Showing posts with label milarepa. Show all posts
Showing posts with label milarepa. Show all posts
Saturday, August 19, 2017
Sutra Avatamsaka, Buku 3 – Mahluk Tercerahkan, Meditasi dari Samantabhadra [Ulasan]
Ditulis oleh Lotuschef – 23 Mei 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Avatamsaka Sutra Book 3 – Enlightened Being, Samantabhadra's Meditation [Review]
Teman-teman sudah membaca Buku ke-3 dari sutra ini? :)
Mengenai Meditasi pencerahan dari Samantabhadra; yang ditransmisikan oleh para Buddha kepadanya, dan juga 10 janji agungnya.
Ada satu hal yang menarik mengenai Mo-ding (Jamah Kepala) di sini!
[--- Di saat ini, para Buddha dari 10 penjuru, masing-masing mengulurkan tangan kanannya untuk memberkati Samantabhadra dengan menyentuh ujung kepalanya.
是时,十方诸佛,各舒右手,摩普贤菩萨顶。 ---]
Ingatkah Guru pernah bilang bahwa saat memberikan berkat jamah kepala kepada orang-orang, beliau mengundang Yidam atau para Yidam-nya dan tanpa henti menjapa mantranya dalam hati untuk menyalurkan “berkat” dari Alam Semesta kepada semua orang?
Hahaha!
Visualisasikan semua Buddha merentangkan tangan kanan mereka untuk memberkati Mahaguru, seorang yang telah tercerahkan, dan Mahaguru kemudian menyalurkan berkat tersebut kepada kita semua, dengan kedua tangannya!
Bukankah menakjubkan?
Bermandikan Pemberkatan Alam Semesta melalui Sang Guru Akar!!!
Hahaha! Bukankah hal ini hanya mungkin terjadi saat yang memberikan berkat Telah Tercerahkan Sepenuhnya dan memiliki berkat dan “dukungan” dari para Buddha?
Mahaguru katakan: Para Buddha yang sejati dari Ordo Satya (Sejati) Buddha!
Apakah ada orang yang bisa duduk di atas tahta seorang buddha sejati saat ia bahkan masih belum mencapai Guru Yoga?
Hahaha!
Sudah pasti TIDAK!
Di blog ini ada artikel Mencuri Harta Semesta dan Menjual Harta Semesta, kamu sudah membacanya? :)
Berkat Jamah kepala? Bila orang yang mencoba melakukannya tak punya wewenang dari Alam Semesta, yang ada malah ia menyedot energi positif darimu untuk menyeimbangkan energi negatif yang ada di dalam dirinya saat mereka mempraktikkan ilmu hitam!
Ya! Orang-orang yang mempraktikkan ilmu hitam punya sifat mendominasi, kejam, licik, dan bengis.
Sering kali mata mereka besar dan memberimu perasaan menyeramkan pula!
Percayalah pada indera ke-6-mu dan segera LARI SELAMATKAN DIRIMU!
Hahaha! Aku tak bohong!
Sudah pernah membaca kisah Milarepa?
Pada awalnya ia mempraktikkan Ilmu Hitam untuk membalas dendam kepada paman dan bibinya, yang mencuri kekayaan keluarganya dan mengusir ibunya, adiknya, dan juga dirinya. Si paman dan bibi membuat mereka miskin papa dan harus menjadi pembantu untuk bertahan hidup.
Marpa, sang guru-nya, tidak mengajarinya apapun di saat awal karena beliau ingin membersihkan karma buruk Milarepa yang berat. Oleh karenanya Milarepa melewati berbagai macam kesulitan di dalam masa-masa sadhana-nya.
Salah satu artikel Mahaguru mengenai kehidupan lampaunya adalah beliau sebagai Raja Ashoka.
Istri dan anaknya menyimpan dendam kepadanya dan beliau berkata sepertinya Sejarah terulang kembali di saat ini.
Pahamilah bila si istri dan anak tidak bersadhana dan belajar Merelakan Racun Kebencian terhadap “Raja Ashoka”; hasrat membalas dendam; namun terus mempertahankan “kebodohan” mereka sehingga menjauhkan diri sendiri dari kesempatan penyelamatan dan pembebasan dari Samsara, maka Guru juga tak punya pilihan lain selain mencoba dan “membahagiakan mereka”!
Guru juga katakan bahwa beliau telah berjanji kepada gurunya untuk tidak mematok harga untuk layanan-layanan yang diberikannya, namun hal ini tidak berlaku untuk orang lain!
Sama halnya, Guru perlu melakukan yang terbaik untuk menetralisir pengaruh dari karma masa lampaunya dengan para musuh karmanya, namun bukan berarti berbagai pengaruh tersebut lantas menjadi tanggung jawab semua muridnya.
Beliau mengatakan: Kamu harus tahu apa yang boleh kamu lakukan dan apa yang tidak boleh! :)
Hahaha! Jadi ada batasan tertentu terhadap “jumlah” yang seseorang harus bayar atas berbagai kesalahannya di masa lampau.
Seperti “Pon daging” berarti seberat Satu Pon, tidak lebih tidak kurang!
[William Shakespeare - The Merchant of Venice.]
Semoga kamu menikmati kisah-kisah di atas :)
Dan bacalah Buku ke-3 dari Sutra Avatamsaka serta temukan berbagai keajaiban di dalamnya.
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
avatamsaka,
Bahasa Indonesia,
jamah kepala,
Karma,
lotuschef,
milarepa,
moding,
raja ashoka,
samantabhadra
Monday, December 5, 2016
[Tidak Tahu Berpuas Diri] semuanya adalah mahluk mengerikan
Karya tulis Mahaguru Lu: 蓮生活佛 > 師尊文集 > 237_少少心懷 > 「不知足」的全是怪物
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan tambahan anotasi oleh Lotuschef – 2 Desember 2016
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lotus Nino
Sumber: 「不知足」的全是怪物 [Discontented] are all Monsters
Disclaimer:
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef.
Anda tentunya dipersilakan mempunyai pandangan dan interpretasi sendiri, terutama untuk bagian sajak dan arahan dharma yang diajarkan oleh Mahaguru Lu.
Ketidakpahaman pembaca atas terjemahan ini bukan merupakan tanggung jawab Lotuschef.
Salam Metta.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
蓮生活佛 > 師尊文集 > 237_少少心懷 > 「不知足」的全是怪物
我欣賞莊子的《逍遙遊》:
Aku mengagumi gaya <mengembara dengan riang> Zhuang-zi:
若夫乘天地之正,而御六氣之辯,以游無窮者。
我欣賞米勒日巴的《道歌》,且看:
Aku mengagumi <Kidung Tao> Milarepa, lihatlah:
如同逃離惡陷阱,
背離家鄉瑜伽樂。
如同駿馬脫韁繩,
脫離二取瑜伽樂。
如同野獸遭傷殘,
獨自安住瑜伽樂。
如同雄鷹擊長空,
觀察深遠瑜伽樂。
如同涼風穿虛空,
毫無遮止瑜伽樂。
如同牧童牧羊群,
牧守空淨瑜伽樂。
如同須彌福壽山,
永不變遷瑜伽樂。
如同大河水長流,
禪意綿綿瑜伽樂。
如同寒林一死尸,
拋捨萬物瑜伽樂。
如同巨石擲海中,
有去無回瑜伽樂。
如同虛空昇太陽,
光芒普照瑜伽樂。
如同多羅樹剪斷,
永無轉生瑜伽樂。
這「莊子」與「米勒日巴」有共同之點,他們主張逃離家的束縛。
[Zhuang-zi] & [Milarepa] ini punya hal yang mirip, mereka menggalakkan “melepaskan diri dari kekangan Rumah.”
所謂的家樂、所謂的財產、所謂的物質、所謂的名聲、所謂的親友,都看成陷阱及韁繩了。
Yang disebut sebagai rumah bahagia, warisan, materi, ketenaran, kerabat dan teman, semua dilihat sebagai perangkap dan tali yang menjerat.
他們認為: Mereka percaya bahwa:
「人為物役」最是俗物。
[Orang-orang bekerja keras demi materi] adalah materi dalam tingkatan yang paling duniawi.
要:
「不拘於物」最是逍遙。
Sehingga: [Tak dibatasi oleh materi] barulah yang paling bahagia dan tiada kekuatiran.
莊子與米勒日巴所追求的,正是無牽無掛、獨立自主、自在的人格。
他們認為一個人,被家束縛、被社會束縛、被國束縛,不如自由自在的投入大自然之中,這樣才叫著澄明透亮的逍遙。
我看到世人:
汲汲於追求事業的發展,追求擴大的企業,成為富豪排行榜上的名人,日日夜夜增長財產,多了還要更多。
這些財物的追求者,真是怪物。
又:
人人追求美色、追求帥哥美女,整型美容,這邊戀愛,那邊戀愛,不知節制,顛顛倒倒,一天到晚追尋感官的快樂。
這些美色的追求者,真是怪物。
又:
很多人追求聲名與地位,不擇任何手段,等到聲名與地位都得到了,也就是踏足於險地或陷入不利,無法脫身之時。
這些「財、名、色」的尋覓者,真是怪物。
他們每天自尋煩惱千千百百件,還不知足的繼續糾纏下去。
真是怪物啊!我說,在這地球上,小小的一個星球,卻住滿了很多奇形怪狀的怪物。
他們不知道,一切的一切,均是「無所得」嗎?
Mereka tak tahu bahwa segala hal [Tiada yang dicapai]?
「不知足」痛苦。
[Tidak merasa puas] merupakan penderitaan.
「知足」常樂,何不:
[Merasa puas] merupakan kebahagiaan yang kekal, oleh karenanya mengapa tidak:
寫少少文。Menulis sedikit karya tulis.
畫少少畫。Menggambar sedikit gambar.
修少少法。Melatih sedikit dharma.
這樣的人生才快樂喲! Demikian barulah hidup bisa bahagia.
~~~~~~~~~~~~
Hahaha!
Bila kamu menerjemahkan sisa artikel tersebut, kamu akan menyadari bahwa selama 40 tahun lebih ini, Mahaguru Lu telah memperingatkan berbagai hal yang perlu kamu hindari!
Intinya: Merelakan (melepaskan)!
Salam Metta
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Labels:
Bahasa Indonesia,
berpuas diri,
karya tulis mahaguru lu,
lotuschef,
melepaskan,
merelakan,
milarepa,
zhuang-zi
Friday, December 2, 2016
「不知足」的全是怪物 [Discontented] are all Monsters.
Terjemahan Bahasa: [Tidak Tahu Berpuas Diri] semuanya adalah mahluk mengerikan
Disclaimer:
English translation inserted by Lotuschef.
You are free to have other views & interpretation, especially in the poem and dharma directives shared by GM Lu.
Lotuschef should not be held responsible for others' failures to understand what is translated.
With Metta
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
I admire Zhuang-zi's <Carefree Wandering> :
若夫乘天地之正,而御六氣之辯,以游無窮者。
我欣賞米勒日巴的《道歌》,且看:
I admire Milarepa's <Path Song>, have a look:
如同逃離惡陷阱,
背離家鄉瑜伽樂。
如同駿馬脫韁繩,
脫離二取瑜伽樂。
如同野獸遭傷殘,
獨自安住瑜伽樂。
如同雄鷹擊長空,
觀察深遠瑜伽樂。
如同涼風穿虛空,
毫無遮止瑜伽樂。
如同牧童牧羊群,
牧守空淨瑜伽樂。
如同須彌福壽山,
永不變遷瑜伽樂。
如同大河水長流,
禪意綿綿瑜伽樂。
如同寒林一死尸,
拋捨萬物瑜伽樂。
如同巨石擲海中,
有去無回瑜伽樂。
如同虛空昇太陽,
光芒普照瑜伽樂。
如同多羅樹剪斷,
永無轉生瑜伽樂。
如同逃離惡陷阱,
背離家鄉瑜伽樂。
如同駿馬脫韁繩,
脫離二取瑜伽樂。
如同野獸遭傷殘,
獨自安住瑜伽樂。
如同雄鷹擊長空,
觀察深遠瑜伽樂。
如同涼風穿虛空,
毫無遮止瑜伽樂。
如同牧童牧羊群,
牧守空淨瑜伽樂。
如同須彌福壽山,
永不變遷瑜伽樂。
如同大河水長流,
禪意綿綿瑜伽樂。
如同寒林一死尸,
拋捨萬物瑜伽樂。
如同巨石擲海中,
有去無回瑜伽樂。
如同虛空昇太陽,
光芒普照瑜伽樂。
如同多羅樹剪斷,
永無轉生瑜伽樂。
這「莊子」與「米勒日巴」有共同之點,他們主張逃離家的束縛。
This [Zhuang-zi] & [Milarepa] have similar point, they promote escaping from the restraint of Home.
所謂的家樂、所謂的財產、所謂的物質、所謂的名聲、所謂的親友,都看成陷阱及韁繩了。
所謂的家樂、所謂的財產、所謂的物質、所謂的名聲、所謂的親友,都看成陷阱及韁繩了。
The so-call happy home, inheritance, material, fame, kins and friends, all perceived as traps and leashes.
他們認為:They believe:
「人為物役」最是俗物。
[People toil/slave for material] is the most mortal's material.
要:
「不拘於物」最是逍遙。
Must be: [Not restricted by material] then is most carefree.
莊子與米勒日巴所追求的,正是無牽無掛、獨立自主、自在的人格。
他們認為一個人,被家束縛、被社會束縛、被國束縛,不如自由自在的投入大自然之中,這樣才叫著澄明透亮的逍遙。
我看到世人:
汲汲於追求事業的發展,追求擴大的企業,成為富豪排行榜上的名人,日日夜夜增長財產,多了還要更多。
這些財物的追求者,真是怪物。
又:
人人追求美色、追求帥哥美女,整型美容,這邊戀愛,那邊戀愛,不知節制,顛顛倒倒,一天到晚追尋感官的快樂。
這些美色的追求者,真是怪物。
又:
很多人追求聲名與地位,不擇任何手段,等到聲名與地位都得到了,也就是踏足於險地或陷入不利,無法脫身之時。
這些「財、名、色」的尋覓者,真是怪物。
他們每天自尋煩惱千千百百件,還不知足的繼續糾纏下去。
真是怪物啊!我說,在這地球上,小小的一個星球,卻住滿了很多奇形怪狀的怪物。
他們不知道,一切的一切,均是「無所得」嗎?
They don't know that everything is [Not attainable]?
「不知足」痛苦。
「不知足」痛苦。
Discontentment is suffering.
「知足」常樂,何不:
「知足」常樂,何不:
[Contentment] is everlasting joy, why don't:
寫少少文。Write a little essays.
畫少少畫。Draw a little drawings.
修少少法。Cultivate a little dharma.
這樣的人生才快樂喲!
寫少少文。Write a little essays.
畫少少畫。Draw a little drawings.
修少少法。Cultivate a little dharma.
這樣的人生才快樂喲!
This way, life then can be happy!
~~~~~~~~~~~~
Hahaha!
If you translate the rest of this article, you will find these are what GM Lu has been cautioning all to steer clear off for the past 40+ years!
The Key: Let go!
With Metta
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Wednesday, December 10, 2014
Milarepa & Marpa
Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 21 November 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 密勒日巴与马尔巴 Milarepa & Marpa
Mengutip dari: Karma Kagyu > Lineage History > Milarepa
![]() |
| Jetsun Milarepa |
Ekstrak:
Milarepa menimpali: “Terima kasih atas berkat dari para Buddha, Bodhisattva, Lama Guru-ku dan istrinya, sehingga aku bisa mendapatkan secercah pengalaman, secercah realisasi.
Dengan tubuh yang telah matang seutuhnya ini, rupa fisikku ini, memang memungkinkan untuk mencapai Kebuddhaan.
Tubuh ini adalah perahu yang akan menyeberangkanku melewati Samsara menuju Kebuddhaan.
Namun, juga memungkinkan di mana aku bisa menggunakan tubuh ini untuk menumpuk karma buruk, dan nantinya terlahir kembali ke neraka.
Di sini ada sebuah pilihan.
Aku bisa mengarahkan pikiranku ke aktivitas yang positif dan mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan, atau aku bisa mengarahkannya ke aktivitas yang negatif dan menuju ke neraka.
Supaya mampu menyeberangi samudra samsara yang menakutkan ini, perlindungan satu-satunya adalah Buddha, Dharma, dan Sangha.
Aku berlindung (bersarana) kepada mereka.
Di antara ketiga aspek tersebut, yang terutama adalah Lama Guru.
Perlindungan akan datang lewat samaya dan iman kepada Lama Guru.
Juga ada empat pikiran yang membuka benak:
Kelahiran sebagai manusia yang sungguh berharga,
Ketidakkekalan,
Sebab dan akibat dari karma,
Dan tiada yang sempurna di samsara ini.
Merenungkan hal tersebut maka pikiran kita akan berpaling dari samsara.
Lalu kita membangkitkan bodhicitta, pikiran yang diarahkan kepada pencerahan, melatihnya dan melimpahkan semua pahala kemuliaannya demi memberi manfaat bagi semua insan.
Dengan cara ini, kita memasuki jalan Mahayana.”
(Milarepa masih menyambung pembicaraannya, tapi di atas adalah ringkasan pendek dari yang dibahasnya.)
![]() |
| Marpa Chokyi Lodro |
Di dalam tradisi Tibet, setelah seseorang menerima pengenalan sifat sejati pikiran, atau beberapa instruksi dari seorang Lama Guru dan melatihnya, ia mempersembahkan pengalaman realisasinya kepada Sang Lama.
Apapun yang terjadi di dalam pelatihannya, sebagaimana adanya, tidak dilebih-lebihkan atau ada yang terlupakan, ia akan menceritakannya kepada Sang Lama, bukan kepada orang lain.
Marpa sangat bersukacita akan cerita Milarepa berikut:
“Ini sungguh mulia. Kamu adalah seorang murid yang tangguh dan punya hubungan karma. Dan di masa mendatang,”
Marpa mengatakan, “Aku akan memberikan semua instruksi oral secara progresif, dan kamu harus mengabdikan seluruh jiwamu ke dalam sadhana-sadhana tersebut.”
Setelah merayakan keluarnya Milarepa dari tempat retret, Marpa memberinya lebih banyak instruksi secara privat untuk praktik meditasi selanjutnya.
Namun, belum lama setelah retret selanjutnya, seorang dakini berkulit biru dengan rambut, alis, dan bulu mata berwarna keemasan muncul di dalam mimpi Milarepa.
Ia mengatakan kepadanya, “Sungguh bagus kamu melatih Enam Yoga Naropa.
Tapi, ada satu ajaran yang belum didapatkan.
Ia dinamakan ‘Pencapaian Pencerahan Seketika.’
Ia semacam sadhana phowa yang memampukanmu untuk mengirimkan kesadaranmu ke tubuh lain setelah kamu meninggal dunia. Kamu harus meminta ajaran ini.”
Setelah memberikan saran tersebut, sang dakini menghilang.
Milarepa mendobrak dinding guanya dan pergi menemui Marpa. Marpa juga kaget saat melihatnya. “Loh, aku baru saja menyuruhmu memasuki retret, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa keluar secepat itu? Bukankah ini rintangan dalam sadhanamu?”
Milarepa menjelaskan kepadanya kalau seorang dakini menampakkan diri kepadanya dan memberitahunya bahwa sadhana phowa tersebut belum diterima dan ia diminta untuk memohon ajaran tersebut.
“Penampakan tersebut nyata atau tidak? Apakah merupakan rintangan atau bukan? Beritahulah aku,” ia bertanya.
Marpa menimpalinya, “Ini adalah nubuat sejati dari seorang dakini. Saat aku sedang bersama Naropa, beliau memang menceritakan sadhana phowa sejenis itu, tapi aku tak ingat apakah aku sudah menerima ajaran itu atau belum.”
Jadi mereka berdua mengeluarkan semua naskah yang telah Marpa bawa kembali dari India, dan menghabiskan berhari-hari mencari ajaran tersebut, tapi tetap tak bisa menemukannya.
Jadi Marpa kembali melakukan perjalanan yang berat ke India untuk bertemu dengan Naropa.
Marpa tak menemukannya di tempat biasanya ia berada, berhubung Naropa telah menjadi siddha dengan realisasi dan ia berpergian dengan leluasa. Namun ia berhasil menemukannya setelah mencari-carinya sekian lama, dan bersama dengan Naropa mereka pergi menuju Pullahari, di Utara Bodh Gaya, di mana Naropa punya lokasi untuk melakukan retret.
Di sanalah Marpa memohon Naropa untuk instruksi phowa.
Naropa bertanya: “Ini datang dari kamu sendiri? Apakah kamu ingin menerimanya, atau ini petunjuk dari seorang yidam yang memberitahumu untuk memohon?”
Dan Marpa mengatakan, “Bukan, ini bukan dariku. Aku tak menerimanya dari seorang yidam. Ini muridku Si Berita Baik.”
Naropa kemudian menangkupkan kedua telapan tangannya, dan membungkuk memberi hormat dengan menghadap arah Tibet, ia menjapakan empat baris sajak yang terkenal berikut:
“Di Utara di mana kabut kegelapan sangat tebal, bagaikan matahari yang cahayanya berkilau-kilau di atas salju, ada seseorang yang dinamakan Berita Baik; dan kepadanyalah aku membungkuk memberi hormatku.”
Dan dikatakan bahwa di Pullahari, semua pohon di sekitar area gubuk retret Naropa juga masih membungkuk ke arah Tibet.
Naropa menganugerahi Marpa dengan banyak ajaran lainnya, termasuk Silsilah Yang Dibisikkan oleh Para Dakini.
Ia meramalkan bahwa di masa mendatang, silsilah dharma Marpa akan menjadi penguasa dari sadhana ini, dan para keturunan dharma-nya akan meneruskan silsilahnya dan melatihnya dengan baik.
Setelah Naropa selesai menganugerahi semua ajaran tersebut, Marpa keluar dari gubuk retret tersebut, dan ia kembali membungkuk memberi hormat kepada Naropa. (Itu adalah kali terakhir ia berjumpa dengan Naropa.)
Saat Marpa sedang membungkuk memberi hormat, ia meninggalkan jejak kaki di atas batu yang hingga sekarang masih terlihat.
~~~~~~~~~~~~
Dalam kutipan di atas, kamu bisa menemukan banyak konsep atau kunci yang sudah sering diajarkan oleh Mahaguru Lu.
Hahaha!
Anggap saja sebagai sebuah tugas, dan kamu bisa kirimkan email kepadaku berisikan kunci-kunci utama yang kamu temukan, dan akan lebih baik lagi bila kamu menambahkan penjelasan untuk menunjukkan pemahamanmu akan kiat-kiat tersebut!
Aku bantu kamu dengan menggaris bawahi beberapa bagian di atas.
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- Ayat Doa Mahamudra
- Kebijaksanaan yang nampak gila – Tidak Jelek, Tapi…
- Percaya Mutlak Pada Guru?
- Guru Membahas Mahamudra [3B] – 5 Kriteria
- Lotuschef Bermain-main – Disesatkan
Wednesday, December 3, 2014
Membaca Sajak-sajak Milarepa
Dikutip dari dari artikel Mahaguru Lu: 師尊文集 > 172_隨風的腳步走 > 讀密勒日巴之偈
Kumpulan Karya Tulis Lu Sheng Yan No.172 {Mengikuti Jejak Angin}
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 21 November 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 讀密勒日巴之偈 Reading Milarepa's Verses
Di atas adalah sebuah lukisan yang menggambarkan Milarepa.
Di web hanya bisa menemukan gambar itu, yang paling mirip dengan yang pernah kulihat.
Aku pernah melihat Milarepa duduk di atas sebuah batu, di hamparan padang rumput.
Angin meniup ujung kain jubahnya sehingga terlihat “mengambang”! :)
Kamu punya thangka seperti itu untuk dibagikan?
讀密勒日巴之偈
蓮生活佛/文
偶讀「密勒日巴」的四句偈,令我心中戚戚然。其四偈如下:
當我觀察此身時,覺彼無常似朝露,不久當老幻死滅。
Saat aku mencermati tubuh ini, aku merasa ia tak kekal bagaikan embun di pagi hari, selang beberapa saat akan menua, mati, dan hancur.
我觀伴侶親眷時,悟彼實如眾商客,不久離去難常聚。
Saat aku mengamati pasangan dan sanak saudara, menjadi sadar bahwa perjumpaan ini bagaikan para pedagang yang saling bertemu, selang beberapa saat akan berpisah dan sulit untuk sering bertemu.
我觀血汗財寶時,恰似勤蜂所聚蜜,為他人忙終成空。
Saat aku melihat harta yang dikumpulkan dengan keringat, bagaikan lebah yang bekerja keras mengumpulkan madu, menyibukkan diri sendiri demi orang-orang lain dan pada akhirnya juga menghilang.
我觀事業家園時,悟彼實如大牢獄,惡業罪行之淵藪。
Saat aku melihat rumah dan pekerjaan/karir dalam hidup ini, aku menyadari bahwa hal itu bagaikan penjara yang besar, sarang berkumpulnya berbagai kejahatan.
我讀此四偈,汗涔涔下。
Aku membaca empat baris sajak di atas, keringatku bercucuran kemana-mana.
看世間行者,「密勒日巴」如此說:
Melihat para sadhaka duniawi, Milarepa mengatakan hal berikut:
貪慾深入心,兢兢患得失,為文字所縛,心無決定見,升斗必計較,以養愛慾女,散亂並逸樂,役身心如奴,身披懶惰枷,繫輪迴巨錨,口云依佛法,實做諸罪行,矯揉順世情,己鼻被人牽,如斯學佛者,時在苦惱中。
Keserakahan yang merasuk hingga ke dalam hati, selalu ketakutan (paranoid) akan untung dan rugi, terpaku oleh berbagai macam tulisan, hati tak bisa tegas, untuk hal-hal untung-rugi yang kecil juga sangat perhitungan, dengan cinta yang memelihara menjadi mendamba wanita, kacau dan menjadi jauh dari sukacita, tubuh dan pikiran dijadikan budak, badan juga bermalas-malasan, mencoba untuk mencapai target utama dari Transmigrasi, mulut mengaku mematuhi ajaran Buddha Dharma, namun malah berbuat banyak dosa, mengikuti sentimen dunia, hidung sendiri dicucuk (disetir) oleh orang-orang lain, kalau mau belajar Buddha Dharma dengan cara seperti ini, pastinya pikirannya akan mendapat banyak gangguan.
警惕啊!警惕!
Waspadalah Ah! Waspadalah!
讀「密勒日巴之偈」,深印我心,我也是常常如此觀察的,尤其第二偈,我深深的體會。
我依止山林時,我觀察親眷,知道難常相聚了,又很多很多的親朋好友,難常相聚了,又佷多很多的聖弟子,難常相聚了,我那一點情,歸何處?
第一偈,更不用說,一息不來,就是一坯黃土。
嗟嘆的寫下一詩:
如何敢說不滿足
慶幸自己尚能知行止
只剩那一點情
不容我死
看破大牢獄
看破之時
才能親證那真如
活的時候不會永遠的迷糊
感恩聖者的指引
提供陽光與空氣
忍辱之人終於達到淨土
~~~~~~~~~~~~
Jetsun Milarepa
Dikutip dari situs Karma Triyana Dharmachakra, The North American Seat of His Holiness the Gyalwa Karmapa ~ Jetsun Milarepa.
Ekstrak:
[--- Bagaimana caranya kita sampai kebingungan dan terperdaya samsara sehingga terus menerus terjerat di dalamnya? Melekat kepada samsara ternyata yang memperdaya kita sendiri.
Justru bukan karena penampakan enam alam samsara atau dunia di luar lingkungan kita yang menyebabkan kita terjerat dan kebingungan: ternyata kemelekatan kita terhadap hal-hal itulah yang mengikat kita.
Demikianlah Tilopa memberitahu Naropa: “Anakku, kita ini tak terbelenggu oleh berbagai macam penampilan; kita justru terbelenggu oleh kemelekatan kita terhadap mereka.”
Bila kita tak menganalisa samsara, hanya dengan mengandalkan kecerdasan kita untuk melihat apapun sebagaimana adanya, kita bisa berdiam di dalam semacam kebahagiaan atau sukacita. Namun hal ini tentunya mengindikasikan kalau kita belum melihat langsung ke dalam samsara dan menganalisanya secara lebih teliti.
Harus menggunakan kecerdasan untuk mengamati berbagai macam rupa (wujud) yang merupakan penampilan para insan: besar, kecil, dan seterusnya, dan berbagai macam rupa yang kita lihat di lingkungan sekitar.
Kita bisa menganalisa itu semua untuk menemukan penyebab dan kondisi kemunculan mereka. Untuk melihat keberadaan para insan, kita bisa melihat pikiran dan tubuh kita sendiri dan bagaimana kedua aspek tersebut menciptakan karma.
Kalau kita mengusutnya lewat cara ini, kita akan mulai paham bagaimana alam keberadaan kita ini muncul, dan kita juga akan melihat bahwa sifat alamiah dari samsara adalah penderitaan.
Secara tradisional, penderitaan dibagi menjadi tiga macam: penderitaan yang meliputi semuanya, penderitaan karena perubahan, dan derita dari penderitaan. ---]
Ekstrak:
[--- Milarepa menimpali: “Terima kasih atas berkat dari para Buddha, Bodhisattva, Lama Guru-ku dan istrinya, sehingga aku bisa mendapatkan secercah pengalaman, secercah realisasi.
Dengan tubuh yang telah matang seutuhnya ini, rupa fisikku ini, memang memungkinkan untuk mencapai Kebuddhaan.
Tubuh ini adalah perahu yang akan menyeberangkanku melewati Samsara menuju Kebuddhaan.
Namun, juga memungkinkan di mana aku bisa menggunakan tubuh ini untuk menumpuk karma buruk, dan nantinya terlahir kembali ke neraka.
Di sini ada sebuah pilihan.
Aku bisa mengarahkan pikiranku ke aktivitas yang positif dan mencapai Kebuddhaan dalam satu kehidupan, atau aku bisa mengarahkannya ke aktivitas yang negatif dan menuju ke neraka. ---]
~~~~~~~~~~~~
Hahaha! Aku khan selalu mengatakan tentang [Pilihan]!
Gunakan Sisa Hidupmu yang Terbatas di kehidupan kali ini dalam Cangkang Manusia dengan sebaik-baiknya agar bermanfaat, bukannya sembrono asal-asalan!
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- Kebijaksanaan yang nampak gila – Tidak Jelek, Tapi…
- Menangkap Empat Cacing Parasit [抓出四条蛔虫]
- Senjata-Senjata – Dorje & Ghanta
- Dharma Anasvara – Melatih Tiada Kebocoran
- Mengapa mengamalkan agama Buddha dan bersadhana?
Labels:
artikel guru,
Bahasa Indonesia,
kebuddhaan,
lotuschef,
milarepa,
perahu,
pilihan,
rupa,
samsara,
tubuh,
wujud
Friday, November 21, 2014
密勒日巴与马尔巴 Milarepa & Marpa
Terjemahan Indonesia: Milarepa & Marpa
Quoted from: Karma Kagyu > Lineage History > Milarepa
Extract:
Milarepa responded: "Thanks to the blessings of the Buddhas, the Bodhisattvas, my lama and his wife, I was able to attain a little bit of experience, a little bit of realization.
Quoted from: Karma Kagyu > Lineage History > Milarepa
![]() |
| Jetsun Milarepa |
Extract:
Milarepa responded: "Thanks to the blessings of the Buddhas, the Bodhisattvas, my lama and his wife, I was able to attain a little bit of experience, a little bit of realization.
In this completely matured body, this physical form of mine, it is possible to reach Buddhahood.
This body is a boat that will take me across samsara to Buddhahood.
However, it's also possible that I can use this very body to accumulate negative karma, and this will lead to rebirth in the hell realms.
There is a choice.
I can turn my mind towards positive activity and achieve Buddhahood in one lifetime or I can turn my mind toward negative activity and go to the hell realm.
In order to cross over this fearsome ocean of samsara, the only protection is the Buddha, the Dharma and the Sangha.
In order to cross over this fearsome ocean of samsara, the only protection is the Buddha, the Dharma and the Sangha.
I go to them for refuge.
Amongst these three, the most important is the lama.
It is through faith and samaya with the lama that protection comes.
There are also the four thoughts that turn the mind:
There are also the four thoughts that turn the mind:
the precious human rebirth,
impermanence,
karmic cause and effect,
and the imperfections of samsara.
Meditating upon these turns one's mind away from samsara.
Then one generates bodhicitta, the mind of awakening, practices and dedicates any virtue for the benefit of all sentient beings.
In this way, one enters the Mahayana path."
(Milarepa spoke further, but this is a brief summary of what he said.)
Within the Tibetan tradition,
![]() |
| Marpa Chokyi Lodro |
Within the Tibetan tradition,
after one receives an introduction to the nature of the mind or some instruction from a lama and practices it,
one offers to the lama one's experience of realization.
Whatever happened during the practice, exactly as it happened, without exaggerating or without forgetting anything, one relates only to the lama, not anyone else.
Marpa was extremely happy with Milarepa's account:
"This is most excellent. You are truly a karmically connected, strong student. And in the future,"
Marpa said, "I will give you progressively all the oral instructions, and you must then give yourself fully to these practices."
After celebrating Milarepa's emergence from the retreat, Marpa gave him more instructions in private for his next meditation practice.
Not long into the next retreat, though, a blue dakini with golden hair, eyebrows, and eyelashes appeared to Milarepa in a dream .
She said to him, "Practicing the Six Yogas of Naropa is very good.
However, there is one teaching that has not been obtained.
It's called 'The Instantaneous Attainment of Enlightenment.'
It is a kind of powa practice enabling you to send your consciousness into another body after you die. You must go ask for this."
Having given this advice, she disappeared.
Milarepa then broke down the wall of his cave and went to Marpa, who was astounded to see him. "Well, I just put you in retreat, what are you doing here? Why did you come out so quickly? Isn't this an obstacle to your practice?"
Milarepa explained to him that a dakini had appeared to him and told him that this teaching of powa had not been received and that it should be asked for.
Milarepa explained to him that a dakini had appeared to him and told him that this teaching of powa had not been received and that it should be asked for.
"Was this appearance real or not? Was it a hindrance or not? Please tell me," he asked.
Marpa replied, "This is a true prophesy from a dakini. When I was with Naropa, he did speak of this kind of powa practice, but I really don't remember whether I have received the teachings or not."
Marpa replied, "This is a true prophesy from a dakini. When I was with Naropa, he did speak of this kind of powa practice, but I really don't remember whether I have received the teachings or not."
So they pulled out all the texts that Marpa had brought back from India, and spent days going through them looking for the teaching, but they could not find it.
So Marpa again undertook the arduous journey to India to meet Naropa.
Marpa did not find him in his usual place, as Naropa had become a realized siddha, and moved freely. After a long search, he found him, and together they went to Pullahari, north of Bodh Gaya, where Naropa had a place of retreat.
Marpa did not find him in his usual place, as Naropa had become a realized siddha, and moved freely. After a long search, he found him, and together they went to Pullahari, north of Bodh Gaya, where Naropa had a place of retreat.
It was there that Marpa asked Naropa for the powa instructions.
Naropa asked: "Is this something coming from you yourself? Did you want to receive this, or is this something that a yidam deity told you to request?"
And Marpa said, "No, it isn't from me. I did not receive this from a yidam. It was my student Good News."
Naropa put his palms together and, bowing towards Tibet, he recited these famous four lines:
Naropa put his palms together and, bowing towards Tibet, he recited these famous four lines:
"In the thick darkness of the north, like the sun glistening on the snow, there is one called Good News; it is to this one that I bow."
It is said that at Pullahari, all the trees around the retreat hut of Naropa remain bowing towards Tibet.
Naropa also gave Marpa many other teachings, including the Whispered Lineage of the Dakinis.
Naropa also gave Marpa many other teachings, including the Whispered Lineage of the Dakinis.
He prophesied that, in the future, the Dharma lineage of Marpa would be masters of this practice, and that his Dharma descendants would maintain his lineage and practice it well.
When Naropa had finished giving him these teachings, Marpa emerged from the hut, and once outside he bowed again to Naropa. (This was actually the last time he met him.)
As Marpa was making his bows, he left a footprint in the rock that is still visible.
~~~~~~~~~~~~
In the passages above, you can find lots of concepts or keys that were shared by GM Lu frequently.
Hahaha!
Treat it as an assignment and you can email Key-points that you have found and best to add your explanation showing your understanding of these Key-points!
I have helped you some by Underlining Texts.
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
讀密勒日巴之偈 Reading Milarepa's Verses
Source: 師尊文集 > 172_隨風的腳步走 > 讀密勒日巴之偈
GM Lu's literary collection > 172 Follow the Footsteps of Wind
It is the closest that I can find from the web to one I have seen.
I have seen one of Milarepa sitting on a rock, amidst acres of grassland.
Windy as the ends or edges of his clothes were "floating"!
:).
Have you a thangka like that to share?
讀密勒日巴之偈
蓮生活佛/文
偶讀「密勒日巴」的四句偈,令我心中戚戚然。其四偈如下:
當我觀察此身時,覺彼無常似朝露,不久當老幻死滅。
When I scrutinise this body, feel that it is as impermanent as morning dew, after not long will aged imaginary die disintegrate.
我觀伴侶親眷時,悟彼實如眾商客,不久離去難常聚。
When I look at partners and kins, realised these gathering is like traders, after not long will depart and hard to always meet.
我觀血汗財寶時,恰似勤蜂所聚蜜,為他人忙終成空。
When I look at Blood Sweat Wealth Treasure, like hardworking bees gathering honey, busying self for others and eventually become void.
我觀事業家園時,悟彼實如大牢獄,惡業罪行之淵藪。
When I look at Life's work/career and home place, realised that it is like a big prison, gathering nest of evil deeds.
我讀此四偈,汗涔涔下。
Reading these four verses, my perspiration dripped copiously down.
看世間行者,「密勒日巴」如此說:
Looking at worldly cultivator, Milarepa said these:
貪慾深入心,兢兢患得失,為文字所縛,心無決定見,升斗必計較,以養愛慾女,散亂並逸樂,役身心如奴,身披懶惰枷,繫輪迴巨錨,口云依佛法,實做諸罪行,矯揉順世情,己鼻被人牽,如斯學佛者,時在苦惱中。
警惕啊!警惕!
Beware Ah! Beware!
讀「密勒日巴之偈」,深印我心,我也是常常如此觀察的,尤其第二偈,我深深的體會。
我依止山林時,我觀察親眷,知道難常相聚了,又很多很多的親朋好友,難常相聚了,又佷多很多的聖弟子,難常相聚了,我那一點情,歸何處?
第一偈,更不用說,一息不來,就是一坯黃土。
嗟嘆的寫下一詩:
如何敢說不滿足
慶幸自己尚能知行止
只剩那一點情
不容我死
看破大牢獄
看破之時
才能親證那真如
活的時候不會永遠的迷糊
感恩聖者的指引
提供陽光與空氣
忍辱之人終於達到淨土
~~~~~~~~~~~~
讀密勒日巴之偈
蓮生活佛/文
偶讀「密勒日巴」的四句偈,令我心中戚戚然。其四偈如下:
當我觀察此身時,覺彼無常似朝露,不久當老幻死滅。
When I scrutinise this body, feel that it is as impermanent as morning dew, after not long will aged imaginary die disintegrate.
我觀伴侶親眷時,悟彼實如眾商客,不久離去難常聚。
When I look at partners and kins, realised these gathering is like traders, after not long will depart and hard to always meet.
我觀血汗財寶時,恰似勤蜂所聚蜜,為他人忙終成空。
When I look at Blood Sweat Wealth Treasure, like hardworking bees gathering honey, busying self for others and eventually become void.
我觀事業家園時,悟彼實如大牢獄,惡業罪行之淵藪。
When I look at Life's work/career and home place, realised that it is like a big prison, gathering nest of evil deeds.
我讀此四偈,汗涔涔下。
Reading these four verses, my perspiration dripped copiously down.
看世間行者,「密勒日巴」如此說:
Looking at worldly cultivator, Milarepa said these:
貪慾深入心,兢兢患得失,為文字所縛,心無決定見,升斗必計較,以養愛慾女,散亂並逸樂,役身心如奴,身披懶惰枷,繫輪迴巨錨,口云依佛法,實做諸罪行,矯揉順世情,己鼻被人牽,如斯學佛者,時在苦惱中。
Greed cravings goes deeply into Heart, always paranoid of gain & loss, tied or entangled by written characters, Heart do have have decisive view, calculative even on small rise & fall, with nurturing love craving for women, messed up and against joy, using body and mind as slaves, body donned lazy-bracket, striking Transmigration's great target, mouth claims to adhere to Buddha Dharma, but actually did lots of sins, cute tender follow the world's sentiment, drawn by others through own nose, if study Buddha Dharma this way, always in troubled thoughts.
警惕啊!警惕!
Beware Ah! Beware!
讀「密勒日巴之偈」,深印我心,我也是常常如此觀察的,尤其第二偈,我深深的體會。
我依止山林時,我觀察親眷,知道難常相聚了,又很多很多的親朋好友,難常相聚了,又佷多很多的聖弟子,難常相聚了,我那一點情,歸何處?
第一偈,更不用說,一息不來,就是一坯黃土。
嗟嘆的寫下一詩:
如何敢說不滿足
慶幸自己尚能知行止
只剩那一點情
不容我死
看破大牢獄
看破之時
才能親證那真如
活的時候不會永遠的迷糊
感恩聖者的指引
提供陽光與空氣
忍辱之人終於達到淨土
~~~~~~~~~~~~
Jetsun Milarepa
Quoted from Karma Triyana Dharmachakra, The North American Seat of His Holiness the Gyalwa Karmapa ~ Jetsun Milarepa.
[--- How is it, then, that we become confused or deluded by samsara and so remain caught within it? Clinging to samsara deludes us.
It is not through the appearances of the six different realms of sentient beings or the external world of our environment that we are bound and confused: it is our attachment to these that binds.
As Tilopa spoke to Naropa: "My son, we are not bound by appearances; we are bound by our clinging to them."
If we do not examine or analyze samsara, using our intelligence to see what it really is, we could remain in a certain kind of happiness or pleasure. This would indicate, however, that we have not looked directly into samsara and analyzed it carefully. We must use our intelligence to look into the many different forms in which sentient beings appear: large, small, and so forth, and into the great variety of forms we see in the environment around us. We could analyze all these to discover the cause and conditions for their arising. To look at the existence of beings, we can look at our minds and body and see how it is that they create karma. If we investigate like this, we will begin to understand how our realm of existence comes into being, and we will see that the nature of samsara is suffering. Traditionally, suffering is divided into three different types: all-pervasive suffering, the suffering of change, and the suffering of suffering. ---]
If we do not examine or analyze samsara, using our intelligence to see what it really is, we could remain in a certain kind of happiness or pleasure. This would indicate, however, that we have not looked directly into samsara and analyzed it carefully. We must use our intelligence to look into the many different forms in which sentient beings appear: large, small, and so forth, and into the great variety of forms we see in the environment around us. We could analyze all these to discover the cause and conditions for their arising. To look at the existence of beings, we can look at our minds and body and see how it is that they create karma. If we investigate like this, we will begin to understand how our realm of existence comes into being, and we will see that the nature of samsara is suffering. Traditionally, suffering is divided into three different types: all-pervasive suffering, the suffering of change, and the suffering of suffering. ---]
Extract:
[--- Milarepa responded: "Thanks to the blessings of the Buddhas, the Bodhisattvas, my lama and his wife, I was able to attain a little bit of experience, a little bit of realization.
In this completely matured body, this physical form of mine, it is possible to reach Buddhahood.
This body is a boat that will take me across samsara to Buddhahood.
However, it's also possible that I can use this very body to accumulate negative karma, and this will lead to rebirth in the hell realms.
There is a choice.
I can turn my mind towards positive activity and achieve Buddhahood in one lifetime or I can turn my mind toward negative activity and go to the hell realm. ---]
~~~~~~~~~~~~
Hahaha! I have always been talking about [Choice]!
Spend your Limited Life Span in this lifetime with a Human Shell Fruitfully and not Frivolously!
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Labels:
boat,
body,
buddhahood,
choice,
English,
form,
guru's article,
lotuschef,
milarepa,
samsara
Tuesday, February 25, 2014
Ayat Doa Pengundangan dalam Mahamudra
Ditulis oleh Lotuschef – 5 Februari 2014
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 恆河大手印傳承祈請文 Mahamudra Invocation Verse
[--- 1. Kok dia terlihat susah payah dan menderita saat menjapanya?
Tontonlah 2014年1月31日王啟仲師兄唱誦「恆河大手印傳承祈請文」-台灣雷藏寺
Di Vimeo atau di Youtube.
2. Bisa merasakan perbedaannya dibandingkan beberapa tahun lalu saat dia menjapa (ayat yang sama).
2011年12月10日王啟仲師兄唱誦「恆河大手印傳承祈請文」-台灣雷藏寺 ---]
[--- PKV: Hahaha.
Ya. Sangat kelihatan seperti terbebani sesuatu.
Inilah Kimchi 的污染! [Tercemar seperti Kimchi]
Ketenaran = Ego dan Kebanggaan.
Setelah Guru mengumumkan dirinya, racun mulai merasuki dirinya.
Dengan semakin banyak orang mengaguminya, ia gagal untuk tetap teguh!
Seperti posisi atau promosi untuk menjadi shangshi seringkali jadi liang kubur si praktisi yang bersangkutan! :) ---]
Teman-temanku sekalian yang terkasih, dengarkanlah ceramah Guru baik-baik beserta dengan komentar-komentarnya mengenai Ayat Doa tersebut.
Kemudian lihatlah baik-baik wajah murid tersebut saat ia sedang menjapanya.
Auranya jelas sekali sudah cukup berubah!
Bertambah tua atau sejenisnya? :)
Masih ingatkah untuk selalu bahagia sehingga ketulusanmu terpancarkan!
Hal tersebut akan berfungsi saat kamu Mengundang Para Dewata atau Memberikan Persembahan kepada Para Dewata dan semua semua insan!
Aku bertemu dengan murid tersebut di Houston, Texas, Rumah Ibadah Mi Yi saat acara makan malam.
Seorang fashi di sebelah kirinya berkata bahwa Guru bilang kalau dia adalah reinkarnasi Marpa atau Milarepa.
Kukatakan: Milarepa. Aku telah melihat posternya di rumah ibadah setempat saat berkeliling membagikan literatur Dharma.
Dia orang yang ramah dan rendah hati; saat aku memberitahunya bahwa ia memancarkan sinar berkat kepada semua insan di sekitarnya, ia dengan rendah hati menimpaliku kalau pujian tersebut terlalu tinggi untuknya.
Tapi setelah Guru mengumumkan dirinya dan ditambah dengan pujian terus-menerus dari para murid, ia sepertinya menjadi berubah.
Saat aku menyapanya di Taiwan setelah sesi upacara dan Guru sedang memberikan Abhiseka, ia berjalan melewatiku tanpa menghiraukan salam “Hello!” dariku.
Hahaha!
Aku bilang ke Guru: Oh! Oh! Satu lagi rupanya?
Aku cukup banyak mendengar aktivitas-aktivitasnya.
Di dalam bus, ia bisa mengutip Terma kepada para murid yang sedang bersamanya di sana, dalam perjalanan setelah upacara di Caotun.
Guru bilang bahwa dia menghabiskan lebih dari 10 tahun untuk belajar di Tibet atau Nepal.
Jadi setidaknya mengutip Terma akan menunjukkan kalau dia memang mempelajari sesuatu yang bisa diingatnya.
Namun, walau Guru mengatakan bilapun Seseorang adalah Reinkarnasi Buddha atau Bodhisattva, Ia Masih Perlu Melatih Dirinya untuk TERHUBUNG KEMBALI dengan dewata yang bersangkutan dari mana ia bereinkarnasi!
Demikianlah bila ia tak berhasil dalam kehidupannya kali ini, maka ia harus kembali lagi di waktu lain untuk menyelesaikan tugasnya LOL.
Sekali lagi mengingatkan: Merenungkan segala aktivitas diri sendiri secara berkala akan membawa manfaat bagi pelatihan dirimu.
Kebetulan sekali aku berbagi “Empat Ajaran Liao Fan” hari ini! :)
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- Lotuschef
Bermain-main – Bodhicitta? Bukan!
- Mengenai
Menemukan Kebahagiaan
- Iblis
Diri Sendiri
- Lotuschef
Bermain-main – Mendengarkan dengan Benar?
- Kebijaksanaan
yang nampak gila – Tidak Jelek, Tapi…
Labels:
ayat,
bahagia,
Bahasa Indonesia,
doa,
kimchi,
liao fan,
lotuschef,
Mahamudra,
merenung,
milarepa,
racun,
reinkarnasi
Wednesday, February 5, 2014
恆河大手印傳承祈請文 Mahamudra Invocation Verse
Terjemahan Indonesia: Ayat Doa Pengundangan Dalam Mahamudra
[--- 1. How come they way that he chant like very hard and suffering?
Watch 2014年1月31日王啟仲師兄唱誦「恆河大手印傳承祈請文」-台灣雷藏寺
in Vimeo or Youtube.
2. Can feel the difference compare to few years back when he chant.
2011年12月10日王啟仲師兄唱誦「恆河大手印傳承祈請文」-台灣雷藏寺 ---]
[--- PKV: Hahaha.
Yes. The heaviness is obvious.
Kimchi 的污染! [Contamination, Kimchi Style]
Fame = Ego n Pride.
After SZ's announcement, his poison takes over.
As more people admire him, he failed to stand firm!
Like shangshi position or promotion often become Grave for cultivators! :) ---]
Dear all, listen carefully to SZ's speech again and his comments on this Invocation Verse.
Now look carefully at this student's face when he is chanting too.
His aura has obviously change quite a lot too!
Aging or something else? :)
Still remember to be joyful to let your sincerity show!
Works for when you are Invoking Divinities or Doing Offering to Divinities and all!
Met this student in Houston, Texas, Mi Yi temple over dinner.
A fashi to his left said that SZ said he is reincarnation of Marpa or Milarepa.
I said: Milarepa. I have seen his poster in a local chapter when distributing Dharma literature round the island back home.
He is friendly and humble too; as when I remarked that he is giving out light blessing to all around him, he humbly replied that the praise is too high for him.
After SZ's announcement and the continued adulation from fellow students, he seems to have changed.
When I greeted him in Taiwan after an event and SZ was giving Abhiseka, he walked straight pass and ignored my "Hello!"
Hahaha!
I said to SZ then: O! O! another one?
I heard lots about his activities though.
He quoted Termas in buses to fellow students on the same one as him, on journey after event at Caotun.
SZ said he spent more than 10 years studying in Tibet or Nepal.
So at least quoting Termas shows that he did learn something that he could remember.
However, given that SZ said if One is a Reincarnation of Buddha or Bodhisattva, One Needs to Cultivate to LINK UP to the relevant Divinity one reincarnated from!
Well, if he can't make it this lifetime, then he has to return another time to complete his assignment lol.
Once again: Reflection of One's activities on a regular basis is beneficial for Cultivation.
Such a coincidence that I shared "Liao Fan's 4 Lessons" today! :)
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Thursday, May 23, 2013
Avatamsaka Sutra Book 3 – Enlightened Being, Samantabhadra's Meditation [Review]
Terjemahan Bahasa: Sutra Avatamsaka, Buku 3 – Mahluk Tercerahkan, Meditasi dari Samantabhadra [Ulasan]
Hi all, read Book 3 of this sutra? :)
It's about Samantabhadra's enlightening Meditation; what the Buddhas transmitted to him and his 10 great wishes.
Well, this is an interesting one on Mo-ding!
[--- At this time, all Buddhas of the 10 Directions, each outstretch their right hand to bless Samantabhadra by touching his top/crown.
是时,十方诸佛,各舒右手,摩普贤菩萨顶。 ---]
Remember Guru said when he Mo-ding for everyone, he invokes his Yidam/Yidams & continuously chant mantra silently to transfer the "blessing" from Universe to all?
Hahaha!
Visualize all Buddhas stretches out their right hands to bless Shizun, an enlightened one, and Shizun in turn transfer these blessing to all of us, with both hands!
Wonderful, right?
Great to bask in the Universal Blessing through One's Root Guru!!!
Hahaha! This is only possible when the ones giving blessing is Fully Enlightened and have all Buddhas' blessing and "support", concur?
Shizun said: True Buddhas from True Buddha School!
Can anyone just sit on a True Buddha Throne when he/she has yet to even achieve Guru Yoga?
Hahaha!
Definitely NOT!
Read Stealing Universal Assets & Selling Universal Assets from our blogs? :)
Mo-ding? If the person attempting to do so without Universal authority, he/she may be drawing Positive energy from you to balance their own negative ones, when they practice dark arts!
Yes! People who practice Dark Arts are domineering and ruthless and mean and violent.
Their eyes often huge and gives you the creeps too!
Trust your 6th sense and RUN FOR YOUR LIFE!
Hahaha! No kidding!
Read the story of Milarepa?
Well, initially, he practiced Dark Arts to revenge on his uncle and aunt, who stole their fortune and ousted his mom, sister and him. Leaving them destitute and became servants to survive.
His Guru, Marpa, didn't teach him anything at first because want to purge his heavy karmic negatives. Therefore, he has a real hard time too, cultivating.
Guru's article about one previous lifetime, when he was King A-Yu.
His wife and son have huge grudges against him and he said History seems to be repeating itself this round.
Understand that if the wife and son don't cultivate and learn to Let Go of Poison of Aversion for "King A-Yu" ; Greed for revenge; but maintain their "Ignorance" of succoring themselves and free themselves from Samsara, Guru has no choice but to try and "make them happy"!
Guru also said that he promised his guru to not Fix prices/charges for his services but he said this does not apply to anyone else!
Likewise, Guru needs to try his best to neutralize past karmic influences with his karmic foes, but does not mean that these influences naturally become the responsibility of all his students.
Guru said: Know what you can do and what you can't! :)
Hahaha! There is a certain limit to the "amount" one has to pay up for past wrongs.
Like the "Pound of flesh" means no more or less than the One Pound!
[William Shakespeare - The Merchant of Venice.]
Enjoy the stories? :)
Well, please do read Book 3 of the sutra and discover the wonders within.
Cheers all.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Subscribe to:
Posts (Atom)








