Showing posts with label agama buddha. Show all posts
Showing posts with label agama buddha. Show all posts

Tuesday, September 2, 2014

Lotuschef Bercakap-cakap – Benar/Salah


Ditulis oleh Lotuschef – 22 Agustus 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Lotuschef in Chat – True/False 是/非


Suatu saat di Seattle.
[--- AA: Fashi, XX bilang supaya aku menjauhi Lotuschef, karena ia menjelek-jelekkan Mahaguru.
Lalu kutanya dia apakah sudah benar-benar membaca blogmu atau belum. ---]

Cobalah baca artikel berikut:
The Four Foundations of Tibetan Tantra
How to Develop the Bodhi-Citta

Kedua topik di atas sempat dijadikan bahan diskusi saat acara minum teh di Medan. :)

Seperti halnya dengan kebanyakan karya tulis yang diterjemahkan dari Bahasa Mandarin, beberapa kata menjadi berbeda artinya sesuai dengan gaya si penerjemahnya! :)

Aku ingat sebuah buku dari jaman pra-universitas yang berjudul “Membaca & Memahami”.

Dari pranala pertama di atas:

I.    Berlindung (Bersarana)


Dalam keseluruhan sistem meditasi buddhis, bersarana berada di titik paling awal, meski setelah itu ada ada dua macam pengetahuan yang mengikutinya: kebijaksanaan mendengar (dan membaca) dan berpikir.
Kini, kesalahan dari kebanyakan penganut agama buddha di Timur adalah mereka Bersarana terlebih dulu sebelum mengembangkan dua kebijaksanaan di atas.

Buddha tak begitu saja menerima seorang murid, karena murid yang bersangkutan harus mengenal terlebih dulu beberapa hal dari Ajaran beliau.

Pada kenyataannya, beliau secara pribadi memberikan instruksi kepada mereka yang datang kepada-Nya sebelum menerimanya sebagai murid dan selalu meminta mereka untuk mempelajari dan memahami sepenuhnya apa yang beliau ajarkan.

Beliau tak menyukai iman yang buta (fanatisme), dan di dalam Dharmapada kita juga bisa menemukan banyak instruksi seputar hal ini.

Buddha menyebutkan dua macam instrumen Dharma:
Mereka yang terinspirasi oleh Buddha dan langsung percaya kepada-Nya (araddhaviharin); dan mereka yang di awal belum bersarana, namun mempelajari berbagai macam Ajaran (Dharmaviharin), (seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat Barat, menurut Yogi kita).

Buddha mengatakan bahwa beliau lebih menyukai jenis yang ke-dua (Dharmaviharin) ini.

Karena hal tersebut adalah sebuah karakteristik yang sangat penting dalam agama Buddha yang membedakannya dari sistem-sistem lainnya.
Dalam agama Buddha, seseorang dianjurkan untuk bertanya untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kecerdasan – kontras sekali dibanding agama-agama lain di mana calon penganut diminta untuk percaya dulu dan menerima dogma-dogma tertentu tanpa syarat.

Orang-orang Barat belajar banyak ajaran buddhis lewat membaca terjemahan naskah suci (Tripitaka).
“Ini tentunya hal yang baik,” komentar Bp. Chen.

Suatu saat aku sangat malu mendengar Ibu Alexandra David-Néel yang memberikan kotbah di Asosiasi Buddhis Sutren.
Di luarannya, ia memuji orang Tionghoa, namun kupikir apa yang ia katakan sungguh merupakan kritik yang tajam.
Ia bilang bahwa sungguh beruntung karena semua orang Tionghoa percaya (memeluk) agama Buddha.
Bahkan semua anak kecil dan wanita di desa yang tak tahu apapun juga memuja Buddha.
Di Barat sama sekali berbeda.
Di sana, hanya ada sedikit pemeluk agama Buddha tapi banyak dari mereka yang merupakan cendekiawan dan filsuf yang mempelajari Ajaran Sang Buddha.

Setelah mengingat-ingat dan menyampaikan pesan dari seorang cendekiawan buddhis besar yang berasal dari Perancis tersebut, Bp. Chen melanjutkan:
Kepercayaan kepada Buddha di benak kebanyakan orang Tionghoa adalah menganggap Buddha sebagai suatu Roh atau Tuhan.
Mereka memuja Buddha seperti mereka memuja Kuan Kung atau dewata-dewata lainnya.
Sebagian besar tak tahu perbedaan antara menghormati seorang dewa dan bersarana kepada Buddha. Di Barat, adalah hal yang bagus sekali karena mereka mendapatkan pengetahuan terlebih dulu sebelum memeluk agama Buddha.

Dari tiga jenis kebijaksanaan, Bersarana termasuk dalam Kebijaksanaan Praktik (bhavanamaya prajna) dan hal tersebut adalah lanjutan dari Kebijaksanaan Mendengar dan Berpikir.
Namun di Timur sungguh menyedihkan, orang-orang menganggap agama Buddha sebagai sekedar kepercayaan umum.
Dalam hal ini, pemeluk agama Buddha dari Barat adalah yang bagus.


Kemudian dari pranala ke-2 di atas:

[Empat Fondasi Tantra Tibet] – CW31 No.70
Appendix II dari Meditasi Buddhis: Sistematis dan Praktis
Oleh C. M. Chen, didokumentasikan oleh Rev. Kantipalo


Bagian I: Apa Yang Dimaksud dengan Bodhi-Citta?


[a] Bodhi-citta adalah sebuah istilah dalam Bahasa Sansekerta yang dipinjam dari posisi konsekuensi (hasil), untuk digunakan di posisi kausal (penyebab) (catatan editor: penjelasan lengkap mengenai posisi  penyebab dan hasil bisa ditemukan di buklet Meditasi Buddhis: Sistematis dan Praktis, karya C. M. Chen.) Bodhi-citta, berarti “sebuah pikiran atau hati yang tercerahkan” atau “kebijaksanaan kesadaran akhir dari seorang buddha yang berada di posisi hasil”, namun ia bisa dipinjam oleh seorang bodhisattva di semua tingkat pengembangan untuk dicontoh dan dipraktikkan dalam posisi penyebab. Oleh karenanya, ia adalah istilah yang sangat penting – di mana setiap praktik agama Buddha dimulai dengannya dan mengarah kepadanya.

[b] Sebuah tulisan dalam Bahasa Mandarin berjudul “Diskriminasi (Pembedaan) antara Kebaikan, Cinta, Welas Asih Agung dan Bodhi-citta” pernah kutulis bertahun-tahun lalu. Ia dipublikasikan di Hong Kong dan dibagikan secara cuma-cuma ke berbagai perpustakaan terkenal di dunia. Aku berharap seseorang akan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris suatu saat nanti. Di sini aku hanya menerjemahkan beberapa poin dari tulisan tersebut:

1. Bodhi-citta bukan hanya berupa kebaikan; Bodhi-citta Tindakan (yang diaplikasikan) sudah pasti berhubungan dengan kebaikan, tapi kebaikan tidak bisa disebut sebagai Bodhi-citta karena motif dan konsekuensi dari Bodhi-citta mengarah kepada pencerahan sempurna, sedangkan Kebaikan hanya mengarah pada (kelahiran di) surga saja.

** Komentar: bila melihat [a] dan [b] di atas seperti bertentangan atau kurang jelas. Coba pahamilah. :)


Hahaha!
Banyak murid Aliran Satya Buddha dan ordo-ordo agama buddha lainnya masuk kategori “Bersarana Dulu, tanpa paham apa yang sedang mereka lakukan”!

Salah satu contoh adalah XX di atas yang mengatakan kalau Lotuschef menjelek-jelekkan Mahaguru Lu!

Bukankah XX dan orang-orang yang pikirannya sejenis terlihat jelas tak pernah membaca artikel-artikel tulisan Lotuschef?

Begitulah, ia adalah salah satu orang yang punya sentimen seperti mereka yang berada di tim administrator Satya Buddha.
Doktrin administrator serasa seperti mendikte dan semua orang harus patuh!

Hahaha!
Agama Buddha bukan seperti ini!

Mahaguru Lu juga kembali menekankan dalam berbagai ceramahnya akhir-akhir ini: Melatih diri sepenuhnya bergantung pada diri sendiri!

Kalau kamu tak bersadhana dan melatih pikiranmu untuk mengungkapkan (membuktikan) Tathagatagarbha-mu, maka TAK ADA SIAPAPUN yang bisa melakukannya untukmu!

Beliau juga menambahkan bahwa para murid mulai mendikte dan mengontrolnya!
Di sini memberitahumu bahwa kamu tak boleh mendikte seorang Buddha atau bahkan mencoba mengendalikan-Nya!

Kalau ada siapapun yang mengendalikanmu dan kamu sendiri ternyata juga tak punya pendirian, maka maaf sekali, kamu tak akan bisa melepaskan diri dari belenggu samsara ini!

Dan mereka yang mencoba dan masih mencoba untuk Menyetir seorang Buddha dan orang-orang lain, KAMU pun tak luput dari kekangan samsara ini, tak akan bisa melepas diri!

Oleh karenanya dengan segala kerendahan hati menyarankanmu: “Tamballah” segala kekuranganmu sesegera mungkin!

Oh ya, bila kamu telah bersarana kepada Mahaguru Lu, seorang Buddha Hidup, mohon janganlah menyia-nyiakan kesempatan berharga ini untuk belajar dan melepaskan diri dari belenggu Samsara!

Berbohong atau menyebarkan kebohongan mengenai seseorang bukanlah hal yang dilakukan oleh seorang murid Buddha.
Ia termasuk dalam pelanggaran salah satu sila utama – Berbohong!

Kamu seharusnya sadar bahwa Sila atau Disiplin merupakan panduan untuk Membantumu dalam melatih diri dengan baik juga!
Mereka bukan digunakan untuk menghukum orang-orang!

Dengarkan Mahaguru Lu dengan teliti, dan jangan sampai tersesat!


Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Related Posts:


Wednesday, April 2, 2014

Sebuah Bacaan Menarik – Panduan Mengenai Agama Buddha di Jepang oleh Bhiksu Jepang Asli [1]


Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 11 Februari 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: An interesting read – The Real Japanese Monk’s Guide To Buddhism In Japan [1]


Saichou (Dengyou Daishi)
Aku menemukan artikel yang menarik dan cukup informatif dari Lotus NN.
Silakan membaca dan menikmatinya! :)

Panduan Mengenai Agama Buddha di Jepang oleh Bhiksu Jepang Asli

6 Februari 2014, oleh Mami, 56 Komentar.
Mengutip dari sumber: The Real Japanese Monk’s Guide To Buddhism In Japan


Berbagai perbedaan di antara Aliran Agama Buddha di Jepang


Menurut “Laporan Statistik Tahunan Jepang 2014” yang dilakukan oleh Kementrian Dalam Negeri dan Komunikasi di tahun 2014, sekitar 84,7 juta orang di Jepang dianggap beragama “Buddha” tanpa mempertimbangkan apakah mereka “mempraktikkan Agama Buddha” ataupun tidak. Di sana juga ada berbagai aliran Agama Buddha, yang terlalu banyak untuk dipelajari lewat satu artikel ini saja. Ada sekitar 59 aliran utama yang berafiliasi dengan Federasi Penganut Agama Buddha Jepang dan itu juga belum mencakup semuanya. Aku sendiri tak bisa memperkenalkan semuanya, jadi di sini aku akan berfokus pada 13 aliran utama dan sejarahnya di Jepang.


Untuk memudahkanmu dalam perjalanan ini, aku telah membuat diagram “bernuansa Buddha” yang bisa kamu gunakan sebagai panduan. Ada banyak aliran dan akan hal tersebut akan cukup membingungkan, sehingga diagram ini sangat menolongku (dan kuharap akan turut menolong teman-teman pembaca juga!)


Agama Buddha Nara – Enam Aliran (Sektor) Nanto


Vihara Todaiji, foto oleh David Offf
Saat masa berubah dari Asuka (550-710) ke Nara (710), yang terjadi karena ibukota dipindahkan dari Asuka ke Nara (Kanto), para duta Jepang yang dinamakan Kentoushi membawa kembali agama Buddha akademik dari China (Dinasti Tang), dan orang-orang mulai mempelajarinya di vihara-vihara di Nara.

Agama Buddha akademik diklasifikasikan dan dibagi ke dalam 6 sektor yang dinamakan Enam Sektor Nanto
(南都六宗/なんとりくしゅう):
– 三論 (Sanron) : Tiga Risalah
– 成実 (Joujitsu) : Fondasi Kebenaran
– 倶舎 (Kusha) : Pembelajaran Abhidharma-kosha
– 法相 (Hossou) : Pikiran Semata
– 華厳 (Kegon) : Avatamsaka
– 律 (Ritsu) : Aturan Disiplin Sila


Sektor Hossou


Di antara enam sektor tersebut, Hossou (juga dikenal sebagai Yuishiki) adalah sektor yang mempelajari Yogacara, yang berasal dari India. Hingga sekarang masih dipelajari di dua vihara utama, Koufukuji dan Yakushiji, dan tetap mempertahankan tradisinya hingga di masa moderen ini.
Di dalam sektor ini, para umat buddha menyelami pikiran mereka sendiri dan dunia fana ini untuk menyadari bahwa semua hal berubah dan tak ada satupun yang kekal.
Berbeda dengan prinsip-prinsip Sokushin- Joubutsu (即身成仏) dalam agama buddha aliran Esoterik, yang percaya bahwa pencerahan bisa dicapai dalam tubuh sekarang ini, sektor Hossou membangun teori bahwa ada perbedaan pada tiap-tiap insan dan tak setiap orang bisa dengan mudahnya menjadi seorang Buddha.


Sebenarnya, sektor Hossou dan Kusha dikenal dengan ajaran-ajarannya yang sangat rumit hingga ada sebuah ungkapan “3 tahun untuk Hossou, 8 tahun untuk Kusha”.


Sektor Kegon


Kegon, adalah sebuah sektor yang secara khusus mempelajari Sutra Avatamsaka dan vihara utamanya adalah Todaiji yang terkenal.
Di dalam vihara tersebut terdapat Rupang Buddha Vairocana yang merupakan Buddha Adiwarna Cemerlang di dalam Avatamsaka, yang dibangun tahun 752 M. Kaisar Shomu juga membangun vihara-vihara yang dinamakan Kokubunji di berbagai provinsi demi perlindungan spiritual Jepang. Vihara Todaiji merupakan Kokubunji dari Provinsi Yamato (yang sekarang adalah Prefektur Nara) dan juga dinobatkan sebagai vihara utama yang mengepalai vihara-vihara Kokubunji di Jepang.

Di Kegon, ada sebuah ungkapan: “Satu sama dengan banyak dan banyak sama dengan satu.
Mereka membabarkan ajaran untuk mencapai penyatuan ide-ide dengan kutub lawan dari ide-ide tersebut.

Seperti yang kamu bisa lihat dari kalimat terakhir di atas, sektor ini sangat filosofis.


Sektor Ritsu


Di awal 754, seorang bhiksu tiongkok bernama Jianzhen (688 – 763 M), yang juga dikenal sebagai Ganjin, melakukan perjalanan ke Nara, Jepang.
Ia membangun vihara Toushoudaiji di Nara dan membabarkan ajaran Buddha aliran Ritsu, yang mentransmisikan dam mempelajari sila-sila Vinaya agama Buddha.

Ganjin dikatakan telah melakukan Jukai (授戒), yang berarti “mewariskan sila”, dan hal ini telah dilakukan kepada lebih dari 40.000 orang.

Secara garis besar, fitur utama dari Agama Buddha Nara adalah ia mendukung ide perlindungan untuk negara.


Agama Buddha Heian – Dua Sektor Heian



Gunung Hiei, foto oleh Casek

Kaisar Konin (770 – 781 M) tak suka bagaimana beberapa kelompok pemeluk agama Buddha bisa turut campur dalam urusan pemerintahan, jadi setelah anaknya menjadi Kaisar Kanmu (781 – 806 M), ia memindahkan ibukota negara dari Heijoukyou ke Heiankyou di tahun 794 M dan meninggalkan para umat Buddha Nara di ibukota lama.
Karena hal tersebut, terjadi kekosongan masa keagamaan di Heiankyou dan itu menjadi sebuah kesempatan yang mendukung munculnya agama Buddha jenis baru: Sektor Tendai dan Sektor Shingon.
Tahun 804 M, 10 tahun setelah ibukota baru telah dipilih, Saichou, yang kemudian mendirikan Sektor Tendai, dan Kuukai, yang kemudian mendirikan Sektor Shingon, melakukan perjalanan ke China untuk belajar sebagai duta Kentoushi.
Dua sektor tersebut dinamakan “Dua Sektor Heian” (平安二宗/へいあんにしゅう).

Saichou: Sektor Tendai


Di Jepang, Saichou mendirikan agama buddha Jepang aliran Tendai.
Di umurnya yang ke-19, ia menerima Gusokukai, yang merupakan bentuk pentahbisan yang lebih tinggi di Vihara Todaiji, dan secara resmi menjadi bhiksu. Namun, 3 bulan kemudian, ia pergi ke Gunung Hiei, yang merupakan sebuah gunung yang tak tersentuh oleh seorang manusiapun sampai saat itu, dan di sana sebuah membangun gubuk jerami yang sunyi dan ia namakan sebagai Vihara Ichijoshikanin, yang kemudian menjadi Vihara Enryakuji.
Saat di sana, Saichou membuat sumpah bahwa ia tak akan turun dari gunung, ataupun memberikan ajaran kepada orang-orang, sebelum enam sumbernya (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) tersucikan dari emosi-emosi yang menganggu (bahagia, marah, sedih, nikmat, cinta, dan benci).
Dan ternyata ia membutuhkan 12 tahun untuk menyelesaikan pelatihannya di gunung itu.
Gaya pelatihan seperti ini masih ada dan masih dipraktikkan di Vihara Joudoin, Pagoda Sebelah Barat di Gunung Hiei.

Pelatihan dan pembelajaran Saichou bahkan diakui sepenuhnya oleh sang kaisar dan ia dipilih sebagai seorang pendeta untuk belajar ke luar negeri di umurnya yang ke-35.
Di China (Tang), ia belajar agama Buddha aliran Tendai selama 8 bulan dan setelah kembali ke Jepang, ia mendirikan agama buddha Jepang aliran Tendai.

Saat sektor Tendai di Jepang dimulai, ia mengawali dengan mengevaluasi ulang agama buddha Nara dan menyadari ada banyak masalah di sana.
Tiga kritik yang dilontarkannya adalah:

  1. Agama Buddha Nara tidak praktis, terlalu berkecimpung dalam teori, sedangkan praktiknya hanya sebatas formalitas belaka.
  2. Agama Buddha Nara terhubung dengan kekuatan politik.
  3. Di dalam agama Buddha Nara, tak setiap orang bisa mencapai pencerahan dan memasuki Nirwana.

Oleh karenanya, Saichou mengkritik Enam Sektor Agama Buddha Nanto yang terutama mempelajari doktrin-doktrin perlindungan negara.

Lebih lanjut lagi, berdasarkan yang tertulis dalam Sutra Teratai, ia bersikeras menanamkan kepercayaan “Issaishujoushitsuubusshou” (一切衆生悉有仏性), yang berarti setiap orang punya sifat sejati Buddha (Tathagathagarbha) dalam diri mereka masing-masing dan mampu mencapai Nirwana, sedangkan agama buddha Nara berpendirian bahwa tak setiap orang mampu melakukannya.

Dengan cara ini, Saichou mencoba memisahkan dirinya dari agama buddha Nara, namun tetap mengatur bahwa bila orang-orang ingin menjadi bhiksu yang resmi, mereka masih harus menerima sila di Vihara Todaiji seperti yang dilakukan oleh Saichou sendiri di masa lalu.
Kemudian, Saichou memohon kepada Istana Kerajaan Jepang untuk membangun Aula Pentahbisan untuk Konfirmasi Pemeluk Agama Buddha yang didirikan oleh agama buddha aliran Tendai.
Ia menjelaskan pada otoritas yang kompeten bahwa Sektor Tendai mampu mengayomi para biksu Buddhis yang disucikan lewat pelatihan di Gunung Hiei, dan dengan melakukan hal tersebut akan menghasilkan perlindungan negara yang dicari.

Saichou, sayangnya, tak hidup cukup lama untuk melihat hal tersebut terealisasikan, namun tak lama setelah kematiannya hal tersebut memang terealisasikan. Sebuah persetujuan dari kerajaan mengenai aula pentahbisan dikabulkan dalam 7 hari setelah Saichou wafat dan Sektor Tendai secara resmi didirikan, baik dalam nama maupun substansinya, sebagai sebuah aliran agama yang independen.

Ajaran-ajaran Saichou dan “Obor Dharma yang Tak Terpadamkan”, telah diwariskan hingga masa modern ini kepada para bhiksu di Gunung Hiei.

Kutipan dari Saichou yang terkenal bisa di lihat di seputar Gunung Hiei: “Seorang manusia yang menerangi sebuah sudut sungguhlah merupakan sebuah harta negara” (dari “Peraturan-peraturan untuk Murid Aliran Gunung”).

Saichou menjelaskan kutipannya bahwa “siapapun yang mau berusaha akan menjadi pusaka negara yang berharga, di manapun ia berada, atau apapun profesinya”.

Ajaran-ajarannya mengandung banyak elemen yang berhubungan dengan Agama Buddha Esoterik Shingon dan ajaran-ajaran Sektor Joudo, dan oleh karenanya Gunung Hiei berfungsi sebagai sebuah Universitas Agama Buddha.

Para pendiri Agama Buddha Kamakura yang mendatang, seperti Hounen, Shinran, Dougen, dan Nichiren, semua belajar di sini dan kemudian membangun ajaran-ajarannya sendiri.

*Sebagai catatan tambahan, Sauchou sangat ketat mengenai konsumsi alkohol. Ia yang meminum alkohol tak diperbolehkan untuk menjadi bhiksu.


[bersambung]

Tuesday, March 4, 2014

Kebijaksanaan yang nampak gila – Menyaksikan Karma Ditanggung oleh Orang yang Bersangkutan


Ditulis oleh Lotuschef – 3 Maret 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Crazy Wisdom – 目睹因果自负 Witness Karma is One's Own Responsibility


"Karma", karya seni dari pemahat berkebangsaan Korea, Do Ho Suh.
Fotografi oleh Alan Teo.

Mengutip dari: 佛教高僧禅宗祖师慧能大师生平历史纪实-佛陀正法...

六祖大师不识字的平民身份,成为一代祖师,
令佛教在中国实现平等普度,
佛教的众生平等、
佛法世出世间结合在六祖慧能的禅法中得到了展现,
为众生指明了正信正修的菩提大道。

Patriak Zen ke-6 adalah orang biasa. Beliau tak paham tulisan karakter, tapi menjadi seorang patriak di masanya.
Ia memberdayakan agama Buddha di China untuk Menunjukkan Kesetaraan dalam Menyelamatkan Semua Insan.
Konsep dalam agama Buddha mengatakan bahwa Semua Insan adalah Setara,
Demikianlah Hui Neng, Sang Patriak ke-6, dengan Dharma Zen-nya, mampu menggabungkan ajaran Buddha Dharma di Dunia Awam ini menjadi sebuah pembabaran ajaran yang menunjukkan Iman yang Benar dan Pelatihan Maha Bodhi yang Benar secara komprehensif kepada semua insan.

禅宗不立文字,是为了破除当时修行者着文字相,
当时很多人陷入了文字相,认为学佛只能限于读书人,
没有文化的穷苦人看不懂佛经,无法修行。

Aliran Zen tidak Menggunakan Kata-kata, karena tujuannya adalah untuk menghancurkan kemelekatan pada Wujud Naskah dan Tulisan, yang merupakan rintangan bagi para sadhaka di masa itu.
Di jaman itu, banyak yang jatuh dan melekat pada Wujud Karakter-karakter tertulis.
Mereka menganggap bahwa Buddha Dharma Hanya Terbatas untuk dipelajari oleh para Cendekiawan saja,
Sedangkan mereka yang buta huruf atau orang miskin tanpa karakteristik kebudayaan, tak mampu membaca dan memahami Sutra-sutra Buddha, sehingga tak mampu melatih diri.

禅宗打破了种种的限制,破除了文化、出身、职业上的限制,无论各个阶层都可以学佛修行,在日常生活中去体悟自性光明,

Demikianlah Aliran Zen menghancurkan segala macam rintangan seperti Kebudayaan, Status Kelahiran, Batasan Karir; dan tanpa menghiraukan seseorang berasal dari status apapun, masing-masing individu punya kesempatan untuk Mempelajari Buddha Dharma dan Bersadhana, dan dari sana mampu mempraktekkan ajaran dan lewat pengalaman hidup sehari-hari akhirnya mencapai penyadaran bahwa Sifat Sejati Dari Awal Masa yang ada dalam dirinya sudah Terang dan Bijaksana adanya.

[** Catatan: di artikel sumber, terjemahan dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris oleh Lama Lotuschef]

Baca juga: Professor, Bisakah Kamu Menyingkirkan Semua Rintangan yang Menghadangimu?

---

Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Kutipan di atas sedang bicara apa?

Hahaha!

Kebijaksanaan Buddha akan Kesetaraan dengan tambahan bumbu Kebijaksanaan Pengamatan yang Tajam juga! :)

Bila kita melihat para VIP spesial yang berisikan sekelompok professor elit, yang “disusun” oleh Shi-mu, sang gurudhara, bukankah malah menentang Pentingnya Kesetaraan tersebut?

Kesetaraan adalah syarat bagi mereka yang bercita-cita atau berlatih untuk menjadi Buddha!

Dan ia adalah karakteristik utama dari semua Buddha, serta salah satu Bentuk dari Bodhicitta juga!


Sedari awal, aku, Lotuschef, selalu menjelaskan mengenai VIP, VVIP, dan berbagai Hak Khusus yang mereka minta dan sepelekan demi Status dalam Hidup mereka, adalah bagai mengadu dan melawan Filosofi dan Dharma Buddha itu sendiri.

Hahaha!
Namun banyak orang menganggapku gila dan edan!

Berhubung kini Guru telah mengajarkan Dharma Maha Kesempurnaan yang beliau katakan sama dengan agama Buddha aliran Zen, di sini aku dengan tulus berharap bahwa semua murid Padmakumara, Buddha Hidup Lian Sheng, mulai menyadari bahwa pencapaian Kebuddhaan di dalam agama Buddha TIDAKLAH BERGANTUNG pada tingginya statusmu dalam Hidup ini!

Bagaimana halnya dengan mereka yang menciptakan Kepalsuan semacam ini?
Guru-pun berkali-kali mengatakan: 因果自负  Karma adalah Tanggungan Individu yang Bersangkutan!
Beliau juga mengatakan: Kalau tak mampu menyelamatkanmu dalam kehidupan ini, maka akan menunggu di kehidupan selanjutnya saat Jodohmu telah Matang!



Kini menjawab mereka yang kehilangan Iman dan Kepercayaan pada Guru karena mereka selalu melihat orang-orang antik yang menciptakan Jurang Pemisah, Diferensiasi, Ketidaksetaraan, hingga menyebabkan banyak orang jadi tak bahagia – mereka yang antik itu adalah orang-orang dengan pikiran awam dan pasti akan jatuh ke 3 Alam Rendah, atau bahkan Neraka Vajra karena perbuatannya sendiri!

Kembalilah segera ke rangkulan Padmakumara, Buddha Hidup Lian Sheng!

Dan teman-teman pembaca setia blog-ku dan suka akan apa yang aku tuliskan di sana, mari jadilah teman-teman murid bersamaku!

Berlindunglah (bersarana) segera pada Padmakumara, Buddha Hidup Lian Sheng!

Oh, dan pastikan Buddha Hidup Lian Sheng adalah Mahaguru Lu Sheng Yan!
Jangan biarkan para penipu membohongimu!



Mereka yang berpikir kalau namanya disebut oleh Guru adalah hal yang bagus karena merasa “Elit”, hahaha, mohon dipikirkan ulang.
Sudah pernahkah kamu benar-benar berkontribusi dalam Pembabaran Dharma untuk Memberi Manfaat bagi para insan?

Oh ingatkah teman-teman tentang insiden saat Guru mengeluarkan selembar NTD 100?

Beliau bilang bahwa itu hanyalah KERTAS!

Kini sadarkah maksud beliau setelah beliau mengajarkan Dharma Maha Kesempurnaan?

Hehe!

Sekarang ini melihat rumah ibadah setempat mengusulkan untuk membangun sebuah vihara untuk atraksi turis, VIP seperti para pejabat pemerintah, politikus, bankir, pengacara, dokter, dll., sungguhlah sebuah ide menakjubkan dari seorang VM LH!

Aku bilang: Saat ada para insan yang butuh diselamatkan dengan Buddha Dharma, maka para dewata akan memilih seseorang atau sekelompok Yogi Sejati untuk mendirikan bangunan yang relevan untuk memfasilitasi kebutuhan yang bersangkutan!
Setujukah?


Dalam kasus ini, rumah ibadah yang bersangkutan akan dibangun dengan mudah dan hanya membutuhkan usaha manual yang sangat kecil!



Vihara Pure Karma dengan Wujud dan Tanpa Wujud, tersebar di segala penjuru ribuan dunia!
Dan buka 24/7 untuk semua insan yang berjodoh “memasukinya” atas kemauan sendiri. :)


Tak perlu mendesain rencana penipuan untuk menggalang dana Pembangunan Vihara!!!

Hahaha!

Selamat melatih diri!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotsuchef


Disunting dari Jurnal Lotuschef



Related Posts: