Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, January 16, 2013

Lotuschef Dalam Topik Mempelajari Buddha Dharma

Artikel asli ditulis dan dibagikan oleh Lama Lotus Chef pada tanggal 1 Januari 2013
Tautan ke artikel tersebut : Lotuschef on Learning Buddha Dharma
Diterjemahkan oleh Lotus Junhao


“Mempelajari Buddha Dharma”, ini merupakan sebuah istilah yang sering kali dipergunakan dan juga sesering “disalahgunakan”
Hahaha!

MENGAPA?
Pertama-tama, banyak yang tidak mengerti atau memiliki pola pikir yang jernih mengenai tujuan.
Apa tujuan Anda [mempelajari Buddha Dharma]?
Anda mengalokasikan sumber daya untuk mempelajari sesuatu maka Anda perlu untuk dapat menggunakan apa yang telah Anda pelajari, benar kan?

Paman saya yang berusia 68 tahun dibaptis dan menjadi seorang Kristiani. Alasan Beliau, banyak yang pergi ke gereja tersebut memenangkan lotere atau terlihat adanya peningkatan dalam pemasukan keuangan yang berasal dari bisnis atau karir! :)
Nah, apakah hidupnya benar-benar membaik? TIDAK!

Banyak yang bersarana dan menjadi umat Buddhis juga didasari oleh tujuan Perbaikan / Peningkatan [Hidup] Diri Sendiri. Beberapa melakukannya karena mereka mengejar pengikut kaya di kuil / vihara tersebut.

Beberapa berpikir bahwa dengan hanya menjapa sutra bersama-sama dengan para Bhiksu akan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Mereka yang bersarana di dalam Tantrayana kebanyakan juga mengejar yang namanya “Kekuatan Spiritual” dimana mereka berpikir bahwa mereka akan mendapatkannya setelah belajar dari Para Pemimpin / Acharya dari aliran tersebut.

Maaf mengecewakan teman-teman semuanya, Anda sedang menipu diri Anda sendiri.

Tujuan yang sebenarnya yakni Anda ingin untuk meninggalkan Samsara; Anda ingin melakukan sesuatu yang mengarah pada pencapaian hal tersebut; Anda ingin pada akhirnya dapat menolong orang lain meninggalkan Samsara juga!

Sutra-sutra merupakan kumpulan ajaran Buddha yang disalin oleh murid-murid Sang Buddha.
Pada saat yang sama, tiap ajaran-Nya bersifat situasional atau diaplikasikan untuk satu tujuan tertentu. Artinya sebuah solusi atas sebuah permasalahan yang dihadapi oleh murid-murid atau umat awam.
Tidak ada manfaatnya membaca sutra namun tidak berusaha untuk MEMPELAJARI apa yang sebenarnya diajarkan oleh Buddha.

Sebagai catatan untuk diingat yakni bahwa tidak seorang pun memiliki  Hak Milik atas Ajaran Buddha!
Ajaran Buddha diperuntukkan semua insan dan merupakan milik semua insan!

Dengarlah Guru saat sedang menjelaskan berbagai sutra dengan menggunakan istilah-istilah sederhana. Juga pada saat yang sama memberikan Contoh Nyata dalam Kehidupan.

Mereka yang membuatmu tambah bingung setelah mendegar ceramah Dharma atau penjelasan sutra yang diberikannya, semuanya masuk ke dalam kategori ini {mereka yang tidak mengerti atau memiliki pola pikir yang jernih mengenai tujuan mempelajari Buddha Dharma} atau [Tak tahu, tapi berlagak tahu], sepanjang jalan terus membohongi diri sendiri dan orang lain. Sungguh ini bukan bohongan!

Buddha Dharma merupakan sebuah filosofi mengenai menjalani hidup lebih bahagia dan lebih sehat serta pada saat yang bersamaan dengan murah hati berbagi kesukacitaan tersebut dengan semua insan.

Jadi mohon mengekstraksi bagian yang merupakan paling INTI dari ajaran Buddha dan bukannya dengan buta mengikuti orang lain membaca sutra.

Anda harus mampu menggunakan ajaran-ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari barulah Anda dapat menyatakan bahwa Anda sedang mempelajari Buddha Dharma!

Salam buat teman-teman semuanya

Friday, November 9, 2012

Lotuschef Bercakap-cakap – Karma, Orang-orang Picik

Tahta Teratai Emas dan Batu Mani Emas memancarkan sinar kebijaksanaan
yang kecemerlangannya tiada batas.

Ditulis oleh Lotuschef – 8 November 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Chat – Karma – Petty People


Ada yang bertanya: Apa Tuhan itu ada?
Kalaupun ada, kenapa masih ada banyak orang jahat?
Kenapa masih membiarkan mereka melukai sesamanya?

Ada pepatah: Bukannya karma tidak ada, tapi jodohnya belum “datang”.

Guru bilang bahwa Atisha belajar “Bodhicitta Solusi Perenungan” dari Serlingpa – yaitu mencoba berempati dengan sesama atau melihat (merasakan) dari sudut pandang mereka, dan kemudian mempertimbangkan perasaan mereka dan reaksi-reaksi yang mungkin timbul.
Jadi kalau kamu sedang merencanakan kejahatan terhadap orang-orang lain, kiranya pertimbangkanlah: Kalau kamu yang jadi korbannya, bagaimana perasaan atau reaksimu?

Melatih diri adalah [belajar untuk merubah berbagai kebiasaan buruk, dan selalu mempertimbangkan kebaikan orang lain terlebih dulu.]
Gampang dikatakan tapi susah dilaksanakan. Hahaha!

Percaya akan Karma, Memahami Karma, maka kita tak akan merasa [ditipu], [dimanfaatkan], [diperlakukan secara tak adil], dan ingin [mencari keadilan] dengan segala cara!
Hahaha! Ada pepatah lainnya lagi: [Keadilan berada di dalam hati kita sendiri!]

Kalau kamu pernah dibohongi, difitnah, dan kamu bisa berpikir [Aku baik-baik saja selama kamu bahagia]!
Memberikan [Kebahagiaan] dan [Sukacita] kepada orang lain, juga merupakan amal!
Kita ini sungguh [Kaya], pastinya mampu [melakukan amal yang tiada batas]!

Kamu bisa merasa kalau dia mungkin sedikit tuli atau agak susah mendengar, itulah mengapa dia berbicara dengan keras, bukannya sedang galak kepadamu!
Dia tidak dididik dengan baik, makanya [penggunaan kata-katanya kurang bagus], dia tidak sedang memarahimu! Hanya beda standar budayanya saja, sedikit lebih jelek!
Bila dia menipumu, merebut atau mencuri sesuatu darimu, kamu bisa anggap saja: Dia sangat miskin dan butuh semuanya itu; karena kamu bersimpati padanya, maka kamu Beramal kepadanya!

Hahaha! Berhasilkah aku membuatmu lebih bahagia sekarang?
Maka setujukah kamu kalau itu semua adalah kerjaan Setan dalam Hatimu sendiri?

Kamu melatih diri berarti perlu [Mengubah], [Bertransformasi], lalu [Melepaskan atau Meninggalkan]!
Saat aku berbagi [Buddha Dharma], dengan ini aku memohon teman-teman murid untuk [Bertobat], dan itu berarti [Merubah] dan [Melepaskan]!
Jadi saat kamu memarahiku, bukankah kamu [memarahi Buddha Dharma]?

[Bertobat] adalah [pekerjaan rumah] harian kita, ia adalah [4 prayoga] yang juga dinamai [Sadhana Pertobatan Vajrasattva].

Sadhaka yang tidak tahu [Buddha Dharma], lalu terpaku/melekat pada cara pandang, perasaan, perbuatan [duniawi]; apakah kiranya masih bisa disebut seorang Sadhaka?
Syarat-syarat untuk menjadi Sadhaka atau Yogi Sejati telah ditulis oleh Guru di bukunya [Pedang Pusaka Yogi], kalau teman-teman ada waktu, tak ada salahnya dibaca-baca lagi, dengannya gunakanlah untuk [membenahi] [kebiasaan-kebiasaan] diri sendiri!
Begitulah adanya, teman-teman pembaca yang terkasih, adakah yang namanya [orang-orang Picik]?
Hahaha!

Padmasambhava pernah mengatakan: Buddha Dharma digunakan untuk mengatasi persoalan-persoalan duniawi.
Guru berkata: Kalau kamu sendirian di atas Bulan, kamu sama sekali sudah tak butuh lagi [Buddha Dharma].
Jadi aku kini menggabungkan dua pernyataan tersebut, apakah teman-teman paham apa yang Guru katakan?

Bertanya: Apakah Lotuschef seorang reverend kotoran anjing?
Hahaha!

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Related Posts:

Thursday, November 8, 2012

Lotuschef Berbagi Dasar-dasar Ajaran – Bhumi (dalam Agama Buddha)




Dibagikan oleh Lotuschef dari Wikipedia – 25 Oktober 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Sharing Fundamentals – Bhūmi (Buddhism)
Pranala Sumber: Wikipedia – Bhumi (Buddhism)

Image © Fujino Shokan

Sepuluh Bhumi Bodhisattva (dari Bhs. Sansekerta; Bhs. Tibet: byang chub sems dpa'i sa, tingkat pencerahan insan) adalah sepuluh tingkat jalan pencerahan bodhisattva dalam Mahayana.
Istilah Sansekerta “bhumi” berarti “tanah” atau “fondasi”. Setiap bhumi mewakili tingkat pencapaian dan menjadi landasan untuk pencapaian tingkat selanjutnya. Setiap tingkat juga menunjukkan tingkat kemajuan yang jelas yang menunjukkan hasil latihan si praktisi, yaitu dengan disertainya kekuatan spiritual dan kebijaksanaan yang lebih besar.


Lima Jalan


Bhumi merupakan sub-kategori dari Lima Tahap (pañcamārga, transliterasi Wylie: lam lnga):
  1. Tahap Mengumpulkan Bekal (Sambhara-marga, Wylie: tshogs lam). Mereka yang berada di tahap ini:
    1. Punya hasrat yang kuat untuk mengatasi penderitaan, baik diri mereka sendiri ataupun insan lain;
    2. Meninggalkan kehidupan duniawi.
  2. Tahap persiapan atau aplikasi (prayoga-marga, Wylie: sbyor lam). Mereka yang berada di tahap ini:
    1. Mulai melatih meditasi;
    2. Punya pengetahuan analitis akan kekosongan (shunyata).
  3. Tahap Melihat (darsana-marga, Wylie: mthong lam). Mereka yang berada di tahap ini:
    1. Melatih meditasi konsentrasi yang mendalam akan sifat sejati dari realitas;
    2. Menyadari kosongnya realitas.
  4. Tahap Meditasi (bhavana-marga, Wylie: sgom lam). Mereka yang berada di tahap ini akan menyucikan diri mereka sendiri dan mengumpulkan kebijaksanaan.
  5. Tahap Tiada Lagi Pembelajaran atau Penyempurnaan (asaiksa-marga, Wylie: mi slob pa’I lam atau thar phyin pa'i lam). Mereka yang berada di tahap ini telah sempurna menyucikan diri mereka.
Dalam melatih dan menjalani tahap-tahap tersebut semuanya dimulai dengan Bodhicitta, harapan untuk menyeberangkan semua insan. Saat membuat komitment Sumpah Bodhisattva, Bodhicitta Niat (Aspirasi) akan berubah menjadi Bodhicitta Pelayanan. Dengan tahapan tersebut, si praktisi menjadi seorang Bodhisattva dan memasuki lima jalan pelatihan.
Sebelum berhasil mencapai sepuluh bhumi, bodhisattva menempuh dua yang pertama dari lima tahapan dalam Mahayana:
  1. Tahap Mengumpulkan Bekal
  2. Tahap Persiapan
Sepuluh bhumi bodhisattva dikelompokkan ke dalam tiga tahapan yang bersambung seperti berikut:
  1. Bhumi 1: Tahap Melihat
  2. Bhumi 2-7: Tahap Meditasi
  3. Bhumi 8-10: Tahap Tiada Lagi Pembelajaran
Dalam agama Buddha aliran Hua-yen, ada 40 tahap sebelum memasuki bhumi pertama:
  • 10 iman
  • 10 kediaman
  • 10 pelatihan
  • 10 pelimpahan pahala kebajikan

Dalam agama Buddha aliran Tientai, mereka yang mempraktikkan “ajaran yang sempurna” berarti telah setara dengan pancapaian arahat hanya dengan iman yang ke-4.

Literatur Mahayana sering menjelaskan mengenai “dua rintangan” (Wylie: sgrib gnyis):
  1. “Rintangan emosi khayalan yang menipu” (Bhs. Sansekerta: kleśa-varaa, Wylie: nyon-mongs-pa'i sgrib-ma).
  2. “Rintangan pengetahuan” (Bhs. Sansekerta: jñeyāvaraa, Wylie: shes-bya'i sgrib-ma).
Rintangan emosi khayalan akan teratasi saat berhasil mencapai Tahap Melihat, dan rintangan pengetahuan akan teratasi saat menjalani Tahap Meditasi. Namun tidak semua aliran buddhis setuju dengan pernyataan tersebut, seperti Bhiksu Son dari Korea yang bernama Kihwa, menyatakan bahwa rintangan pengetahuan hanya bisa teratasi setelah mencapai bhumi ke-10.

Sepuluh Bhumi

Sutra Avatamsaka menjelaskan sepuluh bhumi sebagai berikut:
  1. Bhumi pertama – Yang Sangat Gembira (Skt. Paramudita), di mana ia berbahagia karena berhasil merealisasikan sebagian aspek kebenaran.
  2. Bhumi ke-dua – Tak Bernoda (Skt. Vimala), di mana ia bersih dari semua kekotoran.
  3. Bhumi ke-tiga – Yang Bercahaya Terang (Skt. Prabhakari), di mana ia memancarkan cahaya kebijaksanaan.
  4. Bhumi ke-empat – Yang Cemerlang (Skt. Archishmati), di mana api kebijaksanaan yang cemerlang membakar semua nafsu duniawi.
  5. Bhumi ke-lima – Yang Susah Dilatih (Skt. Sudurjaya), di mana ia mengatasi ilusi kegelapan (kebodohan) dengan Jalan Tengah.
  6. Bhumi ke-enam – Pengejawantahan Nyata (Skt. Abhimukti), di mana kebijaksanaan unggul mulai termanifestasi.
  7. Bhumi ke-tujuh – Telah Berjalan Jauh (Skt. Duramgama), di mana ia telah melampaui Dua Kendaraan (Sravaka-yana dan Pratekyabuddha-yana).
  8. Bhumi ke-delapan – Yang Tak Bergeming (Skt. Achala), di mana ia punya kekokohan akan Jalan Tengah, dan berbagai macam fenomena tak dapat mengganggunya.
  9. Bhumi ke-sembilan – Kecerdasan yang Baik (Skt. Sadhumati), di mana ia membabarkan Ajaran Dharma dengan leluasa dan tanpa halangan.
  10. Bhumi ke-sepuluh – Awan Ajaran Dharma (Skt. Dharmamegha), di mana ia sudah mampu memberi manfaat pada semua insan dengan Ajaran Dharma, bagaikan awan yang memberi hujan pada segala sesuatu dengan seimbang dan adil (imparsial).

 

Bhumi ke-1, Yang Sangat Gembira


Bhumi pertama, yang dinamakan “Sangat Gembira”, akan tercapai dengan pengetahuan langsung akan kekosongan (shunyata) dan bersamaan saat melangkah masuk ke tahap ke-3 dari Lima Tahap Pencerahan – Tahap Melihat. Ia dinamakan “sangat gembira” karena bodhisattva berusaha menyempurnakan kemurahan hati dan mengembangkan kemampuan untuk mampu merelakan segalanya tanpa ada penyesalan dan tanpa mengharapkan pamrih dan pujian (untuk dirinya sendiri). Semua fenomena dilihatnya sebagai kosong dan pasti akan mengalami kerusakan, penderitaan, dan kematian; begitulah adanya maka para bodhisattva akan kehilangan kemelekatan terhadap semuanya itu. Menurut Je Tsongkhapa, para bodhisattva di tingkat pertama ini langsung memahami bahwa fenomena bentuk manusia tak punya jati diri; oleh karenanya, mereka mampu mengatasi konsep salah yang mengatakan bahwa lima agregat membentuk diri manusia sesungguhnya. Mereka juga sepenuhnya menghapus kecenderungan terhadap etika yang merusak sehingga hal-hal tersebut tidak muncul lagi.

Meski telah mampu memahami kekosongan, para bodhisattva di tingkat ini kebanyakan masih termotivasi oleh iman. Mereka melatih etika perbuatannya untuk menghapuskan hal-hal negatif dari pikiran mereka dan dengannya mereka mempersiapkan diri untuk melatih penyerapan meditatif duniawi yang akan muncul pada tingkat selanjutnya (ke-2).


Bhumi ke-2, Tak Bernoda


Para Bodhisattva di tingkat ke-2, “Tak Bernoda”, menyempurnakan etika dan mengatasi semua tendensi untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Pengendalian dirinya menjadi sebegitu sempurnanya hingga di dalam mimpi mereka juga tak punya pikiran-pikiran yang tak bermoral. Menurut Je Tsongkhapa, bodhisattva ini “di segala waktu, baik saat sadar maupun tidur, semua gerakan atau aktivitas tubuh, ucapan, dan pikirannya selalu bersih tanpa ada sedikitpun pelanggaran... ia menyempurnakan 3 kebajikan: tidak membunuh, mencuri, maupun melakukan seks yang menyimpang – dengan tubuhnya; kemudian juga 4 jalur pertengahan: tidak berbohong, ucapan yang memecah-belah, kata-kata kasar, dan pembicaraan yang tak berguna – dengan ucapannya; dan 3 jalur yang terakhir: tidak tamak, pikiran jahat, dan pandangan yang keliru (menyimpang) – dengan pikirannya. Tak hanya menahan diri dalam mengatasi larangan-larangan tersebut, tapi ia juga menyempurnakan berbagai pencapaian positifnya yang berhubungan dengan etika perbuatan.”

Dan menurut Nagarjuga:
Tingkat ke-2 ini dinamakan Tanpa Noda
Karena kesemua 10 perbuatan bajik
Yang dilakukan oleh tubuh, ucapan, dan pikirannya tiada bernoda
dan oleh karenanya mereka secara alami mematuhi [aturan etika perbuatan].
Dengan matangnya [kualitas-kualitas yang baik ini]
Kesempurnaan etika perbuatan menjadi unggul.
Mereka menjadi Cakrawartin* yang menolong para insan,
Para pemimpin empat benua dan tujuh obyek berharga yang mulia.

*) Chakrawartin {atau Cakravartin, atau Cakkavatti} merujuk kepada sosok seorang penguasa jagat yang ideal, seorang maharaja yang bijaksana dan welas asih kepada seluruh makhluk di dunia.

Karena hal tersebut, pikiran bodhisattva menjadi tersucikan dan berada dalam kendali total, yang merupakan prasyarat untuk melatih empat meditasi penyerapan (dhyana) dan empat penyerapan tanpa bentuk (arupya-samapattis).


Bhumi ke-3, Yang Bercahaya Terang


Je Tsongkhapa menjelaskan bahwa bhumi ke-3 disebut sebagai “Yang Bercahaya Terang” karena saat telah tercapai maka “api kebijaksanaan akan membakar semua energi obyek pengetahuan yang muncul bersama dengan sinar yang secara alami mampu menghancurkan semua elaborasi dualitas saat berada dalam kestabilan meditatif.” Bodhisattva di tingkat ini melatih kesempurnaan kesabaran. Kestabilan mereka menjadi sangat mendalam hingga bila ada orang yang... memotong, tidak hanya daging tapi juga tulang, dari tubuh bodhisattva ini, bukan bagian besar melainkan kecil-kecil sedikit demi sedikit, tidak secara terus-menerus melainkan berhenti-berhenti sejenak, dan tidak diselesaikan secara cepat melainkan memotongnya dalam jangka waktu panjang, sang bodhisattva tidak akan marah pada orang yang memutilasinya.

Sang bodhisattva menyadari bahwa orang yang menyiksanya melakukan hal tersebut karena termotivasi oleh pikiran-pikirannya yang menyedihkan dan sedang menabur benih-benih penderitaannya sendiri untuk masa mendatang. Oleh karenanya, sang bodhisattva tidak menjadi marah, namun merasakan kesedihan yang mendalam dan berbelas kasih atas orang yang kejam tersebut, yang tidak sadar akan cara kerja karma.

Mereka yang melatih diri pada tingkat ke3 ini mengatasi semua kecenderungan terhadap amarah, dan tidak pernah bereaksi dengan kebencian (atau bahkan merasa kesal) terhadap perbuatan-perbuatan ataupun kata-kata jahat. Sebaliknya, kestabilan hati mereka tetap terjaga, dan semua insan dipandang dengan cinta dan welas asih:

Bahwa semua amarah dan dendam nantinya akan kembali pada orang yang membangkitkannya, dan orang tersebut tidak melakukan apapun untuk menghapus kerusakan yang telah dialaminya sendiri. Karena hal tersebut bersifat kontra-produktif di mana menghancurkan kedamaian pikiran dan membawa orang yang bersangkutan pada kondisi yang tidak menyenangkan di masa mendatang. Sungguh tak ada satupun manfaat yang bisa dipetik dari amarah dan dendam, membalas dendampun juga tak akan merubah masa lalu, dan oleh karenanya para bodhisattva menghindarinya. Terlebih lagi, penderitaan yang sedang dialami orang seseorang hanyalah merupakan buat dari kelakuan buruknya di masa lampau; jadi musuh seseorang hanyalah seorang agen dari matangnya karma yang tak bisa dihindari.

Para bodhisattva di tingkat ini juga melatih empat meditasi bentuk (rupa-dhyana), empat meditasi tak berbentuk (arupa-dhyana), empat batin yang tiada batas (brahmawihara/apramana), dan pengetahuan tingkat lanjut (siddhi supranatural/abhijna).


Bhumi ke-4, Yang Cemerlang


Di tingkat ke-4, “Yang Cemerlang”, para bodhisattva melatih kesempurnaan usaha dan menghancurkan penderitaan. Menurut Wonch’uk, tingkatan ini dinamai demikian karena para bodhisattvanya “tiada henti memancarkan sinar kebijaksanaan yang mulia.” Ia juga mengutip Ornamen Sutra-sutra Mahayana dari Maitreya, yang menjelaskan bahwa para bodhisattva di tingkat ini membakar semua rintangan penderitaan dan rintangan pengetahuan yang tiada batas dengan kecemerlangan sinar kebijaksanaan mereka. Selangkah demi selangkah mereka memasuki penyerapan meditatif dan kemudian mendapatkan kelenturan pikiran yang dahsyat. Hal ini menghancurkan kemalasan dan meningkatkan kemampuan mereka dalam melatih meditasi untuk jangka waktu yang lebih panjang. Mereka menghancurkan rintangan yang telah mengakar dengan dalam dan melatih 37 keharmonisan yang muncul dengan adanya penyadaran.

Lewat pelatihan 37 sadhana tersebut, para bodhisattva mengembangkan kemampuan agung dalam penyerapan meditatif dan pelatihan kebijaksanaan, sambil memperlemah konsepsi-konsepsi buatan dan bawaan akan eksistensi yang sejati.


Bhumi ke-5, Yang Susah Dilatih


Tingkat ke-5 dinamakan “Susah Dilatih” karena mencakup sadhana yang berat dan membutuhkan usaha yang besar untuk menyempurnakannya. Tingkat ini juga dinamakan “Susah Diatasi” karena saat si praktisi telah menyelesaikan pelatihan tingkat ini, ia akan memiliki kebijaksanaan dan wawasan yang mendalam yang susah untuk diungguli atau dihancurkan. Menurut Nagarjuna:

Yang ke-5 dinamakan “Sangat Sulit untuk Diatasi”
Karena semua yang jahat juga kesusahan menaklukkannya;
Ia menjadi terampil dalam mengetahui berbagai hal-hal yang halus dan mendetil
mengenai kebenaran utama dan ajaran-ajaran lainnya.

Para bodhisattva di tingkat ini melatih kesempurnaan samadhi. Mereka mengembangkan kekuatan stabilisasi meditatif dan mengatasi berbagai macam kecenderungan terhadap gangguan. Mereka akan mendapatkan keberhasilan dalam fokus pikiran dan menyempurnakan kemampuan untuk tinggal dalam ketenangan. Mereka juga sepenuhnya menembusi arti Empat Kebenaran Mulia dan Dua Kebenaran (kebenaran konvensional dan kebenaran tertinggi) serta melihat semua fenomena sebagai hal yang kosong, sementara (tidak abadi) dan rentan penderitaan.


Bhumi ke-6, Pengejawantahan (Manifestasi)


Tingkat ke-6 adalah “Pengejawantahan” karena bodhisattva di tingkat ini mampu dengan jelas melihat cara kerja Hukum Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan (pratityasamutpada) dan langsung memahami “Ketiadaan Atribut Persepsi” (Bhs. Sansekerta: Animitta, Bhs. Tibet: Mtshan ma med pa). Ketiadaan atribut persepsi mengacu pada fakta bahwa fenomena sepertinya terlihat bagai obyek yang punya berbagai kualitas nyata yang terlihat oleh mata, namun saat kita memeriksa penampakan ini lebih lanjut, kita akan menyadari bahwa semua kualitasnya hanyalah persepsi pikiran saja dan bahkan bukan sebagian dari ciri-ciri sifat alaminya yang nampak.

Sebagai hasil dari pemahaman-pemahaman inilah para bodhisattva memanifestasikan kebijaksanaan meditatif dan menghindari kemelekatan terhadap siklus samsara ataupun nirwana. Karena telah mengatasi semua kemelekatan, para bodhisattva di tingkat ini dapat mencapai nirwana, namun karena kekuatan pikirannya yang telah tercerahkan, mereka memutuskan untuk tinggal di dunia ini guna memberi manfaat bagi para insan. Mereka melatih Kesempurnaan Kebijaksanaan dan dengannya mampu melihat semua fenomena sebagai hal yang tak punya sifat hakiki (yang sesungguhnya/sebenarnya), bagaikan mimpi, ilusi, refleksi, atau obyek yang dimunculkan secara magis. Semua gagasan akan “Aku” dan “Yang Lain” telah dilampaui, beserta dengan segala konsepsi akan “sifat hakiki” dan “non-hakiki”. Para bodhisattva di tingkat ke-6 berdiam dalam perenungan sifat sejati kebuddhaan, dengan pikiran mereka yang tak terganggu oleh pemikiran-pemikiran yang salah.


Bhumi ke-7, Telah Berjalan Jauh


Para bodhisattva di tingkat ke-7 mengembangkan kemampuan untuk merenungi Ketiadaan Atribut Persepsi tanpa terputus dan memasuki penyerapan meditatif tingkat lanjut untuk jangka waktu yang lebih panjang, dan dengan ini mereka melampaui baik jalur duniawi maupun supra-duniawi sravaka dan pratyekabuddha. Dengan alasan inilah, tingkat ini dinamakan “Telah Berjalan Jauh”. Menurut Nagarjuna:

Tingkat ke-7 adalah Telah Berjalan Jauh karena
Jumlah kualitasnya telah meningkat,
Dari waktu ke waktu ia bisa memasuki
Kestabilan yang menghentikan segala hal.

Begitulah para bodhisattva di tingkat ini menyempurnakan kemampuan mereka dalam sarana meditasi dan sadhana (Bhs. Tibet: Thabs la mkhas pa, Bhs. Sansekerta: Upaya-Kausalya), yang merupakan kemampuan mereka untuk menyesuaikan strategi mengajar mereka dengan kecenderungan dan kebutuhan para pendengarnya. Mereka juga mengembangkan kemampuan untuk membaca/mengetahui pikiran orang lain, dan dari waktu ke waktu mampu melatih semua paramita. Semua pikiran dan tindakannya telah bebas dari rintangan, dan mereka selalu bertindak dengan leluasa dan efektif demi memberi manfaat bagi para insan lainnya.


Bhumi ke-8, Yang Tak Bergeming


Tingkat ke-8 dinamakan “Tak Bergming” karena para bodhisattva di tingkat ini mengatasi semua rintangan akan tanda-tanda persepsi dan pikiran mereka sepenuhnya terserap ke dalam dharma. Di tingkat ini, seorang Arya Bodhisattva telah mencapai realisasi yang sepenuhnya setara dengan Arahat Theravada. Di tingkat ini, sang bodhisattva telah mencapai Nirwana. Menurut Nagarjuna,

Tingkat ke-8 adalah Tak Bergeming, tahap yang penuh semangat,
Melalui “tanpa elaborasi konsep” ia tak bergeming;
Dan berbagai aktivitas dimensi-dimensi tubuh, ucapan, dan pikirannya
Sungguh tak terbayangkan (oleh pikiran awam).

Karena mereka sepenuhnya mengenal tiada sesuatupun yang muncul sebagai bentuk nyata, maka pikiran mereka tak bergerak karena ide-ide akan adanya tanda bentuk nyata. Para bodhisattva yang ada di bhumi ke-8 ini juga dianggap “tak dapat dibalik” karena sudah tak ada kemungkinan lagi bagi mereka untuk mundur dari jalan yang telah ditempuhnya. Mereka telah digariskan untuk mencapai kebuddhaan dengan sempurna, dan tak ada lagi kecenderungan untuk mencapai nirwana demi diri sendiri. Mereka melatih “kesempurnaan niat (aspirasi)”, yang berarti berusaha memenuhi berbagai macam sumpah, yang karena hal tersebut mereka mengumpulkan berbagai sebab untuk kebajikan yang lebih jauh lagi. Meski mereka memutuskan untuk bekerja demi memberi manfaat para insan lainnya, dan mereka juga memenuhi alam semesta dengan keramahan terhadap semua insan, para bodhisattva ini telah melampaui segala macam kecenderungan untuk salah mengartikan Ketiada-Akuan (Anatta/Anatman).

Pemahaman mereka akan kekosongan sebegitu sempurnanya hingga hal tersebut menjungkirbalikkan khayalan kemelekatan, dan realitas menjadi nampak dalam dimensi yang baru. Mereka dengan mudah memasuki meditasi kekosongan. Para bodhisattva di tingkat ini kira-kira bisa dianalogikan dengan orang yang telah terbangun dari mimpinya, dan semua persepsinya dipengaruhi oleh kesadaran baru ini. 

Mereka mencapai kondisi meditatif yang dinamakan “kesabaran akan fenomena yang tak muncul”, yang karena hal tersebut mereka tak lagi berpikir dalam kerangka penyebab yang hakiki atau tanpa penyebab yang hakiki. Mereka juga mengembangkan kemampuan untuk bermanifestasi menjadi berbagai macam bentuk demi mengajar para insan. Welas asih dan kemudahannya telah berjalan otomatis dan spontan. Tak perlu lagi merencanakan atau memikirkan cara yang terbaik untuk memberi manfaat bagi para insan, ini karena para bodhisattva di tingkat ke-8 secara otomatis telah tahu cara bereaksi dengan benar dalam setiap situasi.


Bhumi ke-9, Kecerdasan yang Baik


Mulai dari tingkat ini, para bodhisattva bergerak cepat menuju pencerahan sempurna. Sebelum mencapai tingkat ini, kemajuannya masih lambat, kira-kira seperti sebuah perahu yang ditarik melewati pelabuhan. Namun di tingkat ke-8 hingga 10, para bodhisattva melangkah dengan cepat menuju kebuddhaan, seperti kapal yang mencapai pantai dan mengembangkan layarnya. Di tingkat ke-9 ini, mereka sepenuhnya memahami tiga kendaraan – arahat, pratyekabuddha, dan bodhisattva – dan menyempurnakan kemampuan mereka untuk membabarkan doktrin ajaran. Menurut Sutra Penjelasan Pikiran:

Karena mencapai tiada kesalahan dan kecerdasannya yang sangat luas dalam hal penguasaan pembabaran ajaran dalam semua aspek, tingkat ke-9 dinamakan sebagai “Kecerdasan yang Baik”.

Bodhisattva bhumi ke-9 juga mendapatkan “empat pengetahuan analitis” yang terdiri dari: konsep-konsep fundamental (dasar), arti, prinsip ilmu/teknik, dan pembabaran. Karena pengetahuan tersebut, mereka mengembangkan kefasihan dan kemampuan yang menakjubkan dalam menjelaskan berbagai doktrin ajaran. Kecerdasan mereka melampaui semua manusia dan dewa, dan mereka memahami semua nama, kata, arti, dan bahasa. Mereka mampu memahami berbagai macam pertanyaan dari mahluk apapun. Mereka juga punya kemampuan untuk menjawabnya dengan sebuah suara tunggal, yang dipahami oleh setiap insan sesuai dengan kapasitan mereka. Di tingkat ini mereka juga melatih kesempurnaan virya (energi – ketekunan- antusiasme), yang berarti karena kekuatan penguasaan mereka akan empat pengetahuan analitis dan meditasi, mereka mampu mengembangkan paramita dengan penuh energi dan melatihnya secara berkesinambungan tanpa menjadi lelah karenanya.


Bhumi ke-10, Awan Ajaran Dharma


Di bhumi ke-10, para bodhisattva menghapus jejak-jejak rintangan hingga yang paling halus. Bagaikan sebuah awan yang menurunkan hujan di atas bumi, para bodhisattva ini menyebarkan dharma di segala penjuru, dan setiap insan menyerap apa yang dibutuhkannya supaya mampu berkembang secara spiritual. Begitulah Nagarjuna mengatakan bahwa:

Tingkat ke-10 adalah Awan Dharma karena
Turunnya hujan ajaran-ajaran yang unggul,
Sang Bodhisattva tersucikan
Dengan sinar dari para Buddha.

Di tingkat ini, para bodhisattva secara progresif memasuki penyerapan meditatif yang lebih mendalam dan mengembangkan kekuatan yang tiada batas dalam hal kemampuan magis. Mereka mengembangkan kesempurnaan kebijaksanaan nan agung yang, menurut Asanga, memampukan mereka untuk mengembangkan kebijaksanaan agung mereka. Hal ini kemudian akan memperkuat kesempurnaan paramita lainnya. Dan hasilnya, mereka menjadi kokoh dalam kebahagiaan ajaran dharma.

Mereka mendapatkan tubuh yang sempurna, dan pikirannya terbersihkan dari segala rintangan yang terhalus. Mereka bermanifestasi dalam berbagai bentuk yang tiada batas demi memberi manfaat bagi insan lainnya dan melampaui batas waktu dan ruang. Mereka mampu menyerap sistem-sistem dunia ke dalam sebuah pori-pori, tanpa memperkecil atau memperbesar ukuran pori-porinya. Saat mereka melakukan hal ini, para insan yang di dalam sistem dunia tersebut tidak merasakan ketidaknyamanan, hanya para bodhisattva tingkat lanjut saja yang bisa melihatnya.

Para bodhisattva di tingkat ini menerima sebuah bentuk abhiseka pemberkatan dari buddha yang banyaknya tak terhingga. Inilah yang dinamakan “sinar cahaya yang agung”, karena kecemerlangan para bodhisattva ini menyinari semua penjuru. Abhiseka ini membantu mereka dalam membersihkan sisa-sisa rintangan untuk mendapatkan Kemahatahuan dan memberi mereka tambahan rasa percaya diri dan kekuatan. Di momen akhir dari tingkat ini mereka memasuki kondisi meditatif yang dinamakan “stabilisasi meditatif bagai vajra”, di mana sisa-sisa rintangan yang paling halus dalam menuju kebuddhaan akan teratasi. Dari konsentrasi semacam ini mereka muncul sebagai Buddha.

Bhumi Tambahan (Lanjutan)

Dengan 10 bhumi ini, berbagai aliran Vajrayana masih mengenali 3 hingga 10 bhumi tambahan.

---

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Saturday, November 3, 2012

Lotuschef dalam [Diam adalah Emas] lagi – Citarasa Zen!



Ditulis oleh Lotuschef – 22 Oktober 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef on [Silence is Golden] again – Zen Flavor!



Berikut ini lagu berjudul: “Diam Adalah Emas” [沉默是金] oleh Samuel Hui dan Almarhum Leslie Cheung.

S: Dalam hembusan angin malam yang dingin ini, dalam kesendirian aku merenungkan masa lalu dan masa depanku
Aku yang dulu dipenuhi dengan amarah yang membara
Tuduhan palsu dan dipersalahkan sungguh membuat hati kesal
Saat menghadapi desas-desus, aku bereaksi dengan tegang.

L: Aku mendapatkan hikmahnya, menerima instruksi dari buku dan sutra
Aku kini dapat melihat dengan jelas dan tak lagi terperangkap
Karena aku tahu kalau kendali ada di tanganku sendiri
Tak lagi seperti aku yang bodoh di masa lalu
Sambil menyeka air mataku, aku tersenyum, dengan cepat dan ringan aku berjalan terus.

S&L: Sudah ditakdirkan kalau kamu akan kaya atau miskin
Yang salah tak akan pernah benar, namun Kebenaran akan selamanya Benar
Bagaimanapun kau akan berkata-kata, aku tetap pada pendirianku dan melaksanakan tugasku
Pada akhirnya percaya bahwa [Diam adalah Emas].

L: Benar atau salah juga publik yang akan menilai, asal jangan menyerang orang lain
S: Dalam menghadapi angin dan hujan yang dingin ini, tak perlu terlalu serius
L: Penuh percaya diri, tak perlu terganggu oleh sarkasme atau berusaha mencari kesalahan
S&L: Tersenyum atau mengejek yang lain, bebas leluasa menjalani hidupku
S&L: Anak muda menjalani hidupnya dengan bebas nan leluasa
S&L: Terus melanjutkan hidup dengan bebas nan leluasa

---

Guru berkata: Diam-diam amatilah berbagai perubahan dalan hidup ini – artikel 6 Oktober 2012. Hehe!

Di sini ada prosesnya juga, seperti melatih diri.

Dengan menggunakan 4 Kebenaran Mulia:
Akuilah bahwa memang ada [Masalah];
Definisikan [Masalahnya];
Carilah [Penyebab Utamanya/Akar Masalahnya];
Gunakanlah [Jalan Mulia Beruas 8] untuk [Menyelesaikan Masalah tersebut]!

Pertama-tama, di sana ada [Kebiasaan], lalu sebenarnya ini [Kebiasaan] apa, carilah [Asal dari Kebiasaan] ini, gunakanlah [Jalan Mulia Beruas 8] untuk [Membenahi atau Merubah Kebiasaan] ini!
Begitu [Sederhana]!!! Hahaha!

  1. {Aku yang dulu dipenuhi dengan amarah yang besar ... Saat berhubungan dengan desas-desus, aku bereaksi dengan tegang.}
  2. {Aku mendapatkan hikmahnya, menerima instruksi dari buku dan sutra ... Aku kini dapat melihat dengan jelas dan tak lagi terperangkap ... Sambil menyeka air mataku, aku tersenyum, dengan cepat dan ringan aku berjalan terus.}
  3. {Yang salah tak akan pernah benar, namun Kebenaran akan salamanya Benar ... Bagaimanapun kau akan berkata-kata, aku tetap pada pendirianku dan melaksanakan tugasku ... Pada akhirnya percaya bahwa [Diam adalah Emas]}
  4. {Benar atau salah juga publik yang akan menilai, asal jangan menyerang orang lain ... Dalam menghadapi angin dan hujan yang dingin ini, tak perlu terlalu serius ... Penuh percaya diri, tak perlu terganggu oleh sarkasme atau berusaha mencari kesalahan ... Terus melanjutkan hidup dengan bebas nan leluasa.}

Hahaha! Punya citarasa Zen?
Guru menghadiahiku nama dharma: [Lotuschef] yang berarti Citarasa Dharma!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 30 July 2016

Related Posts:

  • Lihat Buddha? Lihat Hantu?
  • Lotuschef Bercakap-cakap – Agama Buddha & Mitos
  • Pelatihan Diri Yang Benar
  • Lotuschef Bermain-main – Kesetaraan & Mitosnya
  • Iblis Diri Sendiri

Friday, November 2, 2012

Lotuschef Bercakap-cakap – Relevansi

Lima Dhyani Buddha

Ditulis oleh Lotuschef – 23 Oktober 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Chat – Relevance



Hada (Khata) – adalah bentuk penghormatan yang tertinggi.
Yang seperti pada gambar di atas adalah terdiri dari 5 macam warna dengan sebuah mutiara yang dijahitkan di paling atas.
Khata ini dipersembahkan kepada para dewata (Buddha dan Bodhisattva).
Lima warna juga mewakili 5 kebijaksanaan yang dimiliki oleh semua Buddha.

Gossip baru-baru ini mulai muncul setelah ceramah dharma Guru pada tanggal 20 Oktober 2012, begitu juga dengan ajakan kepada semua umat Ordo Satya Buddha untuk menjapa ayat [Memohon Buddha tetap tinggal di alam ini], sepertinya sungguh berlebihan bila semua umat benar-benar tekun bersadhana sesuai dengan yang Guru ajarkan.

Menjapa mantra Guru sebanyak-banyaknya – seharusnya menjadi sadhana harian seperti yang pernah dikatakan Guru “bersadhanalah sehari sekali dan kamu akan baik-baik saja!” Namun, tentunya harus bersadhana dengan Pemahaman yang Benar, bukannya sekedar menjalankannya dari awal hingga akhir tanpa tahu artinya! :)

Menjapa mantra Guru punya begitu banyak manfaat.
  1. Saat dijapa dengan membayangkan Guru berada di dalam chakra hatimu atau Guru tersenyum padamu, maka kamu sedang melatih [Menggunakan pikiran untuk mengenyahkan pikiran-pikiran lainnya]. Satu pikiran untuk menimpa banyak pikiran. Dengan demikian, cara pikirmu akan menjadi lebih tenang dan jernih.
  2. Begitu kamu mulai menjapa, chakra hatimu mulai bersinar dan kamu bisa membayangkan kamu adalah Guru, membagikan sinar yang terpancar sejauh mungkin untuk semua insan. Kamu juga bisa membayangkan semua insan berubah menjadi Sinar dan melebur menjadi SATU! Begitu juga kamu turut melebur bersama.
    [Di sini artinya kamu melatih Bodhicitta berbagi dengan semua insan tanpa Diskriminasi (membeda-bedakan), dan ini sebenarnya adalah Mahamudra atau Tantra tingkat lanjut. Berubah menjadi Sinar sesungguhnya adalah bentuk Dharmakaya para Buddha].
  3. Hanya dengan melimpahkan pahala penjapaan mantra Guru untuk semua insan, juga sudah baik untuk membersihkan karma-karma burukmu, dan juga turut membangun jodoh baik dengan semua insan. :) Kamu akan menjalin persabahatan dengan banyak teman dalam waktu yang sangat singkat!
  4. Saat menjapa mantra Guru, kamu juga bisa membayangkan proses penyembuhan, seperti yang pernah aku bagikan di artikel-artikel sebelumnya.
  5. Semakin kamu banyak menjapa mantra Guru, maka kamu akan semakin dekat dengan Guru juga!

Demikianlah adanya, apakah masih butuh melakukan ajakan khusus kepada semua umat untuk [Memohon Buddha tetap tinggal di alam ini]?
Buddha atau Guru, Guru Akarmu, selalu bersamamu, dan kamu hanya perlu mulai menjapa mantranya dan membayangkannya saja!
Hanya lewat pelatihan yang reguler dan tekun sama artinya dengan Menjaga Guru supaya menetap di alam ini!

Guru bilang kalau beliau tidak akan tinggal cukup lama,  dan juga meminta supaya semua umat menghargai jodoh baik ini bersamanya.
Ia sama sekali tak berkata apapun tentang meninggalkan atau mengundurkan diri.

Apa perlu tanpa berpikir panjang lagi menelan semua omongan para Saudara Besar atau Saudari Besar yang dikatakannya kepadamu (baik lewat ucapan atau tertulis seperti email) sebagai kebenaran?!

Dari beberapa artikel yang kutulis baru-baru ini, sepertinya tidak banyak dari teman-teman umat yang benar-benar punya kebijaksanaan ataupun berlatih seperti yang Guru ajarkan. Bahkan banyak dari mereka yang tak tahu apa yang para murid Buddha boleh atau tak boleh lakukan!

Dari Buku Guru No.96 – Bab 1 – Pengantar “Prinsip-prinsip utama Sheng-yen Lu” ada tertulis:
[Kepada mereka yang perbuatannya jahat dan pandangannya menyimpang, kita perlu menggunakan persuasi yang baik daripada membabi buta menghajar mereka. Justru kelompok-kelompok seperti inilah yang perlu kita ajar dan selamatkan.]

Tapi, komite administratif ordo kita, mengeluarkan Pemberitahuan Resmi supaya semua umat bergabung ke dalam forum privat, yang diketuai oleh seorang wanita yang menamakan dirinya {ilovegm}. Ketua forum ini mengajak semua umat untuk menunjukkan betapa kuatnya diri mereka di hadapan para pemfitnah dan kemudian mengancam mereka dengan [kekuatan dalam jumlah banyak]!

Ia menulis: Biarkan mereka semua mendengarkan deru angin kita dan mundur dalam ketakutan!

Cukup mengancamkah? :)

Mereka bertingkah lebih seperti mafia daripada murid-murid Buddha, benarkah kiranya?

Apakah semua orang berpikir kalau Guru akan meninggalkan Ordo Satya Buddha sekarang ini saat komite pusat menciptakan kekacauannya sendiri?

Akankah Guru meninggalkan kita, saat beliau mengetahui masih banyak murid bodoh yang sedang disetir secara membabi buta?

Menurutku, bukankah kamu seharusnya belajar melatih diri supaya akhirnya bisa mengendalikan hidup dan matimu sendiri?

Guru membahas mengenai kebijaksanaan 5 Buddha, jadi dengarkanlah baik-baik dan belajarlah serta pergilah dari mereka yang gila kuasa atau haus kendali!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Related Posts:

Sunday, October 28, 2012

Lotuschef Bermain-main – Wilayah Kekuasaan



Ditulis oleh Lotuschef – 22 Oktober 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef at Play – Territorial
Image © Maitreya7 (Photobucket)



Ada orang yang kerasukan di depan sebuah rumah ibadah.

Acharya rumah ibadah itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap orang yang kerasukan ini.

Seorang umat lain datang dan memberikan tepukan di badan orang yang kerasukan ini, begitulah kemudian ia segera tersadarkan kembali.

Namun acharya rumah ibadah itu memarahi si umat yang menolong tadi karena melangkahi dirinya di dalam [wilayah kekuasaannya] dengan membantu si orang yang kerasukan.


Ini kisah nyata yang diceritakan oleh beberapa orang murid yang hadir di rumah ibadah tersebut.

Jadi [muka] si acharya jauh lebih penting daripada kesejahteraan para umatnya?

Pada akhirnya dia akan segera sadar karena kehilangan banyak pengikutnya karena sikapnya yang kurang peduli.


Ada seorang murid yang aku temui di Taiwan, ia juga punya masalah yang sama – “pingsan” atau mulai kerasukan. Ya, aku benar-benar melihat kebanyakan acharya cuma berdiri sekitar 2 meter dari murid tersebut dan HANYA MENONTON!

Sangat kelihatan kalau tak pernah belajar cara menghadapi situasi semacam ini dari Guru, atau malah tidak pernah meminta Guru untuk mengajarinya.

Hahaha! Aku sendiri? Aku juga tak tahu bagaimana aku bisa tahu caranya berbicara pada “roh-roh” yang merasuki murid tersebut!

Tapi, setelah berurusan dengan “keadaan darurat” itu, hal yang terbaik adalah mengajari si “korban” untuk bertobat dan membayar hutang-hutang karmanya.


Ia yang pernah kubantu selalu mengirimkan email dan bertanya apakah acharya ini tulen dan bisa dipercaya atau tidak.
Ia dan keluarganya telah banyak melihat banyak dari mereka yang pergi menjauh saat “serangan” itu datang.


Saranku adalah supaya bersadhana dan membantu dirinya sendiri.
Mengungkapkan penyesalan (bertobat) dan membayar hutang-hutang karma.

Setidaknya dia beruntung karena menjadi murid Satya Buddha, dan tahu bagaimana cara menolong dirinya sendiri.

Di luar sana masih saja ada orang-orang yang menyerang atau menipu orang-orang lainnya padahal dirinya sendiri tak punya Jodoh (afinitas) untuk mendapatkan pertolongan atau belajar untuk menolong diri mereka sendiri.


Malam tadi saat puja api homa, Guru mengajarkanku teknik baru untuk menolong murid-murid membersihkan Qi/Prana yang telah basi di dasar paru-paru mereka. Hehe!

Sungguh bekerja dengan manjur! :)

Namun tentunya harus digunakan dengan “perintah” atau mantra yang relevan.

Juga perlu menggunakan “Kekuatan Prana” dari diriku untuk mendorongnya keluar!


Ternyata ceramah Guru hari ini juga sebagian besar mengenai “Prana”, efeknya dan cara penggunaannya!
Sekali lagi sungguh kebetulan!!!


Hahaha! Aku sangat sayang Guru, begitu juga aku mempercayai Beliau yang tahu hal terbaik di dalam segala situasi!

Apakah kamu juga mencintai dan mempercayai-Nya juga?


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Related Posts:

Wednesday, October 24, 2012

Lotuschef Bercakap-cakap – Meninggalkan Aliran Satya Buddha? Begitukah Adanya?

Ditulis oleh Lotuschef – 21 Oktober 2012
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber:
Lotuschef in Chat – Leave TBS? Is it like that?


Sepertinya (aku) yang dimasukkan ke dalam {Daftar Monyet} cukup bagus adanya, malah mendapatkan banyak manfaat!

Hari ini, tanggal 20 Oktober 2012, bahkan Gerbang Surga juga terbuka, semua dewa-dewi datang dan bermain-main bersama kita semua! Hahaha!

Memanjatkan rasa syukur kepada Guru dan semua Buddha-Bodhisattva atas pemberkatan mereka serta kepada para Dewata di Surga atas perlindungan mereka yang penuh cinta kasih!

Yidam puja adalah: Guru Padmakumara + Bodhisattva Marici + Sembilan Kaisar.

Benar-benar bisa mengklaim: Puja api homa hari ini sangat sangat melimpah dan penuh keberuntungan, semua mahluk suci di alam semesta datang untuk menganugerahi upacara kami. (Setujukah teman-teman?)

Amituofo


Sebenarnya Guru berkata: Aliran Satya Buddha adalah milik para Buddha dan Bodhisattva; [dan saat aku mengundurkan diri, maka Aliran Satya Buddha akan kembali pada para Buddha dan Bodhisattva, kembali kepada Kekosongan Alam Semesta!] ~ Hahaha! Oleh karenanya enyahkanlah Kemelekatan dan Keterpakuan dari dalam dirimu!

Dan sesungguhnya, {Aliran Satya Buddha} tidaklah ada, ia bertransformasi menjadi ADA hanya demi kemudahan menyelamatkan para insan saja!

Oleh karenanya, {Daftar Monyet} apaan? Hahaha! Masih saja {Belum Sadar}! Lagi-lagi melakukan hal yang sembrono dan tak penting yang menjengkelkan Guru saja!

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom!


Menjelaskan seperti ini adalah [berwelas asih], bila tidak begini maka sungguh tidak tahu hal-hal bodoh apa lagi yang akan kalian lakukan dan rencanakan di masa mendatang!

Namun, saat dijelaskan, menjadi [tidak berwelas asih] lagi!

Jadi dengan menyesal terpaksa mengatakan: para Saudara Besar dan Saudari Besar yang [Bodoh], [Gegabah], [Tak Terkendalikan]; mereka semua sebenarnya mempraktikan [Yang Kuat Memakan Yang Lemah] atau mayoritas melawan [SEORANG Lama yang telah ditahbiskan]!

Penjelasan ini berarti, di masa mendatang, para Saudara Besar dan Saudari Besar kita [harusnya tak akan punya muka lagi untuk memberi perintah/mendikte mereka yang berada di posisi yang lebih rendah untuk bertempur!

Oh! Wow! [So Desne] {Bhs. Jepang: Rupanya begitu!}


Setiap masalah di alam samsara ini selalu ada [Perbedaan], ada yang [Baik/Buruk],  ada pula yang [Benar/Salah], benar begitu?

Oleh karenanya para murid Buddha, mereka harus tahu cara untuk [Mengatasi], [Mengenyahkan dan Membebaskan] diri mereka dari penderitaan dunia ini. Bukannya harusnya begitu?

Dengan rendah hati memberi saran kepada semua Saudara Besar dan Saudari Besar, mohon jangan terus berkecimpung di dalam lumpur! Bangunlah! Dan segeralah mandi supaya bersih!



Lotus S, adalah seorang murid yang sangat menghormati dan mencintai Guru. Ia telah berlindung (bersarana) selama kurang lebih 23 tahun. Benarkah pernyataanku, Lotus S?

Yang ia maksudkan di sana adalah ia tak ingin terlibat di dalam urusan rumah-rumah ibadah Satya Buddha, ia hanya ingin berkonsentrasi dengan bersadhana secara pribadi, di rumahnya. Ia mencari [Sifat Sejati Buddha di dalam dirinya sendiri]!

Bila tidak (dijelaskan) demikian, kamu semua akan mengira kalau aku mendorongnya untuk meninggalkan Aliran Satya Buddha? Dan pada saat yang bersamaan, dengan BERANINYA mengunggah artikel tersebut ke blog-ku? Hahaha!

Guru pernah memberitahuku: [Tinggalkan Aliran Satya Buddha]; dan aku juga sudah menjelaskannya dengan detil, yang berarti [carilah jalur atau cara lain untuk melatih Dharma Tantra Satya Buddha]!


Oleh karenanya, aku bertanya:

Siapa yang paling mendengarkan Guru dengan penuh perhatian?

Siapa yang paling patuh?

Siapa yang paling menghormati dan mencintai Guru?

Hahaha!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef