berada di atas para insan lain.

Kalau Anda mencintai semua insan maka Anda tidak akan ingin punya kekuatan untuk menguasai mereka atau berada di atas mereka khan?

Teman-teman yang mengikuti orang-orang lain tanpa Sadar akan apa yang kalian lakukan dan ke mana kalian berjalan, sekarang saatnya berhenti sejenak dan cobalah merenungkan hidup kalian – sebelum dan setelah memiliki Sarira bedanya seperti apa!



Apakah relik sarira tersebut meningkatkan kualitas hidup kalian?

Apakah dengan memilikinya dapat membantu kalian dalam bersadhana?

Apakah dengan memilikinya malah meningkatkan status kalian?

Apakah Ego kalian malah bertambah besar karena kalian pikir bahwa kalian punya kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang lain?

Yang terakhir, Guru pernah membahas Japamala dengan mendetil dan saya telah mengunggahnya di blog ini. Di sana tidak pernah dijelaskan mengenai Japamala yang terbuat dari Sarira.

Artikel ini ditulis dari hasil percakapan saya dengan Guru, karena saya kuatir dengan para murid yang membeli berbagai ornamen dari relik sarira ini.

Dalam Samadhi, saya melihat hawa gelap yang melayang-layang di sekitar mereka.

Bicara sesungguhnya, Sarira juga sisa-sisa peninggalan tubuh Manusia juga!

Kalau kalian tidak bisa menghargai Esensi Kesucian dari ketekunan sadhana yang diwakili dalam sarira tersebut, saya harus menyarankan kalian untuk membuang pikiran untuk memilikinya.

Mereka bisa menjadi hadiah yang bagus karena di sana tidak ada pertukaran uang.

Sebagai seorang Yogi yang Sejati, melepaskan dan tidak tergiur oleh berbagai benda duniawi adalah Kunci untuk melatih dan menghasilkan Sarira kalian sendiri.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2017


Sunday, April 1, 2012

Lonceng & Vajra Dorje






























Dibagikan oleh Lotuschef – 16 Maret 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 


Vajrasattva (Bhs. Tibet: Dorje Sempa, Bhs. Jepang: Kongōsatta, Bhs. Mandarin: 金剛薩埵 Jīngāng sà duǒ), dalam perwujudan damai, memegang Vajra di tangan kanannya dan Lonceng di tangan kirinya. // Karya: Yoji Nishi"

Vajra bersula lima (dengan empat makara dan sebuah sula di pusatnya) adalah bentuk vajra yang paling sering terlihat. Di dalamnya ada sistem hubungan antar lima elemen sisi nomenal* vajra yang jauh lebih mendetil. Salah satu hubungan yang penting di sana adalah antara lima macam “racun” dengan lima macam kebijaksanaan. Lima macam racun adalah berbagai kondisi pikiran yang menutupi/mengaburkan kemurnian sejati pikiran para insan, sedangkan lima macam kebijaksanaan adalah lima aspek yang terpenting dari pikiran yang telah tercerahkan. Masing-masing dari lima macam kebijaksanaan ini dihubungkan dengan seorang figur Buddha. (Lihat juga Lima Buddha Kebijaksanaan)

*) [1] obyek yang dipandang sebagai memiliki realitas transenden. [2] Alam yang mengandung obyek semacam itu.

Berikut ini adalah lima macam racun yang setara/mirip dengan lima macam kebijaksanaan dalam hubungannya dengan para Buddha yang bersangkutan:


RacunKebijaksanaanBuddha
Nafsu (hasrat)Kebijaksanaan individualitasAmitabha
Marah, kebencianKebijaksanaan bagai cerminAkshobhya
Delusi (kebodohan)Kebijaksanaan realitasVairocana
Keserakahan, kesombonganKebijaksanaan akan kesetaraanRatnasambhava
Dengki (iri hati)Kebijaksanaan keberhasilan semua pencapaianAmoghasiddhi

Kebijaksanaan individualitas juga dikenal sebagai Kebijaksaan Untuk Mendiskriminasi (membedakan).

Sumber: Wikipedia - Vajra


Agama Buddha aliran Vajrayana punya berbagai macam peralatan ritual. Banyak gambaran para Buddha yang memegang sebuah atau dua buah, atau banyak peralatan ritual tersebut, bergantung pada banyaknya tangan yang ditampilkan oleh Buddha yang bersangkutan. Semua peralatan ritual tersebut mempunyai arti dan masing-masing digunakan untuk mengatasi pikiran kita yang sibuk lewat cara yang mampu mengantar kita menuju pemahaman akan Kebenaran Utama. Peralatan ritual yang dipegang di tangan kiri ada hubungannya dengan kebijaksanaan, realisasi kekosongan segala macam fenomena, sedangkan yang dipegang di tangan kanan berhubungan dengan cara-cara penyelamatan yang disesuaikan dengan jodoh karma si penerima atau si praktisi (upaya kausalya), atau  welas asih.

Lonceng dan vajra dorje hanya merupakan salah satunya. Dorje, yang dipegang di tangan kanan, melambangkan upaya kausalya, dan lonceng di tangan kiri mewakili kebijaksanaan. Saat dipegang bersamaan, alat ritual ini melambangkan kebijaksanaan dan welas asih yang tak terpisahkan di dalam aliran pikiran yang telah tercerahkan. Bila dilihat secara terpisah, masing-masing alat tersebut merupakan harta spiritual yang luar biasa.

Dorje, dalam Bahasa Tibet, berarti Raja dari semua batu-batuan. Ia menyimbolkan kemampuannya untuk mengubah semua pengalaman menjadi pengalaman yang sarat akan perspektif pencerahan. Segala hal di dalam samsara, siklus kehidupan, sifatnya tidak abadi, dan oleh karenanya jangan bersandar kepadanya. Dorje juga melambangkan upaya kausalya untuk mengubah berbagai pengalaman kita yang biasa menjadi pengalaman yang menggerakkan/menarik kita ke dalam jalur spiritual. Dorje ini punya lima macam karakteristik yang luar biasa. Ia tidak bisa ditembus, tidak bergeming, tidak berubah, tidak bisa dipecah, dan tidak bisa rusak. Ia juga merupakan senjata para dewata angkara murka yang tak terhancurkan, dan menjadi simbol otoritas spiritual dari para dewata yang tampil dalam bentuk damai.

Vajra, dalam Bahasa Sansekerta, berarti ia yang keras atau kuat, seperti intan berlian. Kecemerlangannya menerangi (menghapus) kebodohan dan menampilkan Kebenaran, menghancurkan semua kebodohan yang menyebabkan penderitaan. Saat penyebab penderitaan telah nampak di hadapan kita, kita diberkati untuk menciptakan berbagai sebab kebahagiaan. Pada akhirnya kita akan mencapai kondisi tiada ego, yang bebas dari segala macam penderitaan. Dari sudut pandang Vajrayana, motivasi untuk mencapai kondisi ini adalah untuk mengentaskan penderitaan para insan.

Bentuk fisik dari dorje ini kaya akan makna. Di bagian pusatnya adalah bola yang melambangkan dharmata, bola kenyataan itu sendiri, yang merupakan kebenaran tertinggi. Yang mengitari bola di masing-masing sisi adalah satu atau tiga ‘untaian mutiara’, tergantung ukuran dorje tersebut. Mereka melambangkan tiga pintu pembebasan. Pintu yang pertama adalah konsentrasi transendental bahwa tidak ada apapun yang muncul, di mana semua perkataan dan konsep sudah tidak bisa digunakan dan di sana juga tidak ada yang bisa dipegang. Pintu kedua adalah konsentrasi transendental akan ketiadaan arah, di sini artinya kondisi ketenangan yang sempurna – stabilitas spiritual dan keseimbangan. Dan pintu yang ketiga adalah konsentrasi transendental akan kekosongan.


Di sebelah mutiara-mutiara tersebut adalah bunga teratai berkelopak delapan. Kelopak di salah satu sisi melambangkan Delapan Bodhisattva agung; sedangkan di sisi yang satunya lagi melambangkan pendamping Mereka. Di sebelahnya lagi adalah penampang lingkaran bulan yang merupakan tempat duduk para Bodhisattva sebagai simbol realisasi Bodhicitta sepenuhnya – Welas Asih yang Agung.

Setelah lingkaran bulan masih ada enam cincin lagi. Mereka melambangkan enam kesempurnaan (paramita): kemurahan hati, kelakuan moral, kesabaran, usaha yang penuh dengan sukacita, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Keberhasilan dari enam paramita ini merupakan fondasi dari Mahayana, Kendaraan Besar untuk pembelajaran dan praktek agama Buddha. Mereka adalah ciri khas dari jalur Bodhisattva. Saat si praktisi berhasil menyempurnakan enam paramita tersebut, maka ia baru dapat benar-benar memberi manfaat pada insan lain.


Di sebelah enam cincin adalah makara. Makara merupakan hewan gabungan (ikan berkepala gajah) dengan rahang yang berbentuk seperti buaya. Ia melambangkan usaha dan ketekunan dalam melatih Dharma.


Vajra sendiri bisa mempunyai sula satu, dua, tiga, empat, lima, enam, ataupun sembilan. Yang paling umum adalah yang bersula lima. Ia terlihat seperti titik-titik yang menonjol dari ujung-ujungnya yang melengkung, satu pada setiap lengkungan dan satunya lagi pada setiap ujungnya. Lima sula ini melambangkan lima Buddha dari lima keluarga Buddha beserta dengan pendamping mereka.


Mengenai lonceng – ia juga kaya akan makna dan kekuatan. Lonceng ini utamanya adalah mandala dari Prajnaparamita, Sang Bunda Agung – B eliau dari mana semua realitas muncul. Lewat suaranya, lonceng mampu mengundang atau menarik para dewata untuk hadir atau berpartisipasi dan memberi peringatan atau mengusir kekuatan-kekuatan negatif yang mengganggu. Dentingan lonceng mengingatkan kita akan sifat semua fenomena yang kosong atau membawa pikiran kita ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Sebagai instrumen musik, suaranya dapat dipersembahkan kepada para Buddha dan Bodhisattva.

Rongga lonceng melambangkan kekosongan dari mana semua fenomena muncul, termasuk suara dari lonceng tersebut, sedangkan gandel (anak genta) melambangkan bentuk. Bersamaan mereka melambangkan kebijaksanaan (kekosongan) dan welas asih (bentuk atau penampakan). Suara, seperti semua fenomena, muncul, menyebar dan akhirnya melebur kembali ke dalam kekosongan.

Kalau kita melihat lonceng dengan lebih dekat, kita akan melihat ada berbagai macam desain ukiran di sana. Setiap ukiran tersebut ada artinya. Di tepi lonceng adalah lingkaran ruang yang akan menghasilkan suara kekosongan.  Pagar vajra, lingkaran perlindungan yang tak terhancurkan yang melingkari lonceng berbatasan dengan lingkaran mutiara-mutiara pada kedua ujungnya. Lingkaran sebelah bawah adalah lingkaran api kebijaksanaan – melambangkan lima kebijaksanaan primordial (asal). Lingkaran sebelah atas yang juga merupakan lingkaran perlindungan menyimbolkan perkembangan kondisi kesadaran yang lebih tinggi yang memampukan kita untuk memasuki istana surga Prajnaparamita. Sedangkan api di sana ada hubungannya dengan Manjushri – Sang Bodhisattva Kebijaksanaan, Vajra berhubungan dengan Vajrapani – Sang Bodhisattva yang mewakili Kekuatan Dharma, dan teratai dalam hubungannya dengan Chenrezig (Avalokiteshvara) – Bodhisattva Welas Asih. Ini semua menandakan bahwa kualitas-kualitas spiritual merupakan perlindungan yang sejati.

Di atas batas perlindungan adalah makara yang menyangga untaian liotin permata di mana di antara mereka terdapat vajra-vajra. Liontin permata ini menghiasi istana surga. Vajra-vajra di antara mereka melambangkan delapan tanah pekuburan di dalam mandala. Di atas untaian liontin permata dan antara makara adalah delapan kelopak teratai yang melambangkan delapan Bodhisattva. Pada masing-masing kelopak teratai terukir aksara yang mewakili delapan pendamping atau para dewi pembawa persembahan. Di atas kelopak teratai ini adalah dua baris untaian mutiara dengan sebaris untaian vajra di antaranya. Mereka melambangkan dinding sisi dalam dan lingkaran perlindungan bagian dalam dari mandala.

Batang dari lonceng berdiri tegak di atasnya. Bagian dasarnya adalah kelopak-kelopak teratai yang melambangkan tahta teratai Prajnaparamita. Pada bagian batang ada dua set lingkaran mutiara: bagian bawah dan bagian atas. Secara bersamaan mereka melambangkan enam paramita. Di antaranya bisa berbentuk sebuah persegi atau lingkaran. Kalau berbentuk persegi maka melambangkan bumi, sedangkan bila lingkaran berarti vas panjang umur. Vas panjang umur menyimbolkan nektar keberhasilan dan melambangkan tubuh dari Prajnaparamita yang berisi nektar. Di atas bagian ini adalah wajah dari Prajnaparamita sendiri. Prajnaparamita mewakili kesempurnaan (paramita) non-dualitas absolut dari semua kebijaksanaan Buddha atau kesadaran yang mampu membedakan (prajna). Ikatan rambut-Nya melambangkan semua pandangan diikat ke dalam realitas non-dual. Pada mahkota-Nya terdapat lima permata kebijaksanaan (yang terletak menumpuk di atas lima kelopak bagian depan dari alas teratai berkelopak delapan dari vajra bagian atas). Bagian paling atas dari lonceng ini sendiri bermahkotakan vajra bersula lima atau sembilan.

Dua peralatan ritual tersebut bisa menjadi bahan renungan dan meditasi kita. Mereka akan memperdalam pemahaman kita akan apa yang mereka wakili di sana. Saat kita menggunakan mereka dalam sadhana kita dengan pemahaman yang lebih mendalam maka potensi mereka yang sangat berharga akan muncul untuk membantu kita dalam menyusuri jalan Dharma. Saat kita telah mengenal berbagai Buddha beserta kualitas mereka dengan lebih baik, dan turut berpartisipasi dalam upacara ritual dan abhiseka pemberkatan, kita semakin mendekatkan diri dengan realisasi sifat sejati Buddha dalam diri kita sendiri, yang dengan sendirinya adalah inti dari semuanya.


Shared by Lama Lotuschef
Pure Karma

Edited 2 July 2016

Tuesday, March 20, 2012

Pusaka Kebutan Buddha/Dewata

Ditulis oleh Lotuschef – 16 Maret 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 




[拂尘] dieja sebagai Fúchén /Fo Chen/, dengan karakter “Fú”ditulis dengan aksara Han di sebelah kiri yang menunjukkan fungsi aksi (sebagai kata kerja). Nama lainnya adalah Kebutan atau ekor kebutan.

Alat tersebut terbuat dari bulu rambut atau serat rami dan diikat di bagian ujungnya dengan tongkat yang panjang. Fungsinya adalah untuk menyapu (membersihkan) atau mengusir nyamuk, oleh karenanya istilahnya menjadi kebutan atau alat pengusir.

Ordo Vinaya (Disiplin) punya peraturan bahwa para bhiksu boleh menggunakan kebutan ini untuk mengusir gangguan nyamuk, tapi Kebutan yang berwarna Putih dilarang digunakan karena merupakan obyek yang dianggap berharga.


Yaochijingmu membawa Pusaka Kebutan di tangan kanan-Nya


Di dharani-dharani tercatat ada banyak Bodhisattva dan Sesepuh Yogi yang membawa/memegang kebutan putih ini. Begitu juga saat Buddha memberikan Ceramah Dharma kepada ibunda-Nya di Surga Trayatrimsa (dari 33 surga), di sana nampak Brahma memegang Kebutan Putih ini dan berdiri di samping kanan Sang Buddha.

Para Guru Taois juga sering terlihat membawa Kebutan Putih ini di tangan mereka.

Para Guru Zen menganggap kebutan ini sebagai obyek yang melambangkan martabat tinggi. Ia digunakan oleh para kepala biara atau wakilnya saat memberikan ceramah kepada khalayak di aula-aula besar. Ia juga merupakan simbol “memimpin”. Jadi dikatakan bahwa kebutan ini juga melambangkan “memberikan Ceramah Dharma”.

Kemudian ia juga merupakan salah satu senjata Taois.

Di dalam Kungfu dari Ordo Wu Dang, ada banyak macam senjata yang unik, kebutan ini adalah salah satunya. Ada pepatah yang mengatakan: Ia yang memegang Pusaka Kebutan Buddha bukanlah insan biasa.

Dalam tradisi Taois, kebutan ini  punya arti: menyapu/menyingkirkan jodoh samsara. Ia juga dibawa oleh para Guru Taois saat mereka bepergian.

Alat ini juga digunakan sebagai perangkat ritual dalam sistem Taois. Para Guru dapat merubahnya menjadi sebuah senjata yang masuk dalam kategori senjata lembut dan fleksibel.

Kebutan ini punya gaya yang khusus dan hidup serta dapat digunakan sebagai senjata lembut atau keras. Saat dilambaikan/dilayangkan bagaikan koreografi tarian, variasi fleksibilitasnya sungguh menakjubkan.


Ia juga digunakan dalam gerakan Memotong, Menjerat, Menarik, Menggetarkan, Menyapu sebagai fungsi utamanya; lalu bisa berisikan pisau, pedang, cambuk, anak panah, dan berbagai kemampuan senjata lainnya.

Sewaktu melatihnya, si praktisi harus menyatukan bentuk dan pikiran, pikiran dan qi, qi dan roh. Ia harus mampu mempertahankan gerakannya yang alami dan berkesinambungan – semuanya dilakukan dalam satu nafas. Pusaka ini bisa digunakan untuk bertahan dan juga disukai oleh banyak penggunanya.

Kebutan ini juga merupakan benda pusaka para peri dan guru besar. Banyak orang yang membelinya untuk keperluan pemberkatan dan keberuntungan (manggala).


Hahaha! Jadi kalian butuh juga?

Tak perlu kalau bisa mendapatkannya secara astral, dan oleh karenanya tak perlu dibawa-bawa secara fisik pula!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016

Tuesday, March 13, 2012

Perahu-perahu Dharma




Ditulis oleh Lotuschef – 6 Maret 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber:

Pada setiap sesi puja api homa, kami mempersembahkan banyak teratai untuk para arwah terlantar, para dewa bumi dan dewa kota…



Berikut ini diambil dari Facebook:


[Wisely Huang]

Hari ini saya pergi ke Yuan Xin Tang (Yin Ni Zhen Fo Zong Mi Jiao Zong Hui), saya lihat ada tiga Perahu Dharma yang akan digunakan untuk Penyeberangan Bardo.

(Hampir) semuanya terbuat dari kertas mantra.

Perahu ini dibuat oleh seorang saudara sedharma. Ia bermimpi melihat perahu yang melayang di mana orang-orang yang menumpanginya melambaikan tangan mereka dengan bahagia kepadanya dan dia membalasnya dengan beranjali.

Mimpi tersebut terjadi sebanyak tiga kali dan setelah bertemu dengan seorang Vajra Acharya (VA), VA tersebut memberitahunya untuk membangun perahu dari kertas mantra ini.

Sebelumnya, perahu ini digunakan dalam upacara Penyeberangan Bardo yang dipimpin oleh VA ini. Saudara sedharma ini juga yang membuatnya.

Si VA kemudian mengirimkan foto perahu tersebut kepada Mahaguru Lu dan Beliau memuji hasil karya saudara sedharma ini…

Mahaguru Lu ingin menggunakan perahu semacam ini untuk Upacara Kalachakra di Indonesia nanti.

*saya tidak bisa mengambil fotonya karena ada tanda “Dilarang mengambil foto” :(


[Francesca Poon]

Tahukah kamu bahwa teratai-teratai itu saat mereka berubah menjadi perahu-perahu teratai, mereka berwarna emas dan memancarkan sinar? Banyak arwah yang duduk di dalamnya (menumpanginya).

Ukuran dari perahu itu tersebut bukanlah hal yang utama, namun niat tulus dari orang yang memberikan persembahan dan melakukan penyeberangan tersebut yang sungguh penting.

Tentu saja untuk acara yang besar, menggunakan perahu yang besar akan lebih mengakomodasi.

Kamu jangan lupa bahwa Mahaguru Lu dapat merubah teratai manapun menjadi ukuran seperti yang diinginkan-Nya untuk dapat mengakomodasi dengan nyaman semua arwah yang akan Beliau seberangkan!

Hahaha!

Jangan sampai terlena dan melupakan hal-hal mendasar yang penting ya.

Mahaguru Lu juga selalu membahagiakan semua insan!

Beliau akan mengabulkan semua keinginanmu dengan kekuatan-Nya dan Ia tidak pernah berkata: TIDAK!



Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited by Lotuschef on 2 July 2016