Showing posts with label tubuh cahaya. Show all posts
Showing posts with label tubuh cahaya. Show all posts
Saturday, May 2, 2015
Berbagi: Guru Sebagai Cahaya yang Membimbing
Dibagikan dengan anotasi oleh Lotuschef – 2 April 2015
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: Sharing: Guru as the guiding light 分享:师父是引导之光
Sumber kutipan dari: Isha – Guru Paduka Stotram
Aku sempat melihat halaman ini dan isinya cukup mencerahkan. Di sana dijelaskan bagaimana beliau mengumpamakan Guru sebagai cahaya yang membimbing.
Dan juga sesuai dengan konteks artikel “Aku Bisa Melihat Mahaguru Dari Dekat”.
Sungguh benar bahwa dengan usaha sendiri dan mencari dari dalam batin, kita semua bisa menjadi sang cahaya pembimbing itu sendiri.
Kukira kamu pasti lelah mengulangi nasihat itu berkali-kali kepada orang-orang :D
Salam.
~~~
Sadhguru: Bila kasih karunia tak ada di dalam dirimu, atau kamu tak membuka diri kepada kasih karunia, maka tak peduli betapa banyaknya uang yang kamu miliki, betapa banyaknya kekayaan yang kamu punyai, omong kosong apapun darimu, kamu tak akan bisa menjalani hidup yang bagus.
Kasih karunia seorang Guru bukanlah seperti kesejukan yang kamu bayangkan.
Ia adalah kehadiran jasmaniah yang dapat kamu rasakan.
Ia bersifat fisik bagaikan hembusan angin sepoi-sepoi yang kamu rasakan.
Ia senyata pancaran sinar matahari.
Yang kamu anggap sebagai seorang Guru sebenarnya hanyalah suatu energi, suatu kapasitas.
Ia bukanlah seorang manusia.
Seorang manusia tertentu hanyalah menjadi sebuah perwakilan energi dan dimensi tersebut.
Kalau kamu paham, maka yang kamu butuhkan sesungguhnya adalah cahaya, bukan bola lampunya.
Tapi saat ini mungkin bola lampu tersebut yang menjadi sumber cahaya.
Jadi kamu cenderung untuk berpikir “Aku tak mampu hidup tanpa bola lampu itu.”
Di satu tingkat, hal tersebut bisa dianggap benar.
Namun kodrat dari Sang Guru tak dibatasi oleh waktu dan ruang.
Jadi bukan karena kamu duduk di sebelah bola lampu lantas kamu mendapatkan cahaya yang maksimum.
Kamu mungkin saja terpisah ribuan mil dan masih bisa menerima kasih karunia yang lebih besar daripada orang yang saat itu sedang duduk di sebelah sang guru tersebut.
Demikianlah yang namanya Keberhasilan tak akan datang kepadamu tanpa kasih karunia.
Oleh sebab itu kamu harus belajar untuk menjadi reseptif (siap dan rela menerima) terhadap kasih karunia.
Hanya dengan kondisi mental pikiranmu saja bisa membuatmu menjadi reseptif,
Caramu mengatur tubuhmu bisa membuatmu menjadi reseptif,
Caramu mengendalikan emosi-emosimu bisa membuatmu menjadi reseptif, atau mungkin kamu punya metode-metode yang lebih rumit, kamu memahami mekanisme kerjanya dan oleh karenanya kamu menjadi reseptif.
Tapi tanpa kasih karunia, tak akan ada keberhasilan.
Kamu mungkin luar biasa cerdas, tapi kamu tetap saja akan menjadi sebuah kegagalan.
Kamu mungkin punya kapasitas yang besar, tapi kamu tetap saja akan menjadi sebuah kegagalan.
Namun dengan adanya momen kasih karunia, tiba-tiba kamu akan melihat segala hal, dan semuanya menjadi berhasil.
Supaya kamu bisa menjadi damai, menjadi bahagia, kamu bisa melakukannya dari dalam batinmu sendiri.
Kalau kamu tahu cara mengatur tubuh dan pikiranmu, kamu bisa melakukan hal-hal tersebut.
Namun keberhasilan dalam hal yang sedang kamu kerjakan tak akan terjadi tanpa kasih karunia.
Tanpa kasih karunia sebagai pelumasnya, mesinmu tak akan berjalan jauh.
Semua hal akan nampak seperti tugas yang berat di dalam hidupmu.
Kebanyakan manusia malah melakukan hal tersebut kepada dirinya sendiri, karena pikiran mereka terlalu penuh akan dirinya sendiri.
Demikianlah mana bisa membuka diri terhadap kasih karunia?!
Segala hal di dalam hidupnya adalah pekerjaan yang berat –
Edukasi adalah pekerjaan yang berat,
Pergi bekerja adalah pekerjaan yang susah,
Pernikahan juga sebuah pekerjaan yang sudah besar, sekalian susah pula.
Namun bila kamu menjadi sangat reseptif terhadap kasih karunia, kamu akan melihat bahwa semuanya akan terjadi dengan leluasa karena kamu saat itu adalah mahluk yang dilumasi dengan baik.
~~~~~~~~~~~
Baca juga artikel berikut: Brahmananda Swarupa
“Brahmananda Swarupa” adalah kidung lagu yang dikuduskan oleh Sadhguru untuk mendatangkan ketenangan bagi orang-orang yang menjadikannya bagian dalam hidup mereka.
Kidung ini merupakan salah satu bagian dari album Vairagya dan bisa diunduh secara cuma-cuma.
Ia juga tersedia di dalam aplikasi Isha Chants untuk platform Android.
~~~~~~~~~~~~~
Teman-temanku sekalian yang terkasih,
Kalau kamu bisa menyerap sebagian besar isi dari kedua artikel di atas, kamu akan tahu bahwa ada kemiripan dengan ajaran Mahaguru Lu mengenai Tantra Tingkat Lanjut; Mahamudra dan Maha Kesempurnaan, serta sangat identik dengan ideologi Zen pula! :)
BAGAIMANA BISA?
Rahasia Alam Semesta adalah Satu dan Tunggal!
Mau bagaimanapun kamu mencoba menjelaskan atau menggambarkan Alam Semesta dan Kodrat Buddha seseorang, mereka adalah Satu dan sama!
Cahaya juga merupakan jawabanmu, kalau kamu selama ini memperhatikan apa yang Mahaguru Lu ajarkan dan yang kubagikan juga! :)
Aku ingat pernah menjelaskan bahwa kita semua ini adalah “Tubuh Cahaya” dan saat kita melebur menjadi manunggal, maka Tubuh Cahaya masing-masing individu sudah tak bisa dibedakan lagi!
Bagi banyak orang, ideologi Zen berarti “ungkapan-ungkapan gila dari seseorang yang gila”!
Hahaha!
LAGIPULA seorang Guru yang Sejati berbagi ajarannya secara luas dan cuma-cuma tanpa menarik bayaran!
Sadhguru dan Mahaguru Lu punya banyak kemiripan di mana mereka berbagi Rahasia-rahasia Alam Semesta secara cuma-cuma dengan Semua Insan – sehingga mereka yang punya jodoh yang relevan akan menjadi Tercerahkan dengan lebih cepat.
Begitulah!
Karena kita semua ini Setara di mana kita punya Kodrat Buddha!
Di sanalah letak Perbedaan Sesungguhnya antara Seorang yang Tercerahkan dengan Seorang yang Awam! :)
Sama halnya pula, semua materi yang dibagikan di blog ini bersifat cuma-cuma dan mereka yang berjodoh akan mendapatkan Realisasi Penuh dengan lebih cepat, namun pada akhirnya semua insan tetap akan mencapai “pantai seberang” juga!
Ketekunanmu dalam bersadhana akan menentukan kecepatanmu untuk mencapai “pantai seberang”, bukan karena usaha orang-orang lain!
Kita selalu bersyukur kepada mereka yang berbagi “rahasia-rahasia alam semesta” demi memberi manfaat bagi semua insan!
Jadi gunakanlah Ajaran yang Sejati tersebut dengan Kebijaksanaan!
Pepatah Tiongkok mengatakan:
Air mampu mendorong (memajukan) sebuah perahu, namun ia juga mampu menggulingkan (merintangi) perahu itu pula.
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Wednesday, May 1, 2013
Dewa Kekayaan dari 5 Penjuru
Ditulis oleh Lotuschef – 1 Mei 2013
Diterjemahkan oleh Lotus Nino
Sumber: 五路财神 Fortune Deities of the 5 directions
Di saat-saat santai di McDonalds malam kemarin, LL bertanya mengenai dewata-dewata di atas kepadaku.
Ia bilang beberapa tahun yang lalu ada seorang umat yang mengaku bisa melihat 5 dewa kekayaan tersebut. Umat itu lalu menggambarkan mereka ke dalam media kertas untuk ditunjukkan ke para umat lainnya.
Hahaha!
Aku rasa teman-teman kebanyakan yang ada di sana waktu itu pasti berdecak kagum “woo” “ah”, ya khan?
Bahkan mereka yang membaca hingga ke point ini juga akan sama halnya, pasti juga berharap berada di sana untuk melihat gambaran 5 dewa kekayaan tersebut.
Namun jangan campurkan para dewata ini dengan mereka yang dari Surga.
Mereka ini adalah para dewa kekayaan yang sering dicampuradukkan dengan mereka yang berasal dari Surga.
Mereka yang dipuja dengan menancapkan 5 bendera di mangkok bulat, yang biasanya diisi dengan beras, adalah seperti para Dewa Bumi. Mereka ini para arwah dengan Fu-pao, punya pahala keberuntungan dan dengannya cukup untuk bisa menjadi semacam petugas/pejabat, tapi masih belum cukup pahalanya untuk naik ke Surga.
Bila kamu terlihat gelap tertutup banyak energi karma negatif, mereka pasti akan lari jauh-jauh darimu.
Ya begitulah, omong-omong dari sudut pandang konsep Buddhisme, 5 dewata keberuntungan yang dilihat oleh si umat tadi memang muncul di hadapannya. Namun ajaran Non-konstan (tidak terpaku) dari Buddha juga berlaku di sini.
Lima dewa ini bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda di hadapan orang-orang lainnya.
Sebenarnya cara terbaik untuk mengukur dewata manapun adalah melihat seberapa besar energi cahaya yang mereka bisa “proyeksikan”, bukannya tampilan wajah ataupun lainnya seperti gambar yang kamu lihat di atas.
Hahaha! Menurutmu aku asal omong?
Di dalam Tantra Tingkat Lanjut, tak ada yang namanya bentuk yang Konstan atau Tetap. Semua nampak dalam bentuk tubuh-tubuh cahaya yang berbeda intensitas cahayanya saja.
Bila melihat figur entitas dengan jelas dan menggambarkannya seperti di atas, berarti kamu masih sangat jauh dari Yoga, dan di tingkat itu kamu akan sangat mudah disesatkan dan terjerat oleh apa yang kamu lihat selama ini. :)
Salam semuanya.
Om Guru Lian Sheng Siddhi Hom
Lama Lotuschef
Related Posts:
- 五路财神 Fortune Deities of
the 5 directions
- Lotuschef
Bercakap-cakap – Skenario Ideal
- Lotuschef
Bercakap-cakap – Jeritan Meminta Pertolongan!
- Guru
Yoga Sebagai Syarat Utama
- Meditasi
– Memikirkan terlalu banyak hal???
Subscribe to:
Posts (Atom)



