Showing posts with label ketekunan. Show all posts
Showing posts with label ketekunan. Show all posts

Saturday, September 14, 2019

Punya iman pada Guru Akar? [3]



Ditulis oleh Lotuschef – 16 Oktober 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Confidence in Root Guru? [3]



Mengutip dari artikel Punya iman pada Guru Akar? [1 & 2]:

Senin, 8 April 2013
[--- Di dalam buku yang pernah kubaca, penulisnya adalah seorang ahli kebatinan universal berkebangsaan Indonesia. Suatu hari, seorang klien (wanita) datang dan menanyakan masalah keluarganya. Ia bertanya “Aku sudah menjapa Da bei zhou (Maha Karuna Dharani) setiap hari selama 10 tahun. Apakah bodhisattva tidak pernah mendengar doaku?”

Si ahli kebatinan merasa kasus ini sangat rumit, jadi ia memohon bantuan kepada Guan Yin bodhisattva.

Rupanya ia menyadari bahwa masalah utamanya adalah “altar” keluarga tersebut yang ber-aura gelap atau ada roh jahat yang duduk di sana untuk menerima persembahan air – dupa – dll., bukannya Guan Yin, tapi setan. Jadi sadhananya selama 10 tahun ini sia-sia karena setan tersebut memblokir kekuatan mantra. Kekuatan mantra tak pernah sampai kepada sang bodhisattva. Benarkah bisa demikian?

Altar yang dikuasai oleh setan atau roh-roh jahat bisa sebegitu kuatnya menghalangi atau memblokir kekuatan Maha Karuna Dharani?

Aku jadi bingung dan ragu-ragu. Jadi mohon kiranya master memberikan penjelasan dan instruksi.

Amituofo. Terima kasih banyak, master. ---]

---

Teman-temanku yang terkasih, sampai sekarang Mahaguru Lu telah mengajarkan Dharma Maha Kesempurnaan, mampukah kalian menjawab pertanyaan di atas dengan yakin dan dengan Kebenaran Sesungguhnya?

Murid ini menanyakan untuk alasan pribadi dan masih tidur terlalu nyenyak untuk bisa bangun kembali dan mencari jawabannya sendiri.

Hahaha!

Mengapa bertanya kepadaku?

Orang yang bertanya ini juga kebingungan dan tak menyebutkan siapa si ahli kebatinan tersebut.
Bila si ahli kebatinan mempublikasikan berbagai pengalamannya di dalam buku, sekiranya apakah mungkin dia sendiri juga bingung dengan masalah yang dialami kliennya?

Namun sekarang bila mengasumsikan si ahli kebatinan benar-benar dapat berhubungan dengan Guan Yin, menurutmu apa yang Guan Yin, seorang bodhisattva, akan katakan atau sarankan? 😊

Pertama-tama, tahukah kamu karakteristik seorang bodhisattva?

Pola pikir duniawi itu:
Menjapa mantra selama 10 tahun ternyata sia-sia belaka?
Setan atau roh jahat memblokir kekuatan mantra?
Jadi mantra tersebut tak pernah sampai ke sang bodhisattva?

Hahaha!
Apa yang Mahaguru Lu katakan perihal menjapa mantra?
Ingatkah: Mudra, Visualisasi, Mantra?
Ditambah dengan: Ketulusan hati dan Ketekunan!

AH! Bila kamu mengaplikasikan apa yang Mahaguru Lu ajarkan, mungkinkah para setan atau roh jahat sampai dapat memblokir kekuatan mantra?

Hahaha!
Apa sih “kekuatan mantra” itu?

Sudah baca artikelku: Kekuatan Mantra?

Kembali dulu ke dasar-dasar!

Pertama-tama, mengapa seseorang menjapa mantra?
Da Bei Zhou atau Maha Karuna Dharani (Welas Asih Agung), untuk tujuan apa?
AH!
Apa yang kuajarkan perihal Bodhicitta selama ini?

Keyakinan pada Guru Akar (Mulaguru) berasal dari iman yang mutlak dan percaya pada ajaran-ajarannya!
Mutlak absolut dan tanpa keraguan!

Dapatkah kamu menunjukkan dan mengutip apa yang Mahaguru Lu ajarkan supaya diaplikasikan di berbagai macam situasi?

Sekarang ini di bagian mana yang kamu belum tekun?

Menyarankanmu: Kembalilah pelajari hal-hal mendasar dan bangunlah fondasi atau gudang harta dharma-mu sendiri, barulah kemudian kamu bisa mengambilnya untuk Diamalkan Kapanpun dan Dengan Leluasa [任运自如].


Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Wednesday, June 28, 2017

6 Paramita: Virya – Ketekunan



Ditulis oleh Lotuschef – 27 Juni 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 六度~精进 6 Paramitas ~ Virya - Diligence

Patung Maitreya di Biara Zen Zhong Tai, Taiwan.

Mengacu ke rekaman ceramah Mahaguru Lu:
2017年6月18日聖尊蓮生活佛盧勝彥開講「道果」-彩虹雷藏寺

Di atas ini: Mahaguru Lu sedang membabarkan Lamdre di Vajragarbha Pelangi, Seattle, 18 Juni 2017. Di saat itu beliau membahas kalau telah mendapatkan semua yang dijanjikan oleh Maitreya Bodhisattva kepada-NYA.
Namun Mahaguru Lu tidak memperhitungkan semua harta tersebut, punya juga sama artinya dengan tak punya.
Karena apa yang menjadi milik Bumi yang Agung ini pada akhirnya akan kembali juga ke Bumi yang Agung.
Yang benar-benar dimiliki adalah Tanah Suci Maha Kolam Teratai Kembar.

Semua harta ditunjukkan kepada Mahaguru Lu saat Maitreya membuka kantong kainnya.
Pada kenyataannya, semua Buddha dan Bodhisattva memperhatikan dan peduli padamu,
Kamu hanya perlu tekun bersadhana dan menulis, maka tunas bunga lotus akan muncul dari bumi secara alamiah.

Paramita adalah istilah Sansekerta yang berarti “kesempurnaan.”
Enam paramita di dalam Bahasa Tibet dan Sansekerta adalah:
(1) sbyin-pa (dana, “kemurahan hati”),
(2) tshul-khrims (shila, “etika”),
(3) bzod-pa (kshanti, “kesabaran, menerima, pengampunan”),
(4) brtsong-’grus (virya, “usaha yang penuh sukacita, ketekunan, semangat”),
(5) bsam-gtan (dyana, “konsentrasi meditatif”), dan
(6) shes-rab (prajna, “kesadaran-kebijaksanaan yang tajam yang mampu membedakan, wawasan”).

Pagi ini, aku bermimpi seseorang mencuri sebuah patung Maitreya Bodhisattva.
Tinggi patung sekitar 15 inchi, panjang bagian dasarnya sekitar 15 inci, dengan lebar 9 inchi. Ia dibungkus dengan kain linen warna krem beige.
Aku mengejar si pencuri dan akhirnya ia meninggalkan patung tersebut di stan resepsionis kecil. Setelah mendapatkan kembali patung tersebut, aku berjalan menuju suatu rumah ibadah. Di sana sepertinya sedang ada sebuah acara.

Hahaha!

Lantai yang menuju ke rumah ibadah itu tiba-tiba tenggelam dan air menutupi jalan masuknya.
Saat aku sedang berdiri sambil menyaksikan, ada seseorang yang mengangkat sebuah papan dan lantai kembali muncul!
Supaya tak membahasi bajuku, aku mulai berjalan masuk ke dalam rumah ibadah tersebut.
Apa yang terjadi? Aku berjalan setinggi 2 kaki di atas tanah dan seperti sedang melayang!
Wah!
Rumah ibadah ini berada di dunia akhirat, dan semua penghuninya bertampang sengsara karena menahan derita hebat.

Teman-temanku sekalian, Mencuri merupakan salah satu sila yang tidak boleh dilanggar.
Ia akan menjerumuskanmu ke dalam Neraka karena perbuatanmu sendiri!

Seperti yang Mahaguru Lu katakan: Selama kamu bersadhana dengan bersungguh-sungguh, para dewata akan memberkatimu dengan segala barang kebutuhan supaya kamu bisa terus melanjutkan hidupmu.

Kalau kamu ingat di tahun 2010 saat Mahaguru Lu mengunjungi Hong Kong,
Vajra dan Lonceng dicuri setelah Mahaguru Lu menggunakannya, begitu juga dengan patung Vajrasattva turut dicuri.
Siapa yang memberitahumu kalau barang-barang yang telah digunakan atau disentuh Mahaguru Lu akan membuatmu jadi kaya dan menambah berkahmu?
Hahaha!
Memiliki barang-barang tersebut dengan menghalalkan segala cara, malah menjerumuskanmu ke dalam Neraka, jauh sekali dari Tanah Suci!

Bila kamu adalah salah satu orang yang masih belum sepenuhnya memahami ajaran Mahaguru Lu, maka sudah pasti kamu akan jatuh ke 3 alam samsara yang lebih rendah!

Pertolongan buatmu hanyalah dengan membuka lembaran baru kembali setelah Bertobat dengan sepenuh hati!
Tak ada yang hilang bila kamu bisa meneguhkan kemauanmu dan mengambil tindakan dari sekarang!


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Sunday, July 17, 2016

Bersadhana Dengan Tekun?



Ditulis oleh Lotuschef – 14 Juli 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 精进实修?Diligent Cultivation?


Tanggal 10 Juli 2016 – waktu Seattle, Mahaguru Lu mengajarkan banyak kunci penting!

Di Tibet, sebelum melatih Tantrayana, si praktisi memulai jalur pembelajarannya dari melatih Mahayana selama 12 tahun, barulah kemudian menguji dirinya sendiri apakah cocok untuk berlatih Dharma Tantra (Vajrayana).

Hahaha!

Cobalah sekarang tanyakan pada dirimu sendiri:
Seberapa besar porsi usaha dan ketekunan yang kamu sisihkan untuk mempelajari Mahayana?
Seberapa besar dari yang kamu pelajari tadi mampu kamu aplikasikan ke dalam praktik harianmu?

7 November 2009, Mahaguru Lu mengatakan bahwa Bodhicitta adalah Kunci untuk mencapai Kebuddhaan!
Dan itu adalah pandangan Mahayana yang “demi kebaikan para insan”!

Demikianlah tanpa Bodhicitta, maka tiada yang namanya pencapaian Kebuddhaan!

Hahaha!

Kiranya sekarang kamu paham kenapa aku selalu Bicara dan Menekankan Pentingnya Bodhicitta dan Ketekunan Bersadhana?

Oh! Seperti kata Mahaguru Lu – seorang murid, Duta Besar, mampu melihat cahaya biru di dalam Samadhi setelah bersadhana dengan tekun selama 10 tahun!

Ingatkah kamu Mahaguru Lu pernah bilang bahwa mereka dengan jodoh dan potensi yang besar akan mencapai keberhasilan lebih cepat daripada mereka yang tak mempunyai faktor tersebut?

Ya! Memang ada pengecualian!

TAPI kamu jangan berkhayal kalau kamu merupakan salah satu dari mereka yang Berpotensi Besar, Berjodoh, dan mampu beryoga dengan Guru Akarmu sebelum Bersarana (Berlindung)!

Bila kamu adalah pembaca setia blogspot ini, kamu akan melihat ada banyak orang yang mengaku punya kesaktian atau kemampuan khusus, tapi sebagian besar Tidak Benar! :)

Oleh karenanya, bukankah ini saatnya kamu mendengarkan saranku dan Mulai tekun berlatih dari Dasar?

Mulai dari titik awal Yoga – Berfokus pada Satu!

Ya! Dengan tekun mempraktikkan Empat Prayoga!

Dalam sesi ceramah yang sama, Mahaguru Lu juga mengatakan bahwa Beliau masih punya banyak hal yang belum Beliau ajarkan!
Seperti yang pernah kubilang, jangan biarkan siapapun mengusir atau menggulingkan Mahaguru Lu!
Kerugiannya sungguh Sangat Tak Terkira!

Lagipula tanpa dasar fondasi yang kuat, kamu juga tak akan mampu memahami “HAL MENARIK” tersebut!

Bagi kebanyakan orang, WAKTU adalah faktor penentu pencapaian seseorang!

Juga TIDAKLAH BENAR! :)

Mewanti-wantimu jangan sampai terkecoh oleh para senior yang mengaku mereka murid pelopor Mahaguru Lu, ataupun telah mengikuti Mahaguru Lu selama 20-40 tahun pula!

MEREKA ini sama saja, sayang sekali belum Menguasai Dasar-dasar ajaran, dan tentunya juga belum melaju ke Guru Yoga. :)

Jangan belajar dari orang-orang seperti itu, belajarlah hanya dari Mahaguru Lu, atau seperti yang Beliau katakan, mereka yang telah belajar dan memperoleh pencapaian.
Hanya orang-orang tersebut yang mampu mengajarimu ataupun memberikan saran mengenai cara bersadhana dari titik paling awal.

Tak ada yang namanya jalan pintas!

Tentunya kamu sekarang akan paham kenapa aku bilang: “Hanya dengarkan Guru Akarmu saja, jangan orang lain!”

Kamu harus memulai dengan Berfokus pada pembelajaran Buddha Dharma dan menggunakannya secara efektif demi memberi manfaat bagi para insan.
Dengan Bodhicitta, kamu akan mampu menaiki “peringkat” di dalam anak tangga Vajrayana dengan cepat!

Saatnya bagun dan menghindar dari mereka yang bahkan tak mampu melewati Titik Awal di dalam Sembilan Yana!


Salam Metta.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Friday, June 24, 2016

Biografi Mahasiddha Virupa



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 7 Juni 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 7-5-2016 Mahasiddha Virupa 畢哇巴





【道果本頌金剛句偈疏】作者是畢哇巴,原來本身的道果不是一篇文章,是一句一句的,九個字或七個字。其實不長,只是薄薄幾張紙,但每一句話的含義非常的多,所以才變成那一大本的道果。

Mahaguru Lu menceritakan sepotong bagian awal dari kisah kehidupan Virupa (Penulis Lamdre) di sesi tersebut.  Lamdre dalam naskah aslinya hanya terdiri dari 9 atau 7 kata saja, tidak berhalaman-halaman. Demikianlah Lamdre tidaklah panjang, hanya beberapa lembar tipis saja, NAMUN setiap kalimat yang tertulis mengandung arti yang mendalam, dari situlah buku mengenai Lamdre muncul.

~~~~~~~~~~~~~~

Di dalam artikel berikut ini berisi sebagian dari yang Mahaguru Lu telah bagikan.
Selamat membaca dan menikmati!
Dan perhatikanlah kunci-kunci penting yang dibagikan di dalamnya!

~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku melakukan beberapa riset dan menemukan kisah hidup Virupa yang menakjubkan. Diekstrak untuk dibagikan sebagai berikut:

Syukur dan terima kasih kepada Lama Choedak Yuthok yang telah membagikannya!

Mahasiddha Virupa & Arya Tara, karya Samudra Man Singh Shrestha

Biografi Mahasiddha Virupa

Oleh Lama Choedak Yuthok, Sakya Losal Choe Dzong, Canberra, Australia.


Ekstrak: Setelah menyelesaikan studinya di sana, ia pergi menuju Nalanda di mana Dharma telah berdiri dengan kokoh.
Di sana ia menerima pentahbisan sebagai Bhiksu dari kepala biara, Dharmamitra, yang juga dikenal sebagai Jayadeva, dari Universitas Nalanda.
Ia kemudian diberi nama Shri Dharmapala 护法.
Ia melanjutkan studinya di bawah bimbingan sang kepala biara yang sangat senang dengannya dan memberinya banyak ajaran privat mengenai sadhana-sadhana umum Vajrayana 金刚乘 dan khususnya Tantra Chakrasamvara 胜乐金刚.

Sang kepala biara meninggalkan berbagai instruksi di dalam surat wasiatnya bahwa Shri Dharmapala nantinya akan diangkat sebagai penggantinya, dan meminta kepada para petugas biara untuk memberikan respek yang setara dan menghormati penggantinya karena Dharmapala ditunjuk sebagai kepala biara Nalanda.
Ia mengawasi upacara pemakaman agung sang pendahulunya dan mengatur supaya seluruh jasad sang kepala biara ditransformasikan menjadi relik yang ia kemudian bagikan secara seksama kepada berbagai raja, donatur, dan bhiksu.

Dharmapala melatih Chakrasamvara dengan tekun setiap malam sesuai dengan instruksi rahasia yang diterimanya dari sang kepala biara.
Hari-harinya dibaktikannya untuk mengajar dan komposisi.
Meski ia juga mengajarkan baik naskah Theravada maupun Mahayana, ia membaktikan sebagian besar waktu dan energinya kepada sadhana esoterik Vajrayana. Ia terus melatih Chakrasamvara dengan sepenuh hati dari tahun ke tahun.

Namun, di umurnya yang ke-70, meski telah bertahun-tahun sangat setia bersadhana, Dharmapala masih belum mengalami tanda-tanda pencapaian spiritual.

Ia juga harus berjuang melawan penyakit-penyakit lamanya yang menjangkiti tubuh dan pikirannya.
Ia menjadi sedih dan takut oleh gangguan yang selalu dilancarkan oleh para Yaksha dan roh jahat.
Menambah keputusasaan dan frustrasinya, ia juga terus mendapatkan mimpi yang sangat menakutkan.
Di salah satu mimpinya, ia melihat api besar membakar di bagian bawah sebuah lembah, dan banjir muncul dari bagian atasnya.
Ia melihat badai salju, gletser, formasi tetesan es dan gunung es jatuh dari langit.
Ia melihat Guru, Yidam, dan para kalyanamitra-nya tergantung terbalik, atau dengan wajahnya terkoyak, hidungnya terpotong, matanya tercungkil keluar dan meneteskan darah.
Tak heran Dharmapala menginterpretasikan mimpi-mimpi tersebut sebagai pertanda buruk.
Ia menyimpulkan bahwa ia pasti kurang jodoh karma untuk mendapatkan realisasi melalui jalur Vajrayana di kehidupannya kali itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan sadhana Vajrayana-nya sepenuhnya.

Kemudian, pada hari ke-22 bulan imlek ke-4, malam harinya ia menghentikan sadhana Yidam Yoga-nya, dan melempar japamala-nya ke dalam jamban.
Mimpi-mimpi tersebut sebenarnya adalah indikasi bahwa Dharmapala hampir mencapai realisasi spiritual yang besar melalui sadhana Tantra-nya.
Namun ia tak punya cara untuk mengetahuinya di saat itu, sehingga salah kaprah membaca berbagai pertanda yang muncul.
Ia tak sadar bahwa ia telah menyempurnakan Jalur Akumulasi (Sambhara-marga), Jalur Persiapan (Prayoga-marga) dan hampir mencapai Jalur Melihat (Darsana-marga).

Di saat itu energi vital dan pikirannya telah melebur di dalam bija aksara Ksa dan Ma di bawah Chakra Pusar.
Hal ini menciptakan simbolisme yang tampak menyeramkan di dalam mimpi-mimpinya.
Ia gagal mengenali tanda-tanda yang sedang terjadi kepadanya karena kepala biaranya telah meninggal dunia sebelum sempat mentransmisikan instruksi inti secara lengkap.
Sebenarnya hal tersebut akan mampu menjelaskan perubahan drastis yang terjadi di dalam aliran energi halus di dalam tubuh psikisnya (batin) dan menjernihkan pengalaman mimpinya.

Shri Dharmapala mulai dari saat itu memutuskan untuk membaktikan seluruh waktunya untuk mengajar, menulis dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya bagi komunitas Sangha; tak lagi menghabiskan berjam-jam waktunya dalam sehari untuk melatih meditasi Yidam Yoga.
Namun, di malam yang sama, ia bermimpi Dewi Nairatmya 无我母 (Nairātmyā atau Dagmema adalah seorang buddha wanita, pendamping Hevajra 喜金刚 di dalam tantra Hevajra. Namanya berarti “wanita tanpa ego”) muncul di hadapannya dalam wujud wanita cantik bertubuh biru mengenakan kain sutra surgawi, dan demikianlah beliau berkata:

“Oh putra yang mulia, sungguhlah tak baik kamu bertindak seperti ini, di mana kamu sudah hampir mencapai Siddhi. Meski semua Buddha memiliki welas asih yang tak membeda-bedakan, Aku-lah sang dewata yang punya jodoh karma yang paling erat denganmu dan aku akan memberkatimu supaya mendapatkan Siddhi dengan cepat. Pergilah dan ambillah kembali japamala-mu, cucilah dengan air wangi, bertobatlah atas segala kesalahanmu dan kembalilah bersadhana dengan baik.”

Beliau kemudian menghilang.

Dharmapala terbangun dari tidurnya dengan perasaan campur aduk antara menyesal dan bahagia.
Ia mengikuti instruksi tersebut, kembali bersadhana di pagi hari tersebut. Dan kemudian Mandala aspek Nirmanakaya Lima Belas Dewi Nairatmya muncul di hadapannya dan memberinya empat inisiasi dengan lengkap.
Demikianlah ia mencapai Jalur Melihat dari Bhumi Pertama.
Barulah sekarang ia menyadari arti sebenarnya dari mimpi-mimpinya.

Mimpi-mimpi kasar dan penampakan para Yaksa merupakan manifestasi interdependen dari pikiran dan energi vitalnya yang melebur ke dalam bija Ksa dan Ma di bawah Chakra Pusar.
Ini disebabkan oleh simpul-simpul nadi yang sedang melepaskan diri, yang menyebabkan Peleburan Pertama Elemen-elemen dan pertanda energi vital Candali mulai memanas.


{Tummo (Bhs. Tibet: gtum-mo, Bhs. Sansekerta: caṇḍālī) adalah salah satu bentuk pernafasan, yang bisa ditemukan di dalam ajaran Enam Yoga Naropa, Lamdre, Kalachakra dan Anuyoga dari Vajrayana Tibet.
Tummo berasal dari tradisi Vajrayana India, meliputi instruksi dari Mahasiddha Krishnacarya dan Tantra Hevajra.
Tujuan dari tummo adalah untuk mengendalikan proses di dalam tubuh ini saat berada di tahap penyelesaian “Tantra Yoga Tertinggi” (Tantra Anuttarayoga) atau Anuyoga.
}

Berbagai pengalaman di luar kebiasaan yang muncul di dalam pikiran konseptualnya adalah hasil dari proses adaptasi ulang antara nadi dan pikirannya.
Sebagai sebuah tanda peralihan Peleburan Elemen-elemen, api Candali membakar ke atas dan menyebabkan nektar Bodhicitta mengalir ke atas.
Manifestasi interdependen berbagai peristiwa internal seperti ini akan dialami secara konseptual oleh seorang Yogi sebagai api yang membakar dari bawah lembah dan banjir yang datang dari bagian atas lembah.
Sirkulasi yang kuat dari tetesan-tetesan halus di dalam nadi-nadi kecil juga tercerminkan di dalam mimpi dengan adanya badai salju, dan gunung-gunung es yang jatuh dari langit.

Peleburan yang Ke-3 dan Terakhir dari Elemen-elemen menampilkan wajah telanjang dari kebijaksanaan transendental yang mulus sempurna.

Efeknya adalah menghancurkan segala kemelekatan atas berbagai penampilan rupa fana.
这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

Manifestasi interdependen ini tercerminkan di dalam mimpi-mimpinya dalam bentuk wajah-wajah Guru dan Yidamnya yang terkoyak.
Ia mulai menyadari bahwa semua pertanda tersebut merupakan pengalaman meditatif yang berhubungan dengan 3 peleburan elemen-elemen halus yang berurutan di dalam tubuhnya.

Dengan kemunculan dan bimbingan dari Vajranairatmya yang tepat waktu, Shri Dharmapala akhirnya mencapai penyadaran.
Mulai dari saat itu, setiap harinya ia mencapai Bhumi yang lebih tinggi, hingga pada pagi hari di hari ke-29 di bulan yang sama ia mencapai Bhumi ke-6.
Ia kini menjadi seorang Bodhisattva agung yang berdiam di dalam Bhumi ke-6.

Bukti penerimaan empat inisiasi lengkap mengkonfirmasi bahwa aliran abhiseka selalu mengalir tiada henti. 认证了传承加持并没有中断过
Pencapaian Bhumi ke-6 merupakan peneguhan bahwa silsilah pemberkatan tidaklah terputus.
Kegagalannya dalam mengenali berbagai tanda pencapaian sebelumnya dan kesalahannya dalam mengartikan tanda-tanda tersebut sebagai pertanda buruk menegaskan bahwa saat itu ia belum mendapatkan instruksi intisari tertentu.
Hal ini memampukannya untuk menyadari bahwa urutan instruksi yang diterimanya tidaklah salah.

Karena itu, pengabdian Dharmapala kepada ajaran terpulihkan dan menjadi berlipat ganda.
Ia menjadi yakin bahwa ia pasti akan mencapai realisasi Pencerahan Sempurna, seperti yang dicapai oleh Sang Buddha.
Dengan cara ini ia diberkati dengan Empat Silsilah yang Dibisikkan, yang kemudian dikenal sebagai “Instruksi dari Empat Silsilah yang Dibisikkan”.

~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-temanku yang terkasih,
Kuharap kalian menyukai artikel di atas! :)

Aku juga telah menandai dan menerjemahkan beberapa kalimat di sana!

Apakah kamu menyadari bahwa kamu perlu:
  1. Mengikuti instruksi Guru Akarmu dengan ketat?
  2. Berlatih dengan tekun dan teratur, atau setiap hari?
  3. Bahkan dengan berkat dari dewata seperti Nairatmya 无我母, kamu masih harus berusaha sendiri?
  4. Merealisasikan Kebenaran – meneguhkan bahwa aliran abhiseka tak pernah berhenti 认证了传承加持并没有中断过.
  5. Memahami: Peleburan yang Ke-3 dan Terakhir dari Elemen-elemen menampilkan wajah telanjang dari kebijaksanaan transendental yang mulus sempurna.
    Efeknya adalah menghancurkan segala kemelekatan atas berbagai penampilan rupa fana.
    这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

~~~~~~~~~~~

Ingatlah bahwa yang paling kamu butuhkan dari semuanya adalah Seorang Yogi Sejati sebagai seorang guru,
Ajaran dan bimbingannya, terutama Instruksi-instruksi Intisari,
Dan Iman yang Teguh digabung dengan Ketekunan dalam sadhana harian!

TENTU SAJA kamu harus ingat bahwa “Tak ada Jalan Pintas”!

Virupa saat itu berumur 70 tahun saat ia mencapai Siddhi! :)


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Friday, April 3, 2015

Yoga Tanpa Melatih Diri Lagi (Abhavana Yoga)?



Ditulis oleh Lotuschef – 22 Maret 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 无修瑜伽 No Cultivate Yoga?



Baca juga:

Saat berkunjung ke Taiwan kemarin, murid Z memberitahu grup-nya yang penuh dengan orang-orang yang antusias, bahwa para murid yang duduk di bagian belakang telah berlindung (bersarana) kepada Mahaguru Lu selama lebih dari 20 tahun dan telah mencapai tingkat Yoga Tanpa Pelatihan Diri Lagi (Abhavana Yoga)!!!

Hahaha!

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Mari kita ingat-ingat kembali!

Di dalam Mahamudra, tingkat puncaknya adalah Abhavana Yoga!
Apa yang Mahaguru Lu katakan mengenai orang-orang di tingkat ini? :)

Mohon bacalah topik [Mahamudra] dan khususnya bagian [Abhavana Yoga].
Beserta dengan 2 artikel acuan di atas.



7 Maret 2015 di Vajragarbha Caotun, banyak orang yang menyaksikan murid di atas sedang kerasukan dan ambruk di saat Abhiseka.
Dan kembali terjadi lagi saat ia pergi mencariku.

Sayang sekali mereka yang mencoba membantunya ternyata “memijat” titik akupuntur He Gu-nya dengan terlalu agresif sehingga titik tersebut bengkak parah.
Pertama kali aku bertemu dengannya di Vajragarbha Caotun adalah saat Mahaguru pertama kali menganugerahkan abhiseka Maharaja Avalokiteshvara (Gao Wang).

Ia duduk di luar ruangan dan seorang VM berada di dekatnya.
Si VM tak berani mendekatinya, ia hanya berdiri sekitar 1.5 meter sambil memberi “instruksi”!

Saat aku datang untuk menolongnya, si VM cepat-cepat pergi.

Kemudian tetua kita, VM CZ datang dan mulai memijat titik He Gu-nya, bahkan saat aku telah memberitahunya kalau “bukan itu” (masalahnya). Maksudku adalah murid ini sedang kesurupan.

Ia tetap tak menghiraukanku dan setelah beberapa saat ia mulai merasa bahwa metodenya tak efektif. Lalu sebelum beranjak ia bilang kalau akan meminta Mahaguru menengok murid tersebut.
Aku mencoba untuk menstabilkan kondisi si murid.
Kami membantu mengantarkan murid tersebut ke lokasi mobil yang sedang menunggu Mahaguru.

Setelah Mahaguru selesai memberikan “mo-ding” (berkat jamah kepala), beliau menepuk murid ini dua kali dan sebelum pergi berkata “semuanya akan baik-baik saja”.

Sejak saat itu, aku bertemu dengan murid ini beberapa kali saat ia menghadiri puja yang diadakan oleh Pure Karma dan kebanyakan dari peserta yang sering hadir juga tahu cara menolongnya (siap membantu saat ia mulai lunglai).
Kita cegah sebelum dia terjatuh ke lantai ataupun supaya kepalanya tak terbentur lantai saat ia ambruk.

Mereka yang menyaksikanku menolongnya pertama kali cukup kebingungan melihat aku tak melakukan apapun selain memberitahunya untuk menjapa Mantra Guru. Aku juga meminta semua yang hadir untuk turut menjapanya dengan keras.

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Segala hal yang terjadi pada murid ini, semuanya berasal dari dalam dirinya sendiri.
Jadi untuk menyelesaikan masalahnya, kita mengikuti petunjuk di saat itu – untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
Demikianlah yang kulakukan kepada murid ini pada beberapa tahun terakhir.

Pada foto di atas, kamu akan melihat banyak bola-bola sinar.

Inilah bukti “Abhavana Yoga”! :)

Tiap kali ia ambruk, aku mulai memintanya dan semua yang hadir untuk menjapa mantra Guru dengan keras.
Ini membuat semua perhatian menjadi tersatukan dan kemudian aku berbicara dengan roh yang sedang mempermainkan murid ini.
Aku juga meminta murid ini untuk menjapa mantra Guru, supaya ia bisa menarik kembali kesadarannya dari kendali si roh yang mempermainkannya.

Hal pentingnya adalah: Aku tak menggunakan paksaan atau kesaktian transendental untuk menekan atau mengusir roh tersebut. 

Ingatlah selalu bahwa agama Buddha mengajarkan “Tiada Perselisihan/Argumen/Pertengkaran”!

Roh yang menempel pada si murid tersebut sudah “memperpendek” periode kemarahan dan ketidaksenangannya dalam beberapa tahun ini pula!

Yang terakhir di Taiwan hanya berlangsung kurang dari 5 menit saja.
Di beberapa sesi terdahulu bisa berlangsung selama 30 menit.

Murid Z, seorang murid di mana Mahaguru Lu menginstruksikan kepadaku untuk mengajarinya dasar-dasar sadhana, belum sampai pada tahap “mengetahui” apa itu [Abhavana Yoga]. Bukankah begitu?

Lagipula auranya terlihat seperti alam binatang, jadi sudah pasti dia sama sekali tak tahu apa itu [yoga], apalagi Yoga Tantra Tertinggi di dalam Mahamudra!

Ia juga salah satu yang mendorong para murid ke hadapanku, pertama-tama memberitahuku kalau mereka butuh bantuan berhubung mereka adalah murid-murid baru, atau kalaupun tidak ia akan memberitahu para murid untuk memanfaatkan kesempatan untuk menjebakku memberikan “wen-shi” (konsultasi pribadi)!

Dia juga salah satu orang yang suka mengejar mereka yang mengenakan Mahkota 5 Buddha! :)

Demikianlah Mahaguru berkata: Jangan langsung percaya apapun yang orang lain katakan, atau mereka dengan status atau sosok tertentu katakan.
Harus bijaksana!
Saatnya sadar!

Melatih diri sungguhlah tergantung pada diri sendiri, dan tak ada faktor luaran yang bisa mencuri apapun yang dirimu telah capai lewat usaha & ketekunanmu sendiri!

Kalau kamu bisa [mengikuti petunjuk/situasi untuk menyelesaikan persoalan] berarti kamu paham mengenai [cara mengaplikasikan pengetahuan dharma sesuai dengan situasi yang dihadapi].

Berhubung semuanya sudah ada di dalam dirimu, dan jawabannya berada di dalam dirimu sendiri, maka tak perlu menyia-nyiakan waktu mencari hal-hal lain di luaran sana. Setujukah?


Jadi dari tulisan-tulisan di atas, kamu seharusnya akan mampu memahami yang Mahaguru dan Buddha katakan bahwa [Tak ada dharma yang dibabarkan dan Tak pernah membabarkan dharma apapun]!

Hahaha!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, October 20, 2014

Tak Bisa Diungkapkan Dengan Kata-kata [1]


Ditulis oleh Lotuschef – 5 Oktober 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 尽在不言中 All Within Speechless Silence [1]



Mengutip dari Aura Kebijaksanaan [Bab 22] Pengesahan Secara Liberal:

[---Pengesahan terakhir adalah, “Bahkan para bodhisattva yang telah mencapai Tingkat Pencerahan Buddha tak mampu memahami doktrin realisasi batin yang dicapai oleh Dharmakaya Tathagata. Ia hanya bisa dipahami oleh sesama buddha saja.” ---]


Mahaguru Lu memberitahu kita bahwa beliau menjapa mantra Yidam Utamanya saat memberikan berkat jamah kepala (moding).
Mengundang kehadiran yidam adalah syarat untuk melaksanakan Bodhicitta.

Bila kamu benar-benar ingin menolong seseorang, kamu butuh kehadiran yidam-mu.

Tentunya, tak bisa melihat bukan berarti Sang Yidam tak hadir! :)

Aku telah mengajarkan kepada banyak orang untuk selalu “bicara” kepada atau “mengobrol” dengan Mahaguru, layaknya beliau berada di sisimu dan selalu menyertaimu.

Bagaimana kiranya kita mengobrol dengan seorang Buddha Hidup yang secara fisik terpisah ribuan mil?

Berbagai macam caranya sudah sering dituliskan di dalam blog ini. Teman-teman bisa mencarinya.

Kini cobalah ingat saat Mahaguru mengatakan “Tak perlu bertanya atau meminta afirmasi dari-Ku saat kamu telah tercerahkan”?

Hal ini berlaku juga saat kamu telah berhasil melatih Guru Yoga!


COBALAH RENUNGKAN: Saat Mahaguru selalu menyertaimu, perlukah kamu bertanya ini itu?

DAN: Saat kamu telah benar-benar tercerahkan, masihkah ada hal yang perlu ditanyakan ke Mahaguru?


Kini beliau katakan: Melatih diri sepenuhnya bergantung pada Usaha Sendiri yang Tekun!
Tahukah kamu artinya?

Kini kamu pahamkah akan judul artikel ini – “Tak Bisa Diungkapkan Dengan Kata-kata”?

Ya!
Kamu bercakap-cakap dengan Mahaguru, dengan Menggunakan Hatimu!

Hahaha!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:



Friday, June 28, 2013

Biarkan dia pergi!


Artikel Buddha Hidup Sheng-yan Lu
Dibagikan oleh Lotuschef – 21 Juli 2011
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: The Commentary Sword of True Buddha [Let Him Go!]


Sekarang ini Aliran Satya Buddha sudah berkembang menjadi sebuah aliran religius yang cukup besar. Ritual-ritual Tantra Satya Buddha juga beragam, hidup, dan mencakupi semuanya. Demikianlah seorang praktisi Satya Buddha yang dengan penuh perhatian melatih dan mencoba memahami sadhana yang dilatihnya, pasti akan mampu mencapai tingkatan spiritual yang lebih tinggi dan bisa mencicipi citarasa Dharma; ia pasti mampu memasuki ajaran-ajaran Buddha Dharma yang mendalam.

Namun, aktualisasi praktek bukanlah suatu komitmen yang hanya sekedar diucapkan di mulut saja. Ia harus diaplikasikan (digunakan). Kiranya mohon jangan sekedar menggunakan gelar “sadhaka Satya Buddha” kalau si praktisi yang bersangkutan masih saja merupakan orang yang kebingungan – yang mendamba ketenaran dan kekayaan, yang tak mampu menahan godaan status dan uang, atau malah yang lebih orthodoks daripada orang biasa.

Aku sendiri tak menyangkal kenyataan bahwa di dalam aliran kita ada banyak murid yang masih bertikai demi ketenaran dan kekayaan. Ada orang-orang yang menggunakan nama Aliran Satya Buddha demi kepentingan mereka sendiri. Ada yang melahap sendiri uang yang dikumpulkan untuk tujuan amal. Malah ada juga  yang terus-menerus bertikai dengan sesamanya demi posisi pimpinan, ketua, dan kepala biara.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yan Lu, sangat tahu akan semua hal yang sedang terjadi. Meski aku tak mengeluarkan sepatah katapun, namun di dalam hati aku tahu semuanya dengan detil. Aku mendesah dari lubuk hatiku yang paling dalam: ini adalah “tunas yang terbakar dan biji-biji yang rusak” (orang-orang yang sudah tak bisa diperbaiki/dituntun). Mereka sungguh tak punya berkah dan hubungan karma yang baik.

Kita, para sadhaka, harus bisa melepaskan harta, melepaskan ketenaran dan status, mengorbankan waktu, dan bahkan hidup kita, supaya sepenuhnya jujur dan tulus dalam keinginan kita untuk mengaktualisasikan pelatihan spiritual. Hanya dengan begitulah baru kita dianggap sebagai seorang Bodhisattva yang sejati, bukannya pergi mencari uang, bertikai demi status dan ketenaran!

Aku ingin mengingatkan semua muridku dengan serius:
Waktu kan berlalu,
Umurpun berkurang setiap detiknya,
Bagaikan seekor ikan yang menatap garis air yang kian menurun,
Kesenangan ada di mana?
Berlatih dengan ketekunan yang luar biasa,
Layaknya memadamkan api yang sedang membakar kepala,
Merenungkan ketiadakekalan,
Selalu waspada,
Tidak memanjakan diri dalam berbagai aktivitas yang tak bermakna.

Aku selalu melihat mereka, para murid yang terhanyutkan oleh ketenaran dan kekayaan; kucoba menahan air mataku sebisa mungkin sambil bergumam: “Lepaskanlah dia! Biarkan dia pergi!”

---

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, June 22, 2013

Lotuschef Bercakap-cakap – Padmasambhava: Ajaran-ajaran Dakini


Ditulis oleh Lotuschef – 19 Juni 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Chat – 蓮師教言 Padmasambhava: Dakini Teachings


~蓮師教言~
若你努力在佛法修行上,毋須擔憂衣食,自會取得。
我從未聽過或見過有人因修行而餓死的。
(空行法教 )

Ajaran Guru Padmasambhava:
 

Bila kamu melatih Buddha Dharma dengan tekun, maka kamu sungguh tak perlu kuatir akan pakaian dan makanan, karena mereka akan tersedia untukmu secara alami.
Aku tak pernah mendengar atau melihat Praktisi Dharma yang kelaparan hingga mati.
 

[diambil dari buku Ajaran-ajaran Dakini]


Teman-teman sekalian, pernah membaca artikel berikut?

[全真道人眼中的丘处机

如他在《菱荷香•乞食》词中写道:“信腾腾绕村,觅饭充饥。...... ”可见丘祖在各地传教修行时生活是非常艰辛的。]

Pandangan para master tao Quan Zhen mengenai Qui Chu Ji:
Dalam pernyataannya (Master Qiu Chu Ji) dari {Ling He Xiang – yang mengemis makanan}, ia mengatakan: Dengan iman yang kuat, mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar.....

Kita bisa melihat betapa besarnya penderitaan yang harus dilalui oleh Tetua Qiu dalam hidupnya saat membabarkan ajaran-ajaran pelatihan diri.

Masih ada lainnya lagi mengenai bagaimana Tetua Qiu memohon kepada Para Dewata supaya para pelatih diri tidak kelaparan sampai mati. [Aku tak bisa menemukan pernyataan ini. Kalau teman-teman ada yang menemukan, mohon bantu dibagikan ya.]

Bertanya: Apa kamu bisa disebut cukup tekun sebagai seorang Pelatih Diri?

Banyak orang yang menyebarkan desas-desus dan kebohongan mengenai Lotuschef dan Pure Karma: memasang ongkos yang fantastis untuk berbagai layanan yang ditawarkan!!!

Hahaha!

Kenapa tak cari tahu Kebenarannya atau langsung tanya ke Guru Akarku, Buddha Hidup Lian Sheng?! :)

Sebagai seorang yang menganut agama Buddha dan murid Buddha, tahukah kamu 5 (panca) sila yang utama dan paling penting?

Berikut ini Lima Sila (pañca-sikkhāpada) atau Lima Kemuliaan (pañca-sīla) dalam bahasa Indonesia dan Pali:
  1. Aku berjanji menaati peraturan pelatihan untuk pantang mengambil nyawa (membunuh).
    Pāṇātipātā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi.
  2. Aku berjanji menaati peraturan pelatihan untuk pantang mengambil apa yang tidak diberikan kepadaku.
    Adinnādānā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi.
  3. Aku berjanji menaati peraturan pelatihan untuk pantang melakukan sex yang salah.
    Kāmesumicchācāra veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi.
  4. Aku berjanji menaati peraturan pelatihan untuk pantang berdusta.
    Musāvādā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi.
  5. Aku berjanji menaati peraturan pelatihan untuk pantang mengonsumsi arak yang mengakibatkan hilangnya kontrol diri.
    Surāmerayamajjapamādaṭṭhānā veramaṇī sikkhāpadaṃ samādiyāmi.

Membunuh, Mencuri, Sex yang salah, Berbohong, Konsumsi benda-benda yang mencelakakan tubuh dan pikiran sendiri.

Memalsukan pernyataan Guru adalah Berbohong!
Membuat kebohongan untuk mencelakai seseorang juga sama halnya dengan Membunuh seseorang!
Mengambil pengetahuan orang lain dan menyebarkannya (dan mengakuinya) sebagai milik diri sendiri adalah Mencuri!
Mengambil dan menyimpan persembahan yang ditujukan untuk Sang Guru Akar, untuk diri sendiri, adalah Mencuri dan ini lebih parah karena kamu mencuri dari Guru Akarmu sendiri!
Para umat sering melihatmu bersama dengan seseorang masuk-keluar kamar tidur, juga termasuk Sex yang salah dan ini lebih parah karena keduanya adalah bhiksu dan bhiksuni!
Pasangan ini juga bukan suami dan istri sebelum ditahbiskan! :)

Hahaha! Mungkin kamu berpikir kamu bisa melatih Anu Yoga dengan seorang pasangan manusia?
Menurutmu apa yang Guru katakan mengenai melatih Anu Yoga secara sendirian (tunggal)?

Kamu tahu Disiplin Sila? Sungguh-sungguh paham akan Disiplin Sila? :)

Oh ya! Aku juga dengar ada seseorang yang menyembunyikan Sadhana berbagai Yidam yang telah ditransmisikan oleh Guru Akar kita dan melarangnya untuk dibagikan kepada siapapun, tanpa persetujuan darinya!

Menyesal sekali harus memberitahumu bahwa kamu tak punya cara untuk mencegah Guru memberikan Abhiseka Astral kepada siapapun dan mengajarkan mereka cara bersadhana secara astral pula!
INI KARENA GURU AKAR KITA ADALAH BUDDHA HIDUP LIAN SHENG!
Seorang Buddha Hidup yang Otentik Sejati! :)

Lalu mengenai Dukungan di hadapan publik bagi mereka yang MENDAPAT PENGAJARAN SECARA PRIBADI?
Hahaha! Ditunggu saja tanggal mainnya!!!

Mereka yang masih terus-menerus memfitnah Lotuschef dan menyebarkan BERBAGAI KEBOHONGAN mengenai Lotuschef dan Pure Karma, bukankah sekarang WAKTUNYA BANGUN?

Mohon berlatihlah dengan tekun sesuai ajaran Guru, karena pelatihan diri semata-mata tergantung pada dirimu sendiri!

Hahahahahahahahahahahahahahaha.............

Demikian hentikanlah menggunakan Mata Awam-mu untuk Melihat dan Pikiran Awam-mu untuk menghakimi orang-orang lain!

Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef