Showing posts with label Sadhana / Pelatihan Diri. Show all posts
Showing posts with label Sadhana / Pelatihan Diri. Show all posts

Thursday, May 16, 2013

LotusChef Bermain-main - Siapakah Saya? 我是谁?[2]

Artikel asli ditulis oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 15 Mei 2013
Tautan ke artikel tersebut : Lotuschef at Play – Who Am I ? 我是谁? [2]
Diterjemahkan oleh Lotus Junhao


Juli 2008 - Biara Lokal - Saya mencari seorang koki yang saya tahu dia berasal dari Aliran Tantra dan bertanya kepada dia : "kenapa Anda tidak membawa saya saja bersarana kepada Guru Anda?"

Dia melihat saya dan terkejut.
Dia berkata : Anda telah bersarana di biara ini dan telah mengikuti ritual pengambilan 5 Sila. Kenapa Anda hendak bersarana kepada Guru Saya?

Saya menjawab : "Bawa saja saya untuk bersarana kepada Guru Anda, tolong."

Dia setuju dan mengatur sebuah hari dimana dia tidak bekerja.
Dia membagikan Sutra Maharaja Avalokitesvara kepada saya dan karenanya saya mulai membaca sutra tersebut.
3 Agustus 2008 - Pada hari tersebut, dia diminta untuk bekerja karena koki yang satunya lagi sedang permisi karena sakit. Dia menghubungi saya dan mengatakan agar di sore harinya baru pergi ke sebuah vihara lokal.

Saya melihat Rupang Guru di altar dan menyadari bahwa Beliau-lah Guru yang dibicarakan oleh mereka.
Lalu saya mengikuti ritual bersarana bersama dengan tiga orang anak kecil dengan usia yang berbeda-beda mulai dari 4 tahun hingga 1 tahun.

Hahaha! I do not know Guru is Living Buddha Lian Sheng & his sentient name is Lu Sheng Yan!
I know nothing about this assembly at all!
Hahaha! Saya tidak tahu bahwa Guru merupakan Buddha Hidup Lian Sheng dan nama duniawinya yakni Lu Sheng Yan!
Saya sama sekali tidak mengetahui Ordo / Organisasi Perkumpulan ini!

Baiklah, saya bersarana kepada Buddha Hidup Lian Sheng, Guru Akar saya sejak sekarang hingga waktu yang tak terbatas! :)

4 Agustus 2008 - jam 5 pagi. Dalam mimpi saya melihat Guru berdiri di dekat saya dan sedang tersenyum dengan sepenuh hati kepada saya.
Lalu saya melihat sekumpulan orang-orang mengelilingi saya dan meminta saya agar memberikan mereka Obat Panjang Umur!

Entah bagaimana saya melihat diri saya sendiri dan menyadari bahwa saya telah berubah menjadi seorang yang berusia 20 tahunan. Menjadi lebih muda 30 tahun!!!

Saya menatap dengan penuh tanda tanya kepada Guru untuk meminta arahan.
Pandangan Guru sepertinya memberitahu saya bahwa saya dapat memenuhi permohonan-permohonan dari keramaian tadi!
Hahaha!

3 minggu kemudian, saat mengikuti sebuah sesi pelatihan diri, saya menyadari bahwa kemunculan Guru (dalam mimpi) meredakan keraguan saya mengenai keefektifan dari ritual bersarana. [Lihatlah Ceramah Dharma pada tanggal 7 November 2009 di blog ini].

Pada saat yang sama, saya telah membaca sekitar 400+ Sutra Maharaja Avalokitesvara dan saya melihat sebuah teratai berwarna putih susu mekar di chakra hati saya. Yup! Menakjubkan!

Pada 2 bulan pertama sesudah saya bersarana, saya telah membaca 3000 kali Sutra Maharaja Avalokitesvara.
Penglihatan-penglihatan yang saya dapatkan benar-benar mengagumkan dan itulah mengapa saya dapat berbagi banyak versi metode pembacaan sutra ini kepada teman-teman semuanya.
Dapatkah kita mengatakan bahwa saya telah Kontak Yoga dengan Sutra ini? :)

Pada minggu keempat, Guru saat itu memberikan Transmisi Hevajra untuk pertama kalinya di Seattle.
Saat sedang menjapa mantra 100 suku aksara Vajrasattva, Vajrasattva memberikan saya sebuah teratai berwarna biru tua.

Pada minggu ketiga saya melihat teratai yang berwarna putih dan pada minggu keempat, sebuah teratai berwarna biru gelap.
Masih ingatkah bahwa Guru mengatakan bahwa sebuah Chakra atau Teratai mekar setiap 7 hari sesudah pemekaran yang pertama kali diiringi pelatihan diri?

Nah? Ini tepat hari ketujuh! Teratai yang pertama mekar pada hari ke-21 setelah bersarana - 24 Agustus 2008 dan yang kedua mekar pada tanggal 31 Agustus 2008.

Empat minggu sebelum Guru tiba di Singapore untuk Upacara Akbar Kalachakra, saya juga menyadari bahwa melatih Ajaran Buddha Dharma Satya Buddha seperti yang diajarkan oleh Guru merupakan Obat Panjang Umur!!!

[Bersambung..]

Sunday, May 12, 2013

Membebaskan Diri 解脱 [1]


Artikel asli ditulis oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 9 Mei 2013
Tautan ke artikel tersebut : 解脱 Free Self [1]
Diterjemahkan oleh : Lotus Kinzentaru
Proofread by : Lotus Junhao


Merelakan!

Hahaha! 
Untuk mengikhlaskan/merelakan sesuatu sangatlah mudah untuk diucapkan tapi benar-benar susah untuk dicapai.

Mari kita mulai dari suatu tempat, berani mencoba?

Guru berkata ketika kamu menjapa [Namo Amitofo], kamu harus melakukannya disertai visualisasi jadi penjapaan tersebut lebih efektif.
Sama seperti ketika kamu menjapa mantra atau sutra lainnya, kamu bisa mengikuti instruksi yang telah diberikan oleh Guru.

[DIRIKU/AKU] yang sangat BESAR dan Penting adalah target yang harus bisa kamu lepaskan.
Berikut ini adalah percakapan dengan seorang murid:

AA: Saya mau menanyakan tentang kunci dari 9-langkah pernapasan, tolong jangan memarahi saya karena menanyakan hal ini.

LC: OK! Beri tahu saya hal apa yang kamu pikir penting di dalam melatih 9-langkah pernapasan?

AA: Halus; Perlahan ; Panjang 细,慢,长 [ yang berarti pengaturan pernafasan]

LC: Apa lagi?

AA:  ..........

LC:  Di hari itu, ada seorang murid memberi tahu kami bahwa dia bertanya kepada Guru mengenai kunci 9 langkah pernapasan dan apa yang saya katakan kepada dia?

AA: Dia masih tidak bisa melakukanya dengan benar.

Teman teman sekalian, apakah kalian tahu kuncinya ataupun tidak, hal apa yang teman-teman pikir paling penting di dalam melatih 9 langkah pernafasan?

Guru mengatakan: kepada mereka yang mengatakan bahwa bisa bermeditasi/ bersamadi selama 30 menit dalam satu sesi,  bahwa Guru sendiri juga tidak mungkin selama itu!

Mengerti maksud saya?

Ada banyak orang yang terhambat [kemajuan pelatihannya] karena mereka terlalu “Melekat” atau “Terpaku” pada pendekatan/konsep  BENAR & SALAH!

Guru berjanji kepada Guru Beliau bahwa Beliau tidak akan menetapkan harga/ biaya pada pelayanan-Nya, yang mana mengakibatkan orang-orang menyalahgunakan pelayanan welas kasih-Nya untuk semua insan.

Apa yang bisa kamu pelajari kalau kamu tidak tulus? Hahaha!
Saya dengar beberapa VM yang mengikuti jejak  #2 dan dengan gigih mengikuti Guru agar Guru memberi tahu mereka atau menyingkapkan kepada mereka “apa itu Pencerahan!!!!”

Hahaha!

Mereka buta tentang apa yang #2 telah lalui ketika Guru mengatakan bahwa Guru telah memberi tahu dia tentang apa itu pencerahan.
Pencerahan seperti dikatakan oleh Para Guru Silsilah, tidak dapat disingkapkan! 
Amati semua orang yang telah tercerahkan di TBS?
Apakah mereka menggunakan pencerahannya untuk melatih diri guna memberi manfaat ke semua insan?
Aliran Satya Buddha, dengan rendah hati saya berpendapat, tidak lagi merupakan sebuah “rumah” bagi mereka yang Mengerti Renunsiasi (Penthabisan/Meninggalkan Keduniawian) dan ingin membagikan pengetahuan mereka dengan semua insan agar membebaskan diri mereka sendiri dari Penderitaan Duniawi, apakah Anda setuju?

Aliran Satya Buddha merupakan satu bentuk lain dari sebuah institusi komersial duniawi dan bukan merupakan sebuah Perkumpulan Buddhis dari Para Pelatih Diri yang Tulus, yang bekerja untuk Kebaikan semua insan.


Lihatlah bagaimana orang-orang yang telah dicemari 3- racun (kebencian, keserakahan dan kebodohan) membuat Guru lelah mengurusi masalah-masalah duniawi untuk mengisi peti-peti harta mereka!
Hahaha!

Berbohong dan menipu orang lain untuk menambah harta duniawi, ketenaran, dan kekuasaan.....

Kunci Rahasia dari sadhana 9 langkah pernapasan sudah disingkap oleh Guru banyak kali.

Kalau kamu masih ingin tahu, tanyalah Guru setulus hati.
Aku akan memungut biaya $10,000 (Sepuluh Ribu Singapore Dollar) kalau kamu mau belajar dari saya!
Hahaha!

Ini akan menjadi deposit awal untuk 4 kali sesi yang berdurasikan 1 jam dan kalau kamu lamban dalam mempelajarinya, maka kamu harus membayar lagi untuk 4 sesi selanjutnya.

Baiklah, kalau kamu harus membayar untuk mendapatkan sesuatu, maka kamu akan belajar sangat cepat, setuju?

Guru memberi tahu kita bahwa zaman dahulu, murid-murid harus berkelana menempuh perjalanan yang jauh dengan membawa sebagian besar harta keluarganya untuk mencari dan mempersembahkan harta-hartanya kepada Guru-Guru dan memohon untuk mengajarkan mereka Sadhana-Sadhana Tantra. . Bagi beberapa orang, persembahan yang diberikan merupakan harta keluarga.

Teknik pernapasan ini adalah tahap awal dari Pelatihan “Tantra Dalam”, dimana banyak orang gagal untuk memahaminya.
Ada sebuah video tentang bagaimana melakukan sadhana ini di blog saya dan kamu bisa menontonnya tanpa dipungut biaya.

Untuk KUNCI-KUNCI-nya? Hahahah! Baca dan perhatikan apa yang telah Guru ajarkan selama ini terhadap penekunan pelatihan 9 pernafasan ini!

Kamu harus sungguh-sungguh berusaha untuk melakukannya dan tidak hanya mengandalkan Guru untuk menyentuh kepala kamu dan  memberkati kamu selalu!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom

Sunday, October 28, 2012

Prinsip-prinsip Utama Sheng-yen Lu


Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 22 Oktober 2012
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: Lu Sheng Yan’s Key Principles
Artikel sumber: 盧勝彥的心要 - 第一篇——序曲

Sheng-yen Lu, Buku No. 96, Bab 1 – Pengantar


[1] Buddha Shakyamuni muncul di dunia karena Karma persoalan duniawi. Demikian juga aku (Buddha Hidup Lian Sheng), muncul di dunia karena jodoh (afinitas) duniawi yang agung.

Dunia boleh saja mencemooh:
“Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu, mana bisa bisa dibandingkan dengan mereka yang maha suci!”

“Sungguh, sungguh, aku memberitahumu: {Aku adalah seorang Buddha}.”

Kita ini belajar agama Buddha, maka pasti akan menjadi seorang Buddha, kalau aku bukan “Buddha” lalu siapakah aku?

Para insan, janganlah meremehkan dirimu sendiri, saat tercerahkan tentunya menjadi Buddha, kalau bingung/tersesat maka tetap menjadi insan biasa. Kita masing-masing ini, bicara secara luas, adalah Buddha.

Afinitas dunia yang penting:
Mempelopori/membuka jalan menuju Kebuddhaan, menampakkan Sifat Sejati Kebuddhaan, mencapai Kebijaksanaan Pencerahan yang Sejati, dan menjadi Buddha. Melebur ke dalam alam-alam Buddha dengan mendalam.

Maka aku memberitahu kalian semua: “Aku adalah seorang Buddha.”


[2] Jangan melakukan kejahatan, lakukan semua hal yang baik, dan sucikanlah pikiranmu; inilah ajaran Sang Buddha.

Dua yang pertama “tidak melakukan kejahatan, dan melakukan semua kebaikan” adalah eksoterik. Sedangkan yang terakhir “sucikanlah pikiranmu” adalah buddhisme esoterik atau Tantra.

Tantra adalah Penyucian Tubuh – Ucapan – dan Pikiran. Sebenarnya ketiga hal ini adalah SATU adanya, karena saat Hati/Pikiran telah tersucikan, maka otomatis Tubuh dan Ucapan juga tersucikan.

Jadi, menyucikan pikiran adalah Tantra.

Ajaran rahasia Tantra, tujuan akhirnya adalah untuk {Menyucikan pikiran sendiri}.


[3] Dalam hidupku ini – dipengaruhi oleh cara pikir buddhis tradisional yang kontroversial, kemudian juga mengalami fitnahan yang terbesar, dan dikucilkan oleh dunia religius.

Tapi sejujurnya aku beritahukan kepada kalian semua:
Dari perspektif diri maupun orang lain, sebenarnya aku tak pernah bersengeketa dengan siapapun, tak ada seorangpun yang memfitnahku, tak ada yang mengucilkanku.

Apa yang aku, Buddha Hidup Lian-sheng, katakan adalah dari dalam hati dan jiwaku. Aku punya Kedamaian Abadi, Kebijaksanaan Tertinggi yang tak tertandingi, semua fitnah dan penolakan juga tak ada yang bisa mempengaruhiku.

Oleh karenanya, ini sama artinya dengan [tak ada seorangpun yang  pernah bersengketa, memfitnah, ataupun menolak diriku.]


[4] Ordo Satya Buddha-ku adalah aliran yang “asli” (otentik).
Karena “tidak ada sektarianisme”. Sektarianisme adalah kamp kecil yang labil.
[Catatan penerjemah: Sektarianisme – adalah pikiran sempit yang melekat pada sebuah partai atau denominasi atau aliran tertentu.]

Gerbang Kristen. Gerbang Katolik. Gerbang Islam. Aliran-aliran Buddhis juga punya banyak pintu gerbang.
Hanya Ordo Satya Buddha saja yang melebur semuanya dengan harmonis dan tidak mengucilkan ordo-ordo lainnya. Kita menerima dan memeluk mereka semuanya.


Alam Dharma banyaknya tak terhingga, begitu juga Satya Buddha juga tak berpintu.

Kemurahan hati-Ku (Buddha Hidup Lian-sheng) juga luar biasa tak terukur.

Sikapku terhadap berbagai agama dan aliran lain adalah:
Menggunakan (agama) dengan efisien; digunakan supaya bisa memberi manfaat; digunakan dengan sebaik-baiknya; digunakan dengan menyesuaikan situasi sehingga tahu manfaat apa yang bisa dipetik darinya.

Aku juga membagikan dharma sesuai dengan kebutuhan (kapasitas) masing-masing individu.


Beberapa orang berkata: “Ordo Satya Buddha ini kultus sesat!”

Namun sejujurnya aku memberitahu semuanya:
Kepada mereka yang perbuatannya jahat dan pandangannya menyimpang, kita perlu menggunakan persuasi yang baik daripada membabi buta menghajar mereka. Justru kelompok-kelompok seperti inilah yang perlu kita ajar dan selamatkan. [Catatan Lotuschef: ini adalah salah satu tugas saya dari Guru – untuk meyakinkan dan membujuk baik pihak Pemfitnah maupun para murid Satya Buddha supaya tidak saling menyerang, terutama hal ini ditujukan kepada Komite Pusat Satya Buddha!]

Ordo Satya Buddha ini memberi manfaat bagi semua insan, juga menyucikan seluruh dunia.

Kalau begitu di manakah yang namanya Jahat? Di manakah si Sesat (thirtika) berada?


[5] Tidak melakukan kejahatan, dan melakukan semuanya yang baik – dengan ini pasti bisa naik ke alam surga. Hampir semua agama juga punya konsep seperti ini.

Tidak melakukan kejahatan, dalam agama Buddha dibagi menjadi lima komponen: Membunuh, Mencuri, Sex yang menyimpang, Berbohong, Minum (minuman keras hingga mabuk).

Kemudian Lima Kejahatan dirubah menjadi Lima Kebajikan, mereka adalah: Pengetahuan, Kebenaran, Minat, Fleksibilitas, Welas Asih – inilah kebajikan dasar dari seorang sadhaka.


Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, berkata:

Tidak melakukan kejahatan, tapi melakukan semua kebajikan – akan naik ke alam surga.

Bila kekacauan tidak mempengaruhi hatinya – maka naik ke Dewachen (Surga Barat/Sukhawati).

Bila Tubuh, Ucapan, dan Pikirannya tersucikan – sama artinya dengan mencapai Kebuddhaan dengan segera.


[6] Melatih Esoterik dan Eksoterik ada sedikit perbedaan:
Eksoterik adalah “mengikuti Dharma dan bukan bergantung pada si individu”.
Esoterik (Tantra) adalah “sesuai dengan Dharma dan si individu yang bersangkutan”.
Ini karena Tantrayana membutuhkan pemberkatan abhiseka dari Guru Akar barulah si praktisi bisa mencapai keberhasilan.


Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, mengenali 3 kelompok orang yang melatih Tantra tapi tak akan mencapai keberhasilan:

Yang pertama adalah yang meragukan dirinya sendiri – ragu bahwa dirinya bukanlah Buddha, mengira dirinya sendiri tak akan bisa menjadi Buddha, ragu kalau dirinya sendiri tak punya potensi untuk menjadi Buddha.

Yang ke-dua, meragukan Gurunya – keraguannya ini akan menyebabkan hilangnya penghormatan dan kepatuhan, tentu saja tak bisa mendapatkan pemberkatan dari sang Guru Akar, dan dengan ini tak akan mendapatkan keberhasilan.

Orang yang ke-tiga, meragukan Dharma Tantra – karena keraguannya ini maka ia tak dapat melatih secara mendalam, dan karena tidak bisa mendalam maka ia tak bisa MENGGUNAKANNYA; oleh karenanya ia melatih dengan sia-sia karena tak ada manfaatnya?


Maka di sini aku menjamin: Mereka yang yakin bahwa dirinya adalah Buddha; juga menghormati Buddha Hidup Lian-sheng Lu Sheng Yen; punya iman yang kokoh pada Dharma Tantra Satya Buddha dan melatihnya sehari sekali, tekun dan tak mundur; tidak ada satupun yang dimelekatinya – pasti akan mencapai Kebuddhaan.


[7] Zen ada sesuatu yang dinamakan {meragukan dan menebak}!

Keraguan besar adalah pencerahan.
Keraguan kecil maka tak tercerahkan.
Tidak ada keraguan maka tak ada pencerahan.

Buddha Shakyamuni mengajak para sadhaka untuk {meragukan dan menebak}, kenapa demikian?

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, menjawabnya:

Di sini, ragu bukanlah akan Diri Sendiri, Guru, ataupun Dharma. Ia adalah pelatihan [Kontemplatif/Merenung]; yang berarti senang mempelajari semua Dharma Buddha beserta filosofi-filosofi di baliknya; mencari tahu dan merenungkannya dengan mendalam sehingga mendapatkan kebenaran yang lebih lengkap dan sejati – dari merenung lalu menginterpretasikannya dan kemudian tercerahkan.


[8] Dharma Buddha begitu luasnya, lalu bagaimana caranya belajar dan melatihnya?

Banyak umat Buddha yang mulai belajar dengan tekun, namun saat memasuki lautan Dharma, mulailah mereka menyadari betapa besar dan luasnya Buddha Dharma – tak terukur, tak terselami, kaget, tak tahu harus mulai dari mana supaya bisa memahami dengan sempurna, akhirnya malah jadi tidak mendengarkan, tak berpikir, tak melatih diri, menyerah di sana, dan tak mau belajar lagi.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, menyarankan:
Saat masih muda – belajarlah sebanyak-banyaknya.
Saat usia pertengahan – dalamilah satu sadhana saja.
Saat usia tua – latihlah saja sadhana untuk terlahir kembali.

Kalau kamu berpikir [Belajarlah sebanyak-banyaknya] sungguh rumit, sehingga tak bisa menyelami Dharma, kenapa tak bertanya saja pada Guru Akar untuk sebuah sadhana, dan kemudian melatihnya sepanjang hidupmu. Mendalami Satu sadhana sudahlah cukup.

Begitu kamu berhasil melatih satu sadhana, artinya sama dengan berhasil melatih semuanya. Oleh karenanya, aku secara pribadi merasa bahwa “mendalami satu sadhana” adalah hal yang terpenting!

Belajar sebanyak-banyaknya tapi tidak dilatih, bagaikan orang yang hanya melihat makanan enak tapi tidak turut memakannya, sama saja tak ada manfaatnya.

Bagi orang tua, selama [hatinya tak kacau] dan melatih sadhana Kelahiran Kembali, itu sudahlah cukup.


[9] Padmasambhava berkata: Hormatilah Gurumu, Hargailah Dharma (yang diajarkannya), dan Berlatihlah dengan tekun.

Aku mengatakan: “Kalau bisa digunakan, baru akan menjadi orang yang tercerahkan!”

Teori Zhi-du mengatakan:
Dharma adalah rute/jalan yang sangat berharga.
Akan menjadi tidak berharga kalau tidak dilatih.
Tapi kalau bisa melatihnya dengan tekun, meski tidak berpengetahuan luas, setidaknya bisa memasuki jalan (dharma) dulu.


[10] Aku sering berpikir, kenapa aku harus melatih diri? Karena aku menyadari:
Pentingnya Hidup dan Mati.
Betapa cepatnya ketidakkekalan datang.

Dan aku, Buddha Hidup Lian-sheng, memahami beberapa Kebenaran dari pengalaman-pengalaman hidup bahwa:
  • Penderitaan berarti: Menderita karena Lahir – Tua – Sakit – Berpisah dengan yang dicintai – Kebencian – Hal-hal yang tak tercapai – Lima indera yang bermasalah [inilah 8 penderitaan].
  • Ilusi berarti: hidup ini tidak nyata atau ilusi belaka.
  • Ketidakkekalan: Bila ada jodoh (afinitas) maka akan Muncul, saat jodoh habis maka akan Menghilang. Semua fenomena ini silih berganti dengan cepat.
Aku memahami [8 Penderitaan Kehidupan] ini, dan “semuanya adalah ilusi”, serta [ketidakkekalan yang datang dengan cepat], supaya bisa mempunyai hati yang suci dan pikiran yang waspada, oleh karenanya aku merasa bahwa [melatih diri] adalah hal yang paling penting di dalam hidup ini.


[11] Dalam bukuku, [Firman-firman Emas dari Lu Sheng Yen], aku pernah menuliskan:
Buddha Shakyamuni memberikan vyakarana kepada Devadatta sebagai pemberkatan akan pencapaian kebuddhaan-nya, dan pada saat yang sama juga berterima kasih kepadanya atas penganiayaannya.

Aku juga sama halnya mengikuti ajaran-ajaran suci Buddha Sakyamuni,

Mengucapkan terima kasih:
Salut kepada para Pendeta Agung atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada orang awam yang besar atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada setan (mara) langit yang agung atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada setan manusia yang besar atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut karena tidak menyalahkan maksud dari para setan yang memberikan berkat.

Dengan tulus aku berterima kasih atas semua pemberkatan yang berkebalikan, bahkan dengan adanya permberkatan semacam itu aku akan menjadi lebih tekun, itulah kenapa hingga hari ini aku bisa menunjukkan hasil dari pelatihan {mengkhususkan diri pada Satu}. Tanpa pemberkatan yang berkebalikan, pasti akan mudah goyah.


[12] “Sadhana Tantra Satya Buddha” selaras dengan tiga rahasia untuk mencapai Kebuddhaan, tiga rahasia tersebut adalah:
  1. Tubuh – selaras dengan mudra.
  2. Ucapan – selaras dengan mantra.
  3. Pikiran – selaras dengan visualisasi.
“Mudra” melambangkan mudra tubuh sang yidam.
“Mantra” menyimbolkan keberhasilan sang yidam dan tingkat harta dharma-nya di saat itu.
“Visualisasi” mewakili isi pikiran dan kekuatan pikiran sang yidam.

Kunci yang terpenting dalam “Tantra Satya Buddha” adalah:
Pertama: Padatkan (fokuskan) berbagai macam pikiran yang bercabang ataupun gangguan menjadi SATU.
Ke-dua: Rubahlah Satu Pikiran menjadi Tiada Pikiran.
Ke-tiga: Pahamilah bahwa Tiada Pikiran itu artinya sama dengan Alam Semesta yang Kosong.

Inilah yang dimaksud,  dari Mudra – Mantra – Visualisasi, kemudian dihubungkan ke dalam Meditasi Samadhi, dan akhirnya mencapai kondisi yang tertinggi yaitu Kebuddhaan. Inilah sadhana tantra Satya Buddha.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, sungguh-sungguh memberitahu semua bahwa dengan [Tantra Tertinggi] di sana ada:
  1. Kesatuan Spiritual – bersih, terang, mengalir dengan mulus (merujuk pada Citarasa Dharma).
  2. Tiada Pikiran – semua elemen kehidupan mengalir kembali (ke arah sebaliknya).
  3. Kekosongan Universal – segera mencapai Kebuddhaan.
Aku merasa bahwa saat aku memegang kendali atas situasi, semuanya berjalan dengan “otomatis”, inilah tantra tertinggi! Saat memasuki Samadhi, “energi” tubuh kita secara alamiah akan mengalir kembali dan menjadi terfokus.

Tinggal di dalam Kekosongan Semesta (Sifat Sejati Buddha), maka sifat sejati diri sendiri akan muncul secara otomatis, menunjukkan sifat kebuddhaan-nya.


[13] Aku ingin mengungkapkan “kunci kebijaksanaan terunggul” ini kepada semua insan sejelas-jelasnya – bahwa sadhana di dalam Tantra terbagi menjadi bagian “awal, inti, dan akhir”.

Bagian yang terpenting adalah bagian sadhana inti.
Ia adalah Visualisasi – Mudra – dan memasuki Samadhi.

Visualisasi: Dengan pikiran menghentikan pikiran-pikiran lain.
Mantra: Mengundang yidam untuk melebur (menyatu) dengan diriku, dan aku kemudian melebur dengan sang yidam.
Memasuki Samadhi: Melebur ke dalam Kedamaian.

Pada bagian Inti, ada banyak kunci-kunci penting yang harus dipersiapkan untuk menuju Kebudhaan sebagai titik akhirnya, mereka adalah {melebur menjadi Satu}, {merubah menjadi Tiada Pikiran}, {menjadi setara dengan Kekosongan Universal}, dan pada akhirnya untuk {mencapai Kebuddhaan dengan segera}.

Kunci-kunci utamaku adalah sebagai berikut:
Nadi dengan nadi saling terhubung.
Qi atau Prana melebur dengan Prana.
Titik-titik Cahaya Bindu saling melebur.
Sinar yang muncul saling bertransformasi.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, dengan [Prana, Nadi, Bindu] dalam tubuhku sendiri, melatih untuk [memasuki arus dharma]; [tinggal di dalam kesucian]; [menjaga penyatuan yang harmonis]; benar-benar menembusi semua nadi internal dan eksternal. Kunci-kunci ini akan aku ungkapkan satu demi satu di dalam buku ini.

===

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom.

Monday, July 30, 2012

Lojong – Tantra Pelatihan Pikiran

Diambil dari Wikipedia
Dibagikan oleh Lotuschef – 26 Juli 2012
Diterjemahkan secara bebas oleh Lotus Nino
Sumber: Lojong – Mind Training Tantrayana

[caption id="attachment_8654" align="aligncenter" width="427"] Arya Atisha Dipamkara[/caption]

 

Lojong (Tib. བློ་སྦྱོང་, Transliterasi Wylie: blo sbyong) adalah praktik pelatihan pikiran dalam tradisi agama Buddha di Tibet. Ia berlandaskan pada koleksi instruksi pendek yang penting, yang dirumuskan di Tibet pada abad ke-12 oleh Geshe Chekhawa. Praktik ini meliputi proses memperbaiki dan menyucikan motivasi dan tindakan si praktisi.

Sekitar 59 atau lebih bait ajaran yang membentuk naskah utama dari praktik pelatihan pikiran ini didesain sebagai sekumpulan obat untuk menawarkan racun kebiasaan pikiran yang tak diinginkan karena akan menciptakan penderitaan. Mereka berisikan baik metode untuk memperluas cara pandang si praktisi terhadap bodhicitta mutlak, seperti “Temukan kesadaran yang telah kamu miliki saat sebelum kamu dilahirkan” dan “Anggap semua yang kamu lihat sebagai sebuah mimpi”, maupun berbagai metode untuk melihat dunia dalam cara yang lebih konstruktif dalam hubungannya dengan bodhicitta, seperti “Bersyukurlah kepada setiap insan” dan “Saat berbagai hal tak terjadi sesuai harapan, anggaplah bencana tersebut sebagai sebuah cara untuk menyadarkan diri.”

Para guru terkemuka yang mempopulerkan praktik ini di Barat meliputi Pema Chodron, Ken McLeod, Alan Wallace, Chogyam Trungpa, Sogyal Rinpoche, Geshe Kelsang Gyatso, dan Dalai Lama ke-14.

 

[caption id="attachment_8656" align="aligncenter" width="387"] Geshe Chekhawa[/caption]

Sejarah Praktik Lojong


Praktik Lojong untuk melatih pikiran dikembangkan selama lebih dari 300 tahun, antara tahun 900 hingga 1200 M, sebagai bagian dari agama Buddha aliran Mahayana. Atiśa (982–1054 M), seorang guru meditasi dari Benggala, umumnya dipercayai sebagai sang pencipta praktik ini. Lojong ini dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Lampu yang Menerangi Jalan Menuju Pencerahan (Bodhipathapradipam). Praktiknya berlandaskan dari hasil pembelajarannya dengan seorang guru yang berasal dari Sumatra, Dharmaraksita – penulis naskah yang berjudul Roda Senjata-senjata Tajam. Kedua naskah tersebut sangat terkenal di dalam terjemahan bahasa Tibet.

Atiśa melakukan perjalanan menuju ke Sumatra dan berguru kepada Dharmaraksita selama dua belas tahun. Ia kemudian kembali untuk mengajar di India, dan pada masa tuanya menerima undangan untuk mengajar di Tibet, di mana ia tinggal di sana untuk menghabiskan sisa hidupnya.

Sebuah cerita mengisahkan Atiśa mendengar bahwa penduduk Tibet sangat menyenangkan dan mudah bersahabat. Namun bukannya senang, ia malah prihatin kalau ia tak akan punya emosi negatif yang cukup untuk melatih sadhana Lojong. Jadi ia membawa serta pembantunya dari Benggala yang pemarah, yang akan terus-menerus mengkritiknya dan yang sungguh merupakan sebuah tantangan bila harus menghabiskan waktu dengannya. Para guru Tibet kemudian sering bercanda, mengatakan bahwa saat Atiśa sampai ke Tibet, ia merasa tidak ada lagi yang perlu diperbuat di sana.

Ayat-ayat mengenai pelatihan pikiran dalam bentuknya yang sekarang ini ditulis oleh Chekawa Yeshe Dorje (1101–1175 M). Menurut salah satu sumber, Chekhawa melihat sebuah naskah di kasur teman sekamarnya yang bertuliskan: “Keuntungan dan kemenangan untuk orang lain, kerugian dan kekalahan untuk diri sendiri”. Potongan kalimat ini sangat mengesankan dirinya dan ia kemudian mencari si penulis Langri Tangpa (1054–1123). Namun saat menemukan bahwa Langri Tangpa telah meninggal, ia kemudian belajar kepada salah satu murid Laring Tangpa, yang bernama Sharawa, selama dua belas tahun.

Geshe Chekhawa diakui telah menyembuhkan penyakit lepra lewat sadhana pelatihan pikiran. Salah satu sumber mengatakan bahwa ia pernah tinggal dengan sekumpulan penderita lepra dan melakukan pelatihan sadhana bersama mereka. Sejalan dengan waktu, banyak dari para penderita tersebut yang sembuh, lalu banyak penderita lain yang berdatangan, dan akhirnya orang-orang yang tidak menderita lepra-pun juga tertarik dengan sadhana tersebut. Kisah populer lainnya mengenai Geshe Chekhawa dan pelatihan pikirannya berhubungan dengan saudaranya dan bagaimana sadhana tersebut mampu mengubahnya menjadi orang yang lebih baik.

 

Naskah Utama


Sadhana Lojong yang asli berisi 59 slogan atau aforisme (doktrin/prinsip). Slogan-slogan tersebut kemudian diatur ke dalam tujuh pembagian, yang dinamakan sebagai “7 Poin Lojong.” Slogan yang telah dikategorikan di bawah ini diterjemahkan oleh Komite Penerjemah Nalanda di bawah arahan Chögyam Trungpa Rinpoche. Di sini ditekankan bahwa slogan-slogan berikut diterjemahkan dari naskah Sansekerta dan Tibet kuno, dan oleh karenanya akan ada sedikit perbedaan dengan terjemahan-terjemahan lainnya. Beberapa slogan bisa saja terasa esoterik (penuh misteri rahasia) atau susah untuk dicerna. Banyak guru dan ahli masa kini yang telah menulis tafsiran yang panjang untuk menjelaskan naskah dan slogan-slogan Lojong. Beberapa dari hasil karya tersebut dapat ditemukan di bagian ‘Notes’ dalam artikel aslinya.

 

Poin Pertama: Pendahuluan, sebagai landasan dari praktik dharma.


Slogan 1. Pertama-tama, latihlah bagian pendahuluan; Empat Pengingat atau disebut juga sebagai Empat Pikiran.

1. Pertahankan keinsyafan diri mengenai betapa berharganya bisa terlahir sebagai manusia.

2. Sadarlah akan kenyataan bahwa hidup akan berakhir; kematian akan menjemput semua orang; Ketidakkekalan.

3. Ingatlah kembali apa saja yang pernah kamu perbuat, baik yang bajik/luhur maupun yang tidak, pasti akan membuahkan hasil; Karma.

4. Renungkan bahwa selama kamu terlalu berfokus pada kepentingan diri sendiri dan berkubang dalam pemikiran apakah kamu baik atau buruk, maka kamu akan mengalami penderitaan. Terobsesi dengan mendapatkan apa yang kamu inginkan dan menghindari apa yang tidak kamu inginkan tidak akan menghasilkan kebahagiaan; Ego.

 

Poin Ke-dua: Praktek Utama, yaitu melatih Bodhicitta.


Bodhicitta Absolut (Mutlak)

Slogan 2. Anggaplah semua dharma layaknya bagai mimpi; meski pengalaman yang didapatkan bisa terkesan solid/nyata, mereka sebenarnya hanyalah memori yang akan berlalu.

Slogan 3. Pahamilah sifat sejati dari kesadaran yang telah ada sejak awal.

Slogan 4. Bebaskanlah dirimu sendiri, bahkan penawar racun itu sendiri pada akhirnya.

Slogan 5. Berdiamlah di dalam sifat sejati alaya, intisari, momen saat ini.

Slogan 6. Pasca meditasi, jadilah seperti seorang anak dari ilusi.

 

Bodhicitta Relatif

Slogan 7. Memberi (mengirim) dan menerima (menanggung) harus dilatih secara bergantian. Keduanya harus bagaikan bernafas (dikenal sebagai: Sadhana Tonglen).

Slogan 8. Tiga obyek, tiga racun, tiga akar kebajikan – Tiga obyek adalah: teman, musuh dan netral. Tiga racun adalah: hasrat/nafsu, kebencian, dan apatis/ketidakpedulian. Tiga akar kebajikan adalah obat penawarnya.

Slogan 9. Latihlah (integrasikan) slogan-slogan di dalam semua aktivitasmu.

Slogan 10. Mulailah dengan mengirim dan menanggung dirimu sendiri.

 

Poin Ke-tiga: Mengubah Berbagai Kondisi Buruk menjadi Sarana Mencapai Pencerahan.


Slogan 11. Saat dunia dipenuhi dengan kejahatan, rubahlah semua bencana menjadi jalan bodhi.

Slogan 12. Arahkan semua penyalahan kepada dirimu sendiri.

Slogan 13. Bersyukurlah pada setiap insan.

Slogan 14. Melihat kebingungan sebagai empat kaya (tubuh) adalah perlindungan shunyata yang tak tertandingi.

Kaya terdiri dari Dharmakaya, sambhogakaya, nirmanakaya, svabhavikakaya. Pikiran tidak punya tempat kelahiran, ia tidak pernah berhenti mengalir, ia tak solid, dan ketiga karakteristik tersebut saling berhubungan. Shunyata dapat digambarkan sebagai “keterbukaan yang gamblang nan sempurna.”

Slogan 15. Empat pelatihan adalah yang terbaik dari metode-metode yang ada.

Empat pelatihan adalah: mengumpulkan pahala, menghindari perbuatan jahat, memberikan persembahan kepada para guru, dan memberikan persembahan kepada para pelindung dharma.

Slogan 16. Apapun yang kamu temui/terjadi padamu secara mendadak, gabungkan dengan meditasi.

 

Poin Ke-empat: Menunjukkan Aplikasi Sadhana di dalam semua aspek dan sepanjang kehidupan si praktisi.


Slogan 17. Latihlah lima macam kekuatan, instruksi inti yang telah diringkas.

Lima macam kekuatan adalah: tekad kuat, keakraban, bibit positif, mampu melihat kesalahan sehingga bisa dibenahi, dan aspirasi (niat/cita-cita).

Slogan 18. Instruksi mahayana untuk melepaskan kesadaran di saat kematian adalah 5 macam kekuatan: caramu dalam melakukannya adalah faktor penting.

Saat kamu sudah sekarat, latihlah 5 kekuatan ini.

 

Point Ke-lima: Mengevaluasi Pelatihan Pikiran.


Slogan 19. Semua dharma akan berujung pada satu titik yang sama – Semua ajaran Buddha adalah mengenai mengurangi ego, mengurangi penyerapan demi diri sendiri.

Slogan 20. Dari dua orang saksi, peganglah yang utama – Kamu lebih memahami/mengetahui dirimu sendiri daripada orang lain.

Slogan 21. Selalu mempertahankan pikiran yang penuh sukacita.

Slogan 22. Bila kamu masih dapat berlatih meski ada gangguan, artinya kamu telah terlatih dengan baik.

 

Poin Ke-enam: Berbagai Disiplin Pelatihan Pikiran.


Slogan 23. Selalu mematuhi tiga prinsip dasar – Berdedikasi pada sadhana yang dilatih, menghindari/tidak melakukan tindakan yang keterlaluan (ofensif), mengembangkan kesabaran.

Slogan 24. Rubahlah perilakumu, tapi tetaplah bersikap netral – Kurangi kemelekatan terhadap ego, tapi tetap jadilah dirimu sendiri.

Slogan 25. Jangan membicarakan kecacatan anggota tubuh – Jangan menikmati/bersenang hati melihat kecacatan orang lain.

Slogan 26. Jangan merenungi orang lain – Jangan menikmati/bersenang hati melihat kelemahan orang lain.

Slogan 27. Bersihkanlah kekotoran yang paling besar terlebih dahulu – bekerjalah untuk mengatasi halangan terbesarmu terlebih dahulu.

Slogan 28. Tinggalkan harapan akan keberhasilan – jangan terlilit oleh pikiran apa jadinya dirimu pada masa yang akan datang, lakukanlah yang terbaik di pada saat ini.

Slogan 29. Hindari makanan yang beracun.

Slogan 30. Jangan menjadi terlalu mudah ditebak – Jangan menyimpan unek-unek.

Slogan 31. Jangan bergossip atau memfitnah orang lain.

Slogan 32. Jangan menunggu untuk menyergap – Janganlah kamu menyerang orang lain setelah menunggunya menunjukkan kelemahannya.

Slogan 33. Jangan membesar-besarkan masalah hingga ke titik yang menyakitkan – Jangan mempermalukan orang lain.

Slogan 34. Jangan memindahkan beban yang diangkut lembu kepada sapi – Bertanggungjawablah kepada dirimu sendiri.

Slogan 35. Jangan mencoba untuk menjadi yang paling cepat – Jangan berkompetisi dengan sesamamu.

Slogan 36. Jangan bertindak dengan maksud lain – Lakukan berbagai perbuatan baik tanpa punya niat lain untuk memberi manfaat bagi diri sendiri.

Slogan 37. Jangan merubah dewa menjadi setan – Jangan gunakan slogan-slogan ini atau kekuatan dharma (spiritualitas)-mu untuk memompa penyerapan demi dirimu sendiri.

Slogan 38. Jangan jadikan penderitaan orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan dirimu.

 

Poin Ke-tujuh: Panduan Pelatihan Pikiran.


Slogan 39. Semua aktivitas harus dilakukan dengan satu niat.

Slogan 40. Benahi semua kesalahan dengan satu niat.

Slogan 41. Dua aktivitas: satu di awal (hari), satu di akhir (hari).

Slogan 42. Salah satu dari keduanya yang terjadi, bersabarlah (dan jangan tinggalkan Bodhicitta-mu).

Slogan 43. Berpeganglah pada kedua hal ini, meski kamu harus mempertaruhkan nyawamu.

Slogan 44. Latihlah dengan tiga macam kesulitan.

Slogan 45. Bersandarlah pada tiga agen utama: guru, dharma, sangha.

Slogan 46. Perhatikanlah supaya ketiga hal berikut jangan sampai hilang: rasa syukur kepada gurumu, rasa menghargai ajaran-ajaran dharma, dan perilaku yang benar.

Slogan 47. Untuk ketiga hal berikut, jagalah supaya tak terpisahkan: tubuh, ucapan, dan pikiran.

Slogan 48. Berlatihlah tanpa prasangka dalam semua hal. Sungguh penting untuk melakukan hal tersebut secara menyeluruh dan sepenuh hati.

Slogan 49. Selalu bermeditasi untuk merenungkan apapun yang menimbulkan kebencian/dendam.

Slogan 50. Jangan sampai termakan oleh bujuk rayu kondisi eksternal.

Slogan 51. Pada saat ini, latihlah poin-poin utama: memprioritaskan orang lain di atas diri sendiri, dharma, dan pembangkitan welas asih.

Slogan 52. Jangan salah mengartikan.

Enam hal yang kamu mungkin salah artikan adalah: kesabaran, mendamba, kegembiraan, welas asih, prioritas dan sukacita.
Kamu bisa bersabar saat semua hal berjalan sesuai dengan keinginanmu, namun saat bertolak belakang maka bersabar adalah hal yang susah.
Kamu mendamba hal-hal duniawi, bukannya mendamba pikiran dan hati yang terbuka.
Kamu gembira akan kekayaan dan hiburan, bukannya akan potensimu dalam mencapai pencerahan.
Kamu bisa berwelas asih pada orang-orang yang kamu sukai, tapi terhadap yang lainnya kamu tidak bisa.
Mendapatkan harta dunia adalam prioritasmu, bukannya melatih cinta kasih dan welas asih.
Kamu bersukacita saat musuhmu menderita, dan tidak bisa bergembira atas nasib baik orang lain.

Slogan 53. Jangan bimbang (dalam melatih sadhana Lojong).

Slogan 54. Berlatihlah sepenuh hati.

Slogan 55. Bebaskan dirimu lewat menelaah dan menganalisa: Pahamilah pikiranmu dengan jujur dan tanpa rasa takut.

Slogan 56. Jangan berkubang dalam mengasihani diri sendiri.

Slogan 57. Jangan iri hati.

Slogan 58. Jangan sembrono dan meremehkan.

Slogan 59. Jangan mengharapkan pujian.

 

Berbagai Tafsiran


Tafsiran yang berkembang di kemudian hari mengenai sadhana pelatihan pikiran ini ditulis oleh Jamgon Kongrul (salah satu pendiri gerakan Rime non-sektarian dalam tradisi agama Buddha Tibet) pada abad ke-19. Tafsiran tersebut diterjemahkan oleh Ken McLeod, awalnya dengan judul Sebuah Jalur Langsung Menuju Pencerahan. Terjemahan ini berfungsi sebagai naskah utama untuk Buku Kebijaksanaan Osho. Di kemudian hari, setelah melalui beberapa kali konsultasi dengan Chogyam Trungpa, Ken McLeod menerjemahkan kembali karya tersebut menjadi Jalan Agung Penyadaran Diri.

Ada dua tafsiran penting terhadap naskah-naskah utama sadhana pelatihan pikiran yang ditulis oleh Geshe Kelsang Gyatso (pendiri Tradisi Kadampa Baru) dan mereka menjadi landasan bagi program-program pembelajaran di NKT Buddhist Centers di seluruh dunia. Yang pertama adalah Welas Asih Universal, yang merupakan tafsiran untuk naskah utama Tujuh Poin Utama dalam Melatih Pikiran oleh Geshe Chekhawa. Sedangkan yang kedua, adalah Delapan Langkah Menuju Kebahagiaan, yang merupakan tafsiran dari naskah utama – Delapan Ayat Pelatihan Pikiran oleh Geshe Langri Tangpa.

Di tahun 2006, Wisdom Publications menerbitkan hasil karya Pelatihan Pikiran: Koleksi Agung (Theg-pa chen-po blo-sbyong rgya-rtsa) yang diterjemahkan oleh Thupten Jinpa. Karya ini adalah sebuah terjemahan dari kompilasi karya tradisional Tibet, yang berkisar dari abad ke-15, dan secara keseluruhan berisi 53 naskah yang berhubungan dengan sadhana pelatihan pikiran. Di antara naskah-naskah ini ada beberapa perbedaan versi mengenai ayat-ayat utamanya, beserta dengan tafsiran-tafsiran awal yang penting dari Se Chilbu, Sangye Gompa, Konchok Gyaltsen, dan lainnya.

Thursday, July 26, 2012

Instruksi Petunjuk yang diberikan kepada si Ibu Tua


Diambil dari:
Treasure from JUNIPER RIDGE
Instruksi Berharga nan Mendalam dari Padmasambhava kepada Dakini Yeshe Tsogyal.
Dicatat dan disembunyikan oleh Yeshe Tsogyal.
Dari wahyu Nyang Ral Nyima Özer, Rigdzin Gödem, Sangye Lingpa, Rinchen Lingpa, Dorje Lingpa, Jamyang Khyentse Wangpo, dan Chokgyur Lingpa.

Diterjemahkan dan disunting oleh: Erik Pema Kunsang & Marcia Binder Schmidt.

Dibagikan oleh Lotuschef – 16 Febuari 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Pointing-Out Instruction to the Old Lady




Saat nirmanakaya, Guru Padmasambhava, diundang oleh Raja Trisong Deutsen dan saat itu sedang tinggal di Samye yang Megah di Batu Merah, seorang Wanita dari Tön yang saleh dan pengabdiannya juga menakjubkan, mengirimkan pembantunya – seorang Wanita bernama Margong, yang juga dikenal dengan nama Rinchen Tso untuk mempersembahkan sarapan pagi yang terdiri dari tahu susu dengan irisan buah anggur.

Lalu, saat sang guru sedang dalam perjalanan-Nya menuju Samye Chimpu, dan saat Beliau sedang melewati gerbang, Wanita Tön ini bersujud di tengah jalan dan berjalan mengitari  Beliau, sambil beranjali di hadapan-Nya, ia berkata: Guru yang agung, kasihanilah aku. Engkau sudah hampir pergi, dan aku, si ibu tua ini juga sudah mau tutup usia.

Pertama-tama, karena aku terlahir sebagai seorang wanita, aku masuk dalam kalangan kelahiran dengan derajat rendah. Karena perhatianku selalu teralihkan oleh berbagai aktivitas, aku lupa akan Dharma. Kedua, karena kecerdasanku yang rendah, akal pikiranku juga lemah. Ketiga, aku merasa kabur karena sudah tua dan pikiranku juga keruh.

Guru yang mulia, kasihanilah aku, berikanlah kepadaku si ibu tua ini sebuah ajaran yang tak sulit, mudah dicerna dan diaplikasikan, serta sangat efektif. Mohon anugerahkanlah sebuah instruksi untuk seorang ibu tua yang umurnya sudah tak panjang lagi.

Sang guru menimpalinya: Ibu tua, siapakah kamu?
Si ibu tua menjawab-Nya: Aku adalah orang yang selalu mengirimkan seorang pelayan untuk mempersembahkan semangkok dadih.
Sang guru dengan penuh sukacita berkata: Wah kamu sungguh seorang yang punya pengabdian lebih besar dibanding Trisong Deutsen.

Lalu Beliau memberikan instruksi kepada si ibu tua bersama dengan pembantunya dengan kata-kata berikut: Ibu tua, duduklah dengan tegap dan silangkan kakimu. Untuk sementara waktu, tenangkan pikiranmu sepenuhnya.

Sang guru mengarahkan jari-Nya ke arah hati si ibu tua tersebut dan memberikan instruksi berikut: Ibu tua, dengarkanlah aku. Bila kamu ditanya apa bedanya antara pikiran para Buddha yang benar-benar sempurna dengan pikiran insan dari tiga alam (triloka), sebenarnya tiada lain terletak pada antara menyadari dan tidak menyadari sifat sejati dari pikiran.

Karena para insan yang berperasaan gagal menyadari sifat sejati ini, maka khayalan muncul dan dari kebodohan ini berbagai jenis penderitaan akan muncul juga. Beginilah makanya para insan berputar-putar di dalam samsara. Sebenarnya bahan baku kebuddhaan ada di dalam diri mereka, namun mereka gagal mengenalinya.

Pertama-tama, bahan baku kebuddhaan ada di dalam dirimu. Lebih khususnya, bahan baku tersebut ada pada manusia yang telah mendapatkan kebebasan dan kekayaan. Lebih lanjut lagi, bukannya berarti para pria berkelimpahan bahan baku kebuddhaan ini, sedangkan para wanita kekurangan. Jadi, meski kamu terlahir sebagai seorang wanita, kamu tidak terhalangi untuk mencapai kebuddhaan.

Pintu-pintu Dharma yang banyaknya 84,000 ini telah diajarkan supaya bisa mengenali dan menyadari pikiran kebijaksanaan para buddha, tapi untuk memahaminya perlu instruksi tiga kata kunci dari seorang guru. Jadi, meski kecerdasanmu rendah dan pikiranmu juga dangkal, kamu tidak dirugikan.

Kini, arti dari Dharma, pikiran buddha, dan instruksi tiga kata kunci dari sang guru adalah sebagai berikut: Dengan memurnikan obyek-obyek yang dilihat/dipahami secara eksternal, persepsimu akan terbebaskan (catatan penerjemah: tidak terpaku) dengan sendirinya. Dengan memurnikan pikiran yang melihat/memahami yang berada di dalam (internal), maka kesadaranmu yang tak melekat akan terbebaskan dengan sendirinya. Karena kesadaran yang terang cemerlang di antara keduanya begitu menyenangkannya, maka kamu mengenali sifat sejati dirimu sendiri.

Bagaimana caranya obyek eksternal yang dilihat bisa dimurnikan? Kesadaran yang sudah ada ini, kondisi pikiran yang telah tercerahkan, tidak terkotori oleh pikiran dan melihatnya sebagai kecemerlangan alami. Biarkanlah seperti itu adanya, dan obyek dilihat/dipahami tanpa melekat padanya. Dengan cara ini, bagaimanapun penampakan muncul, mereka sebenarnya tidak nyata dan tidak dianggap sebagai hal-hal yang aktual (nyata). Jadi, apapun yang kamu lihat, baik itu tanah ataupun batu, gunung ataupun tebing, tanaman ataupun pohon, rumah ataupun kastil, barang ataupun peralatan, teman ataupun musuh, anggota keluarga ataupun pasangan, suami ataupun istri, anak laki ataupun anak perempuan – terhadap semuanya itu dan hal-hal lainnya – kamu tidak turut campur tangan dalam sikap mengklaim kepemilikan; jadi mereka dilihat/dipahami namun tidak diperlakukan dengan cara seperti itu. Bila terbebaskan dari kemelekatan terhadap apapun juga, maka kamu akan termurnikan dari obyek-obyek yang kamu lihat secara eksternal.

Obyek-obyek yang dimurnikan bukan berarti kamu berhenti melihat/memahami. Arti sebenarnya adalah tidak melekat dan pada saat yang bersamaan selalu terang cemerlang nan kosong. Contohnya adalah pantulan dalam sebuah cermin, mereka punya penampakan namun kosong karena tidak ada yang bisa diraih, dan persepsimu ini disebut sebagai “persepsi yang muncul terhadap dirimu sendiri”.

Dengan sarana pikiran di dalam yang melihat yang dimurnikan, berikut adalah instruksi untuk membebaskan kesadaran yang tak melekat di dalam kesadaran itu sendiri: Apapun yang muncul di dalam pikiranmu – aliran pikiran, memori ingatan, atau lima emosi yang beracun – saat kamu tidak berfokus padanya, maka gerakan pikiran tersebut akan hilang dengan sendirinya; oleh karenanya kamu tidak terkotori oleh kekeliruan berpikir.

Sempurna di dalam bukan berarti menjadi batu yang diam kaku. Ia berarti kesadaranmu selalu terbebas dari kecacatan dalam berpikir, analoginya adalah seperti pergi ke sebuah pulau yang terbuat dari emas; di dalam pulau emas ini, tidak ada yang namanya “batu”. Dengan cara yang sama, saat pikiranmu melebur ke dalam kesadaran asal, bahkan tidak ada yang namanya “pikiran”.

Karena kesadaran yang terang cemerlang di antara keduanya begitu menyenangkannya, berikut adalah instruksi untuk mengenali sifat sejati dirimu: Saat melatih diri, bebas dari ketidaktahuan, kesadaran dirimu jernih, murni, dan sepenuhnya sadar. Saat melatih diri, kamu akan mengalami bahwa kesadaran bawaanmu yang telah ada dari sejak awal itu tak terkotori oleh sikap dengan suatu konsep tertentu ataupun melekat pada kenikmatan, kecemerlangan, ataupun tiada pikiran. Karena itulah yang disebut sebagai pikiran buddha, maka kamu telah mengenali sifat sejatimu sendiri.

Kira-kira contohnya seperti kamu tidak perlu membayangkan bahwa ibumu sebagai ibumu, karena kamu tidak punya ketakutan bahwa dia ternyata bukan ibumu. Dengan cara yang sama, saat kesadaranmu mengenali ia adalah sifat sejati dari dharmata yang sudah ada sejak awal, maka kamu tidak akan lagi salah membayangkan bahwa fenomena samsara adalah sifat sejati – bahkan tanpa mengetahuinya sekalipun, kamu tidak pernah terpisahkan dari sifat sejati dharmata ini.

Karena ini yang disebut sebagai pelatihan tanpa sandiwara (tidak dibuat-buat), bunda dharmata adalah kenyataan bahwa semua fenomena tidak punya sifat sejati; tempat tinggal dharmata adalah pengenalan bahwa semua fenomena tidak punya sifat sejati; dan disebut “dirimu sendiri yang mengenali kesejatian dirimu” berhubung kamu mengenali bahwa kesadaranmu adalah ruang dharmadhatu yang sudah ada dari awal.

Begitu kamu telah mengenalinya, maka tidak ada lagi yang namanya kelahiran yang unggul ataupun rendahan, tak ada lagi aktivitas yang mulia maupun rendahan, tak ada lagi akal pikiran yang tajam ataupun tumpul, tak ada lagi kecerdasan tinggi ataupun rendah, tak ada lagi pengetahuan yang luas maupun sempit, tak ada lagi umur panjang ataupun pendek, tak ada lagi pikiran yang jernih maupun keruh.

Inilah sebuah instruksi dengan tingkat kesulitan yang rendah dan mudah dipahami, juga mudah untuk diaplikasikan serta sangat efektif, dengannya kamu tidak akan ketakutan saat ajal menjelang. Ibu tua, latihlah instruksi ini! Tekunlah selalu, karena waktu berjalan terus! Kamu tidak mendapat penghargaan dengan menjadi budak bagi suami dan anakmu, jadi jangan pulang dengan tangan kosong, tapi bawalah selalu bekal instruksi dari gurumu ini! Tugas-tugas dalam hidup ini tidak ada habisnya; jadi capailah kesempurnaan dalam praktek meditasimu!

Ibu tua, simpanlah nasihat ini sebagai temanmu sehingga kamu tidak takut lagi di saat kematian telah datang menjemput!



Begitulah yang mulia membabarkan. Dan karena sang guru memberikan instruksi ini sambil menunjukkan jari-Nya ke hati ibu tua tersebut, maka ini dikenal sebagai “Instruksi Petunjuk yang diberikan kepada si Ibu Tua.” Saat mendengarkannya, si ibu tua dan pelayannya mendapatkan pembebasan dan keberhasilan

Putri Tsogyal dari Kharchen menuliskan ajaran ini demi memberi manfaat bagi generasi-generasi mendatang. Instruksi ini ditulis di lereng Samye sebelah selatan, pada tanggal tujuh belas bulan musim panas kedua tahun Kelinci.


Disembunyikan sebagai harta terma demi generasi-generasi mendatang,
Semoga terma ini bertemu dengan manifestasi yang layak!
Semoga terma ini mengajar para insan dengan cara-caranya yang sesuai!
Dengan ini, semoga mereka yang telah ditakdirkan akan membebaskan aliran kesadaran mereka!

SEGEL, SEGEL, SEGEL. ÷


Thursday, July 5, 2012

Lotuschef Bercakap-cakap – Sheng-ji Fa (Sadhana Perbaikan Nasib)

Ditulis oleh Lotuschef – 26 Juni 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Conversation – 生基法 Chance of Better Life Method

 

24 Juni 2012 – Guru di Vajragarbha Pelangi, Seattle, menjelaskan cara melaksanakan sadhana Sheng-ji fa. Videonya dapat dilihat di sini.

Hahaha! Bagaimanapun klaim mereka, para murid dari tingkatan manapun yang melakukan sadhana di atas sebelum mendapatkan pemberkatan transmisi dari Guru, artinya mereka tidak pernah mendapatkan ajaran ini dari Guru ataupun didukung atau diberkati untuk melakukannya.

 

JH bertanya: Fashi, Long Pao Sheng Ji Fa ini sadhana apa? Vas Harta Raja Naga? Mereka tahu cara menarik orang-orang lewat faktor keserakahan mereka akan kekayaan. Sungguh fakta yang menyedihkan.

 

SURAT BALASAN:

[--- Long pao = rompi naga. Sheng-ji fa = sadhana perbaikan nasib.

Mereka mengklaim bahwa Guru menghadiahkan dan memberkati rompi naga untuk mereka supaya bisa mengumpulkan dana untuk membangun rumah ibadah.

Tapi di hari itu Guru bilang Beliau tidak pernah mengajarkan sadhana ini sebelumnya dan orang-orang malah melakukannya untuk mengumpulkan uang!

Sama halnya dengan fengshui, Tak ada satupun murid yang pernah memohon belajar ilmu ini dari Guru tapi semua mengaku kalau belajar dari Guru dan didukung oleh Guru!

Saat Guru bertanya kepada beberapa orang dari mereka, mereka berkata kalau belajar ilmu ini dari leluhur mereka!

Kalau melihat nada suara Guru waktu itu, kita pasti tahu Beliau tidak mempercayai mereka!

 

Wah sungguh inovatif, mereka menggunakan rompi naga untuk melakukan sadhana ini, padahal syaratnya harus butuh Qi (energi angin) dari Naga – harus dari nadi naga yang hidup dan Qi-nya berkumpul di suatu titik tertentu.

Menurut saya? Rompi naga hanyalah sebuah POTONGAN kain belaka.

Ini beda dengan nadi naga yang hidup, qi dalam potongan kain tidak bisa bergerak terus-menerus atau malah sama sekali tidak bergerak. Mana bisa menggunakan hiasan bordir naga! Sadhana ini tidak menggunakan seekor naga yang mati atau palsu!

 

Hahaha! Guru juga tidak mengajariku fengshui. Aku telah bilang berkali-kali di dalam blog.

Beliau juga tidak diam-diam mengajariku sheng-ji fa.

Jadi itu kira-kira hanya “perasaanku” saja saat mendengar ceramah dharma Guru di hari Minggu.

Aku juga telah membahas Roda Dharma, saat aku menjelaskan lebih detil mengenai hal tersebut di acara di Indonesia nanti, kamu semua akan paham apa itu Aliran Energi atau Aliran Qi. Aliran Qi itu terlihat hidup.

 

Jadi dari opiniku dan apa yang dikatakan oleh Guru, mereka sebenarnya sama sekali tidak paham fengshui!

Biaya yang harus dikeluarkan untuk sadhana ini adalah $600 per nama dan totalnya bisa meraup sekitar $400,000.

Wah mereka pikir Guru tidak tahu mengenai hal ini.

Tapi ada batas di mana Guru tidak akan menutup mata-Nya terus.

Salam, sayang. ---]

 

Teman-teman pembaca yang terkasih, persyaratan yang dibutuhkan untuk melakukan sadhana itu adalah biodata, potongan kuku jari tangan dan kaki, setetes darah kalian dan potongan kain dari baju yang telah kalian pakai dan belum dicuci.

Ingatkan kalian kalau saya pernah menyarankan supaya jangan memberikan biodata kalian kepada siapapun?

Sadhana di atas, bila tidak dilakukan dengan benar untuk kalian, maka seperti kata Guru, malahan kondisi kalian yang akan memburuk.

Jadi memang sebenarnya tak perlu melakukan ini kalau kalian melatih diri dengan tekun sesuai arahan Guru.

Kalian bisa mengendalikan nasib kalian sendiri!

Bila demikian, kenapa mencari hal-hal eksternal? :)

 

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Monday, July 2, 2012

Proyeksi Astral - Boddhicitta 3

Artikel asli ditulis oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 14 Maret 2012

Tautan ke artikel tersebut :

Diterjemahkan oleh Lotus Junhao



Visualisasi 4 Batin Yang Tak Terhingga (Apramana)

Mari saya ulas balik lagi.

Anda memvisualisasikan Silsilah Satya Buddha

Namo Buddha Vairocana

Namo Buddha Locani

Namo Padmakumara

Namo Buddha Hidup Lian Sheng

Mereka semua memancarkan sinar kepada setiap orang yang Anda visualisasikan hadir bersadhana dengan Anda.

Visualisasikan mereka menjadi bersinar dan kemudian berubah menjadi titik-titik sinar.

Sebenarnya petunjuk dari Guru untuk hal ini sangat jelas, kemudian kelompok terakhir yang Anda undang yakni para insan di 6 Alam yang mencakup Dewa, Manusia, Asura, Hewan, Hantu Kelaparan dan para insan di Neraka.

Hehe! Semuanya disana?

Ketika Anda dapat memvisualisasikan sedemikian banyak maka kekuatan proyeksi astral Anda tentu saja hebat!

Semua ini mungkin dilakukan dengan adanya Boddhicitta!

Anda berbagi kebaikan pemberkatan Enerji Semesta dengan semuanya dan hal ini dapat dilakukan karena kita telah bersarana dengan Ordo Satya Buddha.

Ah! Sekarang, apakah teman-teman menyadari apa yang telah diajarkan oleh Guru sedari awal?

Pelajari dasar-dasar dan kemudian gunakan untuk memberikan manfaat bagi Anda dan juga bagi para insan lainnya.

Dengan melakukan ini juga membantu Anda berteman dengan setiap orang dan Anda akan menemukan bahwa jalan Anda menjadi mulus dan Anda dapat menolong lebih banyak insan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat oleh Anda.

Kenapa mengejar sesuatu sukar yang dinamakan Kekuatan Dharma saat Anda tidak tahu apa itu sebenarnya Kekuatan Dharma?

Setiap langkah di dalam praktik Sadhana yang diajarkan oleh Guru jika dilakukan dengan baik maka dapat membantu teman-teman kepada Pencerahan dan keBuddhaan, setujukah teman-teman?

Selamat melatih diri ya!

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016

Wednesday, April 25, 2012

Jodoh

Ditulis oleh Lotuschef – 22 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Affinity

 



[Diambil dari facebook Aaron Fernandez]

Mahaguru Sheng-yen Lu

Dalam hidup saya,  saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang tidak memanfaatkan khalayak.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang tidak membohongi khalayak.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang tidak sombong dan egois.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang punya pemahaman nan agung.

Saya belum pernah bertemu dengan seorang Guru yang baik hati dan berwelas asih.

Saya benar-benar belum pernah bertemu dengan seorang Guru hingga akhirnya saya bertemu dengan-Mu dan mulai memahami Buddha Dharma.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Perasaan-perasaan kita berakar dari jodoh banyak kehidupan lampau dan kemelekatan pada kehidupan kali ini. Oleh karenanya kita tidak perlu melakukan perhitungan akan jodoh baik ataupun yang buruk.

Selama kita memperlakukan semua orang dengan ketulusan, kita akan tetap suci bagaikan bunga-bunga teratai yang tak terkotori oleh lumpur.

(Kutipan dari Buku Guru Lu: Bepergian Dengan Hatimu)
[Diterjermahkan ke Bahasa Inggris oleh tim Padmakumara, didesain oleh yamantaka999]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Sore tadi saya mengobrol dengan Guru tentang Jodoh.

Saya menerima sebuah email di jam 16:04 dari seorang murid, si R, yang memberitahu saya mengenai anak laki-lakinya, Duncan, yang melihat Kalachakra. Oh ya, Duncan memang kelihatan seperti seorang Buddha kecil, jadi tidak heran juga kalau dia bisa melihat Kalachakra.

Hahaha!

 

Kemudian saya menunjukkan kepada Guru beberapa murid yang merupakan murid saya pada kehidupan lampau. Beliau menunjukkan beberapa lainnya lagi kepada saya.

Saya lalu membuat sumpah untuk tidak mengangkat murid dalam kunjungan saya kali ini ke alam samsara. Biarlah mereka semua berlindung (bersarana) kepada Guru saja.

Guru sebelumnya pernah bilang kalau mereka yang telah ditahbiskan lebih dari sepuluh tahun boleh menerima (mengangkat) murid.

Tapi saya hanya berharap untuk hidup di sisi Guru, selama Guru hidup.

 

Petikan bait dari Aaron Fernandez semuanya telah dijelaskan dalam kutipan artikel Guru di atas.

Adalah Jodoh yang membawa kita semua bersarana kepada Guru. Percayalah bahwa kebanyakan dari kita memang punya jodoh yang panjang dan mendalam lebih dari satu kehidupan lampau.

Bagi banyak orang, mungkin terlihat tidak adil kalau para Buddha saat mereka mengunjungi alam samsara muncul sebagai para guru besar ataupun kaisar.

Seperti yang Buddha sendiri katakan: Semua alam semesta ini adalah milikku!

 

Ada fakta yang paling penting: bahwa setiap individu bisa menjadi seorang Buddha bila mereka punya Jodoh dan melatih diri dengan benar.

Pertama-tama, selesaikan dulu semua pengaruh Karma dan selamat melatih diri dengan bimbingan Guru!

:)

 

[Saya bagikan sudut pandang baru mengenai Retret kepada teman-teman sekalian.

Tidaklah perlu bersembunyi di gua-gua yang jauh dari peradaban atau mengunci diri di dalam ruangan dan menjauhkan diri dari banyak orang.

Selama orang bisa tinggal dalam kondisi Samadhi yang abadi (terus-menerus), maka Retret ya kira-kira sama artinya dengan hal di atas dan semuanya benar-benar bergantung pada pola pikir praktisi yang bersangkutan.

Saya harap tulisan-tulisan saya ini tidak membuat pusat-pusat Retret tutup karena bisnisnya menurun! Hehe!]

 

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Monday, April 23, 2012

Berbicara kepada Mahaguru – Sebuah Dorongan

Ditulis oleh Lotuschef – 20 September 2011
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 20-9-2011 Talk to GM – Encouragement

 

[Dari kiriman email: Merindukanmu.

Selasa, 20 September 2011 – 9:36 AM

 

Ven Lotuschef yang terkasih,

Hari ini saya tiba-tiba merasa sangat reflektif (merenung). Bisa merasa kalau hidup ya hanya seperti ini.

Saya beruntung telah berlindung (bersarana) kepada Mahaguru Lu, dan dengan berkat-Nya setidaknya hidup saya lebih beruntung daripada lainnya.

Setelah bertahun-tahun bersarana, saya baru saja menyadari bahwa saya juga bisa Berbicara kepada Guru melalui patung (pratima)-Nya. Kini Beliau bisa menjadi sandaran curhatan saya juga. Dan pada saat yang bersamaan saya mendapatkan jawaban yang saya cari selama sepuluh tahun belakangan ini.

Untuk ini, saya sungguh-sungguh berterima kasih kepada Venerable. Saya banyak belajar dari Anda.

Blog Anda benar-benar memberi saya kesempatan untuk merenung, menganalisa dan melakukan pendekatan dengan lebih jujur dan mendalam.

Meski saya tidak bisa menulis dan mengekspresikan komentar-komentar yang mendalam seperti yang dilakukan oleh Steven Thung, tapi dari lubuk hati saya yang mendalam, blog Anda seperti Koran Mingguan Satya Buddha, yang menghibur saat saya dilanda kesedihan.

Di sini saya mendoakan Anda agar tetap bisa melanjutkan karya-karya Anda dengan baik, terus membuka pikiran para insan.

Di dalam hati, Anda selamanya menjadi idola saya!

Salam

Amituofo ---]

 

Wah email ini sungguh menyentuh saya.

Juga memberi saya dorongan untuk tetap tekun dalam suasana apapun.

Hahaha! Saya SUKA MAKANAN MANIS!

Kadang saya juga butuh KATA-KATA MANIS, dan khususnya untuk seorang bocah teratai, saya butuh HAL-HAL MANIS!!!

Saya sungguh bahagia ada orang yang mendengarkan dan mampu BERBICARA KEPADA GURU secara pribadi.

Ini yang paling membuat saya bahagia!

 

Amituofo
Lama Lotuschef
Pure Karma
True Buddha School

Friday, April 20, 2012

Guru Akar – Kunci untuk Terhubung dengan Alam Semesta

Ditulis oleh Lotuschef – 18 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Root Guru – Your Key to the Universe

Bagian kedua : Guru Akar – Kunci untuk Terhubung dengan Alam Semesta [2]





“Kesetiaan yang terus-menerus akan memberkahi kita dengan kedamaian dan kepuasan yang abadi. Hanya dengan menyebut nama guru spiritual kita saja sudah akan mengubah medan persepsi kita. Menvisualisasikan beliau di atas kepala kita bahkan hanya sesaat saja akan menghapus semua tabir ilusi.
Pengabdian yang seperti ini bagaikan cincin yang membuat kait welas asihnya mampu menarik kita dari rawa samsara.”

- Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche -


Picture taken 13 April 2013




Apa arti Guru Akar bagimu?

Dalam Tantrayana, Guru Akar adalah ia yang mampu menghubungkanmu dengan Alam Semesta!

Tiap kali kamu bersadhana, pastikan untuk mengundang kehadiran Guru Akarmu sehingga ia memberkati dan memandumu dari awal hingga selesai.

Saya menerima banyak undangan untuk acara yang menggunakan adinata (dewata) “besar” untuk menarik peserta, ya boleh dikatakan begitu.

Tapi saya heran kalau adinatanya adalah Guru Akar malah tidak banyak yang hadir.

Kehadiran juga seringkali bukan prioritas utama bagi si penyelenggara acara.

Mereka malah mengutamakan pendapatan dari hasil penjualan paket persembahan dan kadang malah dari hasil penjualan/lelang fu. Lihatlah harga yang dipatok untuk paket-paket persembahan, masing-masing sekitar $300-500. Selembar fu kadang berkisar antara $3000 hingga $8000. Saya ingat ada beberapa yang dilelang hingga lebih dari $ 10,000 dengan klaim bahwa fu-fu tersebut membawa keberuntungan besar.

Ingatlah bahwa fu-fu tersebut tidak digambar oleh Guru Akar kita. Dan juga ada beberapa yang mencurangi acara lelang tersebut – mereka mulai dengan menawar $3000 atau $5000 dan melepas fu tersebut kepada orang lain yang tak dikenal setelah nilainya didongkrak di atas batas tertentu oleh para “orang dalam”.

Hahaha! Gila benar-benar praktek busuk dan seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pelatih diri. Panitia viharapun seharusnya juga tidak mendukung hal demikian.

Sungguh saya katakan tidak perlu membeli paket-paket yang mahal, karena SEMUANYA BERASAL DARI KETULUSAN HATI KITA SAAT MELAKUKAN PELIMPAHAN PAHALA DAN MEMBERIKAN PERSEMBAHAN!

Namun kebanyakan orang salah paham. Mereka pikir mereka butuh kekuatan dharma atau kekayaan dari pemberkatan yang diberikan oleh para adinata upacara.

Teman-teman harus sadar! Saat Guru Akar tidak hadir dan pemimpin upacara tidak bisa mengundang dan menyatu dengan Guru Akar terlebih dahulu dan kemudian dengan adinata utama yang bersangkutan, maka upacara tersebut hanyalah drama tontonan dan sungguh-sungguh menyia-nyiakan sumber daya.

Guru bilang kalau pemimpin upacara tidak bisa beryoga atau menyatu dengan adinata, maka dia tidak bisa (tidak boleh) memberikan pemberkatan maupun transmisi abhiseka sama sekali.

Semuanya terserah pada teman-teman mau mendengarkan Guru Akar atau tidak.

Mohon maksimalkan dan jangan sia-siakan waktu dan sumber daya kalian karena menyusuri jalan yang panjang dan salah pula.

Kita semua pada akhirnya menyusuri jalan yang sama ke Samsara atau Nirvana.

Pilihlah dengan bijaksana.

:)

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Alasan Bagus untuk Melatih Diri

Ditulis oleh Lotuschef – 18 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: A Good Reason to Cultivate

Yang Mulia Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche

“Kalau kamu benar-benar ingin memberi manfaat kepada para insan, langkah pertama adalah dirimu harus telah mencapai realisasi (keberhasilan). Pertama-tama dewasakanlah pikiranmu sendiri, karena bila tidak maka kamu tidak akan mampu menolong para insan. Kamu tak mungkin bisa memberi air kepada orang lain kecuali punya kendi yang berisi air. Saat ia kosong, kamu mungkin bisa membuat gerakan menuang, tapi tidak ada air yang keluar darinya.”

- Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche -

---

Pola pikir mau menolong para insan lain adalah faktor yang sangat penting di dalam pelatihan diri.

Kutipan di atas adalah kata-kata yang sungguh berharga dan perlu selalu diingat, teman-teman setuju?

Kalau kita tidak melatih diri dengan baik, bagaimana bisa punya sumber daya untuk menolong insan lain?

Bagaimana caranya bisa memberi kalau tak ada yang bisa diberikan?

Kalau teman-teman sungguh ingin menolong insan lain, kini mulailah dengan mempelajari berbagai fondasi dan dasar-dasar yang diperlukan.

Nantinya kita akan paham bahwa dengan fondasi yang bagus akan ajaran-ajaran Buddha, pelatihan diri kita akan melaju pesat. Tentu saja perlu pola pikir “mau belajar” untuk bisa menolong orang lain; “menanam” untuk memberi makan yang lain; “mengalami” supaya bisa memandu yang lain; .......

Selamat berpetualang!

:)

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Monday, April 16, 2012

Abhiseka Pemberkatan Tersalurkan?

Ditulis oleh Lotuschef – 14 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Empowerment Transferred/Transmitted?

 

[caption id="attachment_3663" align="aligncenter" width="363" caption="Yang Mulia Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche"][/caption]

“Ini adalah sebuah contoh kebodohan: ia yang tidak punya pemahaman akan suatu ajaran tapi malah berpikir telah memahaminya dan bahkan mencoba untuk mengajar orang lain. Bersama dengan pelanggaran samaya, hal-hal ini semua harus dihindari.”

- Kyabje Dilgo Khyentse Rinpoche -

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ini yang saya ingat jaman masih muda dulu waktu menghadiri misa di gereja Katolik:

Dalam Nama Bapa, Putra & Roh Kudus… jangan biarkan kami masuk dalam Cobaan namun bebaskanlah kami dari yang Jahat.

[caption id="attachment_3714" align="aligncenter" width="315" caption="Tritunggal Maha Kudus"][/caption]

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Saya ingat hal-hal ini setelah menonton mereka yang berjalan melewati bendera abhiseka pemberkatan di Vajragarbha Caotun hari ini (Sabtu, 14 April 2012).

Bahkan para Penyebar Dharma tingkat atas juga berjalan dengan Pikirannya atau Perhatiannya entah berada di mana!

Bagaimana kita bisa berharap mayoritas murid tidak mengikuti teladan mereka?

Ajaran Guru mengenai Visualisasi, Mudra dan Mantra jadi terabaikan lagi!

Jalan Bodhi memang bukanlah jalan yang mudah untuk membimbing para insan, dan jauh lebih susah lagi untuk memastikan agar mereka selalu tetap fokus.

:)

 

Bodhicitta Aspirasi Guru untuk menyelamatkan para insan tanpa meninggalkan satupun sungguh benar-benar welas asih yang agung.

Kenikmatan Agung yang Sejati yang dijelaskan oleh Guru hari ini, hanya dapat dicapai lewat pelatihan diri yang tekun.

Beliau juga membahas mengenai cara mengubah bodhi merah dan putih menjadi sarira.

Bagaimana?! Teman-teman harus melatih TIADA KEBOCORAN!

 

Lalu  berapa banyak dari mereka yang berjalan melewati Bendera Abhiseka Pemberkatan sungguh-sungguh mematuhi ajaran Guru?

Dari apa yang dilihat hari ini dan sesi-sesi lainnya, masih banyak yang harus Kembali Belajar Ajaran-ajaran Dasar.

Dari dalam hatimu, tanyakanlah pada dirimu sendiri, apakah kamu berpura-pura atau benar-benar mematuhi ajaran Guru saat sedang menerima Transmisi Abhiseka Pemberkatan?

 

Teman-teman sedharma yang terkasih, marilah kita semua tidak membiarkan mereka yang tidak memahami ajaran-ajaran Guru untuk “memasukkan kita ke dalam cobaan dan kejahatan” yang sama artinya dengan melanggar Samaya!

 

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Thursday, April 12, 2012

Bodhicitta – Pelimpahan Pahala Kebajikan

Ditulis oleh Lotuschef – 8 April 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Boddhicitta – Dedication of Merits

 

[Silakan baca: Ceramah Dharma Pertama di Vajragarbha Seattle, 7 November 2009]

Di artikel tersebut, saya bagikan cara visualisasi untuk mengubah semua insan menjadi Padmakumara. Ini sekitar bulan Maret 2007, kira-kira tujuh bulan setelah saya berlindung (bersarana) kepada Ordo Satya Buddha dan sebelum saya ditahbiskan sebagai lhama.


Ini semua berasal dari visualisasi Empat hati yang tiada berbatas (apramana) – yang merupakan Bodhicitta, mau berbagi cara melatih diri dan pengetahuan dengan semua insan.


Guru juga menanggapi bahwa hal ini merupakan pola pikir Mahayana dan dengannya dapat mencapai Kebuddhaan.


[Baca juga: Selangkah Demi Selangkah Mulai Terbangunkan]

 

Ada teman murid yang memilih untuk mengikuti perkataan orang lain yang memberitahunya supaya melimpahkan semua jasa pahala dari sadhananya untuk dirinya sendiri dahulu, dan saat telah berhasil baru dia bisa melimpahkan untuk semua insan.


Kalau Anda juga punya pola pikir semacam ini, maka saya sarankan Anda untuk kembali memikirkan tujuan dari visualisasi empat apramana, sumpah dan ayat-ayatnya yang diajarkan oleh Guru…


Apa tujuan Beliau mengajarkan Anda ini semua?


Bodhicitta!


 

Coba saya tanya, menurut Anda sampai kapan Anda baru akan siap untuk melimpahkan pahala-pahala sadhana Anda untuk para insan?



Ada teman murid yang datang dan memancarkan aura yang sangat gelap, dan setelah 3x mengikuti sesi sadhana bersama, aura gelapnya berkurang hingga 80%. Tapi sungguh sayang dia terpengaruhi oleh orang lain yang membuatnya tidak mau menghadiri sesi sadhana bersama di Pure Karma lagi.


Tapi saya sungguh berharap bahwa dia bisa terus tekun bersadhana dan memenuhi janjinya untuk setidaknya melimpahkan jasa pahalanya bagi para musuh karmanya.



Di dalam Tantrayana, Anda melatih pola pikir bahwa ANDA sudah menjadi seorang Buddha!


Anda mencari tahu berbagai macam karakteristik Buddha dan melatih diri menurut hasil riset tersebut.


Saat Anda mengedepankan Diri Sendiri di atas hal/insan lain, maka Anda sendiri akan kesulitan untuk MELEPASKAN DIRI (EGO)!



Pikirkan siapa yang membantu membuang 80% aura gelapmu dalam tiga sesi sadhana?


Hanya Buddha Hidup Lian Sheng, Guru Akarmu, yang dapat melakukannya, saat kamu menunjukkan kemauan yang tulus untuk bertobat!


Kemelekatan para insan seringkali membuat mereka sendiri tersesat.


 

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Thursday, March 15, 2012

Karma – Memenuhi Janji


Ditulis oleh Lotuschef – 13 Maret 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber:

Tanggal 10 Maret 2012, saya bertemu lagi dengan murid yang pada tanggal 4 Febuari 2012 di Vajragarbha Caotun kemarin pingsan, pas sebelum upacara puja api homa Maharaja Avalokiteshvara.

Sinar hijau keabu-abuan di dahi dan sekitar matanya telah menghilang. Dia mencari saya untuk berterima kasih. Dan saya juga senang melihat kondisinya telah membaik.


Tapi, setelah upacara selesai, dia kembali pingsan dan keluarganya mencari saya lagi.

Saya ajarkan dia untuk menjapa mantra Mahaguru Lu versi panjang sambil memegang roda mantra vajra 6 alam di tangan kanannya. Saya juga meminta para murid yang hadir bersama saya untuk turut menjapa.

Dia mulai bergoncang lagi, pertama mulai dari tangan kirinya, lalu bersambung ke kepala dan kemudian tubuhnya, sungguh seperti sedang dalam kondisi trans.

Saya berkata kepadanya untuk meminta maaf berulang-ulang (kepada para arwah yang menjeratnya) dan berjanji untuk memberikan persembahan dan melimpahkan pahala dari perbuatan baiknya kepada para musuh karmanya yang datang menagih.


Lalu saya memberitahunya untuk memberikan penekanan pada aksara Om dan Hom.

Ini adalah cara yang sering diajarkan Mahaguru Lu kepada kita – menggunakan pikiran untuk menghentikan pikiran-pikiran lain.

Dia jelas-jelas terlihat ketakukan dan itu menyebabkan dia menyerah, otomatis tubuhnya yang bergoncang adalah respon yang alami.



Vajra Acharya (VA) ChangZhi datang dan menekan titik akupuntur Hegu 合谷穴 (lembah yang bersatu) yang berada di antara ibu jari dan jari telunjuk dan berada di dasar lembah.

                                               Accupoint Hegu 合谷穴


Dari sana terlihat kondisinya yang segera membaik, dan VA ChangZhi berkata agar murid tersebut dibawa ke tempat Mahaguru Lu memarkirkan mobil dan menunggu Beliau untuk mendapatkan pemberkatan.

Wah, setelah datang, Mahaguru Lu memandang si murid sekilas, lalu menepuk pundak dan punggungnya. Kemudian Beliau berkata bahwa si murid akan baik-baik saja.

Murid ini jatuh pingsan dan setelah itu kondisinya terlihat sudah membaik dan bisa berjalan kembali untuk menunggu transportasi.


Apa yang dilakukan Mahaguru Lu?

Coba tebak!


Omong-omong, saya harap dia memenuji janjinya untuk meminta maaf, bertobat, memberikan persembahan dan melimpahkan pahala perbuatan baiknya kepada para musuh karmanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016