Showing posts with label Phowa. Show all posts
Showing posts with label Phowa. Show all posts

Wednesday, December 10, 2014

Milarepa & Marpa


Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 21 November 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 密勒日巴与马尔巴 Milarepa & Marpa


Mengutip dari: Karma Kagyu > Lineage History > Milarepa

Jetsun Milarepa

Ekstrak:

Milarepa menimpali: “Terima kasih atas berkat dari para Buddha, Bodhisattva, Lama Guru-ku dan istrinya, sehingga aku bisa mendapatkan secercah pengalaman, secercah realisasi.
Dengan tubuh yang telah matang seutuhnya ini, rupa fisikku ini, memang memungkinkan untuk mencapai Kebuddhaan.
Tubuh ini adalah perahu yang akan menyeberangkanku melewati Samsara menuju Kebuddhaan.
Namun, juga memungkinkan di mana aku bisa menggunakan tubuh ini untuk menumpuk karma buruk, dan nantinya terlahir kembali ke neraka.
Di sini ada sebuah pilihan.
Aku bisa mengarahkan pikiranku ke aktivitas yang positif dan mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan, atau aku bisa mengarahkannya ke aktivitas yang negatif dan menuju ke neraka.

Supaya mampu menyeberangi samudra samsara yang menakutkan ini, perlindungan satu-satunya adalah Buddha, Dharma, dan Sangha.
Aku berlindung (bersarana) kepada mereka.
Di antara ketiga aspek tersebut, yang terutama adalah Lama Guru.
Perlindungan akan datang lewat samaya dan iman kepada Lama Guru.

Juga ada empat pikiran yang membuka benak:
Kelahiran sebagai manusia yang sungguh berharga,
Ketidakkekalan,
Sebab dan akibat dari karma,
Dan tiada yang sempurna di samsara ini.

Merenungkan hal tersebut maka pikiran kita akan berpaling dari samsara.

Lalu kita membangkitkan bodhicitta, pikiran yang diarahkan kepada pencerahan, melatihnya dan melimpahkan semua pahala kemuliaannya demi memberi manfaat bagi semua insan.


Dengan cara ini, kita memasuki jalan Mahayana.”

(Milarepa masih menyambung pembicaraannya, tapi di atas adalah ringkasan pendek dari yang dibahasnya.)


Marpa Chokyi Lodro

Di dalam tradisi Tibet, setelah seseorang menerima pengenalan sifat sejati pikiran, atau beberapa instruksi dari seorang Lama Guru dan melatihnya, ia mempersembahkan pengalaman realisasinya kepada Sang Lama.

Apapun yang terjadi di dalam pelatihannya, sebagaimana adanya, tidak dilebih-lebihkan atau ada yang terlupakan, ia akan menceritakannya kepada Sang Lama, bukan kepada orang lain.

Marpa sangat bersukacita akan cerita Milarepa berikut:
“Ini sungguh mulia. Kamu adalah seorang murid yang tangguh dan punya hubungan karma. Dan di masa mendatang,”

Marpa mengatakan, “Aku akan memberikan semua instruksi oral secara progresif, dan kamu harus mengabdikan seluruh jiwamu ke dalam sadhana-sadhana tersebut.”

Setelah merayakan keluarnya Milarepa dari tempat retret, Marpa memberinya lebih banyak instruksi secara privat untuk praktik meditasi selanjutnya.

Namun, belum lama setelah retret selanjutnya, seorang dakini berkulit biru dengan rambut, alis, dan bulu mata berwarna keemasan muncul di dalam mimpi Milarepa.

Ia mengatakan kepadanya, “Sungguh bagus kamu melatih Enam Yoga Naropa.
Tapi, ada satu ajaran yang belum didapatkan.
Ia dinamakan ‘Pencapaian Pencerahan Seketika.’

Ia semacam sadhana phowa yang memampukanmu untuk mengirimkan kesadaranmu ke tubuh lain setelah kamu meninggal dunia. Kamu harus meminta ajaran ini.”

Setelah memberikan saran tersebut, sang dakini menghilang.
Milarepa mendobrak dinding guanya dan pergi menemui Marpa. Marpa juga kaget saat melihatnya. “Loh, aku baru saja menyuruhmu memasuki retret, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa keluar secepat itu? Bukankah ini rintangan dalam sadhanamu?”

Milarepa menjelaskan kepadanya kalau seorang dakini menampakkan diri kepadanya dan memberitahunya bahwa sadhana phowa tersebut belum diterima dan ia diminta untuk memohon ajaran tersebut.

“Penampakan tersebut nyata atau tidak? Apakah merupakan rintangan atau bukan? Beritahulah aku,” ia bertanya.

Marpa menimpalinya, “Ini adalah nubuat sejati dari seorang dakini. Saat aku sedang bersama Naropa, beliau memang menceritakan sadhana phowa sejenis itu, tapi aku tak ingat apakah aku sudah menerima ajaran itu atau belum.”

Jadi mereka berdua mengeluarkan semua naskah yang telah Marpa bawa kembali dari India, dan menghabiskan berhari-hari mencari ajaran tersebut, tapi tetap tak bisa menemukannya.
Jadi Marpa kembali melakukan perjalanan yang berat ke India untuk bertemu dengan Naropa.


Marpa tak menemukannya di tempat biasanya ia berada, berhubung Naropa telah menjadi siddha dengan realisasi dan ia berpergian dengan leluasa. Namun ia berhasil menemukannya setelah mencari-carinya sekian lama, dan bersama dengan Naropa mereka pergi menuju Pullahari, di Utara Bodh Gaya, di mana Naropa punya lokasi untuk melakukan retret.

Di sanalah Marpa memohon Naropa untuk instruksi phowa.

Naropa bertanya: “Ini datang dari kamu sendiri? Apakah kamu ingin menerimanya, atau ini petunjuk dari seorang yidam yang memberitahumu untuk memohon?”

Dan Marpa mengatakan, “Bukan, ini bukan dariku. Aku tak menerimanya dari seorang yidam. Ini muridku Si Berita Baik.”

Naropa kemudian menangkupkan kedua telapan tangannya, dan membungkuk memberi hormat dengan menghadap arah Tibet, ia menjapakan empat baris sajak yang terkenal berikut:

“Di Utara di mana kabut kegelapan sangat tebal, bagaikan matahari yang cahayanya berkilau-kilau di atas salju, ada seseorang yang dinamakan Berita Baik; dan kepadanyalah aku membungkuk memberi hormatku.”

Dan dikatakan bahwa di Pullahari, semua pohon di sekitar area gubuk retret Naropa juga masih membungkuk ke arah Tibet.

Naropa menganugerahi Marpa dengan banyak ajaran lainnya, termasuk Silsilah Yang Dibisikkan oleh Para Dakini.

Ia meramalkan bahwa di masa mendatang, silsilah dharma Marpa akan menjadi penguasa dari sadhana ini, dan para keturunan dharma-nya akan meneruskan silsilahnya dan melatihnya dengan baik.

Setelah Naropa selesai menganugerahi semua ajaran tersebut, Marpa keluar dari gubuk retret tersebut, dan ia kembali membungkuk memberi hormat kepada Naropa. (Itu adalah kali terakhir ia berjumpa dengan Naropa.)
Saat Marpa sedang membungkuk memberi hormat, ia meninggalkan jejak kaki di atas batu yang hingga sekarang masih terlihat.

~~~~~~~~~~~~

Dalam kutipan di atas, kamu bisa menemukan banyak konsep atau kunci yang sudah sering diajarkan oleh Mahaguru Lu.

Hahaha!

Anggap saja sebagai sebuah tugas, dan kamu bisa kirimkan email kepadaku berisikan kunci-kunci utama yang kamu temukan, dan akan lebih baik lagi bila kamu menambahkan penjelasan untuk menunjukkan pemahamanmu akan kiat-kiat tersebut!

Aku bantu kamu dengan menggaris bawahi beberapa bagian di atas.



Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:



Friday, November 21, 2014

密勒日巴与马尔巴 Milarepa & Marpa

Terjemahan Indonesia: Milarepa & Marpa
Quoted from: Karma Kagyu > Lineage History > Milarepa

Jetsun Milarepa

Extract:

Milarepa responded: "Thanks to the blessings of the Buddhas, the Bodhisattvas, my lama and his wife, I was able to attain a little bit of experience, a little bit of realization.
In this completely matured body, this physical form of mine, it is possible to reach Buddhahood. 
This body is a boat that will take me across samsara to Buddhahood. 
However, it's also possible that I can use this very body to accumulate negative karma, and this will lead to rebirth in the hell realms. 
There is a choice. 
I can turn my mind towards positive activity and achieve Buddhahood in one lifetime or I can turn my mind toward negative activity and go to the hell realm.

In order to cross over this fearsome ocean of samsara, the only protection is the Buddha, the Dharma and the Sangha. 
I go to them for refuge. 
Amongst these three, the most important is the lama. 
It is through faith and samaya with the lama that protection comes.

There are also the four thoughts that turn the mind: 
the precious human rebirth, 
impermanence, 
karmic cause and effect, 
and the imperfections of samsara. 

Meditating upon these turns one's mind away from samsara. 

Then one generates bodhicitta, the mind of awakening, practices and dedicates any virtue for the benefit of all sentient beings. 

In this way, one enters the Mahayana path." 

(Milarepa spoke further, but this is a brief summary of what he said.)


Marpa Chokyi Lodro

Within the Tibetan tradition, 
after one receives an introduction to the nature of the mind or some instruction from a lama and practices it, 
one offers to the lama one's experience of realization. 

Whatever happened during the practice, exactly as it happened, without exaggerating or without forgetting anything, one relates only to the lama, not anyone else. 

Marpa was extremely happy with Milarepa's account: 
"This is most excellent. You are truly a karmically connected, strong student. And in the future," 

Marpa said, "I will give you progressively all the oral instructions, and you must then give yourself fully to these practices." 

After celebrating Milarepa's emergence from the retreat, Marpa gave him more instructions in private for his next meditation practice. 

Not long into the next retreat, though, a blue dakini with golden hair, eyebrows, and eyelashes appeared to Milarepa in a dream . 

She said to him, "Practicing the Six Yogas of Naropa is very good. 
However, there is one teaching that has not been obtained. 
It's called 'The Instantaneous Attainment of Enlightenment.' 

It is a kind of powa practice enabling you to send your consciousness into another body after you die. You must go ask for this." 

Having given this advice, she disappeared. 
Milarepa then broke down the wall of his cave and went to Marpa, who was astounded to see him. "Well, I just put you in retreat, what are you doing here? Why did you come out so quickly? Isn't this an obstacle to your practice?"

Milarepa explained to him that a dakini had appeared to him and told him that this teaching of powa had not been received and that it should be asked for. 

"Was this appearance real or not? Was it a hindrance or not? Please tell me," he asked.

Marpa replied, "This is a true prophesy from a dakini. When I was with Naropa, he did speak of this kind of powa practice, but I really don't remember whether I have received the teachings or not." 

So they pulled out all the texts that Marpa had brought back from India, and spent days going through them looking for the teaching, but they could not find it. 
So Marpa again undertook the arduous journey to India to meet Naropa.


Marpa did not find him in his usual place, as Naropa had become a realized siddha, and moved freely. After a long search, he found him, and together they went to Pullahari, north of Bodh Gaya, where Naropa had a place of retreat. 

It was there that Marpa asked Naropa for the powa instructions. 

Naropa asked: "Is this something coming from you yourself? Did you want to receive this, or is this something that a yidam deity told you to request?" 

And Marpa said, "No, it isn't from me. I did not receive this from a yidam. It was my student Good News."

Naropa put his palms together and, bowing towards Tibet, he recited these famous four lines:

"In the thick darkness of the north, like the sun glistening on the snow, there is one called Good News; it is to this one that I bow." 

It is said that at Pullahari, all the trees around the retreat hut of Naropa remain bowing towards Tibet.

Naropa also gave Marpa many other teachings, including the Whispered Lineage of the Dakinis. 

He prophesied that, in the future, the Dharma lineage of Marpa would be masters of this practice, and that his Dharma descendants would maintain his lineage and practice it well. 

When Naropa had finished giving him these teachings, Marpa emerged from the hut, and once outside he bowed again to Naropa. (This was actually the last time he met him.)
As Marpa was making his bows, he left a footprint in the rock that is still visible.

~~~~~~~~~~~~

In the passages above, you can find lots of concepts or keys that were shared by GM Lu frequently.

Hahaha!

Treat it as an assignment and you can email Key-points that you have found and best to add your explanation showing your understanding of these Key-points!

I have helped you some by Underlining Texts.


Cheers all.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom

Tuesday, October 16, 2012

Mahamudra Membuka Ubun-ubun Kepala





Diambil dari buku Guru Sheng-yen Lu, No.51 
“Mahamudra & Yoga Tantra Tertinggi”, Bab 18
Dibagikan oleh Lama Lotuschef – 5 Agustus 2011
Terjemahan asli oleh Cheng Yew Chung, disunting oleh Dance Smith
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber:
Mahamudra of Opening the Crown


BAB 18 – Mahamudra Membuka Ubun-ubun Kepala

Nona You Suqing, seorang muridku yang tinggal di Kumamoto, Jepang, suatu kali bertanya kepadaku apa yang sebenarnya dimaksud dengan Phowa Yoga.
Aku menimpalinya dengan mengatakan bahwa Phowa Yoga adalah Yoga untuk Membuka Ubun-ubun Kepala, sebuah sadhana Tantra untuk mencapai keberhasilan lewat pemindahan kesadaran di mana ia dirubah menjadi dharmakaya, sambhogakaya, dan nirmanakaya.

Berikut adalah uraian lebih lanjut mengenai yoga tersebut:

Para praktisi tantra sering menganggap Phowa Yoga sebagai pintu dharma yang paling cepat, karena ia menunjukkan hasil yang paling cepat dan merupakan jalan paling langsung/utama untuk membuka ubun-ubun (chakra mahkota). Saat ubun-ubun telah terbuka, si praktisi pasti mencapai keberhasilan untuk terlahir kembali di Tanah Suci.
Keberhasilan melatih pintu dharma sangat bergantung pada fondasi spiritual si praktisi. Beberapa orang bisa melatih pembukaan ubun-ubun dan langsung berhasil dalam sehari saja.
Namun orang-orang lain perlu melatih selama 49 hari sebelum ubun-ubunnya terbuka. Inilah kenapa disebut sebagai “sangat bergantung pada fondasi spiritual masing-masing”.

Phowa Yoga adalah salah satu dari sadhana utama Kagyupa.

Beberapa orang berkomentar bahwa saat ubun-ubun telah terbuka, si praktisi bisa terlahir kembali di Tanah Suci Dewachen (Sukhawati) kapan saja.
Tentu saja, saat si praktisi terlahir kembali, ia akan meninggalkan tubuh fisiknya saat itu.
Otomatis umur si praktisi akan menjadi pendek.
Di sinilah mengapa orang yang melatih yoga ini umurnya tidak panjang.
Jadi para praktisi Tantra merasa bahwa pelatihan sadhana panjang umur Buddha Amitayus diperlukan saat ubun-ubun telah terbuka.

Namun aku merasa bahwa saat Phowa Yoga telah dikuasai, itu menunjukkan bahwa terlahir di Tanah Suci adalah sebuah jaminan/kepastian.
Lalu mengenai umur si praktisi yang menjadi pendek dengan melatih sadhana ini ataupun tidak adalah sama sekali tak relevan, karena hidup itu sendiri laksana lautan penderitaan dan pasti tak akan terlepas dari proses kelahiran, umur tua, sakit, dan mati.

Yang tampak sebagai kebahagiaan hidup malahan sebenarnya merupakan penderitaan.
Ada baiknya pulang sedini mungkin dan menyelesaikan hidup ini.
Oleh karenanya, karena Phowa Yoga bisa mengurangi umur si praktisinya, kenapa tak melatihnya?

Ada dua guru terakhir ini yang terkenal dengan sadhana Phowa-nya: Yang Mulia Sheng-lu (1871-1941) dan Yang Mulia Duga.

 
Berikut aku menjelaskan Phowa Yoga dengan lebih mendetil:

Duduklah dalam posisi Tujuh Titik Vairocana (tujuh postur pendukung).
Aturlah nafasmu sebanyak 21 kali dengan menyalakan Yoga Api Tummo.
 
Bacalah Doa Permohonan berikut:

Aku menghaturkan hormat kepadamu, Guru Vajradhara!
Lindungilah aku setelah sadhana Phowa telah berhasil dilatih!
Aku menghaturkan hormat kepadamu, Tilopa!
Bantulah aku melebur ke dalam sinarmu yang mulia,
Di mana semua dharma adalah suci nan unggul!
Aku menghaturkan hormat kepadamu, Marpa dan Milarepa!
Pancarkanlah cahayamu melalui Mahamudra!
Aku memberi hormat kepadamu, para guru pemegang silsilah!
Di atas ubun-ubunku engkau sekalian duduk di atas tahta-tahta teratai.
Imanku teguh nan kuat.
Semua guru melebur ke dalam lautan cahaya cemerlang.
Dalam alam dharma yang unggul engkau sekalian berada.
Aku berdoa semoga aku bisa mendapatkan dharma dan mencapai bodhi dengan cepat.
Aku hendak melatih sadhana Phowa dan melebur ke dalam Kekosongan
Sehingga aku bisa tinggal dengan penuh kedamaian di dalam alam buddha sejati.

Kemudian bayangkan Vajradhara duduk di atas ubun-ubunmu. Tubuhnya berwarna biru dan bermanifestasi dalam rupa sambhogakaya, dihiasi dengan pakaian Buddha dan ornamen-ornamen perhiasan yang berharga nan menakjubkan.
Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya, dengan tangan kanan di depan tangan kirinya, memegang sebuah vajra di tangan kanannya dan lonceng di tangan kirinya.
Para guru pemegang silsilah duduk di atas ubun-ubunmu, membentuk garis lurus dari bawah ke atas; mereka masing-masing berada di dalam lingkaran aura sinar pelangi.
Di garis silsilah paling bawah duduklah Vajra Guru Lian-sheng yang Bermahkota Merah nan Mulia, yang merupakan guru yang berada di dunia.

Kemudian bayangkan para guru berubah menjadi sinar pelangi.
Sinar ini melebur ke dalam tubuhmu, dan bersama-sama mereka semua membentuk sebuah tubuh vajra yang menakjubkan.
Bayangkan dirimu berubah menjadi tubuh yang kosong dan bersinar cemerlang, di mana yang terlihat hanyalah nadi tengah utama dengan bagian paling atasnya yang melebar – terbuka seperti terompet.
Bagian nadi tengah yang paling bawah akan menyempit dan ujungnya tertutup.
Di atas bagian terompet yang terbuka duduklah para guru pemegang silsilah, dengan Vajradhara sebagai Sang Guru Akar.
Nadi tengah utama-mu diatur sedemikian rupa menjadi garis lurus yang segaris dengan nadi tengah utama Sang Guru Akar Vajradhara, di mana jalurnya saling terhubung dan tampak jelas.
Ini artinya nadi tengah utama-mu terhubung dengan nadi tengah utama Vajradhara.

Setelah itu bayangkan di dalam hatimu muncul aksara HUM yang berwarna biru yang juga sama halnya muncul di dalam hati Vajradhara.
Saat kamu menghembuskan nafas, teriakkan suara ZEE dan bayangkan aksara HUM di dalam hatimu terbang ke atas melewati bukaan terompet dari nadi tengah utama-mu.
Teriakkan ZEE terus-menerus sebanyak 21 kali.
Dengan teriakan yang ke-21, aksara HUM akhirnya mencapai bagian paling atas dari bukaan terompet nadi tengah utama.
Lalu hembuskan nafas dan teriakkan suara GA sambil membayangkan aksara HUM turun pelan-pelan dari bukaan nadi tengah utama paling atas hingga akhirnya kembali ke lokasi semula di dalam hatimu dengan teriakan GA ke-21.

Begitulah, jadi kamu meneriakkan ZEE sebanyak 21 kali dan kemudian meneriakkan GA sebanyak 21 kali.

Saat kamu berteriak, kamu harus meregangkan kapasitas suaramu dan berteriak sekencang mungkin.
Ini maksudnya menggunakan suara untuk menggetarkan aksara HUM di dalam hatimu supaya ia bisa naik dan turun.

Kamu harus melatih Phowa Yoga ini sehari sekali.
Dengan menggunakan kekuatan dua aksara mantra dan kekuatan pikiran, serta duduk dalam postur Tujuh Titik Vairocana, kamu akan mencapai keberhasilan pembukaan ubun-ubun kepala.
Praktisi Phowa, saat hampir meninggal, menggerakkan aksara HUM di dalam hatinya supaya keluar dari nadi tengah utamanya, kemudian aksara tersebut memasuki aksara HUM di dalam Vajradhara, sehingga kedua aksara HUM melebur menjadi satu.

Dengan cara ini, hati si praktisi Tantra melebur dan menyatu dengan hati para guru pemegang silsilah, dan ini terlihat sebagai sinar cemerlang di dalam hati sendiri yang melebur ke dalam sinar cemerlang para guru pemegang silsilah.
Inilah keberhasilan sejati yang didapatkan dari Phowa Yoga.


Si praktisi harus memperhatikan poin-poin utama berikut saat melatih Phowa Yoga:

[1] Sadhana ini sangat mementingkan adanya kekuatan pemberkatan dari para guru.
Sang Vajra Guru adalah Vajradhara, yang merupakan inti dari semua guru.
Mantra hati HUM-nya, memancarkan cahaya lima kebijaksanaan, utamanya menampilkan sifat sejati vajra yang tiada tara dari semua buddha.
Kita harus menghormati dan dengan penuh ketulusan tulus dalam bersandar pada vajra guru kita, sehingga kita bisa mendapatkan pemberkatannya.
Oleh karenanya, kita tidak boleh melatih Phowa Yoga ini dengan seenaknya tanpa mendapatkan panduan yang diperlukan dari seorang guru.

[2]Meski sadhana ini terkesan sederhana, namun ia sesungguhnya sangat ampuh.
Ia adalah metode yang menakjubkan yang disarikan dari maha kesempurnaan guru yoga, dan akan membawamu pada alam kenyataan sejati.
Saat si praktisi mendapatkan respon spiritual dengan sadhana ini, energi prana yang naik ke chakra mahkotanya akan membentuk tonjolan seperti yang terlihat di rupang-rupang Buddha.
Ubun-ubun kadang akan mengalami memar sedikit, dan sedikit darah dan cairan akan keluar dari chakra mahkota.
Di masa lampau, mereka yang telah berhasil membuka chakra mahkotanya akan menancapkan sebatang rumput kusha ke dalam ubun-ubunnya sebagai bukti terbukanya ubun-ubun tersebut.

[3] Praktisi yang ubun-ubunnya telah terbuka akan menyadari bahwa saat kematian telah datang, inti jiwa spiritualnya akan keluar lewat ubun-ubun.
Jiwa si praktisi ini telah mencapai realisasi diri sehingga ia akan keluar dari tubuh fisiknya lewat chakra mahkota dan naik dari nadi tengah yang berfungsi seperti kawat pengantar yang terhubung ke ubun-ubun.
Sebelum kematian dan saat melakukan sadhana harian, si praktisi bisa membayangkan sinar dari para guru pemegang silsilah melebur ke dalam dirinya melalui ubun-ubun dan memenuhi semua nadi dan chakra di dalam tubuh dengan kekuatan spiritual. Si praktisi bisa mengubah kekuatan ini menjadi tubuh sinar suci.

Tiap kali aku memasuki kondisi penyerapan dalam meditasi Mahamudra, sinar suci dari para guru silsilah berubah menjadi sinar suci yang tiada batasnya di dalam diriku.
Sinar-sinar suci ini bisa saling merespon.

[4] Aku merasa bahwa para bhiksu yang telah ditahbiskan yang benar-benar tahu sifat sejati dirinya dan mencari realisasi dari dalam diri mereka sendiri adalah mereka yang memahami dharma dan melatihnya.

Betapa kasihannya mereka para bhiksu yang tidak mengerti akan kebenaran dan hanya melatih ilmu-ilmu cenayang. Ilmu-ilmu tersebut hanyalah doktrin eksternal.

Yang kupegang adalah penyerapan meditatif dari realisasi batin, dan bukan dari doktrin-doktrin non-buddhis. Bila para muridku benar-benar memahami hal ini, maka mereka adalah murid sejati Aliran Satya Buddha.
Sadhana-sadhana tersebut berhubungan dengan pelatihan bindu!

[5] Saat aku mengamati para warga Amerika yang hanya hidup dalam materialisme, aku sungguh sedih melihatnya.
Para pendeta yang berceramah menginginkan supaya semua orang memuja Tuhan dan menjaga pikiran agar selalu baik dan penuh cinta kasih.
Dengan cara ini, Tuhan akan memberkati kita semua.
Lewat doa, kita membuka jalur komunikasi dengan Tuhan, dan saat waktunya telah tiba, kita akan naik ke Kerajaan Allah.
Namun, ajaran-ajaran Katolik dan Kristen, meski mengandalkan doa (yang berarti mencari di luar diri sendiri), tak akan membantu siapapun untuk bisa masuk ke Kerajaan Allah bila rintangan kebodohan belum disingkirkan.
Begitulah maka sejumlah besar umat pemeluk agama Katolik dan Kristen tak terselamatkan pada akhirnya, karena orang-orang ini hanya tahu cara mencari kebenaran di luar diri mereka, dan tidak sadar cara mencari kebenaran di dalam diri mereka sendiri.
Oleh karenanya, mereka berhenti pada kulit luarnya saja dan tidak menyadari kebenaran yang berada di dalamnya.


Mahamudra Membuka Ubun-Ubun Kepala menggabungkan dua pendekatan yang mencari di luar dan di dalam, menjadi sebuah metode, dan mencari kontak spiritual dari Yang Tertinggi.
Kontak spiritual ini didapatkan pada tingkat dharmakaya.

Hingga hari ini, aku punya banyak murid dari barat yang tahu akan sadhana ini, dan beberapa dari mereka telah berhasil membuka ubun-ubun kepalanya.
Mereka bisa merasakan kedamaian dalam tubuh dan pikirannya, dan tinggal di dalam kondisi Samadhi Ketenangan yang terunggul.

Ajaran-ajaran Tantra, yang telah masuk ke barat, benar-benar membuka mata masyarakat di sana.
Pelatihan Mahamudra telah membuatku mampu menyatu (melebur) dengan alam semesta, dengan guruku, dan dengan semua insan.
Sungguh ajaran-ajaran realisasi diri yang sejati telah berdiri dan berkembang di barat, dan banyak anggota masyarakatnya yang telah berlindung (bersarana).

Siapapun yang membaca bab ini dan mengikuti panduan dari guru dengan melatih bindu dan pembukaan ubun-ubun, pasti akan mencapai realisasi batin hatinya sendiri.
Bila aku tak membuat sumpah yang penuh welas asih untuk menolong semua insan supaya mendapatkan realisasi hatinya yang sejati, aku pasti tak akan mungkin bisa membagikan arus cahaya suci ini ke dalam hati mereka, dan juga memberi manfaat sebesar-besarnya bagi mereka.

---

Amituofo
Lotuschef
Pure Karma
True Buddha School

Friday, August 5, 2011

Mahamudra of Opening the Crown


Terjemahan Indonesia: Mahamudra Membuka Ubun-ubun Kepala

Highest Yoga Tantra and Mahamudra 
By Master Sheng-yen Lu
Translated by Cheng Yew Chung, Edited by Dance Smith
This was translated from Grandmaster Lu's 51st book, 無上密與大手印.

CHAPTER 18 - Mahamudra of Opening the Crown

Miss You Suqing, a disciple of mine who lives in Kumamoto, Japan, asked me what exactly was the Yoga of Phowa.

I replied by saying that the Yoga of Phowa is the Yoga of Opening the Crown, a Tantric practice of gaining accomplishment through the transference of consciousness where it is transformed into the dharmakaya, sambhobakaya, and nirmanakaya.

Here is a further elucidation on this yoga:
Tantric practitioners have often regarded the Yoga of Phowa as the swiftest dharma gate, for it is said to yield the quickest results and is the most direct way to open the crown.
Once the crown is opened, one certainly attains accomplishment by gaining rebirth in the Pureland.

The success of practising any dharma gate hinges upon the spiritual foundation of the individual. Some may cultivate the opening of the crown and achieve results in one day.
Others may have to cultivate for forty-nine days before they accomplish the opening of the crown. This is due largely to their respective spiritual foundations.

The Yoga of Phowa is one of the major practices of Kagyupa.

Some people have commented that once the crown is opened, the individual may gain rebirth in the Western Pureland at any time.
Of course, when a person gains rebirth, his physical body dies.
This results in the shortening of ones life.
That is why individuals who practise this yoga do not live a long life.
Therefore many Tantric practitioners feel that the cultivation of the Amitayus Long-life Practice is necessary once the individuals crown is opened.

However, I feel that once the Yoga of Phowa is mastered, it proves that gaining rebirth in the Pureland is a certainty.
As to whether ones life would be shortened by this practice or not is inconsequential, as life itself is an ocean of suffering and offers no escape from birth, old age, sickness and death.

What appears as the joy of life is nothing but suffering.
It would be better to leave early and be done with this life.
Therefore, since the Yoga of Phowa can reduce ones life span, why not practise it?

The recent past saw two masters who were famous for this practice of Phowa: Noble Sheng-lu (1871-1941) and Noble Duga.

I shall elucidate on this Yoga of Phowa as follows:
Sit in the Seven Points of Vairocana position.
Regulate ones breath 21 times with the Yoga of Psychic Heat.
Chant the Supplication Prayer:
Homage to you, Guru Vajradhara!
Protect me upon my accomplishment of Phowa!
Homage to you, Tilopa!
Help me enter your glorious light,
Where all dharma is pure and supreme!
Homage to you, Marpa and Milarepa!
Radiate light upon me through Mahamudra!
Homage to you, all lineage holders!
Above my crown you shall sit in your lotus thrones.
My faith is firm and strong.
Every guru dissolves into a sea of clear light.
In the supreme dharma realm where you dwell.
I pray that I may swiftly gain the wonderful dharma and attain bodhi.
I wish to practice the Phowa and merge into Emptiness
So that I may peacefully abide in the true buddha realm

Visualize Vajradhara seated above your crown with a blue-coloured body manifested in his sambogakaya form, draped with fine buddha garments adorned with the most precious and wonderful jeweled ornaments.
His arms are held in front of his chest, with the right arm crossed over the left, holding a vajra in his right hand and a bell in his left.
The lineage holders sit above your crown in ascending order, forming a straight line; each resides within a circular aura of rainbow light.
At the bottom of the lineage is seated the Holy Red Crown Vajra Guru Noble Lian-sheng, who is the living guru on earth.

Next visualize the gurus transforming themselves into rainbow light.
This light dissolves into your body, and together they form a single magnificent vajra body.
Visualize yourself transforming into a body of emptiness and luminosity, where you find a central channel with a wide top in the middle of your body, with an opening shaped like a trumpet.
At its base it is narrow with the end sealed off.
Above the trumpet opening at the top are seated the lineage holders, whose root guru is the Vajradhara.
Your central channel is aligned in a straight line with the central channel of the root guru, Vajradhara, whose pathways are interconnected and clear.
This means your central channel is linked to the central channel of Vajradhara.

Next, visualize within your heart a blue coloured seed syllable HUM that also exists within the heart of Vajradhara.
As you exhale, shout out the sound ZEE and visualize the syllable HUM within your heart ascending towards the top trumpet opening of your central channel.
Shout the sound ZEE continuously 21 times.
With the twenty-first shout, the syllable HUM finally reaches the top of the trumpet opening of the central channel.

Next exhale and shout out the sound GA while visualizing the syllable HUM descending gradually from the top opening of the central channel until it finally returns to the original place within the heart with the twenty-first GA.

Thus, you shout the sound ZEE twenty one times and shout the sound GA twenty one times. 

When you shout, you must stretch your vocal capacity and shout out loud. 
This is making use of the voice to vibrate the syllable HUM within your heart so as to cause it to ascend and descend.

You should practise this Yoga of Phowa once a day.
By making use of the power of two mantra seed syllables and the power of thought, and performing the practice sitting in the Seven Points of Vairocana posture, one attains the goal of opening the crown.
The Phowa practitioner, upon dying, moves the syllable HUM within his heart out of the central channel into the blue syllable HUM within Vajradhara, so that both HUM syllables merge.

In this way, the heart of the Tantric practitioner is merged with the heart of the lineage holders, which is seen as the clear light of ones own heart dissolving into the clear light of the lineage holders.
This is the true accomplishment attained through the Yoga of Phowa.

One must take note of these key points when practising the Yoga of Phowa:
1. This practice places great importance on the power of the gurus blessing. 
The Vajra Guru is Vajradhara, who is the essence of all gurus.
His heart mantra HUM, radiating the lights of the five wisdoms, exists primarily as the wonderful vajra nature of all buddhas.
We must be respectful and sincere in our reliance on our vajra guru, so that we may gain the blessing of the master.
Thus, we should not attempt to practise this Yoga of Phowa however we please without receiving proper guidance from a master.

2. Though this practice is simple, it is nevertheless powerful.
It is a wonderful method that is drawn from the great perfection of guru yoga, and it leads to the realm of true reality.
When one achieves yogic response with this practise, the prana energy that rises to the crown chakra of ones head may form a protrusion such as that seen on the statues of the Buddha.
A minor bruise may form, with a few droplets of blood and fluid flowing out from the crown chakra.
In the past, those whose crown was opened would insert a stalk of kusha grass into the crown chakra as evidence of the opening.

3. A person whose crown chakra is opened will find that upon death his spiritual essence emerges through the crown chakra.
The soul of the individual is self-realized as it moves out of the physical body through the crown chakra and ascends up the wire-like central channel which is linked to the crown.
Before death and during ones daily practice, one may visualize the light of the lineage holders dissolving into oneself through the crown and filling the body of meridians and chakras with power. One may transform this strength and power into a body of pure light.

Whenever I enter into the meditative absorption of Mahamudra, the pure light of the lineage holders is transformed into the infinite pure light within me.
These pure lights are able to respond to each other.

4. I feel that ordained monks who truly know their self-nature and seek realization from deep within themselves are those who understand the dharma and practise it.

Pitiful are those monks who are unclear about the truth and practise only the psychic arts. 
These arts are external doctrines. 

What I embrace is the meditative absorption of inner realization, and not those non-Buddhist doctrines. 
If my disciples truly understand this, they are to be considered true disciples of True Buddha School. 
These practices deal with the cultivation of drops!

5. When I observe the many Americans who live only in materialism, I find them pitiful.
The priests who preach their sermons want everyone to worship the Lord and to keep their thoughts kind and loving.
In this way, the Lord shall bless us all.
Through prayers, we keep open the line of communication to the Lord and, when the time comes, we shall ascend to the heavenly kingdom.
However, the Catholic and Christian teachings, through relying on prayers (which is seeking outside oneself), would not help anyone reach the heavenly kingdom if the hindrance of ignorance is not removed. 
Thus, a large number of believers of the Catholic and Christian faiths are not saved in the end, for these people only know how to seek the truth outside themselves, and are unaware of how to seek the truth within. 

Thus, they stop at the superficial level and are unaware of the inner truth.

The Mahamudra of Opening the Crown blends both approaches of seeking outwardly and inwardly into one method, and seeks a response from the Highest One.

This is the response attained at the dharmakaya level. 

Today I have many western disciples who are aware of this practice, and a few of them have achieved the opening of the crown.
They feel a sense of tranquillity in their body and mind, and abide in the supreme Samadhi of quiescence.

The Tantric teachings, having found their way to the west, certainly are an eye opener for westerners.

The practice of Mahamudra has allowed me to become one with the universe, with my guru, and with all sentient beings. 
Indeed the true teachings of self-realization have been established in the west and many westerners have taken refuge.

Whoever reads this chapter and follows the guidance of his or her guru by cultivating the drops and opening the crown shall attain the inner realization of his heart.
Had I not made my compassionate vows to help all gain the realization of their true minds, it would be impossible to distribute this current of pure light into the hearts of sentient beings, and benefit them greatly.

---

Amituofo
Lotuschef
Pure Karma
True Buddha School