Showing posts with label bhiksuni. Show all posts
Showing posts with label bhiksuni. Show all posts

Saturday, November 25, 2017

Rahib Sejati



Ditulis oleh Lotuschef – 22 Juni 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 真的出家人 True Votarist



Mengacu ke rekaman ceramah Mahaguru Lu:
2015年6月21日聖尊蓮生活佛盧勝彥開講「大圓滿九次第法」-彩虹雷藏寺

出家人的英文 - 音标:[ chūjiārén ]
Rahib, orang yang melepas keduniawian


Baca juga:



Di ceramah tersebut, Mahaguru Lu menyentuh topik seputar Rahib sejati, baik itu bhiksu ataupun bhiksuni! :)




Sambil bercanda, beliau menjelaskan bahwa seorang Rahib Sejati ialah orang yang MAMPU meninggalkan semua keduniawian dan menjadi leluasa, damai, dan selalu suci!

Itulah Kesucian Tubuh – Ucapan – Pikiran, faktor-faktor penting untuk mencapai Samadhi, Yoga dan Kebuddhaan.

Aku pun juga menekankan bahwa tak ada seorangpun yang bisa membantumu bersadhana, karena kamu harus tekun mengusahakannya sendiri.

Hahaha! Sebagai tambahan: Mahaguru Lu bilang bahwa berdandan layaknya seorang Bhiksu/Bhiksuni ternyata tidak ada gunanya bila orang yang bersangkutan tak mampu memasuki kondisi Samadhi, ataupun melepaskan semua belitan duniawi!
Menjalani upacara pentahbisan juga tidak ada gunanya bila ia tak mampu melatih pencapaian Samadhi!

Itulah mengapa kalau kamu lihat terdaftar ataupun tidak terdaftar sebagai reverend dalam catatan ‘TBS’ bukanlah hal penting bagi Lotuschef?

Dengan segala kerendahan hati menyarankan kawan-kawan yang melangsungkan pencabutan tersebut supaya sadar dan bertobat.
Memohon maaf kepada dirimu sendiri karena telah menghancurkan dirimu sendiri!
Kamu menyalahi dirimu sendiri!
Hahaha!

Segala pencapaian ataupun kemajuan di dalam melatih Buddha Dharma sepenuhnya bergantung pada Diri Sendiri, dan hal ini tidak bisa diambil oleh siapapun juga!

Menurutmu, apakah fitnah dan pencemaran nama baik terhadap Mahaguru Lu selama ini merugikan beliau?

Sebenarnya, aku mendapat tugas untuk menulis [光宗耀祖 Memuliakan Silsilah] dalam konteks mereka yang berniat untuk menjadi Dharma Raja atau Penerus TBS!

Namun artikel yang ditulis berlandaskan ceramah Mahaguru Lu ini jauh lebih menarik!
Ia juga mendukung konsep bahwa Mengejar Kemuliaan Duniawi adalah bertolak belakang dengan Buddha Dharma!
Aku pun juga mendapat lampu hijau untuk mulai pensiun pelan-pelan!

Sebagian besar artikel di dalam blog ini, bila kamu membacanya maka kamu akan sadar bahwa mereka didukung oleh ajaran-ajaran Mahaguru Lu ataupun para Guru Silsilah.
Aku telah menjalankan tugasku cukup menyeluruh selama 7 tahun ini, dihitung sejak mulai bersarana di bulan Agustus 2008.


Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Tuesday, August 9, 2016

Sebutir Beras dari Pendonor, Besarnya Bagaikan Gunung Sumeru



Ditulis oleh Lotuschef – 8 Agustus 2016
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 施主一粒米,大如须弥山。Donor's one grain of rice, large as Mt. Sumeru.


Mengacu ke: 2016年7月31日聖尊蓮生活佛盧勝彥開講「道果」-彩虹雷藏寺

我们出家人要注意 -
Kita, orang-orang yang terikat oleh sumpah pentahbisan (sebagai Bhiksu & Bhiksuni), harus memperhatikan – 

[施主一粒米,大如须弥山。如果不修行,披毛戴角还。]
[Sebutir beras dari pendonor, besarnya bagaikan Gunung Sumeru. Bila tidak bersadhana, kelak akan dibalut rambut/bulu dan mengenakan tanduk untuk melunasinya.]

Gunung Sumeru 须弥山

须弥山(梵文:मेरु,Sumeru),又译为苏迷嚧、苏迷卢山、弥楼山,意思是宝山、妙高山,又名妙光山[1]。古印度神话中位于四个世界:南瞻部洲,西牛贺洲,东胜神洲,北俱芦洲中心的山,是众神居住的神山。位于小世界的中央(一小世界是小千世界的一部分),后为佛教所认同。

Di dalam kosmologi Hindu, Jain dan Buddha, Gunung Sumeru merupakan gunung sakral dengan lima puncak. Ia dianggap sebagai pusat dari semua alam semesta dalam segi fisik, metafisik maupun kebatinan.

Mengutip dari 施主一颗米, 大如须弥山, 今生不了道, 披毛戴角还:


Hahaha!

Sudahkah kamu membaca artikel kemarin? – Pointing Out – True Scenario 直指 - 真相

Ekstrak:

[--- Hahaha!
Dunia orang awam selalu dilingkupi berbagai pergolakan dan kekacauan!
Orang-orang awam yang bodoh ini mendamba kepuasan materi, dan konsekuensinya akan melahirkan iblis di dalam hati mereka sendiri!

Mahaguru Lu kembali mengangkat topik “renunsiasi”, sebuah faktor utama dalam keberhasilan bersadhana!

DAN, para VM dalam rombongan Mahaguru Lu tidak membayar ongkos perjalanan maupun pengeluaran mereka sendiri, TAPI menuntut perlakuan khusus!

Hehe!

Setiap orang yang tak membayar namun menerima perlakuan khusus sudah pasti menciptakan hutang bagi diri mereka sendiri, yang kemungkinan besar tak mampu mereka bayar!
Inilah mengapa Mahaguru Lu bilang banyak yang berkepala gundul sedang duduk di NERAKA! 

Kini kamu pun menyadari kenapa aku selalu membayar semua pengeluaranku sendiri?
Kenapa aku enggan menerima gongyang (dana persembahan) dari orang-orang yang tak mau berusaha bersadhana untuk menyelamatkan diri mereka sendiri? ---]

~~~~~~~~~~~~

Hahaha!
Bertanya: Mampukah kamu membayar kembali apa yang dengan bodohnya kamu ambil, rampas, terima dari orang lain, saat hal-hal tersebut telah jatuh tempo?

Aku juga pernah mengangkat hal ini saat Mahaguru Lu berkunjung ke Inggris Raya, dan rombongan yang mengikuti-Nya berisi banyak orang yang beliau istilahkan sebagai [闲人] – personil yang tidak sah!
Kenapa sampai harus memerlukan lebih dari seorang “wartawan” dan setiap orang tersebut diberi tugas untuk menulis hanya SATU artikel!

Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh komite penyelenggara untuk para [闲人] ini?

Ya!
Banyak yang turut bepergian, makan, dan tinggal dengan cuma-cuma, padahal semua pengeluaran mereka dibayar oleh komite penyelenggara dan para umat awam!

Mengherankankah bila kamu melihat banyak bhiksu dan bhiksuni yang memiliki raut wajah seperti binatang?
Binatang diselubungi bulu/rambut di seluruh bagian tubuhnya dan beberapa bahkan juga ber-Tanduk!

Hahaha!
Kalau kamu ingat artikel yang kutulis mengenai pengalamanku di Seattle tahun 2009?
Si pengawas, XR, mengancamku di hari pertama pelatihan Reverend-ku dengan berkata “Shizun bilang bahwa aku punya tanduk, kamu lihat saja bagaimana aku berhadapan denganmu nanti!”
[师尊说我有角,看我怎样对付你!]

Hahaha!
Haruskah orang-orang diancam oleh ia yang Mengagungkan dirinya dengan Tanduk yang dimilikinya, oleh seekor binatang?

Betapa bodohnya orang ini!
Aku menetralisirnya dengan Sutra Intan dan pergi menjauh dengan sebuah senyum simpul!

Sungguh benarlah keserakahan memang racun yang sangat merintangi!
Begitu juga dengan kesombongan, ketenaran, kuasa, …..


Salam Metta,


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Thursday, July 2, 2015

Mahaguru Lu – Status Biarawanmu Tak Punya Makna



Ditulis oleh Lotuschef – 24 Juni 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: GM Lu – Your Ordination Has No Meaningful Purpose
Dalam Bahasa Mandarin: 卢师尊-你的出家无意义



Mengacu ke rekaman ceramah Mahaguru Lu:

Di dalam ceramah tersebut, Mahaguru Lu mengatakan bahwa mereka yang ditahbiskan, seperti para bhiksu dan bhiksuni, bila tak mematuhi ajaran Buddha untuk Menyelamatkan Para Insan, maka status biarawan/biarawati-nya tak ada maknanya.

Beliau menjelaskannya dengan sangat gamblang saat dibandingkan dengan para umat awam.

Tugasku untuk hari itu ditujukan kepada para bhiksu dan bhiksuni pula!
Aku diminta menuliskan mengenai pola pikir mereka, yang menganggap pentahbisan sebagai batu loncatan untuk memuliakan garis keturunan mereka, mendapatkan promosi dan kekayaan, ketenaran dan keberuntungan, …

Hahaha!

Mahaguru bilang kalau kekuatiran atau masalah para umat awam lebih sedikit sehingga mereka mampu mencapai kondisi samadhi dengan lebih mudah, dibandingkan para bhiksu dan bhiksuni yang diliputi berbagai macam masalah dan kekuatiran.

Kalau mampu benar-benar merelakan/melepaskan materi-materi duniawi, ia akan mampu memasuki kondisi samadhi dengan mudah.
Kuncinya adalah tubuh, ucapan, dan pikiran yang suci.

Hahaha!
Lalu apa sebenarnya yang sedang hangat-hangatnya dikejar oleh kebanyakan bhiksu dan bhiksuni di Ordo Satya Buddha?
Adalah promosi untuk menjadi Vajra Master!

Dan setelah menjadi Vajra Master?
Masih ingin dinyatakan sebagai orang yang Tercerahkan!!!

Namun Mahaguru Lu mengatakan bahwa kunci utamanya adalah Alamiah!

Situs berikut menyebut dirinya sebagai Buddha yang Tercerahkan, dan sepertinya bagian dari situs resmi Satya Buddha pula!


Baca juga:

Ingatlah selalu hal berikut: Jangan menyesatkan para insan.

Bhiksu dan bhiksuni harus menyelamatkan semua insan.


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:


Wednesday, April 8, 2015

Bhiksu yang Kasar



Ditulis oleh Lotuschef – 1 Maret 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 没礼貌的比丘 A bad-mannered Bhikkhu



24 Februari 2013 di Vajragarbha Xiang Hua, Taichung, Taiwan.

Sekitar pukul 1:30 siang, seorang Bhiksu tiba di lantai 3 di vajragarbha tersebut.
Banyak bhiksu dan bhiksuni yang sudah duduk dengan teratur dalam barisan yang cukup rapat karena keterbatasan ruang.

Bhiksu X mengambil sebuah kursi plastik dan mengangkatnya melewati kepala seorang bhiksuni. Ia kemudian duduk di sebelah kirinya.
Bhiksuni berkata kepadanya, kenapa dia tak bilang permisi terlebih dulu kepadaku dan langsung melangkahi kepala orang lain tanpa menghiraukan bahaya yang bisa menimpa orang lain.

X menimpalinya kalau bhiksuni tak boleh berbicara kepada bhiksu seperti itu, apalagi mempersoalkannya.
Ia mengejek si bhiksuni yang mempermasalahkannya dan mengatakan betapa beraninya si bhiksuni berbicara kepadanya seperti ini!!!

Baru-baru ini aku mengangkat topik 8 Praktik Menghargai/Menghormati (八敬法).
Sebenarnya jelas sekali si X tak tahu kenapa para bhiksuni di masa lalu perlu menghormati para bhiksu.

Ia sungguh kasar dan menyebalkan, serta merasa tinggi hati!
Sayang sekali jiwa yang tersesat dan bodoh ini.

Di dalam 8 Praktik Menghormati, semasa Sang Buddha masih hidup, para bhiksu pergi berkeliling untuk meminta sedekah dan kemudian pulang untuk berbagi dengan para bhiksuni. Hal ini dilakukan karena mereka was-was akan bahaya yang mungkin mengancam para bhiksuni dari orang-orang yang bermaksud jahat dan mereka tak mampu membela diri.
Dan juga, berhubung mereka bergabung ke dalam pasamuan sangha lebih akhir dibandingkan para bhiksu, maka para bhiksu juga mengajar para bhiksuni apa yang Sang Buddha telah ajarkan kepada mereka, serta juga membimbing mereka dalam pelatihan diri.

Demikianlah kenapa ada 8 Praktik Menghormati – untuk menghormati mereka yang mencukupi kebutuhan dan mengajar para bhiksuni!

Bukan seperti yang banyak orang pikirkan, bahwa wanita terlahir dengan posisi yang Rendah dan bisa diperintah dan ditindas!
Hahaha!

X tak cocok disebut sebagai seorang Bhiksu, dan ia juga benar-benar seorang penindas!
Bisakah dianggap sebagai anggota Sangha, salah satu dari Tri Ratna?
Bisakah dianggap sebagai seorang murid Buddha?

Kalau kamu melihat auranya, ia mirip dengan seekor Kerbau!
Raut wajahnya penuh dengan indikasi yang nampak jelas dan berlubang-lubang pula!

Wajah luarmu menampilkan pancaran dari hatimu 相由心生.

Kalau Buddha adalah ia yang memiliki 5 macam kebijaksanaan dan salah satunya adalah Kebijaksanaan Kesetaraan, mungkinkah kiranya ia mendukung apa yang si X lakukan kepada si bhiksuni?

Pastinya Tidak!!!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Bhiksu Sejati/Palsu? [3]



Ditulis oleh Lotuschef – 28 Maret 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 真/假比丘? True/False Monk? [3]



Baca juga:

[--- Amatilah baik-baik mereka yang menggunakan Doktrin Ajaran demi kepentingan mereka sendiri!
Hahaha! Mereka belum paham dan belum mengaplikasikan apa sesungguhnya Dharma itu!
Mereka masih meributi Supremasi (kekuasaan) atas orang-orang yang mereka anggap sebagai “wong cilik”, bagaikan menendang anjing tak berkerah (berkalung anjing) yang berada di jalanan, namun memuji mereka yang dirantai dan didandani oleh pemiliknya.
Semua ini hanyalah masalah berkuasa dan menjaga kendali atas orang-orang – sebuah hal yang sangat mereka idam-idamkan.

Dalam kata lain: Selalu membuatmu berada di bawah kekuasaan mereka.
Demikianlah aku menyarankanmu untuk mengamat-amati dengan baik para Bhiksu dan Bhiksuni.
Beberapa bhiksu memiliki tingkah laku seperti wanita, dan beberapa bhiksuni terlihat sangat laki-laki.
Padahal saat seseorang melatih diri, ia harus sudah melepaskan pembedaan jenis kelamin sejauh mungkin, ini karena ia akan mampu Berubah Kapan-pun juga.
Hahaha! Mau percaya ataupun tidak, sungguh terserah kamu.

Tubuh sadhaka sungguh-sungguh mengalami perubahan fisik maupun spiritual seiring dengan pelatihan dirinya. ---]

~~~~~~~~~~~~~

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Kalau kamu paham apa yang terjadi pada diri kita setelah mati, maka kamu akan terbebas dari Kemelekatan dan berbagai pemaksaan kepatuhan akan Aturan & Disiplin Sila menurut interpretasi pribadimu!

Hahaha!

Aku masih ingat insiden di Vajragarbha Xiang Hua sebelum Mahaguru Lu datang.
Bhiksu Z yang datang terlambat mengambil sebuah kursi tanpa menghiraukan mereka yang telah duduk di area sana. Ia bergerak dengan cepat sambil membawa kursi tersebut dan menyenggol Bhiksuni Y dengan cukup keras. Kursi di tangannya hampir saja mengenai kepala Bhiksuni Y.

Saat Bhiksuni Y memberitahunya untuk berhati-hati, Bhiksu X membelalak dengan marahnya dan dengan gaya yang merendahkan berkata ke Bhiksuni Y “Betapa beraninya dia, seorang bhiksuni, mengkritiknya, seorang Bhiksu!”.

Aku sudah pernah menuliskan hal tersebut di dalam blog.

Itu seputar 8 Praktik Menghargai (Menghormati) ~ 八敬法, di masa Buddha Shakyamuni.

Hahaha!

Disiplin di dalam Agama Buddha, adalah Panduan bagi Diri Sendiri, demi mencegah diri supaya tak melenceng dari Jalan Bodhi!

Ia yang mencoba menggunakannya untuk menekan, mengontrol ataupun mendikte orang-orang sungguhlah Bhiksu atau Bhiksuni yang Palsu!

Lagipula, bila telah ditahbiskan lebih lama dibanding orang-orang lainnya, namun ternyata tak menunjukkan hasil kinerja yang baik dalam pelatihan diri, maka para reverend ini jugalah Palsu!

Menurutmu mengapa Mahaguru Lu mengumumkan mereka yang berhasil di dalam sadhana-nya, dan para yogi ini adalah umat awam pula!

Demi menunjukkan bahwa ditahbiskan bukan secara otomatis menjadi Yogi yang Sejati!

Setelah lama ditahbiskan, katakanlah lebih dari 10 tahun, kalau kamu masih “Penuh Dengan Dirimu Sendiri”, penuh dengan berbagai racun sifat manusia yang tak bajik, maka Kamu adalah sebuah kegagalan besar!

Oleh karenanya di sini dengan segala kerendahan hati, aku menyarankan supaya Kamu tutup mulut saja dan jangan menyombongkan diri. Gunakanlah waktumu dengan baik untuk tekun dalam bersadhana!

Bukankah sangat menyedihkan kalau kamu menyia-nyiakan hidupmu sebagai Manusia?

Mahaguru Lu bilang kalau beliau sangat sedih melihat mereka yang terjatuh ke dalam Neraka ataupun Neraka Vajra sampai-sampai sudah tak mungkin diselamatkan lagi!


Ada yang bertanya: Apakah kamu akan melakukan Penyeberangan Bardo untuk AA?

Jawabku: Tergantung jodoh AA dengan Buddha, bukan terserah aku harus bagaimana.

Melihat fotonya, AA telah berubah drastis ke arah negatif dan pasti terjatuh ke Neraka.

Kita tak boleh turut campur dengan Jalan Karma siapapun!


Mengenai Kesaktian Astral (Transendental)?
Tidak! Tak boleh digunakan bila si subjek tak punya ketulusan dalam Bertobat!

Lalu bagaimana halnya dengan 49 hari masa peralihan Bardo?
Kalau jodohnya muncul, setelah 49 hari nanti kita juga bisa menyeberangkan para arwah dengan mudah!


Mahaguru Lu setelah upacara homa sering kali mengatakan: Si ini dan itu datang dan berjalan ke dalam Api Homa, mereka menjadi Bersih dan Terseberangkan!

Jadi mereka yang berjodoh boleh datang ke upacara Homa yang kita adakan, akan menjadi Bersih dan Terseberangkan pula! :)

Amatilah dengan baik api-api Homa yang ada, di sana kamu bisa melihat wujud-wujud berbagai roh juga!

Namun kamu harus Bijak, karena hanya Yogi Sejati yang mampu mengundang kehadiran para dewata untuk memuliakan upacara yang diadakan, untuk mendatangkan Berkat dan melakukan Penyeberangan Bardo!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Bhiksu Sejati/Palsu? [1]



Ditulis oleh Lotuschef – 22 September 2011
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 真/假比丘? True/False Monk? [1]



Percaya atau tidak, Judul dan beberapa bagian dari isi artikel ini datang dari Mahaguru sekitar dua hari lalu.

Ada orang yang mengingatkanku di sebuah email baru-baru ini mengenai sebuah sila yang menyatakan kalau Bhiksu boleh memarahi Bhiksuni, namun Bhiksuni tak boleh membalasnya.
Dalam konteks ini, berarti para venerable/lama pria punya posisi yang lebih Tinggi dibanding para venerable/lama wanita.

Membuatku ingat akan sebuah insiden dengan situasi yang mirip.

Bhiksuni X sedang bercakap-cakap dengan Bhiksu Y, seorang teman sekelas di sekolah pelatihan agama.

X berkata: Mendoakan yang terbaik untukmu dan mohon gunakan pertimbanganmu sendiri serta jangan biarkan orang-orang lain mendiktemu. Guru kita adalah yang terbaik dan kita hanya mendengarkan beliau satu-satunya.

Y menimpali: Terima kasih atas segala bantuan yang kamu berikan kepadaku selama periode ini.

Bhiksu Z menguping di belakang mereka secara diam-diam tanpa ketahuan.

Mulai dari malam berikutnya, tersebar berita kalau seorang BHIKSUNI memarahi/menguliahi seorang BHIKSU.

Hahaha! Kasihan sekali si bhiksuni pasti akan dihukum berat!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa waktu lalu, di dalam salah satu ceramah dharmanya, Mahaguru mengatakan bahwa standar-standar tersebut ditetapkan di jaman saat Sang Buddha hidup, sudah lebih dari 2550 tahun lalu.
Dalam pandangan Mahaguru, beliau bilang bahwa Bhiksu dan Bhiksuni adalah setara dan tak dibeda-bedakan.

Seorang teman murid di dalam diskusi baru-baru ini juga mengatakan bahwa beberapa standar tersebut perlu disesuaikan dengan Jaman Modern ini.

Dengarkanlah pandangan dari Mahaguru dan gunakan pengetahuanmu mengenai Jalan Mulia Beruas Delapan sebelum membentuk opini.

Aku akan mempublikasikan pandanganku di artikel Bhiksu Sejati/Palsu [2] setelah mendengarkan masukan darimu semua.
Rancangan teksnya sudah kutulis tapi publikasinya akan bebarengan dengan komentar-komentar dari teman-teman pembaca.

Dengan tulus menunggu berbagai opini dari kawan-kawan semua.


Amituofo / Lotuschef / Pure Karma / True Buddha School