Showing posts with label virupa. Show all posts
Showing posts with label virupa. Show all posts

Friday, June 24, 2016

Biografi Mahasiddha Virupa



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 7 Juni 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 7-5-2016 Mahasiddha Virupa 畢哇巴





【道果本頌金剛句偈疏】作者是畢哇巴,原來本身的道果不是一篇文章,是一句一句的,九個字或七個字。其實不長,只是薄薄幾張紙,但每一句話的含義非常的多,所以才變成那一大本的道果。

Mahaguru Lu menceritakan sepotong bagian awal dari kisah kehidupan Virupa (Penulis Lamdre) di sesi tersebut.  Lamdre dalam naskah aslinya hanya terdiri dari 9 atau 7 kata saja, tidak berhalaman-halaman. Demikianlah Lamdre tidaklah panjang, hanya beberapa lembar tipis saja, NAMUN setiap kalimat yang tertulis mengandung arti yang mendalam, dari situlah buku mengenai Lamdre muncul.

~~~~~~~~~~~~~~

Di dalam artikel berikut ini berisi sebagian dari yang Mahaguru Lu telah bagikan.
Selamat membaca dan menikmati!
Dan perhatikanlah kunci-kunci penting yang dibagikan di dalamnya!

~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku melakukan beberapa riset dan menemukan kisah hidup Virupa yang menakjubkan. Diekstrak untuk dibagikan sebagai berikut:

Syukur dan terima kasih kepada Lama Choedak Yuthok yang telah membagikannya!

Mahasiddha Virupa & Arya Tara, karya Samudra Man Singh Shrestha

Biografi Mahasiddha Virupa

Oleh Lama Choedak Yuthok, Sakya Losal Choe Dzong, Canberra, Australia.


Ekstrak: Setelah menyelesaikan studinya di sana, ia pergi menuju Nalanda di mana Dharma telah berdiri dengan kokoh.
Di sana ia menerima pentahbisan sebagai Bhiksu dari kepala biara, Dharmamitra, yang juga dikenal sebagai Jayadeva, dari Universitas Nalanda.
Ia kemudian diberi nama Shri Dharmapala 护法.
Ia melanjutkan studinya di bawah bimbingan sang kepala biara yang sangat senang dengannya dan memberinya banyak ajaran privat mengenai sadhana-sadhana umum Vajrayana 金刚乘 dan khususnya Tantra Chakrasamvara 胜乐金刚.

Sang kepala biara meninggalkan berbagai instruksi di dalam surat wasiatnya bahwa Shri Dharmapala nantinya akan diangkat sebagai penggantinya, dan meminta kepada para petugas biara untuk memberikan respek yang setara dan menghormati penggantinya karena Dharmapala ditunjuk sebagai kepala biara Nalanda.
Ia mengawasi upacara pemakaman agung sang pendahulunya dan mengatur supaya seluruh jasad sang kepala biara ditransformasikan menjadi relik yang ia kemudian bagikan secara seksama kepada berbagai raja, donatur, dan bhiksu.

Dharmapala melatih Chakrasamvara dengan tekun setiap malam sesuai dengan instruksi rahasia yang diterimanya dari sang kepala biara.
Hari-harinya dibaktikannya untuk mengajar dan komposisi.
Meski ia juga mengajarkan baik naskah Theravada maupun Mahayana, ia membaktikan sebagian besar waktu dan energinya kepada sadhana esoterik Vajrayana. Ia terus melatih Chakrasamvara dengan sepenuh hati dari tahun ke tahun.

Namun, di umurnya yang ke-70, meski telah bertahun-tahun sangat setia bersadhana, Dharmapala masih belum mengalami tanda-tanda pencapaian spiritual.

Ia juga harus berjuang melawan penyakit-penyakit lamanya yang menjangkiti tubuh dan pikirannya.
Ia menjadi sedih dan takut oleh gangguan yang selalu dilancarkan oleh para Yaksha dan roh jahat.
Menambah keputusasaan dan frustrasinya, ia juga terus mendapatkan mimpi yang sangat menakutkan.
Di salah satu mimpinya, ia melihat api besar membakar di bagian bawah sebuah lembah, dan banjir muncul dari bagian atasnya.
Ia melihat badai salju, gletser, formasi tetesan es dan gunung es jatuh dari langit.
Ia melihat Guru, Yidam, dan para kalyanamitra-nya tergantung terbalik, atau dengan wajahnya terkoyak, hidungnya terpotong, matanya tercungkil keluar dan meneteskan darah.
Tak heran Dharmapala menginterpretasikan mimpi-mimpi tersebut sebagai pertanda buruk.
Ia menyimpulkan bahwa ia pasti kurang jodoh karma untuk mendapatkan realisasi melalui jalur Vajrayana di kehidupannya kali itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan sadhana Vajrayana-nya sepenuhnya.

Kemudian, pada hari ke-22 bulan imlek ke-4, malam harinya ia menghentikan sadhana Yidam Yoga-nya, dan melempar japamala-nya ke dalam jamban.
Mimpi-mimpi tersebut sebenarnya adalah indikasi bahwa Dharmapala hampir mencapai realisasi spiritual yang besar melalui sadhana Tantra-nya.
Namun ia tak punya cara untuk mengetahuinya di saat itu, sehingga salah kaprah membaca berbagai pertanda yang muncul.
Ia tak sadar bahwa ia telah menyempurnakan Jalur Akumulasi (Sambhara-marga), Jalur Persiapan (Prayoga-marga) dan hampir mencapai Jalur Melihat (Darsana-marga).

Di saat itu energi vital dan pikirannya telah melebur di dalam bija aksara Ksa dan Ma di bawah Chakra Pusar.
Hal ini menciptakan simbolisme yang tampak menyeramkan di dalam mimpi-mimpinya.
Ia gagal mengenali tanda-tanda yang sedang terjadi kepadanya karena kepala biaranya telah meninggal dunia sebelum sempat mentransmisikan instruksi inti secara lengkap.
Sebenarnya hal tersebut akan mampu menjelaskan perubahan drastis yang terjadi di dalam aliran energi halus di dalam tubuh psikisnya (batin) dan menjernihkan pengalaman mimpinya.

Shri Dharmapala mulai dari saat itu memutuskan untuk membaktikan seluruh waktunya untuk mengajar, menulis dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya bagi komunitas Sangha; tak lagi menghabiskan berjam-jam waktunya dalam sehari untuk melatih meditasi Yidam Yoga.
Namun, di malam yang sama, ia bermimpi Dewi Nairatmya 无我母 (Nairātmyā atau Dagmema adalah seorang buddha wanita, pendamping Hevajra 喜金刚 di dalam tantra Hevajra. Namanya berarti “wanita tanpa ego”) muncul di hadapannya dalam wujud wanita cantik bertubuh biru mengenakan kain sutra surgawi, dan demikianlah beliau berkata:

“Oh putra yang mulia, sungguhlah tak baik kamu bertindak seperti ini, di mana kamu sudah hampir mencapai Siddhi. Meski semua Buddha memiliki welas asih yang tak membeda-bedakan, Aku-lah sang dewata yang punya jodoh karma yang paling erat denganmu dan aku akan memberkatimu supaya mendapatkan Siddhi dengan cepat. Pergilah dan ambillah kembali japamala-mu, cucilah dengan air wangi, bertobatlah atas segala kesalahanmu dan kembalilah bersadhana dengan baik.”

Beliau kemudian menghilang.

Dharmapala terbangun dari tidurnya dengan perasaan campur aduk antara menyesal dan bahagia.
Ia mengikuti instruksi tersebut, kembali bersadhana di pagi hari tersebut. Dan kemudian Mandala aspek Nirmanakaya Lima Belas Dewi Nairatmya muncul di hadapannya dan memberinya empat inisiasi dengan lengkap.
Demikianlah ia mencapai Jalur Melihat dari Bhumi Pertama.
Barulah sekarang ia menyadari arti sebenarnya dari mimpi-mimpinya.

Mimpi-mimpi kasar dan penampakan para Yaksa merupakan manifestasi interdependen dari pikiran dan energi vitalnya yang melebur ke dalam bija Ksa dan Ma di bawah Chakra Pusar.
Ini disebabkan oleh simpul-simpul nadi yang sedang melepaskan diri, yang menyebabkan Peleburan Pertama Elemen-elemen dan pertanda energi vital Candali mulai memanas.


{Tummo (Bhs. Tibet: gtum-mo, Bhs. Sansekerta: caṇḍālī) adalah salah satu bentuk pernafasan, yang bisa ditemukan di dalam ajaran Enam Yoga Naropa, Lamdre, Kalachakra dan Anuyoga dari Vajrayana Tibet.
Tummo berasal dari tradisi Vajrayana India, meliputi instruksi dari Mahasiddha Krishnacarya dan Tantra Hevajra.
Tujuan dari tummo adalah untuk mengendalikan proses di dalam tubuh ini saat berada di tahap penyelesaian “Tantra Yoga Tertinggi” (Tantra Anuttarayoga) atau Anuyoga.
}

Berbagai pengalaman di luar kebiasaan yang muncul di dalam pikiran konseptualnya adalah hasil dari proses adaptasi ulang antara nadi dan pikirannya.
Sebagai sebuah tanda peralihan Peleburan Elemen-elemen, api Candali membakar ke atas dan menyebabkan nektar Bodhicitta mengalir ke atas.
Manifestasi interdependen berbagai peristiwa internal seperti ini akan dialami secara konseptual oleh seorang Yogi sebagai api yang membakar dari bawah lembah dan banjir yang datang dari bagian atas lembah.
Sirkulasi yang kuat dari tetesan-tetesan halus di dalam nadi-nadi kecil juga tercerminkan di dalam mimpi dengan adanya badai salju, dan gunung-gunung es yang jatuh dari langit.

Peleburan yang Ke-3 dan Terakhir dari Elemen-elemen menampilkan wajah telanjang dari kebijaksanaan transendental yang mulus sempurna.

Efeknya adalah menghancurkan segala kemelekatan atas berbagai penampilan rupa fana.
这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

Manifestasi interdependen ini tercerminkan di dalam mimpi-mimpinya dalam bentuk wajah-wajah Guru dan Yidamnya yang terkoyak.
Ia mulai menyadari bahwa semua pertanda tersebut merupakan pengalaman meditatif yang berhubungan dengan 3 peleburan elemen-elemen halus yang berurutan di dalam tubuhnya.

Dengan kemunculan dan bimbingan dari Vajranairatmya yang tepat waktu, Shri Dharmapala akhirnya mencapai penyadaran.
Mulai dari saat itu, setiap harinya ia mencapai Bhumi yang lebih tinggi, hingga pada pagi hari di hari ke-29 di bulan yang sama ia mencapai Bhumi ke-6.
Ia kini menjadi seorang Bodhisattva agung yang berdiam di dalam Bhumi ke-6.

Bukti penerimaan empat inisiasi lengkap mengkonfirmasi bahwa aliran abhiseka selalu mengalir tiada henti. 认证了传承加持并没有中断过
Pencapaian Bhumi ke-6 merupakan peneguhan bahwa silsilah pemberkatan tidaklah terputus.
Kegagalannya dalam mengenali berbagai tanda pencapaian sebelumnya dan kesalahannya dalam mengartikan tanda-tanda tersebut sebagai pertanda buruk menegaskan bahwa saat itu ia belum mendapatkan instruksi intisari tertentu.
Hal ini memampukannya untuk menyadari bahwa urutan instruksi yang diterimanya tidaklah salah.

Karena itu, pengabdian Dharmapala kepada ajaran terpulihkan dan menjadi berlipat ganda.
Ia menjadi yakin bahwa ia pasti akan mencapai realisasi Pencerahan Sempurna, seperti yang dicapai oleh Sang Buddha.
Dengan cara ini ia diberkati dengan Empat Silsilah yang Dibisikkan, yang kemudian dikenal sebagai “Instruksi dari Empat Silsilah yang Dibisikkan”.

~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-temanku yang terkasih,
Kuharap kalian menyukai artikel di atas! :)

Aku juga telah menandai dan menerjemahkan beberapa kalimat di sana!

Apakah kamu menyadari bahwa kamu perlu:
  1. Mengikuti instruksi Guru Akarmu dengan ketat?
  2. Berlatih dengan tekun dan teratur, atau setiap hari?
  3. Bahkan dengan berkat dari dewata seperti Nairatmya 无我母, kamu masih harus berusaha sendiri?
  4. Merealisasikan Kebenaran – meneguhkan bahwa aliran abhiseka tak pernah berhenti 认证了传承加持并没有中断过.
  5. Memahami: Peleburan yang Ke-3 dan Terakhir dari Elemen-elemen menampilkan wajah telanjang dari kebijaksanaan transendental yang mulus sempurna.
    Efeknya adalah menghancurkan segala kemelekatan atas berbagai penampilan rupa fana.
    这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

~~~~~~~~~~~

Ingatlah bahwa yang paling kamu butuhkan dari semuanya adalah Seorang Yogi Sejati sebagai seorang guru,
Ajaran dan bimbingannya, terutama Instruksi-instruksi Intisari,
Dan Iman yang Teguh digabung dengan Ketekunan dalam sadhana harian!

TENTU SAJA kamu harus ingat bahwa “Tak ada Jalan Pintas”!

Virupa saat itu berumur 70 tahun saat ia mencapai Siddhi! :)


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Tuesday, June 7, 2016

7-5-2016 Mahasiddha Virupa 畢哇巴


Terjemahan Indonesia: Biografi Mahasiddha Virupa

 

【道果本頌金剛句偈疏】作者是畢哇巴,原來本身的道果不是一篇文章,是一句一句的,九個字或七個字。其實不長,只是薄薄幾張紙,但每一句話的含義非常的多,所以才變成那一大本的道果。

GM Lu shared part of Virupa's (Author of Lamdre) early life in the above session. The original Lamdre is not pages of written articles but sentences with 9 or 7 words. Thus the Lamdre is not long and covered only a few thin sheets of paper, BUT each sentence contained various deep meaning, thus become a book on Lamdre.

~~~~~~~~~~~~~~

The following contained part of what GM Lu shared. 
Read and enjoy!
Also do pay attention to keys shared!

~~~~~~~~~~~~~~~~

I did some research and discovered the wondrous accounting of Virupa's life and extracted to share as follows:
 
Mahasiddha Virupa and Arya Tara by Samudra Man Singh Shrestha
 
Grateful thanks to Lama Choedak Yuthok for this sharing!

The Life of Mahasiddha Virupa

By Lama Choedak Yuthok, Sakya Losal Choe Dzong, Canberra, Australia.

Extract: Having concluded his studies there, he left for Nalanda where the Dharma was firmly established.
There he received Bhikhu ordination from the abbot Dharmamitra alsoknown as Jayadeva of Nalanda University.
He was give the name Shri Dharmapala 护法.
He continued his study under the tutorship of his abbot who was very pleased with him and gave him many private teachings on Vajrayana 金刚乘 practices in general and on Chakrasamvara 胜乐金刚 Tantra in particular.

The abbot left instructions in his will that Shri Dharmapala should beappointed his successor, and asked the monastic officials to show equal respect and honour to his successor as they had Dharmapala was accordingly appointed abbot of Nalanda.
He supervised his predecessor's grand funeral ceremony and arranged to havethe entire remains of the abbot transformed into relics which he carefully distributed amongst the various kings, patrons and monks.

Dharmapala practised Chakrasamvara diligently every night according to the secret instructions he had received from his abbot.
His days were devoted to teaching and composition.
Although he gave teachings on both Theravadin and Mahayana texts, he devoted most of his own time and energy to the esoteric practices of Vajrayana. He continued to practice Chakrasamvara wholeheartedly year after year.

However, at the age of seventy despite so many years of faithful practice, Dharmapala was yet to experience any signs of spiritual attainment.

He also had to contend with all his old diseases which plagued his body and his mind.
He was saddened and frightened by the constant harm caused by Yakshas and evil-spirits.
To add to his general state of discouragement and frustration, he had been having the most frightful nightmares.
In one of these dreams he saw huge a fire burning at the lower end of a vallery and a flood rising from the upper end.
He saw hail-storms, glaciers, icicles and icebergs failing from the sky.
He saw his Guru, Yidam and spiritual friends hanging upside down, or with their faces torn apart, noses cut-off, eyes gouged out and dripping with blood.
Not surprisingly, Dharmapala interpreted these dreams as bad omens.
He concluded that he must lack the karmic connection to attain realization through the path of Vajrayana in that lifetime.
He decided to give up his Vajrayana practices completely.

Accordingly, on the night of the 22nd day of the four lunar month he relinquished his practice of Deity Yoga, and threw his prayer beads into the latrine.
These dreams were actually indications that Dharmapala was about to achieve a major spiritual realization through his Tantric practices.
But he had no way of knowing this at the time, so he completely misread the signs.
He was unaware that he had already perfected the Path of Accumulation, the Path of Preparation and was about to attain the Path of Seeing.

At that time his vital energy and his mind had merged in the ksa and ma syllables
below the Navel Cakra.

This had caused the symbolism which appeared so terrifying in his dreams.
He failed to recognise the signs of what was happening to him because his abbot had died before imparting the complete pith instructions.
These would have explained the drastic changes occurring in the subtle energy flows within his psychic body and clarified the dream experience.
Shri Dharmapala decided that from then on he would devote his entire time to teaching, writing and other duties for the Sangha (monastic community) instead of spending many hours a day on Deity Yoga meditation practice.
However, on that very night he dreamed that the Goddess Nairatmya 无我母 (Nairātmyā or Dagmema is a female buddha, the consort of Hevajra 喜金刚in the Hevajra-tantra. The name means "ego-less woman") appeared before him in the form of a beautiful blue woman wearing heavenly silk garments, and spoke to him thus:

"O noble son, it is not good that you should behave in this manner when you are about to attain the Siddhi. Although all the Buddhas have non-discriminatory compassion, I am the deity with whom you have strong Karmic affinity and I shall bless you to quickly attain Siddhi. Go and retrieve your prayer beads, wash them with scented water, confess your misdeeds and resume your practice properly."

Then she disappeared.

Dharmapala awoke feeling a mixture of regret and joy.
He followed her instructions, resuming his practice early that morning. Subsequently the Mandala of the Nirmanakaya aspect of the Fifteen Goddess of Nairatmya appeared before him and gave him the four complete initiations.
He thereupon attained the Path of Seeing of the First Bhumi.
He now realised the true significance of his dreams.
The rough dreams and visions of Yaksas were the interdependent manifestations of his mind and vital energies merging into the ksa and ma syllables below the navel Cakra.
This was caused by the untying the vein knots which brought about the First Merging of Elements and signs of the vital energies of Candali heat.

<Tummo (Tibetan: gtum-mo; Sanskrit: caṇḍālī) is a form of breathing, found in the Six Yogas of Naropa, Lamdre, Kalachakra and Anuyoga teachings of Tibetan Vajrayana
Tummo originally derives from Indian Vajrayana tradition, including the instruction of the Mahasiddha Krishnacarya and the Hevajra Tantra
The purpose of tummo is to gain control over body processes during the completion stage of 'highest yoga tantra' (Anuttarayoga Tantra) or Anuyoga.>

The unconventional experiences which appeared to his conceptual mind resulted from the re-adaptation process between the veins and the mind.
As a sign of the intermediate Merging of Elements the Candali fire blazes upward and causes the Bodhicitta nectar to flow upward.
Such an interdependent manifestation of internal events would be experienced conceptually by the Yogi as a blazing fire from the bottom of the valley and a flood coming from the upper part of the valley.
The forceful circulation of subtle droplets in many minor veins was reflected in the dreams about hail-storms, and the icebergs falling from the sky.

The Third and Final Merging of the Elements revealed the bare face of flawless transcendental wisdom.

This has the effect of dissolving all attachment to ordinary appearances.

这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

These interdependent manifestations were reflected in his dreams as the torn faces of his Guru and Yidams.
He came to realise that all those signs had been direct meditative experiences related to the three sequential mergings of the subtle elements within his body.

Through the timely appearance and guidance of Vajranairatmya, Shri Dharmapala had finally attained realization.
From then on, he reached a higher Bhumi each day until in the early morning of the 29th of the same month he attained the Sixth Bhumi.
He was now a great Bodhisattva dwelling on the Sixth Bhumi. 

His receipt of the four complete initiations confirmed that the continuous flow of the empowerment had not ceased. 认证了传承加持并没有中断过。
The attainment of the six Bhumis was confirmation that the lineage of the blessings was unbroken.
His failure to recognise previous signs of attainment and his misinterpretation of these signs as bad omens confirmed that he had not received certain pith instructions.
This enabled him to realise that the order of the instructions was not wrong

In consequence, Dharmapala's devotion to the teachings was restored and redoubled.
He became confident that he would definitely attain the realization of a Fully
Enlightened One, as did the Buddha.
In this way he was blessed with the Four Whispered Lineages, which came to be known as the 'Instruction of the Four Whispered Lineages'.

~~~~~~~~~~~~~~~

Dear all,
I hope you like the above sharing! :)

I have marked or translated some texts too!

Have you discovered that you need to:
  1. Follow your Root Guru's instructions strictly and closely?
  2. Practice with diligence and regularly or daily?
  3. Even with Blessing from the divine like Nairatmya 无我母, you need to put in your own efforts?
  4. Realised the Truth - confirmed that the continuous flow of the empowerment had not ceased. 认证了传承加持并没有中断过
  5. Comprehend : The Third and Final Merging of the Elements revealed the bare face of flawless transcendental wisdom.
    This has the effect of dissolving all attachment to ordinary appearances.
    这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

~~~~~~~~~~~

Remember that what you need most of all is 
A True Yogi as a guru, 
His teachings and guidances, especially on Pith Instructions, 
and Steadfast Faith coupled with Diligence in daily cultivation!

AND, do remember, No Short Cut!

Virupa was 70 years old when he attained Siddhi! :)


Cheers all.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, September 19, 2015

Ajaran Lamdre dari Ordo Sakya – Jalur & Pencapaiannya



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 7 September 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 萨迦派道果法 Sakya's Lamdre – Path & Its Fruit



《道果》 - “道果”的意义

"道果"乃萨迦派最高的且最特殊的法门,"道果"法系源自第九世纪印度那烂陀佛学院之住持毗瓦巴上师。
经由其自身多年的精进禅修,喜金刚智慧本尊亲现,并予其喜金刚灌顶。得灌的当天,他立即证得初地菩萨的果位:
其后五天,由于思维而证得六地菩萨,
并将此经验述写为《金刚歌集》,内为《喜金刚密续》的秘密口传,此即"道果"的基础。

其后"道果"经由印度许多大师代代相传而延续至今,萨迦派祖师萨千贡噶宁波则在十一世纪当其传至西藏时获得此一传承,由于全套的"道果"法十分广博,他花了八年时间来跟随其上师终能获得完全的教导;其后自修十八年,毗瓦巴亲现并直接传予"道果"。

自此之后,萨迦祖师才开始公开教授,初为口传之笔述,后着论释,并由萨迦派多位上师传承九百多年至今。

"道果"浓缩了经典及密续的教导,以《喜金刚密续》为基,而与喜金刚本尊之修持有关

"道果"的传法分为两部分

第一部分为《三现观》,为小乘修习以求解脱及大乘菩萨行以众生、了知空性及现象(法界)真义的总结。

第二部分为《三密续》,包括《喜金刚密续》的前行与正行灌顶以加持行者之证悟过程的转化,为金刚乘修持之集要。

《三现观》解释之不同精神层次对事物现象的不同觉知,包括对平凡众生、对修行者、对证悟者的三种觉知。

而《三密续》则解释在不同精神层次,此一现象的觉察者其心或相续性的不同,亦包括对平凡众生、修行者、证悟者的三种觉知;
同时并详述之修持四种灌顶的意义,包括上师相应法、拙火、肪气明点及大手印。
总括而言,道果"包括了有佛法的修持,自起初阶段至果熟证悟,故称为"道果"。

Ordo Sakya (Bhs. Tibet: ས་སྐྱ་, Wylie: sa skya, "Tanah Putih") adalah salah satu dari empat ordo utama agama Buddha aliran Tibet. Yang lainnya adalah Nyingma, Kagyu, dan Gelug. Ia termasuk dalam kategori Topi Merah bersama dengan Nyingma dan Kagyu.

Sachen, yang pertama dari 5 guru terunggul, mewarisi begitu banyak doktrin tantra dari berbagai penerjemah Tibet (lotsawa) yang telah mengunjungi India: yang utama adalah dari Drokmi Lotsawa, Bari Lotsawa dan Mal Lotsawa.

Dari Drokmi muncul ajaran Sakya yang unggul, dengan sistem Lamdre “Jalur dan Pencapaiannya”-nya yang berasal dari Mahasiddha Virupa dengan berlandaskan Tantra Hevajra.
Mal Lotsawa memperkenalkan garis silsilah esoterik Vajrayogini kepada Sakya, yang dikenal sebagai “Nari Khachoma.”
Dari Bari Lotsawa muncul sadhana-sadhana tantra yang banyaknya tak terhingga, yang terutama adalah siklus sadhana yang dikenal sebagai Seratus Sadhana.
Transmisi penting lain yang membentuk kurikulum spiritual Sakya meliputi tantra Vajrakilaya, Mahakala, dan Guhyasamaja.

Sakya Pandita, patriak Sakya ke-4, dikenal akan ilmu pengetahuannya dan menulis banyak naskah penting dan berpengaruh seputar sutra dan tantra, termasuk di antaranya:
“Sarana Kognisi (konsekuensi psikologis dari persepsi, pembelajaran dan penalaran) yang Sahih: Sebuah Harta Pemikiran” (Wylie: tshad ma rigs gter),
“Menjelaskan Niat Suciwan” (Wylie: thub pa dgongs gsal) dan
“Membedakan Tiga Sumpah (Wylie: sdom gsum rab dbye).

Sistem dharma utama dari Ordo Sakya adalah “Jalur beserta dengan Hasil Pencapaiannya” (Wylie: lam dang 'bras bu bcas), yang dipecah menjadi 2 silsilah: “Penjelasan untuk Jemaat” (Wylie: tshogs bshad) dan “Penjelasan untuk Murid-murid Utama” (Wylie: slobs bshad).

Sistem utama lain dari Ordo Sakya adalah “Penjelasan Naropa untuk Para Murid”  (Wylie: nā ro mkha spyod slob bshad).

~~~~~~~~~~~

Berikut ini adalah daftar isi dari buku “Menggunakan Buah Pencapaian sebagai Jalur”.

Sumber: Taking the Result as the Path: Core Teachings of the Sakya Lamdre Tradition










~~~~~~~~~~~

Mahaguru Lu menyebutkan hal ini pagi tadi di dalam ceramahnya.
Beliau bilang kalau ada waktu nanti akan mencoba membabarkan ajaran agung Mahamudra dari Ordo Sakya ini.

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Kalau kamu ada waktu, gunakanlah waktumu untuk membaca dan memahami materi-materi yang relevan untuk membantumu dalam melatih diri.

Menjalankan dengan leluasa 任运 ?
Hahaha!
Kamu perlu belajar konsep-konsep, prinsip-prinsip yang relevan, dan kemudian MENGGUNAKANNYA!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, September 7, 2015

萨迦派道果法 Sakya's Lamdre – Path & Its Fruit


Terjemahan Indonesia: Ajaran Lamdre dari Ordo Sakya – Jalur & Pencapaiannya


《道果》 - “道果”的意义

"道果"乃萨迦派最高的且最特殊的法门,"道果"法系源自第九世纪印度那烂陀佛学院之住持毗瓦巴上师。
经由其自身多年的精进禅修,喜金刚智慧本尊亲现,并予其喜金刚灌顶。得灌的当天,他立即证得初地菩萨的果位:
其后五天,由于思维而证得六地菩萨,
并将此经验述写为《金刚歌集》,内为《喜金刚密续》的秘密口传,此即"道果"的基础。

其后"道果"经由印度许多大师代代相传而延续至今,萨迦派祖师萨千贡噶宁波则在十一世纪当其传至西藏时获得此一传承,由于全套的"道果"法十分广博,他花了八年时间来跟随其上师终能获得完全的教导;其后自修十八年,毗瓦巴亲现并直接传予"道果"。

自此之后,萨迦祖师才开始公开教授,初为口传之笔述,后着论释,并由萨迦派多位上师传承九百多年至今。

"道果"浓缩了经典及密续的教导,以《喜金刚密续》为基,而与喜金刚本尊之修持有关。

"道果"的传法分为两部分:

第一部分为《三现观》,为小乘修习以求解脱及大乘菩萨行以众生、了知空性及现象(法界)真义的总结。

第二部分为《三密续》,包括《喜金刚密续》的前行与正行灌顶以加持行者之证悟过程的转化,为金刚乘修持之集要。

《三现观》解释之不同精神层次对事物现象的不同觉知,包括对平凡众生、对修行者、对证悟者的三种觉知。

而《三密续》则解释在不同精神层次,此一现象的觉察者其心或相续性的不同,亦包括对平凡众生、修行者、证悟者的三种觉知;
同时并详述之修持四种灌顶的意义,包括上师相应法、拙火、肪气明点及大手印。
总括而言,道果"包括了有佛法的修持,自起初阶段至果熟证悟,故称为"道果"。

The Sakya (Tibetan: ས་སྐྱ་, Wylie: sa skya, "pale earth") school is one of four major schools of Tibetan Buddhism, the others being the Nyingma, Kagyu, and Gelug. It is one of the Red Hat sects along with the Nyingma and Kagyu.

Sachen, the first of the five supreme masters, inherited a wealth of tantric doctrines from numerous Tibetan translators or "lotsawas" who had visited India: most importantly Drokmi LotsawaBari Lotsawa and Mal Lotsawa.

From Drokmi comes the supreme teaching of Sakya, the system of Lamdre "Path and its Fruit" deriving from the mahasiddha Virupa based upon the Hevajra Tantra. 

Mal Lotsawa introduced to Sakya the esoteric Vajrayogini lineage known as "Naro Khachoma." 
From Bari Lotsawa came innumerable tantric practices, foremost of which was the cycle of practices known as the One Hundred Sadhanas. 
Other key transmissions that form part of the Sakya spiritual curriculum include the cycles of Vajrakilaya, Mahākāla and Guhyasamāja tantras.

The fourth Sakya patriarch, Sakya Pandita, was notable for his exceptional scholarship and composed many important and influential texts on sutra and tantra, including 
"Means of Valid Cognition: A Treasury of Reasoning" (Wylie: tshad ma rigs gter), 
"Clarifying the Sage's Intent" (Wylie: thub pa dgongs gsal) and 
"Discriminating the Three Vows" (Wylie: sdom gsum rab dbye).

The main Dharma system of the Sakya school is the "Path with its Result" (Wylie: lam dang 'bras bu bcas), which is split into two main lineages, "Explanation for the Assembly" (Wylie: tshogs bshad) and 
the "Explanation for Close Disciples" (Wylie: slobs bshad).

The other major system of the Sakya school is the "Naropa Explanation For Disciples" (Wylie: nā ro mkha spyod slob bshad).

~~~~~~~~~~~

The following are contents of the book " Taking the Result as The Path".
Source: Taking the Result as the Path: Core Teachings of the Sakya Lamdre Tradition










~~~~~~~~~~~

GM Lu mentioned this during his speech this morning.
He said when have time, he will try and share this great teaching of Mahamudra from Sakya sector/school.

Dear all,
If you have time, do spend some time reading and familiarising yourself with relevant materials or texts to help you in cultivation.

Execute at will 任运 ?
Hahaha! 
You need to learn the relevant concepts or principles and USE or Apply! 


Cheers all.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef