Showing posts with label Istilah-istilah. Show all posts
Showing posts with label Istilah-istilah. Show all posts

Monday, July 30, 2012

Lojong – Tantra Pelatihan Pikiran

Diambil dari Wikipedia
Dibagikan oleh Lotuschef – 26 Juli 2012
Diterjemahkan secara bebas oleh Lotus Nino
Sumber: Lojong – Mind Training Tantrayana

[caption id="attachment_8654" align="aligncenter" width="427"] Arya Atisha Dipamkara[/caption]

 

Lojong (Tib. བློ་སྦྱོང་, Transliterasi Wylie: blo sbyong) adalah praktik pelatihan pikiran dalam tradisi agama Buddha di Tibet. Ia berlandaskan pada koleksi instruksi pendek yang penting, yang dirumuskan di Tibet pada abad ke-12 oleh Geshe Chekhawa. Praktik ini meliputi proses memperbaiki dan menyucikan motivasi dan tindakan si praktisi.

Sekitar 59 atau lebih bait ajaran yang membentuk naskah utama dari praktik pelatihan pikiran ini didesain sebagai sekumpulan obat untuk menawarkan racun kebiasaan pikiran yang tak diinginkan karena akan menciptakan penderitaan. Mereka berisikan baik metode untuk memperluas cara pandang si praktisi terhadap bodhicitta mutlak, seperti “Temukan kesadaran yang telah kamu miliki saat sebelum kamu dilahirkan” dan “Anggap semua yang kamu lihat sebagai sebuah mimpi”, maupun berbagai metode untuk melihat dunia dalam cara yang lebih konstruktif dalam hubungannya dengan bodhicitta, seperti “Bersyukurlah kepada setiap insan” dan “Saat berbagai hal tak terjadi sesuai harapan, anggaplah bencana tersebut sebagai sebuah cara untuk menyadarkan diri.”

Para guru terkemuka yang mempopulerkan praktik ini di Barat meliputi Pema Chodron, Ken McLeod, Alan Wallace, Chogyam Trungpa, Sogyal Rinpoche, Geshe Kelsang Gyatso, dan Dalai Lama ke-14.

 

[caption id="attachment_8656" align="aligncenter" width="387"] Geshe Chekhawa[/caption]

Sejarah Praktik Lojong


Praktik Lojong untuk melatih pikiran dikembangkan selama lebih dari 300 tahun, antara tahun 900 hingga 1200 M, sebagai bagian dari agama Buddha aliran Mahayana. Atiśa (982–1054 M), seorang guru meditasi dari Benggala, umumnya dipercayai sebagai sang pencipta praktik ini. Lojong ini dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Lampu yang Menerangi Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipam). Praktiknya berlandaskan dari hasil pembelajarannya dengan seorang guru yang berasal dari Sumatra, Dharmaraksita – penulis naskah yang berjudul Roda Senjata-senjata Tajam. Kedua naskah tersebut sangat terkenal di dalam terjemahan bahasa Tibet.

Atiśa melakukan perjalanan menuju ke Sumatra dan berguru kepada Dharmaraksita selama dua belas tahun. Ia kemudian kembali untuk mengajar di India, dan pada masa tuanya menerima undangan untuk mengajar di Tibet, di mana ia tinggal di sana untuk menghabiskan sisa hidupnya.

Sebuah cerita mengisahkan Atiśa mendengar bahwa penduduk Tibet sangat menyenangkan dan mudah bersahabat. Namun bukannya senang, ia malah prihatin kalau ia tak akan punya emosi negatif yang cukup untuk melatih sadhana Lojong. Jadi ia membawa serta pembantunya dari Benggala yang pemarah, yang akan terus-menerus mengkritiknya dan yang sungguh merupakan sebuah tantangan bila harus menghabiskan waktu dengannya. Para guru Tibet kemudian sering bercanda, mengatakan bahwa saat Atiśa sampai ke Tibet, ia merasa tidak ada lagi yang perlu diperbuat di sana.

Ayat-ayat mengenai pelatihan pikiran dalam bentuknya yang sekarang ini ditulis oleh Chekawa Yeshe Dorje (1101–1175 M). Menurut salah satu sumber, Chekhawa melihat sebuah naskah di kasur teman sekamarnya yang bertuliskan: “Keuntungan dan kemenangan untuk orang lain, kerugian dan kekalahan untuk diri sendiri”. Potongan kalimat ini sangat mengesankan dirinya dan ia kemudian mencari si penulis Langri Tangpa (1054–1123). Namun saat menemukan bahwa Langri Tangpa telah meninggal, ia kemudian belajar kepada salah satu murid Laring Tangpa, yang bernama Sharawa, selama dua belas tahun.

Geshe Chekhawa diakui telah menyembuhkan penyakit lepra lewat sadhana pelatihan pikiran. Salah satu sumber mengatakan bahwa ia pernah tinggal dengan sekumpulan penderita lepra dan melakukan pelatihan sadhana bersama mereka. Sejalan dengan waktu, banyak dari para penderita tersebut yang sembuh, lalu banyak penderita lain yang berdatangan, dan akhirnya orang-orang yang tidak menderita lepra-pun juga tertarik dengan sadhana tersebut. Kisah populer lainnya mengenai Geshe Chekhawa dan pelatihan pikirannya berhubungan dengan saudaranya dan bagaimana sadhana tersebut mampu mengubahnya menjadi orang yang lebih baik.

 

Naskah Utama


Sadhana Lojong yang asli berisi 59 slogan atau aforisme (doktrin/prinsip). Slogan-slogan tersebut kemudian diatur ke dalam tujuh pembagian, yang dinamakan sebagai “7 Poin Lojong.” Slogan yang telah dikategorikan di bawah ini diterjemahkan oleh Komite Penerjemah Nalanda di bawah arahan Chögyam Trungpa Rinpoche. Di sini ditekankan bahwa slogan-slogan berikut diterjemahkan dari naskah Sansekerta dan Tibet kuno, dan oleh karenanya akan ada sedikit perbedaan dengan terjemahan-terjemahan lainnya. Beberapa slogan bisa saja terasa esoterik (penuh misteri rahasia) atau susah untuk dicerna. Banyak guru dan ahli masa kini yang telah menulis tafsiran yang panjang untuk menjelaskan naskah dan slogan-slogan Lojong. Beberapa dari hasil karya tersebut dapat ditemukan di bagian ‘Notes’ dalam artikel aslinya.

 

Poin Pertama: Pendahuluan, sebagai landasan dari praktik dharma.


Slogan 1. Pertama-tama, latihlah bagian pendahuluan; Empat Pengingat atau disebut juga sebagai Empat Pikiran.

1. Pertahankan keinsyafan diri mengenai betapa berharganya bisa terlahir sebagai manusia.

2. Sadarlah akan kenyataan bahwa hidup akan berakhir; kematian akan menjemput semua orang; Ketidakkekalan.

3. Ingatlah kembali apa saja yang pernah kamu perbuat, baik yang bajik/luhur maupun yang tidak, pasti akan membuahkan hasil; Karma.

4. Renungkan bahwa selama kamu terlalu berfokus pada kepentingan diri sendiri dan berkubang dalam pemikiran apakah kamu baik atau buruk, maka kamu akan mengalami penderitaan. Terobsesi dengan mendapatkan apa yang kamu inginkan dan menghindari apa yang tidak kamu inginkan tidak akan menghasilkan kebahagiaan; Ego.

 

Poin Ke-dua: Praktek Utama, yaitu melatih Bodhicitta.


Bodhicitta Absolut (Mutlak)

Slogan 2. Anggaplah semua dharma layaknya bagai mimpi; meski pengalaman yang didapatkan bisa terkesan solid/nyata, mereka sebenarnya hanyalah memori yang akan berlalu.

Slogan 3. Pahamilah sifat sejati dari kesadaran yang telah ada sejak awal.

Slogan 4. Bebaskanlah dirimu sendiri, bahkan penawar racun itu sendiri pada akhirnya.

Slogan 5. Berdiamlah di dalam sifat sejati alaya, intisari, momen saat ini.

Slogan 6. Pasca meditasi, jadilah seperti seorang anak dari ilusi.

 

Bodhicitta Relatif

Slogan 7. Memberi (mengirim) dan menerima (menanggung) harus dilatih secara bergantian. Keduanya harus bagaikan bernafas (dikenal sebagai: Sadhana Tonglen).

Slogan 8. Tiga obyek, tiga racun, tiga akar kebajikan – Tiga obyek adalah: teman, musuh dan netral. Tiga racun adalah: hasrat/nafsu, kebencian, dan apatis/ketidakpedulian. Tiga akar kebajikan adalah obat penawarnya.

Slogan 9. Latihlah (integrasikan) slogan-slogan di dalam semua aktivitasmu.

Slogan 10. Mulailah dengan mengirim dan menanggung dirimu sendiri.

 

Poin Ke-tiga: Mengubah Berbagai Kondisi Buruk menjadi Sarana Mencapai Pencerahan.


Slogan 11. Saat dunia dipenuhi dengan kejahatan, rubahlah semua bencana menjadi jalan bodhi.

Slogan 12. Arahkan semua penyalahan kepada dirimu sendiri.

Slogan 13. Bersyukurlah pada setiap insan.

Slogan 14. Melihat kebingungan sebagai empat kaya (tubuh) adalah perlindungan shunyata yang tak tertandingi.

Kaya terdiri dari Dharmakaya, sambhogakaya, nirmanakaya, svabhavikakaya. Pikiran tidak punya tempat kelahiran, ia tidak pernah berhenti mengalir, ia tak solid, dan ketiga karakteristik tersebut saling berhubungan. Shunyata dapat digambarkan sebagai “keterbukaan yang gamblang nan sempurna.”

Slogan 15. Empat pelatihan adalah yang terbaik dari metode-metode yang ada.

Empat pelatihan adalah: mengumpulkan pahala, menghindari perbuatan jahat, memberikan persembahan kepada para guru, dan memberikan persembahan kepada para pelindung dharma.

Slogan 16. Apapun yang kamu temui/terjadi padamu secara mendadak, gabungkan dengan meditasi.

 

Poin Ke-empat: Menunjukkan Aplikasi Sadhana di dalam semua aspek dan sepanjang kehidupan si praktisi.


Slogan 17. Latihlah lima macam kekuatan, instruksi inti yang telah diringkas.

Lima macam kekuatan adalah: tekad kuat, keakraban, bibit positif, mampu melihat kesalahan sehingga bisa dibenahi, dan aspirasi (niat/cita-cita).

Slogan 18. Instruksi mahayana untuk melepaskan kesadaran di saat kematian adalah 5 macam kekuatan: caramu dalam melakukannya adalah faktor penting.

Saat kamu sudah sekarat, latihlah 5 kekuatan ini.

 

Point Ke-lima: Mengevaluasi Pelatihan Pikiran.


Slogan 19. Semua dharma akan berujung pada satu titik yang sama – Semua ajaran Buddha adalah mengenai mengurangi ego, mengurangi penyerapan demi diri sendiri.

Slogan 20. Dari dua orang saksi, peganglah yang utama – Kamu lebih memahami/mengetahui dirimu sendiri daripada orang lain.

Slogan 21. Selalu mempertahankan pikiran yang penuh sukacita.

Slogan 22. Bila kamu masih dapat berlatih meski ada gangguan, artinya kamu telah terlatih dengan baik.

 

Poin Ke-enam: Berbagai Disiplin Pelatihan Pikiran.


Slogan 23. Selalu mematuhi tiga prinsip dasar – Berdedikasi pada sadhana yang dilatih, menghindari/tidak melakukan tindakan yang keterlaluan (ofensif), mengembangkan kesabaran.

Slogan 24. Rubahlah perilakumu, tapi tetaplah bersikap netral – Kurangi kemelekatan terhadap ego, tapi tetap jadilah dirimu sendiri.

Slogan 25. Jangan membicarakan kecacatan anggota tubuh – Jangan menikmati/bersenang hati melihat kecacatan orang lain.

Slogan 26. Jangan merenungi orang lain – Jangan menikmati/bersenang hati melihat kelemahan orang lain.

Slogan 27. Bersihkanlah kekotoran yang paling besar terlebih dahulu – bekerjalah untuk mengatasi halangan terbesarmu terlebih dahulu.

Slogan 28. Tinggalkan harapan akan keberhasilan – jangan terlilit oleh pikiran apa jadinya dirimu pada masa yang akan datang, lakukanlah yang terbaik di pada saat ini.

Slogan 29. Hindari makanan yang beracun.

Slogan 30. Jangan menjadi terlalu mudah ditebak – Jangan menyimpan unek-unek.

Slogan 31. Jangan bergossip atau memfitnah orang lain.

Slogan 32. Jangan menunggu untuk menyergap – Janganlah kamu menyerang orang lain setelah menunggunya menunjukkan kelemahannya.

Slogan 33. Jangan membesar-besarkan masalah hingga ke titik yang menyakitkan – Jangan mempermalukan orang lain.

Slogan 34. Jangan memindahkan beban yang diangkut lembu kepada sapi – Bertanggungjawablah kepada dirimu sendiri.

Slogan 35. Jangan mencoba untuk menjadi yang paling cepat – Jangan berkompetisi dengan sesamamu.

Slogan 36. Jangan bertindak dengan maksud lain – Lakukan berbagai perbuatan baik tanpa punya niat lain untuk memberi manfaat bagi diri sendiri.

Slogan 37. Jangan merubah dewa menjadi setan – Jangan gunakan slogan-slogan ini atau kekuatan dharma (spiritualitas)-mu untuk memompa penyerapan demi dirimu sendiri.

Slogan 38. Jangan jadikan penderitaan orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan dirimu.

 

Poin Ke-tujuh: Panduan Pelatihan Pikiran.


Slogan 39. Semua aktivitas harus dilakukan dengan satu niat.

Slogan 40. Benahi semua kesalahan dengan satu niat.

Slogan 41. Dua aktivitas: satu di awal (hari), satu di akhir (hari).

Slogan 42. Salah satu dari keduanya yang terjadi, bersabarlah (dan jangan tinggalkan Bodhicitta-mu).

Slogan 43. Berpeganglah pada kedua hal ini, meski kamu harus mempertaruhkan nyawamu.

Slogan 44. Latihlah dengan tiga macam kesulitan.

Slogan 45. Bersandarlah pada tiga agen utama: guru, dharma, sangha.

Slogan 46. Perhatikanlah supaya ketiga hal berikut jangan sampai hilang: rasa syukur kepada gurumu, rasa menghargai ajaran-ajaran dharma, dan perilaku yang benar.

Slogan 47. Untuk ketiga hal berikut, jagalah supaya tak terpisahkan: tubuh, ucapan, dan pikiran.

Slogan 48. Berlatihlah tanpa prasangka dalam semua hal. Sungguh penting untuk melakukan hal tersebut secara menyeluruh dan sepenuh hati.

Slogan 49. Selalu bermeditasi untuk merenungkan apapun yang menimbulkan kebencian/dendam.

Slogan 50. Jangan sampai termakan oleh bujuk rayu kondisi eksternal.

Slogan 51. Pada saat ini, latihlah poin-poin utama: memprioritaskan orang lain di atas diri sendiri, dharma, dan pembangkitan welas asih.

Slogan 52. Jangan salah mengartikan.

Enam hal yang kamu mungkin salah artikan adalah: kesabaran, mendamba, kegembiraan, welas asih, prioritas dan sukacita.
Kamu bisa bersabar saat semua hal berjalan sesuai dengan keinginanmu, namun saat bertolak belakang maka bersabar adalah hal yang susah.
Kamu mendamba hal-hal duniawi, bukannya mendamba pikiran dan hati yang terbuka.
Kamu gembira akan kekayaan dan hiburan, bukannya akan potensimu dalam mencapai pencerahan.
Kamu bisa berwelas asih pada orang-orang yang kamu sukai, tapi terhadap yang lainnya kamu tidak bisa.
Mendapatkan harta dunia adalam prioritasmu, bukannya melatih cinta kasih dan welas asih.
Kamu bersukacita saat musuhmu menderita, dan tidak bisa bergembira atas nasib baik orang lain.

Slogan 53. Jangan bimbang (dalam melatih sadhana Lojong).

Slogan 54. Berlatihlah sepenuh hati.

Slogan 55. Bebaskan dirimu lewat menelaah dan menganalisa: Pahamilah pikiranmu dengan jujur dan tanpa rasa takut.

Slogan 56. Jangan berkubang dalam mengasihani diri sendiri.

Slogan 57. Jangan iri hati.

Slogan 58. Jangan sembrono dan meremehkan.

Slogan 59. Jangan mengharapkan pujian.

 

Berbagai Tafsiran


Tafsiran yang berkembang di kemudian hari mengenai sadhana pelatihan pikiran ini ditulis oleh Jamgon Kongrul (salah satu pendiri gerakan Rime non-sektarian dalam tradisi agama Buddha Tibet) pada abad ke-19. Tafsiran tersebut diterjemahkan oleh Ken McLeod, awalnya dengan judul Sebuah Jalur Langsung Menuju Pencerahan. Terjemahan ini berfungsi sebagai naskah utama untuk Buku Kebijaksanaan Osho. Di kemudian hari, setelah melalui beberapa kali konsultasi dengan Chogyam Trungpa, Ken McLeod menerjemahkan kembali karya tersebut menjadi Jalan Agung Penyadaran Diri.

Ada dua tafsiran penting terhadap naskah-naskah utama sadhana pelatihan pikiran yang ditulis oleh Geshe Kelsang Gyatso (pendiri Tradisi Kadampa Baru) dan mereka menjadi landasan bagi program-program pembelajaran di NKT Buddhist Centers di seluruh dunia. Yang pertama adalah Welas Asih Universal, yang merupakan tafsiran untuk naskah utama Tujuh Poin Utama dalam Melatih Pikiran oleh Geshe Chekhawa. Sedangkan yang kedua, adalah Delapan Langkah Menuju Kebahagiaan, yang merupakan tafsiran dari naskah utama – Delapan Ayat Pelatihan Pikiran oleh Geshe Langri Tangpa.

Di tahun 2006, Wisdom Publications menerbitkan hasil karya Pelatihan Pikiran: Koleksi Agung (Theg-pa chen-po blo-sbyong rgya-rtsa) yang diterjemahkan oleh Thupten Jinpa. Karya ini adalah sebuah terjemahan dari kompilasi karya tradisional Tibet, yang berkisar dari abad ke-15, dan secara keseluruhan berisi 53 naskah yang berhubungan dengan sadhana pelatihan pikiran. Di antara naskah-naskah ini ada beberapa perbedaan versi mengenai ayat-ayat utamanya, beserta dengan tafsiran-tafsiran awal yang penting dari Se Chilbu, Sangye Gompa, Konchok Gyaltsen, dan lainnya.

Friday, July 27, 2012

Triloka – Tiga Tingkat Alam

Pranala Sumber: Three Realms, 5 Definition(s), AKA: Triple Realm, Three Worlds
Ditulis oleh Lotuschef – 19 Juni 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Triloka – Triple Realm

 

Guru sedang sering-seringnya membahas hal ini di sesi ceramah dharma-Nya akhir-akhir ini. Saya kira artikel ini bisa membantu teman-teman untuk mendapatkan informasi mengenai apa yang sedang dibagikan oleh Guru.

Salam semuanya.

Om Guru Lian-sheng Siddhi Hom.

Lama Lotuschef

[caption id="attachment_8546" align="aligncenter" width="383"] Trailokyavijaya Raja (Raja Kemenangan Atas Tiga Tingkat Alam)[/caption]

 

Bahasa Sansekerta-nya adalah Triloka. Ia adalah ekuivalen metafisik dalam agama Buddha untuk tiga tingkat alam: bumi, angkasa, dan surga.

  1. Alam Nafsu Sensual (Bhs. Sansekerta: Kamadhatu) akan seks dan makanan. Ia meliputi Enam Alam Surga Nafsu, Alam Manusia dan Neraka.

  2. Alam Berwujud (Bhs. Sansekerta: Rupadhatu) berisi materi yang besar dan berdaya tahan. Konsepnya adalah semi material. Ia berada di atas dunia nafsu dan terdiri dari tubuh-tubuh, tempat-tempat dan benda-benda, yang semuanya bersifat mistis dan menakjubkan. Ia terdiri dari 18 surga, termasuk Surga Empat Zen (Bhs. Sansekerta: Brahmaloka).

  3. Alam Tiada Wujud (Bhs. Sansekerta: Arupadhatu) dari roh yang murni, di mana tidak ada lagi tubuh dan materi yang bisa dinyatakan dengan kata-kata. Ia adalah tempat di mana pikiran tinggal di sana di dalam perenungan mistik; luasnya tak terhingga, namun bisa dibagi menjadi Empat Tingkatan / Tempat Kekosongan dalam dunia tanpa materi tersebut. Ia terdiri dari empat surga, dan “Surga yang bukan persepsi ataupun tanpa persepsi” berada di tingkatan paling tinggi.


 

Tiga tingkatan di dalam alam samsara: Alam Nafsu, Alam Berwujud, dan Alam Tanpa Wujud.

Alam Nafsu adalah tempat para mahluk neraka, setan kelaparan, binatang, manusia, asura, dan dewa yang menikmati lima obyek nafsu.

Alam Berwujud adalah tempat para dewa yang mempunyai wujud.

Alam Tanpa Wujud adalah tempat para dewa yang tidak mempunyai wujud.

 

Para mahluk dari Alam Nafsu punya delusi/khayalan yang sungguh kuat, sedangkan mereka di Alam Berwujud khayalannya sudah lebih halus, dan mereka yang di Alam Tanpa Wujud punya khayalan yang sangat halus.

Alam Nafsu (dunia kita), Alam Berwujud (alam untuk dewa tingkat rendah), dan Alam Tanpa Wujud (untuk dewa yang lebih tinggi). Tanah Suci Surga Barat (Sukhavati) berada di luar Alam Tiga Tingkat ini – ia melampaui samsara dan tidak mengalami kemunduran.

Friday, March 2, 2012

Daftar Istilah Agama Buddha Aliran Bon



Dibagikan oleh Lotuschef – 4 Maret 2012

Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 

Diambil dari pranala sumber: Ligmincha Institute – Glossary of Bon Buddhist Terms



Bardo (Bhs. Tib.: bar do; Bhs. Skrt.: antarabhava)
Bardo – (Bhs. Tibet: bar do; Bhs. Sansekerta: antarabhava)
Bardo berarti “kondisi di antara,” dan mengacu pada kondisi transisi keberadaan para insan – kehidupan, meditasi, mimpi, kematian – tapi paling umum mengacu pada kondisi peralihan antara kematian dan kelahiran kembali.


Bon – (Bhs. Tibet: bon)
Bon adalah tradisi spiritual yang paling tua di Tibet. Ia meliputi berbagai ajaran dan sadhana yang dapat diterapkan ke dalam semua aspek kehidupan, termasuk hubungan kita dengan elemen-elemen alam; etika dan moralitas; perkembangan cinta kasih, welas asih, kebahagiaan, dan ketenangan; serta ajaran Bon yang tertinggi “Kesempurnaan Agung,”, dzogchen.

Menurut catatan tradisi Bon mengenai keasliannya, beribu-ribu tahun sebelum kelahiran Buddha Shakyamuni, Buddha Tonpa Shenrab Miwoche datang ke dunia ini dan menyebarkan ajaran-ajarannya di daerah Olmo Lungring. Ol menyimbolkan tiada kelahiran, mo adalah yang tiada berkurang, lung sebagai wahyu-wahyu Tonpa Shenrab, dan ring mewakili welas asihnya yang tiada batas. Beberapa cendekiawan masa kini mengidentifikasikan Olmo Lungring dengan Zhang Zhung, negara yang mengitari Gunung Kailash di Tibet bagian barat dan merupakan tempat kelahiran peradaban Tibet.

Tonpa Shenrab mentransmisikan ajaran Bon berturut-turut dalam tiga siklus. Pertama kali, ia mengajarkan “Sembilan Jalan Bon”; kemudian “Empat Pintu Bon dan Yang Kelima, Pitaka”; dan akhirnya beliau mambuka ajaran “Sila-sila Eksternal, Batin (Internal), dan Rahasia.” Di dalam siklus ajaran terakhirnya, siklus eksternal berupa jalan renunsiasi, atau ajaran-ajaran sutra; siklus internal berupa jalan transformasi, atau ajaran tantra; dan siklus rahasia berupa jalan pembebasan diri, atau ajaran dzogchen. Pembagian kategori ke dalam sutra, tantra, dan dzogchen juga ditemukan di Ordo Nyingma dalam Buddhisme Tibet.

Para umat Bon menerima ajaran dan transmisi oral dari para guru dalam silsilah yang tak terputuskan dari masa lampai hingga hari ini. Sebagai tambahan, banyak naskah-naskah literatur Bon ini yang hingga kini masih dilestarikan. Meski banyak hal dalam tradisi Bon masa kini yang mirip dengan Buddhisme Tibet, agama Bon masih mempertahankan kekayaan dan cita rasa akarnya tersendiri dari jaman pra-Buddhis.


Chakras © Florida Yoga Academy, LLC
Chakra (Bhs. Tibet: khor-lo; Bhs. Sansekerta: chakra)
Chakra berarti ‘roda’ atau ‘lingkaran.’ Chakra adalah sebuah kata dalam Bahasa Sansekerta yang mengacu pada titik-titik pusat energi di dalam tubuh. Sebuah chakra menunjukkan sebuah lokasi titik pertemuan sejumlah nadi energi (tsa). Berbagai sistem meditasi bekerja dengan berbagai chakra yang berbeda juga.


Ilustrasi yang menggambarkan nadi-nadi beserta dengan chakra-chakra utama dan kecil.
Kanal (Bhs. Tibet: tsa; Bhs. Sansekerta: nadi)
Nadi adalah ‘pembuluh darah’ di dalam sistem sirkulasi energi di dalam tubuh. Lewat nadi, aliran gelombang energi halus akan menopang dan memberi kehidupan. Nadi-nadi itu sendiri berisi dengan energi dan tidak bisa ditemukan (dilihat) secara fisik. Namun, melalui pelatihan ataupun dari tingkat sensitivitas yang alami, para individu bisa dengan sadar mengalami (merasakan) nadi-nadi ini.


© Dakini As Art
Machig Labdrön (1055-1153 M), yang mengembangkan tradisi Chöd dengan
menggabungkan tradisi perdukunan Bönpo pribumi Tibet
dengan ajaran Dzogchen.
Chod (tib: gchod)
Artinya: memotong, melenyapkan. Juga dikenal sebagai ‘menggunakan ketakutan secara bijaksana,’ dan merupakan ‘sadhana kemurahan hati’. Chod adalah sebuah praktek sadhana untuk menghancurkan semua kemelekatan terhadap tubuh dan ego si praktisi di mana dengan penuh welas asih ia mempersembahkan seluruh tubuhnya untuk para insan lain. Untuk tujuan ini, si praktisi akan memanggil berbagai macam kelas mahluk dan kemudian melakukan pemotongan dan mentransformasikan tubuh si praktisi tersebut menjadi berbagai macam obyek dan bahan persembahan. Sadhana Chod menggunakan nyanyian yang merdu, tambur, lonceng, dan terompet tanduk, dan umumnya dilakukan di lokasi yang menimbulkan ketakutan, seperti tanah pekuburan, pemakaman, dan lintasan-lintasan pegunungan yang jauh.


© ‘Kurukulle (Details C)’ by Images of Enlightenment, Nepal.
Dakini (Bhs. Tibet: mkha' 'gro ma; Bhs. Sansekerta: dakini)
Ekuivalen untuk dakini di Tibet adalah khadroma, yang artinya penjelajah angkasa yang berjenis kelamin wanita. ‘Angkasa’ mengacu pada kekosongan dan dakini menjelajahi kekosongan tersebut; yang artinya, ia bertindak dengan realisasi penuh atas kekosongan, realitas absolut. Seorang dakini dapat berwujud manusia perempuan yang telah merealisasikan sifat sejatinya, atau dewi atau wanita bukan manusia, atau manifestasi langsung dari pikiran yang tercerahkan. Dakini juga mengacu pada kelas mahluk yang terlahir di alam suci para dakini.


Dharma (Bhs. Tibet: ch"s; Bhs. Sansekerta: dharma)
Dharma merupakan istilah yang sangat luas dan punya banyak arti. Dalam artinya yang paling umum, dharma adalah ajaran spiritual yang berasal dari para Buddha dan juga merupakan jalan spiritual itu sendiri. Dharma juga berarti keberadaan (eksistensi).


Dharmakaya (Bhs. Tibet: ch"s sku; Bhs. Sansekerta: dharmakaya)
Seorang buddha mempunyai tiga tubuh (kaya): dharmakaya, sambhogakaya, dan nirmanakaya. Dharmakaya, sering diterjemahkan sebagai “tubuh kebenaran,” mengacu pada sifat sejati buddha yang absolut, yang sama dan dimiliki oleh semua buddha serta identik dengan sifat sejati dari semua hal yang berkondisi: kekosongan. Dharmakaya bersifat non-dual, terbebas dari segala macam konseptualitas dan karakteristik. (Lihat juga sambhogakaya dan nirmanakaya.)


Dzogchen -- (Bhs. Tibet: rdzogs chen)
Adalah “Maha Sempurna” atau “Penyelesaian yang agung.” Dzogchen dianggap sebagai ajaran dan sadhana yang tertinggi dalam Buddhisme Tibet. Prinsip dasarnya adalah realitas, termasuk individu, yang sebenarnya telah lengkap dan sempurna, dan tidak ada yang perlu ditransformasikan (seperti di dalam tantra) atau disangkal/ditinggalkan (seperti di dalam sutra) tapi hanya dikenali sebagaimana adanya. Inti dari sadhana dzogchen adalah “pembebasan diri”, sehingga semua yang muncul di dalam pengalaman adalah sebagaimana adanya, tanpa ditambahi elaborasi pikiran konseptual, tanpa ada keserakahan ataupun kebencian.


Za Rahula Dharmapala
Pelindung Dharma (Bhs. Tibet: srung ma/ chos skyong; Bhs. Sansekerta: dharmapala)
Para pelindung dharma adalah mahluk pria atau wanita yang disumpah untuk melindungi (ajaran-ajaran) dharma dan para praktisinya. Mereka bisa saja merupakan para pelindung duniawi ataupun manifestasi angkara murka dari para insan yang telah cerah. Para praktisi tantra umumnya berusaha mengambil hati dan mengandalkan para pelindung dharma yang berhubungan dengan silsilah mereka.


Jalus -- (Bhs. Tibet: 'ja lus)
(Lihat tubuh sinar pelangi)


Karma -- (Bhs. Tibet: las; Bhs. Sansekerta: karma)
Karma berarti “tindakan,” tapi dalam artinya yang lebih luas mengacu pada hukum sebab dan akibat. Berbagai tindakan yang dilakukan oleh fisik (tubuh), verbal (ucapan), atau mental (pikiran), akan menjadi “bibit” yang akan menghasilkan “buah” berupa konsekuensi dari tindakan-tindakan tersebut di masa mendatang saat kondisinya telah matang. Tindakan yang positif punya efek yang positif, seperti kebahagiaan; sebaliknya yang negatif juga berefek negatif, seperti ketidakbahagiaan. Karma bukan berarti takdir kehidupan, namun dimengerti sebagai kondisi yang ada itu muncul dari hasil tindakan-tindakan di masa lampau.


Jejak karma -- (Bhs. Tibet: bag chags)
Setiap tindakan – baik yang dilakukan oleh tubuh, ucapan, atau pikiran – yang diperbuat oleh seorang individu, jika dilakukan dengan suatu tujuan, dan bahkan sedikit kebencian atau nafsu, akan meninggalkan jejak di aliran pikiran si individu tersebut. Akumulasi dari jejak-jejak karma ini akan mengkondisikan setiap momen pengalaman individu tersebut, baik secara positif maupun negatif.


Kunzhi -- (Bhs. Tibet: kun gzhi)
Dalam tradisi Bon, kunzhi adalah dasar dari semua keberadaan, termasuk insan. Kunzhi merupakan penyatuan dari kekosongan dan kecemerlangan; dari indeterminasi (hal yang tak dapat ditentukan) realitas tertinggi  yang terbuka dan absolut beserta pertunjukan  penampakan dan kesadaran yang tidak pernah berhenti. Kunzhi ini adalah basis atau dasar dari semua ciptaan.


Kunzhi namshe -- (Bhs. Tibet: kun gzhi rnam shes, Bhs. Sansekerta: alaya vijnana)
Kunzhi namshe adalah kesadaran dasar seorang individu. Ia adalah “repositori” atau “gudang penyimpanan” di mana jejak-jejak karma disimpan di dalamnya, dan di mana pada suatu masa mendatang, pengalaman yang terkondisi olehnya akan muncul.


Lama - (Bhs. Tibet: bla ma; Bhs. Sansekerta: guru)
Lama berarti “bunda yang tertinggi.” Lama mengacu pada seorang guru tertinggi yang tingkat kepentingannya di atas segala-galanya bagi seorang (murid) praktisi. Dalam tradisi Tibet, lama bahkan sering dianggap lebih penting daripada buddha, karena hanya lama-lah yang bisa memberikan ajaran-ajaran kepada si murid. Pada tingkat tertinggi, lama adalah sifat sejati buddha diri sendiri. Pada tingkatnya yang relatif, lama adalah guru pribadi si murid. Namun, istilah lama sering digunakan sebagai cara yang sopan untuk menyapa bhiksu atau guru spiritual.


Loka - (Bhs. Tibet: 'jig rten; Bhs. Sansekerta: loka)
Adalah “dunia” atau “sistem dunia.” Loka biasanya digunakan dalam Bahasa Inggris untuk mengacu kepada enam alam samsara, namun sebenarnya adalah sistem-sistem dunia yang lebih besar, salah satunya adalah tempat bernaungnya enam alam samsara. (Lihat “enam alam samsara.”)


Lung - (Bhs. Tibet: rlung, Bhs. Mandarin: chi, Bhs. Sansekerta: prana)
Lung adalah energi angin yang penting, juga sering dikenal di dunia Barat sebagai prana atau chi. Lung punya berbagai arti yang lebih luas, namun yang paling umum mengacu pada energi vital tempat bersandarnya vitalitas tubuh dan kesadaran.


Nirmanakaya, yang menggambarkan Buddha Shakyamuni - para guru silsilah - mula guru (akar) - hingga murid praktisi
Nirmanakaya - (Bhs. Tibet: sprul sku, Bhs. Sansekerta: nirmanakaya)
Nirmanakaya adalah “tubuh perwujudan” (manifestasi) dari dharmakaya. Di sini sering mengacu pada manifestasi fisik yang terlihat dari seorang buddha. Istilah ini juga punya kualitas yang sama dengan dimensi fisik.


Prana -- (Lihat lung di atas.)


Tubuh Sinar Pelangi Guru Rinpoche, Padmasambhava
Tubuh sinar pelangi - (Bhs. Tibet: 'ja lus)
Tanda realisasi penuh dari keberhasilan sadhana dzogchen adalah pencapaian tubuh pelangi. Praktisi dzogchen yang telah mendapatkan realisasi, yang tidak lagi tertipu oleh substansi nyata ataupun dualisme seperti pikiran dan benda, akan melepaskan energi elemen yang membentuk tubuh fisik pada saat kematiannya. Tubuhnya akan melebur dan hanya meninggalkan rambut dan kuku, kemudian si praktisi dengan penuh kesadaran memasuki tahap kematian.


Rigpa - (Bhs. Tibet: rig pa; Bhs. Sansekerta: vidya)
Adalah kesadaran atau mengenali. Dalam ajaran-ajaran dzogchen, rigpa berarti kesadaran langsung akan kebenaran, langsung mengenali kesadaran non-dual yaitu sifat sejati dirinya.


Rinpoche -- (Bhs. Tibet: rin po che)
Yang berarti “ia yang mulia.” Sebuah sebutan kehormatan yang digunakan untuk menyapa seorang lama yang berinkarnasi.


Samaya - (Bhs. Tibet: dam tshig; Bhs. Sansekerta: samaya)
Adalah Komitmen atau Sumpah. Secara umum adalah komitmen yang dibuat oleh seorang praktisi dalam hubungannya dengan sadhana tantra – di sini mengatur berbagai perilaku dan tindakan. Ada sumpah-sumpah yang umum dan khusus untuk berbagai sadhana tantra tertentu.


Sambhogakaya Lima Dhyani Buddha dan Vajrasattva
Sambhogakaya -- (Bhs. Tibet: longs sku; Bhs. Sansekerta: sambhogakaya)
Adalah “tubuh pahala kenikmatan” seorang buddha. Sambhogakaya adalah tubuh yang sepenuhnya terbuat dari sinar. Bentuk ini sering divisualisasikan di dalam sadhana tantra dan sutra dan terlihat lewat berbagai simbol ornamen dan postur. Di dalam Dzogchen, tubuh dharmakaya yang tanpa perhiasanlah yang lebih sering digunakan sebagai obyek visualisasi.


Samsara - (Bhs. Tibet: 'khor ba; Bhs. Sansekerta: samsara)
Alam penderitaan yang muncul dari pikiran yang dualistik dan tertutup, di mana semua entitas di dalamnya tidak ada yang kekal, keberadaan yang melekat juga tidak ada, dan di mana semua insan tunduk pada penderitaan. Samsara meliputi enam alam siklus kehidupan, tapi dalam definisinya yang lebih luas mengacu pada modus karakteristik keberadaan para insan yang menderita karena terjerat jala kebodohan dan dualitas. Samsara akan berakhir saat insan mencapai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan – yaitu pencapaian nirvana.


Shenlha Okar
Shenlha Okar -- (Bhs. Tibet: gShen Lha 'od dkar)
Shenlha Okar adalah tubuh sambhogakaya dari Shenrab Miwoche, buddha yang mendirikan tradisi Bon.


Shenrab Miwoche
Shenrab Miwoche -- (Bhs. Tibet: gShen rab mi bo che)
Shenrab Miwoche adalah tubuh nirmanakaya buddha yang mendirikan tradisi Bon, yang menurut kepercayaan tradisi pernah hidup 17,000 tahun lalu. Ada lima belas jilid biografi yang membahas Shenrab Miwoche dalam literatur Bon.


Bhavacakra (Bhs. Tibet: srid pa'i 'khor lo) sebagai simbol samsara (atau siklus kehidupan).
Enam alam samsara - (Bhs. Tibet: rigs drug)
Yang umumnya disebut sebagai “enam alam” atau “enam loka.” Enam alam ini menunjukkan enam kelas mahluk yang berada di dalamnya: dewa, setengah dewa (asura), manusia, binatang, setan kelaparan, dan mahluk neraka. Para insan di dalam enam alam ini tidak bisa luput dari penderitaan. Enam alam ini adalah alam tempat para insan terlahir, dan juga merupakan tempat mereka mendapatkan pengalaman yang luas. Mereka juga akan mengalami dampak gabungan dari berbagai pengalaman yang mungkin terjadi, yang akan membentuk dan membatasi berbagai pengalaman lain mereka juga bahkan di dalam kehidupan saat ini.


Sutra -- (Bhs. Tibet: mdo; Bhs. Sansekerta: sutra)
Sutra adalah naskah yang berisi ajaran-ajaran yang datang langsung dari Buddha historis yang berbasiskan jalan renunsiasi dan menjadi dasar dari kehidupan monastik (biara).


Tantra -- (Bhs. Tibet: rgyud; Bhs. Sansekerta: tantra)
Tantra adalah ajaran-ajaran dari para Buddha yang berbasiskan pada jalan transformasi dan meliputi berbagai sadhana yang bekerja dengan energi di dalam tubuh, pemindahan kesadaran, yoga mimpi dan tidur, dan lain sebagainya. Beberapa kelas tantra tertentu juga berisi ajaran-ajaran dzogchen.


Tapihritsa
Tapihritsa - (Bhs. Tibet: ta pi hri tsa)
Meski dianggap sebagai figur yang bersejarah, Tapihritsa, bagi para sadhaka Bon, secara ikonografis dilambangkan sebagai seorang dharmakaya Buddha, telanjang dan tidak mengenakan ornamen-ornamen, melambangkan realitas yang absolut. Ia adalah salah satu dari dua guru utama dalam aliran dzogchen dari Zhang Zhung Nyam Gyud.


Terma -- (Bhs. Tibet: gter)
Dalam budaya Tibet ada sebuah tradisi yang bernama “terma”; benda-benda suci, naskah atau ajaran yang disembunyikan oleh para guru dari suatu jaman tertentu untuk memberi manfaat para insan pada jaman-jaman di masa mendatang saat terma tersebut ditemukan. Para guru yang menemukan terma disebut sebagai “terton,” atau sang penemu harta terpendam. Terma telah dan bisa ditemukan di lokasi-lokasi fisik, seperti gua atau kuburan; di dalam elemen-elemen seperti air, kayu, tanah bumi atau udara; atau diterima lewat mimpi, pengalaman visioner, dan ditemukan langsung di dalam tingkat-tingkat kesadaran yang mendalam. Untuk kasus yang terakhir, terma tersebut dinamakan sebagai gong-ter: harta hati.


Tiga racun utama
Berupa kebodohan, amarah kebencian, dan nafsu; sebagai tiga kesengsaraan mendasar yang mengabadikan perputaran kehidupan di dalam alam-alam yang penuh penderitaan.


Aksara Tibet "A" di dalam thigle.
Tigle -- (Bhs. Tibet: thig le; Bhs. Sansekerta: bindu)
Tigle punya beberapa arti yang bergantung pada konteks pemakaiannya. Meski biasanya diterjemahkan sebagai “tetesan” atau “titik mani,” saat dipakai dalam konteks yoga mimpi dan tidur, tigle mengacu pada bola sinar cemerlang yang melambangkan kualitas kesadaran dan digunakan sebagai sebuah fokus dalam latihan meditasi.


Transmisi – (Bhs. Tibet: lung)
Seringkali seorang guru silsilah yang memenuhi syarat akan memberikan transmisi  untuk suatu ajaran tertentu lewat pembacaan naskah ajaran dalam Bahasa Tibet secara verbal di hadapan si murid. Pembacaan tersebut biasanya dilakukan setelah instruksi-instruksi yang mendetil telah diberikan; contohnya, pada penutupan sebuah retret. Dengan menerima transmisi, seorang murid diberkati (diberikan abhiseka) untuk mulai belajar dan melatih ajaran-ajaran (yang telah ditransmisikan tersebut) .


Tsa – lihat “kanal.”


Longchen Nyingtik
Yidam --(Bhs. Tibet: yid dam; Bhs. Sansekerta: devata)
Yidam adalah dewata yang mendampingi atau dewata obyek meditasi yang merupakan perwujudan aspek pikiran yang tercerahkan. Ada empat macam kategori yidam: damai, meningkatkan, kuat berpengaruh dan angkara murka. Yidam bermanifestasi dalam berbagai bentuk tersebut untuk mengatasi kekuatan/serangan negatif tertentu.


Yogi  -- (Bhs. Tibet: rnal 'byor pa; Bhs. Sansekerta: yogi)
Adalah seorang praktisi yoga meditatif , seperti yoga mimpi dan tidur, yang berjenis kelamin pria.


Yogini - (Bhs. Tibet: rnal 'byor ma; Bhs. Sansekerta: yogini)
Adalah praktisi yoga meditatif yang berjenis kelamin wanita.


Zhang Zhung Nyam Gyud -- (Bhs. Tibet: Zhang Zhung snyam rgyud)
Adalah salah satu dari siklus ajaran dzogchen yang paling penting dalam tradisi Bon. Ia masuk dalam seri ajaran upadesha (instruksi oral yang rahasia).


Zhine - (Bhs. Tibet: zhi gnas; Bhs. Sansekerta: samatha)
Adalah “tinggal dalam ketenangan” atau “kedamaian.” Praktek ini menggunakan fokus yang berupa obyek eksternal ataupun internal untuk mengembangkan konsentrasi dan stabilitas mental.  Samatha ini juga merupakan praktek yang fundamental, sebagai dasar perkembangan dari praktek-praktek meditasi lainnya yang lebih tinggi, dan dibutuhkan untuk melatih yoga mimpi dan tidur.



Dibagikan oleh Lotuschef / Pure Karma / True Buddha School