Showing posts with label srotapanna. Show all posts
Showing posts with label srotapanna. Show all posts

Sunday, July 16, 2017

Pahala [2]



Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 17 Juni 2017
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: [2] Phala 果位


Di atas ini: Mahaguru Lu sedang mengajarkan 道果 Lamdre.

道 – Tahapan Jalan (Marga)
果 – Tahapan Buah Keberhasilan (Phala)


Pencapaian
Istilah untuk momen pertama pencapaian adalah jalan memasuki aliran (sotāpatti-magga), yang memotong tiga belenggu pertama. Ia yang mengalaminya dinamakan sebagai seorang pemenang-aliran (sotāpanna).

Yang dikatakan sebagai srotapanna adalah yang mempunyai pemahaman intuitif mengenai dharma, mahluk bijak ini memiliki Pandangan Benar (sammā diṭṭhi) dan punya keyakinan yang tak tergoyahkan di dalam Buddha, Dharma, dan Sangha.
Buddha, Dharma, dan Sangha, kadang kala disebut sebagai Tiga Rangkap Sarana, dan di lain waktu disebut sebagai objek-objek yang dikenang.
Pada umumnya, keyakinan yang teguh di dalam Buddha, Dharma, dan Sangha, dianggap sebagai salah satu dari empat bagian pemenang-aliran (sotāpannassa angāni).
Srotapanna juga dikatakan telah “membuka mata Dharma” (Dharmacaksu), berhubung mereka telah merealisasikan bahwa apapun yang muncul pasti akan berakhir (tidak kekal).
Oleh karenanya keyakinannya kepada dharma yang sejati tak akan goyah.

Sekilas awal memahami elemen yang tak berkondisi, asankhata, mereka bisa melihat tujuan akhirnya, pada saat jalan yang mereka telusuri telah matang (marga-phala).
Sebaliknya di mana mereka yang memasuki aliran telah melihat nirwana dan kemudian menjadi yakin, maka seorang arhat mampu menenggak airnya sepenuhnya, bila menggunakan kiasan dari Sutra Kosambi (SN 12.68) – mengenai sebuah “sumur”, yang ditemui di sepanjang jalan yang gersang.

Namun sisa tiga jalan berikut:
Kembali sekali lagi (sakadāgāmin),
Tidak kembali (anāgāmin),
dan kedewaan (arahatta)
menjadi “takdir” (sammatta niyāma) bagi mereka yang memasuki aliran.
Pencerahan mereka sebagai seorang murid  (arya sravaka) menjadi tak terelakkan dalam 7 kehidupan melewati berbagai transmigrasi di antara menjadi dewa dan manusia;
Bila tekun (appamatta, appamāda) dalam bersadhana sesuai dengan instruksi (satthāra) dari Sang Guru Pembimbing, mereka bisa tersadarkan secara sempurna dalam kehidupan saat ini juga.
Di masa mendatang hanya ada sedikit penderitaan yang harus dilewati.
Dalam naskah-naskah agama Buddha masa awal (seperti Sutra Ratna) dikatakan bahwa seorang yang memasuki aliran tak akan lagi terlahir ke dalam rahim binatang, atau neraka, atau sebagai hantu kelaparan.
Berbagai jalan menuju tujuan kelahiran yang sengsara (durgati) telah ditutup bagi mereka.

Juga tak akan mungkin melakukan enam “kejahatan keji” (abhithanani) yang akan menjatuhkan mereka ke dalam neraka selama berkalpa-kalpa. Keenam kejahatan tersebut adalah: (1) membunuh ibu, (2) membunuh ayah, (3) membunuh arhat, (4) dengan niat jahat mencelakai Buddha hingga menumpahkan darah, (5)menyebabkan perpecahan di dalam paguyuban Sangha, dan (6) berguru pada guru lain.

Mereka hanya akan terlahir ke dalam keluarga “bangsawan”, atau sebagai mahluk surgawi.


Tiga belenggu
Di dalam kanon berbahasa Pali, kualitas seorang srotapanna digambarkan sebagai berikut:
… para bhiksu yang telah melepaskan tiga belenggu, adalah para pemenang aliran, mereka tegar, tak akan pernah lagi ditakdirkan mengalami kondisi duka, berjalan menuju penyadaran diri.
Demikianlah Dharma yang kuproklamirkan selalu jelas, terbuka, nyata terbukti, berkualitas tinggi.
— Sutra Alagaddupama

Tiga belenggu yang disingkirkan oleh sotapanna adalah:

[1] Pandangan Diri – Pandangan akan substansi atau gabungan (sankhata) bisa menjadi abadi di dalam lima agregat (wujud, perasaan, persepsi [daya paham], niat, pengetahuan kesadaran) dan kemudian dimiliki sebagai ‘aku’ (subjek), ‘aku’ (objek), atau ‘milikku’.
Seorang srotapanna sebenarnya tidak mempunyai pandangan mengenai diri (sakkāya-ditthi), karena doktrin tersebut diproklamirkan sebagai wujud kemelekatan yang halus.

[2] Melekat pada upacara dan ritual – Mengenyahkan pandangan bahwa ia menjadi suci dengan mudahnya lewat melakukan ritual (persembahan hewan, berbilas, menjapa, dll.) atau menganut moralisme secara kaku, atau bersandar kepada seorang dewa untuk penyelamatan tanpa menghiraukan sebab-musabab (issara nimmāna). Upacara dan ritual kini malah lebih mengaburkan daripada mendukung pandangan benar seorang srotapana yang mata dharma-nya telah terbuka.
Srotapanna menyadari bahwa penyelamatan hanya bisa dimenangkan melalui praktik Jalan Mulia Beruas Delapan. Ia telah menghilangkan gagasan mengenai mujizat maupun jalan pintas.

[3] Curiga dan ragu-ragu – Keraguan kepada Buddha, ajarannya (Dharma), dan komunitasnya (Sangha) telah dilenyapkan karena srotapanna secara pribadi telah mengalami kodrat sejati realitas melalui pengetahuan yang mendalam, dan wawasan tersebut mengkonfirmasi keakuratan ajaran Buddha.
Dengan melihat maka keraguan tersingkirkan, karena rupa merupakan sebuah wujud penglihatan (darsana) yang memampukannya untuk mengetahui (jnana).


Pencemaran
Menurut Penjelasan dalam Bahasa Pali, enam jenis pencemaran pada akhirnya akan ditinggalkan oleh seorang srotapanna, dan tidak ada lagi pelanggaran berat:
Iri hati
Cemburu
Munafik
Curang
Fitnah
Dominasi


Kelahiran Kembali
Seorang srotapanna terselamatkan dari kejatuhan ke berbagai situasi yang menyedihkan (mereka tak akan terlahir sebagai seekor binatang, hantu, atau mahluk neraka). Nafsu, kebencian dan khayalan mereka tidak cukup kuat untuk menyebabkan kelahiran kembali di alam-alam yang lebih rendah.
Ia masih harus terlahir kembali paling banyak 7 kali di alam manusia atau surga sebelum mencapai nirwana.
Tidak harus terlahir sebanyak 7 kali sebelum mencapai nirwana, berhubung seorang praktisi yang tekun bisa melaju ke tahap yang lebih tinggi di dalam kehidupan yang sama di mana ia mencapai tingkat Srotapanna dengan membuat sebuah niat dan usaha yang gigih untuk mencapai nirwana sebagai tujuan akhirnya.


Enam tindakan yang tak akan diperbuat
Seorang srotapanna tidak akan melakukan enam tindakan salah berikut:
Membunuh ibu sendiri.
Membunuh ayah sendiri.
Membunuh seorang arhat.
Dengan niat jahat melukai Buddha hingga menyebabkannya berdarah.
Sengaja membuat perpecahan dalam komunitas sangha.
Mengangkat guru lain [selain Buddha].

~~~~~~~~~~~~~~~

Ada kutipan di dalam Pengantar Redaktur di dalam “PARA MURID AGUNG SANG BUDDHA” oleh Nyanaponika Thera & Hellmuth Hecker.
Lihat: GREAT DISCIPLES OF THE BUDDHA - INTRODUCTION

“… Meski demikian, proses pencapaian yang lebih khusus merupakan sebuah proses yang disesuaikan di mana berbagai belenggu dipotong secara berurutan, dalam beberapa gugusan, pada empat peristiwa penyadaran yang berlainan.
Hal ini menghasilkan gradasi berlapis empat di antara para murid mulia, dengan setiap tahapan utama yang terbagi lagi ke dalam dua fase:
Sebuah fase di dalam jalan (marga), di mana murid yang bersangkutan mempraktikkan pelenyapan gugus belenggu tertentu;
Dan sebuah fase di dalam buah hasilnya (phala), di mana dobrakannya telah sempurna dan belenggu-belenggu telah dihancurkan.
Pembagian ini menjelaskan formula klasik Arya Sangha yang terdiri dari 4 pasangan dan 8 jenis orang yang mulia. …”

Mengenai jalan (marga) dan buah keberhasilan (phala):
[1] Beberapa guru dharma menekankan bahwa Jalur Mulia Beruas 8 bukanlah gerakan maju yang “linear”.
Namun menurut saya hal tersebut sangat masuk akal melihat bahwa “Pandangan Benar” (sammā-diṭṭhi) pasti berada di titik paling awal.
(Sebagai contoh, memahami bahwa “penolakan terhadap karma & kelahiran kembali merupakan “pandangan salah” – di dalam susunan Empat Kebenaran Mulia dan Hukum Sebab-Musabab (Pratityasamutpada). Saya tidak melihat bagaimana orang yang menolak konsep kelahiran kembali & karma bisa berkembang sebagaimana mestinya di sepanjang jalan.)
Dan juga, puncak dari Jalan Mulia Beruas Delapan pastilah “Keheningan Benar” (sammā-samādhi) – yang didefinisikan sebagai 4 rupa-jhana. (sebagai contoh: SN 45.8, MN-117, MN-141), karena jhana adalah kondisi pikiran di mana 5 rintangan yang menghidupi Kebodohan dan Hasrat telah disingkirkan (AN 10.61, 10.62).
Untuk menyingkirkan Kebodohan, jangan beri makan 5-rintangan melalui pencapaian jhana. Antara Pandangan Benar dan Keheningan benar terdapat perkembangan etika, perhatian penuh dan meditasi.
Demikianlah baru terlihat adanya kemajuan linear, dengan Jhana sebagai buah keberhasilan (phala) dari praktik (marga) yang mendahuluinya.
Benarkah pemahaman ini?

~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Berpikirlah baik-baik sebelum kamu memanifestasikan pikiranmu ke dalam tindakan!

Pelatihan Dharma belum tentu seperti yang kamu pikirkan!

Tentunya, kamu selalu punya PILIHAN – Mau melakukannya atau tidak! :)

Apakah kamu dengan sekuat tenaga masih mencoba untuk “menjatuhkan” wujud ciptaanmu yang kamu labeli sebagai “lotuschef”!

Saatnya sadar!
Bila kamu tidak keluar dari Jalan yang sedang kamu telusuri saat ini, kamu tak akan pernah mendapatkan Buah Pencerahan.

“Kejahatan” dari “manifestasimu” itu sedang kamu beri nyawa kehidupan dengan Iblis ciptaanmu sendiri!


Salam Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef

Saturday, June 17, 2017

[2] Phala 果位


Terjemahan Bahasa: Pahala [2]


Above: GM Lu sharing 道果 Lamdre.
道 - Path/Magga Stage
果 - Fruit/Phala  Stage

Attainment
The first moment of the attainment is termed the path of stream-entry (sotāpatti-magga), which cuts through the first three fetters. The person who experiences it is called a stream-winner (sotāpanna).

The sotāpanna is said to attain an intuitive grasp of the dharma, this wisdom being called right view (sammā diṭṭhi) and has unshakable confidence in the Buddha, Dharma, and Sangha.
The Buddha, Dharma, and Sangha, sometimes taken to be the triple refuge, are at other times listed as being objects of recollection. 
In general though, confirmed confidence in the Buddha', Dharma and Sangha, respectively, is considered to be one of the four limbs of stream-winning (sotāpannassa angāni).
The sotapanna is said to have "opened the eye of the Dhamma" (dhammacakka), because they have realized that whatever arises will cease (impermanence).
Their conviction in the true dharma would be unshakable.

They have had their first glimpse of the unconditioned element, the asankhata, in which they see the goal, in the moment of the fruition of their path (magga-phala). 
Whereas the stream-entrant has seen nibbāna and, thus has verified confidence in it, the arahant can drink fully of its waters, so to speak, to use a simile from the Kosambi Sutta (SN 12.68) — of a "well", encountered along a desert road.

However, the remaining three paths, namely: 
once-return (sakadāgāmin), 
non-return (anāgāmin), 
and sainthood (arahatta) 
become 'destined' (sammatta niyāma) for the stream-entrant. 
Their enlightenment as a disciple (ariya-sāvaka) becomes inevitable within seven lives transmigrating among gods and humans; 
if they are diligent (appamatta, appamāda) in the practice of the Teacher's (satthāra) message, they may fully awaken within their present life. 
They have very little future suffering to undergo.
The early Buddhist texts (e.g. the Ratana Sutta) say that a stream-entrant will no longer be born in the animal womb, or hell realms; nor as a hungry ghost. 
The pathways to unfortunate rebirth destinations (duggati) have been closed to them.

It's impossible for them to commit the six "heinous crimes" (abhithanani), which would otherwise lead to aeons in hell. These six being: i. matricide, ii. patricide, iii. the murder of an arahat, iv. shedding a Buddha's blood with malicious intent, v. causing schism in the monastic Sangha, and vi. taking another teacher.

They are reborn only in "noble" human families, or as divine beings.


Three fetters
In the Pali Canon, the qualities of a sotāpanna are described as:
…those monks who have abandoned the three fetters, are all stream-winners, steadfast, never again destined for states of woe, headed for self-awakening. 
This is how the Dharma well-proclaimed by me is clear, open, evident, stripped of rags.
— Alagaddupama Sutta

The three fetters which the sotāpanna eradicates are:

[1] Self-view — The view of substance, or that what is compounded (sankhata) could be eternal in the five aggregates (form, feelings, perception, intentions, cognizance), and thus possessed or owned as 'I', 'me', or 'mine'. 
A sotāpanna doesn't actually have a view about self (sakkāya-ditthi), as that doctrine is proclaimed to be a subtle form of clinging.

[2] Clinging to rites and rituals - Eradication of the view that one becomes pure simply through performing rituals (animal sacrifices, ablutions, chanting, etc.) or adhering to rigid moralism or relying on a god for non-causal delivery (issara nimmāna). Rites and rituals now function more to obscure, than to support the right view of the sotāpanna's now opened dharma eye. 
The sotāpanna realizes that deliverance can be won only through the practice of the Noble Eightfold Path. It is the elimination of the notion that there are miracles, or shortcuts.

[3] Skeptical doubt - Doubt about the Buddha, his teaching (Dharma), and his community (Sangha) is eradicated because the sotāpanna personally experiences the true nature of reality through insight, and this insight confirms the accuracy of the Buddha’s teaching. 
Seeing removes doubt, because the sight is a form of vision (dassana), that allows one to know (ñāṇa).


Defilements
According to the Pali Commentary, six types of defilement would be eventually abandoned by a sotāpanna, and no major transgressions:
Envy
Jealousy
Hypocrisy
Fraud
Denigration
Domineering


Rebirth
A sotāpanna will be safe from falling into the states of misery (they will not be born as an animal, ghost, or hell being). Their lust, hatred and delusion will not be strong enough to cause rebirth in the lower realms. 
A sotāpanna will have to be reborn at most only seven more times in the human or heavenly worlds before attaining nibbāna. 
It is not necessary for a sotāpanna to be reborn seven more times before attaining nibbāna, as an ardent practitioner may progress to the higher stages in the same life in which he/she reaches the Sotāpanna level by making an aspiration and persistent effort to reach the final goal of nibbāna.


Six actions that are not committed
A sotāpanna will not commit six wrong actions:
Murdering one's own mother.
Murdering one's own father.
Murdering an arahant.
Maliciously injuring the Buddha to the point of drawing blood.
Deliberately creating a schism in the monastic community.
Taking another Teacher [besides Buddha].

~~~~~~~~~~~~~~~

There is this passage in the Editor's Introduction to "GREAT DISCIPLES OF THE BUDDHA" by Nyanaponika Thera & Hellmuth Hecker.

" ... The more typical process of attainment, however, is a calibrated one whereby the fetters are cut off sequentially, in discrete clusters, on four different occasions of awakening. 
This results in a fourfold gradation among the noble disciples, with each major stage subdivided in turn into two phases: 
a phase of the path (magga), when the disciple is practicing for the elimination of the particular cluster of fetters; 
and a phase of the fruit (phala), when the breakthrough is complete and the fetters have been destroyed. 
This subdivision explains the classical formula of the Ariya Sangha as made up of four pairs and eight types of noble persons. ..."

Regarding path (magga) & fruit (phala):
[1] Some dhamma teachers emphasize that the eightfold path is not a "linear" progression. 
However, to me it makes so much sense that "Right View" (sammā-diṭṭhi) must be the very beginning. 
(For example, understand that "rejection of karma & rebirth" is "wrong view" - within the framework of Four Noble Truths and Dependent Origination. I don't see how anyone who rejects rebirth & karma can progress properly further along the path.) 
As well, the culmination of the Eightfold Path must be "Right Stillness" (sammā-samādhi) - which is defined as the 4 rupa-jhanas. (e.g. SN 45.8, MN-117, MN-141), because jhana is the mind state where the 5-hindrances that sustain Ignorance and Desires are removed (AN 10.61, 10.62). 
To remove Ignorance, starve the 5-hindrances through attainment of jhana. Between Right View and Right Stillness there is development of ethics, mindfulness and meditation. 
Thus there is some sense of linear progression, with Jhana as the fruit (phala) of the practices (path - magga) that precede it. 
Is this understanding correct?

~~~~~~~~~~~~~~~~

Hahaha!

Think carefully before you act out your thoughts!

Dharma Cultivation might not be what you think or perceive it is! 

Of course, the CHOICE is always yours - To do or Not to do! :)

Are you still trying your utmost to "bring down" your creation of a form, labelled as "lotuschef"! 

Wake up!
If you don't walk out of the Path you are treading now, you will never ever attain the Fruit of Realisation/Enlightenment. 

Your "manifestation"  of "evil" were all given life to by your very own Demon! 


With Metta,

Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef