Showing posts with label arhat. Show all posts
Showing posts with label arhat. Show all posts

Sunday, July 16, 2017

Pahala [2]



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 17 Juni 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: [2] Phala 果位


Di atas ini: Mahaguru Lu sedang mengajarkan 道果 Lamdre.

道 – Tahapan Jalan (Marga)
果 – Tahapan Buah Keberhasilan (Phala)


Pencapaian
Istilah untuk momen pertama pencapaian adalah jalan memasuki aliran (sotāpatti-magga), yang memotong tiga belenggu pertama. Ia yang mengalaminya dinamakan sebagai seorang pemenang-aliran (sotāpanna).

Yang dikatakan sebagai srotapanna adalah yang mempunyai pemahaman intuitif mengenai dharma, mahluk bijak ini memiliki Pandangan Benar (sammā diṭṭhi) dan punya keyakinan yang tak tergoyahkan di dalam Buddha, Dharma, dan Sangha.
Buddha, Dharma, dan Sangha, kadang kala disebut sebagai Tiga Rangkap Sarana, dan di lain waktu disebut sebagai objek-objek yang dikenang.
Pada umumnya, keyakinan yang teguh di dalam Buddha, Dharma, dan Sangha, dianggap sebagai salah satu dari empat bagian pemenang-aliran (sotāpannassa angāni).
Srotapanna juga dikatakan telah “membuka mata Dharma” (Dharmacaksu), berhubung mereka telah merealisasikan bahwa apapun yang muncul pasti akan berakhir (tidak kekal).
Oleh karenanya keyakinannya kepada dharma yang sejati tak akan goyah.

Sekilas awal memahami elemen yang tak berkondisi, asankhata, mereka bisa melihat tujuan akhirnya, pada saat jalan yang mereka telusuri telah matang (marga-phala).
Sebaliknya di mana mereka yang memasuki aliran telah melihat nirwana dan kemudian menjadi yakin, maka seorang arhat mampu menenggak airnya sepenuhnya, bila menggunakan kiasan dari Sutra Kosambi (SN 12.68) – mengenai sebuah “sumur”, yang ditemui di sepanjang jalan yang gersang.

Namun sisa tiga jalan berikut:
Kembali sekali lagi (sakadāgāmin),
Tidak kembali (anāgāmin),
dan kedewaan (arahatta)
menjadi “takdir” (sammatta niyāma) bagi mereka yang memasuki aliran.
Pencerahan mereka sebagai seorang murid  (arya sravaka) menjadi tak terelakkan dalam 7 kehidupan melewati berbagai transmigrasi di antara menjadi dewa dan manusia;
Bila tekun (appamatta, appamāda) dalam bersadhana sesuai dengan instruksi (satthāra) dari Sang Guru Pembimbing, mereka bisa tersadarkan secara sempurna dalam kehidupan saat ini juga.
Di masa mendatang hanya ada sedikit penderitaan yang harus dilewati.
Dalam naskah-naskah agama Buddha masa awal (seperti Sutra Ratna) dikatakan bahwa seorang yang memasuki aliran tak akan lagi terlahir ke dalam rahim binatang, atau neraka, atau sebagai hantu kelaparan.
Berbagai jalan menuju tujuan kelahiran yang sengsara (durgati) telah ditutup bagi mereka.

Juga tak akan mungkin melakukan enam “kejahatan keji” (abhithanani) yang akan menjatuhkan mereka ke dalam neraka selama berkalpa-kalpa. Keenam kejahatan tersebut adalah: (1) membunuh ibu, (2) membunuh ayah, (3) membunuh arhat, (4) dengan niat jahat mencelakai Buddha hingga menumpahkan darah, (5)menyebabkan perpecahan di dalam paguyuban Sangha, dan (6) berguru pada guru lain.

Mereka hanya akan terlahir ke dalam keluarga “bangsawan”, atau sebagai mahluk surgawi.


Tiga belenggu
Di dalam kanon berbahasa Pali, kualitas seorang srotapanna digambarkan sebagai berikut:
… para bhiksu yang telah melepaskan tiga belenggu, adalah para pemenang aliran, mereka tegar, tak akan pernah lagi ditakdirkan mengalami kondisi duka, berjalan menuju penyadaran diri.
Demikianlah Dharma yang kuproklamirkan selalu jelas, terbuka, nyata terbukti, berkualitas tinggi.
— Sutra Alagaddupama

Tiga belenggu yang disingkirkan oleh sotapanna adalah:

[1] Pandangan Diri – Pandangan akan substansi atau gabungan (sankhata) bisa menjadi abadi di dalam lima agregat (wujud, perasaan, persepsi [daya paham], niat, pengetahuan kesadaran) dan kemudian dimiliki sebagai ‘aku’ (subjek), ‘aku’ (objek), atau ‘milikku’.
Seorang srotapanna sebenarnya tidak mempunyai pandangan mengenai diri (sakkāya-ditthi), karena doktrin tersebut diproklamirkan sebagai wujud kemelekatan yang halus.

[2] Melekat pada upacara dan ritual – Mengenyahkan pandangan bahwa ia menjadi suci dengan mudahnya lewat melakukan ritual (persembahan hewan, berbilas, menjapa, dll.) atau menganut moralisme secara kaku, atau bersandar kepada seorang dewa untuk penyelamatan tanpa menghiraukan sebab-musabab (issara nimmāna). Upacara dan ritual kini malah lebih mengaburkan daripada mendukung pandangan benar seorang srotapana yang mata dharma-nya telah terbuka.
Srotapanna menyadari bahwa penyelamatan hanya bisa dimenangkan melalui praktik Jalan Mulia Beruas Delapan. Ia telah menghilangkan gagasan mengenai mujizat maupun jalan pintas.

[3] Curiga dan ragu-ragu – Keraguan kepada Buddha, ajarannya (Dharma), dan komunitasnya (Sangha) telah dilenyapkan karena srotapanna secara pribadi telah mengalami kodrat sejati realitas melalui pengetahuan yang mendalam, dan wawasan tersebut mengkonfirmasi keakuratan ajaran Buddha.
Dengan melihat maka keraguan tersingkirkan, karena rupa merupakan sebuah wujud penglihatan (darsana) yang memampukannya untuk mengetahui (jnana).


Pencemaran
Menurut Penjelasan dalam Bahasa Pali, enam jenis pencemaran pada akhirnya akan ditinggalkan oleh seorang srotapanna, dan tidak ada lagi pelanggaran berat:
Iri hati
Cemburu
Munafik
Curang
Fitnah
Dominasi


Kelahiran Kembali
Seorang srotapanna terselamatkan dari kejatuhan ke berbagai situasi yang menyedihkan (mereka tak akan terlahir sebagai seekor binatang, hantu, atau mahluk neraka). Nafsu, kebencian dan khayalan mereka tidak cukup kuat untuk menyebabkan kelahiran kembali di alam-alam yang lebih rendah.
Ia masih harus terlahir kembali paling banyak 7 kali di alam manusia atau surga sebelum mencapai nirwana.
Tidak harus terlahir sebanyak 7 kali sebelum mencapai nirwana, berhubung seorang praktisi yang tekun bisa melaju ke tahap yang lebih tinggi di dalam kehidupan yang sama di mana ia mencapai tingkat Srotapanna dengan membuat sebuah niat dan usaha yang gigih untuk mencapai nirwana sebagai tujuan akhirnya.


Enam tindakan yang tak akan diperbuat
Seorang srotapanna tidak akan melakukan enam tindakan salah berikut:
Membunuh ibu sendiri.
Membunuh ayah sendiri.
Membunuh seorang arhat.
Dengan niat jahat melukai Buddha hingga menyebabkannya berdarah.
Sengaja membuat perpecahan dalam komunitas sangha.
Mengangkat guru lain [selain Buddha].

~~~~~~~~~~~~~~~

Ada kutipan di dalam Pengantar Redaktur di dalam “PARA MURID AGUNG SANG BUDDHA” oleh Nyanaponika Thera & Hellmuth Hecker.
Lihat: GREAT DISCIPLES OF THE BUDDHA - INTRODUCTION

“… Meski demikian, proses pencapaian yang lebih khusus merupakan sebuah proses yang disesuaikan di mana berbagai belenggu dipotong secara berurutan, dalam beberapa gugusan, pada empat peristiwa penyadaran yang berlainan.
Hal ini menghasilkan gradasi berlapis empat di antara para murid mulia, dengan setiap tahapan utama yang terbagi lagi ke dalam dua fase:
Sebuah fase di dalam jalan (marga), di mana murid yang bersangkutan mempraktikkan pelenyapan gugus belenggu tertentu;
Dan sebuah fase di dalam buah hasilnya (phala), di mana dobrakannya telah sempurna dan belenggu-belenggu telah dihancurkan.
Pembagian ini menjelaskan formula klasik Arya Sangha yang terdiri dari 4 pasangan dan 8 jenis orang yang mulia. …”

Mengenai jalan (marga) dan buah keberhasilan (phala):
[1] Beberapa guru dharma menekankan bahwa Jalur Mulia Beruas 8 bukanlah gerakan maju yang “linear”.
Namun menurut saya hal tersebut sangat masuk akal melihat bahwa “Pandangan Benar” (sammā-diṭṭhi) pasti berada di titik paling awal.
(Sebagai contoh, memahami bahwa “penolakan terhadap karma & kelahiran kembali merupakan “pandangan salah” – di dalam susunan Empat Kebenaran Mulia dan Hukum Sebab-Musabab (Pratityasamutpada). Saya tidak melihat bagaimana orang yang menolak konsep kelahiran kembali & karma bisa berkembang sebagaimana mestinya di sepanjang jalan.)
Dan juga, puncak dari Jalan Mulia Beruas Delapan pastilah “Keheningan Benar” (sammā-samādhi) – yang didefinisikan sebagai 4 rupa-jhana. (sebagai contoh: SN 45.8, MN-117, MN-141), karena jhana adalah kondisi pikiran di mana 5 rintangan yang menghidupi Kebodohan dan Hasrat telah disingkirkan (AN 10.61, 10.62).
Untuk menyingkirkan Kebodohan, jangan beri makan 5-rintangan melalui pencapaian jhana. Antara Pandangan Benar dan Keheningan benar terdapat perkembangan etika, perhatian penuh dan meditasi.
Demikianlah baru terlihat adanya kemajuan linear, dengan Jhana sebagai buah keberhasilan (phala) dari praktik (marga) yang mendahuluinya.
Benarkah pemahaman ini?

~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Berpikirlah baik-baik sebelum kamu memanifestasikan pikiranmu ke dalam tindakan!

Pelatihan Dharma belum tentu seperti yang kamu pikirkan!

Tentunya, kamu selalu punya PILIHAN – Mau melakukannya atau tidak! :)

Apakah kamu dengan sekuat tenaga masih mencoba untuk “menjatuhkan” wujud ciptaanmu yang kamu labeli sebagai “lotuschef”!

Saatnya sadar!
Bila kamu tidak keluar dari Jalan yang sedang kamu telusuri saat ini, kamu tak akan pernah mendapatkan Buah Pencerahan.

“Kejahatan” dari “manifestasimu” itu sedang kamu beri nyawa kehidupan dengan Iblis ciptaanmu sendiri!


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, June 17, 2017

[2] Phala 果位


Terjemahan Bahasa: Pahala [2]


Above: GM Lu sharing 道果 Lamdre.
道 - Path/Magga Stage
果 - Fruit/Phala  Stage

Attainment
The first moment of the attainment is termed the path of stream-entry (sotāpatti-magga), which cuts through the first three fetters. The person who experiences it is called a stream-winner (sotāpanna).

The sotāpanna is said to attain an intuitive grasp of the dharma, this wisdom being called right view (sammā diṭṭhi) and has unshakable confidence in the Buddha, Dharma, and Sangha.
The Buddha, Dharma, and Sangha, sometimes taken to be the triple refuge, are at other times listed as being objects of recollection. 
In general though, confirmed confidence in the Buddha', Dharma and Sangha, respectively, is considered to be one of the four limbs of stream-winning (sotāpannassa angāni).
The sotapanna is said to have "opened the eye of the Dhamma" (dhammacakka), because they have realized that whatever arises will cease (impermanence).
Their conviction in the true dharma would be unshakable.

They have had their first glimpse of the unconditioned element, the asankhata, in which they see the goal, in the moment of the fruition of their path (magga-phala). 
Whereas the stream-entrant has seen nibbāna and, thus has verified confidence in it, the arahant can drink fully of its waters, so to speak, to use a simile from the Kosambi Sutta (SN 12.68) — of a "well", encountered along a desert road.

However, the remaining three paths, namely: 
once-return (sakadāgāmin), 
non-return (anāgāmin), 
and sainthood (arahatta) 
become 'destined' (sammatta niyāma) for the stream-entrant. 
Their enlightenment as a disciple (ariya-sāvaka) becomes inevitable within seven lives transmigrating among gods and humans; 
if they are diligent (appamatta, appamāda) in the practice of the Teacher's (satthāra) message, they may fully awaken within their present life. 
They have very little future suffering to undergo.
The early Buddhist texts (e.g. the Ratana Sutta) say that a stream-entrant will no longer be born in the animal womb, or hell realms; nor as a hungry ghost. 
The pathways to unfortunate rebirth destinations (duggati) have been closed to them.

It's impossible for them to commit the six "heinous crimes" (abhithanani), which would otherwise lead to aeons in hell. These six being: i. matricide, ii. patricide, iii. the murder of an arahat, iv. shedding a Buddha's blood with malicious intent, v. causing schism in the monastic Sangha, and vi. taking another teacher.

They are reborn only in "noble" human families, or as divine beings.


Three fetters
In the Pali Canon, the qualities of a sotāpanna are described as:
…those monks who have abandoned the three fetters, are all stream-winners, steadfast, never again destined for states of woe, headed for self-awakening. 
This is how the Dharma well-proclaimed by me is clear, open, evident, stripped of rags.
— Alagaddupama Sutta

The three fetters which the sotāpanna eradicates are:

[1] Self-view — The view of substance, or that what is compounded (sankhata) could be eternal in the five aggregates (form, feelings, perception, intentions, cognizance), and thus possessed or owned as 'I', 'me', or 'mine'. 
A sotāpanna doesn't actually have a view about self (sakkāya-ditthi), as that doctrine is proclaimed to be a subtle form of clinging.

[2] Clinging to rites and rituals - Eradication of the view that one becomes pure simply through performing rituals (animal sacrifices, ablutions, chanting, etc.) or adhering to rigid moralism or relying on a god for non-causal delivery (issara nimmāna). Rites and rituals now function more to obscure, than to support the right view of the sotāpanna's now opened dharma eye. 
The sotāpanna realizes that deliverance can be won only through the practice of the Noble Eightfold Path. It is the elimination of the notion that there are miracles, or shortcuts.

[3] Skeptical doubt - Doubt about the Buddha, his teaching (Dharma), and his community (Sangha) is eradicated because the sotāpanna personally experiences the true nature of reality through insight, and this insight confirms the accuracy of the Buddha’s teaching. 
Seeing removes doubt, because the sight is a form of vision (dassana), that allows one to know (ñāṇa).


Defilements
According to the Pali Commentary, six types of defilement would be eventually abandoned by a sotāpanna, and no major transgressions:
Envy
Jealousy
Hypocrisy
Fraud
Denigration
Domineering


Rebirth
A sotāpanna will be safe from falling into the states of misery (they will not be born as an animal, ghost, or hell being). Their lust, hatred and delusion will not be strong enough to cause rebirth in the lower realms. 
A sotāpanna will have to be reborn at most only seven more times in the human or heavenly worlds before attaining nibbāna. 
It is not necessary for a sotāpanna to be reborn seven more times before attaining nibbāna, as an ardent practitioner may progress to the higher stages in the same life in which he/she reaches the Sotāpanna level by making an aspiration and persistent effort to reach the final goal of nibbāna.


Six actions that are not committed
A sotāpanna will not commit six wrong actions:
Murdering one's own mother.
Murdering one's own father.
Murdering an arahant.
Maliciously injuring the Buddha to the point of drawing blood.
Deliberately creating a schism in the monastic community.
Taking another Teacher [besides Buddha].

~~~~~~~~~~~~~~~

There is this passage in the Editor's Introduction to "GREAT DISCIPLES OF THE BUDDHA" by Nyanaponika Thera & Hellmuth Hecker.

" ... The more typical process of attainment, however, is a calibrated one whereby the fetters are cut off sequentially, in discrete clusters, on four different occasions of awakening. 
This results in a fourfold gradation among the noble disciples, with each major stage subdivided in turn into two phases: 
a phase of the path (magga), when the disciple is practicing for the elimination of the particular cluster of fetters; 
and a phase of the fruit (phala), when the breakthrough is complete and the fetters have been destroyed. 
This subdivision explains the classical formula of the Ariya Sangha as made up of four pairs and eight types of noble persons. ..."

Regarding path (magga) & fruit (phala):
[1] Some dhamma teachers emphasize that the eightfold path is not a "linear" progression. 
However, to me it makes so much sense that "Right View" (sammā-diṭṭhi) must be the very beginning. 
(For example, understand that "rejection of karma & rebirth" is "wrong view" - within the framework of Four Noble Truths and Dependent Origination. I don't see how anyone who rejects rebirth & karma can progress properly further along the path.) 
As well, the culmination of the Eightfold Path must be "Right Stillness" (sammā-samādhi) - which is defined as the 4 rupa-jhanas. (e.g. SN 45.8, MN-117, MN-141), because jhana is the mind state where the 5-hindrances that sustain Ignorance and Desires are removed (AN 10.61, 10.62). 
To remove Ignorance, starve the 5-hindrances through attainment of jhana. Between Right View and Right Stillness there is development of ethics, mindfulness and meditation. 
Thus there is some sense of linear progression, with Jhana as the fruit (phala) of the practices (path - magga) that precede it. 
Is this understanding correct?

~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Think carefully before you act out your thoughts!

Dharma Cultivation might not be what you think or perceive it is! 

Of course, the CHOICE is always yours - To do or Not to do! :)

Are you still trying your utmost to "bring down" your creation of a form, labelled as "lotuschef"! 

Wake up!
If you don't walk out of the Path you are treading now, you will never ever attain the Fruit of Realisation/Enlightenment. 

Your "manifestation"  of "evil" were all given life to by your very own Demon! 


With Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Wednesday, June 29, 2016

Pemusatan Perhatian – Perenungan Atas Wujud [2]



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 23 November 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Mindfulness – Contemplation of Form [2]


Solusi dari agama Buddha untuk mengatasi nafsu, deraan cinta, cinta yang tak terbalas.
佛教对治 欲望、爱折磨、单恋、的方法.

Sumber foto: Meditation on Foulness: the Buddha advised those who are ardent on attaining nirvana (release) to contemplate the body's manifold impurities.
(Meditasi Akan Kekotoran: Sang Buddha menyarankan mereka yang bersemangat untuk mencapai nirwana [pembebasan] supaya merenungi berbagai kekotoran tubuh.)


Berikut ini dikutip dari Sutra Surangama 大佛頂首楞嚴經.

Dua Puluh Lima Cara Untuk Mencapai Pencerahan

Jilid 5, Bab 2
Ekstrak:

N2 Upanishad: Objek Wujud

Sutra:

Upanishad bangkit dari tempat duduknya, berlutut di kedua kaki Sang Buddha, dan berkata kepada Sang Buddha, “Aku juga melihat Sang Buddha saat beliau pertama kali mencapai Sang Jalan (Tao). Aku belajar untuk merenungi penampilan yang tak bersih hingga aku menjadi muak dan memahami bahwa kodrat dari segala wujud adalah tak bersih. Tulang belulang dan debu-debu halus semuanya kembali kepada kekosongan, sehingga demikianlah cara menyingkirkan kekosongan maupun wujud. Dengan penyadaran ini, aku mencapai jalur yang telah melampaui pembelajaran.”

Komentar:

Nama Upanishad berarti “kekosongan dari kodrat wujud” (se xing kong). Ia selalu terganggu oleh nafsu birahinya yang menggebu-gebu.
Karenanya, Sang Buddha mengajarinya untuk melatih perenungan atas kekotoran di mana ia mengamati bagaimana kotornya tubuh fisik sendiri maupun milik orang lain.

Ada praktik tertentu yang dinamakan “merenungi 9 aspek kekotoran”:
  1. Merenungi pembengkakan. Setelah mati, badan mulai membengkak.
  2. Merenungi daging yang berburik hijau. Setelah membengkak, badan mulai muncul area-area berwarna hijau seperti lebam-lebam besar.
  3. Merenungi daging yang pecah terbuka. Setelah menjadi hijau, ia meletus terbuka.
  4. Merenungi darah dan kotoran. Saat meletus terbuka, darah dan hal-hal lain mengalir keluar.
  5. Merenungi nanah dan pembusukan. Nanah mulai keluar dari tubuh saat ia mulai membusuk.
  6. Merenungi tubuh dimakan oleh cacing-cacing. Dari nanah dan badan yang membusuk keluar banyak cacing yang memakan daging.
  7. Merenungi tubuh mulai tercerai-berai. Daging mulai berjatuhan.
  8. Merenungi tulang-belulang. Begitu daging sudah menghilang, yang tersisa hanyalah tulang saja.
  9. Merenungi tulang yang terbakar. Ia terbakar oleh api dan berubah menjadi abu. Abu itu melayang ke dalam kekosongan dan berubah menjadi debu, hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa.

Upanishad sangat melekat pada wujud. Ia akan secara khusus memperhatikan setiap wanita yang dilihatnya untuk kemudian dikomentari betapa cantiknya yang ini, betapa indahnya yang itu, dan betapa menariknya yang lain lagi. Ia menggunakan segala upayanya untuk hal-hal seperti ini.
Hingga saat ia bertemu dengan Sang Buddha, beliau mengajarinya cara melatih perenungan 9 aspek kekotoran.

Upanishad bangkit dari tempat duduknya, berlutut di kedua kaki Sang Buddha, dan berkata kepada Sang Buddha, “Aku juga melihat Sang Buddha saat ia pertama kali mencapai Sang Jalan (Tao).
Aku belajar untuk merenungi penampilan yang tak bersih hingga aku menjadi muak.
Aku, juga, bersama dengan Sang Buddha saat setelah beliau mencapai Tao, dan Buddha mengajariku untuk melatih perenungan 9 aspek kekotoran.

Dari sini aku menyadari bahwa mau secantik apapun seseorang saat ia hidup,
betapa menarik atau indahnya perempuan tersebut, sehingga semakin kamu memikirkannya maka semakin dirinya menjadi memikat, namun saat ia mati, ia akan melepuh sama anehnya seperti orang-orang lain juga.
Ia akan menjadi hijau dan penuh dengan burik, serta dagingnya akan pecah terbuka.
Masihkah kamu bisa mencintainya setelah itu?

Lalu darah dan kotoran akan keluar, jasadnya mulai berbau busuk.
Di tahap ini, anjing akan menyukainya, tapi orang-orang akan menjauhinya.

Kemudian nanah mulai terbentuk dan tubuhnya mulai membusuk.
Membayangkannya saja membuatmu ingin muntah!

Di saat ini sudah tak mungkin lagi untuk menciumnya.
Lalu cacing-cacing mulai tumbuh berkembang: yang besar maupun yang kecil.
Sekawanan lalat dan lalat biru (Calliphora vomitoria) datang mengerumuni.
Mereka mendekatinya dan di saat itu kamu bahkan tak akan merasa cemburu sedikitpun.

Daging mulai tercerai-berai dan tinggallah tulang-belulang yang tersisa.
Kemudian ia terbakar dan segalanya menghilang.

Beritahukan kepadaku, kemana orang cantik tersebut pergi?

Melalui perenungan seperti ini ia semakin muak akan wujud, dan menjadi paham bahwa kodrat dari segala macam wujud adalah tidak bersih.

Ia menyadari mau seberapa cantiknya suatu wujud, sumbernya sendiri sudahlah kotor.

Semen dari ayah dan darah dari ibu pada dasarnya tidak bersih.

Tulang dan debu-debu halus berpulang pada kekosongan, demikianlah kekosongan maupun wujud disingkirkan.

Dengan penyadaran ini, aku mencapai jalur yang melampaui pembelajaran, yaitu buah pencapaian yang ke empat – Arahat.

~~~~~~~~~~~

Jadi?
Buddha Dharma merupakan metode-metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas semua insan!
Selama efektif, maka metode tersebut adalah metode yang baik! :)

Salam semuanya.


Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Monday, August 3, 2015

Afirmasi Tingkat Pencapaian dari Sutra Hati



Sumber artikel: Karya tulis Mahaguru Lu 師尊文集 > 45_坐禪通明法
Seleksi terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef – 31 Juli 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 般若波羅蜜多心經是得證境界 Heart Sutra's Attain Affirmation Stage



Catatan Lotuschef:
Dipilih dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Lotuschef. Para pembaca dipersilakan untuk menerjemahkan sesuai versi masing-masing juga.
:)


Salam semuanya.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

~~~~~~~~~~~~~~~~


師尊文集 > 45_坐禪通明法

般若波羅蜜多心經是得證境界


  般若波羅蜜多心經 Sutra Hati,原文如下:

  觀自在菩薩,行深般若波羅蜜多時,照見五蘊皆空,度一切苦厄。舍利子:色不異空,空不異色;色即是空,空即是色;受想行識,亦復如是。舍利子:是諸法空相,不生不滅,不垢不淨,不增不減,是故空中無色,無受想行識,無眼耳鼻舌身意,無色聲香味觸法。無眼界,乃至無意識界,無無明,亦無無明盡,乃至無老死,亦無老死盡,無苦集滅道,無智亦無得,以無所得故。菩提薩埵,依般若波羅蜜多故,心無罣礙,無罣礙故,無有恐怖,遠離顛倒夢想,究竟涅槃。三世諸佛,依般若波羅蜜多故,得阿耨多羅三藐三菩提。故知般若波羅蜜多,是大神咒,是大明咒,是無上咒,是無等等咒。能除一切苦,真實不虛。故說般若波羅蜜多咒,即說咒曰:揭諦揭諦,波羅揭諦,波羅僧揭諦,菩提薩婆訶。

  從古至今,解釋這篇「般若波羅蜜多心經」的高僧大德甚多,但他們未必全看出這是一篇得證境界的說明,祇是依其文字義來解說而已,
如今,我已看出它是「得證心境」的感悟,因為有了得證之後,再看「心經」,就有一種原來如此的「心心相印」了
Kini aku telah merasakan citarasa pencerahan dari pola pikir afirmasi Sutra Hati, karena setelah mendapatkan afirmasi dan melihat kembali Sutra Hati, akan mendapatkan semacam perasaan “ternyata seperti itu” [Hati membekas di dalam Hati].

且看我的感悟如下:
Dan Citarasa Pencerahanku adalah sebagai berikut:

  「觀自在菩薩」——指所有得證自在的大菩薩。

  「行深般若波羅蜜多時」——行坐禪通明大法的最深實相智慧的時候。

  「照見五蘊皆空,度一切苦厄」——這是經意微妙之處,這即是一心三觀之空觀。有歸元修持法同淨業歸空法門,可到如此的境界。

  「舍利子,色不異空,空不異色,色即是空,空即是色,受想行識,亦復如是。」這是實相境界的心光妙智。

  「舍利子,是諸法空相,不生不滅,不垢不淨,不增不減……至無苦集滅道,無智亦無得,以無所得故,菩提薩埵。」這一段文字,全是說明諸佛與自己完全打成一片的法身寂滅之狀態。

  「依般若波羅蜜多故,心無罣礙,無罣礙故,無有恐怖,遠離顛倒夢想」——到了得證的境界,就是到了彼岸也。匯歸毘盧性海,直顯法界真空性,是第八識的清淨,因而是心無罣礙,無有恐怖。

  「不生不滅」——如同明鏡一般,雖然現出幻相,實在是無生無滅也。

  「不垢不淨」——因是不生不滅之相,本是幻相,當然也沒有垢淨之染了。

  「不增不減」——如江河的水一般,流來流去,沒有增加,也沒有減少。

  「得阿耨多羅三藐三菩提」——這即是「安住在一心無心的圓滿境界之中,修持通明之法而無所失」。遠遠離開了顛倒夢想之後,顛倒夢想就是幻覺,如此的心境才是不動,能安住修持。

  「揭諦揭諦波羅揭諦波羅僧揭諦菩提薩婆訶」——按此咒是心咒,
Dengan Mantra-nya: Ga Te Ga Te Bo Luo Ga Te Bo Luo Seng Ga Te Bodhi Svaha.

第一個揭諦是指「我執」,第二個揭諦是指「法執」,也就是人法兩執。
Ga Te yang pertama menunjuk pada [Kemelekatan Diri], Ga Te yang kedua menunjuk pada [Kemelekatan Dharma]. Mereka adalah Kemelekatan pada Diri dan Dharma.

第三個揭諦是「生我執」,第四個揭諦是「法我執」。
Ga Te yang ketiga adalah [Lahirnya Kemelekatan Diri], sedangkan Ga Te keempat adalah [Kemelekatan pada Dharma & Diri].

此咒之要義,就是破除了人我之「我執」,及生我法我之執著,自度度他而到達彼岸之圓滿菩提。
Makna dari mantra tersebut adalah Menembus dan membuang [Kemelekatan Diri] pada tubuh ini, dan kemudian membuang Kelahiran dari Kemelekatan pada Diri & Dharma. Menyelamatkan Diri dan para insan lain hingga akhirnya sampai ke pantai seberang – yaitu Bodhi yang Sempurna.

這樣子的修行,也算是真正的修行大義。
Melatihnya demikian barulah dianggap sebagai pelatihan yang tulen dan agung.

  我可以如此說,此「般若波羅蜜多心經」,完全是觀自在禪定的境界,從外覺皆空開始,六塵不染,守住六根,完全是「境外無心,心外無境」的一切色空境界,這是智慧之觀。
Aku bisa bilang kalau sutra ini sepenuhnya adalah arena meditasi Avalokiteshvara, mulai dari realisasi eksternal di mana semuanya kosong sepenuhnya, tak dapat dipengaruhi oleh 6 debu duniawi, menjaga 6 akar dengan kokoh, mencapai tingkatan di mana semua wujud pada dasarnya Kosong [Tiada hati di luaran sana, tiada alam di luar hati], demikianlah Pandangan Kebijaksanaan.

  在內覺上說來,即佛光融於我的全身,自性得清淨,過去心、現在心、未來心,三心合於一心而得之,也就是「事外無心,心外無事」,到此境界,自然能成就一切,度一切之苦厄,這是天心發光的功夫,自然而然,無為而為。
Sedangkan realisasi internalnya (batin), adalah Cahaya Buddha melebur ke dalam seluruh bagian tubuhku, kodrat diri menjadi bersih dan suci; hati dari masa lalu, masa kini, dan masa mendatang, akan menyatu dan menjadi [Di luaran sana wujud tiada hati, tiada wujud di luar hati]. Sampai pada tingkat ini, secara alamiah akan mendapatkan segala keberhasilan pencapaian, mengenyahkan segala penderitaan, inilah kerja chakra Tian-xin yang memancarkan cahaya – berjalan secara alamiah dan tanpa sebab, tapi semuanya beres dengan sendirinya.

  在直覺上說來,離一切顛倒夢想,直覺寂滅無二,佛我打成一片,法界真空性「無相無不相,不生不滅,不垢不淨,不增不減」便是這種境界的感悟。

也就是入了大解脫門,自己的佛性同法性的諸佛,合而成一,從此不退轉,不輪迴,這才是大證悟。
Inilah yang namanya memasuki Pintu Maha Pembebasan, di mana Kodrat Buddha Diri ini melebur dan manunggal dengan Kodrat Dharma semua Buddha, dengan demikian tak akan mengalami kemunduran, dan tak ada lagi transmigrasi – oleh karenanya disebut sebagai Realisasi Afirmasi Agung.

  坐禪通明法,要人從「初靜」開始,到「天光」自顯,到十方佛同自己「打成一片」,是最妙用的坐禪法,直接修持成佛的方法,唯有此方法是離言離相的,務必要珍視,此法是無價之寶,由此可見。

  筆者自從感悟得證以來,靜坐之中,思維特別清明,完全安住明空三摩地,自性三昧光明遍照娑婆世界,可以說無所不知,無所不覺。

可憐天下眾生,猶不知生死,修者入了偏門邪門,比比皆是,有的大妄語,譭神謗道,又自稱殺了某佛,滅了某道,很多人未按部就班修行,祇想一步登天。

其實修行各種法門,皆有其果也,我一一清楚的陳述如下:
Sebenarnya, dengan melatih berbagai jenis Pintu Dharma juga bisa mendapatkan buah pencapaian. Berikut ini kutuliskan dengan jelas:

  修行下品十善——保持人身。
Melatih Bagian Paling Bawah dari 10 Kebajikan – Mempertahankan Wujud Manusia.

  修行中品十善——是修羅界。
Melatih Bagian Tengah dari 10 Kebajikan – adalah alam Asura.

  修行上品十善——是天界神格。
Melatih Bagian Teratas dari 10 Kebajikan – adalah Mahluk Surgawi.

  修行四諦法——聲聞羅漢界。
Melatih Dharma 4 Kebenaran Dharma – adalah Alam Arhat Sravaka.

  修行十二因緣法——成為緣覺至辟支佛境界。
Melatih Dharma 12 Afinitas (Nidana) – adalah alam Pratyekabuddha.

  修行六度萬行——是菩薩果位。
Melatih 6 Paramita – adalah tingkat pencapaian Bodhisattva.

  修行無緣同體慈悲,禪定通明法——立地成佛。
Melatih “welas asih kesetaraan tanpa (memandang) afinitas jodoh”, metode ketenangan meditatif hingga tersambung dengan kecemerlangan – di sana akan menjadi Buddha.

  據我觀察得之,在這世界上,小善根福德因緣的修法者是最多的,而大善根器的非常少,像我之得證,一般人是根本無法瞭解的,不管是僧門或道長,凡夫小機的人根本無法測度我,又多劫修習菩薩道的人,也無法測知我,我能在眾口譭謗之中,而得證「坐禪通明」,這是這一代中未曾有的大事。今之世上,祇有勸勸人行行善的保持人身至昇天的方法,而真正的大法卻隱而不見,可見夙世具備的大善根器的人,已經很少很少了。

  「真佛宗」的「坐禪通明法」,適時的出現,不祇是度初機,也不祇是度中機,更是度上上之機者,法運的盛衰,在此時更明顯,要求無上道,沒有比得上真佛宗的「坐禪通明法」。

  我寫偈曰

  坐禪通明無上法。

  凡夫善士難測度。

  攝受常寂光淨土。

  立地成佛最快速。


---

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom

Friday, July 31, 2015

般若波羅蜜多心經是得證境界 Heart Sutra's Attain Affirmation Stage





Selective Summary - Translated into English by Lotuschef

Readers may choose to translate your own version too! :)

Cheers all.

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

~~~~~~~~~~~~~~~~


師尊文集 > 45_坐禪通明法

般若波羅蜜多心經是得證境界


  般若波羅蜜多心經 Heart Sutra,原文如下:

  觀自在菩薩,行深般若波羅蜜多時,照見五蘊皆空,度一切苦厄。舍利子:色不異空,空不異色;色即是空,空即是色;受想行識,亦復如是。舍利子:是諸法空相,不生不滅,不垢不淨,不增不減,是故空中無色,無受想行識,無眼耳鼻舌身意,無色聲香味觸法。無眼界,乃至無意識界,無無明,亦無無明盡,乃至無老死,亦無老死盡,無苦集滅道,無智亦無得,以無所得故。菩提薩埵,依般若波羅蜜多故,心無罣礙,無罣礙故,無有恐怖,遠離顛倒夢想,究竟涅槃。三世諸佛,依般若波羅蜜多故,得阿耨多羅三藐三菩提。故知般若波羅蜜多,是大神咒,是大明咒,是無上咒,是無等等咒。能除一切苦,真實不虛。故說般若波羅蜜多咒,即說咒曰:揭諦揭諦,波羅揭諦,波羅僧揭諦,菩提薩婆訶。

  從古至今,解釋這篇「般若波羅蜜多心經」的高僧大德甚多,但他們未必全看出這是一篇得證境界的說明,祇是依其文字義來解說而已,
如今,我已看出它是「得證心境」的感悟,因為有了得證之後,再看「心經」,就有一種原來如此的「心心相印」了。
Now, I had already seen it's (Heart Sutra) [Affirmation mindset] of Enlightening Feel, because after Affirmation, relooking at Heart Sutra, resulted in a "So this is it" kind of [Heart imprints on to Heart].

且看我的感悟如下:
And my Enlightening Feel as follows:

  「觀自在菩薩」——指所有得證自在的大菩薩。

  「行深般若波羅蜜多時」——行坐禪通明大法的最深實相智慧的時候。

  「照見五蘊皆空,度一切苦厄」——這是經意微妙之處,這即是一心三觀之空觀。有歸元修持法同淨業歸空法門,可到如此的境界。

  「舍利子,色不異空,空不異色,色即是空,空即是色,受想行識,亦復如是。」這是實相境界的心光妙智。

  「舍利子,是諸法空相,不生不滅,不垢不淨,不增不減……至無苦集滅道,無智亦無得,以無所得故,菩提薩埵。」這一段文字,全是說明諸佛與自己完全打成一片的法身寂滅之狀態。

  「依般若波羅蜜多故,心無罣礙,無罣礙故,無有恐怖,遠離顛倒夢想」——到了得證的境界,就是到了彼岸也。匯歸毘盧性海,直顯法界真空性,是第八識的清淨,因而是心無罣礙,無有恐怖。

  「不生不滅」——如同明鏡一般,雖然現出幻相,實在是無生無滅也。

  「不垢不淨」——因是不生不滅之相,本是幻相,當然也沒有垢淨之染了。

  「不增不減」——如江河的水一般,流來流去,沒有增加,也沒有減少。

  「得阿耨多羅三藐三菩提」——這即是「安住在一心無心的圓滿境界之中,修持通明之法而無所失」。遠遠離開了顛倒夢想之後,顛倒夢想就是幻覺,如此的心境才是不動,能安住修持。

  「揭諦揭諦波羅揭諦波羅僧揭諦菩提薩婆訶」——按此咒是心咒,
The Mantra: Ga Te Ga Te Bo Luo Ga Te Bo Luo Seng Ga Te Boddhi Svaha.

第一個揭諦是指「我執」,第二個揭諦是指「法執」,也就是人法兩執。
First Ga Te points to [Self Fixation], Second Ga Te points to [Dharma Fixation], that is Both Self & Dharma Fixation.

第三個揭諦是「生我執」,第四個揭諦是「法我執」。
Third Ga Te [Birth of Self Fixation], Fourth Ga Te [Dharma & Self Fixation].

此咒之要義,就是破除了人我之「我執」,及生我法我之執著,自度度他而到達彼岸之圓滿菩提。
The meaning of this mantra is to Break Through and discard Human Self's [Self Fixation], and the Birth of Self Dharma's Fixation. Succour Self and Others till arrived at the other shore of Perfect Boddhi.

這樣子的修行,也算是真正的修行大義。
Cultivating thus, is considered as genuine and great meaning of cultivation.

  我可以如此說,此「般若波羅蜜多心經」,完全是觀自在禪定的境界,從外覺皆空開始,六塵不染,守住六根,完全是「境外無心,心外無境」的一切色空境界,這是智慧之觀。
I can say that this sutra is completely the arena of Avalotkitesvara's meditation, starting from external realisation are all void, cannot be influence by the 6 Sentient Dust, guarding firmly the 6 roots, all is [No heart externally, no arena or realm outside heart] kind of all Forms are void stage, this is Wisdom View.

  在內覺上說來,即佛光融於我的全身,自性得清淨,過去心、現在心、未來心,三心合於一心而得之,也就是「事外無心,心外無事」,到此境界,自然能成就一切,度一切之苦厄,這是天心發光的功夫,自然而然,無為而為。
On Internal realisation, that is Buddha's Light merges into my whole body, self nature becomes clean and pure, Heart of past present future, combined into one and become [Matter no heart externally, no matter outside heart], arriving at this stage, naturally can attain all, succour all suffering, this is work of Tian-xin chakra emitting light, naturally and without reason but done.

  在直覺上說來,離一切顛倒夢想,直覺寂滅無二,佛我打成一片,法界真空性「無相無不相,不生不滅,不垢不淨,不增不減」便是這種境界的感悟。

也就是入了大解脫門,自己的佛性同法性的諸佛,合而成一,從此不退轉,不輪迴,這才是大證悟。
That is enter into Great Break Free Door, Self's Buddha nature merge into One with the Dharma Nature of all Buddhas, hence forth No retreating turn, no transmigration, this then is Big Affirm Realisation.

  坐禪通明法,要人從「初靜」開始,到「天光」自顯,到十方佛同自己「打成一片」,是最妙用的坐禪法,直接修持成佛的方法,唯有此方法是離言離相的,務必要珍視,此法是無價之寶,由此可見。

  筆者自從感悟得證以來,靜坐之中,思維特別清明,完全安住明空三摩地,自性三昧光明遍照娑婆世界,可以說無所不知,無所不覺。

可憐天下眾生,猶不知生死,修者入了偏門邪門,比比皆是,有的大妄語,譭神謗道,又自稱殺了某佛,滅了某道,很多人未按部就班修行,祇想一步登天。

其實修行各種法門,皆有其果也,我一一清楚的陳述如下:
Actually cultivating the different type of Dharma Doors, all can attain fruit, I listed them clearly as follows:

  修行下品十善——保持人身。
Cultivate the Bottom Chapters of 10 virtues – Maintain the Human Form.

  修行中品十善——是修羅界。
Cultivate the Middle Chapters of 10 virtues – is Asura realm.

  修行上品十善——是天界神格。
Cultivate the Top  Chapters of 10 virtues – is Heavenly Being.

  修行四諦法——聲聞羅漢界。
Cultivate the 4 Truths dharma – Sravaka Arhat realm.

  修行十二因緣法——成為緣覺至辟支佛境界。
Cultivate the 12 Affinities dharma – become Pratyeka-buddha realm.

  修行六度萬行——是菩薩果位。
Cultivate the 6 Paramitas – is Boddhisattva's fruitful level.

  修行無緣同體慈悲,禪定通明法——立地成佛。
Cultivate the "no affinity same body compassion", meditative stillness linking to brightness method – become Buddha on the spot.

  據我觀察得之,在這世界上,小善根福德因緣的修法者是最多的,而大善根器的非常少,像我之得證,一般人是根本無法瞭解的,不管是僧門或道長,凡夫小機的人根本無法測度我,又多劫修習菩薩道的人,也無法測知我,我能在眾口譭謗之中,而得證「坐禪通明」,這是這一代中未曾有的大事。今之世上,祇有勸勸人行行善的保持人身至昇天的方法,而真正的大法卻隱而不見,可見夙世具備的大善根器的人,已經很少很少了。

  「真佛宗」的「坐禪通明法」,適時的出現,不祇是度初機,也不祇是度中機,更是度上上之機者,法運的盛衰,在此時更明顯,要求無上道,沒有比得上真佛宗的「坐禪通明法」。

  我寫偈曰

  坐禪通明無上法。

  凡夫善士難測度。

  攝受常寂光淨土。

  立地成佛最快速。

---

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom