Showing posts with label Artikel amp; Ringkasan. Show all posts
Showing posts with label Artikel amp; Ringkasan. Show all posts

Wednesday, May 30, 2012

Kekuatan Dharma Dari Mantra Hati Mahaguru Lu (2)

Artikel asli ditulis oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 15 Juni 2011

Tautan ke artikel tersebut : Power of Grand Master Lu’s Mantra 师尊心咒的威力 [2]

Bagian pertama : Kekuatan Dharma Dari Mantra Hati Mahaguru Lu

Diterjemahkan oleh Lotus Junhao

 

Darimana penyembelih ayam tersebut mendapatkan kekuatan Dharma untuk menetralisir semua karma buruk dia atas semua ayam yang dibunuh dia?


Mahaguru Lu bertemu dia untuk pertama kalinya saat sesi penjatuhan hukuman di Neraka.


Baiklah, dalam Tantrayana hal-hal pokok yang diperlukan yakni : - Berlindung (bersarana) dan transfer pemberkatan langsung dari Guru Akar.


Penyembelih tersebut sungguh sangat beruntung memiliki Mahaguru Lu yang mengajari dia secara pribadi bagaimana menjapa mantra Mahaguru Lu.


Mahaguru Lu memberikan transfer pemberkatan atas mantra secara pribadi karena dia menarik penyembelih ke samping untuk mengajari dia.


Haha! Ini merupakan transfer pemberkatan langsung!


Jika tidak, hal tersebut mengakibatkan dia dikategorikan mencuri Dharma dan apa yang dia japa akan kurang “kekuatannya” atau hasilnya.


Juga semua ayam-ayam yang terlihat diseberangkan oleh Guru kita yang welas asih.


Om = Alam Semesta – tubuh suci dan sinar putih


Guru = seorang Guru yang benar-benar tercerahkan dan suci


Liansheng = Nama Sang Guru, yang merupakan transformasi dari bunga teratai. Satu jalan kemudahan bagi para penjapa mantra-Nya untuk terlahir di Tanah Suci Maha Kolam Teratai Kembar.


Siddhi = Tanah Suci dari Padmakumara (Bocah Teratai) yakni Maha Kolam Teratai Kembar


Hom = perolehan / pencapaian & seperti sekuntum bunga yang sedang mekar.


Silahkan unduh file di bawah ini untuk penjelasan lebih rinci mengenai makna mantra hati Mahaguru Lu :


The Collection of Exposition on The Heart Mantra of Buddha Liansheng


Kita umat Ordo Satya Buddha seharusnya menghargai apa yang diajarkan oleh Mahaguru, rajin dan melatih diri untuk menolong orang-orang lain yang kurang beruntung.


 

Amituofo

Pure Karma

Lama Lotuschef

True Buddha School

Monday, May 21, 2012

Kekuatan Dharma Dari Mantra Hati Mahaguru Lu

Artikel asli ditulis oleh Mahaguru Lu dan dibagikan kembali oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 15 Juni 2011

Tautan ke artikel tersebut : Power of Grand Master Lu's Mantra 师尊心咒的威力

Diterjemahkan oleh Lotus Junhao

Bagian kedua : Kekuatan Dharma Dari Mantra Hati Mahaguru Lu (2)

 

Artikel ini diekstrak dari G033 halaman 12 -15


Judul : Ayam mematuk mata dari si penyembelih ~ Secara satu per satu membayar hutang karma akibat membunuh


Mahaguru Lu hadir saat sesi penjatuhan hukuman seorang penyembelih ayam.


Raja Neraka bertanya kepada si penyembelih “Berapa banyak ekor ayam yang telah dia bunuh sewaktu berada di dunia fana?”


Si penyembelih menjawab “Tak terhitung”.


Raja Neraka : “Pembunuhan merupakan Karma yang paling berat. Bagaimana jika membiarkan ayam-ayam yang telah kamu bunuh mematuk mata Anda?”


Penyembelih : “Mata dipatuk sangat sakit rasanya.”


Raja Neraka : “Anda membunuh ayam, apakah mereka tidak merasa kesakitan?”


Si penyembelih tidak dapat berkata apa-apa.




 








Dalam Gerakan Berjalan Menuju Penyembelih dengan Paruh Keluar dan Siap Siaga!
















 

Maka dari itu, ayam-ayam bergiliran mematuk mata dari si penyembelih.


2 ekor ayam mematuk keluar bola mata dia. Darah mengalir deras dan mengotori lantai.


Penyembelih berteriak : Rasa sakit ini membunuh saya!


Saat kedua bola mata jatuh keluar maka sepasang bola mata muncul lagi pada tempatnya.


Jeritan kesakitan penyembelih terus berlangsung seiring dengan setiap patukan dan noda darah menyebar ke mana-mana.


Sepertinya si penyembelih sedang membayar hutang karma dia satu demi satu secara menyakitkan.


Mahaguru Lu bersimpati kepada penyembelih tersebut dan memberitahu Raja Neraka : “Saya hendak menyelamatkan Penyembelih tersebut!”


Raja Neraka : Jika Anda tidak tega melihat penderitaan dia maka pergi dan selamatkanlah dia! Terserah Anda jika hendak menyelamatkannya.


Mahaguru Lu mengeyampingkan penyembelih tersebut dan mengajari dia mantra hati pendek Beliau : “Om Guru Liansheng Siddhi Hom.”


Penyembelih tersebut dengan cepat menghapal mantra tersebut.


Mahaguru Lu : Anda menjapa satu kali kapanpun seekor ayam mendekat. Bahkan jika terdapat milyaran-milyaran ayam, maka anda menjapa sekali untuk setiap ayam.


Penyembelih : Milyaran? Benar-benar sangat sulit.


Mahaguru Lu : Anda bersedia membiarkan ayam-ayam tersebut mematuk keluar mata Anda atau menjapa milyaran kali mantra?


Penyembelih : Lebih baik menjapa mantra!


Dengan setiap penjapaan mantra “Om Guru Liansheng Siddhi Hom”, ayam-ayam yang sedang berjalan mendekat menghilang.


Penyembelih dengan tekun menjapa dan ayam-ayam tersebut menghilang satu per satu.


Saat dia dia telah mencapai satu juta kali penjapaan, terdapat sebuah suara “pong” (suara ledakan) dan ayam-ayam yang sedang berbaris menghilang.


Seiring penyembelih terus menjapa mantra, sekuntum teratai putih tumbuh di antara kedua kaki dia.


 


Mahaguru Lu berkata bahwa semua hal hanyalah mimpi belaka. Di alam samsara ini sebenarnya hanya berisi teratai putih (analogi untuk : sebenarnya semua insan itu suci adanya)


Raja Neraka yang melihat dari kejauhan terkagum dan memuji Mahaguru Lu.


Secara menakjubkan semua ayam mendapat penyeberangan Bardo ke Tanah Suci dengan mantra Mahaguru Lu.


Mahaguru Lu bertanya kepada semua murid Ordo Satya Buddha : Saat Anda semua menjapa mantra ini, apakah Anda mengetahui maknanya? Saya telah berkali-kali menekankan apa maknanya.


 [disadur dari buku 187 – Cerita-cerita mengenai berbagai manifestasi di alam Neraka.]


Baiklah teman-teman, apakah SEKARANG teman-teman termotivasi untuk menjapa mantra hati Mahaguru secara terus menerus?


Haha! Hal ini tidak lain menguntungkan teman-teman dan juga mereka yang menerima pelimpahan jasa atas pembacaan mantra oleh teman-teman.


Menjapa sebanyak 8 juta kali bukanlah hal yang susah, benar kan?


Saya mengingat untuk berbagi bahwa menjapa mantra apapun akan membawa Dewata Utama dari mantra tersebut semakin dekat kepada Anda.


Kapanpun Anda berada dalam bahaya dan memerlukan pertolongan maka saat Anda memvisualisasikan Dewata tertentu maka Anda terselamatkan.


Hal ini menguntungkan bagi semua pihak jadi marilah rajin dan bersama-sama berusaha keras!


Lain kali saat kami melakukan jadwal penjapaan mantra apapun secara marathon, mohon datang dan bergabung bersama kami.


Amituofo
Lotuschef
TBS
Pure Karma Vihara

Sunday, April 15, 2012

Memahami Karma

Artikel asli ditulis oleh Mahaguru Lu

Artikel ini dibagikan kembali oleh Lama LotusChef pada tanggal 19 Agustus 2011

Tautan ke artikel tersebut : Understanding Karma

Diterjemahkan oleh Lotus Junhao

 

Kita perlu memahami prinsip dari Karma dan Reinkarnasi. Hal ini merupakan pemikiran pokok di dalam Buddhisme. Kita telah melakukan banyak perbuatan tidak bajik. Jangan mengira bahwa tidak ada akibat / konsekuensi dari hal tersebut. Seseorang tidak perlu menunggu sampai diri dia pergi ke Neraka untuk menerima konsekuensi tersebut. Bahkan saat masih hidup, seseorang sudah mengalami hukuman-hukuman dari Neraka saat tubuh dia dijangkiti penyakit.


Penyakit-penyakit merupakan manifestasi dari karma buruk seseorang. Jangan mengira bahwa Neraka itu tidak ada / nyata keberadaannya. Beberapa orang mengatakan bahwa “Sebenarnya hampir tidak terdapat hal-hal seperti Neraka atau karma! Hal itu hanya merupakan buatan manusia untuk mendorong orang-orang melakukan kebaikan!” Saat Anda mengalami pembedahan otak maka Anda sedang memasuki Neraka Bedah Otak! Saat Anda menderita sirosis (pengerasan hati), pengangkatan ginjal, atau penyakit apapun maka karma-karma buruk yang terakumulasi dari banyak kehidupan lampau sedang muncul / bermanifestasi di dalam diri Anda. Hal ini cukup mengerikan.


Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Thursday, April 12, 2012

Sila / Aturan Yang Paling Sederhana

Terjemahan dari artikel yang ditulis oleh Mahaguru Lu

Artikel asli diterjemahkan dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris oleh Lotus . . . . . (tidak diketahui)

Artikel ini dibagikan kembali oleh Lama LotusChef pada tanggal 19 Agustus 2011

Tautan ke artikel tersebut : The Simplest Precept

Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Junhao

 

Itulah mengapa, di masa permulaan, Buddha mengajarkan kita cara yang paling sederhana dalam mempraktekkan Buddhisme :


“Hindari semua perbuatan tidak bajik dan lakukan semua perbuatan bajik.”


Tindakan-tindakan menghindari perbuatan tidak bajik merupakan tindakan pasif sementara tindakan-tindakan melakukan perbuatan bajik merupakan tindakan aktif. Menghindari perbuatan-perbuatan tidak bajik merujuk pada perbuatan mengamati “sila-sila”.


Pada awalnya, tidak banyak peraturan-peraturan yang ditetapkan. Satu-satunya sila / aturan yang ada saat itu yakni “hindari semua perbuatan-perbuatan tidak bajik.” Seseorang didorong agar secara aktif “terus melakukan perbuatan-perbuatan baik” dan bermeditasi di bawah sebuah pohon agar masuk ke dalam “Kondisi Kesadaran Murni”.


Selanjutnya, banyak sila yang muncul. Kenapa? Saat murid-murid melakukan suatu jenis pelanggaran maka sebuah aturan ditetapkan sebagai suatu sediaan panduan (di masa depan). Seraya bertambahnya jumlah pelanggaran maka jumlah peraturan-peraturan tersebut pun berlipat ganda. Tujuan dari peraturan-peraturan itu yakni untuk menarik kembali pikiran seseorang agar diubah menjadi Satu Pikiran Tunggal dan untuk melatih stabilitas (batin). Tanpa peraturan-peraturan, pikiran seseorang akan menjadi risau.


Bagaimanapun juga, jika seseorang secara menyeluruh dan dengan leluasa berada dalam kondisi stabil serta pikiran sang praktisi dapat diatur sedemikian rupa sesuai kehendak,  maka sila-sila ini tidak berfungsi apa-apa lagi karena orang demikian sudah berada dalam kondisi “sebagaimana adanya” dimana semua keinginan diri sendiri benar-benar dilepaskan (tidak ada lagi).


 

Amituofo
Pure Karma
Lama Lotuschef
True Buddha School

Sunday, March 18, 2012

Kencing di atas kepala Lu Sheng Yen


Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber:


Diambil dari Buku No.23 – Cerita-cerita Pengalaman Spiritual Yang Sangat Menakjubkan
“Kencing di atas kepala Lu Sheng Yen”, dari halaman 74-77
Ditulis oleh Mahaguru Sheng-yen Lu
Diterjemahkan dari naskah asli oleh Lotuschef – 17 Agustus 2011



Ringkasan:
[Artikel ini ditulis dengan gaya sudut pandang orang pertama seperti pada artikel aslinya.]



Dua hari sebelum melakukan inaugurasi vihara Satya Buddha yangbaru, kaki sebelah kiriku terluka, sehingga aku berjalan dengan agak pincang. [Ini adalah firasat pertama.]

Di hari inaugurasi, aku duduk di kursi “naga”.  Sandaran tangannya terbuat dari ukiran kepala naga dan kumisnya terbuat dari kawat tembaga. Setelah duduk, aku sandarkan tanganku di atasnya.

Tapi tanganku kemudian tergores oleh kumis kawat ini dan saat kuangkat untuk dilihat dengan lebih dekat, ada tetesan-tetesan darah karena goresan tadi.

Wah! Ini menyebabkan tubuh Buddha terluka (berdarah).

Aku tetap bertahan dan tidak menunjukkan luka ini. Aku tetap meneruskan memberikan ceramah dharma.



Tapi aku mendapat beberapa pertanda lagi. [Ini adalah pertanda kedua.]

Tidak lama setelah insiden tadi, saat sedang bermeditasi, aku melihat seorang Vajra Acharya yang merupakan kepala vihara dari salah satu vihara Satya Buddha. Ia berdiri di atas kepalaku, membuka kancing celananya dan mengencingiku.

Sungguh-sungguh kencing di atas kepala Lu Sheng Yen.

Aku merasa ini bukan pertanda yang baik. [ini adalah pertanda yang ketiga.]



Aku pada dasarnya adalah orang yang jujur dan mudah percaya, jadi juga dengan mudah dikhianati.

Aku sebaik mungkin berusaha untuk mempercayai orang-orang namun sering dikhianati oleh mereka juga.

Aku punya filosofi bahwa semua mahluk itu baik. Karena hidup di alam samsara, maka tak terelakkan punya kemelekatan/keinginan untuk menang (mengalahkan yang lain).

Kemelekatan ego seperti ini akan menjadi Keserakahan, Kebencian dan Kebodohan.

Kita para sadhaka harus bisa mencintai insan lain daripada diri sendiri.

Ini adalah Empat Macam Bodhicitta: Aspirasi, Tujuan Suci nan Mulia, Matang Sepenuhnya, Bodhicitta yang Tak Terkaburkan (Kebenaran Tertinggi).

Meski aku sering dikhianati oleh orang lain, aku tidak mengeluh, sebaliknya aku berharap mereka memahami hatiku dan merubah sifatnya yang terlalu mencintai diri sendiri menjadi mencintai semua mahluk.



Vajragarbha XX ini. Vajra Acharya XX ini. Enyahkanlah nafsumu, ai! (mendesah)

Beberapa hari ini, di dalam meditasiku, aku melihat seorang Vajra Acharya lain yang mendaki hingga ke atas kepalaku. Ia berdiri tegak, menggunakan tangannya untuk menyeka baju lhama-nya dan kencing di atas kepalaku.

Ai! (mengeluh). Ternyata ada lagi. [Firasatku muncul lagi.]

Aku harap semua murid Satya Buddha yang suci bisa mematuhi “14 mula sila Tantrayana”, “50 sila pengabdian kepada Guru”, …..

Dengan tekun membaca dan mematuhi doktrin-doktrin sila.

Berusaha menghindari pelanggaran terhadap doktrin sila tersebut supaya tidak terjatuh ke tiga alam rendah dan tidak bisa terbebas lagi.

Para murid yang suci. Berhati-hatilah! Berhati-hatilah!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016

Saturday, March 17, 2012

Dalam Sebuah Kedipan Mata


  • Buku 155 – Kecermelangan Sinar Rembulan (The Brilliance of Moonlight) – Tahun-tahun menyepi di sebuah rumah gubuk kecil

  • Ditulis oleh : Buddha Hidup Lian Sheng, Sheng-Yen Lu

  • Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh : Lorraine Choon

  • Terjemahan dalam Bahasa Inggris disunting oleh : May Kwan

  • Terjemahan dalam Bahasa Inggris dikoreksi oleh : Mimosa

  • Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh : Lotus Junhao

  • Pranala ke Artikel dalam Bahasa Inggris : In a twinkling of an eye

Mother Bodhisattva (Shi Ma Pu Sa)


Bab 29 : Dalam sebuah kedipan mata

Suatu malam, ibu Saya, Lu Yu Nu (Mother Bodhisattva) mendadak muncul. Ibu Saya telah meninggal empat tahun silam. Waktu telah berlalu sedemikian rupa.

Ibu bertanya kepada-Ku, ”Berapa umur-Mu ketika meninggalkan Taiwan dan berangkat menuju Amerika?”

”Saat itu tepatnya pada tanggal 16 Juni dan umur-Ku adalah 38 tahun.” Saya mengingatnya dengan jelas.

”Berapa umur-Mu sekarang?”

”Lima puluh delapan tahun,” Saya jawab sambil menghembuskan nafas panjang.

Ibu bertanya kepada-Ku, ”Bagaimana tahun-tahun Mu di Seattle, Amerika?”

Saya terkejut dan kemudian menjawab : ”Dalam sebuah kedipan mata.”

Ibu kemudian bertanya, ”Berapa kedipan yang kamu miliki”

Saya menghitungnya dalam hati: ”Jika sebuah kedipan dianggap ’dua puluh tahun’ maka saya telah berkedip tiga kali. Menambah kedipan lainnya akan berarti genap delapan puluh tahun, begitu saja, sudah hampir delapan puluh tahun. Menakutkan.”

Ibu bertanya kepada-Ku lagi, ”Dapatkah Engkau hidup sampai delapan puluh tahun? Hidup dalam sebuah kedipan mata lainnya?”

Saya tidak mampu berkata apapun. ”Tidak seorang pun memiliki kemampuan untuk meramalkan berapa lama usia seseorang. Bahkan kalaupun Saya dapat melakukannya, lalu hendak apa?”

Ibu berkata,”Kakek-Mu, Lu Chang, meninggal di usia 74 tahun dan saya hidup sampai berusia 73 tahun. Pikirkanlah hal tersebut, hanya berapa kedipan lagi yang dapat Engkau miliki untuk diri-Mu?”

”Sungguh, tidak ada lagi.” Saya menjawab.

Ibu (Mother Bodhisattva) memberitahukan-Ku, ”Dalam dunia samsara, umat awam khawatir dengan usia kehidupan yang pendek dan hanya berdiam sementara dalam waktu yang singkat saja. Waktu melesat bagaikan roket, seperti sebuah kedipan mata. Begitupun, ketika Engkau mendorong mereka (umat awam) untuk menekuni Buddhisme, mereka akan malas dan kebingungan. Waktu bagi mereka digunakan untuk menghasilkan uang, membangun karir mereka dan menghidupi keluarganya. Hal ini baik tetapi beberapa orang menggunakan waktunya untuk mengobrol dan bermain. Lebih buruknya adalah ketika waktu digunakan untuk bersosialisasi tiada akhir dan dihamburkan begitu saja. Waktu senantiasa bergerak dan kamu tidak akan pernah dapat menghentikan pergerakannya. Pada akhirnya, yang tersisa bagi mereka (umat awam) hanyalah kesedihan yang tak terhitung dan kenangan-kenangan yang berlalu.

Ibu bertanya kepada-Ku, ”Apa yang akan kamu lakukan ketika cuaca panas?”

”Di sini? Saya akan berenang.” Saya menjawab.

”Ketika cuaca sejuk?”

”Saya akan mengenakan lapisan baju tambahan lainnya.”

”Ketika lapar?”

”Saya akan makan.”

”Ketika sakit?”

”Saya akan meminum obat.”

Ibu (Mother Bodhisattva) berkata, ”Orang tidak akan menunda-nunda permasalahan yang yang baru saja kita bahas di atas ataupun mereka akan mencari-cari alasan. Mereka akan langsung menyelesaikan masalah demikian, karena sangatlah alamiah bagi mereka untuk melakukannya. Engkau dapat memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka bekerja sangat keras untuk bertahan hidup dan pasti akan berjuang untuknya. Bagaimanapun juga, ketika tiba saatnya untuk menekuni Buddhisme, orang-orang tidak akan menyadarinya. Oleh karena itu, ketika tiba saatnya untuk berlatih, mereka akan mencari-cari alasan untuk menundanya. Mereka akan berpikir bahwa hal tersebut sifatnya tidak mendesak dan tidak perlu untuk terburu-buru, mereka lebih menyukai untuk menunggu. Pelatihan Buddhisme seperti ini akan tertinggal di belakang. Kemudian, dalam sebuah kedipan mata, kematian akan datang. Orang tidak akan bangun tetapi mereka akan jatuh. Banyak orang seperti ini.”

Saya mengerti kekhawatiran Mother Bodhisattva.

Ibu memberitahukan-Ku, ”Jagalah ”kedipan waktu-Mu” seperti Engkau menjaga milik-Mu yang berharga.” Beliau melanjutkan, ”Hidup menyepi dan terpisah dari dunia luar adalah yang terbaik dari semuanya.

Ibu berkata,”Orang yang pintar adalah orang yang dengan patuh menyelesaikan pelatihan harian mereka. Setiap hari, haruslah berlatih dengan tekun dan memberantas pikiran-pikiran yang tidak bajik. Perhatikan enerji, bedakanlah yang mana enerji yang menyucikan dan yang mana enerji yang berbahaya bagi kesehatan dan tubuh seseorang. Belajarlah untuk menjalani kehidupan dengan pikiran yang damai dan tenang. Seseorang haruslah senantiasa berwaspada terhadap kematian dan karenanya harus gigih mengumpulkan kebajikan selama masih hidup, jadi tidak akan ada penyesalan ketika saatnya tiba. Akan sangat terlambat dan sia-sia berusaha jika saat nya telah tiba."

Ibu mengakhirinya, ”Masa muda dan kesehatan tidak akan bertahan sepanjang masa, penuaan dan penyakitan sedang mendekati. Hal tersebut terjadi hanyalah dalam sebuah kedipan mata.

Saat Saya sedang memikirkan sebuah kedipan, Ibu-Ku ternyata telah meninggalkan gubuk kecil-Ku yang terpencil dalam sebuah kedipan mata.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016

Thursday, February 2, 2012

Raja Setan Mulut Berapi

Artikel asli ditulis oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 1 Februari 2012

Tautan ke artikel tersebut : Fire-mouthed Ghost King


Diterjemahkan oleh: Lotus Nino




Raja Setan (Hantu) Mulut Berapi punya banyak nama, antara lain: Raja Setan Muka Terbakar, Raja Setan Muka Hangus, Pu Du Gong, dan lain sebagainya.


Beliau adalah salah satu emanasi (perwujudan) dari Avalokiteshvara.


Banyak tempat yang menjadikan pemujaan kepada-Nya sebagai tradisi sebelum bulan ke-7 (penanggalan bulan) dimana biasanya orang-orang berdoa kepada para hantu atau arwah. Banyak orang yang percaya bahwa Beliaulah yang mengurus semua hantu/arwah di bumi ini.


Nama Raja Setan Muka Terbakar muncul dalam sebuah sutra yang menjelaskan pertemuan-Nya dengan Ananda.


Ananda, murid Sang Buddha, sedang berada dalam meditasinya yang mendalam dan tiba-tiba ia bertemu dengan sebuah tubuh yang kurus kering dengan muka yang terbakar dengan api besar – seorang raja setan yang unik dan kelihatan luar biasa kesakitan. Dia datang kepada Ananda dan berkata bahwa dalam tiga hari Ananda akan terjatuh ke Alam Setan Kelaparan.


Untuk menghindari nasib buruk ini, Ananda harus beramal kepada ratusan ribu Setan Kelaparan dan para hantu lainnya, memberi mereka masing-masing satu takaran makanan dan minuman serta memberikan persembahan kepada Tri Ratna.


Ananda memberitahukan hal ini kepada Buddha, dan Buddha kemudian mengajarinya “Dharani Persembahan Makanan”. Makanan yang telah diberkati berubah menjadi Persembahan Dharma, ke atas dipersembahkan kepada Tri Ratna, dan ke bawah dipersembahkan kepada para mahluk di tiga alam rendah. Dana amal demikian akan mengurangi penderitaan para setan, sehingga mereka mampu membuang bentuknya sebagai setan dan mendapatkan kelahiran kembali di Alam Surga.


Ananda melakukan semuanya yang diinstruksikan oleh Buddha. Ia mendirikan sebuah altar dengan papan perintah Raja Setan Muka Terbakar dan mempersembahkan bermacam-macam makanan yang bersih kepada para Sangha untuk memohon pemberkatan dari mereka sehingga nasib buruknya dapat dihindari.



- - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -



Berikut adalah potongan artikel yang diterjemahkan dari Buku Shizun No.161 – Pikiran Yang Sejuk.


--- Dalam perjalanan astralku ke Neraka untuk berbagi Dharma, aku bertemu dengan seorang Raja Setan. Beliau punya dua tanduk, matanya bagai lonceng tembaga, memancarkan sinar yang menakutkan, lidahnya menjulur panjang beberapa kaki, kedua gigi taringnya terlihat, tubuhnya berwarna biru, bentuknya sungguh sangat menakutkan.


Namun aku tahu bahwa “Raja Setan Muka Hangus” ini adalah seorang Bodhisattva yang tinggi tingkatannya. Beliau adalah perwujudan Avalokiteshvara dari sumpah-Nya untuk membantu dan meringankan berbagai macam penderitaan di Neraka. Emanasi-Nya tersebar di seluruh penjuru untuk menyelamatkan insan yang tak terbatas banyaknya.


Sungguh besar sumpah Bodhicitta Sang Avalokiteshvara. Ia tidak hanya tampil dalam 32 bentuk perwujudannya saja. Semua emanasi-Nya berada di semua alam, termasuk Sang Raja Setan Muka Hangus yang berada di Neraka. Semuanya bertujuan menolong dan memberkati para insan. Tiada satupun yang ditinggalkan-Nya.


Saya menangkupkan kedua telapak tangan saya di depan dada dan bertanya kepada Raja Setan: 「Di Neraka ada Raja Setan, lalu kenapa masih banyak para insan di sana?」


Beliau menjawab: Para insan di Neraka, kebanyakan tidak ingin ditolong dan menolak bantuan, di sini tidak ada jodoh dan mereka tidak percaya bahwa ada yang bisa menolong mereka, jadi sungguh susah untuk diselamatkan meski dengan segala ketulusan hati.


Saya berkata:「Buddha pernah berkata bahwa bahkan mereka yang telah melakukan 5 dosa besar, hatinya dipenuhi dengan 10 kejahatan, fitnah dan kebohongan, kepalsuan, terus-menerus melakukan tindakan kriminal, saat meninggal pasti akan jatuh ke Neraka Avici; namun saat bertemu dengan Kalyanamitra (teman spiritual) yang sekali saja mengajarinya untuk menjapa nama Buddha, dan insan yang bersangkutan mau mempercayainya, mengembangkan rasa bertobat, menjapa nama Buddha sebanyak sepuluh kali, maka Neraka-pun dapat berubah menjadi Tanah Suci. Dengan cara ini, mereka yang berada di Neraka meski sedang menjalani (mengalami) penderitaan yang tak terbatas, asalkan mau menjapa nama Buddha sepuluh kali saja, bukankah seharusnya semuanya dapat diselamatkan?」


Raja Setan menimpali: Anda lihat jaman sekarang ada rumah penjagalan hewan, di sana mahluk-mahluk hidup dikumpulkan untuk dibunuh, kegiatan ini terus-menerus berjalan tanpa henti. Anda lihat rumah bordil dengan desahan dan jeritan menjijikkan yang tiada henti. Anda lihat rumah judi di mana mereka berteriak menang-kalah terus menerus. Orang-orang seperti ini, mana yang bisa menjapa nama Buddha?


Beliau meneruskan: Rumah jagal tidak pernah berhenti, rumah bordil tidak pernah berhenti, rumah judi juga tidak pernah berhenti. Pembunuhan, pencurian, pelacuran, kebohongan, alkohol(mabuk-mabukan) juga tidak ada akhirnya. Keserakahan, kemarahan, kebodohan, juga tidak berhenti. Semuanya muncul dari suara dan pemandangan. Saat hati melihat maka Karma dan berbagai Bentuknya akan muncul dari dalam sana. Kalau begini, bagaimana Neraka bisa kosong?


Saya membisu.


Raja Setan melanjutkan: Mereka yang dapat saya selamatkan juga karena punya jodoh dengan Buddha. Namun mereka dengan karma buruk yang dilakukan oleh tubuh – ucapan –pikiran dan berbagai kejahatan lainnya yang tidak bisa dihancurkan semuanya, mereka-mereka ini akan langsung masuk ke neraka dan mengalami penderitaan yang tak terbatas; tapi sifat Baik sejati mereka tidak akan pernah rusak. Saya, Sang Raja Setan, oleh karenanya menjelaskan Dharma dan Dharani kepada mereka. Saya jelaskan kepada mereka mengenai hati Sang Buddha. Bila ada yang percaya pada ajaran-ajaran Buddha, atau bisa menjapa nama Buddha Amitabha, saat kesempatan dan jodoh sudah muncul, pasti akan diselamatkan.


Saya bilang:「Kalau begitu, dengan cara tersebut, akan ada banyak yang terselamatkan?」


Raja Setan menjawabku: Belum tentu. Kenapa? Anda lihat di jaman sekarang, tempat-tempat yang menyebarkan Dharma sungguh sangat sedikit. Bahkan tempat di mana Dharma disebarkan, yang mempercayainya juga sangat sedikit. Dari mereka-mereka tadi, yang percaya dan mau melatih diri dengan tekun jauh lebih sedikit lagi. Otomatis, mereka yang dapat diselamatkan juga sangat sedikit!


Betapa sedihnya hati saya mendengar hal tersebut. ---



- - - - - - - - - - - - - - - - - -- - - - -



Hahaha!


Kenapa tiba-tiba saya membahasmengenai Raja Setan?


Ini berhubung saya bertemu dengan seorang murid yang dapat melakukan penyeberangan Bardo dengan bantuan Sang Raja Setan.


Karena saya belum menemukan artikel yang menjelaskan bagaimana Raja Setan ini dapat melakukan penyeberangan ke AlamSurga bagi para setan/hantu, saya pikir belum saatnya saya membagikan metodeyang murid tersebut bagikan kepada saya.


Mungkin teman-teman yang pernah membaca artikel Shizun yang menjelaskan penyeberangan hantu ke Alam Surga dapat membagikannya dengan saya. Saya akan menerjermahkannya semampu saya.





Amituofo

True Buddha School

Pure Karma

Lotuschef



Wednesday, February 1, 2012

Penyucian Pikiran

Petikan artikel dari buku Shizun No.154: Aura Kebijaksanaan, 智慧的光環.
Ditulis oleh: Buddha Hidup Sheng-yen Lu

Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Tim Penerjemah True Buddha Foundation (Cheng Yew Chung, Victor Hazen, Dance Smith)

Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh : Lotus Junhao





Bab 6 – Penyucian Pikiran


Suatu ketika seorang murid mendekati Saya dengan memberikan sebuah persembahan danberkata, “Guru, mohon ajari saya bagaimana caranya mendapatkan Kekuatan Spiritual yang hebat.”

Saya menjawab, “Apa yang Anda pelajari dari Saya yakni bagaimana caranya kita dapat menyucikan diri kita sendiri, bukan bagaimana caranya mendapatkan Kekuatan Spiritual.”


Murid Saya bertanya lagi, “Bukankah benar bahwa Buddha memiliki Kekuatan Spiritual?”


Saya berkata, “Buddha memang memiliki Kekuatan Spiritual, akan tetapi mereka yang memiliki Kekuatan Spiritual tidaklah pasti merupakan Buddha.”


Saya memberitahu dia bahwa bahkan para hantu memiliki Kekuatan Spiritual, baik para insan yang bajik dan jahat juga dapat memilikinya.


Mara memiliki Kekuatan Spiritual, demikian juga para insan sesat.


Kekuatan spiritual ini sebuah hal yang wajar. Ia merupakan produk sampingan dari seseorang yang melatih diri dengan Agama Buddha. Seseorang seharusnya tidak melekat terhadap kekuatan yang hebat tersebut atau orang tersebut akan beresiko menjadi tersesat dan berjalan di jalan yang salah.


Jika seseorang hanya berlatih diri karena Kekuatan Spiritual maka sangat mudah melekat pada keadaan demikian.

Pikiran-pikiran tidak menentu akan timbul dan mengarahkan orang tersebut ke dalam khayalan-khayalan.

Akhirnya orang tersebut akan jatuh ke dalam genggaman Mara.

Ketika tertarik terhadap kekuatan spiritual yang hebat maka orang demikian akan menyimpang dari ajaran-ajaran Buddha dan merubah diri sendiri menjadi sesosok makhluk beraura gelap seperti hantu.


Jadi apa yang sebenarnya diajarkan oleh Buddha kepada kita? Jawabannya yakni sebuah peribahasa yang masih akrab bagi kita :

Janganlah berbuat kejahatan, tanamlah benih kebaikan, dan sucikan pikiran. Inilah ajaran dari Para Buddha.


Saya telah menulis lebih dari seratus lima puluh buku.

Dengan serius saya sampaikan bahwa saya dapat meringkaskan berjuta-juta kata yang telah saya tulis ke dalam dua kata yakni :

“Penyucian Pikiran”


Dalam agama Buddha aliran Tantra, ada tertulis bahwa tiga karma (tindakan yang dilakukan oleh tubuh, ucapan dan pikiran) dirubah menjadi tiga rahasia yakni Rahasia Tubuh, Rahasia Ucapan dan Rahasia Hati (Pikiran).

Penyucian tubuh, ucapan dan pikiran pada intinya merupakan Penyucian Pikiran!


Perbuatan melatih hati dan menyucikan pikiran menuntun seseorang kepada pencapaian keBuddha-an.

Jika hanya hendak menghasilkan Kekuatan Spiritual maka akan mengarahkan orang tersebut menjadi sesosok Mara.

Kalau Anda adalah Sadhaka Satya Buddha yang benar-benar berlatih maka Anda harus bisa melihat persoalan ini dengan cermat!



Amituofo

True Buddha School

Pure Karma

Lotuschef