Showing posts with label ketenaran. Show all posts
Showing posts with label ketenaran. Show all posts

Saturday, September 5, 2015

Alam Pikiran Binatang



Dikutip dari ceramah dharma Buddha Hidup Lian Sheng – 2 Oktober 1990
(Pencapaian Tubuh Sinar Pelangi, Jilid 1, hal. 218-221)
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Yuan Zheng Tang
Dibagikan oleh Lotuschef – 12 April 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: ANIMAL MIND 动物的心



Kemarin saat mambahas “bagaimana cara kita mengundang roh”, aku sempat menyebutkan roh-roh binatang. Mereka punya semacam kesaktian, meski tak cukup hebat di dalam banyak aspek. Namun di dalam sadhana dan ritual, kita masih bisa memanggil mereka untuk mengerahkan bantuan.

Hari ini akan membahas “10 tahap perkembangan pikiran.”

Seorang guru dharma yang pikirannya mirip dengan seekor binatang biasanya akan mampu mengundang kehadiran roh binatang. Apa itu “pikiran binatang”? Untuk hal ini, Bhiksu Jepang Koho (Kobo Daishi) memberikan istilah “Yi Ti Di Yang Xin” (kambing dari area yang berbeda). Ada dua kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan pikiran binatang: makanan dan seks. Binatang punya insting untuk makan saat mereka lapar, dan bersenggama untuk memuaskan nafsu seksual mereka.

Manusia yang hanya tertarik pada makanan dan seks akan terlahir kembali ke dalam alam binatang di kehidupan selanjutnya. Meski si guru dharma tersebut mampu mengundang kehadiran roh binatang untuk menolongnya menyelesaikan beberapa tugas seperti meramal dan mengenyahkan kesialan, gaya hidupnya bukanlah panutan karena hanya peduli seputar makanan dan seks saja.

Mereka yang melakukan 10 kejahatan: membunuh, mencuri, seks yang tak wajar, berbohong, bicara kasar, omongannya memecah belah, bicara ngawur dan tak masuk akal, tamak, berniat jahat, dan berpandangan salah, sudah pasti terjatuh ke alam binatang. Jadi tanyakan pada dirimu sendiri: “Kenapa orang-orang membunuh, mencuri, menuruti nafsu birahi hingga berlebihan?” Karena pada umumnya ya demi makanan, ketenaran, keuntungan, dan nafsu seksual.

Menurutmu, apakah mereka yang telah melanggar sila-sila tersebut masih bisa melakukan ritual dengan hasil yang efektif? Mungkin saja, tapi mungkin juga tidak. Kenapa? Karena mereka punya pikiran binatang, mampu mendatangkan bantuan dari para roh binatang di dalam ramalan mereka, terutama untuk persoalan seputar makanan dan seks.

Mereka yang mendapatkan bantuan dari roh-roh binatang mampu menipu banyak orang, karena kesaktiannya cukup terbilang kuat. Banyak medium yang mengaku memuja Buddha, namun pada kenyataannya daya penyembuhan mereka datang dari roh binatang. Sumber kesaktian tiap orang berbeda-beda. Kalau si medium yang bersangkutan hanya tertarik pada ketenaran, keuntungan, makanan dan seks, besar kemungkinan hanya roh binatang yang datang untuk membantunya.

Di sini, sebelum aku membuka rahasia lebih banyak lagi, aku perlu menekankan kepadamu bahwa bila tujuan hidupmu hanya mencari ketenaran, keuntungan finansial, makanan enak dan kenikmatan seks belaka, kamu akan masih bisa menggambar fu untuk orang-orang, menyembuhkan penyakit orang-orang, mengenyahkan kesialan orang-orang, tapi berhubung pikiranmu sangat dekat dengan pikiran binatang, hanya roh binatang yang datang membantumu. Kamu ingatlah benar-benar poin penting ini!

Maka sebagai sadhaka, kita perlu menahan diri dari melakukan 10 macam kejahatan. Yang ada justru harus mengamalkan 10 perbuatan bajik, dan belajar dasar-dasar menjadi manusia. Yang telah melakukan 10 kejahatan pasti terjatuh ke alam binatang saat waktunya tiba, karena tingkah lakunya tak berbeda dari binatang itu sendiri. Kamu perlu tahu, bahkan kekuatan roh binatang bisa dibilang sakti, namun bagaimana halnya dengan kesaktian para Buddha dan Bodhisattva? Sudah pasti hebat!

Oleh karenanya saat sebuah ramalan sangat akurat, belum tentu dilakukan oleh seorang buddha. Bisa saja kerjaan seekor roh binatang. Saat ada sebuah rumah ibadah yang terkenal karena ramalannya akurat, belum tentu ada dewa yang bertugas di sana. Bisa jadi itu kerjaan sekelompok roh binatang. Dengan kondisi demikian, supaya bisa berbaur dengan para binatang, orang yang bertugas harus bertingkah seperti binatang pula, sampai pada akhirnya terjerat sendiri! Maka bila kita ingin hidup dengan bersih, sudah seharusnya tak berbaur dengan kelompok roh binatang.

Untuk bersadhana, pikiran harus sadar dan jernih. Karena begitu kita hanya mengejar ketenaran, keuntungan, makanan dan seks, pikiran kita sudah pasti menjadi kotor dan otomatis menunjukkan akhir dari kehidupan kebatinan kita! Kita akan dikelilingi oleh roh binatang.

Di sini menyimpulkan, kita tak boleh meremehkan kesaktian roh binatang. Dan harus paham bahwa tabiat binatang adalah mencari ketenaran, keuntungan, makanan dan seks.

Om Mani Padme Hum.

Friday, June 28, 2013

Biarkan dia pergi!


Artikel Buddha Hidup Sheng-yan Lu
Dibagikan oleh Lotuschef – 21 Juli 2011
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Commentary Sword of True Buddha [Let Him Go!]


Sekarang ini Aliran Satya Buddha sudah berkembang menjadi sebuah aliran religius yang cukup besar. Ritual-ritual Tantra Satya Buddha juga beragam, hidup, dan mencakupi semuanya. Demikianlah seorang praktisi Satya Buddha yang dengan penuh perhatian melatih dan mencoba memahami sadhana yang dilatihnya, pasti akan mampu mencapai tingkatan spiritual yang lebih tinggi dan bisa mencicipi citarasa Dharma; ia pasti mampu memasuki ajaran-ajaran Buddha Dharma yang mendalam.

Namun, aktualisasi praktek bukanlah suatu komitmen yang hanya sekedar diucapkan di mulut saja. Ia harus diaplikasikan (digunakan). Kiranya mohon jangan sekedar menggunakan gelar “sadhaka Satya Buddha” kalau si praktisi yang bersangkutan masih saja merupakan orang yang kebingungan – yang mendamba ketenaran dan kekayaan, yang tak mampu menahan godaan status dan uang, atau malah yang lebih orthodoks daripada orang biasa.

Aku sendiri tak menyangkal kenyataan bahwa di dalam aliran kita ada banyak murid yang masih bertikai demi ketenaran dan kekayaan. Ada orang-orang yang menggunakan nama Aliran Satya Buddha demi kepentingan mereka sendiri. Ada yang melahap sendiri uang yang dikumpulkan untuk tujuan amal. Malah ada juga  yang terus-menerus bertikai dengan sesamanya demi posisi pimpinan, ketua, dan kepala biara.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yan Lu, sangat tahu akan semua hal yang sedang terjadi. Meski aku tak mengeluarkan sepatah katapun, namun di dalam hati aku tahu semuanya dengan detil. Aku mendesah dari lubuk hatiku yang paling dalam: ini adalah “tunas yang terbakar dan biji-biji yang rusak” (orang-orang yang sudah tak bisa diperbaiki/dituntun). Mereka sungguh tak punya berkah dan hubungan karma yang baik.

Kita, para sadhaka, harus bisa melepaskan harta, melepaskan ketenaran dan status, mengorbankan waktu, dan bahkan hidup kita, supaya sepenuhnya jujur dan tulus dalam keinginan kita untuk mengaktualisasikan pelatihan spiritual. Hanya dengan begitulah baru kita dianggap sebagai seorang Bodhisattva yang sejati, bukannya pergi mencari uang, bertikai demi status dan ketenaran!

Aku ingin mengingatkan semua muridku dengan serius:
Waktu kan berlalu,
Umurpun berkurang setiap detiknya,
Bagaikan seekor ikan yang menatap garis air yang kian menurun,
Kesenangan ada di mana?
Berlatih dengan ketekunan yang luar biasa,
Layaknya memadamkan api yang sedang membakar kepala,
Merenungkan ketiadakekalan,
Selalu waspada,
Tidak memanjakan diri dalam berbagai aktivitas yang tak bermakna.

Aku selalu melihat mereka, para murid yang terhanyutkan oleh ketenaran dan kekayaan; kucoba menahan air mataku sebisa mungkin sambil bergumam: “Lepaskanlah dia! Biarkan dia pergi!”

---

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef