Showing posts with label lamdre. Show all posts
Showing posts with label lamdre. Show all posts

Sunday, July 16, 2017

Pahala [2]



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 17 Juni 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: [2] Phala 果位


Di atas ini: Mahaguru Lu sedang mengajarkan 道果 Lamdre.

道 – Tahapan Jalan (Marga)
果 – Tahapan Buah Keberhasilan (Phala)


Pencapaian
Istilah untuk momen pertama pencapaian adalah jalan memasuki aliran (sotāpatti-magga), yang memotong tiga belenggu pertama. Ia yang mengalaminya dinamakan sebagai seorang pemenang-aliran (sotāpanna).

Yang dikatakan sebagai srotapanna adalah yang mempunyai pemahaman intuitif mengenai dharma, mahluk bijak ini memiliki Pandangan Benar (sammā diṭṭhi) dan punya keyakinan yang tak tergoyahkan di dalam Buddha, Dharma, dan Sangha.
Buddha, Dharma, dan Sangha, kadang kala disebut sebagai Tiga Rangkap Sarana, dan di lain waktu disebut sebagai objek-objek yang dikenang.
Pada umumnya, keyakinan yang teguh di dalam Buddha, Dharma, dan Sangha, dianggap sebagai salah satu dari empat bagian pemenang-aliran (sotāpannassa angāni).
Srotapanna juga dikatakan telah “membuka mata Dharma” (Dharmacaksu), berhubung mereka telah merealisasikan bahwa apapun yang muncul pasti akan berakhir (tidak kekal).
Oleh karenanya keyakinannya kepada dharma yang sejati tak akan goyah.

Sekilas awal memahami elemen yang tak berkondisi, asankhata, mereka bisa melihat tujuan akhirnya, pada saat jalan yang mereka telusuri telah matang (marga-phala).
Sebaliknya di mana mereka yang memasuki aliran telah melihat nirwana dan kemudian menjadi yakin, maka seorang arhat mampu menenggak airnya sepenuhnya, bila menggunakan kiasan dari Sutra Kosambi (SN 12.68) – mengenai sebuah “sumur”, yang ditemui di sepanjang jalan yang gersang.

Namun sisa tiga jalan berikut:
Kembali sekali lagi (sakadāgāmin),
Tidak kembali (anāgāmin),
dan kedewaan (arahatta)
menjadi “takdir” (sammatta niyāma) bagi mereka yang memasuki aliran.
Pencerahan mereka sebagai seorang murid  (arya sravaka) menjadi tak terelakkan dalam 7 kehidupan melewati berbagai transmigrasi di antara menjadi dewa dan manusia;
Bila tekun (appamatta, appamāda) dalam bersadhana sesuai dengan instruksi (satthāra) dari Sang Guru Pembimbing, mereka bisa tersadarkan secara sempurna dalam kehidupan saat ini juga.
Di masa mendatang hanya ada sedikit penderitaan yang harus dilewati.
Dalam naskah-naskah agama Buddha masa awal (seperti Sutra Ratna) dikatakan bahwa seorang yang memasuki aliran tak akan lagi terlahir ke dalam rahim binatang, atau neraka, atau sebagai hantu kelaparan.
Berbagai jalan menuju tujuan kelahiran yang sengsara (durgati) telah ditutup bagi mereka.

Juga tak akan mungkin melakukan enam “kejahatan keji” (abhithanani) yang akan menjatuhkan mereka ke dalam neraka selama berkalpa-kalpa. Keenam kejahatan tersebut adalah: (1) membunuh ibu, (2) membunuh ayah, (3) membunuh arhat, (4) dengan niat jahat mencelakai Buddha hingga menumpahkan darah, (5)menyebabkan perpecahan di dalam paguyuban Sangha, dan (6) berguru pada guru lain.

Mereka hanya akan terlahir ke dalam keluarga “bangsawan”, atau sebagai mahluk surgawi.


Tiga belenggu
Di dalam kanon berbahasa Pali, kualitas seorang srotapanna digambarkan sebagai berikut:
… para bhiksu yang telah melepaskan tiga belenggu, adalah para pemenang aliran, mereka tegar, tak akan pernah lagi ditakdirkan mengalami kondisi duka, berjalan menuju penyadaran diri.
Demikianlah Dharma yang kuproklamirkan selalu jelas, terbuka, nyata terbukti, berkualitas tinggi.
— Sutra Alagaddupama

Tiga belenggu yang disingkirkan oleh sotapanna adalah:

[1] Pandangan Diri – Pandangan akan substansi atau gabungan (sankhata) bisa menjadi abadi di dalam lima agregat (wujud, perasaan, persepsi [daya paham], niat, pengetahuan kesadaran) dan kemudian dimiliki sebagai ‘aku’ (subjek), ‘aku’ (objek), atau ‘milikku’.
Seorang srotapanna sebenarnya tidak mempunyai pandangan mengenai diri (sakkāya-ditthi), karena doktrin tersebut diproklamirkan sebagai wujud kemelekatan yang halus.

[2] Melekat pada upacara dan ritual – Mengenyahkan pandangan bahwa ia menjadi suci dengan mudahnya lewat melakukan ritual (persembahan hewan, berbilas, menjapa, dll.) atau menganut moralisme secara kaku, atau bersandar kepada seorang dewa untuk penyelamatan tanpa menghiraukan sebab-musabab (issara nimmāna). Upacara dan ritual kini malah lebih mengaburkan daripada mendukung pandangan benar seorang srotapana yang mata dharma-nya telah terbuka.
Srotapanna menyadari bahwa penyelamatan hanya bisa dimenangkan melalui praktik Jalan Mulia Beruas Delapan. Ia telah menghilangkan gagasan mengenai mujizat maupun jalan pintas.

[3] Curiga dan ragu-ragu – Keraguan kepada Buddha, ajarannya (Dharma), dan komunitasnya (Sangha) telah dilenyapkan karena srotapanna secara pribadi telah mengalami kodrat sejati realitas melalui pengetahuan yang mendalam, dan wawasan tersebut mengkonfirmasi keakuratan ajaran Buddha.
Dengan melihat maka keraguan tersingkirkan, karena rupa merupakan sebuah wujud penglihatan (darsana) yang memampukannya untuk mengetahui (jnana).


Pencemaran
Menurut Penjelasan dalam Bahasa Pali, enam jenis pencemaran pada akhirnya akan ditinggalkan oleh seorang srotapanna, dan tidak ada lagi pelanggaran berat:
Iri hati
Cemburu
Munafik
Curang
Fitnah
Dominasi


Kelahiran Kembali
Seorang srotapanna terselamatkan dari kejatuhan ke berbagai situasi yang menyedihkan (mereka tak akan terlahir sebagai seekor binatang, hantu, atau mahluk neraka). Nafsu, kebencian dan khayalan mereka tidak cukup kuat untuk menyebabkan kelahiran kembali di alam-alam yang lebih rendah.
Ia masih harus terlahir kembali paling banyak 7 kali di alam manusia atau surga sebelum mencapai nirwana.
Tidak harus terlahir sebanyak 7 kali sebelum mencapai nirwana, berhubung seorang praktisi yang tekun bisa melaju ke tahap yang lebih tinggi di dalam kehidupan yang sama di mana ia mencapai tingkat Srotapanna dengan membuat sebuah niat dan usaha yang gigih untuk mencapai nirwana sebagai tujuan akhirnya.


Enam tindakan yang tak akan diperbuat
Seorang srotapanna tidak akan melakukan enam tindakan salah berikut:
Membunuh ibu sendiri.
Membunuh ayah sendiri.
Membunuh seorang arhat.
Dengan niat jahat melukai Buddha hingga menyebabkannya berdarah.
Sengaja membuat perpecahan dalam komunitas sangha.
Mengangkat guru lain [selain Buddha].

~~~~~~~~~~~~~~~

Ada kutipan di dalam Pengantar Redaktur di dalam “PARA MURID AGUNG SANG BUDDHA” oleh Nyanaponika Thera & Hellmuth Hecker.
Lihat: GREAT DISCIPLES OF THE BUDDHA - INTRODUCTION

“… Meski demikian, proses pencapaian yang lebih khusus merupakan sebuah proses yang disesuaikan di mana berbagai belenggu dipotong secara berurutan, dalam beberapa gugusan, pada empat peristiwa penyadaran yang berlainan.
Hal ini menghasilkan gradasi berlapis empat di antara para murid mulia, dengan setiap tahapan utama yang terbagi lagi ke dalam dua fase:
Sebuah fase di dalam jalan (marga), di mana murid yang bersangkutan mempraktikkan pelenyapan gugus belenggu tertentu;
Dan sebuah fase di dalam buah hasilnya (phala), di mana dobrakannya telah sempurna dan belenggu-belenggu telah dihancurkan.
Pembagian ini menjelaskan formula klasik Arya Sangha yang terdiri dari 4 pasangan dan 8 jenis orang yang mulia. …”

Mengenai jalan (marga) dan buah keberhasilan (phala):
[1] Beberapa guru dharma menekankan bahwa Jalur Mulia Beruas 8 bukanlah gerakan maju yang “linear”.
Namun menurut saya hal tersebut sangat masuk akal melihat bahwa “Pandangan Benar” (sammā-diṭṭhi) pasti berada di titik paling awal.
(Sebagai contoh, memahami bahwa “penolakan terhadap karma & kelahiran kembali merupakan “pandangan salah” – di dalam susunan Empat Kebenaran Mulia dan Hukum Sebab-Musabab (Pratityasamutpada). Saya tidak melihat bagaimana orang yang menolak konsep kelahiran kembali & karma bisa berkembang sebagaimana mestinya di sepanjang jalan.)
Dan juga, puncak dari Jalan Mulia Beruas Delapan pastilah “Keheningan Benar” (sammā-samādhi) – yang didefinisikan sebagai 4 rupa-jhana. (sebagai contoh: SN 45.8, MN-117, MN-141), karena jhana adalah kondisi pikiran di mana 5 rintangan yang menghidupi Kebodohan dan Hasrat telah disingkirkan (AN 10.61, 10.62).
Untuk menyingkirkan Kebodohan, jangan beri makan 5-rintangan melalui pencapaian jhana. Antara Pandangan Benar dan Keheningan benar terdapat perkembangan etika, perhatian penuh dan meditasi.
Demikianlah baru terlihat adanya kemajuan linear, dengan Jhana sebagai buah keberhasilan (phala) dari praktik (marga) yang mendahuluinya.
Benarkah pemahaman ini?

~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Berpikirlah baik-baik sebelum kamu memanifestasikan pikiranmu ke dalam tindakan!

Pelatihan Dharma belum tentu seperti yang kamu pikirkan!

Tentunya, kamu selalu punya PILIHAN – Mau melakukannya atau tidak! :)

Apakah kamu dengan sekuat tenaga masih mencoba untuk “menjatuhkan” wujud ciptaanmu yang kamu labeli sebagai “lotuschef”!

Saatnya sadar!
Bila kamu tidak keluar dari Jalan yang sedang kamu telusuri saat ini, kamu tak akan pernah mendapatkan Buah Pencerahan.

“Kejahatan” dari “manifestasimu” itu sedang kamu beri nyawa kehidupan dengan Iblis ciptaanmu sendiri!


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Tuesday, June 20, 2017

Memberikan Pertolongan?



Ditulis oleh Lotuschef – 18 Juni 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 渡 Succour?


中阿含經: 千年經典


 1. 横过水面:~船。~桥。~河。摆~。强~。远~重洋。
 2. 由此到彼:~过难关。
 3. 转手,移交:引~。
 4. 过河的地方:~口。~头。
(menyeberangi sungai)   (menyeberangkan)   (membawa melewati, menyelamatkan)

Ing: Succour

[kata benda]
1. Bantuan dan dukungan dalam masa susah dan sengsara.
Sinonim: bantuan, membantu, uluran tangan;
Pertolongan, kenyamanan, kemudahan, pembebasan, bimbingan, dukungan;
Rasa damai yang jarang didapatkan

[kata kerja]
1. Memberikan bantuan atau pertolongan.
Sinonim: membantu, menolong, memberikan bantuan atau pertolongan, mengulurkan tangan, melayani;
Memperhatikan; memberikan kenyamanan, memberikan dukungan, menopang, melindungi, memelihara

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

大智度論 (梵文:Mahāprajñāpāramitāśāstra;
(Risalah Agung Kesempurnaan Kebijaksanaan)



Dari arsip percakapan:

AA: 法師。我舊同學業障也重。佢夢過靈界來攞債。所以離婚。失業等。我給過很多經=她。但佢懶懶閑。但最近又夢到冤親。
我覺得度得一個。眾生就是愚。亦是苦。
我想帶佢你見你。希望你度佢諗經

[AA ada seorang teman sekelas lama yang menurutnya berkarma buruk sangat berat. Selalu mimpi alam spiritual yang datang untuk menagih hutang. Cerai dan tak punya pekerjaan. AA memberinya banyak sutra namun si teman sepertinya santai saja dan malas. Tapi akhir-akhir ini, para musuh karmanya datang ke dalam mimpinya kembali. AA merasa kalau bisa menolongnya juga bagus. Para insan banyak yang bodoh dan juga menderita.
AA ingin membawanya untuk bertemu Reverend, berharap Reverend bisa menolongnya untuk menjapa sutra.]


BB: 犯桃花。渡? 要看【缘】。念经否,都是个人选择。
无需浪费时间见面

[Permasalahan karma seputar dosa yang berhubungan dengan seks. Menolong? Harus melihat (jodoh afinitas). Menjapa sutra atau tidak, semua merupakan pilihan pribadi. Tak perlu buang-buang waktu untuk bertemu.]


AA: 對看緣。有時約佢出來會甩底架。我都係比高王經佢聽。叫佢跟住唸
: 隨緣
: 星期一晚約左ZZ同你食反

BB: 记得MM师姐吗?
自己都不愿意改变,以为靠【外力】就可以一帆风顺!

AA: MM佢自己好執著。照返自己意思去生活。無計攪🙄

BB: 记住不要安排应酬。我要做法会准备。
: 业障要靠自己去还,去消,去化。佛法是其工具而已
【用】是佛教的方法。明知又不肯自救,就是无缘
: 嘻嘻!我喜欢吃家常便饭。像师尊的【不油,不咸,不甜】😍

~~~~~~~~~~~~~~~~

AA membawa temannya ke acara makan malam meski aku telah memberitahunya bahwa aku tak ingin bertemu dengan orang ini!
Si teman mencoba mengajukan berbagai pertanyaan kepadaku, tapi aku menegaskan kepadanya: Tak boleh bertanya.

AA membawakan selembar “Sutra Maharaja Avalokiteshvara” (Gaowang) yang dilaminasi dan mengatakan bahwa ia dibuat dengan sangat bagus. Ia hendak memberikannya kepada temannya. Si teman menolak menerimanya.
AA dengan gelisah mengatakan kepada temannya bahwa selama 3 tahun ini ia memberanikan diri menanggung karma buruknya dengan mencoba menyelamatkannya…

Aku hentikan omongannya dan bilang bahwa ia sudah cukup memberinya.
Tidak perlu mengulangi hal yang sama.
Kalau ia memang butuh, ia akan mencari kembali semua yang kamu berikan kepadanya dan kemudian akan menggunakannya.
Tak perlu memberinya lebih lanjut lagi, cukup tunggu sampai jodohnya dengan Buddha muncul.

Si teman pulang setelah acara makan malam dengan membawa “Sutra Maharaja Avalokiteshvara” yang dilaminasinya! :)

AA bilang kepadaku bahwa ia hanya ingin temannya menjapa mantra Guru [Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom]!

Teman-temanku yang terkasih, kalau kamu ingat ada orang yang pernah datang berkonsultasi kepadaku dan aku menyarankannya untuk menghindari para wanita?
Ia meninggal 3 bulan kemudian, ditabrak truk di jalan tol.
Ia menyentuh wanita yang kusarankan supaya dihindari!

Dosa karma yang bersifat seksual?
Ada lebih dari satu musuh karma yang datang menagih dan mereka sudah mengantri berdasarkan tingkat kepelikan hutangnya kepada mereka!

Menyelamatkan?
Aku bilang kepada AA bahwa itu berarti dari awal hingga selesai!
Yang berarti selesai “Di Pantai Seberang”!

Bacalah sutra di atas sehingga kamu memahami “Penyelamatan” dengan lebih baik.

Orang-orang yang aku tak ingin temui setelah melihat foto mereka, berarti mereka belum menunjukkan [Jodoh dengan Buddha]!

Oh bahkan bila kamu mau, boleh saja melabeliku “Tak Punya Welas Asih”! :)

Mahaguru Lu mengajarkan Lamdre (Jalan beserta dengan Buah Keberhasilannya), seharusnya akan menolong banyak umat memahami bahwa diri masing-masing harus mengusahakan Jalan-nya sebelum bisa mendapatkan Buah-nya.

Tanpa kesungguhan dan ketulusan dalam usaha yang dilakukan oleh diri sendiri, siapapun juga akan tetap Bodoh, dan dalam skenario yang lebih buruk malah terus membayar hutang karma!

Mohon dicatat bahwa aku hanya menolong orang yang menunjukkan kepadaku bahwa ia mau menolong dirinya sendiri.


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Sunday, June 18, 2017

渡 Succour ?


Terjemahan Bahasa: Memberikan Pertolongan?


中阿含經: 千年經典


 1. 横过水面:~船。~桥。~河。摆~。强~。远~重洋。
 2. 由此到彼:~过难关。
 3. 转手,移交:引~。
 4. 过河的地方:~口。~头。
English
cross a river   ferry   pull through
cross, ferry over; ferry

succour
noun
1. assistance and support in times of hardship and distress.
synonyms: aid, help, a helping hand, assistance;
ministration, comfort, ease, relief, support, guidance, backing;
rare easement

verb
1. give assistance or aid to.
synonyms: help, aid, bring aid to, give help to, give/render assistance to, assist, lend a (helping) hand to, be of service to;
minister to, care for, comfort, bring comfort to, bring relief to, support, be supportive of, sustain, protect, take care of, look after, attend to, serve, wait on

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

大智度論 (梵文:Mahāprajñāpāramitāśāstra;
英语:Great Treatise on the Perfection of Wisdom)


CHAT:

AA: 法師。我舊同學業障也重。佢夢過靈界來攞債。所以離婚。失業等。我給過很多經=她。但佢懶懶閑。但最近又夢到冤親。
我覺得度得一個。眾生就是愚。亦是苦。
我想帶佢你見你。希望你度佢諗經。
[AA has an old classmate that she perceived as having heavy karmic negatives. Dreams of spiritual realm coming to collect debts. Divorced & jobless. AA gave her many sutra but she is relax and lazy. But recently, karmic creditors come into dream again. AA feels that can succour one also good. Sentient beings are ignorant. Also suffering. 
AA wants to bring her to see Reverend, hope reverend can succour her to chant sutra.]

BB: 犯桃花。渡? 要看【缘】。念经否,都是个人选择。
无需浪费时间见面。
[Karmic is of sex related sins. Succour? Must see (Affinity). Chant sutra or not, all personal choice. No need to waste time to meet up.]

AA: 對看緣。有時約佢出來會甩底架。我都係比高王經佢聽。叫佢跟住唸
: 隨緣
: 星期一晚約左ZZ同你食反
BB: 记得MM师姐吗?
自己都不愿意改变,以为靠【外力】就可以一帆风顺!
AA: MM佢自己好執著。照返自己意思去生活。無計攪🙄

BB: 记住不要安排应酬。我要做法会准备。
: 业障要靠自己去还,去消,去化。佛法是其工具而已。
【用】是佛教的方法。明知又不肯自救,就是无缘。
: 嘻嘻!我喜欢吃家常便饭。像师尊的【不油,不咸,不甜】😍

~~~~~~~~~~~~~~~~

AA brought her friend to dinner despite my telling her that I don't want to meet this person!
The friend attempted to put questions to me, but I told her clearly: Cannot Ask.

AA brought out a laminated version of "High King Sutra" and said how nicely down is this version. She wanted to give it to her friend. The friend refused to accept it.
AA said agitatedly to her friend that these past 3 years, I braved having to bear your karmic negatives in trying to succour you.....

I stopped her saying that you have given her enough. 
There is no need to repeat the same. 
If she is in need, she will dig out those you gave her and use them.
No need to give her anything further, just wait for her Affinity with Buddha to arise.

The friend left after dinner bringing with her the laminated version of "High King Sutra"! :)

AA said to me then that all she wanted was for the friend to chant Guru's mantra of Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom!

Dear all, remember the one that came and consult me and I advised him to steer clear of women?
He died about 3 months later, ran down by a truck on our expressway.
He touched the woman that I advised him to steer clear of!

Karmic sins of a sexual nature?
There are more than one creditors coming to collect and they are lined up in order of severity of debts owe to them!

Succour?
I told AA this means from the start to the finish!
That is to end "On the Other Shore"!

Please go read the sutra for better understanding of "Succour".

People that I don't wish to meet after looking at their photos, mean they have yet to show [Buddha Affinity]!

O! If you like, you can label me as "Lacking Compassion"! :)

GM Lu sharing Lamdre or Path & Fruit, should help most understand that each one of us need to work our way to the Path before we can attain the Fruit.

Without sincere & diligent efforts by Self, One stays Ignorant and worse scenario, continue to pay Karmic debts!

Please note that I only help those that show me that they are willing to help themselves. 


With Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, June 17, 2017

[2] Phala 果位


Terjemahan Bahasa: Pahala [2]


Above: GM Lu sharing 道果 Lamdre.
道 - Path/Magga Stage
果 - Fruit/Phala  Stage

Attainment
The first moment of the attainment is termed the path of stream-entry (sotāpatti-magga), which cuts through the first three fetters. The person who experiences it is called a stream-winner (sotāpanna).

The sotāpanna is said to attain an intuitive grasp of the dharma, this wisdom being called right view (sammā diṭṭhi) and has unshakable confidence in the Buddha, Dharma, and Sangha.
The Buddha, Dharma, and Sangha, sometimes taken to be the triple refuge, are at other times listed as being objects of recollection. 
In general though, confirmed confidence in the Buddha', Dharma and Sangha, respectively, is considered to be one of the four limbs of stream-winning (sotāpannassa angāni).
The sotapanna is said to have "opened the eye of the Dhamma" (dhammacakka), because they have realized that whatever arises will cease (impermanence).
Their conviction in the true dharma would be unshakable.

They have had their first glimpse of the unconditioned element, the asankhata, in which they see the goal, in the moment of the fruition of their path (magga-phala). 
Whereas the stream-entrant has seen nibbāna and, thus has verified confidence in it, the arahant can drink fully of its waters, so to speak, to use a simile from the Kosambi Sutta (SN 12.68) — of a "well", encountered along a desert road.

However, the remaining three paths, namely: 
once-return (sakadāgāmin), 
non-return (anāgāmin), 
and sainthood (arahatta) 
become 'destined' (sammatta niyāma) for the stream-entrant. 
Their enlightenment as a disciple (ariya-sāvaka) becomes inevitable within seven lives transmigrating among gods and humans; 
if they are diligent (appamatta, appamāda) in the practice of the Teacher's (satthāra) message, they may fully awaken within their present life. 
They have very little future suffering to undergo.
The early Buddhist texts (e.g. the Ratana Sutta) say that a stream-entrant will no longer be born in the animal womb, or hell realms; nor as a hungry ghost. 
The pathways to unfortunate rebirth destinations (duggati) have been closed to them.

It's impossible for them to commit the six "heinous crimes" (abhithanani), which would otherwise lead to aeons in hell. These six being: i. matricide, ii. patricide, iii. the murder of an arahat, iv. shedding a Buddha's blood with malicious intent, v. causing schism in the monastic Sangha, and vi. taking another teacher.

They are reborn only in "noble" human families, or as divine beings.


Three fetters
In the Pali Canon, the qualities of a sotāpanna are described as:
…those monks who have abandoned the three fetters, are all stream-winners, steadfast, never again destined for states of woe, headed for self-awakening. 
This is how the Dharma well-proclaimed by me is clear, open, evident, stripped of rags.
— Alagaddupama Sutta

The three fetters which the sotāpanna eradicates are:

[1] Self-view — The view of substance, or that what is compounded (sankhata) could be eternal in the five aggregates (form, feelings, perception, intentions, cognizance), and thus possessed or owned as 'I', 'me', or 'mine'. 
A sotāpanna doesn't actually have a view about self (sakkāya-ditthi), as that doctrine is proclaimed to be a subtle form of clinging.

[2] Clinging to rites and rituals - Eradication of the view that one becomes pure simply through performing rituals (animal sacrifices, ablutions, chanting, etc.) or adhering to rigid moralism or relying on a god for non-causal delivery (issara nimmāna). Rites and rituals now function more to obscure, than to support the right view of the sotāpanna's now opened dharma eye. 
The sotāpanna realizes that deliverance can be won only through the practice of the Noble Eightfold Path. It is the elimination of the notion that there are miracles, or shortcuts.

[3] Skeptical doubt - Doubt about the Buddha, his teaching (Dharma), and his community (Sangha) is eradicated because the sotāpanna personally experiences the true nature of reality through insight, and this insight confirms the accuracy of the Buddha’s teaching. 
Seeing removes doubt, because the sight is a form of vision (dassana), that allows one to know (ñāṇa).


Defilements
According to the Pali Commentary, six types of defilement would be eventually abandoned by a sotāpanna, and no major transgressions:
Envy
Jealousy
Hypocrisy
Fraud
Denigration
Domineering


Rebirth
A sotāpanna will be safe from falling into the states of misery (they will not be born as an animal, ghost, or hell being). Their lust, hatred and delusion will not be strong enough to cause rebirth in the lower realms. 
A sotāpanna will have to be reborn at most only seven more times in the human or heavenly worlds before attaining nibbāna. 
It is not necessary for a sotāpanna to be reborn seven more times before attaining nibbāna, as an ardent practitioner may progress to the higher stages in the same life in which he/she reaches the Sotāpanna level by making an aspiration and persistent effort to reach the final goal of nibbāna.


Six actions that are not committed
A sotāpanna will not commit six wrong actions:
Murdering one's own mother.
Murdering one's own father.
Murdering an arahant.
Maliciously injuring the Buddha to the point of drawing blood.
Deliberately creating a schism in the monastic community.
Taking another Teacher [besides Buddha].

~~~~~~~~~~~~~~~

There is this passage in the Editor's Introduction to "GREAT DISCIPLES OF THE BUDDHA" by Nyanaponika Thera & Hellmuth Hecker.

" ... The more typical process of attainment, however, is a calibrated one whereby the fetters are cut off sequentially, in discrete clusters, on four different occasions of awakening. 
This results in a fourfold gradation among the noble disciples, with each major stage subdivided in turn into two phases: 
a phase of the path (magga), when the disciple is practicing for the elimination of the particular cluster of fetters; 
and a phase of the fruit (phala), when the breakthrough is complete and the fetters have been destroyed. 
This subdivision explains the classical formula of the Ariya Sangha as made up of four pairs and eight types of noble persons. ..."

Regarding path (magga) & fruit (phala):
[1] Some dhamma teachers emphasize that the eightfold path is not a "linear" progression. 
However, to me it makes so much sense that "Right View" (sammā-diṭṭhi) must be the very beginning. 
(For example, understand that "rejection of karma & rebirth" is "wrong view" - within the framework of Four Noble Truths and Dependent Origination. I don't see how anyone who rejects rebirth & karma can progress properly further along the path.) 
As well, the culmination of the Eightfold Path must be "Right Stillness" (sammā-samādhi) - which is defined as the 4 rupa-jhanas. (e.g. SN 45.8, MN-117, MN-141), because jhana is the mind state where the 5-hindrances that sustain Ignorance and Desires are removed (AN 10.61, 10.62). 
To remove Ignorance, starve the 5-hindrances through attainment of jhana. Between Right View and Right Stillness there is development of ethics, mindfulness and meditation. 
Thus there is some sense of linear progression, with Jhana as the fruit (phala) of the practices (path - magga) that precede it. 
Is this understanding correct?

~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Think carefully before you act out your thoughts!

Dharma Cultivation might not be what you think or perceive it is! 

Of course, the CHOICE is always yours - To do or Not to do! :)

Are you still trying your utmost to "bring down" your creation of a form, labelled as "lotuschef"! 

Wake up!
If you don't walk out of the Path you are treading now, you will never ever attain the Fruit of Realisation/Enlightenment. 

Your "manifestation"  of "evil" were all given life to by your very own Demon! 


With Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, July 9, 2016

Bagaimana Cara Belajar Merelakan?



Ditulis oleh Lotuschef – 3 Juni 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 如何学放下 How to Learn to Let Go?


Mengutip dari Pemusatan Perhatian – Perenungan Atas Wujud [1]:

[--- Dengan cara yang sama, bhiksu merenungi tubuhnya sendiri dari telapak kaki ke atas, dari ujung kepala ke bawah, semuanya dibungkus oleh kulit dan penuh dengan berbagai macam hal yang kotor:

‘Di tubuh ini terdapat rambut kepala, rambut di badan, kuku, gigi, kulit, daging, otot, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, selaput paru-paru, limpa, usus besar, usus kecil, esofagus (kerongkongan), feses, empedu, lendir dahak, nanah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan di persendian, air kencing.’

Dan ia selalu peka, bersemangat dan tak ragu-ragu, segala ingatan dan keputusan mengenai kehidupan rumah tangga ditinggalkannya, dan dengan meninggalkannya maka pikirannya terfokuskan dan batinnya menjadi tenang, menyatu dan terpusat.

Demikianlah bagaimana seorang bhiksu mengembangkan pemusatan perhatiannya yang melebur ke dalam tubuhnya. ---]

~~~~~~~~~~~~

Dan dari Pemusatan Perhatian – Perenungan Atas Wujud [2]:

[--- Dari sini aku menyadari bahwa mau secantik apapun seseorang saat ia hidup,
betapa menarik atau indahnya perempuan tersebut, sehingga semakin kamu memikirkannya maka semakin dirinya menjadi memikat, namun saat ia mati, ia akan melepuh sama anehnya seperti orang-orang lain juga.
Ia akan menjadi hijau dan penuh dengan burik, serta dagingnya akan pecah terbuka.
Masihkah kamu bisa mencintainya setelah itu?

Lalu darah dan kotoran akan keluar, jasadnya mulai berbau busuk.
Di tahap ini, anjing akan menyukainya, tapi orang-orang akan menjauhinya.

Kemudian nanah mulai terbentuk dan tubuhnya mulai membusuk.
Membayangkannya saja membuatmu ingin muntah!

Di saat ini sudah tak mungkin lagi untuk menciumnya.
Lalu cacing-cacing mulai tumbuh berkembang: yang besar maupun yang kecil.
Sekawanan lalat dan lalat biru (Calliphora vomitoria) datang mengerumuni.
Mereka mendekatinya dan di saat itu kamu bahkan tak akan merasa cemburu sedikitpun.

Daging mulai tercerai-berai dan tinggallah tulang-belulang yang tersisa.
Kemudian ia terbakar dan segalanya menghilang.

Beritahukan kepadaku, kemana orang cantik tersebut pergi?

Melalui perenungan seperti ini ia semakin muak akan wujud, dan menjadi paham bahwa kodrat dari segala macam wujud adalah tidak bersih.

Ia menyadari mau seberapa cantiknya suatu wujud, sumbernya sendiri sudahlah kotor. ---]

~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Ya! Transformasi!
Dalam prosesnya, kamu akan menyadari Ketidakkekalan Segala Wujud!

Tentunya kamu perlu belajar untuk Menyempurkan “Keterampilan” ini bila ingin mencapai Pencerahan! :)

Di dalam Landre, salah satu dari 3 Penglihatan (Visi) adalah Visi Pengalaman!

Oleh karenanya kamu harus sering melakukannya, dan berusaha dengan tekun di dalam mendaki tangga Pelatihan Diri!

Tak ada seorangpun yang bisa melakukannya untukmu, namun seorang Guru yang Cakap, Berpengalaman atau Tercerahkan, akan mampu membimbingmu di dalam perjalananmu.

Cobalah renungkan: Apakah kamu butuh orang yang mendiktemu atau memaksamu untuk Menuruti dan Menjalankan aksi “Balas Dendam” mereka?
Hahaha!

Saatnya bangun!

Dan menyadari mengapa aku selalu menyarankanmu untuk “Hanya mendengarkan Guru Akarmu, satu-satunya Mulagurumu saja”?

Aku bukan sedang membunuh “Bisnis” orang lain, tapi hanya memberitahumu Apa Adanya, hanya bila kamu ingin berjalan di Jalur Bodhi!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Friday, June 24, 2016

Biografi Mahasiddha Virupa



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 7 Juni 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 7-5-2016 Mahasiddha Virupa 畢哇巴





【道果本頌金剛句偈疏】作者是畢哇巴,原來本身的道果不是一篇文章,是一句一句的,九個字或七個字。其實不長,只是薄薄幾張紙,但每一句話的含義非常的多,所以才變成那一大本的道果。

Mahaguru Lu menceritakan sepotong bagian awal dari kisah kehidupan Virupa (Penulis Lamdre) di sesi tersebut.  Lamdre dalam naskah aslinya hanya terdiri dari 9 atau 7 kata saja, tidak berhalaman-halaman. Demikianlah Lamdre tidaklah panjang, hanya beberapa lembar tipis saja, NAMUN setiap kalimat yang tertulis mengandung arti yang mendalam, dari situlah buku mengenai Lamdre muncul.

~~~~~~~~~~~~~~

Di dalam artikel berikut ini berisi sebagian dari yang Mahaguru Lu telah bagikan.
Selamat membaca dan menikmati!
Dan perhatikanlah kunci-kunci penting yang dibagikan di dalamnya!

~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku melakukan beberapa riset dan menemukan kisah hidup Virupa yang menakjubkan. Diekstrak untuk dibagikan sebagai berikut:

Syukur dan terima kasih kepada Lama Choedak Yuthok yang telah membagikannya!

Mahasiddha Virupa & Arya Tara, karya Samudra Man Singh Shrestha

Biografi Mahasiddha Virupa

Oleh Lama Choedak Yuthok, Sakya Losal Choe Dzong, Canberra, Australia.


Ekstrak: Setelah menyelesaikan studinya di sana, ia pergi menuju Nalanda di mana Dharma telah berdiri dengan kokoh.
Di sana ia menerima pentahbisan sebagai Bhiksu dari kepala biara, Dharmamitra, yang juga dikenal sebagai Jayadeva, dari Universitas Nalanda.
Ia kemudian diberi nama Shri Dharmapala 护法.
Ia melanjutkan studinya di bawah bimbingan sang kepala biara yang sangat senang dengannya dan memberinya banyak ajaran privat mengenai sadhana-sadhana umum Vajrayana 金刚乘 dan khususnya Tantra Chakrasamvara 胜乐金刚.

Sang kepala biara meninggalkan berbagai instruksi di dalam surat wasiatnya bahwa Shri Dharmapala nantinya akan diangkat sebagai penggantinya, dan meminta kepada para petugas biara untuk memberikan respek yang setara dan menghormati penggantinya karena Dharmapala ditunjuk sebagai kepala biara Nalanda.
Ia mengawasi upacara pemakaman agung sang pendahulunya dan mengatur supaya seluruh jasad sang kepala biara ditransformasikan menjadi relik yang ia kemudian bagikan secara seksama kepada berbagai raja, donatur, dan bhiksu.

Dharmapala melatih Chakrasamvara dengan tekun setiap malam sesuai dengan instruksi rahasia yang diterimanya dari sang kepala biara.
Hari-harinya dibaktikannya untuk mengajar dan komposisi.
Meski ia juga mengajarkan baik naskah Theravada maupun Mahayana, ia membaktikan sebagian besar waktu dan energinya kepada sadhana esoterik Vajrayana. Ia terus melatih Chakrasamvara dengan sepenuh hati dari tahun ke tahun.

Namun, di umurnya yang ke-70, meski telah bertahun-tahun sangat setia bersadhana, Dharmapala masih belum mengalami tanda-tanda pencapaian spiritual.

Ia juga harus berjuang melawan penyakit-penyakit lamanya yang menjangkiti tubuh dan pikirannya.
Ia menjadi sedih dan takut oleh gangguan yang selalu dilancarkan oleh para Yaksha dan roh jahat.
Menambah keputusasaan dan frustrasinya, ia juga terus mendapatkan mimpi yang sangat menakutkan.
Di salah satu mimpinya, ia melihat api besar membakar di bagian bawah sebuah lembah, dan banjir muncul dari bagian atasnya.
Ia melihat badai salju, gletser, formasi tetesan es dan gunung es jatuh dari langit.
Ia melihat Guru, Yidam, dan para kalyanamitra-nya tergantung terbalik, atau dengan wajahnya terkoyak, hidungnya terpotong, matanya tercungkil keluar dan meneteskan darah.
Tak heran Dharmapala menginterpretasikan mimpi-mimpi tersebut sebagai pertanda buruk.
Ia menyimpulkan bahwa ia pasti kurang jodoh karma untuk mendapatkan realisasi melalui jalur Vajrayana di kehidupannya kali itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan sadhana Vajrayana-nya sepenuhnya.

Kemudian, pada hari ke-22 bulan imlek ke-4, malam harinya ia menghentikan sadhana Yidam Yoga-nya, dan melempar japamala-nya ke dalam jamban.
Mimpi-mimpi tersebut sebenarnya adalah indikasi bahwa Dharmapala hampir mencapai realisasi spiritual yang besar melalui sadhana Tantra-nya.
Namun ia tak punya cara untuk mengetahuinya di saat itu, sehingga salah kaprah membaca berbagai pertanda yang muncul.
Ia tak sadar bahwa ia telah menyempurnakan Jalur Akumulasi (Sambhara-marga), Jalur Persiapan (Prayoga-marga) dan hampir mencapai Jalur Melihat (Darsana-marga).

Di saat itu energi vital dan pikirannya telah melebur di dalam bija aksara Ksa dan Ma di bawah Chakra Pusar.
Hal ini menciptakan simbolisme yang tampak menyeramkan di dalam mimpi-mimpinya.
Ia gagal mengenali tanda-tanda yang sedang terjadi kepadanya karena kepala biaranya telah meninggal dunia sebelum sempat mentransmisikan instruksi inti secara lengkap.
Sebenarnya hal tersebut akan mampu menjelaskan perubahan drastis yang terjadi di dalam aliran energi halus di dalam tubuh psikisnya (batin) dan menjernihkan pengalaman mimpinya.

Shri Dharmapala mulai dari saat itu memutuskan untuk membaktikan seluruh waktunya untuk mengajar, menulis dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya bagi komunitas Sangha; tak lagi menghabiskan berjam-jam waktunya dalam sehari untuk melatih meditasi Yidam Yoga.
Namun, di malam yang sama, ia bermimpi Dewi Nairatmya 无我母 (Nairātmyā atau Dagmema adalah seorang buddha wanita, pendamping Hevajra 喜金刚 di dalam tantra Hevajra. Namanya berarti “wanita tanpa ego”) muncul di hadapannya dalam wujud wanita cantik bertubuh biru mengenakan kain sutra surgawi, dan demikianlah beliau berkata:

“Oh putra yang mulia, sungguhlah tak baik kamu bertindak seperti ini, di mana kamu sudah hampir mencapai Siddhi. Meski semua Buddha memiliki welas asih yang tak membeda-bedakan, Aku-lah sang dewata yang punya jodoh karma yang paling erat denganmu dan aku akan memberkatimu supaya mendapatkan Siddhi dengan cepat. Pergilah dan ambillah kembali japamala-mu, cucilah dengan air wangi, bertobatlah atas segala kesalahanmu dan kembalilah bersadhana dengan baik.”

Beliau kemudian menghilang.

Dharmapala terbangun dari tidurnya dengan perasaan campur aduk antara menyesal dan bahagia.
Ia mengikuti instruksi tersebut, kembali bersadhana di pagi hari tersebut. Dan kemudian Mandala aspek Nirmanakaya Lima Belas Dewi Nairatmya muncul di hadapannya dan memberinya empat inisiasi dengan lengkap.
Demikianlah ia mencapai Jalur Melihat dari Bhumi Pertama.
Barulah sekarang ia menyadari arti sebenarnya dari mimpi-mimpinya.

Mimpi-mimpi kasar dan penampakan para Yaksa merupakan manifestasi interdependen dari pikiran dan energi vitalnya yang melebur ke dalam bija Ksa dan Ma di bawah Chakra Pusar.
Ini disebabkan oleh simpul-simpul nadi yang sedang melepaskan diri, yang menyebabkan Peleburan Pertama Elemen-elemen dan pertanda energi vital Candali mulai memanas.


{Tummo (Bhs. Tibet: gtum-mo, Bhs. Sansekerta: caṇḍālī) adalah salah satu bentuk pernafasan, yang bisa ditemukan di dalam ajaran Enam Yoga Naropa, Lamdre, Kalachakra dan Anuyoga dari Vajrayana Tibet.
Tummo berasal dari tradisi Vajrayana India, meliputi instruksi dari Mahasiddha Krishnacarya dan Tantra Hevajra.
Tujuan dari tummo adalah untuk mengendalikan proses di dalam tubuh ini saat berada di tahap penyelesaian “Tantra Yoga Tertinggi” (Tantra Anuttarayoga) atau Anuyoga.
}

Berbagai pengalaman di luar kebiasaan yang muncul di dalam pikiran konseptualnya adalah hasil dari proses adaptasi ulang antara nadi dan pikirannya.
Sebagai sebuah tanda peralihan Peleburan Elemen-elemen, api Candali membakar ke atas dan menyebabkan nektar Bodhicitta mengalir ke atas.
Manifestasi interdependen berbagai peristiwa internal seperti ini akan dialami secara konseptual oleh seorang Yogi sebagai api yang membakar dari bawah lembah dan banjir yang datang dari bagian atas lembah.
Sirkulasi yang kuat dari tetesan-tetesan halus di dalam nadi-nadi kecil juga tercerminkan di dalam mimpi dengan adanya badai salju, dan gunung-gunung es yang jatuh dari langit.

Peleburan yang Ke-3 dan Terakhir dari Elemen-elemen menampilkan wajah telanjang dari kebijaksanaan transendental yang mulus sempurna.

Efeknya adalah menghancurkan segala kemelekatan atas berbagai penampilan rupa fana.
这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

Manifestasi interdependen ini tercerminkan di dalam mimpi-mimpinya dalam bentuk wajah-wajah Guru dan Yidamnya yang terkoyak.
Ia mulai menyadari bahwa semua pertanda tersebut merupakan pengalaman meditatif yang berhubungan dengan 3 peleburan elemen-elemen halus yang berurutan di dalam tubuhnya.

Dengan kemunculan dan bimbingan dari Vajranairatmya yang tepat waktu, Shri Dharmapala akhirnya mencapai penyadaran.
Mulai dari saat itu, setiap harinya ia mencapai Bhumi yang lebih tinggi, hingga pada pagi hari di hari ke-29 di bulan yang sama ia mencapai Bhumi ke-6.
Ia kini menjadi seorang Bodhisattva agung yang berdiam di dalam Bhumi ke-6.

Bukti penerimaan empat inisiasi lengkap mengkonfirmasi bahwa aliran abhiseka selalu mengalir tiada henti. 认证了传承加持并没有中断过
Pencapaian Bhumi ke-6 merupakan peneguhan bahwa silsilah pemberkatan tidaklah terputus.
Kegagalannya dalam mengenali berbagai tanda pencapaian sebelumnya dan kesalahannya dalam mengartikan tanda-tanda tersebut sebagai pertanda buruk menegaskan bahwa saat itu ia belum mendapatkan instruksi intisari tertentu.
Hal ini memampukannya untuk menyadari bahwa urutan instruksi yang diterimanya tidaklah salah.

Karena itu, pengabdian Dharmapala kepada ajaran terpulihkan dan menjadi berlipat ganda.
Ia menjadi yakin bahwa ia pasti akan mencapai realisasi Pencerahan Sempurna, seperti yang dicapai oleh Sang Buddha.
Dengan cara ini ia diberkati dengan Empat Silsilah yang Dibisikkan, yang kemudian dikenal sebagai “Instruksi dari Empat Silsilah yang Dibisikkan”.

~~~~~~~~~~~~~~~

Teman-temanku yang terkasih,
Kuharap kalian menyukai artikel di atas! :)

Aku juga telah menandai dan menerjemahkan beberapa kalimat di sana!

Apakah kamu menyadari bahwa kamu perlu:
  1. Mengikuti instruksi Guru Akarmu dengan ketat?
  2. Berlatih dengan tekun dan teratur, atau setiap hari?
  3. Bahkan dengan berkat dari dewata seperti Nairatmya 无我母, kamu masih harus berusaha sendiri?
  4. Merealisasikan Kebenaran – meneguhkan bahwa aliran abhiseka tak pernah berhenti 认证了传承加持并没有中断过.
  5. Memahami: Peleburan yang Ke-3 dan Terakhir dari Elemen-elemen menampilkan wajah telanjang dari kebijaksanaan transendental yang mulus sempurna.
    Efeknya adalah menghancurkan segala kemelekatan atas berbagai penampilan rupa fana.
    这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

~~~~~~~~~~~

Ingatlah bahwa yang paling kamu butuhkan dari semuanya adalah Seorang Yogi Sejati sebagai seorang guru,
Ajaran dan bimbingannya, terutama Instruksi-instruksi Intisari,
Dan Iman yang Teguh digabung dengan Ketekunan dalam sadhana harian!

TENTU SAJA kamu harus ingat bahwa “Tak ada Jalan Pintas”!

Virupa saat itu berumur 70 tahun saat ia mencapai Siddhi! :)


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Tuesday, June 7, 2016

7-5-2016 Mahasiddha Virupa 畢哇巴


Terjemahan Indonesia: Biografi Mahasiddha Virupa

 

【道果本頌金剛句偈疏】作者是畢哇巴,原來本身的道果不是一篇文章,是一句一句的,九個字或七個字。其實不長,只是薄薄幾張紙,但每一句話的含義非常的多,所以才變成那一大本的道果。

GM Lu shared part of Virupa's (Author of Lamdre) early life in the above session. The original Lamdre is not pages of written articles but sentences with 9 or 7 words. Thus the Lamdre is not long and covered only a few thin sheets of paper, BUT each sentence contained various deep meaning, thus become a book on Lamdre.

~~~~~~~~~~~~~~

The following contained part of what GM Lu shared. 
Read and enjoy!
Also do pay attention to keys shared!

~~~~~~~~~~~~~~~~

I did some research and discovered the wondrous accounting of Virupa's life and extracted to share as follows:
 
Mahasiddha Virupa and Arya Tara by Samudra Man Singh Shrestha
 
Grateful thanks to Lama Choedak Yuthok for this sharing!

The Life of Mahasiddha Virupa

By Lama Choedak Yuthok, Sakya Losal Choe Dzong, Canberra, Australia.

Extract: Having concluded his studies there, he left for Nalanda where the Dharma was firmly established.
There he received Bhikhu ordination from the abbot Dharmamitra alsoknown as Jayadeva of Nalanda University.
He was give the name Shri Dharmapala 护法.
He continued his study under the tutorship of his abbot who was very pleased with him and gave him many private teachings on Vajrayana 金刚乘 practices in general and on Chakrasamvara 胜乐金刚 Tantra in particular.

The abbot left instructions in his will that Shri Dharmapala should beappointed his successor, and asked the monastic officials to show equal respect and honour to his successor as they had Dharmapala was accordingly appointed abbot of Nalanda.
He supervised his predecessor's grand funeral ceremony and arranged to havethe entire remains of the abbot transformed into relics which he carefully distributed amongst the various kings, patrons and monks.

Dharmapala practised Chakrasamvara diligently every night according to the secret instructions he had received from his abbot.
His days were devoted to teaching and composition.
Although he gave teachings on both Theravadin and Mahayana texts, he devoted most of his own time and energy to the esoteric practices of Vajrayana. He continued to practice Chakrasamvara wholeheartedly year after year.

However, at the age of seventy despite so many years of faithful practice, Dharmapala was yet to experience any signs of spiritual attainment.

He also had to contend with all his old diseases which plagued his body and his mind.
He was saddened and frightened by the constant harm caused by Yakshas and evil-spirits.
To add to his general state of discouragement and frustration, he had been having the most frightful nightmares.
In one of these dreams he saw huge a fire burning at the lower end of a vallery and a flood rising from the upper end.
He saw hail-storms, glaciers, icicles and icebergs failing from the sky.
He saw his Guru, Yidam and spiritual friends hanging upside down, or with their faces torn apart, noses cut-off, eyes gouged out and dripping with blood.
Not surprisingly, Dharmapala interpreted these dreams as bad omens.
He concluded that he must lack the karmic connection to attain realization through the path of Vajrayana in that lifetime.
He decided to give up his Vajrayana practices completely.

Accordingly, on the night of the 22nd day of the four lunar month he relinquished his practice of Deity Yoga, and threw his prayer beads into the latrine.
These dreams were actually indications that Dharmapala was about to achieve a major spiritual realization through his Tantric practices.
But he had no way of knowing this at the time, so he completely misread the signs.
He was unaware that he had already perfected the Path of Accumulation, the Path of Preparation and was about to attain the Path of Seeing.

At that time his vital energy and his mind had merged in the ksa and ma syllables
below the Navel Cakra.

This had caused the symbolism which appeared so terrifying in his dreams.
He failed to recognise the signs of what was happening to him because his abbot had died before imparting the complete pith instructions.
These would have explained the drastic changes occurring in the subtle energy flows within his psychic body and clarified the dream experience.
Shri Dharmapala decided that from then on he would devote his entire time to teaching, writing and other duties for the Sangha (monastic community) instead of spending many hours a day on Deity Yoga meditation practice.
However, on that very night he dreamed that the Goddess Nairatmya 无我母 (Nairātmyā or Dagmema is a female buddha, the consort of Hevajra 喜金刚in the Hevajra-tantra. The name means "ego-less woman") appeared before him in the form of a beautiful blue woman wearing heavenly silk garments, and spoke to him thus:

"O noble son, it is not good that you should behave in this manner when you are about to attain the Siddhi. Although all the Buddhas have non-discriminatory compassion, I am the deity with whom you have strong Karmic affinity and I shall bless you to quickly attain Siddhi. Go and retrieve your prayer beads, wash them with scented water, confess your misdeeds and resume your practice properly."

Then she disappeared.

Dharmapala awoke feeling a mixture of regret and joy.
He followed her instructions, resuming his practice early that morning. Subsequently the Mandala of the Nirmanakaya aspect of the Fifteen Goddess of Nairatmya appeared before him and gave him the four complete initiations.
He thereupon attained the Path of Seeing of the First Bhumi.
He now realised the true significance of his dreams.
The rough dreams and visions of Yaksas were the interdependent manifestations of his mind and vital energies merging into the ksa and ma syllables below the navel Cakra.
This was caused by the untying the vein knots which brought about the First Merging of Elements and signs of the vital energies of Candali heat.

<Tummo (Tibetan: gtum-mo; Sanskrit: caṇḍālī) is a form of breathing, found in the Six Yogas of Naropa, Lamdre, Kalachakra and Anuyoga teachings of Tibetan Vajrayana
Tummo originally derives from Indian Vajrayana tradition, including the instruction of the Mahasiddha Krishnacarya and the Hevajra Tantra
The purpose of tummo is to gain control over body processes during the completion stage of 'highest yoga tantra' (Anuttarayoga Tantra) or Anuyoga.>

The unconventional experiences which appeared to his conceptual mind resulted from the re-adaptation process between the veins and the mind.
As a sign of the intermediate Merging of Elements the Candali fire blazes upward and causes the Bodhicitta nectar to flow upward.
Such an interdependent manifestation of internal events would be experienced conceptually by the Yogi as a blazing fire from the bottom of the valley and a flood coming from the upper part of the valley.
The forceful circulation of subtle droplets in many minor veins was reflected in the dreams about hail-storms, and the icebergs falling from the sky.

The Third and Final Merging of the Elements revealed the bare face of flawless transcendental wisdom.

This has the effect of dissolving all attachment to ordinary appearances.

这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

These interdependent manifestations were reflected in his dreams as the torn faces of his Guru and Yidams.
He came to realise that all those signs had been direct meditative experiences related to the three sequential mergings of the subtle elements within his body.

Through the timely appearance and guidance of Vajranairatmya, Shri Dharmapala had finally attained realization.
From then on, he reached a higher Bhumi each day until in the early morning of the 29th of the same month he attained the Sixth Bhumi.
He was now a great Bodhisattva dwelling on the Sixth Bhumi. 

His receipt of the four complete initiations confirmed that the continuous flow of the empowerment had not ceased. 认证了传承加持并没有中断过。
The attainment of the six Bhumis was confirmation that the lineage of the blessings was unbroken.
His failure to recognise previous signs of attainment and his misinterpretation of these signs as bad omens confirmed that he had not received certain pith instructions.
This enabled him to realise that the order of the instructions was not wrong

In consequence, Dharmapala's devotion to the teachings was restored and redoubled.
He became confident that he would definitely attain the realization of a Fully
Enlightened One, as did the Buddha.
In this way he was blessed with the Four Whispered Lineages, which came to be known as the 'Instruction of the Four Whispered Lineages'.

~~~~~~~~~~~~~~~

Dear all,
I hope you like the above sharing! :)

I have marked or translated some texts too!

Have you discovered that you need to:
  1. Follow your Root Guru's instructions strictly and closely?
  2. Practice with diligence and regularly or daily?
  3. Even with Blessing from the divine like Nairatmya 无我母, you need to put in your own efforts?
  4. Realised the Truth - confirmed that the continuous flow of the empowerment had not ceased. 认证了传承加持并没有中断过
  5. Comprehend : The Third and Final Merging of the Elements revealed the bare face of flawless transcendental wisdom.
    This has the effect of dissolving all attachment to ordinary appearances.
    这有融化所有对于一般显示相的执着功效。

~~~~~~~~~~~

Remember that what you need most of all is 
A True Yogi as a guru, 
His teachings and guidances, especially on Pith Instructions, 
and Steadfast Faith coupled with Diligence in daily cultivation!

AND, do remember, No Short Cut!

Virupa was 70 years old when he attained Siddhi! :)


Cheers all.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, June 4, 2016

Perubahan yang Aneh



Ditulis oleh Lotuschef – 2 Juni 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 怪异变化 Weird Transformation



Di dalam Tantrayana, melatih sadhana ada kemungkinan malah menjadi “aneh” atau “sakit jiwa”.
Hahaha!
Aku tidak guyon loh!

Kamu ingatkah 10 Tahap Pengembangan Pikiran oleh Kobo Daishi? Aku pernah membagikannya di dalam blog ini.
Mahaguru Lu juga mengajarkan hal yang sama!

Kamu ingatkah Mahaguru Lu pernah menulis tentang Membaca Tengkorak?
Dan aku juga menulis tentang Membaca Tulang?
YA!
Tak hanya Membaca Aura saja, namun juga tulang!

Artikel ini merupakan pengingat di saat yang tepat untuk melakukan Evaluasi Diri yang Sejujur-jujurnya!

Mulailah dari Wajahmu!
Fotolah dirimu sekarang ini!
Dan bandingkan dengan foto kira-kira 5 hingga 10 tahun yang lalu.

Sekarang: tiliklah seluruh tubuhmu!
Lihatlah bentuk badanmu dari paling atas hingga ke ujung kaki.
Kamu lihat ada yang berbeda?
Apakah bobot badanmu bertambah mungkin di sekitar perut dan pinggulmu?

Kemudian: Apakah kiranya tulang punggungmu bengkok?
Seperti orang bongkok?

Lalu: Jari-jarimu!
Apakah mereka kaku dan bengok, serta tak bisa diluruskan?

Lanjutkan dengan: tangan-bahu, pinggul-tubuh bagian bawah, sendi-sendinya masih fleksibel?
Bisakah kamu memutar sendi-sendi tangan-bahumu dengan mudah dan tanpa rasa sakit?
Bisakah juga kamu melenturkan/merenggangkan tubuh bagian bawahmu dan menekuk lututmu dengan mudah tanpa merasa sakit ataupun kaku?

Hahaha!

Maka kini, dengan menggunakan data Mahaguru Lu sebagai Konstanta-nya, bandingkanlah!

Wajah: Apakah sekarang kamu tampak semakin muda daripada sebelumnya?
Apakah kamu bersinar dan memancarkan kehangatan dan kegembiraan?
Ataukah kamu malah menjadi kelihatan tua dan lelah sampai-sampai sebuah senyuman juga tak bisa membuat wajahmu nampak gembira?
KEDUA MATAMU kelihatan lelah oleh berbagai persoalan dunia ini? Dan kelihatan kalau beban masalahmu bertambah dan kamu mengunci dirimu sendiri ke dalam berbagai kebutuhan duniawi?!

Bentuk Tubuh: Aku telah melihat banyak master pria yang menjadi gemuk, bentuk badannya menjadi seperti wanita, bertingkah seperti wanita, dan bahkan bicara dan gerak-geriknya juga seperti wanita!

Oleh karenanya lakukanlah sisa evaluasi lainnya dengan menggunakan kata-kata Mahaguru Lu sebagai panduanmu!
Kalau kamu tak ingat apapun, ini adalah saatnya bagimu untuk benar-benar memahami apa itu seorang Guru Akar, dan MENGAPA kamu memilih untuk bersarana kepada-Nya!

Lamdre, yang baru mulai dibabarkan oleh Mahaguru Lu, memberimu kesempatan baru untuk memahami Pelatihan Buddha Dharma dari Titik Awal!

Jangan lewatkan kesempatan besar ini untuk belajar dan menyelamatkan dirimu sendiri!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Friday, June 3, 2016

如何学放下 How to Learn to Let Go?



Terjemahan Indonesia: Bagaimana Cara Belajar Merelakan?


From Mindfulness – Contemplation of Form [1]:

Extract:

[--- in the same way, the monk reflects on this very body from the soles of the feet on up, from the crown of the head on down, surrounded by skin and full of various kinds of unclean things:

'In this body there are head hairs, body hairs, nails, teeth, skin, flesh, tendons, bones, bone marrow, kidneys, heart, liver, pleura, spleen, lungs, large intestines, small intestines, gorge, feces, bile, phlegm, pus, blood, sweat, fat, tears, skin-oil, saliva, mucus, fluid in the joints, urine.'

And as he remains thus heedful, ardent, & resolute, any memories & resolves related to the household life are abandoned, and with their abandoning his mind gathers & settles inwardly, grows unified & centered.

This is how a monk develops mindfulness immersed in the body. ---]
    Extract:

[--- From this I realized that no matter how beautiful a person may be while alive,
no matter how attractive or how exquisite she is, so that the more you think about her the more enticing she becomes, nevertheless, once she dies, she will swell up just as grotesquely as anyone else.
She'll get just as green and mottled, and her flesh will break open.
Could you love her then?

Then the blood and filth oozes out, and the corpse starts to stink.
Dogs like it at this stage, but people stay far away from it.

Then the pus and rot forms.
Just thinking about it makes you want to vomit!

It would be impossible to kiss her by this time.
Then the worms grow: big ones and little ones.
The flies and blue-flies come in swarms.
They draw near to her and at that point you wouldn't even get jealous.

The flesh scatters and the bare bones are all that remain.
Then it's burned and the entire thing disappears.

Tell me, where has that beautiful person gone?

Through this contemplation he grew to loathe forms, and came to understand that the nature of all form is unclean.
---]

~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Yes! 
Transformation!
In the process, you will realised the Impermanence of All Forms!

AND, you need to practice to Perfect this "Skill" in order to reach Enlightenment! :)

In Lamdre, one of the 3 Visions is the Vision of Experiences!

Therefore, you need to put in regularly and diligent efforts to advance in the Cultivation ladder!

No one can do it for you, but a Good and Experienced or Enlightened Guru can guide you along.

THINK: Do you need anyone that dictates to you or force you to Obey & Execute or act out their "vengeances"?
Hahaha!

Wake Up!

Realised now why I always advise you to "Listen only to your One & Only Root Guru"?

I am not putting anyone out of "Business", But just telling you the Truth As It Is, if you want to move along the Bodhi Path!


Cheers all.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef


Thursday, June 2, 2016

怪异变化 Weird Transformation


Terjemahan Indonesia: Perubahan yang Aneh


In Tantrayana, cultivation can go "weird" or "haywire"!
Hahaha!
Not kidding!

Remember the 10 Stages of Mind Development by Kobo Dashi, that I shared in this blog?
As well as GM Lu's sharing of the same!

Remember GM Lu's article about Reading Skulls?
And Mine about Bone-reading?
YES!
Not only Aura-reading, but bones too!

Now, this is a timely reminder to do an Honest Evaluation of Yourself!

Lets start with you Face!
Take a photo of yourself now!
Compare it with those from say past 5 to 10 years.

Now: the whole body!
Look at your own form from top to toe then.
What do you see that is different?
Have you put on weight say around your abdomen and your hips?

Next: Is you spine somehow bent?
Like you have a hunch back?

Now: Your fingers!
Are they stiff and bent and can't be straightened?

Next: Are your arm-shoulder, hip-lower limb, joints still flexible?
Can you rotate your arm-shoulder joints with ease and no pain?
Can you also flex your lower limbs and bend your knees easily without any pain or stiffness?

Hahaha!

Now, using GM Lu's data as a Constant, compare!

Face: do you look younger now then before?
Do you have a shine and project a welcoming warmth and cheer?
Have you aged so much and looks so exhausted that even a smile don't cheer up your own face?
YOUR EYES are so world-weary that you showed you have put on more worldly burdens and locked yourself down with too much sentient material needs!

Body Shape: I have seen many male masters become plump and womanly in shape and behave like females, and even talk and gesture like females!

Do the rest of the evaluation with GM Lu's words as your guide!
If you can't remember any, then its time you truly understand what A Root Guru means and WHY you choose one to take refuge with!

Lamdre that GM Lu has just started to share, gives you yet another opportunity to understand Cultivation of Buddha Dharma From the Start!

Don't miss this great opportunity to learn and succour yourself!


Cheers all.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef