Showing posts with label Kumpulan Artikel Mahaguru Lu. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Artikel Mahaguru Lu. Show all posts

Sunday, October 28, 2012

Prinsip-prinsip Utama Sheng-yen Lu


Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 22 Oktober 2012
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: Lu Sheng Yan’s Key Principles
Artikel sumber: 盧勝彥的心要 - 第一篇——序曲

Sheng-yen Lu, Buku No. 96, Bab 1 – Pengantar


[1] Buddha Shakyamuni muncul di dunia karena Karma persoalan duniawi. Demikian juga aku (Buddha Hidup Lian Sheng), muncul di dunia karena jodoh (afinitas) duniawi yang agung.

Dunia boleh saja mencemooh:
“Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu, mana bisa bisa dibandingkan dengan mereka yang maha suci!”

“Sungguh, sungguh, aku memberitahumu: {Aku adalah seorang Buddha}.”

Kita ini belajar agama Buddha, maka pasti akan menjadi seorang Buddha, kalau aku bukan “Buddha” lalu siapakah aku?

Para insan, janganlah meremehkan dirimu sendiri, saat tercerahkan tentunya menjadi Buddha, kalau bingung/tersesat maka tetap menjadi insan biasa. Kita masing-masing ini, bicara secara luas, adalah Buddha.

Afinitas dunia yang penting:
Mempelopori/membuka jalan menuju Kebuddhaan, menampakkan Sifat Sejati Kebuddhaan, mencapai Kebijaksanaan Pencerahan yang Sejati, dan menjadi Buddha. Melebur ke dalam alam-alam Buddha dengan mendalam.

Maka aku memberitahu kalian semua: “Aku adalah seorang Buddha.”


[2] Jangan melakukan kejahatan, lakukan semua hal yang baik, dan sucikanlah pikiranmu; inilah ajaran Sang Buddha.

Dua yang pertama “tidak melakukan kejahatan, dan melakukan semua kebaikan” adalah eksoterik. Sedangkan yang terakhir “sucikanlah pikiranmu” adalah buddhisme esoterik atau Tantra.

Tantra adalah Penyucian Tubuh – Ucapan – dan Pikiran. Sebenarnya ketiga hal ini adalah SATU adanya, karena saat Hati/Pikiran telah tersucikan, maka otomatis Tubuh dan Ucapan juga tersucikan.

Jadi, menyucikan pikiran adalah Tantra.

Ajaran rahasia Tantra, tujuan akhirnya adalah untuk {Menyucikan pikiran sendiri}.


[3] Dalam hidupku ini – dipengaruhi oleh cara pikir buddhis tradisional yang kontroversial, kemudian juga mengalami fitnahan yang terbesar, dan dikucilkan oleh dunia religius.

Tapi sejujurnya aku beritahukan kepada kalian semua:
Dari perspektif diri maupun orang lain, sebenarnya aku tak pernah bersengeketa dengan siapapun, tak ada seorangpun yang memfitnahku, tak ada yang mengucilkanku.

Apa yang aku, Buddha Hidup Lian-sheng, katakan adalah dari dalam hati dan jiwaku. Aku punya Kedamaian Abadi, Kebijaksanaan Tertinggi yang tak tertandingi, semua fitnah dan penolakan juga tak ada yang bisa mempengaruhiku.

Oleh karenanya, ini sama artinya dengan [tak ada seorangpun yang  pernah bersengketa, memfitnah, ataupun menolak diriku.]


[4] Ordo Satya Buddha-ku adalah aliran yang “asli” (otentik).
Karena “tidak ada sektarianisme”. Sektarianisme adalah kamp kecil yang labil.
[Catatan penerjemah: Sektarianisme – adalah pikiran sempit yang melekat pada sebuah partai atau denominasi atau aliran tertentu.]

Gerbang Kristen. Gerbang Katolik. Gerbang Islam. Aliran-aliran Buddhis juga punya banyak pintu gerbang.
Hanya Ordo Satya Buddha saja yang melebur semuanya dengan harmonis dan tidak mengucilkan ordo-ordo lainnya. Kita menerima dan memeluk mereka semuanya.


Alam Dharma banyaknya tak terhingga, begitu juga Satya Buddha juga tak berpintu.

Kemurahan hati-Ku (Buddha Hidup Lian-sheng) juga luar biasa tak terukur.

Sikapku terhadap berbagai agama dan aliran lain adalah:
Menggunakan (agama) dengan efisien; digunakan supaya bisa memberi manfaat; digunakan dengan sebaik-baiknya; digunakan dengan menyesuaikan situasi sehingga tahu manfaat apa yang bisa dipetik darinya.

Aku juga membagikan dharma sesuai dengan kebutuhan (kapasitas) masing-masing individu.


Beberapa orang berkata: “Ordo Satya Buddha ini kultus sesat!”

Namun sejujurnya aku memberitahu semuanya:
Kepada mereka yang perbuatannya jahat dan pandangannya menyimpang, kita perlu menggunakan persuasi yang baik daripada membabi buta menghajar mereka. Justru kelompok-kelompok seperti inilah yang perlu kita ajar dan selamatkan. [Catatan Lotuschef: ini adalah salah satu tugas saya dari Guru – untuk meyakinkan dan membujuk baik pihak Pemfitnah maupun para murid Satya Buddha supaya tidak saling menyerang, terutama hal ini ditujukan kepada Komite Pusat Satya Buddha!]

Ordo Satya Buddha ini memberi manfaat bagi semua insan, juga menyucikan seluruh dunia.

Kalau begitu di manakah yang namanya Jahat? Di manakah si Sesat (thirtika) berada?


[5] Tidak melakukan kejahatan, dan melakukan semuanya yang baik – dengan ini pasti bisa naik ke alam surga. Hampir semua agama juga punya konsep seperti ini.

Tidak melakukan kejahatan, dalam agama Buddha dibagi menjadi lima komponen: Membunuh, Mencuri, Sex yang menyimpang, Berbohong, Minum (minuman keras hingga mabuk).

Kemudian Lima Kejahatan dirubah menjadi Lima Kebajikan, mereka adalah: Pengetahuan, Kebenaran, Minat, Fleksibilitas, Welas Asih – inilah kebajikan dasar dari seorang sadhaka.


Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, berkata:

Tidak melakukan kejahatan, tapi melakukan semua kebajikan – akan naik ke alam surga.

Bila kekacauan tidak mempengaruhi hatinya – maka naik ke Dewachen (Surga Barat/Sukhawati).

Bila Tubuh, Ucapan, dan Pikirannya tersucikan – sama artinya dengan mencapai Kebuddhaan dengan segera.


[6] Melatih Esoterik dan Eksoterik ada sedikit perbedaan:
Eksoterik adalah “mengikuti Dharma dan bukan bergantung pada si individu”.
Esoterik (Tantra) adalah “sesuai dengan Dharma dan si individu yang bersangkutan”.
Ini karena Tantrayana membutuhkan pemberkatan abhiseka dari Guru Akar barulah si praktisi bisa mencapai keberhasilan.


Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, mengenali 3 kelompok orang yang melatih Tantra tapi tak akan mencapai keberhasilan:

Yang pertama adalah yang meragukan dirinya sendiri – ragu bahwa dirinya bukanlah Buddha, mengira dirinya sendiri tak akan bisa menjadi Buddha, ragu kalau dirinya sendiri tak punya potensi untuk menjadi Buddha.

Yang ke-dua, meragukan Gurunya – keraguannya ini akan menyebabkan hilangnya penghormatan dan kepatuhan, tentu saja tak bisa mendapatkan pemberkatan dari sang Guru Akar, dan dengan ini tak akan mendapatkan keberhasilan.

Orang yang ke-tiga, meragukan Dharma Tantra – karena keraguannya ini maka ia tak dapat melatih secara mendalam, dan karena tidak bisa mendalam maka ia tak bisa MENGGUNAKANNYA; oleh karenanya ia melatih dengan sia-sia karena tak ada manfaatnya?


Maka di sini aku menjamin: Mereka yang yakin bahwa dirinya adalah Buddha; juga menghormati Buddha Hidup Lian-sheng Lu Sheng Yen; punya iman yang kokoh pada Dharma Tantra Satya Buddha dan melatihnya sehari sekali, tekun dan tak mundur; tidak ada satupun yang dimelekatinya – pasti akan mencapai Kebuddhaan.


[7] Zen ada sesuatu yang dinamakan {meragukan dan menebak}!

Keraguan besar adalah pencerahan.
Keraguan kecil maka tak tercerahkan.
Tidak ada keraguan maka tak ada pencerahan.

Buddha Shakyamuni mengajak para sadhaka untuk {meragukan dan menebak}, kenapa demikian?

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, menjawabnya:

Di sini, ragu bukanlah akan Diri Sendiri, Guru, ataupun Dharma. Ia adalah pelatihan [Kontemplatif/Merenung]; yang berarti senang mempelajari semua Dharma Buddha beserta filosofi-filosofi di baliknya; mencari tahu dan merenungkannya dengan mendalam sehingga mendapatkan kebenaran yang lebih lengkap dan sejati – dari merenung lalu menginterpretasikannya dan kemudian tercerahkan.


[8] Dharma Buddha begitu luasnya, lalu bagaimana caranya belajar dan melatihnya?

Banyak umat Buddha yang mulai belajar dengan tekun, namun saat memasuki lautan Dharma, mulailah mereka menyadari betapa besar dan luasnya Buddha Dharma – tak terukur, tak terselami, kaget, tak tahu harus mulai dari mana supaya bisa memahami dengan sempurna, akhirnya malah jadi tidak mendengarkan, tak berpikir, tak melatih diri, menyerah di sana, dan tak mau belajar lagi.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, menyarankan:
Saat masih muda – belajarlah sebanyak-banyaknya.
Saat usia pertengahan – dalamilah satu sadhana saja.
Saat usia tua – latihlah saja sadhana untuk terlahir kembali.

Kalau kamu berpikir [Belajarlah sebanyak-banyaknya] sungguh rumit, sehingga tak bisa menyelami Dharma, kenapa tak bertanya saja pada Guru Akar untuk sebuah sadhana, dan kemudian melatihnya sepanjang hidupmu. Mendalami Satu sadhana sudahlah cukup.

Begitu kamu berhasil melatih satu sadhana, artinya sama dengan berhasil melatih semuanya. Oleh karenanya, aku secara pribadi merasa bahwa “mendalami satu sadhana” adalah hal yang terpenting!

Belajar sebanyak-banyaknya tapi tidak dilatih, bagaikan orang yang hanya melihat makanan enak tapi tidak turut memakannya, sama saja tak ada manfaatnya.

Bagi orang tua, selama [hatinya tak kacau] dan melatih sadhana Kelahiran Kembali, itu sudahlah cukup.


[9] Padmasambhava berkata: Hormatilah Gurumu, Hargailah Dharma (yang diajarkannya), dan Berlatihlah dengan tekun.

Aku mengatakan: “Kalau bisa digunakan, baru akan menjadi orang yang tercerahkan!”

Teori Zhi-du mengatakan:
Dharma adalah rute/jalan yang sangat berharga.
Akan menjadi tidak berharga kalau tidak dilatih.
Tapi kalau bisa melatihnya dengan tekun, meski tidak berpengetahuan luas, setidaknya bisa memasuki jalan (dharma) dulu.


[10] Aku sering berpikir, kenapa aku harus melatih diri? Karena aku menyadari:
Pentingnya Hidup dan Mati.
Betapa cepatnya ketidakkekalan datang.

Dan aku, Buddha Hidup Lian-sheng, memahami beberapa Kebenaran dari pengalaman-pengalaman hidup bahwa:
  • Penderitaan berarti: Menderita karena Lahir – Tua – Sakit – Berpisah dengan yang dicintai – Kebencian – Hal-hal yang tak tercapai – Lima indera yang bermasalah [inilah 8 penderitaan].
  • Ilusi berarti: hidup ini tidak nyata atau ilusi belaka.
  • Ketidakkekalan: Bila ada jodoh (afinitas) maka akan Muncul, saat jodoh habis maka akan Menghilang. Semua fenomena ini silih berganti dengan cepat.
Aku memahami [8 Penderitaan Kehidupan] ini, dan “semuanya adalah ilusi”, serta [ketidakkekalan yang datang dengan cepat], supaya bisa mempunyai hati yang suci dan pikiran yang waspada, oleh karenanya aku merasa bahwa [melatih diri] adalah hal yang paling penting di dalam hidup ini.


[11] Dalam bukuku, [Firman-firman Emas dari Lu Sheng Yen], aku pernah menuliskan:
Buddha Shakyamuni memberikan vyakarana kepada Devadatta sebagai pemberkatan akan pencapaian kebuddhaan-nya, dan pada saat yang sama juga berterima kasih kepadanya atas penganiayaannya.

Aku juga sama halnya mengikuti ajaran-ajaran suci Buddha Sakyamuni,

Mengucapkan terima kasih:
Salut kepada para Pendeta Agung atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada orang awam yang besar atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada setan (mara) langit yang agung atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut kepada setan manusia yang besar atas pemberkatannya yang berkebalikan.
Salut karena tidak menyalahkan maksud dari para setan yang memberikan berkat.

Dengan tulus aku berterima kasih atas semua pemberkatan yang berkebalikan, bahkan dengan adanya permberkatan semacam itu aku akan menjadi lebih tekun, itulah kenapa hingga hari ini aku bisa menunjukkan hasil dari pelatihan {mengkhususkan diri pada Satu}. Tanpa pemberkatan yang berkebalikan, pasti akan mudah goyah.


[12] “Sadhana Tantra Satya Buddha” selaras dengan tiga rahasia untuk mencapai Kebuddhaan, tiga rahasia tersebut adalah:
  1. Tubuh – selaras dengan mudra.
  2. Ucapan – selaras dengan mantra.
  3. Pikiran – selaras dengan visualisasi.
“Mudra” melambangkan mudra tubuh sang yidam.
“Mantra” menyimbolkan keberhasilan sang yidam dan tingkat harta dharma-nya di saat itu.
“Visualisasi” mewakili isi pikiran dan kekuatan pikiran sang yidam.

Kunci yang terpenting dalam “Tantra Satya Buddha” adalah:
Pertama: Padatkan (fokuskan) berbagai macam pikiran yang bercabang ataupun gangguan menjadi SATU.
Ke-dua: Rubahlah Satu Pikiran menjadi Tiada Pikiran.
Ke-tiga: Pahamilah bahwa Tiada Pikiran itu artinya sama dengan Alam Semesta yang Kosong.

Inilah yang dimaksud,  dari Mudra – Mantra – Visualisasi, kemudian dihubungkan ke dalam Meditasi Samadhi, dan akhirnya mencapai kondisi yang tertinggi yaitu Kebuddhaan. Inilah sadhana tantra Satya Buddha.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, sungguh-sungguh memberitahu semua bahwa dengan [Tantra Tertinggi] di sana ada:
  1. Kesatuan Spiritual – bersih, terang, mengalir dengan mulus (merujuk pada Citarasa Dharma).
  2. Tiada Pikiran – semua elemen kehidupan mengalir kembali (ke arah sebaliknya).
  3. Kekosongan Universal – segera mencapai Kebuddhaan.
Aku merasa bahwa saat aku memegang kendali atas situasi, semuanya berjalan dengan “otomatis”, inilah tantra tertinggi! Saat memasuki Samadhi, “energi” tubuh kita secara alamiah akan mengalir kembali dan menjadi terfokus.

Tinggal di dalam Kekosongan Semesta (Sifat Sejati Buddha), maka sifat sejati diri sendiri akan muncul secara otomatis, menunjukkan sifat kebuddhaan-nya.


[13] Aku ingin mengungkapkan “kunci kebijaksanaan terunggul” ini kepada semua insan sejelas-jelasnya – bahwa sadhana di dalam Tantra terbagi menjadi bagian “awal, inti, dan akhir”.

Bagian yang terpenting adalah bagian sadhana inti.
Ia adalah Visualisasi – Mudra – dan memasuki Samadhi.

Visualisasi: Dengan pikiran menghentikan pikiran-pikiran lain.
Mantra: Mengundang yidam untuk melebur (menyatu) dengan diriku, dan aku kemudian melebur dengan sang yidam.
Memasuki Samadhi: Melebur ke dalam Kedamaian.

Pada bagian Inti, ada banyak kunci-kunci penting yang harus dipersiapkan untuk menuju Kebudhaan sebagai titik akhirnya, mereka adalah {melebur menjadi Satu}, {merubah menjadi Tiada Pikiran}, {menjadi setara dengan Kekosongan Universal}, dan pada akhirnya untuk {mencapai Kebuddhaan dengan segera}.

Kunci-kunci utamaku adalah sebagai berikut:
Nadi dengan nadi saling terhubung.
Qi atau Prana melebur dengan Prana.
Titik-titik Cahaya Bindu saling melebur.
Sinar yang muncul saling bertransformasi.

Aku, Buddha Hidup Lian-sheng, dengan [Prana, Nadi, Bindu] dalam tubuhku sendiri, melatih untuk [memasuki arus dharma]; [tinggal di dalam kesucian]; [menjaga penyatuan yang harmonis]; benar-benar menembusi semua nadi internal dan eksternal. Kunci-kunci ini akan aku ungkapkan satu demi satu di dalam buku ini.

===

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom.

Sunday, March 18, 2012

Kencing di atas kepala Lu Sheng Yen


Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber:


Diambil dari Buku No.23 – Cerita-cerita Pengalaman Spiritual Yang Sangat Menakjubkan
“Kencing di atas kepala Lu Sheng Yen”, dari halaman 74-77
Ditulis oleh Mahaguru Sheng-yen Lu
Diterjemahkan dari naskah asli oleh Lotuschef – 17 Agustus 2011



Ringkasan:
[Artikel ini ditulis dengan gaya sudut pandang orang pertama seperti pada artikel aslinya.]



Dua hari sebelum melakukan inaugurasi vihara Satya Buddha yangbaru, kaki sebelah kiriku terluka, sehingga aku berjalan dengan agak pincang. [Ini adalah firasat pertama.]

Di hari inaugurasi, aku duduk di kursi “naga”.  Sandaran tangannya terbuat dari ukiran kepala naga dan kumisnya terbuat dari kawat tembaga. Setelah duduk, aku sandarkan tanganku di atasnya.

Tapi tanganku kemudian tergores oleh kumis kawat ini dan saat kuangkat untuk dilihat dengan lebih dekat, ada tetesan-tetesan darah karena goresan tadi.

Wah! Ini menyebabkan tubuh Buddha terluka (berdarah).

Aku tetap bertahan dan tidak menunjukkan luka ini. Aku tetap meneruskan memberikan ceramah dharma.



Tapi aku mendapat beberapa pertanda lagi. [Ini adalah pertanda kedua.]

Tidak lama setelah insiden tadi, saat sedang bermeditasi, aku melihat seorang Vajra Acharya yang merupakan kepala vihara dari salah satu vihara Satya Buddha. Ia berdiri di atas kepalaku, membuka kancing celananya dan mengencingiku.

Sungguh-sungguh kencing di atas kepala Lu Sheng Yen.

Aku merasa ini bukan pertanda yang baik. [ini adalah pertanda yang ketiga.]



Aku pada dasarnya adalah orang yang jujur dan mudah percaya, jadi juga dengan mudah dikhianati.

Aku sebaik mungkin berusaha untuk mempercayai orang-orang namun sering dikhianati oleh mereka juga.

Aku punya filosofi bahwa semua mahluk itu baik. Karena hidup di alam samsara, maka tak terelakkan punya kemelekatan/keinginan untuk menang (mengalahkan yang lain).

Kemelekatan ego seperti ini akan menjadi Keserakahan, Kebencian dan Kebodohan.

Kita para sadhaka harus bisa mencintai insan lain daripada diri sendiri.

Ini adalah Empat Macam Bodhicitta: Aspirasi, Tujuan Suci nan Mulia, Matang Sepenuhnya, Bodhicitta yang Tak Terkaburkan (Kebenaran Tertinggi).

Meski aku sering dikhianati oleh orang lain, aku tidak mengeluh, sebaliknya aku berharap mereka memahami hatiku dan merubah sifatnya yang terlalu mencintai diri sendiri menjadi mencintai semua mahluk.



Vajragarbha XX ini. Vajra Acharya XX ini. Enyahkanlah nafsumu, ai! (mendesah)

Beberapa hari ini, di dalam meditasiku, aku melihat seorang Vajra Acharya lain yang mendaki hingga ke atas kepalaku. Ia berdiri tegak, menggunakan tangannya untuk menyeka baju lhama-nya dan kencing di atas kepalaku.

Ai! (mengeluh). Ternyata ada lagi. [Firasatku muncul lagi.]

Aku harap semua murid Satya Buddha yang suci bisa mematuhi “14 mula sila Tantrayana”, “50 sila pengabdian kepada Guru”, …..

Dengan tekun membaca dan mematuhi doktrin-doktrin sila.

Berusaha menghindari pelanggaran terhadap doktrin sila tersebut supaya tidak terjatuh ke tiga alam rendah dan tidak bisa terbebas lagi.

Para murid yang suci. Berhati-hatilah! Berhati-hatilah!


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016

Saturday, March 17, 2012

Dalam Sebuah Kedipan Mata


  • Buku 155 – Kecermelangan Sinar Rembulan (The Brilliance of Moonlight) – Tahun-tahun menyepi di sebuah rumah gubuk kecil

  • Ditulis oleh : Buddha Hidup Lian Sheng, Sheng-Yen Lu

  • Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh : Lorraine Choon

  • Terjemahan dalam Bahasa Inggris disunting oleh : May Kwan

  • Terjemahan dalam Bahasa Inggris dikoreksi oleh : Mimosa

  • Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh : Lotus Junhao

  • Pranala ke Artikel dalam Bahasa Inggris : In a twinkling of an eye

Mother Bodhisattva (Shi Ma Pu Sa)


Bab 29 : Dalam sebuah kedipan mata

Suatu malam, ibu Saya, Lu Yu Nu (Mother Bodhisattva) mendadak muncul. Ibu Saya telah meninggal empat tahun silam. Waktu telah berlalu sedemikian rupa.

Ibu bertanya kepada-Ku, ”Berapa umur-Mu ketika meninggalkan Taiwan dan berangkat menuju Amerika?”

”Saat itu tepatnya pada tanggal 16 Juni dan umur-Ku adalah 38 tahun.” Saya mengingatnya dengan jelas.

”Berapa umur-Mu sekarang?”

”Lima puluh delapan tahun,” Saya jawab sambil menghembuskan nafas panjang.

Ibu bertanya kepada-Ku, ”Bagaimana tahun-tahun Mu di Seattle, Amerika?”

Saya terkejut dan kemudian menjawab : ”Dalam sebuah kedipan mata.”

Ibu kemudian bertanya, ”Berapa kedipan yang kamu miliki”

Saya menghitungnya dalam hati: ”Jika sebuah kedipan dianggap ’dua puluh tahun’ maka saya telah berkedip tiga kali. Menambah kedipan lainnya akan berarti genap delapan puluh tahun, begitu saja, sudah hampir delapan puluh tahun. Menakutkan.”

Ibu bertanya kepada-Ku lagi, ”Dapatkah Engkau hidup sampai delapan puluh tahun? Hidup dalam sebuah kedipan mata lainnya?”

Saya tidak mampu berkata apapun. ”Tidak seorang pun memiliki kemampuan untuk meramalkan berapa lama usia seseorang. Bahkan kalaupun Saya dapat melakukannya, lalu hendak apa?”

Ibu berkata,”Kakek-Mu, Lu Chang, meninggal di usia 74 tahun dan saya hidup sampai berusia 73 tahun. Pikirkanlah hal tersebut, hanya berapa kedipan lagi yang dapat Engkau miliki untuk diri-Mu?”

”Sungguh, tidak ada lagi.” Saya menjawab.

Ibu (Mother Bodhisattva) memberitahukan-Ku, ”Dalam dunia samsara, umat awam khawatir dengan usia kehidupan yang pendek dan hanya berdiam sementara dalam waktu yang singkat saja. Waktu melesat bagaikan roket, seperti sebuah kedipan mata. Begitupun, ketika Engkau mendorong mereka (umat awam) untuk menekuni Buddhisme, mereka akan malas dan kebingungan. Waktu bagi mereka digunakan untuk menghasilkan uang, membangun karir mereka dan menghidupi keluarganya. Hal ini baik tetapi beberapa orang menggunakan waktunya untuk mengobrol dan bermain. Lebih buruknya adalah ketika waktu digunakan untuk bersosialisasi tiada akhir dan dihamburkan begitu saja. Waktu senantiasa bergerak dan kamu tidak akan pernah dapat menghentikan pergerakannya. Pada akhirnya, yang tersisa bagi mereka (umat awam) hanyalah kesedihan yang tak terhitung dan kenangan-kenangan yang berlalu.

Ibu bertanya kepada-Ku, ”Apa yang akan kamu lakukan ketika cuaca panas?”

”Di sini? Saya akan berenang.” Saya menjawab.

”Ketika cuaca sejuk?”

”Saya akan mengenakan lapisan baju tambahan lainnya.”

”Ketika lapar?”

”Saya akan makan.”

”Ketika sakit?”

”Saya akan meminum obat.”

Ibu (Mother Bodhisattva) berkata, ”Orang tidak akan menunda-nunda permasalahan yang yang baru saja kita bahas di atas ataupun mereka akan mencari-cari alasan. Mereka akan langsung menyelesaikan masalah demikian, karena sangatlah alamiah bagi mereka untuk melakukannya. Engkau dapat memberitahukan bahwa sesungguhnya mereka bekerja sangat keras untuk bertahan hidup dan pasti akan berjuang untuknya. Bagaimanapun juga, ketika tiba saatnya untuk menekuni Buddhisme, orang-orang tidak akan menyadarinya. Oleh karena itu, ketika tiba saatnya untuk berlatih, mereka akan mencari-cari alasan untuk menundanya. Mereka akan berpikir bahwa hal tersebut sifatnya tidak mendesak dan tidak perlu untuk terburu-buru, mereka lebih menyukai untuk menunggu. Pelatihan Buddhisme seperti ini akan tertinggal di belakang. Kemudian, dalam sebuah kedipan mata, kematian akan datang. Orang tidak akan bangun tetapi mereka akan jatuh. Banyak orang seperti ini.”

Saya mengerti kekhawatiran Mother Bodhisattva.

Ibu memberitahukan-Ku, ”Jagalah ”kedipan waktu-Mu” seperti Engkau menjaga milik-Mu yang berharga.” Beliau melanjutkan, ”Hidup menyepi dan terpisah dari dunia luar adalah yang terbaik dari semuanya.

Ibu berkata,”Orang yang pintar adalah orang yang dengan patuh menyelesaikan pelatihan harian mereka. Setiap hari, haruslah berlatih dengan tekun dan memberantas pikiran-pikiran yang tidak bajik. Perhatikan enerji, bedakanlah yang mana enerji yang menyucikan dan yang mana enerji yang berbahaya bagi kesehatan dan tubuh seseorang. Belajarlah untuk menjalani kehidupan dengan pikiran yang damai dan tenang. Seseorang haruslah senantiasa berwaspada terhadap kematian dan karenanya harus gigih mengumpulkan kebajikan selama masih hidup, jadi tidak akan ada penyesalan ketika saatnya tiba. Akan sangat terlambat dan sia-sia berusaha jika saat nya telah tiba."

Ibu mengakhirinya, ”Masa muda dan kesehatan tidak akan bertahan sepanjang masa, penuaan dan penyakitan sedang mendekati. Hal tersebut terjadi hanyalah dalam sebuah kedipan mata.

Saat Saya sedang memikirkan sebuah kedipan, Ibu-Ku ternyata telah meninggalkan gubuk kecil-Ku yang terpencil dalam sebuah kedipan mata.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Edited 2 July 2016