Showing posts with label Lu Sheng Yen. Show all posts
Showing posts with label Lu Sheng Yen. Show all posts

Friday, November 23, 2012

Pentingnya Melatih Chi (Prana)

Guru melakukan Tinju Vajra

Dibagikan oleh Lotuschef – 26 Juni 2011
Tim Penerjemah: True Buddha Foundation Translation Team
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: The Importance of Cultivating Chi
Sumber artikel: Buku No. 154 – 智慧的光環 [Aura Kebijaksanaan], Bab 55, ditulis oleh Buddha Hidup Sheng-yen Lu
Image © a5739james


BAB 55 – Pentingnya Melatih Chi (Prana)


Seorang tabib pengobatan China memberitahuku kalau ia pernah mengobati penyakit seorang bhiksu senior.
Saat ia memeriksa denyut nadi sang bhiksu, ia terkejut mengetahui meridian dan nadi-nadinya menunjukkan tanda-tanda tersumbat.
Malah terdeteksi semua nadinya telah rusak dan membentuk peradangan Yin atau nadi-nadi yang tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Si tabib juga bercerita mengenai seorang biarawati senior yang telah sakit sejak kecil.
Sirkulasi chi dan darahnya sangat terganggu.
Ia terus-menerus mengalami derita siksaan penyakitnya dan sungguh mengibakan.
Kalau si biarawati tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, bagaimana ia bisa menyelamatkan para insan?

Tabib bertanya pada bhiksu senior, “Dengan kondisi kesehatanmu seperti ini, bagaimana kamu bisa melatih diri?”
Bhiksu menimpalinya, “Kami melatih pikiran, bukan tubuh.”
“Tapi bukankah sama pentingnya untuk menjaga kesehatan kita dan melatih chi?” si tabib menanggapi.
“Itu ajaran sesat!” Begitulah si bhiksu senior membantahnya.
Aku secara pribadi tidak setuju dengan pandangan si bhiksu senior.

Coba pikirkan tentang Patriak Zen Bodhidharma, yang berlayar ke utara dari India dan menjadi patriak Zen tionghoa yang pertama.
Ajaran Dharma-nya adalah dengan cara transmisi pikiran, dan inti pikiran secara rahasia ditransmisikan antar para patriak.

Namun saat Bodhidharma mengamati kesehatan para bhiksu Shaolin, yang duduk bermeditasi, mulai menurun karena duduk dalam jangka waktu yang lama, beliau kuatir kalau mereka malah tersesat di dalam latihan meditasinya.

Dari situlah beliau mengajarkan mereka seni bela diri dan juga Latihan Transformasi Otot/Tendon (Yi Jin Jing).

Bodhidharma berkomentar: “Saat sirkulasi chi dan darah lancar, maka tubuh akan berfungsi dengan penuh keleluasaan. Dengan tongkat kayu aku memukul, dan akupun berteriak, begitulah penyakit seseorang disembuhkan dengan obat yang tepat.”

Patriak Bodhidharma sebenarnya mengatakan bahwa praktisi yang hanya melatih pikirannya saja namun melupakan pelatihan tubuhnya kemungkinan besar akan tersesat. Oleh karenanya kita punya pusaka Kung Fu Shaolin yang diwariskan turun-temurun sejak saat itu.

Buddhisme Tantra punya penekanan yang seimbang pada pelatihan pikiran dan tubuh secara bersamaan. Kesehatan kita adalah fondasi yang paling dasar dari pelatihan diri kita.
Buddhisme Tantra juga dengan jelas menyatakan: “Melatih chi sama pentingnya dengan mengharmoniskan pikiran. Saat pikiran berada dalam kondisi harmonis, chi kita juga tenang dan lancar.”

Saat orang sedang tertimpa masalah, pikirannya akan terganggu, dan dari situ chi-nya menjadi tak seimbang.
Orang yang melatih chi akan mengalami sirkuasi chi dan darah yang lancar, sehingga tubuhnya terasa nyaman.
Pikirannya akan secara alami menjadi damai dan, pada akhirnya, semua rintangan kotorannya akan tercabut bersih.

Ajaran-ajaran Tantra di sini meliputi Latihan Tinju Vajra untuk membantu memperlancar chi.

Aku menganjurkan pentingnya melatih chi bila si praktisi berharap untuk bisa memadukan pikiran dengan chi.


Amituofo
Lama Lotuschef
Pure Karma
True Buddha School


Related Posts:

Wednesday, November 14, 2012

Tanya Jawab Seputar Pencerahan – Kekuatan Transendental [2]


Diringkas dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lama Lotuschef – 10 November 2012
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: Enlightening Interviews – 神通 Transcendental Powers [2]


[Catatan: Penerjemah telah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keakuratan dari naskah asli. Bagaimanapun juga, kami menghargai berbagai kemungkinan perbedaan interpretasi teman-teman pembaca. Dengan rendah hati memohon semuanya untuk membaca dengan Pikiran Terbuka.]

Pertanyaan ke-11: Kekuatan Transendental datang dari mana?
Pertanyaan ke-12: Apakah Kekuatan Transendental itu dikembangkan?

問的人說:「換句話說,神通是不是潛力的開發?佛可以任運神通,濟度眾生。而眾生皆有佛性,我們只是尚未開發而已,是嗎?」

Pertanyaan: Dalam kata lain, Kekuatan Transendental dikembangkan dari Kekuatan/Energi Potensial? Para Buddha bisa menggunakan Kekuatan Transendental dengan alamiah dan leluasa untuk menyelamatkan para insan. Begitu juga halnya, semua insan juga punya sifat sejati kebuddhaannya, kita hanya belum mengembangkan Potensi ini saja, benarkah demikian?

Guru kemudian memberikan sebuah analogi.
Seorang wanita cantik memelihara seekor burung beo. Suatu hari ia berjalan keluar dari kamar mandi menuju ruang tamu dengan telanjang.
Beo berkata: Aku sudah pernah lihat! Aku sudah pernah lihat!
Si wanita menimpali: Kalau berani sekali lagi bilang seperti itu, aku akan cabuti semua bulumu!
Keesokan harinya, seorang tamu yang botak datang berkunjung.
Beo berkata pada si tamu: Apakah (kamu menjadi botak) karena kamu telah melihat si wanita sedang telanjang?

Cerita ini mengilustrasikan bahwa kita jangan sampai salah berpikir kalau Kekuatan Transendental itu dikembangkan. Kita ini belajar Buddha Dharma, bukannya melatih Kekuatan Transendental.
[Maksudnya tidak semua lelaki yang botak disebabkan karena melihat si wanita tadi telanjang.]

Belajar Buddha Dharma adalah Zen.
Belajar Buddha Dharma adalah Stabilitas.
Belajar Buddha Dharma adalah Kebijaksanaan.
Belajar Buddha Dharma adalah Afirmasi (Penegasan).

Bagaimana halnya dengan yang kamu lihat dan dengar? Mata Dewa dan Telinga Dewa, Membaca Nasib dan Membaca Pikiran, Tubuh-tubuh astral, Sepenuhnya mampu merelakan; semua ini muncul secara alami dan merupakan hasil dari transformasi ilusi.

Mengenai Kekuatan Transendental, kita ada cara pandang seperti ini.

Kekuatan Transendental bukan untuk dikembangkan, tapi kembangkanlah Kebijaksanaan Buddha beserta dengan afirmasi hasil akhirnya.
Dengan Afirmasi, tanpa mengharap Kekuatan Transendental-pun, mereka akan muncul dengan alami (tidak diminta dan akan muncul dengan sendirinya). Jadi hal ini sebenarnya sebuah masalah yang tidak ada, karena tidak bisa merelakan [yang tidak ada ini] tapi malah mengharap [yang belum ada]. Oleh karenanya dalam proses afirmasi, Kekuatan Transendental akan muncul dengan sendirinya. Kalau terlalu menekankan/memprioritaskan Kekuatan Transendental, pasti akan Tersesat.

Mengejar Kekuatan Transendental adalah Mengejar [Ilusi].
Mengembangkan Kekuatan Transendental adalah Mengembangkan [Ilusi].

Kekuatan Transendental yang gagal, malah membuat orang yang bersangkutan jadi [shen jing – Gila].
Kekuatan seperti ini bisa dengan mudah membuat orang jadi gila, karena semua orang gila punya [perasaan, penglihatan, pendengaran palsu]. Seperti ini, semuanya jadi sia-sia!

Banyak orang selalu menghubung-hubungkan antara Afirmasi Sifat Kebuddhaan dengan Kekuatan Transendental, ini pada dasarnya Salah. Orang-orang ini berpikir bahwa berbagai kekuatan tersebut adalah Hasil Akhir dari afirmasi tingkat-tingkat kebuddhaan/kebodhisattvaan, mereka sungguh-sungguh salah!

Ada berbagai macam Kekuatan Transendental atau Hubungan atau Komunikasi dengan:
Roh binatang – tingkat rendah
Penyihir – tingkat rendah
Roh hantu – tingkat rendah
Dewa – tingkat menengah
Bodhisattva – tingkat tinggi
Buddha – tingkat tertinggi

Menurut pengetahuan saya, banyak roh tingkat rendah yang menyaru sebagai para bodhisattva tingkat tinggi, dan banyak insan yang tertipu oleh mereka, bahkan mereka yang bisa berkomunikasi dengan para roh juga tak terkecuali. Begitulah maka jangan terlalu terpaku dalam aspek-aspek seperti ini. Harus selalu ingat hal ini!
Kita ini yang belajar Buddha Dharma:
  1. Belajar Kebijaksanaan Buddha Dharma “Jalan Tengah” dari Bodhisattva Manjushri dan Nagarjuna.
  2. Belajar Kebijaksanaan Buddha Dharma “Yogacara” dari Bodhisattva Maitreya dan Asanga.

Kita perlu mempelajari [Ajaran] dan [Afirmasi].
Kita bukannya Mengembangkan Kekuatan-kekuatan Transendental.
Ingatlah! Ingatlah! Satu pikiran yang salah maka akan menjadi Mara!


---

Teman-teman sekalian yang terkasih, tujuanku menerjemahkan dua artikel yang mengesankan dan sangat mencerahkan ini, setulusnya adalah untuk berbagi ajaran-ajaran Guru mengenai Konsep-konsep yang Benar.
Guru memberikan nasihat kepada kita semua [untuk tidak mengejar atau melekat pada Kekuatan Transendental].

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Related Posts:



Tuesday, November 13, 2012

Tanya Jawab Seputar Pencerahan – Kekuatan Transendental [1]


Diringkas dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lama Lotuschef – 10 November 2012
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: Enlightening Interviews – 神通 Transcendental Powers [1]


[Catatan: Penerjemah telah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keakuratan dari naskah asli. Bagaimanapun juga, kami menghargai berbagai kemungkinan perbedaan interpretasi teman-teman pembaca. Dengan rendah hati memohon semuanya untuk membaca dengan Pikiran Terbuka.]

蓮生活佛著作盧勝彥文集227_悟境一點通 第十一問:神通從何來?
蓮生活佛著作盧勝彥文集227_悟境一點通 第十二問:神通是開發的嗎?

Berikut adalah dua buah pertanyaan yang diajukan kepada Guru mengenai Kekuatan Transendental/Astral. Sub pranala-nya mandarinnya tertera seperti di atas, atau di dalam buku No.227  mulai dari halaman 52 – 59.

Pertanyaan ke-11: Kekuatan Transendental datang dari mana?
Pertanyaan ke-12: Apakah Kekuatan Transendental itu dikembangkan?


問的人說:「盧師尊的成就顯見在您為眾生的消災解厄、賜福解惑上。您所創辦的真佛宗,每天在上演著感人的真實事蹟,這是個人人都有故事的大家庭。那麼是不是明心見性者,自然而然地就會有神通濟世的能力?」

Pertanyaan ke-11 – Banyak orang telah melihat pencapaian Mahaguru Lu dalam mengentaskan penderitaan, memberikan pemberkatan dan menghapuskan keraguan. Ordo Satya Buddha yang Anda dirikan adalah sebuah keluarga besar dengan berbagai peristiwa penyelamatan yang nyata dalam kehidupan para umatnya; oleh karenanya, apakah ini berarti bahwa mereka yang telah tercerahkan dengan sempurna – dalam teori dan praktik – bisa secara alamiah memiliki Kemampuan Transendental untuk menolong para insan?

Guru kemudian memberikan contoh mengenai acara wisatanya ke Hokkaido. Ia bertanya kepada pemandu wisata di manakah lokasi [Mingqi] berada? Si pemandu yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade menjawabnya bahwa selama bertahun-tahun ia melakukan pekerjaannya belum pernah mendengar tempat dengan nama itu.

Namun, setelah itu datanglah kereta yang berhenti di dekat mereka dan di sana tertera tulisan [Mingqi] dan juga ada angka [627] pada plat nomornya, dan pemandu wisata mereka bernama [Sheng Yen]!
Sepertinya [Mingqi] adalah sebuah kota kecil di ujung Utara Hokkaido yang hanya punya beberapa bulan cuaca baik, sisanya kota itu akan tertutup salju.
[627] adalah tanggal ulang tahun Guru dalam sistem penanggalan barat: 27 Juni.
[Sheng Yen] adalah bagian dari nama Guru.


我答:「巧合的不可思議,就是神通!」

Guru berkata ketika suatu kebetulan terlihat terlalu aneh untuk bisa dipercayai (karena terbukti nyata), maka itu adalah Kekuatan Transendental.


我答:密教行者,修風入於中脈,在中脈入、住、融。用水下火上於「命脈」中,開啟了心輪,見證了佛性,自然產生了神通。
密教開啟「眉心輪」、「喉輪」、「心輪」、「臍輪」、「密輪」均會產生神通力。這就是密教「生起次第」及「圓滿次第」的真正神通力的產生。是自然而然的,不是強求的。

Guru menjelaskan: Sadhaka yang berlatih Tantra, akan melatih prana (qi) yang masuk ke nadi tengah (lalu tinggal dan melebur di sana). Menggunakan Api untuk Melebur Air yang berada di atas di dalam [Nadi Kehidupan], membuka [Chakra Hati], dan kemudian mengafirmasi sifat buddha yang sejati, otomatis secara alamiah akan menghasilkan “Kekuatan Transendental”.

Di dalam Tantrayana, membuka chakra [mata ke-3], [tenggorokan], [hati], [solar plexus], [sakralis rahasia] maka akan memiliki Kekuatan Transendental. Inilah tahapan yang di dalam Tantrayana di namakan sebagai [Tahap Pembangkitan / Kye-rim / Utpattikrama] dan [Tahap Penyelesaian / Dzog-rim / Sampannakrama] beserta dengan Kekuatan Transendental yang dihasilkan darinya. Ini semua muncul secara Alamiah, dan bukan Dipaksakan.




其實神通也是一時之幻,真正「明心見性」者,不會去執著神通。因為:
一切諸法,皆悉空寂,無生無滅。

Kenyataannya, Kekuatan Transendental juga hanyalah sebuah ilusi gaib sementara saja, ia yang telah tercerahkan sepenuhnya tak akan terpaku atau melekat padanya, karena:
Semua dharma, adalah Kosong dan Sunyi, Tidak Bertambah (Berkembang) Tidak Mati (Berhenti).

{Bersambung}


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Related Posts:

Sunday, October 28, 2012

Prinsip-prinsip Utama Sheng-yen Lu


Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 22 Oktober 2012
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: Lu Sheng Yan’s Key Principles
Artikel sumber: 盧勝彥的心要 - 第一篇——序曲

Sheng-yen Lu, Buku No. 96, Bab 1 – Pengantar


[1] Buddha Shakyamuni muncul di dunia karena Karma persoalan duniawi. Demikian juga aku (Buddha Hidup Lian Sheng), muncul di dunia karena jodoh (afinitas) duniawi yang agung.

Dunia boleh saja mencemooh:
“Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu, mana bisa bisa dibandingkan dengan mereka yang maha suci!”

“Sungguh, sungguh, aku memberitahumu: {Aku adalah seorang Buddha}.”

Kita ini belajar agama Buddha, maka pasti akan menjadi seorang Buddha, kalau aku bukan “Buddha” lalu siapakah aku?

Para insan, janganlah meremehkan dirimu sendiri, saat tercerahkan tentunya menjadi Buddha, kalau bingung/tersesat maka tetap menjadi insan biasa. Kita masing-masing ini, bicara secara luas, adalah Buddha.

Afinitas dunia yang penting:
Mempelopori/membuka jalan menuju Kebuddhaan, menampakkan Sifat Sejati Kebuddhaan, mencapai Kebijaksanaan Pencerahan yang Sejati, dan menjadi Buddha. Melebur ke dalam alam-alam Buddha dengan mendalam.

Maka aku memberitahu kalian semua: “Aku adalah seorang Buddha.”


[2] Jangan melakukan kejahatan, lakukan semua hal yang baik, dan sucikanlah pikiranmu; inilah ajaran Sang Buddha.

Dua yang pertama “tidak melakukan kejahatan, dan melakukan semua kebaikan” adalah eksoterik. Sedangkan yang terakhir “sucikanlah pikiranmu” adalah buddhisme esoterik atau Tantra.

Tantra adalah Penyucian Tubuh – Ucapan – dan Pikiran. Sebenarnya ketiga hal ini adalah SATU adanya, karena saat Hati/Pikiran telah tersucikan, maka otomatis Tubuh dan Ucapan juga tersucikan.

Jadi, menyucikan pikiran adalah Tantra.

Ajaran rahasia Tantra, tujuan akhirnya adalah untuk {Menyucikan pikiran sendiri}.


[3] Dalam hidupku ini – dipengaruhi oleh cara pikir buddhis tradisional yang kontroversial, kemudian juga mengalami fitnahan yang terbesar, dan dikucilkan oleh dunia religius.

Tapi sejujurnya aku beritahukan kepada kalian semua:
Dari perspektif diri maupun orang lain, sebenarnya aku tak pernah bersengeketa dengan siapapun, tak ada seorangpun yang memfitnahku, tak ada yang mengucilkanku.

Apa yang aku, Buddha Hidup Lian-sheng, katakan adalah dari dalam hati dan jiwaku. Aku punya Kedamaian Abadi, Kebijaksanaan Tertinggi yang tak tertandingi, semua fitnah dan penolakan juga tak ada yang bisa mempengaruhiku.

Oleh karenanya, ini sama artinya dengan [tak ada seorangpun yang  pernah bersengketa, memfitnah, ataupun menolak diriku.]


[4] Ordo Satya Buddha-ku adalah aliran yang “asli” (otentik).
Karena “tidak ada sektarianisme”. Sektarianisme adalah kamp kecil yang labil.
[Catatan penerjemah: Sektarianisme – adalah pikiran sempit yang melekat pada sebuah partai atau denominasi atau aliran tertentu.]

Gerbang Kristen. Gerbang Katolik. Gerbang Islam. Aliran-aliran Buddhis juga punya banyak pintu gerbang.
Hanya Ordo Satya Buddha saja yang melebur semuanya dengan harmonis dan tidak mengucilkan ordo-ordo lainnya. Kita menerima dan memeluk mereka semuanya.


Alam Dharma banyaknya tak terhingga, begitu juga Satya Buddha juga tak berpintu.

Kemurahan hati-Ku (Buddha Hidup Lian-sheng) juga luar biasa tak terukur.

Sikapku terhadap berbagai agama dan aliran lain adalah:
Menggunakan (agama) dengan efisien; digunakan supaya bisa memberi manfaat; digunakan dengan sebaik-baiknya; digunakan dengan menyesuaikan situasi sehingga tahu manfaat apa yang bisa dipetik darinya.

Aku juga membagikan dharma sesuai dengan kebutuhan (kapasitas) masing-masing individu.


Beberapa orang berkata: “Ordo Satya Buddha ini kultus sesat!”

Namun sejujurnya aku memberitahu semuanya:
Kepada mereka yang perbuatannya jahat dan pandangannya menyimpang, kita perlu menggunakan persuasi yang baik daripada membabi buta menghajar mereka. Justru kelompok-kelompok seperti inilah yang perlu kita ajar dan selamatkan. [Catatan Lotuschef: ini adalah salah satu tugas saya dari Guru – untuk meyakinkan dan membujuk baik pihak Pemfitnah maupun para murid Satya Buddha supaya tidak saling menyerang, terutama hal ini ditujukan kepada Komite Pusat Satya Buddha!]

Ordo Satya Buddha ini memberi manfaat bagi semua insan, juga menyucikan seluruh dunia.

Kalau begitu di manakah yang namanya Jahat? Di manakah si Sesat (thirtika) berada?


[5] Tidak melakukan kejahatan, dan melakukan semuanya yang baik – dengan ini pasti bisa naik ke alam surga. Hampir semua agama juga punya konsep seperti ini.

Tidak melakukan kejahatan, dalam agama Buddha dibagi menjadi lima komponen: Membunuh, Mencuri, Sex yang menyimpang, Berbohong, Minum (minuman keras hingga mabuk).

Kemudian Lima Kejahatan dirubah menjadi Lima Kebajikan, mereka adalah: Pengetahuan, Kebenaran, Minat, Fleksibilitas, Welas Asih – inilah kebajikan dasar dari seorang sadhaka.


Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, berkata:

Tidak melakukan kejahatan, tapi melakukan semua kebajikan – akan naik ke alam surga.

Bila kekacauan tidak mempengaruhi hatinya – maka naik ke Dewachen (Surga Barat/Sukhawati).

Bila Tubuh, Ucapan, dan Pikirannya tersucikan – sama artinya dengan mencapai Kebuddhaan dengan segera.


[6] Melatih Esoterik dan Eksoterik ada sedikit perbedaan:
Eksoterik adalah “mengikuti Dharma dan bukan bergantung pada si individu”.
Esoterik (Tantra) adalah “sesuai dengan Dharma dan si individu yang bersangkutan”.
Ini karena Tantrayana membutuhkan pemberkatan abhiseka dari Guru Akar barulah si praktisi bisa mencapai keberhasilan.


Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, mengenali 3 kelompok orang yang melatih Tantra tapi tak akan mencapai keberhasilan:

Yang pertama adalah yang meragukan dirinya sendiri – ragu bahwa dirinya bukanlah Buddha, mengira dirinya sendiri tak akan bisa menjadi Buddha, ragu kalau dirinya sendiri tak punya potensi untuk menjadi Buddha.

Yang ke-dua, meragukan Gurunya – keraguannya ini akan menyebabkan hilangnya penghormatan dan kepatuhan, tentu saja tak bisa mendapatkan pemberkatan dari sang Guru Akar, dan dengan ini tak akan mendapatkan keberhasilan.

Orang yang ke-tiga, meragukan Dharma Tantra – karena keraguannya ini maka ia tak dapat melatih secara mendalam, dan karena tidak bisa mendalam maka ia tak bisa MENGGUNAKANNYA; oleh karenanya ia melatih dengan sia-sia karena tak ada manfaatnya?


Maka di sini aku menjamin: Mereka yang yakin bahwa dirinya adalah Buddha; juga menghormati Buddha Hidup Lian-sheng Lu Sheng Yen; punya iman yang kokoh pada Dharma Tantra Satya Buddha dan melatihnya sehari sekali, tekun dan tak mundur; tidak ada satupun yang dimelekatinya – pasti akan mencapai Kebuddhaan.


[7] Zen ada sesuatu yang dinamakan {meragukan dan menebak}!

Keraguan besar adalah pencerahan.
Keraguan kecil maka tak tercerahkan.
Tidak ada keraguan maka tak ada pencerahan.

Buddha Shakyamuni mengajak para sadhaka untuk {meragukan dan menebak}, kenapa demikian?

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, menjawabnya:

Di sini, ragu bukanlah akan Diri Sendiri, Guru, ataupun Dharma. Ia adalah pelatihan [Kontemplatif/Merenung]; yang berarti senang mempelajari semua Dharma Buddha beserta filosofi-filosofi di baliknya; mencari tahu dan merenungkannya dengan mendalam sehingga mendapatkan kebenaran yang lebih lengkap dan sejati – dari merenung lalu menginterpretasikannya dan kemudian tercerahkan.


[8] Dharma Buddha begitu luasnya, lalu bagaimana caranya belajar dan melatihnya?

Banyak umat Buddha yang mulai belajar dengan tekun, namun saat memasuki lautan Dharma, mulailah mereka menyadari betapa besar dan luasnya Buddha Dharma – tak terukur, tak terselami, kaget, tak tahu harus mulai dari mana supaya bisa memahami dengan sempurna, akhirnya malah jadi tidak mendengarkan, tak berpikir, tak melatih diri, menyerah di sana, dan tak mau belajar lagi.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, menyarankan:
Saat masih muda – belajarlah sebanyak-banyaknya.
Saat usia pertengahan – dalamilah satu sadhana saja.
Saat usia tua – latihlah saja sadhana untuk terlahir kembali.

Kalau kamu berpikir [Belajarlah sebanyak-banyaknya] sungguh rumit, sehingga tak bisa menyelami Dharma, kenapa tak bertanya saja pada Guru Akar untuk sebuah sadhana, dan kemudian melatihnya sepanjang hidupmu. Mendalami Satu sadhana sudahlah cukup.

Begitu kamu berhasil melatih satu sadhana, artinya sama dengan berhasil melatih semuanya. Oleh karenanya, aku secara pribadi merasa bahwa “mendalami satu sadhana” adalah hal yang terpenting!

Belajar sebanyak-banyaknya tapi tidak dilatih, bagaikan orang yang hanya melihat makanan enak tapi tidak turut memakannya, sama saja tak ada manfaatnya.

Bagi orang tua, selama [hatinya tak kacau] dan melatih sadhana Kelahiran Kembali, itu sudahlah cukup.


[9] Padmasambhava berkata: Hormatilah Gurumu, Hargailah Dharma (yang diajarkannya), dan Berlatihlah dengan tekun.

Aku mengatakan: “Kalau bisa digunakan, baru akan menjadi orang yang tercerahkan!”

Teori Zhi-du mengatakan:
Dharma adalah rute/jalan yang sangat berharga.
Akan menjadi tidak berharga kalau tidak dilatih.
Tapi kalau bisa melatihnya dengan tekun, meski tidak berpengetahuan luas, setidaknya bisa memasuki jalan (dharma) dulu.


[10] Aku sering berpikir, kenapa aku harus melatih diri? Karena aku menyadari:
Pentingnya Hidup dan Mati.
Betapa cepatnya ketidakkekalan datang.

Dan aku, Buddha Hidup Lian-sheng, memahami beberapa Kebenaran dari pengalaman-pengalaman hidup bahwa:
  • Penderitaan berarti: Menderita karena Lahir – Tua – Sakit – Berpisah dengan yang dicintai – Kebencian – Hal-hal yang tak tercapai – Lima indera yang bermasalah [inilah 8 penderitaan].
  • Ilusi berarti: hidup ini tidak nyata atau ilusi belaka.
  • Ketidakkekalan: Bila ada jodoh (afinitas) maka akan Muncul, saat jodoh habis maka akan Menghilang. Semua fenomena ini silih berganti dengan cepat.
Aku memahami [8 Penderitaan Kehidupan] ini, dan “semuanya adalah ilusi”, serta [ketidakkekalan yang datang dengan cepat], supaya bisa mempunyai hati yang suci dan pikiran yang waspada, oleh karenanya aku merasa bahwa [melatih diri] adalah hal yang paling penting di dalam hidup ini.


[11] Dalam bukuku, [Firman-firman Emas dari Lu Sheng Yen], aku pernah menuliskan:
Buddha Shakyamuni memberikan vyakarana kepada Devadatta sebagai pemberkatan akan pencapaian kebuddhaan-nya, dan pada saat yang sama juga berterima kasih kepadanya atas penganiayaannya.

Aku juga sama halnya mengikuti ajaran-ajaran suci Buddha Sakyamuni,

Mengucapkan terima kasih:
Salut kepada para Pendeta Agung atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada orang awam yang besar atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada setan (mara) langit yang agung atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada setan manusia yang besar atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut karena tidak menyalahkan maksud dari para setan yang memberikan berkat.

Dengan tulus aku berterima kasih atas semua pemberkatan yang berkebalikan, bahkan dengan adanya permberkatan semacam itu aku akan menjadi lebih tekun, itulah kenapa hingga hari ini aku bisa menunjukkan hasil dari pelatihan {mengkhususkan diri pada Satu}. Tanpa pemberkatan yang berkebalikan, pasti akan mudah goyah.


[12] “Sadhana Tantra Satya Buddha” selaras dengan tiga rahasia untuk mencapai Kebuddhaan, tiga rahasia tersebut adalah:
  1. Tubuh – selaras dengan mudra.
  2. Ucapan – selaras dengan mantra.
  3. Pikiran – selaras dengan visualisasi.
“Mudra” melambangkan mudra tubuh sang yidam.
“Mantra” menyimbolkan keberhasilan sang yidam dan tingkat harta dharma-nya di saat itu.
“Visualisasi” mewakili isi pikiran dan kekuatan pikiran sang yidam.

Kunci yang terpenting dalam “Tantra Satya Buddha” adalah:
Pertama: Padatkan (fokuskan) berbagai macam pikiran yang bercabang ataupun gangguan menjadi SATU.
Ke-dua: Rubahlah Satu Pikiran menjadi Tiada Pikiran.
Ke-tiga: Pahamilah bahwa Tiada Pikiran itu artinya sama dengan Alam Semesta yang Kosong.

Inilah yang dimaksud,  dari Mudra – Mantra – Visualisasi, kemudian dihubungkan ke dalam Meditasi Samadhi, dan akhirnya mencapai kondisi yang tertinggi yaitu Kebuddhaan. Inilah sadhana tantra Satya Buddha.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, sungguh-sungguh memberitahu semua bahwa dengan [Tantra Tertinggi] di sana ada:
  1. Kesatuan Spiritual – bersih, terang, mengalir dengan mulus (merujuk pada Citarasa Dharma).
  2. Tiada Pikiran – semua elemen kehidupan mengalir kembali (ke arah sebaliknya).
  3. Kekosongan Universal – segera mencapai Kebuddhaan.
Aku merasa bahwa saat aku memegang kendali atas situasi, semuanya berjalan dengan “otomatis”, inilah tantra tertinggi! Saat memasuki Samadhi, “energi” tubuh kita secara alamiah akan mengalir kembali dan menjadi terfokus.

Tinggal di dalam Kekosongan Semesta (Sifat Sejati Buddha), maka sifat sejati diri sendiri akan muncul secara otomatis, menunjukkan sifat kebuddhaan-nya.


[13] Aku ingin mengungkapkan “kunci kebijaksanaan terunggul” ini kepada semua insan sejelas-jelasnya – bahwa sadhana di dalam Tantra terbagi menjadi bagian “awal, inti, dan akhir”.

Bagian yang terpenting adalah bagian sadhana inti.
Ia adalah Visualisasi – Mudra – dan memasuki Samadhi.

Visualisasi: Dengan pikiran menghentikan pikiran-pikiran lain.
Mantra: Mengundang yidam untuk melebur (menyatu) dengan diriku, dan aku kemudian melebur dengan sang yidam.
Memasuki Samadhi: Melebur ke dalam Kedamaian.

Pada bagian Inti, ada banyak kunci-kunci penting yang harus dipersiapkan untuk menuju Kebudhaan sebagai titik akhirnya, mereka adalah {melebur menjadi Satu}, {merubah menjadi Tiada Pikiran}, {menjadi setara dengan Kekosongan Universal}, dan pada akhirnya untuk {mencapai Kebuddhaan dengan segera}.

Kunci-kunci utamaku adalah sebagai berikut:
Nadi dengan nadi saling terhubung.
Qi atau Prana melebur dengan Prana.
Titik-titik Cahaya Bindu saling melebur.
Sinar yang muncul saling bertransformasi.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, dengan [Prana, Nadi, Bindu] dalam tubuhku sendiri, melatih untuk [memasuki arus dharma]; [tinggal di dalam kesucian]; [menjaga penyatuan yang harmonis]; benar-benar menembusi semua nadi internal dan eksternal. Kunci-kunci ini akan aku ungkapkan satu demi satu di dalam buku ini.

===

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom.